
Setelah Aqila dan Morgan pergi ... meski telah menjadi kombinasi yang aneh, Raisa, Rumi, dan Amon tetap bergerak dengan kompak.
"Maafkan saya, Tuan Pemimpin Desa. Rumi telah melarikan diri," ucap Guru Kevin melalui sambungan komunikasi pada earphone nirkabel (bluetooth) di telinganya.
"Raisa, pun sama. Dia juga melarikan diri setelah mengejutkanku dengan berlari menabrak ke arahku," ungkap Bibi Sierra melalui sambungan komunikasi pada earphone nirkabel (bluetooth) di telinganya.
"Kalau begitu, biarkan saja mereka ... tidak apa. Jika beremu dengan mereka berdua, kalian hanya perlu mengawasi dan melindungi mereka berdua secara tidak langsung," ujar Tuan Nathan selaku Pemimpin Desa Daun melalui sambungan komunikasi pada earphone nirkabel (bluetooth) di telinganya.
"Mereka berdua sama saja. Sama-sama keras kepala. Merepotkan saja," ucap Tuan Rafka merujuk pada Raisa dan Rumi.
Raisa, Rumi, dan Amon baru saja selesai mengatasi sekelompok para penyusup lainnya yang baru saja masuk melalui sisi timur desa.
"Amon, ini adalah pusat komunikasi desa. Aku sudah mendapat informasinya dan sedang dalam proses penyebaran. Kalian bertiga yang tersisa di sisi timur desa bisa pergi dari sana, temui dan bergabunglah dengan rekan lainnya. Kami akan mengirimkan pasukan pelindung desa untuk memberi pembatas sihir di setiap penjuru sisi desa, termasuk sisi timur. Kalian sudah boleh pergi dari sana," pesan Bibi Irene yang menghubungi Amon melalui sihir transmisi suara miliknya.
"Dimengerti," kata Amon membalas pesan melaui sihir transmisi suara yang dikirimkan padanya dari Bibi Irene.
"Pusat komunikasi telah menghubungiku. Kita diminta meninggalkan sisi timur desa ini karena sudah akan ada tim pelindung yang akan membangun sihir pembatas di sini. Kita diminta untuk bergabung dengan yang lain," ucap Amon
"Baik. Kalau begitu, ayo pergi dari sini ... " ujar Raisa
"Ayo, Raisa!" Rumi menggenggam tangan Raisa saat pergi dari sisi timur Desa Daun.
Mereka bertiga pun segera neninggalkan sisi timur Desa Daun dengan Amon yang memimpin jalan di depan.
"Nathan, ini aku Irene dari pusat komunikasi desa. Aku telah mendapat informasi penting tentang penyerang dan kelemahannya. Aku butuh konfirmasi dan tanggapanmu mengenai informasi ini. Aku akan menghubungimu dengan pembawa informasi," pesan Bibi Irene melalui sihir transmisi suara miliknya.
"Sambungkan dan katakan saja," balas Tuan Nathan melalui sihir transmisi suara yang dihubungkan dari Bibi Irene.
__ADS_1
"Ayah, ini aku dan dengarkan baik-baik. Aku bertemu Raisa dan mendapat informasi ini darinya. Para penyusup yang masuk ke Desa Daun adalah orang-orang yang terpengaruh sihir pengendali. Dalang di balik semua ini adalah Sang Dewa yang sama dengan kejadian 4 tahun lalu. Kemampuan sihir yang digunakan Sang Dewa untuk menyerang adalah kemampuan sihir milik Raisa yang berhasil dirampas olehnya. Makanya, Raisa bisa tahu kelemahannya dan memberitahu padaku informasi ini," ungkap Morgan melalui sihir transmisi suara yang dihubungkan oleh Bibi Irene.
"Kemampuan sihir ini adalah kekuatan yang suci dan yang memiliki kemampuan sihir ini haruslah memiliki niat yang suci di segala tindakannya. Ini bertentangan dengan niat Sang Dewa yang jahat dan inilah kelemahannya. Karena segala tindakan jahat Sang Dewa dengan menggunakan kemampuan sihir yang awalnya milik Raisa ini, dia akan mendapat ganjaran. Dengan segala tindakan jahat Sang Dewa, semakin lama kekuatannya akan semakin melemah karena telah menyalahgunakan kemampuan sihirnya hanya untuk kepentingannya sendiri dengan melukai banyak orang. Setelah semakin melemah seiring waktu, kemampuan sihirnya akan lenyap sepenuhnya dengan sendirinya karena niatnya yang salah dalam menggunakan kekuatan suci ini," sambung Morgan menjelaskan
"Tuan Pemimpin Desa, ini aku ... Aqila. Dengan adanya kelemahan ini, Raisa memberitahu kami agar membiarkan Sang Dewa menyerang dengan membabi buta. Jangan membuang-buang tenaga dengan menghalangi atau membalas serangan, hanya perlu menahan serangan. Biarkan Sang Dewa muncul sendiri dan menyerang dengan semaunya, maka dia akan kehilangan seluruh kemampuan sihir sepenuhnya dengan sendirinya nanti," ungkap Aqila melalui sihir transmisi suara yang dihubungkan oleh Bibi Irene.
"Morgan, Aqila ... apa kalian yakin dengan kepastian informasi ini?" tanya Tuan Nathan
"Sangat yakin! Raisa yang awalnya pemilik asli kemampuan sihir yang dimiliki Sang Dewa saat inilah yang memberitahu pada kami. Jadi, informasi ini sudah sangat pasti dan dipastikan sendiri oleh kami," jawab Morgan
"Sebenarnya ada satu lagi informasi. Kemampuan sihir yang harusnya dimiliki oleh Raisa ini tidak akan mempan pada pemilik aslinya. Mau bagaimana pun para penyusup yang dikendalikan Sang Dewa atau Sang Dewa sendiri ingin menyerang Raisa, semua itu tidak akan berpengaruh padanya. Karena kemampuan sihir ini tidak akan melukai pemilik asli yang seharusnya ... yaitu Raisa. Hanya ini informasi yang bisa kami sampaikan," ungkap Aqila
"Bagaimana dengan tanggapanmu, Nathan? Dan, apa perintahmu setelah mendengar informasi ini?" tanya Bibi Irene
"Tolong turunkan dan sebarkan perintah yang sesuai dengan informasi ini! Jangan menghalangi atau membalas serangan, semua hanya perlu menahan serangan. Sebarkan perintah ini ke seluruh staf dan tunggu perintah selanjutnya!" titah Tuan Nathan selaku Pemimpin Desa.
"Dimengerti! Aku akan segera menyebarkan perintahmu. Kalau begitu, akan kuputuskan hubungan komunikasinya," ucap Bibi Irene
"Terima kasih atas informasi pentingnya. Kalian berdua sudah bisa kembali bergabung dengan yang lainnya," ucap Bibi Irene
"Sama-sama," kata Morgan
"Kalau begitu, kami pergi dulu ... " ujar Aqila berpamitan.
Aqila dan Morgan pun beranjak pergi dari pusat komunikasi Desa Daun.
"Ada perintah dari Pemimpin Desa! Jangan menghalau atau membalas serangan yang ada, semuanya hanya perlu menahan serangan. Jangan banyak bertanya, lakukan saja sesuai perintah! Ini adalah siasat yang sudah ditetapkan!" pesan Bibi Irene melalui sihir transmisi suara miliknya dari pusat komunikasi menyebar ke seluruh staf yang bekerja melindungi Desa Daun.
Semua staf telah menerima pesan perintah Pemimpin Desa yang disebarkan oleh Bibi Irene melalui sihir transmisi suara dari pusat komunikasi Desa Daun.
Meski merasa bingung dengan alasan Pemimpin Desa di balik turunnya perintah tersebut, semua staf pun bergerak sesuai perintah. Karena itu, mereka semua tidak perlu buang-buang banyak tenaga, tapi semua diuntungkan dengan melemahnya kekuatan para penyusup dan jumlah penyusup yang masuk pun semakin berkurang karena di segala penjuru Desa Daun telah didirikan sihir pembatas untuk melindungi seisi desa dari serangan luar.
__ADS_1
Raisa, Rumi, dan Amon pun selalu berhadapan dengan para penyusup di perjalanan mereka. Pada akhirnya, Rumi dan Amon akan menyegel pergerakan dan kesadaran para penyusup. Lalu, ketiganya terus meneruskan perjalanan hingga bertemu dengan staf pasukan atau tim lain untuk bergabung dengan yang lainnya.
Saat itu, Raisa, Rumi, dan Amon bertemu dengan Devan, Ian, dan Chilla. Juga dengan Sang Dewa yang akhirnya muncul dan menampakkan dirinya.
"Raisa, Rumi, kalian ada di sini juga?" tanya Chilla
"Ya. Kami ikut bergabung dengan yang lain seperti kalian," jawab Rumi
"Itu pasti karena kalian yang keras kepala dan memaksa untuk ikut, padahal harusnya kalian berada dalam perlindungan desa. Merepotkan saja," ucap Devan
Raisa hanya menanggapi dengan tersenyum kecil.
"Di mana, Aqila dan Morgan? Amon, bukannya tadi kau bersama mereka berdua?" tanya Ian
"Mereka berdua pergi untuk mengurus urusan yang lebih penting," jawab Amon
Saat itulah, Sang Dewa muncul dari balik bukit selatan Desa Daun.
"Ternyata, sihir ini tidak banyak berguna. Aku masih harus turun tangan sendiri menghadapi orang-orang tak berguna itu. S**l*n,"
"Sang Dewa!"
Setelah cukup lama mengendalikan banyak orang demi kepentingannya sendiri, akhirnya Sang Dewa pun muncul dan menunjukkan sosoknya di suatu tempat di Desa Daun.
Melihat Sang Dewa yang ke luar dari persembunyiannya, Raisa dan Rumi saling menggenggam tangan satu sama lain dengan maksud bersikap protec. Keduanya ingin saling melindungi satu sama lain.
Raisa ingin melindungi Rumi agar tidak dijadikan tumbal oleh Sang Dewa. Sedangkan, Rumi ingin melindungi Raisa agar tidak terluka lagi karena Sang Dewa. Sikap ingin saling melindungi antara keduanya muncul karena adanya perasaan saling mencintai satu sama lain.
.
•
Bersambung...
__ADS_1