
Di pagi hari yang cerah, Raisa ke luar secara bersamaan dari rumah bersama Rumi. Meski cuaca sudah kembali cerah, tanah di sekitar menguarkan aroma lembab yang khas setelah hujan.
Saat itu, Morgan, Aqila, dan Chilla datang menghampiri rumah Rumi. Namun, yang terlihat adalah ...
"Hei, lihatlah! Itu Raisa dan Rumi. Rumi baru saja ke luar dari rumah Raisa," ujar Chilla
"Ayo kita datangi mereka," ajak Aqila
"Yo, Rumi! Rupanya kau ada di sini," sapa Morgan menghampiri Rumi dan Raisa bersama Aqila dan Chilla.
"Ada apa ini? Kalian berdua ke luar dari rumah secara bersamaan. Apa Rumi semalam menginap di rumahmu, Raisa?" tanya Chilla
Raisa menatap ke arah Rumi. Ia bermaksud meminta Rumi agar memberi penjelasan pada ketiga temannya yang datang. Namun, Rumi hanya tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum, Rumi? Apa jangan-jangan yang dikatakan Chilla itu benar?" tanya Morgan seraya mendelikkan matanya tak percaya.
"Oho! Kalian berdua bersenang-senang, rupanya. Raisa ... tak kusangka ternyata kau orang yang seperti ini," ujar Chilla
"Hei, jangan sembarangan menduga-duga. Kalian sudah salah paham," kata Raisa gelagapan.
"Pasti ada alasan di balik ini, kan?" tanya Aqila
..."Memang hanya Aqila yang paling bisa mengerti dan netral dari pada yang lainnya," batin Raisa...
"Semalam kami kehujanan. Aku membiarkan Rumi menginap karena tidak ingin dia menerobos hujan lagi setelah sebelumnya basah kuyup karena mengantarku sampai rumah. Aku tidak punya payung di rumah," jelas Raisa
"Harusnya kau jelaskan sesuatu, bukannya malah hanya tersenyum dan membuat orang salah paham," sambung Raisa bicara pada Rumi.
Rumi hanya terus tersenyum.
Raisa jadi merasa agak kesal dengan kelakukan Rumi yang mampu membuat orang jadi salah paham karena sikap diamnya.
"Begitu, rupanya ... " kata Aqila
Morgan mendekati Rumi dan merangkul pundak sahabatnya itu.
"Kau merasa senang karena bisa menginap di rumah Raisa semalam, ya, Rumi ... " ujar Morgan
"Jangan berlebihan. Aku juga pernah menginap di rumah Rumi saat dia sakit. Tidak terjadi apa-apa karena kami tidur di ruangan terpisah. Jaga pikiranmu dari hal kotor," ucap Raisa
"Jangan berpikir yang bukan-bukan!" tegur Aqila sambil menyikut perut Morgan dengan kuat.
Morgan meringis merasa kesakitan.
Raisa tersenyum puas karena dibela oleh Aqila.
"Raisa, kau kejam ... " kata Morgan
"Aku yang memukulmu, tapi kenapa kau bilang Raisa yang kejam? Apa kau bermaksud nengataiku kejam secara tidak langsung?" tanya Aqila dengan mata berapi-api yang berkilat.
"Aku tidak bermaksud seperti itu," kata Morgan
"Meski bukan Aqila, Raisa juga bukan orang yang kejam. Raisa itu gadis yang lembut dan perhatian. Raisa itu orang yang baik," ungkap Rumi membuka suara.
"Kau pasti sangat senang karena banyak yang membelamu, ya, Raisa ... " kata Morgan
"Tentu saja. Itu adalah hak istimewa seorang perempuan," ungkap Chilla yang ikut angkat bicara.
Raisa tersenyum kecil.
"Chilla, benar. Bahkan di duniaku ada peraturan yang menyebutkan ... pasal 1, perempuan itu selalu benar! Pasal 2, kalau perempuan yang salah ... maka, kembali ke pasal 1! Yaitu ... perempuan selalu benar," ungkap Raisa
"Aku sangat setuju dengan peraturan itu," kata Chilla mengikuti seperti Morgan sebelumnya. Merangkul pundak Raisa.
"Apa-apaan dengan peraturan itu? Sangat tidak masuk akal! Kalau begitu, apa pun yang lelaki lakukan akan selalu dianggap bersalah," ujar Morgan
"Tepat sekali," kata Raisa
"Itu sangat tidak adil," protes Morgan
"Tapi, itulah yang sering terjadi. Akuilah, Morgan. Bahwa kau pun tidak bisa menyangkalnya," ujar Raisa
"Aku merasa sangat kesal, tapi yang kau bilang itu memang benar," kata Morgan
Mereka berlima pun pada akhirnya berjalan bersama menuju tempat berkumpul.
"Raisa, apa rencanamu dengan membawa pedang kali ini?" tanya Rumi
Memang benar. Raisa ke luar dari rumah dan pergi membawa pedang miliknya. Mungkin untuk berjaga-jaga.
"Bukankah sudah jelas? Aku ingin berlatih," jawab Raisa
"Di cuaca seperti ini paling enak kalau bermalas-malasan, tapi kau malah ingin berlatih ... " kata Chilla
"Justru itu. Supaya tidak hanya bermalas-malasan, aku ingin berlatih agar terus bersemangat. Di duniaku, aku hanya sibuk bekerja dan jarang punya waktu untuk berolahraga, bahkan mungkin malah tidak pernah. Makanya, aku ingin berlatih untuk menggerakkan tubuhku agar tidak kaku," ucap Raisa
"Menurutku, itu malah melelahkan. Di duniamu kau sudah banyak bekerja. Di sini, bukannya kau istirahat saja dari kesibukan yang ada itu, kau malah repot-repot berlatih," ujar Chilla
"Ya. Kalau ada Devan di sini, dia pasti bilang seperti ini ... merepotkan sekali," sambar Morgan
"Itu karena aku senang melakukannya," kata Raisa
Di perjalanan, mereka berlima bertemu dengan Amy, Wanda, dan Sandra.
__ADS_1
"Raisa, kita bertemu lagi ... " sapa Amy
"Ya. Senang bertemu dengan kalian lagi," kata Raisa
"Raisa, kau di sini tidak seperti Rumi yang hanya dua hari di duniamu, kan?" tanya Amy
"Meski tidak bisa terlalu lama berada di sini juga tidak akan hanya dua hari," jawab Raisa
"Syukurlah ... " lega Amy
"Kalian bertiga juga ingin ke tempat kumpul seperti biasa?" tanya Aqila
"Tidak. Kami sudah habis dari sana," jawab Wanda
"Kami ingin berlatih," ungkap Sandra
"Kalau begitu, aku ikut dengan kalian bertiga saja ... " ujar Raisa
"Ide bagus," kata Amy
"Kalau begitu, kita bisa berlatih pedang berdua, Raisa ... " ujar Sandra
"Inginku juga seperti itu," kata Raisa
"Kalau begitu, kau ikut denganku ke tempat kumpul seperti biasa saja, ya, Rumi. Kau jangan selalu ingin bersama Raisa saja," ujar Morgan
"Baiklah," patuh Rumi
"Jangan menyesal atau cepat merasa rindu setelah berpisah. Toh, nanti kalian berdua juga akan bertemu lagi," ucap Chilla yang dimaksudkan untuk Raisa dan Rumi.
"Sampai jumpa lagi nanti," kata Aqila
"Ya. Sampai jumpa," balas Raisa
Mereka pun berpisah di sana.
Rumi ikut dengan Morgan, Aqila, dan Chilla menuju ke tempat berkumpul. Sedangkan, Raisa ikut berlatih bersama Amy, Wanda, dan Sandra.
Saat sampai di tempat berkumpul ... Rumi, Morgan, Aqila, dan Chilla, langsung mencari tempat untuk duduk.
"Rumi, di mana Raisa? Biasanya kau akan selalu datang bersamanya?" tanya Marcel
"Raisa pergi berlatih bersama Amy, Wanda, dan, Sandra ... " jawab Rumi
"Kita tidak bisa membiarkan mereka terus berlatih dan melampaui tim kita. Ayo kita pergi berlatih juga," ujar Billy
Dennis, Marcel, dan Billy pun pergi meninggalkan tempat berkumpul dan segera berlatih.
"Ada apa dengan mereka bertiga?" tanya Amon
"Entahlah. Dari dulu mereka selalu bersaing dengan Amy, Wanda, dan Sandra untuk menjadi tim yang lebih baik dari pada satu tim dengan satu tim lainnya ... " jelas Ian
"Tingkah kedua tim mereka nemang sangat merepotkan," dumel Devan
Raisa, Amy, Wanda, dan Sandra pun menuju ke lapangan luas untuk berlatih.
Usai melakukan pemanasan dan berlatih sendiri-sendiri, kini mereka berempat berlatih duel. Amy akan berlatih duel melawan Wanda. Sedangkan, Sandra akan berlatih duel dengan Raisa.
Mereka pun latihan bertarung dengan serius.
Saat itulah, Dennis, Marcel, dan Billy datang untuk ikut berlatih di sana.
"Ternyata, mereka berlatih di sini. Kalau begitu, kita berlatih di sini juga saja," ujar Billy
"Baik," serempak Dennis dan Marcel secara bersamaan dengan kompak.
Dennis, Marcel, dan Billy pun ikut berlatih di lapangan luas itu. Namun, tetap dengan tidak mengganggu latihan yang lain.
Setelah lama berlatih mereka pun mulai lelah dan memilih untuk istirahat. Mereka semua istirahat, kecuali Raisa dan Sandra yang terus latihan bertarung satu sama lain tanpa henti.
"Apa mereka tidak merasa lelah terus bertarung seperti itu?" tanya Marcel karena merasa heran.
"Entahlah. Keduanya hanya berlatih dan sudah kusuruh untuk istirahat, tapi mereka tidak ingin mendengarku," jawab Wanda
"Mereka berdua sama-sama tidak ingin menyerah," kata Amy
"Raisa, hebat sekali! Dia bisa mengimbangi Sandra meski tanpa kemampuan sihirnya. Ternyata, inilah yang dimaksud Aqila bahwa Raisa masih saja luar biasa," ucap Billy
"Hati-hati saat bicara, Billy. Dari yang kutahu, Raisa, itu sangat sensitif. Dia bahkan bisa mendengar jika ada yang bicara dengan pelan. Jadi, jangan bicara tentang kemampuannya saat dia ada," ujar Dennis
"Kenapa kau bisa tahu kalau Raisa orang yang sensitif? Pantas saja, Rumi suka cemburu denganmu, Dennis. Kau bisa sangat mengetahui tentang Raisa sampai hal kecil seperti itu," ucap Billy
"Hei! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang kau bicarakan itu," kata Dennis
"Kalian ada di sini, rupanya ... " ujar Aqila yang baru datang.
Aqila datang bersama yang lain. Morgan, Rumi, Amon, Devan, Ian, dan Chilla.
Mereka semua ada datang untuk melihat yang lain berlatih atau ikut berlatih bersama.
__ADS_1
"Sedang apa kalian di sini? Katanya ingin ikut berlatih, tapi kenapa malah hanya melihat Raisa dan Sandra berlatih duel?" tanya Morgan
"Kami sedang istirahat dulu sebentar," jawab Billy
"Kenapa kalian semua istirahat, tapi Raisa dan Sandra tidak?" tanya Rumi
"Mereka berdua tidak mau. Padahal sudah kusuruh istirahat," jawab Wanda
"Ternyata, dia berlatih di sini. Coba kulihat ... seperti apa kemampuan gadis itu tanpa kemampuan sihirnya. Apa dia orang yang berbahaya atau tidak?" batin Amon yang merujuk pada Raisa.
"Raisa, Sandra, ayo istirahat dulu!" teriak Amy
"Nanti saja!" teriak balas Raisa dan Sandra secara bersamaan.
"Bisa gawat jika Raisa semakin dekat dan akrab dengan Sandra karena merasa asik saat berlatih bersama. Dengan Amy yang bertingkah manja dan ingin selalu dekat dengan Raisa saja aku sudah cukup kesulitan memisahkan mereka berdua," batin Rumi
Rumi membayangkan saat waktunya bersama Raisa semakin berkurang karena Raisa menjadi lebih dekat dengan teman lain selain dirinya. Padahal Rumi-lah yang paling sering bersama Raisa. Rumi merasa khawatir berlebihan dan hanya ingin dia yang sering menghabiskan waktu bersama Raisa.
"Kekuatan mereka berdua sama besarnya. Itu seimbang," kata Chilla
"Benar dengan apa yang dikatakan ... Raisa sangat hebat," ujar Ian
"Tapi, kalau terus bertarung mereka berdua bisa sama-sama tumbang. Merepotkan saja," dumel Devan
Amon yang tidak sabar melihat hasil pertarungan antara Raisa dan Sandra yang terus seimbang pun maju memisahkan pertarungan antara Raisa dan Sandra yang sedang berlangsung, lalu menyerang Raisa dengan menggunakan kemampuan sihirnya tanpa aba-aba.
Raisa dengan sigap menangkis serangan sihir Amon dengan menggunakan pedangnya. Sihir milik Amon pun terpental menjauh dari sana.
"Bagus juga gerak refleks dan sikap waspadamu," kata Amon
"Apa-apaan ini!?" tanya Sandra yang tidak suka saat sesi latihannya bersama Raisa diganggu.
"Ada apa denganmu, Amon?" tanya Raisa dengan bersabar.
"Aku tidak sabar melihat hasil duel kalian. Raisa, lebih baik kau duel denganku saja! Tunjukkan kemampuanmu padaku," ucap Amon
Melihat Amon tiba-tiba menyerang Raisa, semuanya memekik bermaksud menghentikan tindakan Amon.
"Jangan macam-macam dengan Raisa!" tegas Rumi yang maju menghalangi Amon yang ingin meneruskan menyerang Raisa.
Raisa menurunkan pedang miliknya.
"Sepertinya sudah waktunya untuk istirahat. Kecuali jika kau ingin tetap berduel denganku, Amon. Aku akan meladenimu," ujar Raisa
"Raisa, jangan meladeni keinginannya," larang Rumi
Raisa hanya tersenyum kecil.
"Baiklah, aku tidak akan menyerangmu. Kubatalkan keinginanku untuk berduel denganmu. Mau bagaimana pun kemampuanmu tidak setara denganku dan aku tidak melawan gadis lemah," ucap Amon
Melihat situasinya yang buruk kerena semuanya menentang tindakannya, Amon mengurungkan keinginannya untuk berduel dengan Raisa.
Amon pun beranjak pergi begitu saja.
Semua pun mendekat ke arah Raisa, Rumi, dan Sandra yang masih berada di tengah lapangan.
"Raisa, kau nekat sekali menantangnya! Bagaimana jika dia menyerangmu dengan sihir? Mau bagaimana pun dia tipe orang yang tidak suka bicara omong kosong. Untung saja kali ini dia memilih pergi," ujar Morgan
"Ya, Raisa. Jangan lakukan hal seperti itu lagi, kumohon ... " kata Rumi
"Aku melakukannya karena tahu dia tidak akan menyerangku lagi. Karena dia pun sadar posisinya tidak menguntungkan di sini. Karena jika dia sungguhan menyerangku ... kalian pasti akan maju bertindak untukku," ucap Raisa
"Tetap saja ... tadi itu berbahaya," cemas Rumi
"Kalau begitu, maaf ... sudah membuat kalian semua khawatir," ujar Raisa
"Dasar, pengacau! Mengacaukan saat sedang seru-serunya," kesal Sandra
"Sabar, Sandra. Kita bisa berlatih bersama lagi lain kali," kata Raisa
"Saat aku sedang ada di sini, kau bisa mencariku dan memintaku berlatih bersamamu kapan pun itu. Aku akan dengan senang hati nenemanimu dan menjadi lawan latihanmu. Katakan saja padaku," sambung Raisa
"Baiklah. Akan kuingat kata-katamu ini," ujar Sandra
Raisa dan Sandra pun sama-sama memasukkan kembali pedang ke dalam sarung pelindungnya. Keduanya pun beristirahat seperti yang lain.
"Karena kau sedang berlatih ... kubawakan kau air mimum. Minumlah," ujar Rumi yang memberikan botol air mineral pada Raisa.
Raisa menerima botol mineral dari Rumi.
"Terima kasih untuk ini dan juga yang tadi," ucap Raisa
"Tidak masalah. Hanya hal kecil yang memang harus kulakukan. Aku sudah berjanji pada ibumu untuk memastikan kau selalu aman. Jadi, aku pasti akan melindungimu," kata Rumi
Raisa tersenyum manis.
Ia tak menyangka, Rumi bisa sangat diandalkan dan sangat peduli serta perhatian padanya. Raisa jadi merasa sangat tidak enak pada Rumi karena telah sering membuatnya merasa kecewa. Tapi, Rumi bahkan masih bersikap baik padanya dan tetap mencintainya setulus hati apa adanya.
.
•
Bersambung...
__ADS_1