
Setelah berkeliling dalam Safari Journey, mereka mencari tempat parkir untuk memarkirkan bus. Setelah itu, semuanya pun turun untuk melihat-lihat wahana lain Taman Safari.
"Busnya udah selesai diparkir, Neng," kata Arif
Raisa mengangguk mengerti.
"Ya udah. Kang Arif sama Teh Sinta, kalau mau jalan berdua pisah sama kami juga gak apa. Akang sama Teteh bebas mau ke mana. Yang penting sebelum pulang kita kumpul lagi, di sini aja," ucap Raisa
"Yang benar, nih, Neng Raisa?" tanya Arif
Raisa pun mengangguk sebagai ganti jawabannya.
"Kalau begitu, saya perlu minta nomor HP untuk saling mengabari kalau udah mau pulang. Jadi, lebih baik nomor HPnya Kang Arif atau Teh Sinta aja?" tanya Raisa
"Nomor HP saya aja, Neng," jawab Sinta dengan cepat.
Sinta pun langsung mengeluarkan ponselnya, begitu pun Raisa. Kedua gadis itu pun saling bertukar kontak HP.
"Udah berhasil tersimpan. Nanti kita kumpul di sini lagi, ya. Kalau ada apa-apa juga kabarin saya aja," ujar Raisa
"Siap, Neng Raisa. Terima kasih," ucap Arif
Raisa hanya menanggapi dengan tersenyum.
..."Sepertinya Teh Sinta adalah tipe perempuan yang posesif. Karena mungkin alasannya memberi nomor ponselnya dari pada nomor milik Kang Arif adalah karena dia gak mau sampai perempuan lain menyimpan nomor tunangannya. Perempuan yang cemburuan," batin Raisa...
Kang Arif dan Teh Sinta pun memisahkan diri dari rombongan Raisa.
"Apa yang lain juga mau berpencar dan jalan masing-masing saja?" tanya Raisa
"Tidak perlu. Sepertinya lebih baik kalau kau jadi pemandu kami saja, Raisa," jawab Ian
"Baiklah. Kalau begitu, dengan senang hati ... aku akan jadi pemandu untuk kalian semua. Kalau bukan dalam Safari Journey, sepertinya aku bisa memandu dengan baik," ujar Raisa
"Kalau begitu, setelah ini kita akan pergi ke mana?" tanya Sandra
"Aku akan membawa kalian melihat pertunjukan hewan di sini," jawab Raisa
"Ayo, ke sebelah sini," sambung Raisa langsung mengambil perannya sebagsi pemandu dengan baik dengan menunjukkan jalan pada yang lain.
Namun, saat Raisa hendak berjalan di depan lebih dulu, Rumi mencekal lembut tangan Raisa.
"Meski kau harus jadi pemandu sekali pun, jangan pernah lupakan atau tinggalkan aku," ujar Rumi
Raisa tersenyum menatap ke arah Rumi.
"Baiklah. Aku mengerti," kata Raisa
Raisa pun beralih menggenggam tangan Rumi yang tadi mencekalnya. Rumi pun langsung menggenggam balik tangan Raisa dengan perasaan senang.
Akhirnya saat Raisa memandu jalan pun, tidak akan terlepas dari Rumi atau pun berjauhan dengan lelaki itu. Karena sudah sangat jelas tangan keduanya saling bertaut mesra.
"Si*l! Masih aja umbar kemesraan. Gak pantes, tahu! Cuma aku yang pantes bermesraan sama Rumi! Lagi pula, kenapa mereka gak berpencar aja kayak supirnya tadi, sih? Kalau mereka terus bareng-bareng kayak gini, kan, susah buat aku pisahin Rumi dan Kak Raisa. Kalau aku kekeuh mau pisahin mereka berdua, yang ada aku dikeroyok lagi kayak yang sebelumnya," batin Lina
Dikeroyok maksudnya adalah semua teman Raisa terus bicara dan menyudutkan Lina. Tidak ada hubungannya dengan aksi kontak fisik.
Sedari tadi Lina masih terus setia membuntuti rombongan Raisa secara diam-diam di tengah keramaian. Sepertinya Lina sudah lebih cocok menjadi penguntit dari pada menjadi model.
Di hadapan Raisa dan teman-temannya adalah panggung pertunjukan hewan.
Mereka semua pun sudah akan menonton pertunjukan hewan yang akan ditampilkan di sana.
"Hewan apa yang akan tampil di pertunjukan?" tanya Billy
"Kalian bisa lihat panggungnya dipisah menjadi dua bagian di kiri dan kanan. Di sebelah kiri, kita akan melihat penampilan gajah yang melukis dan di sebelah kanan kita akan bisa melihat aksi pertunjukan harimau," jelas Raisa
"Apa ini semacam aksi sirkus?" tanya Marcel
"Entahlah ... mungkin saja. Bisa dibilang aksi sirkus atau tidak tergantung pendapat masing-masing," jawab Raisa
Pertunjukan pun dimulai di saat yang bersamaan.
Di sebelah kiri ada 2 ekor gajah yang melukis didampingi dengan 2 orang animal keeper dan di sebelah kanan ada seekor harimau yang beraksi didampingi 2 orang animal keeper.
Berbanding terbalik dengan harimau yang menampilkan pertunjukan aksi yang menegangkan, penampilan gajah melukis jauh lebih terkesan ceria dan santai.
"Ya, mari kita lihat bersama-sama ... Lala dan Lili melukis gambar apa, ya?"
"Wah ... Lala melukis gambar rumah dan Lili gambar gunung. Hebat sekali, bukan? Ayo beri tepuk tangan yang meriah untuk kedua gajah lucu kita ... Lala dan Lili!"
Semua yang menonton pun bertepuk tangan bersama-sama.
"Aku jadi teringat pada diriku sendiri yang melukis waktu kecil," kata Monica
"Meski lukisan kedua gajah itu tidak buruk, tapi masih jauh lebih bagus lukisanmu dulu, Monica," ujar Ian memuji pacarnya.
__ADS_1
Ian dan Monica memang memiliki hobi yang sama, yaitu melukis. Keduanya pun dulu pernah bertenu di ajang lomba melukis yang sama. Mungkin karena hal inilah keduanya merasa ada ketertarikan dan cocok hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran.
"Apa masih ada pertunjukan hewan lainnya?" tanya Rumi
"Ada. Hewan yang tampil dalam pertunjukan di sini selain gajah dan harimau, ada burung pemangsa, anjing laut, lumba-lumba, dan cowboy. Kalian ingin lihat pertunjukan apa lebih dulu?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Aku pengen banget lihat pertunjukan lumba-lumba," jawab Maura
"Kalau begitu, kita lihat pertunjukan lumba-lumba dulu, ya. Kebetulan ada satu pertunjukan lumba-lumba yang sebentar lagi akan mulai," ujar Raisa
Mereka semua pun beranjak masuk ke aula pertunjukan kolam untuk melihat aksi pertunjukan lumba-lumba.
"Raisa, sebelumnya kau menyebut kata cowboy ... apa artinya itu?" tanya Sanari
"Cowboy adalah sebutan untuk gembala di perternakan. Secara tradisional mereka menggunakan kuda dan sering melakukan pekerjaan di peternakan. Tapi, sekarang cowboy lebih sering digunakan untuk sebutan penunggang kuda yang beraksi melawan penjahat. Semacam itulah," jelas Raisa
Semua penonton pun duduk di kursi yang disediakan di aula kolam pertunjukan untuk menyaksikan pertunjukan lumba-lumba yang sebentar lagi akan dimulai.
Dua ekor lumba-lumba langsung dilepaskan ke dalam kolam yang sudah ada satu staf yang menjadi seorang putri duyung di sana.
"Orang apa itu sebenarnya?" tanya Wanda
"Siluman ikan ... " Amon kebingungan melihat rupa putri duyung yang merupakan makhluk mitologi yang sudah punah tersebut.
"Siluman ikan ... apa itu sebutan makhluk seperti itu di tempat kalian? Kalau di sini disebut putri duyung atau mermaid. Itu sebenarnya adalah makhluk mitologi, tapi di zaman sekarang makhluk seperti itu menjadi populer karena jadi terkenal saat menjadi tokoh fantasi di banyak serial animasi kartun yang disukai anak-anak karena penampilan unik dan cantik. Di dunia nyata, mereka menggunakan kostum supaya bisa jadi putri duyung," jelas Raisa
"Memang cantik. Jadi ekor ikan itu adalah kostum?" tanya Amy
"Ya. Orang yang menjadi putri duyung yang beraksi di kolam renang sudah pasti harus bisa berenang. Namun, terkadang ada juga yang menjadi putri duyung dengan memakai kostum hanya untuk sesi pemotretan," ungkap Raisa
Di dalam kolam renang, seorang putri duyung dan 2 ekor lumba-lumba beraksi seolah menari di dalam air. Ada 2 animal keeper di atas kolam renang yang sudah bersiap untuk sesekali memberi makan pada lumba-lumba yang sedang beraksi.
"Keren, ya. Lumba-lumbanya juga lucu," kata Nilam
2 ekor lumba-lumba pun mencium pipi sang putri duyung.
"Wah ... putri duyung dapat ciuman di pipi dari lumba-lumba!"
"Apa ada yang mau dicium sama lumba-lumba juga? Siapa yang berani? Ayo, maju!"
"Kami akan minta 2 orang dari kursi penonton untuk maju dapat ciuman dari lumba-lumba. Siapa yang mau?"
"Gak ada yang mau? Atau gak ada yang berani? Kalau begitu, kami akan pilih sendiri 2 penonton yang beruntung untuk maju ke depan."
"Maura, kamu gak mau maju? Kan, kamu yang mau lihat lumba-lumba tadi?" tanya Raisa
"Aku mau lihat, tapi gak berani dicium gitu sama lumba-lumba. Takut sakit," jawab Maura
"Kalau begitu, kami tunjuk seorang artis yang sedang nenonton atraksi di sini. Kakak Raisa Putri, mohon maju ke depan."
Ternyata, keberadaan Raisa bahkan disadari oleh animal keeper di sana dan diminta untuk maju.
"Raisa, kau dipanggil untuk maju ke depan," kata Aqila
"Kalau gak ada yang mau maju juga, silakan Kak Raisa ajak seorang teman dari kursi penonton."
"Aku maju ... sama satu orang teman. Bagaimana ini? Siapa yang kupilih?" tanya Raisa
"Sama aku saja," jawab Rumi
Raisa dan Rumi pun berdiri dari kursi penonton dan beranjak maju ke depan.
Raisa dan Rumi saling bergandengan tangan saat maju ke depan. Awalnya, Raisa yang menuntun jalan di depan. Namun, karena kesulitan berjalan di sekitar orang ramaidari kursi penonton, Rumi beranjak menggantikan Raisa dan membantu menuntunnya jalan ke depan. Sungguh lelaki gentle yang romantis.
Melihat Raisa maju bersama Rumi, penonton lainnya mulai bergemuruh dan berbisik-bisik.
"Tuh, kan, kubilang juga apa ... ada Raisa di sini. Ituloh artis yang lagi naik daun."
"Aku gak sadar kalau ada Raisa di tengah penonton kayak kita."
"Itu Raisa sama siapa? Pacar?"
"Apa itu R yang disukai Raisa?"
"Siapa ya ... nama lelaki yang sama Raisa itu?"
Raisa dan Rumi pun berhasil sampai di depan kolam renang dengan sedikit susah payah.
Para penonton pun mulai mengambil foto atau merekam video Raisa dan Rumi yang ada di depan kolam renang.
"Kakak Raisa hari ini datang sama siapa?"
"Saya datang sama teman-teman. Dan ini ... Rumi," jawab Raisa
"Halo, semuanya ... " sambung Raisa sambil melambaikan tangan untuk menyapa para penonton di sana.
__ADS_1
Rumi pun hanya tersenyum tipis berada di samping Raisa.
"Rumi ... inisialnya R!"
"Itu pasti R!"
"Teman tapi mesranya Raisa!"
"Lagi-lagi Kak Raisa dan Rumi! Kalian semua yang ada di sini jangan asal bicara! Rumi itu bukan pacar atau teman tapi mesranya Kak Raisa! Dia itu jodoh lelakiku yang masih belum dipersatukan denganku. Dia itu milikku! Cuma aku yang cocok dan pantas memiliki Rumi!" batin Lina
Lina merasa kesal dan geram karena lagi-lagi melihat kedekatan Raisa dan Rumi. Ia bahkan harus mendengar banyak orang yang menggosipkan Raisa dan Rumi. Sepertinya rasa tak sukanya pada Raisa sudah tak terbebdung lagi. Namun, sebaliknya. Rasa sukanya pada Rumi semakin meningkat besar.
"Raisa dan Rumi, bisa berjongkok di sini."
"Kalau mau dicium lumba-lumba ... kalian berdua harus kasih makan lumba-lumbanya dulu."
Raisa mengangguk mengerti.
Dengan makanan yang sudah lebih dulu disiapkan, Raisa dan Rumi pun memberi makan masing-masing satu lumba-lumba.
"Setelah dikasih makan, lumba-lumba akan berterima kasih dengan cara mencium kalian berdua. Siap, ya ...."
"Mau bergantian atau bersamaan saja?"
"Bersamaan saja," jawab Raisa
Raisa dan Rumi pun berjongkok bersebelahan.
Dengan dua kali tiupan peluit cepat, dua ekor lumba-lumba itu melompat untuk mencium masing-masing pipi Raisa dan Rumi.
Raisa dapat ciuman dari lumba-lumba di pipi sebelah kiri, sedangkan Rumi dapat ciuman di pipi kanan.
"Sekali lagi, ya."
Raisa mengangguk.
"Kalau saya cukup sekali saja. Terima kasih," ucap Rumi
Rumi pun beranjak bangkit berdiri dan menunggu Raisa di sana.
"Oke. Kali ini Kak Raisa saja ... sekali lagi dicium lumba-lumba."
Kali ini hanya animal keeper yang memberi makan satu ekor lumba-lumba. Lalu, dengan tiupan peluit, lumba-lumba itu melompat untuk mencium pipi Raisa lagi. Kali ini durasi ciuman lumba-lumba lebih lama dari yang kali pertama. Hal itu dimanfaatkan Raisa untuk membelai wajah dan moncong lumba-lumba yang menciumnya.
Saat peluit kembali ditiup, lumba-lumba molompat kembali menyeburkan diri ke dalam kolam air.
Saat itu, Raisa mengulurkan tangan untuk dilambaikan ke arah lumba-lumba. Salah satu lumba-lumba malah melompat ke arah tangan Raisa. Animal keeper yang melihat itu langsung panik karena mengira lumba-lumba itu akan menerkan tangan Raisa. Animal keeper di sana pun siap untuk melakukan pencegahan agar hal buruk tidak terjadi.
Namun, ternyata lumba-lumba yang melompat ke arah tangan Raisa justru seolah sedang manja dan meminta Raisa membelainya. Kekhawatiran dan kepanikan animal keeper di sana hanya sia-sia belaka karena tidak ada hal buruk yang terjadi. Bahkan animal keeper terperangah karena melihat lumba-lumba yang telah lama mereka latih ternyata akrab dan manja pada Raisa.
Raisa pun tersenyum. Saat ia menarik kembali tangannya, lumba-lumba pun menyeburkan diri kembali ke dalam kolam air.
"Lumba-lumbanya pintar, ya. Lucu dan manja," kata Raisa
"Padahal biasanya tidak pernah bersikap seperti itu ke orang lain selain animal keeper di sini." Animal keeper di sana langsung terheran melihatnya.
Raisa pun bangkit berdiri dan menghampiri Rumi.
"Terima kasih sudah menunjuk saya ubtuk maju. Saya baru pertama kali dicium lumba-lumba. Ini adalah pengalaman yang mengesankan," ucap Raisa
Para animal di sana keeper tersenyum dan mengangguk.
"Kalau sudah selesai nanti, jangan langsung ke luar dari aula kolam, ya. Kami akan berikan hasil foto saat momen dicium lumba-lumba tadi."
"Oke. Sekali lagi terima kasih. Kami kembali ke kursi penonton dulu," ujar Raisa
"Terima kasih," ucap Rumi
Raisa dan Rumi pun kembali menuju kursi penonton tempat mereka berdua duduk tadi. Saat itu, para penonton berebut untuk sekedar bisa bersalaman tangan atau menyentuh Raisa yang notabennya adalah seorang artis. Sesekali, Rumi pun menghalangi para penonton yang seakan menyerbu Raisa. Namun, tetap saja Rumi tidak bisa menghalangi mereka semua saru per satu.
"Gimana rasanya dicium lumba-lumba?" tanya Nilam
"Yang ada hanya bikin bau amis," celetuk Morgan
"Biasa aja kok, tapi seru. Soalnya lumba-lumbanya terlihat menggemaskan," jawab Raisa atas pertanyaan Nilam.
"Katamu, aku menggemaskan. Kenapa sekarang malah lumba-lumba? Rupanya, kau lebih suka dicium lumba-lumba dari pada dicium aku, ya ... " bisik Rumi
"Diamlah. Banyak orang di sini, nanti ada yang dengar," bisik Raisa memberi teguran untuk Rumi yang tampaknya cemburu dengan lumba-lumba.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1