
Saat menonton pertunjukan cowboy yang sebentar lagi akan dimulai, pemain yang akan melangsungkan pertunjukan malah mengundang Raisa untuk ikut memeriahkan pertunjukan dengan bermain peran secara langsung di atas panggung. Bahkan ada dua orang pemain yang berpakaian ala cowboy yang menjemput Raisa langsung ke barisan kursi penonton.
Dua pelakon cowboy itu menghampiri Raisa dan mengulurkan masing-masing satu tangan mereka di hadapan Raisa untuk mengajak Raisa beranjak pindah ke atas panggung pertunjukan. Para penonton yang ada di sekitar sana pun segera menghindar saat para pelakon pertunjukan menghampiri Raisa di kursi penonton.
Selain merasa terkejut dan memang sudah merasa bingung dan heran, Raisa merasa aneh saat dirinya yang saat ini notabennya hanya seorang penonton yang ingin mrnyaksikan pertunjukam malah diundang langsung oleh para pemain pertunjukan untuk ikut memainkan peran di pertunjukan kali ini.
Merasa ada yang janggal itu adalah firasat yang sering Raisa rasakan saat sesuatu yang buruk akan terjadi, termasuk juga yang sedang terjadi saat ini. Raisa pun diam mematung.
"Sampai ada yang mau jemput kamu di kursi penonton. Gimana ini, Raisa?" tanya Maura berbisik.
"Jangan mau, Raisa. Jangan ikut mereka main pertunjukan ini. Pertunjukan cowboy kayak gini pasti banyak adegan aksi bahayanya. Tolak aja," bisik Nilam
"Lebih baik jangan, Raisa. Firasatku tidak enak tentang ini." Rumi ikut melarang sambil berbisik.
Raisa pun jadi lebih bingung lagi harus melakukan apa. Terima atau tolak. Lebih baik menolak, tapi para penonton juga tampak ingin melihat aksi Raisa yang ikut pada pertunjukan kali ini.
"Raisa ikut main peran di pertunjukan? Apa gak bahaya?"
"Tapi, aku mau lihat Raisa juga di pertunjukan kali ini. Pasti bakal seru!"
"Iya juga."
"Maju aja, Raisa!"
"Kami mau lihat aksi pertunjukan Raisa juga!"
"MAJU! MAJU!"
"RAISA ... RAISA!!"
Beberapa saat sebelumnya.
Saat melihat Raisa dan temannya masuk ke dalam aula pertunjukan cowboy, Lina yang masih terus menguntit pun langsung mendapat ide. Ia pun ikut masuk dan langsung menemui para pemain pertunjukan yang ada di balik layar.
"Mau masuk aja susah. Ini semua gara-gara Kak Raisa," dumel Lina
Saat Lina melihat salah satu pemain pertunjukan, ia pun langsung menghampirinya.
"Siapa, ya? Maaf, penonton gak boleh masuk ke sini. Semua pemain sibuk bersiap-siap di sini."
"Maaf, tapi saya butuh bantuan." Lina berkata sambil mengeluarkan setumpuk uang berwarna merah dari dalam tas yang dibawanya. Entah kapan ia menyiapkan uang sebanyak itu.
Pemain pertunjukan yang ditemui Lina seolah langsung bermata hijau ketika melihat uang yang Lina ke luarkan. Lina yang mengerti tatapan haus harta itu langsung memanfaatkan situasi tersebut.
"Begini ... saya suka sekali pertunjukan cowboy di sini dan kebetulan artis favorit saya, Raisa Putri sedang berkunjung ke sini dan ada di kursi penonton. Saya ingin sekali lihat pertunjukan cowboy yang Raisa ikut berperan di dalamnya. Saya mohon supaya Anda bisa wujudkan keinginan saya ini," ucap Lina sambil menyerahkan setumpuk uang di tangannya pada pemain pertunjukan di hadapannya.
"Itu akan sulit. Karena bukan hanya saya saja pemain pertunjukan di sini. Kami pasti tidak bisa menampilkan pertunjukan dengan baik jika ada orang asing yang ikut dalam pertunjukan. Meski pun dia artis aksi yang hebat sekali pun, bisa saja dia malah mengacaukan pertunjukannya." Pemain itu memang bicara pada Lina, tapi tatapannya terus tertuju pada setumpuk uang yang diberikan ke tangannya.
"Padahal kebetulan saya inhin melihat pertunjukan cowboy dan Raisa juga ada di sini. Apa gak bisa diusahakan? Cari cara apa pun itu yang bisa buat Raisa ikut berperan dalam pertunjukan kali ini. Saya mohon ...."
"Tapi, jika itu orang asing ... bisa saja dia terluka saat pertunjukan karena ini aksi berbahaya. Kami tidak ingin itu terjadi dan lebih tidak bisa menanganinya jika benar terjadi."
"Padahal Raisa itu benar-benar jago dalam peran aksi, lho. Bahkan dia bisa berakting tanpa stundman atau stund woman saat syuting," ujar Lina
"Gini aja ... cari cara apa pun itu supaya bisa mengundang Raisa ke atas panggung untuk ikut dalam pertunjukan kali ini. Saya akan tambahkan uangnya. Ini bisa Anda gunakan bersama seluruh pemain pertunjukan lainnya. Tulis saya berapa pun nominalnya," sambung Lina sambil menyerahkan selembar cek kosong yang telah diberi tanda tangan. Ini pun entah kapan ia menyiapkannya.
"Berapa pun juga boleh?" tanya pemain tersebut yang tergiur dengan tawaran Lina saat melihat cek kosong pemberiannya.
"Ya, berapa pun terserah. Bebas. Asalkan saya bisa lihat pertunjukan yang sesuai dengan keinginan saya," kata Lina. Namun, Lina mengambil kembali cek pemberiannya dari tangan pemain pertunjukan di hadapannya.
"Cek ini saya ambil dan simpan sementara dulu. Kalau saya puas dengan pertunjukannya, saya akan kasih cek kosong ini lagi dan menemui Anda lagi di balik layar sini," sambung Lina
"Kalau begitu, saya akan bujuk pemain yang lain dan cari cara."
__ADS_1
"Bagus. Saya akan menantikan pertunjukan kalian semua dari kursi penonton. Saya permisi dulu. Sebelumnya terima kasih sudah mau bekerja sama dengan baik." Lina pun berlalu pergi dan langsung menuju ke barisan kursi penonton untuk duduk di sana.
Kembali ke saat ini.
Meski dari tampak belakang, sudah bisa ditebak bahwa Raisa menjadi kaku karena merasa bingung.
Lina tersenyum miring melihat Raisa yang kebingungan mendapati dirinya diundang untuk maju dan naik ke atas panggung untuk melakukan pertunjukan cowboy bersama dengan para pemain di sana.
"Coba kita lihat ... keputusan apa yang akan diambil oleh Kak Raisa? Menolak ajakan ikut bermain peran di pertunjukan demi mementingkan keselamatan dirinya atau menerima ajakan demi ikut menghibur penonton yang artinya akan membahayakan keselamatan dirinya sendiri? Ayo, terima aja! Ikut main dalam pertunjukan, lalu mendapat terluka. Akhirnya semua orang akan tahu kalau reputasinya sebagai artis yang jago bela diri dan bermain peran tanpa stundman atau stund woman itu semua bohong. Reputasinya akan jatuh dan penggemarnya akan pergi dan tidak akan menyukainya lagi," batin Lina
Raisa masih terdiam dan tampak berpikir. Dua orang pemain masih setia mengulurkan tangan mereka demi mengajak Raisa untuk naik ke panggung dan melakukan pertunjukan bersama-sama. Para penonton pun masih bersorak ingin lihat Raisa ikut bermain peran dalam pertunjukan.
..."Ini aneh. Ada yang tidak beres dengan ini. Meski aku seorang artis, sekarang aku hanya seorang penonton biasa. Tidak mungkin pertunjukan di sini mengambil orang asing untuk ikut bermain peran. Ini seperti sudah ada sesuatu yang direncanakan di balik semua ini," batin Raisa...
Raisa tersenyum kecil. Saat memikirkan ada rencana di balik sutuasi saat ini, pasti juga ada orang yang tersembunyi di balik perencanaan ini. Tentu, Raisa tidak bisa langsung menebak tujuan orang tersebut hingga menargetkannya di dalam pertunjukan. Namun, ia bisa sedikit memperkirakannya. Raisa akan mengungkap tujuan sekaligus orang di balik itu dengan mengikuti permainannya. Raisa memutuskan akan menerima ajakan untuk ikut bermain peran di pertunjukan cowboy kali ini.
"Ah ... aku mengerti. Ini seperti tantangan membintangi film pendek dengan peran yang sulit. Aku dengan senang hati akan berusaha nemerankan peran yang diberikan dengan baik. Aku akan ikut bermain peran dalam pertunjukan kali ini," ucap Raisa
Raisa langsung menerima uluran salah satu pemain pertunjukan yang menghampirinya. Raisa pun langsung berdiri sambil menjabat tangan pemain pertunjukan yang menjemputnya.
"Mari, kita naik ke panggung."
"Sebentar ... " Raisa menoleh ke belakang untuk bicara pada teman-temannya.
"Raisa, apa yang kau lakukan? Sudah kubilang jangan terima ajakan mereka. Ini berbahaya," ujar Rumi yang lebih dulu merasa khawatir.
Raisa tersenyum tipis.
"Jangan khawatir. Kan, kau juga tahu kemampuanku. Aku pasti bisa menyelesaikan peran dalam pertunjukan kali ini dengan baik. Saksikan aku, ya," ucap Raisa
"Mungkin ajakan kali ini adalah rencana seseorang yang sedang menantang dan menargetkan aku. Aku akan menerima tantangan kali ini dan membuktikan kemampuanku padanya dan semua orang. Dengan begini, tidak akan ada yang meremehlan diriku lagi. Tunggu dan saksikan saja penampjlanku dari sini dengan tenang. Aku akan kembali nanti," sambung Raisa sambil berbisik.
Raisa pun kembali berbalik badan.
Raisa dan kedua pemain yamg menghampirinya ke barisan kursi penonton pun berjalan maju menuju panggung pertunjukan.
Lina yang melihat Raisa menerima ajakan untuk ikut bermain peran dalam pertunjukan pun terkejut dan tidak menyangka dengan keputusan yang dipilihnya. Namun, Lina juga neremehkan.
"Kak Raisa setuju ikut bermain peran dalam pertunjukan? Bukannya itu artinya dia cari nasalah untuk dirinya sendiri? Coba kita lihat ... akan jadi seperti apa pertunjukan dengn dia ikut bermain peran di dalamnya. Pasti akan kacau dan dia akan terluka," batin Lina
Sebelum pertunjukan berlangsung, Raisa lebih dulu dibawa ke balik layar untuk diberi tambahan alat pertunjukan pada dirinya.
"Karena mendapat peran tambahan, pertunjukan akan ditunda untuk memberikan pengarahan pada Saudari Raisa. Mohon pengertian para penonton untuk menunggu sebentar."
Di balik layar, Raisa diberi dan dipasangkan alat komunikasi berupa headset nirkabel (bluetooth) di telinganya agar tetap terhubung dengan orang yang mengatur peran dan jalannya pertunjukan di balik layar tersebut.
"Raisa, jangan sampai headsetnya terlepas. Ini supaya Anda tetap terhubung dengan pengarur jalan cerita di balik layar. Coba dites apa Anda sudah mulai terhubung?"
Raisa mengangguk mengerti. Ia sendiri mengetes sambungan komunikasi dengan alat yang dipasangkan di telinganya.
"Tes ... Raisa, apa auaranya terdengar jelas?" Staf di balik layar langsung mengetes kejelasan hubungan komunikasi dengan Raisa.
"Terdengar jelas. Sementara saya memilih dan diberi alat pelengkap pertunjukan lainnya, tolong jelaskan alur cerita pertunjukan dan peran seperti apa yang harus saya lakukan. Jelaskan dengan singkat saja." Raisa langsung minta diberi arahan tentang peran yang harus ia lakukan di atas panggung pertunjukan nanti.
Sementara diberi arahan peran dari alat komunikasi yang terhubung dengannya, Raisa diberi alat pelengkap pertunjukan lainnya.
Karena penampilan Raisa yang memakai kaos putih dilapis jaket levis dan celana bercorak army tidak bisa diubah dengan waktu singkat, Raisa hanya diberi dan dipasangkan topi cowboy untuk melengkapi perannya dalam pertunjukan cowboy tersebut. Dan juga dua pistol sebagai alat pelengkap pertunjukan yang tentunya palsu.
"Baik. Saya sudah mengerti dengan pengaturan peran dan alur jalan ceritanya," kata Raisa yang telah diberi arahan lengkap tentang perannya dan alur jalan cerita secara singkat melalui sambungan komunikasi pada headset nirkabel (bluetooth) di telinganya.
"Sekarang tinggal memilih kuda untuk melengkapi jalan ceritanya. Untuk Raisa, kami sarankan untuk menggunakan kuda paling jinak di sini."
Staf di belakang panggung langsung memberi kuda yang paling jinak untuk Raisa gunakan dalam pertunjukan di atas panggung. Namun, Raisa tidak merasa ada ketertarikan dan keterikatan dengan kuda yang dipilihkan untuknya. Itu terbukti dengan saat Raisa ingin memiliki kontak mata dengan kuda itu, kuda tersebut malah membuang pandangan matanya dari Raisa. Itu tandanya kuda yang dipilih untuknya itu tidak merasa nyaman dengan sosok Raisa.
__ADS_1
Raisa pun menatap ke arah banyak kuda lainnya, mencoba melakukan kontak mata untuk memilih kuda yang tepat untuknya. Beberapa kuda langsung membuang pandangan matanya atau menghindari berhadapan langsung dengan Raisa, hanya sedikit kuda yang tetap menatap dan membalas kontak mata darinya. Raisa langsung berpikir untuk memilih dari sedikit kuda yang nenatapnya itu.
Namun, tidak semua kuda yang menatap dan memiliki kontak mata dengan Raisa berani atau merasa nyaman dengannya. Ada kuda yang gemetar saat melihat Raisa, mungkin karena merasa terintimidasi dengan tatapan mata Raisa padanya. Ada juga kuda yang seolah enggan berurusan atau berdekatan dengan Raisa.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Raisa mungkin dengan mudah menjinakkan kuda mana pun yang di hadapannya atau bahkan semuanya. Tapi, itu tidak mungkin untuk dilakukan di atas panggung untuk pertunjukan atau menjinakkan kuda sekarang pun sudah tidak sempat lagi karena waktunya yang mepet.
Di saat seperti itu, Raisa hanya bisa menggunakan insting. Baik itu instingnya atau insting para kuda agar keduanya dapat saling memilih satu sama lain dan mendapat kecocokan dengan rasa aman dan nyaman.
Raisa pun mengulurkan tangannya ke depan, menunggu kuda memilihnya sendiri. Saat seperti itu, ada satu ekor kuda yang seolah hendak menghampirinya, tapi ditahan oleh animal keeper atau pelatih sekaligus pemain pertunjukan di sana.
Raisa tersenyum. Ia merasa telah mendapat kuda pilihannya yang juga memilih dirinya.
Para pemain di sana merasa bingung. Padahal kuda sudah dipilihkan, tapi Raisa tak kunjung menghampiri kuda tersebut. Para pemain di sana pun mengira Raisa merasa takut dengan kuda tersebut.
"Saudari Raisa, kenapa? Merasa takut? Tenang saja, kuda ini jinak dan tidak akan melukai Anda."
"Tidak--" Raisa menghentikan ucapannya.
"Bagus kalau tidak takut."
Raisa pun mendekati kuda yang sudah saling memilih dengannya.
"Tapi, aku akan memilih kuda ini. Kuda ini juga telah memilihku," ucap Raisa
"Apa? Tapi, itu bukan kuda yang jinak dengan orang asing. Tidak mungkin."
"Aku bukan orang asing. Kuda ini yang telah memilihku, jadi aku juga memilihnya," kata Raisa
"Dipilih oleh kuda?"
Para pemain di sana merasa aneh dengan kepribadian kuda. Bagaimana bisa kuda memilih?
"Kuda yang dipilihkan untukku sebelumnya memang jinak, tapi dia terlihat tidak merasa nyaman denganku. Terbukti dengan dia terus membuang pandangannya dan enggan menatapku. Kalau begitu, bisa saja dia akan cepat merasa jenuh denganku dan saat itu terjadi kata jinak tidak berlaku lagi bagiku, dia bisa saja mengamuk sewaktu-waktu. Mungkin dia memang jinak dengan para pemain di sini, tapi tidak dengan orang baru sepertiku," ujar Raisa
"Untuk berinteraksi dengan kuda, harus memiliki kedekatan dan pendekatan lebih dulu. Itu juga bisa digunakan untuk metode memilih dan dipilih oleh kuda yang tepat. Untuk itu aku berusaha melakukan kontak mata dengan semua kuda yang ada di sini. Hanya sedikit yang mau membalas kontak mata denganku. Karena itu tadi aku mengulurkan tangan agar kuda yang ada di sini bisa memilihku dengan menghampiriku yang tandanya ia memilihku karena merasa aman dan nyaman saat melihatku. Dan kulihat, hanya kuda inilah yang berusaha ingin melangkah ke arahku, tapi sayangnya animal keeper di sini terus menahannya," sambung Raisa
"Itu tidak mungkin. Meski pun itu adalah kuda putih yang terlihat cantik, tapi dia termasuk kuda yang sulit dijinakkan."
"Yang dikatakan Raisa benar. Pergerakan kuda ini tadi memang sangat sulit ditahan, kukira karena dia kuda yang agresif, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya dia memang ingin mendekati Raisa."
"Untuk membuktikannya lepas saja tali kendalinya, kita lihat ... apa dia akan menghampiriku atau tidak," kata Raisa
Meski begitu, kuda tidak mungkin dilepaskan begitu saja apa lagi yang karakternya sudah jelas dikatakan agresif. Namun, kuda putih yang dimaksud Raisa itu malah berhasil lolos dari kekangan animal keeper yang terus memegang tali kendalinya. Kuda putih itu pun langsung menghampiri Raisa. Dan tak disangka-sangka, kuda itu langsung terlihat akrab dengan Raisa seolah telah dijinakkan dengan menggosok-gosokkan kepalanya pada lengan Raisa.
"Kau memang agresif, rupanya ... " kata Raisa
"Kuda memang sulit jinak dengan orang yang dia tidak merasa nyaman dengannya, tapi kuda ini jinak denganku yang artinya dia merasa nyaman denganku," sambung Raisa
Semua yang ada di sana pun terperangah, tidak percaya. Kuda yang agresif dan sulit dijinakkan langsung terlihat akrab dengan Raisa yang notabennya orang asing baru. Meski begitu, mereka tidak lagi berani berkata Itu tidak mungkin.
"Siapa nama kuda ini?" tanya Raisa
"Kuda itu berwarna putih, jadi diberi nama ... Luke."
Raisa pun langsung naik ke atas punggung kuda putih itu dan membelai kepala kuda yang diberi nama Luke itu dari atas punggungnya.
"Kalau begitu, ayo ... kita mulai pertunjukannya. Jangan membuat para penonton menunggu lebih lama lagi. Aku dan Luke pasti akan beraksi dengan baik," ucap Raisa dengan penuh percaya diri.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1