
Setelah dari dapur dan menemui Raina, Raisa kembali ke dalam kamarnya. Saat masuk, dilihatnya keponakannya masih terlelap tidur. Raisa pun mendekati Farah di ranjang kasur tidur dan bergerak membangunkannya dengan menggoyang pelan tubuh kecil nan mungil yang belum terbangun itu...
"Farah, bangun, Sayang... Sudah pagi nih, mandi yuk." Pelan Raisa membangunkan Si Kecil Farah, keponakannya.
Ngghh~
Farah melenguh panjang...
Farah pun membuka matanya dan perlahan melihat Raisa yang tersenyum ke arahnya.
"Farah, bangun, Sayang... Masih ingat gak semalam tidurnya berdua sama Aunty aja?" Ujar Raisa
"Ingat kok, Onty." Kata Farah yang masih mengerjapkan matanya sesekali.
"Sudah pagi nih, bangun. Yuk, mandi." Ucap Raisa
Tampaknya Farah masih sibuk mengatur kesadarannya yang baru saja terbangun dan masih merasa mengantuk. Terlihat dengan caranya mengucek mata dan menguap...
"Masih mengantuk ya? Apa Aunty tinggal aja Farah-nya tidur lagi? Tapi, habis ini Aunty mau ke luar sarapan terus main lagi deh sama teman-teman Aunty... Farah gak mau ikut ya?" Ujar Raisa
"Main? Mau ikut! Jangan tinggalin aku, Onty!" Rengek Farah yang terlihat menggemaskan.
"Ya sudah... Yuk, bangun! Kita mandi!" Kata Raisa
Farah pun bergerak hendak bangkit dari tidur dan duduk. Raisa pun membantu mendudukkan Farah yang masih sedikit kesulitan karena baru saja bangun tidur.
"Onty, udah mandi belum?" Tanya Farah
"Udah dong. Aunty cuma belum ganti baju yang lebih rapi aja, mau mandiin Farah dulu. Yuk, mandi sama Aunty." Ujar Raisa
Farah pun mengangguk dan bergerak ingin turun dari ranjang tidur. Raisa pun membantu Farah turun dari ranjang dan beralih menggendongnya menuju kamar mandi yang tersedia di dalam kamar tersebut.
Dengan peralatan mandi yang Raina sempat berikan pada Raisa saat sekalian memberi pakaian ganti yang baru, Raisa pun memandikan Farah dengan lihainya. Karena sudah berusia 3 tahun, memandikan anak sesusia Farah tidak lagi susah, ditambah lagi Farah yang sangat menuruti perkataan Raisa membuatnya lebih mudah mengurusi anak balita tersebut.
Setelah selesai memandikan Farah, Raisa pun beralih memakaikannya pakaian yang baru diberikan Raina tadi...
---
Ada seseorang lagi yang menuju ke arah dapur dan melihat ada Bu Weni dan Pak Danu yang sedang memasak di sana.
"Ada Bu Weni dan Pak Danu sedang memasak." Gumamnya
"Eh, Aden. Temannya Neng Raisa ya? Ada perlu apa, Den?" Ujar Bu Weni
"Panggil saja saya Rumi, Bu. Saya mau mengisi teko air yang habis di kamar." Ucapnya, yang ternyata adalah Rumi.
"Oh, mari saya bantu. Mana teko airnya?" Kata Bu Weni
"Tidak usah, Bu. Biar saya sendiri saja." Kata Rumi
Rumi pun mendekati dispenser untuk mengisi teko air...
"Aduh, belum sempat antar susu dan biskuit ke kamar utama!" Keluh Bu Weni yang tampak kerepotan dengan urusan dapur lainnya.
"Susu dan biskuitnya untuk siapa, Bu?" Tanya Rumi
"Oh, ini untuk Neng Raisa dan Neng Farah di kamar utama, Den Rumi." Jawab Bu Weni
"Kalau begitu, biar saya saja yang antarkan ke kamar utama. Ibu biar bantu Pak Danu lanjutkan memasaknya saja." Ujar Rumi
"Aduh, Ibu jadi gak enak. Tapi, minta tolong deh ya, Den Rumi. Takutnya sudah ditunggu sama Neng Raisa dan Neng Farah." Ucap Bu Weni
"Tidak apa. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu, Pak." Kata Rumi
Rumi pun membawa nampan susu dan biskuit di satu tangannya dan tangannya yang lain membawa teko air. Dengan mengatur keseimbangannya, Rumi pun berlalu pergi dari dapur...
---
Setelah memakaikan Farah pakaian ganti, Raisa pun masih sibuk untuk mendandani keponakan kecilnya itu...
Farah duduk di kursi di depan meja rias, diam menuruti perkataan Raisa yang ingin sedikit merias penampilan lainnya. Mulai dari menyisir rambut, memakaikan bandana, dan membedaki wajah. Hanya sesederhana itu saja...
Dari luar kamar terdengar suara seseorang yang mendekat.
"Susu dan biskuit sudah datang!"
"Masuk aja, Bu. Pintunya gak dikunci. Tolong taruhkan susu dan biskuitnya di atas meja ya." Teriak Raisa dari dalam kamar yang hanya tahu Bu Weni yang akan darang mengantarkan susu dan biskuit pesanannya tersebut.
Dari luar kamar, karena kedua tangannya dipenuhi barang yang dibawanya, Rumi menggunakan sihirnya mengeluarkan ular sihir yang sedikit berukuran lebih besar dari biasanya untuk membantunya membuka pintu kamar utama tersebut.
Saat pintu berhasil di buka, Rumi melihat Raisa yang sedang merias Farah. Raisa yang memakai pakaian yang serba pendek baru kali ini dilihatnya. Biasanya Raisa selalu memakai pakaian panjang. Jika mungkin memakai atasan berlengan pendek, tapi bawahannya selalu panjang. Berbeda dengan sekarang yang memakai atasan dan bawahan yang sama-sama berukuran pendek.
"Raisa, ini harus diletakkan di mana?" Tanya Rumi yang matanya terus terfokus melihat Raisa yang memiliki kulit putih, mulus, halus, lembut, dan bersih...
__ADS_1
Mendengar suara yang bukan milik Bu Weni membuat Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kamarnya~
"Paman ganteng!" Seru Farah
"Rumi! Kenapa jadi kau yang datang dan bukan Bu Weni?!" Kaget Raisa
"Aku menggantikan Bu Weni yang sibuk membantu Pak Danu memasak di dapur, jadi aku yang mengantarkan pesananmu ke sini." Jelas Rumi
"Oh, baik. Aku mengerti! Sekarang berikan nampan yang kau bawa itu padaku dan kau sudah boleh pergi karena sepertinya kau juga harus segera membawa teko air di tanganmu itu. Dan juga, terima kasih! Maaf, sudah merepotkanmu mengantar pesananku ini." Ucap Raisa
Setelah mengucapkan terima kasih, Raisa pun mengambil alih nampan berisi pesanannya dari tangan Rumi dan langsung mendorong tubuh Rumi sampai ke luar dari kamarnya tersebut.
"Eh, Raisa... Kenapa kau mendorongku? Kau mengusirku?" Tanya Rumi
Bukannya menjawab, Raisa malah langsung menutup pintu kamarnya dan segera menguncinya dari dalam...
"Maaf, atas sikapku dan juga telah merepotkanmu. Sekali lagi, terima kasih. Dan juga, mohon kau lupakan apa yang kau lihat di dalam barusan tadi." Ucap Raisa dari balik pintu di dalam kamar.
"Melupakan apa? Maksudmu cara berpakaianmu?" Tanya Rumi
"Sudah kubilang, tolong lupakan! Anggap saja kau tak pernah melihatku berpakaian seperti tadi. Tidak, anggap saja kau tidak masuk ke kamarku pagi ini!" Ujar Raisa
"Bagaimana aku bisa melupakan hal yang sudah kulihat?" Pelan Rumi dari luar kamar.
"Haish... Lelaki satu ini kenapa keras kepala sekali padahal aku sudah bicara dan memintanya dengan jelas!" Gumam Raisa dari dalam kamar.
Raisa tahu jika Rumi memiliki pendengaran yang tajam, tapi masih saja membicarakannya dengan hanya pintu sebagai pembatasnya.
"Raisa merasa malu saat aku melihatnya berpakaian seperti itu, rupanya. Ekspresinya tadi imut sekali!" Batin Rumi
"Raisa, kau selalu sangat cantik! Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?" Ujar Rumi
Bluushh~
Dari balik pintu di dalam kamar, Raisa tersipu. Pipi Raisa langsung merona merah...
Setelah mengatakan hal itu, lalu Rumi langsung beranjak dari depan pintu kamar Raisa.
Mendengar suara langkah kali yang melangkah menjauh, Raisa dapat mengetahui bahwa Rumi telah pergi dari depan pintu kamarnya...
"Dia pasti sudah pergi kan?" Gumam Raisa
..."Bagaimana bisa aku lalai dan ceroboh seperti tadi?! Membiarkan Rumi masuk dan melihat penampilanku! Aku masih memakai pakaian minim dan belum berganti pakaian! Kukira yang akan masuk adalah Bu Weni. Setelah ini, bagaimana bisa aku muncul di hadapan Rumi? Tadi itu memalukan sekali!" Batin Raisa...
Melihat itu, Farah merasa bingung dengan Onty-nya yang hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa.
"Onty, Paman ganteng kan udah gak ada. Kenapa masih diam di situ aja?" Heran Farah
"Ah, gapapa kok. Aunty cuma mau pastiin aja kalau Paman Rumi sudah benar-benar pergi." Ujar Raisa yang langsung tersadar karena pertanyaan polos keponakannya, Farah.
Raisa pun kembali menghampiri Farah di depan meja rias...
"Onty, benelan gapapa kan? Oh iya, itu susu sama biskuitnya buat aku ya?" Tanya Farah
"Oh, iya! Ini ada susu buat Farah dsn Aunty juga. Biskuitnya bisa kita makan sama-sama. Kalau Farah mau, bisa makan dan minum duluan. Nih, Aunty taruh di sini. Aunty mau ganti baju dulu ya." Ucap Raisa menjawab pertanyaan Farah dan meletakkan nampan susu dan biskuit tersebut di atas meja rias di hadapan Farah yang ingin menyantapnya.
"Farah, tunggu dulu duduk di sini gapapa kan? Aunty mau ganti baju dulu sebentar." Ujar Raisa
Farah pun mengangguk kecil...
"Makan biskuit dan minum susunya pelan-pelan aja ya." Kata Raisa
"Iya, Onty." Patuh Farah
Farah asik memakan camilan biskuit di selingi dengan meminum susu.
Raisa pun mempersiapkan diri dan berganti pakaian untuk penampilan barunya...
Setelah berpakaian lengkap, Raisa pun bercermin dengan berdiri di belakang Farah yang duduk di kursi tata rias.
Setelah memastikan pakaian yang dipakainya telah rapi, tak lupa Raisa memakai repit rambut pemberian Rumi sesuai permintaan Rumi semalam.
"Aku halang Onty ngaca ya?" Tanya Farah
"Enggak kok, Sayang. Aunty kan ngacanya sambil berdiri. Tuh, masih bisa kelihatan kan di kacanya?" Ujar Raisa
Farah pun mengangguk seraya memasukkan biskuit ke dalam mulutnya. Menurut Raisa, itu sangat menggemaskan!
"Gimana? Aunty udah rapi kan?" Tanya Raisa
"Udah kok, cantik!" Jawab Farah sembari menatap pantulan sosok Raisa di cermin bersama dengannya.
"Hehe, terima kasih, sayang! Kamu juga cantik kok!" Ucap Raisa
__ADS_1
Raisa pun mendekati Farah dan memeluknya dari belakang...
"Sudah selesai belum makannya? Makan biskuitnya jangan terlalu banyak, nanti kan masih harus makan nasi. Susunya aja dihabisin ya. Nih, Aunty juga minum susu." Ujar Raisa yang lalu meminum susu putihnya yang masih belum terjamah.
"Aku juga minum susunya deh!" Kata Farah yang mengikuti Raisa menenggak susunya.
Susu milik Raisa dan Farah pun sudah sama-sama habis...
"Sudah kan? Yuk, kita ke luar. Mau digendong atau jalan sendiri?" Ujar Raisa
"Jalan aja deh. Biar sama-sama kelihatan cantik kayak Onty!" Kata Farah
Mendengar perkataan Farah, Raisa pun tersenyum lembut. Polos sekali pemikiran anak kecil itu...
"Oh, ya, Farah... Soal Paman Rumi yang datang tadi itu, jangan bilang siapa-siapa ya." Pinta Raisa
"Paman ganteng? Emangnya kenapa, Onty?" Tanya Farah
"Gapapa sih! Ya, pokoknya jangan bilang sama siapa-siapa kalau Paman ganteng tadi datang ke kamar ini. Ya, sayang?" Ujar Raisa
"Oke deh! Aku gak bakal bilang siapa-siapa." Patuh Farah
..."Haa... Untung saja, Farah tetap mau menuruti kataku. Tapi, sebenarnya kenapa aku melarangnya tentang hal ini ya?" Batin Raisa...
Raisa pun menggandeng tangan Farah dan menuntunnya untuk berjalan bersama ke luar dari kamar...
---
Saat ke luar dari kamar, ternyata sudah banyak orang yang beraktivitas di banyak ruangan vila tersebut...
"Wah, cucu Nenek udah cantik!" Puji Bu Vani
"Eh, anak Mami udah seger dan cantik! Sini, sayang... Mami kangen deh!" Ucap Raina
Farah yang sedang bergandengan tangan dengan Raisa pun melepaskan genggaman tangannya dan berlarian kecil menghampiri Raina dan memeluk kaki jenjang Mami-nya. Raina pun beralih menggendong putri kecilnya dan menciumi pipi mungil Farah...
"Terima kasih, Raisa... Udah mau ngurusin Farah semalaman tadi." Ucap Raina
"Sama-sama, Kak. Aku senang kok! Farah, anaknya penurut dan menggemaskan!" Kata Raisa
"Ya sudah... Kalau begitu, kita semua sarapan dulu yuk. Bu Weni dan Pak Danu sudah siapkan makanannya di meja makan tuh!" Ujar Pak Hilman
"Ayo, semuanya menuju meja makan! Gaskeun!" Seru Arka
Semua pun langsung menuju ke meja makan untuk sarapan bersama. Setibanya di sana, sudah ada teman-teman Raisa yang sudah siap berkumpul juga Bu Weni dan Pak Danu yang sedang menata letak makanan di aras meja makan tersebut...
"Hoo, teman-teman Kak Raisa sudah ada di sini semua, toh!" Kata Raihan
"Selamat pagi, Raisa, semuanya..." Sapa Rumi dengan senyuman lembut khasnya.
Selain Raisa, Rumi juga menyapa semua yang hadir di sana, tapi Rumi hanya menatap dan memberikan senyumnya kepada Raisa seorang saja.
Merasa terus menerus ditatap oleh Rumi, Raisa merasa canggung. Karena kejadian di kamar utama tadi, Raisa jadi tak berani menatap langsung ke arah Rumi untuk saat ini...
Rumi terus tersenyum. Ia merasa senang. Karena walau tingkah Raisa yang malu-malu sebelumnya, Raisa masih tetap mengingat keinginannya yang meminta Raisa untuk memakai jepit rambut pemberiannya. Mau bagaimana pun penampilan Raisa, bagi Rumi yang melihatnya akan terlihat selalu sangat cantik di matanya. Memakai pakaian apa pun juga memakai jepit rambut pemberiannya atau tidak. Di mata Rumi, Raisa-lah yang paling spesial yang mampu membuatnya terus menatapnya dan tak dapat mengalihkan pandangan darinya...
"Ah, selamat pagi juga, semuanya!" Seru Raisa
Yang pertama kali menyapanya adalah Rumi, tapi Raisa tak sanggup menyebut nama lelaki tersebut saat membalas sapaannya.
"Terima kasih atas semua makanannya ya, Bu Weni, Pak Danu." Ucap Bu Vani
"Sama-sama, Bu." Balas Pak Danu
"Ayo, Bu Weni dan Pak Danu, makan sekalian sama kami semua." Ajak Pak Hilman
"Gak perlu, Pak. Di rumah sebelum ke sini tadi, kami sudah sarapan duluan. Saat masak di dapur tadi, kami juga sudah cicip makanannya lagi. Kami masih harus pulang, mau urus anak-anak dulu." Ucap Bu Weni
"Kalau begitu, titip salam saja buat anak-anak di rumah ya, Bu, Pak. Terima kasih juga buat susu dan biskuitnya tadi pagi. Raisa tadi pasti merepotkan, sampai Bu Weni gak sempat antarkan langsung pesanan tadi." Ujar Raisa
"Gapapa, Neng. Untung tadi ada Den Rumi yang mau gantiin Ibu antar pesanannya. Terima kasih ya, Den Rumi." Ujar Bu Weni
"Sama-sama, Bu Weni." Kata Rumi
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Permisi, semuanya." Ucap Pak Danu
Bu Weni dan Pak Danu pun berpamitan dan langsung beranjak pergi dari vila setelah pekerjaannya telah usai di sana untuk pagi hari ini.
Setelah kepergian Bu Weni dan Pak Danu, semuanya pun memulai sarapan dengan khidmat dan seksama...
.
•
__ADS_1
Bersambung...