
Raisa langsung menghampiri keluarga tercintanya itu.
"Selamat datang, semuanya ... " sambut Raisa
"Bagaimana kabar kamu, Sayang?" tanya Bu Vani
"Senantiasa baik, Bu," jawab Raisa
"Terima kasih, Aqila, Morgan. Pasti kalian berdua yang menjemput keluargaku untuk datang ke sini," sambung Raisa yang menoleh ke arah Aqila dan Morgan yang juga ada di sana.
"Benar. Terima kasih, Morgan, Aqila ... " ucap Rumi
"Sama-sama," balas Aqila
"Kan, kita teman. Tidak perlu sungkan," kata Morgan
"Apa semuanya sudah lama menunggu? Mari, masuk ke kediaman Ayah Rommy," ujar Raisa
Di dampingi Rumi, Raisa mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam kediaman Tuan Rommy. Aqila dan Morgan pun mengikuti mereka semua.
Begitu masuk, Nona Rina dan Logan datang menghampiri untuk menyambut kedatangan mereka semua.
"Adik ipar dan keluarga ... " sapa Logan
"Besan sudah sampai, rupanya. Mari, masuk ... " ujar Nona Rina
"Apa kabar, Bibi Rina, Kak Logan?" tanya Raisa
"Kami baik, Raisa ... " jawab Logan
"Kak Rumi, kenapa rumahnya banyak yang jaga?" tanya Raihan dengan suara pelan.
"Karena Ayah adalah tahanan rumahan seumur hidup. Mereka yang di luar tadi adalah penjaga yang diutus untuk mengawasi Ayah," jawab Rumi dengan jujur.
"Lalu, kalian pasti merasa penasaran karena kediaman Ayah berbentuk seperti goa. Dulu tempat ini adalah tempat persemayaman Ayah yang suka melakukan penelitian dan sekarang telah dijadikan tempat tinggal," sambung Rumi menjelaskan.
Nona Rina dan Logan menggeleng pelan karena Rumi bersikap terlalu jujur pada keluarga Raisa bahkan sampai mengumbar masa lalu kelam sang ayah.
"Uncle Rumi, yang di depan sana siapa? Kok mirip banget sama Uncle Rumi?" tanya Farah
"Itu kakaknya Uncle Rumi. Farah bisa panggil dia ... Paman Logan," jawab Rumi
"Lalu, yang di sebelahnya itu ... Farah bisa panggil dia Bibi Rina. Tidak benar ... mungkin harusnya dipanggil Nenek saja karena Raisa sudah memanggilnya dengan sebutan Bibi," sambung Rumi
"Tidak perlu. Panggil saja dengan sebutan Bibi Rina," kata Raisa
"Ya. Sebutan Nenek terlalu tua untukku," tolak Nona Rina
"Kalau begitu, Raisa saja yang ubah panggilannya padaku. Panggil aku Kakak saja mulai sekarang," sambung Nona Rina
Raisa hanya tersenyum lembut menanggapi perkataan Nona Rina.
Begitu masuk ke kediaman Tuan Rommy, mereka akan lebih dulu berjalan di lorong hingga menemukan pintu besar. Setelah membuka dan memasuki pintu tersebut barulah tampak isi kediaman yang sesungguhnya.
Saat itu Tuan Rommy ada untuk menyambut kedatangan mereka semua.
"Selamat datang, semuanya. Maaf, kalau kediaman kami tidak terlalu nyaman untuk kalian," ujar Tuan Rommy
"Tidak ... justru kami yang berterima kasih karena sudah mau menerima kedatangan kami yang mendadak ini," ucap Pak Hilman
"Kalau dilihat-lihat, rumah Bapak Rommy ini sangat klasik. Terlihat indah," sambung Pak Hilman
"Ayah, apa kabar?" tanya Raisa
"Ayah sangat baik," jawab Tuan Rommy
"Rumi, sering-seringlah bawa istrimu ke sini," sambung Tuan Rommy yang bicara pada anaknya.
"Aku tidak bisa berjanji, Ayah ... tapi, akan aku usahakan," kata Rumi
Tuan Rommy pun menyentuh kepala Rumi dan Raisa secara bergantian untuk menunjukkan kasih sayangnya.
"Halo, Kakek Rommy ... " sapa Farah sambil tersenyum manis dan melambaikan tangan.
"Hai, anak manis ... " balas Tuan Rommy
"Hebat sekali, Farah, tidak takut melihat Tuan Rommy. Memang hanya keluarga Raisa yang berbeda," ujar Morgan
"Mungkin karena dia masih kecil, jadi masih belum punya rasa takut," kata Aqila
"Silakan duduk dulu, semuanya ... " ucap Tuan Rommy
"Kalau begitu, aku pergi buatkan minum dulu. Permisi," ujar Nona Rina yang berlalu pergi menuju ke dapur.
"Aku bantu, ya, Bibi ... " kata Aqila
"Ayo, Morgan ... " sambung Aqila yang menarik tangan sang suami untuk ikut pergi bersamanya.
"Ya ... baiklah," patuh Morgan
Aqila dan Morgan pun beranjak mengikuti Bibi Rina menuju ke dapur.
Semua pun duduk bersama di atas sofa yang sudah banyak disediakan di ruang tamu besar di sana.
__ADS_1
"Sebenarnya kedatangan besan semua di sini tidaklah mendadak. Aqila dan Morgan yang menjemput kalian pun anggap saja sebagai undangan dari kami," ungkap Tuan Rommy
"Jadi, semuanya memang sudah direncanakan? Kenapa tidak bilang padaku lebih dulu?" tanya Raisa
"Kan, sudah kubilang ... aku ingin ini jadi kejutan untukmu," jawab Raisa
"Lalu, semuanya direncanakan dalam rangka apa?" tanya Raisa lagi.
"Tentu saja untuk melaksanakan acara pernikahan kedua kalian berdua di sini," jawab Logan
"Semua teman kalian di sini ingin kalian juga mengadakan acara pernikahan kedua di sini dan kami pun juga sudah merencanakannya," sambung Logan
"Sebenarnya sejak Rumi mengatakan ingin serius denganmu, kami semua sudah mulai merencanakannya. Mulai dari melamar hingga mengadakan pesta pernikahan kedua di sini," ungkap Tuan Rommy
"Acara pernikahan sebelumnya hampir secara keseluruhan Raisa yang mengurusnya, jadi untuk pesta pernikahan keduanya kami ingin biar kami saja mengurusnya. Raisa hanya perlu menanti hasilnya saja," sambung Tuan Rommy
"Acara pernikahan sebelumnya aku yang nengurus hampir seluruhnya karena acaranya di adakan di duniaku, tapi karena sekarang aku juga sudah ada di sini ... bisakah setidaknya beru tahu sedikit padaku rencana seperti apa yang kalian buat untuk mengadakan pesta pernjkahan kedua itu?" tanya Raisa meminta.
"Tenang saja, itu hanya pesta sederhana untuk kerabat dan teman terdekat saja. Aku tahu kau tidak suka pesta mewah yang berlebihan, jadi akan dipastikan pesta nanti tidak akan membebanimu," jawab Rumi
"Kau hanya perlu menunggu dengan tenang seperti seorang ratu," sambung Rumi
"Kau ini ... bicara sewajarnya saja. Di sini ada banyak orang," pelan Raisa menegur sang suami.
Saat itu Nona Rina, Aqila, dan Morgan pun kembali dengan membawa nampan berisi camilan dan minuman.
"Rumi benar, Raisa. Kau hanya perlu menunggu dengan tenang," ujar Bibi Rina sambil meletakkan minuman dan camilan yang dibawa olehnya di atas meja.
"Bibi Rina!" seru Raisa
"Ya. Serahkan saja semuanya pada kami," sahut Morgan
"Semuanya, silakan diminum minumannya dan makan juga camilannya," kata Aqila
"Terima kasih," ucap Raisa
Setelah itu Nona Rina, Aqila, dan Morgan pun ikut bergabung di sana. Mereka semua pun melanjutkan perbincangan sambil makan dan minum bersama.
"Raisa, bagaimana dengan Rumi ... apa dia sudah layak menjadi seorang suami untukmu? Dia tidak pernah menyakitimu, kan?" tanya Logan
"Kakak kenapa bertanya seperti itu? Rumi adalah suami yang baik kok. Dia itu perhatian, pengertian, dan sangat peduli padaku. Dia tidak pernah dan kuyakin tidak akan pernah menyakitiku," ungkap Raisa
"Itu sudah pasti ... dan yang paling penting aku sangat mencintai istriku," ucap Rumi yang mulai kembali mengerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Raisa dengan erat.
Raisa tersenyum dan membalas genggaman tangan suaminya.
"Aku tidak bicara denganmu, Bocah!" seru Logan
"Rumi benar, Kak. Kami saling mencintai. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hubungan kami," ujar Raisa
"Rumi dan Raisa selalu terlihat mesra di setiap harinya," sahut Morgan mengungkapkan.
"Ya. Berbeda dengan seseorang," gumam Aqila
Morgan langsung beraloh menatap istrinya dengan penuh cinta setelah mendapat sindiran halus dari wanita yang dicintainya itu. Namun, Aqila malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Yang mana membuat Morgan hanya bisa menghela nafas pelan.
"Ini ... jangan sampai terjadi, tapi kalau sampai Rumi menyakitimu, kau katakanlah pada kami, Raisa. Biar kami beri dia pelajaran karena sudah berani menyakiti orang seberharga dirimu," ucap Logan
"Itu tidak akan pernah terjadi!" tegas Rumi
Hati Raisa menghangat saat mendengar kata berharga dari orang lain yang ditujukan untuknya.
"Baiklah, Kak," patuh Raisa sambil tersenyum hangat.
"Oh, ya, Raisa ... meski nantinya hanya merupakan pengulangan acara pernikahan untuk yang kedua kalinya, kau dan Rumi masih harus melakukan prosesi pernikahan sesuai adat kami di sini. Rumi sendiri yang akan menjelaskan seperti apa prosesnya padamu nanti," ujar Tuan Rommy
"Aku mengerti, Ayah," kata Raisa
"Acara pernikahan kedua itu akan diselenggarakan kapan?" tanya Bu Vani
"Acara pernikahan kedua akan diadakan pada dua atau tiga hari lagi," jawab Tuan Rommy
"Apa? Secepat itu?" tanya Raina yang secara spontan merasa terkejut.
Tak hanya Raina, seluruh keluarga Raisa yang ada di sana pun ikut terkejut. Termasuk Raisa sendiri juga.
"Apa tidak terlalu cepat? Jujur saja, kami hanya menyiapkan dan membawa sedikit barang dan pakaian," ujar Bu Vani
"Bibi tidak perlu khawatir. Sama seperti Raisa, keluarga yang datang hanya perlu menunggu dengan tenang. Semuanya kami yang persiapkan hingga ke pakaian yang akan dikenakan nantinya," jelas Nona Rina
"Apa ini tidak terlalu merepotkan?" tanya Raisa yang merasa tidak enak.
"Tentu saja, tidak. Kami yang merencanakan semua, tentu harus kami juga yang menyiapkan semuanya," jawab Tuan Rommy
"Lagi pula, pakaian yang dikenakan keluarga nantinya haruslah pakaian adat sini. Jadi, biarkan kami saja yang menyiapkannya," sambung Tuan Rommy
"Kalau begitu, aku mewakili diriku sendiri dan keluarga mengucapkan terima kasih banyak dan maaf telah merepotkan," ucap Raisa
"Tidak merepotkan dan tidak perlu terima kasih. Keluargaku adalah keluargamu juga. Sekarang kita semua adalah satu keluarga besar," ujar Rumi
"Nah ... karena semua sudah dibicarakan, kalian semua iatirahatlah dulu. Nanti kita semua akan makan bersama," ucap Tuan Rommy
"Logan dan Rina yang akan mengantar kalian semua untuk memilih kamar. Semoga kalian semua suka dengan kamar yang ada di sini. Rumi, kau ajaklah istrimu untuk istirahat juga," sambung Tuan Rommy
__ADS_1
Nona Rina dan Logan pun bangkit, siap untuk mengantar keluarga Raisa memilih kamar.
Rumi pun bangkit dan mengajak Raisa untuk istirahat bersama.
"Tapi, aku tidak lelah. Biarkan aku juga ikut mengantar keluargaku saja," kata Raisa
"Raisa, kau istirahat saja bersama Rumi. Kudengar kalian berdua baru saja pulang dari menyelesaikan misi dari negara utara yang jauh itu, kan ... " ujar Tuan Rommy
"Kami sudah kembali sejak dua hari yang lalu dan sudah cukup beristirahat," jelas Raisa
"Sudahlah, Sayang. Turuti saja kata Ayah yang menyuruh kita untuk istirahat," kata Rumi
Saat itu Aqila dan Morgan pun ikut bangkit berdiri.
"Kalau begitu, kami pamit pergi dulu," ujar Morgan
"Lho, kok malah mau pergi? Kenapa tidak ikut menginap di sini saja?" tanya Raisa
"Kami masih ada urusan lain. Jadi, kami pamit dulu, semuanya ... " jawab Aqila
"Kalian berdua berhati-hatilah dan sekali lagi terima kasih," ucap Raisa
Aqila dan Morgan hanya menanggapi dengan tersenyum sambil mengangguk. Lalu, pasangan suami istri itu berlalu pergi meninggalkan kediaman tersebut.
Bibi Rina dan Logan pun sudah mulai mengantarkan keluarga Raisa untuk memilih kamar.
"Ayo, Sayang ... kita istirahat," kata Rumi
"Sekarang kau tidak perlu lagi memakai kamar yang sama dengan Rina karena kita sudah bisa memakai satu kamar yang sama," sambung Rumi
Dengan tetap menggenggam tangan istrinya, Rumi menarik Raisa untuk beranjak menuju ke kamar miliknya di sana.
"Iya, iya. Aku mengerti," patuh Raisa mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.
"Dasar, anak muda ... pengantin baru," gumam Tuan Rommy sambil menggelengkan pelan kepalanya.
Sesampainya di kamar, setelah masuk, Rumi pun menutup rapat-rapat dan mengunci pintu kamar tersebut dari dalam. Sedangkan Raisa sibuk melihat ke sekeliling isi kamar suaminya itu.
"Jadi, ini kamar yang kau gunakan sejak dulu. Sederhana, sangat mencerminkan dirimu yang sesungguhnya," gumam Raisa
"Aku memang hanya orang sederhana yang mencintaimu apa adanya, tidak ... cintaku ini luar biasa," ungkap Rumi
Rumi pun memeluk serta mendekap erat tubuh Raisa dari belakang. Satu tangan Rumi melewati bahu Raisa dan satu tangan lainnya melewati pinggang Raisa hingga kedua tangannya bertemu di depan tubuh istri cantiknya itu. Raisa pun menyentuh kedua tangan suaminya yang melingkari tubuhnya itu dan sesekali mengusapnya dengan ldmbut.
Tangan Rumi mulai nakal dengan menurunkan resleting pendek di bagian depan pakaian Raisa dan menyusup masuk ke balik atasan istrinya hingga satu tangannya itu beraksi menangkup dan mer3m@s pelan salah satu aset milik sang istri yang masih tertutup oleh pakaian dalam dan balutan atasan.
Raisa pun mendesah pelan sambil memejamkan kedua matanya saat merasakan sentuhan dari suaminya.
"Sayang, ini masih siang ... " kata Raisa memperingati sang suami.
Rumi pun menarik ke luar satu tangannya dari dalam pakaian sang istri dan beralih membalikkan tubuh Raisa agar berhadapan langsung dengannya.
"Huh ... kenapa resleting ini pendek sekali, sih," dumel Rumi
Memang resleting atasan itu hanya sebatas atas dada Raisa.
Raisa terkekeh kecil saat mendengar Rumi mendumel untuk yang pertama kalinya. Namun, wanita itu langsung terkesiap kaget saat merasakan benda lembut nan hangat menyentuh permukaan lehernya. Rumi kini sibuk mengecupi leher sang istri serta memberikan gigitan kecil hingga Raisa kembali mengeluarkan ******* pelan dari mulutnya.
Lalu, Rumi menjauhkan wajahnya dari leher Raisa dan memperlihatkan tatapan penuh damba.
"Sayang, bolehkah kali ini saja di siang hari?" tanya Rumi meminta izin dari sang istri.
Raisa menatap suaminya dengan bimbang. Sebagai seorang istri harusnya ia menurut dan melayani suaminya dengan sepenuh hati serta tidak selalu menolaknya hanya karena alasan malu melakukannya di siang hari.
Dengan malu-malu, akhirnya Raisa pun mengangguk dengan patuh. Rumi pun langsung tersenyum gembira saat mendapat izin dari istri cantiknya.
"Tapi, sedang banyak orang. Kita tidak boleh berisik," kata Raisa
"Kalau begitu, aku tinggal membuat lingkaran sihir kedap suara saja," ujar Rumi
Rumi pun mengarahkan tangannya ke lantai dan dari bawah sana langsung muncul lingkaran sihir yang berfungsi sebagai pengedap suara pada ruangan tersebut. Setelah itu, Rumi langsung melancarkan aksinya dengan mencium bibir milik Raisa.
Tak hanya terhanyut dalam ciuman, tangan Rumi bergerak menyingkap pakaian atas Raisa dan membelai lembut pinggang istrinya yang berkulit mulus dan halus itu. Raisa pun mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami dan wanita otu begitu menikmati sentuhan suaminya dengan meloloskan ******* dan lenguhan yang terdengar indah dari mulutnya di sela-sela ciuman dengan suaminya itu.
Namun, permainan keduanya terhenti begitu saja saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar tersebut. Rumi tampak tidak ingin menghiraukan suara ketukan pintu dan terus asik mencumbu sang istri. Berbeda dengan Raisa yang langsung mendorong tubuh suaminya itu.
Lingkaran sihir kedap suara yang dibuat Rumi memang hanya berfungsi agar suara di dalam kamar tidak terdengar dari luar kamar tersebut. Namun, suara dari luar kamar tetap terdengar hingga ke dalam kamar tersebut.
Tok-tok-tok!
"Kok gak kedengaran ada suara? Apa gak ada orang di dalam?"
Rumi mendengus pelan saat adanya gangguan dari luar yang mengganggu kesenangannya bersama sang istri. Raisa tersenyum saat melihat kekecewaan dari raut wajah suaminya.
"Tunggu sebentar, ya, Sayang ... mungkin ada yang penting," kata Raisa
Raisa pun kembali menarik resleting atasannya hingga ke atas, lalu ia beralih menuju pintu kamar dan membuka kunci serta membuka pintu tersebut untuk menemui orang di balik pintu.
"Gagal, deh ... " batin Rumi yang hanya bisa bersabar diri.
Rumi mengusap pelan wajahnya untuk meredakan emosi di dalam dirinya.
.
__ADS_1
•
Bersambung.