Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
157 - Roh Kegelapan.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari ini adalah waktu keberangkatan untuk misi di Desa Bambu. Mereka yang ikut dalam misi berjanji untuk berkumpul di pintu gerbang Desa Daun.


Raisa tiba di pintu gerbang desa setelah berjalan bersama Rumi dari arah rumah mereka yang berdekatan. Sesampainya di gerbang desa, di sana sudah ada tiga orang anggota yang menunggu mereka. Masih tersisa dua anggota lainnya yang belum datang.


Mereka semua menetapkan janji temu sekitar jam 08.30


"Maaf, membuat kalian menunggu," kata Rumi


"Masih menunggu dua orang lagi, ya? Kupikir kami berdua yang terakhir," ujar Raisa


"Di tim kami, Morgan, memang sering terlambat. Tidak tahu bagaimana dengan Chilla," ucap Aqila


"Apa kau tidak bisa meminta pacarmu untuk datang tepat waktu, Aqila?" tanya Devan


"Dia itu memang sangat sulit disuruh datang tepat waktu! Aku sudah lelah bicara dengannya," jawab Aqila


"Dia seperti Ayahnya saat muda dulu," pelan Raisa sambil terkekeh kecil.


"Kalau Chilla, dia paling masih sibuk menikmati makan paginya atau sibuk mengemas makanan yang dibawa untuk misi," ujar Ian


Sebelum Raisa dan Rumi tiba, yang sudah menunggu di sana adalah Aqila, Devan, dan Ian. Setelah Raisa datang bersama Rumi, sisa Morgan dan Chilla yang masih belum datang.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Morgan dan Chilla pun muncul dari arah yang berlawanan.


"Aku datang!" seru Chilla yang terengah-engah sambil menggendong sebuah tas.


"Maaf, aku terlambat," kata Morgan dengan ekspresi canggungnya.


"Sudah terlambat lima belas menit! Ayo, kita berangkat! Kita harus sampai setidaknya sebelum sore," ucap Devan


"Aku yakin kita bisa sampai saat tengah hari," ujar Morgan


"Kalau kau ingin lebih yakin lagi, datanglah tepat waktu saat janjian!" omel Ian


"Kan, tadi aku sudah minta maaf," kata Morgan


Mereka bertujuh pun berjalan ke luar dari pintu gerbang Desa Daun untuk menjalankan misi ke Desa Bambu.


Walau tempat tujuan hanya ada di perbatasan, mereka semua pergi dengan menaiki kereta hingga ke Desa Bambu~


Kereta yang mereka naiki terbilang sepi. Selain mereka bertujuh, penumpang lainnya bisa dihitung dengan jari. Bahkan tidak sampai ada sepuluh jumlah penumpang selain mereka. Penumpang lainnya pun terlihat tegang dan ada raut wajah harap cemas pada mereka.


Di tengah jalan, kereta yang ditumpangi berhenti seketika. Saat itu juga wajah penumpang lain terlihat semakin tidak enak karena kesal sekaligus tampak lega. Seperti pasrah begitu saja.


"Sudah diduga akan jadi seperti ini!"


Para penumpang lainnya beranjak turun dari kereta.


"Mereka semua turun dari kereta. Apa kita juga harus turun di sini?" ujar Chilla bertanya.


"Tapi, kita masih belum sampai," timpal Ian


"Aku akan bertanya pada seseorang," kata Morgan


Morgan pun mencari seseorang untuk bertanya di dalam gerbong kereta tersebut.


"Permisi. Paman, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa keretanya tiba-tiba berhenti?" tanya Morgan


"Apa kau tidak tahu? Ini sudah sering terjadi belakangan ini. Ini karena monster yang ada di perbatasan, jadi banyak kereta yang berhenti di tengah jalan! Sudah begitu, saking banyaknya kereta yang berhenti, maka beberapa jalur tidak bisa dilewati. Seperti saat ini! Karena banyak kereta yang berhenti dari dua arah jalur yang berlawanan ini, kereta jadi terhenti total.


Monster itu mencegah adanya kereta yang ke luar masuk perbatasan, kalau ada kereta yang tetap nekat beroperasi, para monster itu akan menyerang kereta dan melukai para penumpang," ungkap seseorang menjelaskan.


..."Aku juga bukannya tidak tahu! Tujuan kami ke sana memang ingin menyelidiki para monster itu. Tapi, bukankah monster itu hanya aktif saat hari mendekati malam? Ini bahkan tengah hari," batin Morgan...


"Kalau begitu, bukankah keadaan pada jalur kereta akan terdeteksi atau ada laporannya di stasiun? Kenapa keretanya masih juga beroperasi? Apa ini adalah modal nekat para pekerja dan masinis keretanya?" tanya Morgan lagi.


"Sebelum kereta benar-benar beroperasi, tidak terjadi apa-apa, tapi begitu ada kereta yang melaju mendekati perbatasan, keadaan ini baru terjadi. Kami juga tidak ingin jadi seperti ini dan berharap sesuatu yang baik, tapi kondisi seperti ini lagi-lagi terjadi," jawabnya


"Lalu, kalau sudah seperti ini harus bagaimana mengatasinya? Bukankah semua kereta juga harus kembali ke stasiun masing-masing?" tanya Morgan yang ke sekian kalinya.


"Entahlah. Mungkin harus berharap adanya keberuntungan yang datang," jawabnya pasrah.


"Begitu, ya... Kalau begitu, terima kasih, Paman! Permisi." Morgan pun kembali menghampiri yang lain.


"Bawa barang kalian, semuanya. Kita juga harus turun dari kereta ini," kata Morgan


"Apa yang terjadi?" tanya Aqila


"Ini ulah para monster itu," jawab Morgan


"Tapi, ini masih belum malam. Para monater itu sudah berulah?" ujar Ian bertanya.


Morgan hanya mengangguk.


"Kita harus segera turun dan menyelesaikan perjalanan. Kita sudah harus sampai sebelum sore," ucap Rumi


"Benar, kata Rumi! Ayo turun," kata Aqila


"Sudah kuduga ini akan jadi merepotkan," dumel Devan


Mereka semua pun membawa barang bawaan masing-masing dan bergerak turun dari kereta.


Rupanya, ekspresi wajah para penumpang lainnya tadi adalah mereka yang merasa kesal karena tidak bisa menyelesaikan urusan di tempat tujuan mereka, tapi di lain sisi juga sekaligus merasa lega karena tidak harus menghadapi bahaya karena ulah serangan para monster misterius.


"Dari sini kita terpaksa jalan kaki. Apa desa itu masih jauh?" ujar Raisa bertanya.


"Memang kenapa? Kau merasa lelah? Apa perlu aku saja yang membawa barangmu?" tanya balik Rumi.


"Tidak, aku bisa sendiri. Aku hanya khawatir dengan waktu kita saat sampai di sana nanti, aku harap kita tiba tepat waktu," jawab Raisa


"Lumayan jauh dari sini. Makanya, kita harus bergegas. Jangan lambat atau banyak mengeluh! Jalan terus saja," ucap Devan


Seperti kata Devan, mereka semua terus berjalan tanpa henti. Tidak ada kesempatan untuk mengeluh karena perjalanan masih panjang dan mereka harus tiba tepat waktu. Pada misi penting kali ini, mereka semua harus sangat berhati-hati saat dalam proses menyelesaikannya.


Awalnya, mereka semua berjalan beriringan. Namun, semakin lama ada juga yang tertinggal jalan di belakang. Sudah tiba waktu tengah hari, terik yang memanasi bumi menjadi penghambat jalan dan membuat mereka cepat dan mudah merasa lelah.

__ADS_1


"Aku tidak sanggup lagi! Ingin berhenti saja, rasanya," keluh Chilla yang menghentikan langkah kakinya.


Nafasnya terengah-engah...


Chilla pun jatuh terduduk di atas tanah.


"Apa boleh buat! Kita istirahat dulu sebentar di sini," ujar Devan


Yang lain pun ikut berhenti dan duduk beristirahat sejenak di sana.


"Atur nafasmu kembali perlahan dengan baik, Chilla," kata Aqila


"Minumlah dulu untuk meredakan lelah dan dahagamu, Chilla," ucap Raisa sambil menyodorkan sebotol air mineral dari perbekalannya.


"Terima kasih, Raisa! Kau minum sendiri saja milikmu, aku juga memilikinya dalam barang bawaanku," kata Chilla yang mengeluarkan perbekalan miliknya sendiri.


Mereka beristirahat dan memakan sedikit dari perbekalan mereka.


Chilla hanya minum sedikit, namun sudah cukup banyak makanan yang dihabiskannya walau baru istirahat sebentar.


"Hei, gendut! Jangan terlalu banyak makan, kalau tidak kau sendiri yang akan mengeluh saat perbekalanmu habis nanti! Nanti kau tidak sanggup berjalan lagi!" omel Ian


"Berisik! Kalau tidak makan sebanyak ini, justru aku tidak akan punya tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Yang penting aku tidak akan meminta perbekalan milikmu, jadi urus saja dirimu sendiri, dan jangan pedulikan aku," oceh Chilla


"Tidak boleh terlalu lama bersantai-santai, kita harus kembali bergegas! Cepat rapikan lagi barang kalian dan segera lanjutkan perjalanan," tegas Devan


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Ada yang mengira mereka akan tiba di tempat tujuan pada tengah hari, tapi nyatanya mereka terpaksa harus berjalan kaki tanpa menumpangi kereta.


Dan mereka semua terjebak oleh terpaan angin yang bertiup dengan kencang serta membawa banyak pasir berterbangan bersama di sekelilingnya~ Itu membuat mereka tidak bisa melihat jelas ke arah depan.


"Padahal kita tidak sedang berada di Desa Pasir, tapi rasanya seperti diterpa badai pasir," kata Raisa


"Dari mana asal semua pasir ini?" tanya Aqila


"Desa itu berada di perbatasan Negara Angin, Desa Pasir. Mungkin kita sudah hampir sampai," jawab Morgan


Semakin lama mereka berjalan angin bertiup semakin kencang. Angin yang bertiup bersamaan dengan pasir, membuat perjalanan mereka semakin terhambat dan jarak pandang mereka semakin memendek karena pandangan semakin kabur dan sulit melihat dengan jelas~


"Tidak bisa melihat apa pun jika terus seperti ini," keluh Aqila


Rumi pun cepat mengambil tindakan dengan menggunakan sihir elemen angin untuk setidaknya meniup pergi pasir yang mengepung jarak pandang mereka~


Mereka pun bertahan untuk tetap berdiri tegak dengan mengokohkan kedua kaki di tengah perang hembusan angin.


Setelah semua berakhir dan pasir itu hilang dari sekeliling, mereka pun bisa bernafas lega.


"Akhirnya, itu berakhir juga," kata Ian


"Terima kasih, Rumi," ucap Morgan


Rumi pun tersenyum kecil.


Pasir yang berhembus mengelilingi mereka memang sudah menghilang. Setelah keadaan sulit itu lenyap, tiba-tiba saja tanak yang mereka pijaki itu berguncang cukup kencang!


Walau tidak membawa pasir dan bertiup bersama, namun ada suatu sosok yang mengerikan muncul dari kejauhan.


"Apa itu!?! Mengerikan sekali," ujar Chilla seraya memekik panik.


Sesuatu yang berwarna hitam gelap berukuran seperti raksasa datang mendekat!


Dalam situasi buruk dengan adanya serangan monster yang sering muncul, kondisi ini tidak sama dengan itu, walau mungkin memang mirip!


Data misi yang telah diberikan, memberi tahu bahwa monster misterius yang sering melakukan penyerangan adalah hewan sihir yang memang berukuran seperti raksasa sedang mengamuk. Namun, sosok makhluk hitam gelap ini bukanlah sosok hewan sihir seperti yang diberi tahukan, melainkan adalah sebuah roh kegelapan!


"Itu adalah roh yang bangkit dari kegelapan! Berhati-hatilah, mungkin ini lebih berbahaya dari serangan monster misterius yang dibicarakan itu," pekik Devan


Semua pun bersiap dalam posisi masing-masing saat roh yang dikatakan Devan itu menunjukkan tanda akan menyerang.


Dan benar saja! Roh itu mengamuk tidak jelas ke segala arah dan mulai membahayakan mereka bertujuh!


Mereka semua pun balas menyerang ke arah roh kegelapan itu dengan segala cara~


Namun, itu tidak membuahkan hasil! Walau roh itu lenyap, seberkas kegelapan akan kembali muncul dan bersatu menjadi sosok roh kegelapan yang baru dan mengulangi serangan yang sama dengan lebih membabi buta~


"Serangan kita tidak ada yang berhasil," kata Ian


"Lawan kegelapan adalah cahaya," sadar Morgan berucap begitu saja.


Sadar dengan kebenaran ucapan Morgan, Aqila pun menyerangnya dengan cahaya yang mampu dikeluarkannya... Itu adalah serangan dari jurus semburan naga api~


"Tidak! Jangan menyerangnya dengan api!" larang Raisa berteriak.


Raisa memang melarang, tapi serangan sudah diluncurkan~


Roh itu memang menghilang seperti sebelumnya, namun terus menyatu dan bangkit kembali menjadi roh yang baru! Dan amukannya semakin parah dan lebih besar dari pada sebelumnya~


Roh kegelapan itu menyerang Aqila sampai tumbang~


Aqila pun terkapar pingsan tidak berdaya.


"Tidak! AQILA!!" teriak Morgan


Morgan langsung menghampiri Aqila yang jatuh pingsan.


"Roh kegelapan paling benci api, menyerangnya dengan api hanya akan membuatnya semakin marah," ungkap Raisa


"Bagaimana kau tahu itu? Lalu, bagaimana cara mengatasinya?" tanya Devan


"Lindungi Aqila! Roh itu akan menargetkan orang yang menyerangnya dengan api tadi. Ian, bantu pulihkan Aqila! Aku akan mencoba mengatasi roh itu," ucap Raisa tanpa menjawab pertanyaan Devan.


Morgan dan Chilla menjaga Aqila di sisinya, Ian yang bisa menggunakan sihir medis mencoba memulihkan Aqila, Devan berdiri melindungi teman-temannya itu.


Rumi berdiri tegang terus memerhatikan Raisa yang mencoba melawan roh kegelapan yang semakin marah dan menjadi-jadi~


Raisa mencoba mengalahkan roh kegelapan dengan sihir elemen angin. Namun, roh kegelapan itu terus melepaskan diri dari serangan Raisa~

__ADS_1


"Ini lebih sulit dari dugaanku! Aku membutuhkan air, tapi tidak bisa menggunakan elemen sihir itu sekarang. Morgan, aku butuh bantuanmu," ujar Raisa


Morgan langsung mengerti setelah dimintai bantuan dan bergegas mendekati Raisa.


Kondisi Raisa yang kelelahan setelah terus menerus menyerang roh kegelapan tidak bisa menggunanakan sihir elemen air dan mengeluarkannya langsung dari tenaga sihir tanpa adanya air dari sumber lainnya. Raisa pun membutuhkan bantuan Morgan yang bisa menggunakan jurus terpaan ombak tanpa harus berasal dari sumber lain melainkan bisa mengeluarkannya langsung dari tenaga sihirnya.


"Bantu dan jaga Aqila, aku akan membantu Raisa supaya ini cepat selesai," ucap Morgan


Morgan berlari mendekati Raisa dan langsung mengeluarkan jurus terpaan ombak. Begitu air muncul dengan deras setelah Morgan menggunakan sihirnya, Raisa langsung menggunakan limpahan air tersebut untuk menyerang roh kegelapan.


Raisa mengendalikan limpahan air tersebut untuk mengelilingi dan membasahi keseluruhan sosok roh kegelapan itu. Raisa memengaruhi limpahan air dengan sihirnya hingga air yang memenjarakan roh kegelapan itu menjadi bercahaya~


Roh kegelapan itu menjadi tenang, dan warna hitam roh kegelapan memudar dan perlahan menghilang, lalu berubah menjadi transparan seperti kebanyakan roh pada umumnya. Detik selanjutnya, roh itu menghilang begitu saja~


"Selesai sudah," gumam Raisa


"Kau berhasil, Raisa," kata Morgan


Setelahnya, tubuh Raisa melemas. Namun, masih sanggup berdiri. Rumi langsung mendatanginya dan berjaga-jaga di sisi Raisa jika butuh bantuannya.


"Kau tahu cara mengatasi roh kegelapan, Raisa?" tanya Devan


"Aku tahu sedikit tentang roh kegelapan. Aku butuh banyak air untuk menenangkannya, namun karena kelelahan aku tidak bisa mengeluarkannya langsung dengan tenaga sihirku. Dalam kondisi ini sangat dibutuhkan sumber air dalam jumlah banyak, dan aku teringat Morgan bisa melakukan jurus elemen air, yaitu terpaan ombak. Lalu, kami bekerja sama dengan cara Morgan yang menghasilkan air dan aku melakukan sisanya seperti tadi," jelas Raisa


"Jadi, tadi kau bukan melawannya, tapi menenangkannya?" tanya Morgan yang kembali menghampiri Aqila.


"Benar. Api bisa membuatnya marah, tapi air bisa menenangkannya," ungkap Raisa


Raisa pun ikut menghampiri Aqila yang masih belum sadarkan diri, walau Ian sedang mencoba memulihkannya.


"Bagaimana dengan Aqila?" tanya Raisa


"Kondisinya sangat lemah. Sepertinya serangan yang mengenainya tadi sangat kuat," jawab Ian


"Serangan roh kegelapan memang bukan main-main," kata Raisa


"Lalu, kita harus bagaimana? Apa kau memerlukan air lagi? Apa aku harus mengulang sihir seperti tadi?" tanya Morgan dengan cemas.


Raisa merogoh perbekalannya dan mengeluarkan sebotol penuh air mineral dari sana.


"Tidak perlu, sekarang aku hanya butuh sedikit air. Air di dalam botol ini saja sudah cukup," jawab Raisa


Raisa membuka tutup botol miliknya dan menggunakan sihirnya mengeluarkan air dari dalam botol tersebut untuk sapukan ke seluruh tubuh Aqila. Terus menerus dari atas hingga bawah dan berulang-ulang~


"Tapi, itu perbekalan milikmu. Dan satu botol penuh," segan Morgan merasa tidak enak saat Raisa harus mengorbankan perbekalan miliknya.


"Seperti katamu, ini hanya satu botol penuh air. Tidak apa, yang penting adalah keselamatan Aqila dan supaya dia cepat sadar. Lagi pula, kita sudah dekat, makanya kita harus segera membuat Aqila sadar dan melanjutkan perjalanan," ucap Raisa


Raisa terus mencoba membuat Aqila sadar dengan caranya, Ian pun ikut mentransfer tenaganya pada Aqila untuk membantu Raisa membuatnya tersadar.


Dalam penanganan Raisa, sesuatu berwana hitam gelap menguap ke luar dari tubuh Aqila dan lenyap begitu saja. Kemudian, perlahan Aqila pun membuka matanya dan sadar dari pingsan~


"Itu pengaruh kekuatan roh gelap yang perlahan ke luar dari tubuh Aqila. Setelah ini akan terus berangsur membaik," ungkap Raisa


"Ugh~ Kepalaku sakit, tubuhku lemas. Apa yang terjadi padaku?" ujar Aqila bertanya.


"Kekuatan roh kegelapan memengaruhi tubuhmu, membuatmu tak sadarkan diri setelah menyerang roh itu dengan sihir api," ungkap Rumi


"Lalu, di mana roh tadi? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Aqila


"Jangan khawatir, semua sudah ditangani oleh Raisa," jawab Chilla


"Terima kasih banyak, Raisa," ucap Aqila


"Jangan sungkan, aku hanya membantu temanku. Apa kau sudah bisa berdiri, Aqila? Kita harus segera melanjutkan perjalanan, sebelum roh kegelapan lain atau monster misterius muncul dan menyerang lagi. Morgan, kau papah Aqila atau sekalian saja gendong dia. Kita harus bergegas," ujar Raisa


"Benar. Ayo, bergegas! Semangat, sebentar lagi kita sampai," kata Devan


Morgan pun bergerak menggendong Aqila di punggungnya. Wajah Aqila yang bersemu merah disembunyikan dengan cara bersandar pada punggung Morgan. Aqila terpaksa menerima keadaan canggung tersebut karena kondisinya belum pulih sepenuhnya.


"Raisa, kau sudah mengalahkan roh kegelapan dan membantu memulihkan Aqila. Apa kau lelah? Apa perlu kugendong juga?" ujar Rumi bertanya.


"Tidak perlu, aku masih kuat sendiri, tapi kau genggamlah tanganku! Untuk berjaga-jaga, jika aku terjatuh, maka tariklah tanganku," ucap Raisa yang langsung meraih tangan Rumi minta untuk digenggam.


Tak meninggalkan kesempatan itu, Rumi pun menggenggam erat tangan Raisa~


Raisa memilih demikian untuk setidaknya tidak membuat Rumi merasa tersakiti lagi. Namun, entah tindakannya sudah benar atau tidak. Atau ia malah semakin membuat Rumi terluka dengan perlakuannya yang seolah memberi harapan palsu~


"Ayo kita ke sebelah sini," kata Ian


Devan berjalan lebih dulu, lalu Ian mengikutinya, dan kemudian yang lain juga berjalan di belakangnya.


Mereka terus berjalan menuju ke Desa Bambu sebagai tempat tujuan misi. Setelah sibuk menyerang dan mengatasi roh kegelapan di tengah perjalanan sebelumnya, mereka baru tiba di tujuan saat hari sudah mulai sore~


Seorang pria paruh baya berdiri tak jauh seolah sedang menunggu kedatangan mereka. Begitu mereka berjalan mendekat, pria tersebut menghampiri mereka dengan wajah cemasnya.


"Apa kalian yang datang dari Desa Daun untuk mengatasi serangan monster misterius di desa kami?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Benar. Kami datang dengan misi seperti yang Anda katakan," jawab Devan


"Kenapa kalian baru sampai saat sore hampir tiba?"


"Seperti yang Anda lihat, salah satu anggota kami terluka di tengah jalan. Pasti Anda sudah bisa menebaknya, ini adalah ulah roh monster yang menyerang dan berusaha menghalangi kami datang ke sini," jelas Ian


Pria paruh baya itu terkejut dengan penjelasan Ian, namun juga seperti sudah menduganya akan jadi seperti itu.


"Maafkan saya yang sudah menyambut kalian dengan kurang baik. Nama saya adalah Derril, penjaga panti asuhan tempat kalian akan menginap di sini. Mari, kita ke panti terlebih dulu. Saya akan jelaskan detailnya saat sudah sampai nanti," ucapnya


"Mohon, Kakek pimpin jalan," sopan Morgan yang sepertinya sudah merasa lelah karena harus menggendong Aqila.


"Silakan ikuti saya," katanya, Tuan Derril.


Bersama Tuan Derril yang menunjukkan jalan, mereka bertujuh pun menuju ke panti asuhan bersama.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2