Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 35 - Bukan Kisah Tragis Romeo dan Juliet.


__ADS_3

"Raisa, ini pacar kamu, ya?" Aktor senior yang dikatakan Raisa tadi datang menghampiri.


Raisa hanya tersenyum tanpa menjawab apa pun.


"Ini semua teman-temanku," ungkap Raisa


"Mereka semua emang teman kamu. Ada manager kamu, penata fashion, dan yang ini pacar kamu, kan? Bahkan warna baju kalian berdua aja sama. Apa ini si R yang kamu suka?"


"Kamu tahu soal itu juga?" tanya Raisa


"Tahu dong. Oh, ya ... aku mau ke luar, nih. Mau ke luar bareng gak? Mungkin kalau ke luar bareng kita bisa diwawancara bareng juga," ujarnya


"Aku nyusul nanti aja, deh. Kamu duluan aja," kata Raisa


"Ya udah, aku duluan, ya." Ia pun beranjak pergi.


"Sekarang kita foto-foto bersama dulu, yuk," ajak Raisa


Maura pun mengeluarkan tongsis yang sempat ia bawa.


*tongsis: tongkat narsis.


"Pakai ini aja," kata Maura


Mereka pun berfoto bersama. Foto beramai-ramai. Memfoto Raisa bersama Maura dan Nilam. Raisa bersama teman-teman jauhnya. Terakhir, Raisa berdua dengan Rumi.


"Setelah ini kau masih harus melakukan apa, Raisa?" tanya Wanda


"Acara amalnya sudah selesai. Tapi, biasanya saat acara besar seperti ini, akan ada sesi wawancara artis dengan para reporter yang ada dan menunggu di luar gedung. Mungkin aku juga akan ditanyai," jawab Raisa


"Kita akan ke luar bersama, tapi aku akan singgah untuk wawancara dulu. Saat itu kalian tunggu aku bersama Maura dan Nilam saja," sambung Raisa


"Ya sudah. Ayo, kita pergi dari sini," kata Billy


Semua pun beranjak pergi dari sana.


Saat ke luar dari gedung, sudah banyak reporter yang menunggu di depan red carpet. Raisa berhenti di hadapan para reporter, sedangkan yang lain lanjut berlalu pergi dari sana.


Raisa melambaikan tangannya dengan maksud meminta teman-temannya menunggu di tempat lain. Lalu, Raisa juga melambaikan tangan ke arah para reporter.


"Raisa, mohon wawancaranya dulu sebentar saja."


"Ya. Silakan," sahut Raisa


Para reporter pun memberi pertanyaan satu per satu pada Raisa.


"Raisa, apa tanggapan serta kesannya setelah diundang dan hadir di acara amal tahunan kali ini?"


"Jujur, saya merasa senang sekali dan sangat merasa terhormat bisa diundang untuk menghadiri dan mengisi acara amal kali ini. Setelah hadir, saya merasa sangat terkesan. Acaranya sangat meriah, panggungnya megah, dan semua yang hadir sangat antusias untuk ikut memeriahkan acara dan ikut serta dalam acara pelelangannya," jawab Raisa


"Lalu, jujur saja ... saya sempat merasa gugup saat harus tampil di atas panggung yang besar dan megah seperti tadi. Untung saja setelah dengan segala persiapan, akhirnya semua bisa dilewati semua itu dan tampil dengan baik. Semoga semuanya dapat terhibur dengan penampilan saya pada acara kali ini," sambung Raisa


"Persiapan apa saja yang Raisa lakukan sebelum harus tampil pada acara kali ini? Apa Raisa merasa kesulitan saat melakukan persiapan?"


"Persiapannya, tentu saja harus banyak berlatih ini dan itu. Menghafal dialog, lirik lagu, gerakan tari, melakukan pendalaman dan penghayatan peran. Saya merasa sangat antusias dan syukurlah semua persiapannya berjalan lancar. Dari pada persiapannya, saya cukup merasa kesulitan saat harus tampil. Seperti yang saya katakan tadi, saya sempat merasa gugup. Kesulitannya adalah saya harus menghadapi diri saya sendiri. Harus menghadapi rasa gugup untuk bisa tampil sebaik mungkin," jawab Raisa


"Apa rasanya saat bermain peran dalam drama musikal tadi?"


"Saya sangat senang dan antusias. Saya merasa beruntung bisa mendapat lawan peran yang bisa diajak bekerja sama dengan baik. Meski yang harus saya lakukan dan tampilkan dalam drama tadi cukup sulit, tapi karena saya sangat menikmati peranan dan tugas yang harus saya lakukan, itu semua jadi terasa mudah. Saya pun merasa sangat senang dan bersyukur bisa menampilkan yang terbaik yang saya bisa," jawab Raisa


"Apa pada acara kali ini Raisa juga ikut menyumbang atau membeli barang dari pelelangan untuk menyumbang?"


"Tentu saja. Saya tidak ikut serta atau membeli barang dari pelelangan, tapi saya dan teman-teman juga ikut menyumbang. Meski tidak dalam jumlah yang banyak, saya senang bisa ikut menyumbang. Saya harap dengan apa yang saya sumbangkan itu bisa berguna bagi yang membutuhkan," jawab Raisa


"Raisa datang bersama siapa saja hari ini?"


"Saya datang bersama teman-teman. Bersama manager dan penata fashion, dan juga beberapa teman saya yang lain," jawab Raisa


"Kami melihat banyak teman Raisa yang ikut datang. Apa dari salah satu teman yang datang kali ini ada pacar Raisa?"


Raisa hanya menanggapi dengan tersenyum dan terlihat enggan menjawab.


"Kami melihat Raisa sempat bergandengab tangan dengan salah satu lelaki, bahkan warna pakaian kalian pun sama dan terlihat sangat serasi. Apa lelaki tadi itu adalah R yang pernah diungkap di suatu acara talk show yang merupakan orang yang Raisa sukai? Apa si R ini sudah menjadi pacar Raisa? Karena yang kami lihat kalian berdua tampak cukup mesra dan serasi ...."

__ADS_1


"Itu ... masih rahasia!" Raisa menjawab dengan tersenyum kecil sambil mengedipkan sebelah mata. Membuat semuanya penasaran dan kembali bertanya-tanya.


"Raisa, mohon klarifikasinya. Apa itu adalah pacar Raisa? Apa itu adalah R? Siapa nama asli R yang sebenarnya?"


"Maaf, kalau sudah tidak ada pertanyaan lain lagi ... saya akan pergi," ujar Raisa


"Tunggu, Raisa ...."


"Tolong dijawab dulu pertanyaannya."


"Raisa, setidaknya tolong tinggal sebentar untuk berfoto."


"Baiklah," kata Raisa


"Lihat ke sini, Raisa. Ke sebelah sini."


Raisa pun menunda kepergiannya untuk sekedar berfoto. Para reporter itu mengambil cukup banyak gambar Raisa.


"Sudah cukup, ya. Saya pergi dulu," ucap Raisa


"Raisa, mohon jawab dulu pertanyaan sebelumnya."


"Raisa ...."


Raisa pun mengabaikan para reporter dengan beribu pertanyaannya itu dan berlalu pergi dengan senyuman.


Raisa langsung mencari keberadaan teman-temannya.


Raisa menghampiri teman-temannya yang menunggunya di sekitar area parkir.


"Maaf, kalian sudah menunggu lama, ya," kata Raisa


"Gak juga kok, Raisa. Kita langsung pulang aja, yuk," ucap Maura


"Kamu sama Nilam duluan aja, deh. Aku datang sama teman-teman pakai mobil sewaan. Mobilnya gak diparkir di sini, aku harus panggil sopirnya ke sini dulu," ujar Raisa


"Kamu sewa mobil apa buat ramai-ramai begini? Gak apa, kamu telepon supirnya aja. Kita tunggu sampai mobil sewa kamu datang dulu," ucap Nilam


"Tapi, pasti bakal lama karena sekitar sini pasti macet. Gak apa, kalian berdua duluan aja. Lagi pula, kita bakal beda arah," kata Raisa


"Gak apa. Aku juga gak cuma sendirian. Kalian berdua juga tahu, kan ... teman-temanku ini bekerja sebagai jajaran polisi. Mereka semua bisa jadi pengawalku," jawab Raisa


"Haha, iya juga. Ya udah, kami berdua duluan, ya," kata Maura


Raisa mengangguk. Setelah pamit, Maura dan Nilam pun beranjak pergi meninggalkan Raisa dan teman-temannya.


"Mobil sewaan, ya? Padahal kita tidak naik mobil mana pun sama sekali. Pandai sekali kau membuat alasan, ya," ujar Devan


Raisa terkekeh kecil dan memperlihatkan deretan giginya.


"Heh ... aku tidak pernah bilang mau jadi pengawalmu," enggan Amon


"Kau juga tahu itu bukan sungguhan," kata Raisa


"Sekarang, ayo kita kembali menuju ke vila," sambung Raisa


Sekarang, Raisa bebas menggunakan sihir karena lebih dulu membuat lingkaran pembatas transparan sebelum membuka portal sihir teleportasi. Jadi, takkan ada yang melihatnya menggunakan sihir dan ia pun bisa berpindah tempat dengan lebih bebas.


Raisa dan teman-teman pun tiba di vila.


"Bagaimana setelah bisa menghadiri dan menyaksikan acara amal kali ini? Kuharap kalian semua dapat menikmatinya tadi," ujar Raisa


"Sebenarnya banyak hal yang ingin kami tanyakan," kata Monica


"Banyak hal yang baru kalian dengar dan ketahui saat acara amal tadi, ya ... baiklah. Ganti pakaian dulu, setelah itu kita berkumpul untuk mengobrol," ucap Raisa


Semua pun membubarkan diri masing-masing untuk berganti pakaian yang lebih santai.


Saat semua telah berkumpul, Raisa lebih dulu ke dapur untuk mengambil camilan.


"Ayo, kita mengobrol sambil makan camilan. Silakan dimakan," kata Raisa yang baru saja kembali dari arah dapur.


"Terima kasih, Raisa ... " ucap Chilla yang paling antusias saat melihat datangnya camilan.

__ADS_1


"Aktor lawan peranmu di drama musikal tadi, siapa namanya?" tanya Chilla melanjutkan


"Namanya Angga. Dia juga salah satu idolaku. Meski terbilang senior karena lebih dulu terjun ke dunia hiburan dari pada aku, sebenarnya usianya lebih muda 3 tahun dariku. Sebenarnya aku agak malu saat harus bermain peran bersama lawan yang lebih muda dari pada aku. Apa lagi kami harus bermain sebagai pasangan," ungkap Raisa


"Kau merasa malu saat harus berakting dengan lawan peran yang lebih muda, tapi aslinya kau berpacaran dengan lelaki yang lebih muda 2 tahun darimu. Sepertinya terlihat biasa saja," ucap Ian


Raisa terkekeh pelan karena merasa malu.


"Itu jelas adalah hal yang berbeda," kata Rumi yang langsung merangkul tubuh Raisa.


"Sepertinya Rumi masih merasa cemburu saat kita masih saja membicarakan aktor tampan idola Raisa itu," ujar Billy


"Raisa, apa itu kisah Romeo dan Juliet?" tanya Amy


"Oh, kalian mendengar itu setelah dramaku berakhir, ya?" tanya balik Raisa


Semua mengangguk.


"Kisah Romeo dan Juliet adalah kisah yang mengisahkan tentang sepasang muda-mudi yang saling jatuh cinta, namun terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan," ungkap Raisa


"Karena lelah dengan permusuhan kedua belah pihak keluarga, Juliet meminta bantuan seseorang supaya bisa membantunya bersatu dengan Romeo. Rencananya cukup ekstrem, yaitu memalsukan kematian Juliet. Saat rencana itu mulai berjalan, Romeo tidak tahu jika itu hanya sandiwara karena pesan mengenai rencana tersebut tidak sampai padanya. Ia percaya Juliet mati. Tak sanggup menerima keadaan itu, Romeo mengakhiri hidupnya di makam palsu Juliet. Kemudian, Juliet bangun dari makam buatan itu dan melihat jasad Romeo tergeletak tak bernyawa. Melihat sang kekasihnya mati, ia pun kemudian bunuh diri. Seperti itulah akhir dari kisah Romeo dan Juliet," sambung Raisa


Semua sibuk mendengar kisah yang diceritakan oleh Raisa. Mereka terlihat ikut merasa terpukul meski itu hanya sebuah kisah fiktif.


"Akhir kisah yang tragis, bukan? Itu adalah kesamaan cerita dengan drama yang kuperankan hari ini. Intinya karena dipaksa keadaan dan tak sanggup melihat salah satunya mati, sepasang kekasih akan sanggup mengakhiri hidup diri mereka sendiri. Namun, banyak orang yang mengatakan bahwa kisah keduanya adalah kisah cinta sejati," ujar Raisa


"Apanya yang cinta sejati? Aku lebih setuju dengan anggapan bahwa cinta sejati adalah cinta dua orang yang saling mencintai yang hidup bersama sampai mati, bukannya malah rela mati bersama. Itu hanya keegoisan namanya. Jangan samakan keegoisan dengan atas nama cinta," tutur Morgan


"Meski menurutmu seperti itu, pendapat masing-masing orang pasti berbeda. Bagaimana menurut kalian berdua, Raisa, Rumi?" tanya Aqila


"Padahal Morgan orang yang sering rela maju dan mati untuk kehidupan orang lain, meski begitu aku setuju dengan pendapatnya," ungkap Rumi


"Benar, aku juga beranggapan seperti itu. Tapi, keegoisan adalah sifat alami dan tak daoat terpisahkan dari semua manusia yang ada. Sering kali juga orang bisa bertindak egois demi cinta. Seperti katamu, Rumi ... Meski punya pendapat seperti itu, Morgan juga adalah orang yang rela maju dan mati demi hidup orang lain. Aqila pun tipe orang yang menghargai perbedaan pendapat, meski mungkin punya pendapat yang sama," ungkap Raisa


"Jika itu aku, demi orang yang kucinta, aku juga rela mati. Pendapatku yang berbeda dengan orang lain adalah jika Remeo atau Juliet rela ikut mati setelah melihat kekasihnya mati, aku ingin agar kekasihku tidak ikut mati bersamaku setelah aku memilih mati, melainkan tetap hidup. Rela mati demi orang yang dicintai artinya hidup orang itu sangat berharga, jadi kuharap meski aku menggantikan kematian kekasihku, kekasihku bisa tetap hidup demi dirinya yang berharga. Melihat orang yang kucinta tetap hidup dan bahagia adalah keinginan terbesarku, meski aku sendiri telah mati," sambung Raisa


Rumi langsung menoleh dan menatap Raisa. Sudah ia duga, Raisa akan berkata seperti itu. Namun, ia tetap tidak ingin setuju. Rumi pun menggenggam tangan Raisa.


"Aku tidak setuju. Aku ingin kau tetap dan terus hidup bersamaku. Jika kau mati, aku tidak bisa bertahan dan akan memilih untuk mati juga." Rumi menolak kata-kata yang diucapkan oleh Raisa.


"Sudah kubilang kau harus tetap hidup meski aku mati. Ini bukan permintaan melainkan pernyataan. Pernyataan ini hanya berlaku untukmu, tidak berlaku juga untukku. Kan, sudah ada peraturannya ... pasal 1, perempuan selalu benar. Pasal 2, jika perempuan salah, maka kembali ke pasal 1. Ini juga berlaku pada pernyataanku sebagai perempuan," ucap Raisa


"Peraturan konyol yang tak masuk akal itu tidak seharusnya ada," kata Amon


"Aku selalu setuju dan mengikuti perkataanmu bahkan saat kau mengatakan ada peraturan ini sebelumnya, tapi aku tidak akan setuju dan mengikuti perkataanmu jika peraturan itu juga berlaku pada pernyataanmu barusan. Aku akan menganggap tidak pernah mendengar pernyataanmu kali ini," tolak Rumi


"Selain peraturan bahwa perempuan selalu benar, sebenarnya masih ada satu peraturan lain lagi. Yaitu, mengalah dengan perempuan adalah kemenangan bagi lelaki," ujar Raisa


"Itu hanya berlaku pada lelaki yang mau menerimanya," sahut Amon


"Mau seperti apa pun juga ... aku tetap tidak setuju dengan pernyataanmu kali ini, Raisa," kata Rumi


"Meski begitu, Rumi ... aku lebih berharap agar aku bisa berjuang untuk hidup dan bahagia bersama orang yang kucinta. Pernyataanku kali ini hanya berlaku untuk langkah akhir jika keadaan memang memaksa. Kuharap kau juga berharap hal yang sama dan pernyataan kali ini tetap berlaku untukmu. Ini adalah keputusan akhir. Tidak ada yang boleh dinegosiasikan lagi," ucap Raisa


"Kalau begitu, aku hanya perlu berjuang bersamamu agar bisa terus hidup dan bahagia bersama sampai akhir," ujar Rumi


"Itu bagus. Aku memang ingin mendengar itu darimu," kata Raisa


"Kisah kita berdua bukanlah kisah tragis seperti Romeo dan Juliet. Melainkan kisah bahagia Rumi dan Raisa," ucap Rumi


"Huh ... bisa hidup dan bahagia sampai akhir pun masih belum pasti dengan siapa. Rumi belum tentu bisa terus bersama Raisa sampai akhir. Itu semua masih hanya angan-angan saja," ujar Amon


Semua pun menatap tajam ke arah Amon, terutama Rumi yang terlihat marah.


"Amon, jaga ucapanmu. Jangan terlalu berkeras," bisik Sanari


Namun, Raisa hanya tersenyum kecil.


"Dari tadi kau hanya terus membantah ucapanku, Amon. Sepertinya kau lebih tidak puas dari pada Rumi," ujar Raisa


"Mana ada. Baiklah ... aku minta maaf," kata Amon


.

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2