Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 29 - Naik Busway.


__ADS_3

"Oh, ya. Karena ada orang yang baru pertama kali datang ke sini, aku ingin menyampaikan sesuatu untuk mengingatkan kalian dan yang lainnya lagi," ujar Raisa


"Seperti kataku sebelumnya, di sini tidak mempelajari ilmu sihir. Juga semua orang tidak ada yang menggunakan sihir di sini, kecuali aku. Amon, Monica, jika kalian berdua ada yang ingin bertanya denganku tentang masalah sihir ini, tanyakan nanti saja karena sekarang kita akan pergi ke tempat kerjaku. Lalu, tolong semuanya menyimpan dan sembunyikan alat sihir, senjata, atau apa pun itu yang berkaitan dengan sihir atau pertarungan yang dianggap tabu di sini ke dalam gulungan kertas sihir," sambung Raisa


"Itu sudah dilakukan sebelum datang ke dunia ini. Yang lain sudah mengingatkan tentang ini," ucap Amon


"Awalnya aku bingung kenapa semuanya menyuruh demikian, ternyata inilah alasannya," kata Monica


"Memangnya mereka hanya menyuruh kalian berdua tanpa menjelaskan alasannya?" tanya Raisa


Amon dan Monica menggeleng kecil.


"Yang benar saja!? Ada-ada saja," kata Raisa sambil berkacak pinggang.


Baru kali ini Raisa merasa heran sampai frustasi dan terlihat marah di hadapan semua temannya. Kali ini tidak hanya Ian dan Morgan yang menunjukkan ekspresi wajah bersalah mereka, tapi yang lainnya juga.


"Maaf, Raisa. Ini salahku yang terburu-buru mengajak mereka semua pergi ke sini karena kalau tidak, aku takut kau akan keburu sibuk dengan pekerjaanmu," ujar Rumi


"Ya, itu memang benar. Kalau begitu, kita tunda penjelasannya nanti saja. Harap ada yang menjelaskannya untukku tanpa harus aku sendiri yang menjelaskan," ucap Raisa


Raisa pun memandu jalan ke luar dari rumahnya.


Raisa berjalan lebih dulu di depan teman-temannya menuju halte bus terdekat.


Sambil berjalan Raisa menelepon seseorang menggunakan ponselnya.


"Kak Raisa, sedang apa? Benda kotak di tangannya yang ditempelkan pada telinga itu apa?" tanya Monica yang belum tahu tentang kehidupan di dunia yang berbeda itu dan baru pertama kali melihatnya secara langsung.


"Dia sedang menelepon seseorang dengan benda yang bernama ponsel. Benda itu berfungsi seperti telepon. Di sini memang memiliki teknologi yang agak berbeda," ungkap Ian


"Nilam, kamu dan Maura gak usah jemput aku. Aku pergi bawa teman, kita langsung ketemu di studio pemotretan aja." Raisa bicara di telepon yang terhubung dengan temannya, Nilam.


"Oke, Raisa. Sampai ketemu nanti."


Tut!


Sambungan telepon pun terputus.


Usai menelepon Nilam, Raisa beralih menghubungi Daffa.


"Daff, kali ini aku datang bawa teman lagi dan tidak hanya satu bahkan banyak. Mohon bantuannya sekali lagi."


"Santai. Datang aja."


"Jangan manfaatkan temanku untuk jadi model dadakanmu lagi."


"Kalau itu tergantung sikon, ya. Aku gak bisa janji. Ya udah, kutunggu."

__ADS_1


*sikon: situasi dan kondisi.


Tut!


Sambungan telepon pun terputus.


"Raisa, sekarang kau adalah artis. Apa tidak masalah kalau kau bepergian dengan bebas? Apa kau tidak takut dikenali orang dan mereka mengerubungimu?" tanya Chilla


"Aku masih belum seterkenal itu menjadi artis sampai dikerubungi banyak orang. Tapi, untuk berjaga-jaga aku akan memakai sesuatu," jelas Raisa


Raisa pun menyimpan ponsel miliknya ke dalam tas yang dibawanya dan mengeluarkan masker untuk dipakai. Ia dan teman-temannya pun tiba di halte bus.


"Sepertinya ini cukup untuk menutupi sedikit penampilanku agar tidak terlalu dikenali," kata Raisa setelah memakai masker.


"Kak Raisa, tadi katanya kita akan naik busway. Busway itu apa? Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Monica


"Monica, setelah ke luar dari rumahku tadi kau pasti sudah banyak melihat sesuatu yang asing di jalanan. Itu adalah kendaraan. Di sini ada banyak kendaraan selain kereta, salah satunya adalah busway. Kita berhenti untuk menunggu busway yang tepat untuk menuju tempat kerjaku," ungkap Raisa


Tak butuh waktu lama, bus yang ditunggu datang dan berhenti di halte tersebut.


"Ini adalah busway yang akan kita naiki. Ayo, naik. Semoga kita masih kedapatan tempat untuk duduk karena penumpang bus pasti ada banyak," ujar Raisa


"Cari kursi yang kosong dan usahakan tetap duduk berdekatan," sambung Raisa


Satu per satu dari mereka pun naik dan masuk ke dalam bus.


Usai membayar, Raisa dan teman-teman pun turun di halte bus tujuan.


"Kakak juga pertama kali naik bus?" tanya Monica


Morgan mengangguk.


"Ini memang pertama kalinya aku membawa teman-teman naik kendaraan umum. Biasanya aku selalu menggunakan dan membuka portal. Karena kali ini tujuannya adalah tempat kerja, aku masih belum menemukan tempat yang cocok untuk menggunakan kemampuan dengan bebas di sekitar sini," jelas Raisa


Monica pun ikut mengangguk tanda mengerti.


"Studio pemotretan tempatku bekerja ada di gedung sebelah sana. Masih butuh berjalan lagi sedikit. Ayo," kata Raisa


Raisa dan teman-temannya pun berjalan menuju ke studio pemotretan dan masuk ke dalamnya.


"Itu ... Raisa datang. Teman kamu banyak juga," kata Daffa


"Maura dan Nilam udah sampai duluan, ya?" tanya Raisa


Maura dan Nilam mengangguk sebagai jawaban.


"Kali ini bukan cuma Rumi doang, ya," kata Maura

__ADS_1


"Aku gak nyangka kalian semua bakal diajak Raisa datang ke sini. Udah lama juga kita gak ketemu," ucap Nilam


"Aku perkenalkan dulu, deh. Mungkin sebagian udah ada yang saling kenal ... ini teman-temanku. Maura dan Nilam, yang bantu aku saat bekerja. Lalu, itu Daffa ... temanku juga sekaligus bos dan fotografer di sini," ujar Raisa yang kemudian juga memperkenalkan satu per satu teman-teman dunia lainnya yang ikut ke sana.


"Salam kenal, semuanya!"


Saat itu Lina pun muncul dari ruang ganti.


"Eh, ada Kak Raisa. Ini semua teman-teman Kakak? Ada Kak Rumi juga," ujar Lina menyapa.


"Halo, Lina. Kamu ada pemotretan juga hari ini?" tanya Raisa


"Iya, Kak. Tapi, sesi pemotretanku udah selesai lebih dulu," jawab Lina


Raisa pun ikut memperkenalkan teman-teman ysng dibawanya ke studio pemotretan pada Lina.


"Kali ini aku boleh ikut lihat pemotretan Kak Raisa gak? Selagi ada, aku mau belajar dari senior," ujar Lina


"Boleh aja. Asal gak ganggu," kata Daffa


"Aku gak bakal ganggu kok." Lina pun tersenyum senang karena diperbolehkan melihat sesi pemotretan yang dilakukan oleh Raisa.


"Pemotretan Raisa akan dimulai. Raisa, ganti busananya dulu. Baju untuk pemotretan hari ini udah disiapin dan digantung di samping cermin perias. Rumi, kalau mau ikut pemotretan bareng Raisa lagi bisa ikut ganti baju juga, tapi kali ini ruang gantinya pisah sama ruang ganti perempuan. Ruang ganti lelaki ada tepat bersebelahan sama ruang ganti sebelumnya," ucap Daffa


"Yang lain tunggu di sini, ya," kata Raisa


Rumi langsung mengangguk setuju untuk ikut pemotretan. Raisa dan Rumi pun beranjak menuju ke ruang ganti yang bersebelahan. Maura dan Nilam mengikuti keduanya.


"Raisa, kenapa sekarang ruang gantinya terpisah? Bukankah sebelumnya tidak?" tanya Rumi


"Itu karena kau, Rumi! Karena saat sebelumnya kau menggunakan ruang ganti, kau malah-" Raisa menggantung ucapannya karena ada Maura dan Nilam di dekatnya.


"Sudahlah, memang lebih baik seperti ini," sambung Raisa


Raisa dan Rumi masuk ke dalam masing-masing ruang ganti yang berbeda. Maura dan Nilam ikut masuk ke dalam ruang ganti perempuan untuk membantu Raisa. Sedangkan di dalam ruang ganti lelaki sudah ada staf yang akan membantu.


Usai berganti busana, Raisa dan Rumi kembali untuk melakukan sesi pemotretan. Pertama Raisa dan Rumi melakukan sesi pemotretan sendiri-sendiri secara terpisah. Setelah itu, barulah keduanya melakukan sesi pemotretan berpasangan berdua.


Saat Rumi melalukan sesi pemotretan seorang diri, Lina yang menyukai lelaki itu diam-diam mengambil potret Rumi dengan menggunakan ponsel miliknya. Sedangkan saat Rumi melakukan sesi pemotretan berpasangan dengan Raisa, dalam hatinya merasa kesal.


"Kak Raisa dekat banget sama Kak Rumi. Aku gak suka lihatnya," batin Lina


"Temannya Raisa yang lain, gak ada yang mau ikut pemotretan juga? Ada bayarannya, lho!" Daffa membuka penawaran.


"Aku ingin coba," sahut Chilla


.

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2