Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 161 - Sejarah Masa Lalu.


__ADS_3

Saat sedang menikmati makan sup bersama, kedai tersebut kembali didatangi oleh pelanggan lain. Rupanya, yang datang adalah Devan, Ian, dan Chilla.


"Hei, kalian sedang ada di sini. Kenapa tidak mengajakku untuk pergi bersama?" tanya Chilla yang baru datang.


"Kami juga datang secara terpisah kok, Chilla," kata Sanari


"Kalian bertiga habis dari mana?" tanya Aqila


"Kami baru saja habis dari pusat penerimaan misi," jawab Ian


"Apa sudah ada misi baru lagi?" tanya Morgan


"Ya, itu misi untuk dua tim sekaligus. Tim kami, yaitu aku, Ian, dan Chilla dengan tim Aqila, Morgan, dan Rumi," jawab Devan


"Kalau begitu, kenapa hanya kalian bertiga yang dipanggil ke pusat penerimaan misi? Misi untuk melakukan hal apa?" tanya Morgan lagi.


"Mungkin karena misi baru ini bukan misi yang mendesak, jadi hanya satu tim yang dipanggil, misinya pun untuk 2 hari lagi," jawab Ian


"Itu adalah misi baru ke Desa Gersang di perbatasan Desa Pasir sana. Sama seperti Desa Pasir, di sana seperti wilayah gurun yang panas dan tidak pernah turun salju. Namun, berbeda dengan Desa Pasir yang hanya ada musim panas di sepanjang waktu, pada musim dingin seperti saat ini di Desa Gersang memang tidak turun salju, tapi di sana selalu turun hujan yang sangat deras pada waktu ini bahkan hingga terjadi banjir. Dua tim kita diminta untuk membantu mengatasi bencana itu di sana," jelas Devan


"Misi mengatasi bencana, dua tim penyelidik dan penyidik kalian pasti selalu dikirim bersamaan," ucap Amon


"Dua tim ... hanya kalian berenam? Apa aku tidak diminta untuk ikut serta dalam menjalankan misi baru itu juga?" tanya Raisa


"Sayangnya tidak. Padahal kalau kau ikut juga pasti akan lebih menyenangkan," jawab Chilla


"Mungkin yang bertugas memberikan misi tahu bahwa kau masih butuh dan harus istirahat," ujar Rumi


Mendengar itu, Raisa hanya diam dan melanjutkan makan sup.


Devan, Ian, dan Chilla yang baru datang pun memesan makanan dan makan bersama di sana.


Dalam tugas menjalankan misi Raisa memang tidak termasuk pada tim mana pun. Seolah hanya menjadi anggota cadangan tambahan tunggal yang terkadang diikut sertakan di dalam misi jika tim memungkinkan butuh anggota tambahan pada misi tertentu.


"Devan, kudengar dari Monica, kau sudah mulai mempersiapkan pernikahanmu dengan Yolanda. Memangnya tidak masalah jika kau masih terus mengambil misi baru?" tanya Raisa


"Masih hanya persiapan, masih banyak waktu sebelum pernikahan. Jadi, aku belum mengajukan cuti. Yolanda pun tidak mempermasalahkan hal ini," jelas Devan


"Katanya, kalian berdua juga sudah mulai merencanakan pernikahan, ya, Sanari, Amon?" tanya Raisa


"Kami berdua baru menimbang-nimbang saja," jawab Sanari


"Begitu, rupanya ... " kata Raisa


Setelah memakan sup hingga habis, Raisa dan Rumi pun kembali pulang menuju ke rumah.


Begitu masuk ke dalam rumah, Raisa dan Rumi langsung membuka lapisan pakaian mantelnya dan segera menyalakan penghangat ruangan.


"Bagaimana setelah ke luar tadi? Apa kau suka dan merasa senang?" tanya Rumi


"Ya, tadi sangat menyenangkan dan aku juga merasa kenyang setelah makan di kedai sup tadi. Aku suka sekali," jawab Raisa


"Tapi, sepertinya kau masih menginginkan sesuatu. Apa tebakanku ini salah? Kalau memang benar, apa yang kau inginkan?" tanya Rumi lagi.


"Aku ingin ikut pergi denganmu dalam menjalankan misi baru pada 2 hari lagi itu," jawab Raisa


"Ya, tapi mau bagaimana lagi? Hal itu tidak bisa sembarang diputuskan oleh kita karena memang sudah ada yang mengaturnya. Mungkin memang lebih baik kau diam dan istirahat di rumah saja," ujar Rumi


"Tapi, itu artinya kau akan pergi meninggalkan aku yang akan sendiri lagi. Padahal aku ingin terus bersama denganmu," kata Raisa


"Kalau bisa memilih, aku juga ingin bersama denganmu saja. Seperti sekarang ini," sahut Rumi


Raisa pun beranjak duduk di atas ranjang dan berangsur merebahkan tubuhnya. Wanita cantik itu menepuk-nepuk sisi ranjang kosong di sampingnya, meminta sang suami untuk ikut berbaring bersama di sana.


Rumi merasa senang saat sang istri turut mengundangnya. Pria itu pun memenuhi undangan sang istri untuk berbaring di samping wanita cantik belahan jiwanya.


"Peluk aku," pinta Raisa yang langsung meringkuk masuk ke dalam dekapan sang suami.


"Apa kau merasa kedinginan setelah dari luar?" tanya Rumi


"Tidak. Aku hanya ingin dipeluk dan bermanja denganmu. Memangnya tidak boleh, ya?" tanya balik Raisa


"Apa pun alasannya, aku sangat suka seperti ini," ungkap Rumi


Dengan senang hati, Rumi pun merengkuh tubuh sang istri untuk dipeluk olehnya dengan erat.


"Inilah salah satu alasan di balik tidak sukanya aku dengan hawa atau cuaca dingin. Kondisi seperti ini membuatku jadi merasa malas, apa lagi saat tidak ada kegiatan apa pun seperti ini," ujar Raisa


"Tidak apa-apa karena aku pun jadi suka bermalas-malasan juga jika itu artinya bisa terus bersama denganmu seperti ini," kata Rumi

__ADS_1


"Kau bisa saja," sahut Raisa


Pasangan suami istri itu pun saling menghangatkan diri dengan cara berpelukan sambil berbaring di atas ranjang.


•••


Dua hari kemudian.


Rumi sudah mulai bersiap untuk berangkat misi. Pria itu meminta sang istri untuk hanya diam tanpa perlu membantunya bersiap. Raisa pun hanya bisa diam sambil duduk di tepi ranjang saat melihat sang suami mulai bersiap untuk pergi menjalankan misi.


"Padahal rasanya aku ingin sekali ikut pergi bersama denganmu dan yang lain untuk menjalankan misi baru kali ini," ujar Raisa


"Patuh dan sabarlah, Sayang. Aku akan langsung kembali saat misi telah usai nanti," kata Rumi


Rumi pun berjalan mendekat dan berdiri di hadapan sang istri yang sedang duduk di tepi ranjang. Raisa langsung memeluk pinggang sang suami dengan erat seolah tidak ingin berpisah. Sedikit terkejut dengan tingkah manja sang istri yang tak biasa, Rumi pun membelai rambut dan kepala sang istri dengan lembut sambil tersenyum.


"Aku ingin terus bersama dengan suamiku," kata Raisa


"Sebenarnya aku juga tidak rela berpisah dan meninggalkan dirimu. Kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukannya sebelum aku pergi?" tanya Rumi


"Apa? Jangan macam-macam, deh. Kau sudah mau pergi. Nanti kau bisa terlambat," ujar Raisa sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami.


"Masih ada waktu sebelum aku pergi. Kami sudah sepakat akan bersngkat setelah waktu makan siang nanti," kata Rumi sambil memegang kedua sisi tubuh Raisa.


Rumi mulai bergerak untuk merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Raisa pun hanya bisa patuh dan menerima perlakuan sang suami dengan pasrah.


"Memang paling tidak bisa menang darimu," kata Raisa


"Yang benar adalah kau yang telah memenangkan hatiku," sahut Rumi


Pasangan suami istri itu pun melakukan percintaan panas di atas ranjang. Usai mencapai puncak dan melakukan pelepasan bersama, kedunya pun saling membungkus tubuh polos dengan menggunakan selimut.


"Maaf, Sayang. Aku sudah langsung merasa lelah padahal baru sekali melakukannya," kata Raisa


"Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih padamu karena sudah mau melakukannya sebelum aku pergi. Gawat, sepertinya aku jadi semakin tidak ingin pergi karena pasti akan sangat merindukanmu," ujar Rumi


"Jangan seperti itu dong. Kau tetap harus pergi," sahut Raisa


"Baiklah. Sekarang kau istirahat saja dulu sebentar, aku masih ada waktu untuk menemanimu," ucap Rumi


"Hmm ... segera bangunkan aku saat kau sudah hendak pergi," kata Raisa


Secara perlahan, Raisa pun langsung memejamkan kedua matanya. Rumi yang masih setia memeluk sang istri pun langsung mengulurkan satu tangannya untuk membelai rambut dan kepala sang istri dengan lembut seolah sedang menina-bobokan.


"Sayang, Istriku ... ayo, bangun!" seru Rumi dengan pelan membangunkan sang istri tercinta.


"Heum ... kau sudah mau pergi, ya?" tanya Raisa menyahut saat baru membuka kembali kedua matanya.


"Masih belum. Tapi, apa kau mau makan bersama denganku dulu sebelum aku pergi? Ayo, kita makan di atas ranjang lagi sebelum beranjak untuk mandi seperti waktu itu," ujar Rumi


"Ya, aku mau," sahut Raisa sambil mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan menyiapkan makanannya. Kau pakai ini dulu," kata Rumi sambil memberikan jubah tidur pada sang istri.


Raisa pun beralih bangkit untuk sekadar mengenakan jubah tidur miliknya, sedangkan Rumi yang sudah lebih dulu mengenakan jubah tidur pun beranjak untuk menyiapkan makanan untuk mereka kedua.


Untung saja, Raisa telah memasak lebih banyak sejak pagi untuk sarapan tadi. Hingga sisa masakan bisa tinggal langsung Rumi panaskan ulang saja.


Saat Rumi kembali sambil membawa makanan, Raisa sudah menunggu sambil duduk manis dengan tenang di atas ranjang.


Keduanya pun mulai makan bersama di atas ranjang. Usai makan bersama sang istri, Rumi kembali membereskan bekas alat makan yang telah terpakai.


"Supaya lebih cepat, ayo kita mandi bersama seperti waktu itu lagi. Kau tenang saja karena aku tidak akan meminta tambah jatah," ujar Rumi


"Terserah, deh ... aku ikut saja," kata Raisa


Raisa dan Rumi pun masuk bersama ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Rumi kembali melayani mandi sang istri tercinta. Usai mandi, giliran Raisa yang melayani sang suami mengenakan pakaian.


"Maaf, ya. Padahal kau sudah mau pergi, tapi malah kau yang lebih banyak melayani aku," ujar Raisa


"Tidak apa-apa kok. Biar kita bisa gantian dan tidak hanya kau saja yang terus melayaniku," kata Rumi


"Sekarang kau sudah rapi dan siap untuk pergi. Biarkan aku ikut mengantarmu sampai kau berlumpul dengan yang lain," ucap Raisa


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang saja," ujar Rumi


Setelah selesai bersiap, Rumi pun berangkat pergi ke luar rumah bersama sang istri yang ikut mengantarnya untuk berkumpul sebelum menjalankan misi.


Begitu sampai di tempat kumpul, yang lain sudah ada di sana. Terlihat Monica juga ada di sana untuk melihat pacar, kakak, dan kakak iparnya pergi. Namun, alasan sebenarnya adalah Monica ingin bertemu dengan Raisa karena yakin wanita cantik itu akan ikut untuk mengantar sang suami.

__ADS_1


"Sepertinya hanya suamiku yang terlambat karena kalian semua sudah lebih dulu berkumpul di sini," ujar Raisa


"Tidak kok, Kak Raisa. Kami juga baru datang," kata Monica


"Kalian sudah ada rencana apa untuk misi mengatasi bencana banjir kali ini?" tanya Raisa


"Kami harus lihat situasi dan kondisi di lokasi lebih dulu baru bisa menentukan rencana," jawab Morgan


"Sepertinya aku bisa memperkirakan situasi dan kondisi di lokasi. Kalian harus lebih dulu melakukan langkah penyelamatan dan memastikan bahwa tidak ada korban. Kemungkinan besar tujuan utama misi kali ini adalah membangun bendungan. Kalian semua harus ekstra waspada dan hati-hati karena kalau suatu tempat butuh bantuan saat bencana banjir, maka artinya air banjir sangat besar. Jangan sampai ada kabar hilang karena hanyut terbawa arus banjir," ucap Raisa


"Kami mengerti dan terima kasih atas saranmu barusan, Raisa. Namun, kau tenang saja dan biarkan misi kali ini menjadi tugas kami," ujar Devan


"Sepertinya Raisa hanya merasa khawatir dan tidak mau pisah dengan Rumi hingga berpesan begitu banyak," kata Chilla


"Jangan khawatir, Raisa. Serahkan saja tugas pada misi kali ini pada kami. Kau bisa tenang memunggu dengan Monica yang katanya ingin menemanimu," ucap Ian


"Kalau begitu, aku titip istriku psdamu, ya, Monica. Jaga diri baik-baik," ujar Rumi


"Kau tidak perlu khawatir, Rumi, karena aku bukan anak kecil. Selesaikan misi kali ini dengan baik dan kembalilah dengan selamat," kata Raisa


"Tenang saja. Kali ini aku akan menemani Kak Raisa dengan sangat baik," sahut Monica


"Kalau begitu, kami berangkat dulu, ya," pamit Aqila


"Hati-hati, ya, semuanya ... " pesan Raisa dan Monica secara bersamaan.


Mereka semua pun saling melambaikan tangan dan berpisah di sana. Usai melihat sang suami dan yang lain pergi, Raisa pun beralih kembali menuju ke rumah bersama Monica yang akan menemaninya.


•••


5 hari kemudian, Rumi pun kembali dari misinya di Desa Gersang dan langsung pulang menuju ke rumah.


"Sayang, aku pulang!" seru Rumi


Mendengar suara sang suami, Raisa pun langsung beranjak membukakan pintu rumah untuk menyambut kepulangan sang suami tercinta.


"Selamat datang!" seru Raisa


Begitu melihat sosok cantik sang istri yang menyambut kedatangannya, Rumi langsung berhambur memeluk tubh wanita belahan jiwanya itu.


"Aku rindu," bisik Rumi tepat pada telinga sang istri.


"Aku juga. Aku senang karena bisa menyambutmu dengan baik seperti ini," kata Raisa sambil membalas pelukan sang suami.


Keduanya pun saling melepas pelukan dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Di mana Monica yang katanya menemanimu saat aku pergi?" tanya Rumi


"Monica hanya menginap di sini selama tiga hari. Timnya mendapatkan misi dan baru saja pergi kemarin untuk menjalankan misi," jawab Raisa


"Kalau kami, telah menyelesaikan misi dengan baik dan lancar. Saran yang kau berikan sebelum kami pergi juga sangat berguna selama misi berlangsung," ujar Rumi


"Syukurlah, kalau begitu ... " kata Raisa


"Oh, ya ... ada yang ingin aku ceritakan padamu," kata Rumi


"Apa itu?" tanya Raisa


"Saat menjalankan misi di Desa Gersang, kami pernah berteduh pada suatu bangunan yang dijadikan sebagai museum. Di sana banyak tercatat sejarah masa lalu. Salah satunya tentang Dewi Kebajikan Teratai Putih. Konon katanya, ia adalah sosok dewi penjelajah waktu dan dimensi. Ia adalah sosok yang sangat baik hati dan bijaksana yang telah mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah ia mengajarkan para warga untuk menggunakan bahasa yang saat ini telah umum kami gunakan," ungkap Rumi


"Di duniamu, bahasa kami adalah bahasa dari negara asalmu, yaitu Indonesia, tapi di sini merupakan bahasa baru bagi kami pada masa itu. Sedangkan sebenarnya kami mssih punya bahasa asli yang sekarang telah menjadi bahasa kuno bagi kami," sambung Rumi


"Benarkah ada sejarah masa lalu seperti itu?" tanya Raisa


"Benar. Hanya saja katanya sosok dewi tersebut tidak ingin namanya disebar-luaskan, jadi memang tidak banyak yang mengenalnya selain warga yang benar-benar dibantu olehnya. Lalu, suatu saat ia pergi dan dikabarkan bertemu hingga akhirnya menikah dan menjadi istri dari yang disebut sebagai Kaisar Dewa yang membawanya pergi untuk tinggal bersama di wilayah Dewa dan Dewi," jelas Rumi


"Sayang sekali aku hanya bisa mendengar ceritanya darimu, padahal sudah cukup lama aku punya niat ingin mengungkap sejarah di balik ini semua secara langsung," ujar Raisa


"Namun, itu artinya semua hal dan sejarah yang ingin kau ketahui telah terungkap dan tidak lagi jadi misteri," kata Rumi


"Kau memang benar," sahut Raisa


Terungkap sudah sejarah masa lalu dari cerita di balik alasan persamaan bahasa antar dua dunia dimensi yang berbeda. Rupanya, itu adalah bahasa yang telah diajarkan oleh sosok dewi penjelajah waktu dan dimensi pada masa lalu. Sosok dewi tersebut dikenal sebagai Dewi Kebajikan Teratai Putih yang merupakan sosok Raisa di masa lalu sebelum jiwanya bereinkarnasi menjadi sosok Raisa yang sekarang.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2