
Begitu sampai dan masuk ke dalam rumah (Rumi), Raisa termenung beberapa saat. Wanita itu berpikir tentang suatu hal hingga membuatnya melamun. Namun, lamunannya itu terbuyarkan saat sang suami menyerukan namanya.
"Raisa, ada apa? Kenapa kau melamun?" tanya Rumi
"Maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Raisa yang tersadar dari lamunannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rumi
Raisa pun bergerak untuk menghadap ke arah suaminya dan menatap pria yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, aku harus mengatakan ini denganmu. Bagaimana kalau kita pindahkan saja kasur yang ada di rumah ini ke rumahku untuk dipakai Ibu dan Bapak? Aku tidak tega jika Ibu dan Bapak tidur dengan kasur lantai. Tapi, karena kasur di sini hanya ada satu, aku perlu izin darimu," ujar Raisa
"Jadi, kau memikirkan hal ini hingga membuatmu jadi melamun? Kalau untuk hal seperti ini kau tidak perlu izin dariku, boleh kok. Aku juga tidak tega jika membiarkan Ibu dan Bapak tidur dengan kasur lantai," ujar Rumi
"Terima kasih, Sayang. Sekarang kita hanya perlu pindahkan kasurnya sambil mengantarkan laptop pada Raihan," ucap Raisa
Rumi hanya mengangguk pelan.
Raisa mulai kembali menggunakan kemampuan sihirnya seperti penyedot debu untuk menyimpan ranjang kasur yang ada di kamar rumah itu ke dalam ruang penyimpanan sihir miliknya.
Setelah itu, keduanya pun kembali ke rumah (Raisa) untuk mengantarkan laptop dan memindahkan ranjang kasur ke sana.
Raisa pun mengulurkan satu tangannya untuk mengetuk pintu dan langsung membukanya. Ia dan sang suami langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.
"Raihan, ini laptopnya." Rumi pun memberikan laptop yang dibawa olehnya pada sang adik ipar.
"Wah ... terima kasih, Kak Rumi," ucap Raihan yang langsung mengambil laptop dari tangan sang kakak ipar.
"Sama-sama," balas Rumi
"Pakai baik-baik, jangan sampai merusak barang punya orang lain," pesan Raisa
"Siap, Kak ... aku mengerti kok," kata Raihan
Raisa pun langsung beralih menuju kamar kedua orangtuanya dan bergerak mengetuk pintu kamar. Rumi pun mengikutinya dari belakang.
Tok-tok-tok!
"Ibu dan Bapak ada di dalam?" tanya Raisa dari luar kamar.
"Ya. Buka aja pintunya," jawab Bu Vani dari dalam kamar.
Kriiett~
"Maaf, aku buka pintunya, ya ... permisi. Aku masuk," ujar Raisa
"Ada apa, Sa? Kamu sampai ajak suamimu balik lagi ke sini, mau apa?" tanya Pak Hilman
Raisa pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan hati-hati diikuti oleh sang suami yang berjalan pelan di belakangnya.
"Ibu sama Bapak lagi apa?" tanya Raisa
"Lho, kamu ditanya malah nanya balik," kata Pak Hilman
"Lagi beberes barang-barang, nih ... " ungkap Bu Vani
"Barangnya adek Ibu juga yang beresin? Kok dia gak beresin sendiri?" tanya Raisa
"Biarin aja. Mungkin dia merasa sempit kalau ikut masuk ke kamar yang kecil ini untuk ikut beres-beres," jawab Bu Vani
"Itu, mah, dianya aja yang malas. Dasar, bocah manja merepotkan," gumam Raisa mendumel pelan.
"Untunglah kasur lipat lantainya belum digelar," sambung Raisa
Raisa melihat kasur lipat lantai yang masih dalam kondisi dilipat rapi yang diletakkan di pinggir kamar di dekat dinding.
"Ibu sama Bapak bisa geser dulu sedikit? Aku mau taruh sesuatu buat Ibu dan Bapak di dalam kamar ini," ujar Raisa meminta.
"Kamu mau apa, sih, Raisa? Kamar kecil seperti ini kamu jangan taruh sesuatu yang macam-macam kalau malah cuma bikin kamar jadi makin sempit," ujar Pak Hilman
"Iya, aku tahu. Kamarnya emang sempit. Maaf," kata Raisa yang merasa bersalah karena tidak bisa menyediakan tempat yang lebih bagus untuk keluarganya tinggal.
"Kamu tahu, kan, Raisa ... kalau Bapakmu gak bermaksud seperti itu?" tanya Bu Vani
"Tahu kok, Bu. Hehe," jawab Raisa disertai dengan tawa kecilnya.
Bu Vani dan Pak Hilman pun bergeser posisi hingga ke dekat dinding sesuai permintaan Raisa. Lalu, anak perempuan kini yang sudah menjadi istri orang itu menggunakan kemampuan sihirnya untuk mengeluarkan ranjang kasur dari ruang penyimpanan sihir miliknya dan memposisikannya dengan baik di dalam kamar tersebut.
"Ini ranjang kasur dari rumah Rumi yang sengaja kami pindahkan ke sini untuk Ibu dan Bapak. Sama kayak yang di kamar utama, cuma bisa muat untuk 2 orang, tapi lebih baik dari pada Ibu Bapak tidur pakai kasur lantai," ucap Raisa
"Ini, sih, kasur yang paling cocok buat pengantin baru," kata Bu Vani
"Mending kamu pindahkan lagi aja ranjang kasur ini ke rumah yang satu lagi dan pakai untuk kalian berdua aja," ujar Pak Hilman yang menolak ranjang kasur pemberian dari anak dan menantu yang dipindahkan ke sana.
__ADS_1
"Lho, emangnya kenapa?" tanya Raisa
"Pasti karena kasurnya terlalu kecil untuk Ibu dan Bapak," tebak Rumi
"Seperti ini, lho, Nak ... kami ini dua orang yang udah tua. Bapak dan Ibu kalau tidur itu harus cari posisi nyaman, gak bisa tidur saling berhimpitan atau kayak pengantin baru yang saling berpelukan. Kasurnya emang muat buat dua orang, tapi, ya ... seperti yang tadi Bapak bilang itu lah. Dari pada sewaktu cari posusi nyaman saat tidur malah jatuh dari atas kasur, mending juga tudur di bawah pakai kasur lantai," jelas Pak Hilman
"Benar kata Bapak. Bukannya kami mau menolak kebaikan anak dan menantu, tapi cukup kami terima niat baiknya aja," ungkap Bu Vani
Dilihat dari ukuran kasur yang anti meanstream itu memang sebenarnya memang bisa terlihat lebih luas saat digunakan untuk satu orang tapi tampak pas-pasan jika digunakan untuk dua orang.
*ukuran kasurnya kira-kira sama dengan yang ada di rumah Upin & Ipin pada serial kartun dengan judul tersebut.
Dari pada pasangan orangtua seperti Bu Vani dan Pak Hilman terjatuh dari atas kasur saat sedang tidur, memang lebih baik sekalian tidur di bawah dengan beralaskan kasur lantai saja. Dapat dikatakan jauh lebih aman.
Apa lagi Bu Vani dan Pak Hilman pernah merasakan tidur di atas papan kayu atau bambu atau bahkan di lantai hanya dengan alas tikar yang keras dan kasar begitu menyentuh kulit saat zaman serba sulit dahulu. Jadi, tidak akan jadi masalah bagi keduanya tidur di bawah (lantai) dengan kasur lantai. Sudah lebih baik dari pada hanya dengan tikar atau terjatuh dari atas kasur.
"Apa Ibu dan Bapak yakin gak mau pakai ranjang kasur ini aja? Mau tetap pakai kasur lantai?" tanya Raisa untuk lebih memastikan.
"Iya, kamu pindahkan lagi aja untuk kamu pakai berdua sama Rumi," jawab Pak Hilman
"Terima kasih udah buat kalian berdua repot pindahin ranjang kasur ke sini, tapi malah gak dipakai," ucap Bu Vani
"Tidak repot kok, Bu," kata Rumi
"Iya, gak repot kok. Kalau begitu, aku bawa ranjang kasurnya lagi, ya. Dari pada cuma bikin sempit di sini," ujar Raisa
Bu Vani dan Pak Hilman pun mengangguk dengan serempak. Lalu, yang dimaksud dengan aku bawa ranjang kasurnya lagi adalah Raisa menyimpan ranjang kasur itu kembali ke dalam ruang penyimpanan sihir miliknya.
"Sekali lagi terima kasih," ucap Bu Vani
"Ibu dan Bapak tidak perlu sungkan," kata Rumi
"Oh, ya ... tadi ada yang lupa aku bilang. Kalau mau makan, di dapur ada banyak bahan makanan meski gak terlalu banyak juga. Mungkin kebanyakan cuma makanan instan, tapi makan dulu aja yang ada untuk sementara. Karena nanti, hari ini atau besok, kita udah mulai pergi berwisata di sekitar Desa Daun ini," ujar Raisa
"Gampanglah itu, mah ... " kata Pak Hilman
"Kalau begitu, aku dan Rumi pamit lagi, nih ... " ujar Raisa
Bu Vani dan Pak Hilman hanya mengangguk untuk menanggapi. Raisa dan Rumi pun beranjak ke luar dari kamar tersebut.
Begitu memasuki ruang tengah, pasangan pengantin baru itu kembali berpapasan dengan si kecil Farah yang sengaja menghampiri keduanya di sana.
"Onty Icha sama Uncle Rumi mau pergi ke rumah satunya lagi, ya? Aku boleh ikut gak?" tanya Farah
"Boleh kok," jawab Raisa
"Iya, Farah di sini aja. Bareng Om Ehan main laptop," bujuk Raihan
"Gak. Aku mau main sama Onty Icha dan Uncle Rumi," kata Farah
"Gak apa, biar aja Farah ikut sama aku dan Rumi. Nanti biar aku juga siapin makan untuk Farah di sana," ucap Raisa
"Nanti Kak Raina jemput aja Farah-nya selang tiga rumah dari sini yang warna rumahnya abu-abu tua," sambung Raisa
"Maaf, nih, jadi merepotkan kalian berdua terus," ujar Raina
"Tidak masalah, Kak Raina," kata Rumi
"Hei, bujang ... sana beresin barang kamu di dalam kamar. Jangan cuma andalin Ibu aja, dasar pemalas manja. Biar Ibu bisa siapin makan siang," ujar Raisa yang beralih bicara pada adik lelakinya.
"Ayo, Farah ... ikut Onty Icha dan Uncle Rumi," sambung Raisa mengajak keponakan perempuannya menuju rumah (Rumi) yang lain.
Raihan mendengus kesal. Ia pun pasrah dan bangkit beranjak ke dalam kamar untuk membereskan barang bawaan miliknya agar Bu Vani dapat beralih ke dapur untuk memasak. Ditemani oleh Raina, Bu Vani pun memasak untuk makan siang di dapur.
Sedangkan Farah beranjak pergi bersama Raisa dan Rumi.
Setibanya di rumah (Rumi) lainnya, Farah sibuk memandangi seisi rumah tersebut yang ternyata memang lebih kecil dari pada rumah (Raisa) sebelumnya.
"Kok warna rumahnya gelap, sih, Uncle Rumi?" tanya Farah
Rumah tersebut terkesan gelap karena berwarna abu-abu tua yang berbeda dengan rumah sebelumnya yang berwarna jingga kekuningan.
"Karena dulunya ini rumah Uncle Rumi, anak lelaki biasanya suka warna yang gelap," jawab Raisa
"Tidak juga. Rumah ini memang sudah berwarna seperti ini sejak aku tinggal di sini dari kecil. Aku terlalu malas untuk mengubah warna rumah ini," ungkap Rumi
"Seperti itu, ya ... " kata Farah
Rumi memang lebih menyukai warna biru dan putih seperti kebanyakan pakaiannya dari pada warna abu-abu tua yang terkesan gelap seperti warna rumahnya.
Raisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Saat itu kucing peliharaan Rumi datang dan masuk lewat pintu masuk hewan yang seperti lubang kecil di tengah bawah pintu yang diberi terpal plastik yang dijadikan seperti gorden untuk jalur ke luar masuk kucing tersebut ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ada kucing! Lucu banget!" seru Farah
"Itu kucing peliharaannya Uncle Rumi. Namanya Mika," ungkap Raisa
"Jadi, ingat kucing Onty Icha yang namanya Mina. Tapi, kalau Mina warna bulunya putih semua, kalau Mika ini warna bulunya hitam putih. Aku boleh main sama Mika gak?" tanya Farah
"Boleh, kok. Mika tidak galak, dia jinak," jawab Rumi
"Hore!" seru Farah dengan girangnya.
"Halo, Mika .. mpus," sambung Farah yang langsung mencoba mendekati kucing peliharaan Rumi.
"Farah, di sini dulu, ya ... main sama Mika. Kalau kucingnya ke luar, jangan dikejar. Onty Icha sama Uncle Rumi mau masak dulu di dapur," ujar Raisa
"Oke," patuh Farah
Farah pun bermain bersama Mika sambil duduk di atas lantai kayu rumah itu. Sedangkan Raisa dan Rumi beranjak bersama menuju ke dapur dan memasak makan siang di sana untuk mereka bertiga.
"Tak disangka Mika sudah besar saja. Kucingku, Mina, juga sudah besar. Dia masih ada di rumah Ibu Bapak dan sudah jarang pulang dan selalu berkeliaran. Kalau bertemu saat berkunjung ke rumah Ibu Bapak nanti, aku mau bawa dan pindahkan Mina ke rumah kita," ucap Raisa
"Kalau Mina sudah ada di rumah kita, aku juga mau pindahkan Mika ke rumah di sana saja. Supaya Mika punya teman main tetap, yaitu Mina. Mika dan Mina ... teman yang serasi. Sayangnya keduanya sama-sama betina, jadi tidak bisa dijodohkan," ujar Rumi
"Lalu, baik kucing atau manusia akan bertumbuh cepat, seperti Mika dan Mina atau Farah. Kalau kita punya anak nanti juga akan seperti itu," sambung Rumi
Raisa tersenyum. Pasangan suami istri itu sedang memasak sambil mengobrol tentamg kucing hingga soal anak. Namun, tiba-tiba saja Raisa teringat akan sesuatu.
"Omong-omong, soal memindahkan ... aku lupa belum ke luarkan ranjang kasurnya dari ruang penyimpanan sihir. Tunggu sebentar, ya, Sayang ... aku tempatkan ranjang kasurnya kembali dulu di dalam kamar," ujar Raisa yang langsung berlarian kecil menuju ke dalam kamar untuk mengeluarkan ranjang kasur dari ruang penyimpanan sihir miliknya dan memposisikan kembali ranjang kasur tersebut di sana dengan baik seperti semula.
Setelah itu, Raisa kembali menuju ke dapur untuk memasak makan siang bersama Rumi dengan menu makanan yang sederhana.
Usai memasak, Raisa dan Rumi kembali menghampiri Farah dan bergabung bermain bersama dengan Mika si kucing juga. Ketiganya alias berempat bersama Mika bermain sambil makan. Mika pun ikut diberi makan dengan makanan kucingnya. Sedangkan, Farah makan sepiring sendiri yang dipegang dan disuapi oleh Raisa dan lalu, Raisa makan sepiring berdua dengan dan sambil disuapi oleh Rumi.
"Sudah cukup, Sayang, aku sudah kenyang. Terima kasih sudah mau menyuapiku makan," ucap Raisa
"Sama-sama, Sayangku ... " balas Rumi
Rumi mendekat ke arah Raisa dan bergerak mengecup pipi sang istri yang terlihat menggemaskan baginya.
"Bagiku, kau lebih menggemaskan dari Mika dan Farah," bisik Rumi
"Kau bisa saja," kata Raisa sambil terkekeh pelan.
Setelah memberi suapan terakhir untuk Farah, pintu rumah terketuk dari luar.
Raisa pun beranjak bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
Tok-tok-tok!
Kriiett~
"Kak Raina, Raihan ... "
"Raisa, aku mau jemput Farah," ucap Raina
"Nih, Kak Raina, mau jemput ajak pakai ajak aku segala," ujar Raihan
"Masuk aja, Farah ada di dalam. Lagi main sama Mika dan baru aja selesai makan," kata Raisa
Raisa pun mempersilakan kakak perempuan dan adik lelakinya masuk ke dalam rumah. Raina masuk sambil mencari putri kesayangannya, sedangkan Raihan masuk sambil memerhatikan isi rumah tersebut.
"Ternyata rumahnya emang lebkh kecil dan simpel banget kelihatannya," gumam Raihan
"Kalau kamu mau menginap di sini, nanti malam kamu tidur di atas sofa itu," ujar Raisa sambil menunjuk ke arah sofa yang terletak pada lorong pintu masuk.
"Niat menginap di sini udah aku urungkan tadi," kata Raihan
"Kukira Farah lagi main sama siapa ... ternyata, Mika itu nama kucing," ujar Raina
"Selamat datang di rumah yang amat sederhana ini, Kak Raina, Raihan," ucap Rumi
"Mami, Om Ehan!" seru Farah
"Mih, Om, lihat, deh ... kucingnya lucu banget!" sambung Farah
"Iya, lucu, tapi Farah udah waktunya pulang. Kasihan Onty Icha sama Uncle Rumi-nya juga mau istirahat," ujar Raina
"Ya udah, deh, aku pulang. Dadah, Mika ... dadah, Onty Icha, Uncle Rumi." Farah melambaikan tangan saat bangkit berdiri.
"Dadah, Sayang // Farah," balas Raisa dan Rumi seraca bersamaan sambil melambaikan tangan.
Farah pun kembali ke rumah (Raisa) bersama Raina dan Raihan. Setelah ketiganya pergi, Raisa kembali menutup pintu rumah karena dirinya memang ingin istirahat bersama sang suami setidaknya untuk sebentar saja.
.
__ADS_1
•
Bersambung.