
Setelah 5 hari berlalu, Raisa dan Rumi memutuskan untuk pergi ke dunia asal Rumi. Mungkin tujuan pergi pasangan suami istri baru itu adalah untuk menikmati liburan bulan madu di sana
Sebelum kepergian mereka berdua, keduanya berkunjung ke rumah orangtua Raisa untuk berpamitan.
"Jadi, kalian berdua mau pergi ke kampung halaman Rumi?" tanya Pak Hilman.
Kampung halaman, sebut saja seperti itu.
"Iya, Pak, Bu. Makanya kami datang mau pamitan sebelum pergi," jawab Raisa
"Kalau begitu, tolong jaga Raisa, ya, Rumi. Kalian berdua baik-baiklah di sana," ujar Bu Vani berpesan.
"Baik, Bu." Rumi berkata dengan patuh dan sopan.
"Kakak kapan mau ajak kami semua ikut berlibur di sana?" tanya Raihan
"Kalau memang memungkinkan akan ada yang menjemput kalian semua dari sana secepatnya," jawab Rumi
"Benar, ya, Kak Rumi? Aku tunggu, lho ... " ujar Raihan
"Kau tidak pernah membicarakan ini denganku. Kau serius, Rumi?" tanya Raisa pada suaminya itu.
Rumi hanya mengangguk sambil tersenyuk kecil untuk menanggapi kedua kakak beradik yang salah satunya adalah istrinya dan satu lagi adalah adir iparnya.
"Kapan kalian berdua akan pergi?" tanya Pak Hilman
"Rencananya kami berdua akan pergi besok atau lusa," jawab Raisa
"Ya sudah, jangan terburu-buru pergi. Menginaplah dulu di sini," kata Bu Vani
Setelah menginap di rumah orangtua Raisa, esok lusanya ia dan Rumi pun pergi menuju ke kampung halaman suaminya itu dengan membuka portal sihir teleportasi.
•••
Raisa dan Rumi tiba di Desa Daun setelah memasuki portal sihir teleportasi dengan saling bergenggaman tangan dengan mesra.
Setelah tiba di kampung halaman suaminya, Raisa pun menutup kembali portal sihir teleportasi yang telah ia buka.
"Dulu kita punya rumah masing-masing. Kali ini kita mau menempati rumah yang mana?" tanya Raisa
Raisa bertanya dengan mengatakan rumah yang mana dan bukan rumah siapa. Karena baginya rumah kedua-duanya kini adalah milik bersama karena keduanya telah menjadi suami istri yang sah.
"Sepertinya kita menggunakan rumah milikmu saja. Rumahku terlalu kecil untuk kita tinggal berdua," jawab Rumi
"Rumahmu tidak kecil dan di mana pun aku tinggal, asalkan bersamamu aku akan merasa bahagia. Baiklah, kalau kau mau menggunakan rumahku. Perlu kau ingat, sekarang rumahku akan menjadi rumahmu juga. Begitu pun sebaliknya. Keduanya rumah kita bersama," ujar Raisa
"Sesuai perkataanmu saja, Istriku," kata Rumi
Pasangan pengantin baru itu langsung menuju ke rumah Raisa untuk tinggal bersama di sana.
Setelah sampai, Raisa pun langsung membuka kunci pintu rumahnya. Ia bersama sang suami pun masuk bersama ke dalam rumah usai pintu berhasil dibuka.
"Oh, ya, Rumi ... aku lupa kalau banyak persediaan di rumah ini yang habis. Nanti kau temani aku dan kita belanja bersama, ya, Sayang," ujar Raisa meminta.
"Aku akan selalu menemanimu ke mana pun kau pergi," kata Rumi
Dalam keadaan pintu rumah tertutup, Rumi mendekat ke arah Raisa dan memeluk istrinya itu dari belakang dengan mesra. Raisa terkejut saat ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya dan sebuah dagu yang menumpu pada bahunya.
Rumi bergelayut manja pada tubuh sang istri yang terdiam saat dipeluk olehnya.
"Rumi, ada apa? Apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada dirimu? Apa kau merasa ada yang sakit?" tanya Raisa sambil menyentuh wajah suaminya yang bersentuhan pada pipinya.
"Ya. Aku sakit akibat rindu karena menginginkanmu," jawab Rumi setengah berbisik dengan nada suara yang menggoda.
"Kau ada-ada saja. Kan, setiap hari kita selalu bersama," kata Raisa
Rumi mulai menjelajah dan menciumi ceruk leher Raisa dengan bibirnya. Itu adalah leher sebelah kiri istrinya yang termasuk menjadi salah satu bagian yang sensitif.
Raisa pun mulai mengeluarkan suara aneh bersamaan perasaan aneh sekaligus geli yang diciptakan oleh sentuhan sang suami. Suara yang terdengar indah bagi Rumi telah berhasil membuatnya merasa ada sesuatu yang dibangkitkan dari dalam dirinya. Rumi pun semakin gencar menjelajahi setiap inci leher sang istri sambil menghirup dalam-dalam aroma wangi sang istri.
"Rumi, ini masih siang, Sayang. Lebih baik kau istirahat dulu dan aku akan menyiapkan makan seadanya untukmu dulu." Raisa menghentikan aksi sang suami yang membuatnya mengeluarkan suara aneh dari mulutnya.
"Kau adalah tempat ternyaman untukkku beristirahat dan kau adalah makanan terlezat yang kusuka," ungkap Rumi
__ADS_1
"Enak saja kau bilang aku seperti makanan," kata Raisa
"Ya. Rasamu memang sangat enak dan manis," sahut Rumi
Rumi pun berhenti dan membalikkan tubuh Raisa agar menjadi berhadapan dengannya.
"Apa kau tipe yang hanya ingin melakukannya di malam hari?" tanya Rumi sambil menatap wajah sang istri lekat-lekat.
"Hmm ... " Raisa hanya berdeham singkat. Sebenarnya ia tak tega menolak sang suami, tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa malu jika melakukannya selain pada malam hari.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu sampai malam hari nanti," ujar Rumi yang terlihat memaksakan diri untuk menahan hasratnya yang mulai muncul saat itu.
Karena tidak tega, Raisa pun menghadiahi Rumi kecupan singkat pada pipinya.
CHU~
"Untuk saat ini aku hanya bisa memberikanmu itu sebagai pembayaran di muka," kata Raisa
Rumi tersenyum tipis. Pria itu pun bergerak memeluk sang istri dengan sangat erat hingga membuat Raisa hampir terjungkal ke belakang dibuat suaminya jika saja ia tidak menahan beban tubuhnya.
HUGS~
"Biarkan dulu seperti ini sebentar saja," pinta Rumi
Raisa pun membiarkan sang suami memeluk dirinya dan kedua tangannya terulur untuk membalas pelukan suaminya itu.
Merasa tak bisa menahan dirinya jika terus bermesraan dengan sang istri, Rumi pun menarik diri dan melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri.
"Katanya, kau ingin belanja? Ayo, aku akan menemanimu," ujar Rumi
"Apa kau tidak ingin makan dulu?" tanya Raisa
"Nanti saja setelah kita pulang belanja," jawab Rumi
"Baiklah. Ayo, kita pergi ... " kata Raisa
Pasangan pengantin baru itu pun kembali ke luar dari rumah untuk berbelanja di pusat perbelanjaan.
Saat berada di pusat perbelanjaan, sambil mendorong troli, Raisa dan Rumi pun berbelanja bersama dan memilih barang yang akan dibeli.
Raisa sangat senang bisa berbelanja bersama Rumi seperti pasangan suami istri harmonis lainnya.
"Oh, ya ... kita juga harus beli sabun mandi dan parfum baru. Kau pilihlah, Sayang ... mau yang mana? Mana aroma yang lebih enak dan harum?" tanya Raisa
"Untuk itu terserah kau saja, samakan saja dengan milikmu. Aku suka pilihanmu yang membuat tubuhmu sangat harum itu," jawab Rumi
"Tidak bisa seperti itu. Kau harus memilih sabun mandi dan parfum milikmu sendiri. Setidaknya kau harus lebih maskulin dari pada diriku yang feminin. Kan, kau seorang pria," ucap Raisa
"Kalau begitu, kau pilihkan saja untukku. Aku percaya pada seleramu yang bagus itu," ujar Rumi
"Aku akan pilihkan beberapa untukmu dan kau pilih satu yang paling kau suka," kata Raisa
"Padahal cukup kau pilihkan untukku saja, aku pasti suka," gumam Rumi
"Rumi, biasanya kau pakai sabun mandi dan parfum apa?" tanya Raisa
"Aku tidak pakai parfum dan hanya pakai sabun mandi biasa. Itu ... yang sebelah sana," jawab Rumi sambil menunjuk ke arah salah satu deretan sabun mandi yang biasa digunakannya.
"Kalau begitu, ambil ini saja. Karena aku suka aroma tubuhmu yang biasa. Pasti berasal dari sabun mandi ini," ujar Raisa dengan sedikit berbisik sambil tersenyum manis setelah mengambil satu sabun mandi yang ditunjuk oleh suaminya tadi.
Rumi sedikit tertegun saat melihat senyuman manis sang istri yang membuatnya terlihat semakin cantik saja.
"Istriku sangat cantik membuat aku semakin jatuh cinta di setiap harinya dan tidak pernah bosan memandangi wajahnya," batin Rumi yang ikut tersenyum.
Raisa pun memilih parfum untuk suaminya.
"Sekarang tinggal pilih parfum untukmu," kata Raisa
Saat bingung memilih satu dari dua pilihannya, Raisa pun menyemprotkan dua parfum pilihannya itu pada masing-masing pergelangan tangannya. Lalu, ia pun meminta Rumi untuk memilih mana aroma yang lebih disukai oleh suaminya itu.
"Rumi, sekarang kau pilih aroma mana yang lebih kau suka? Masing-masing pergelangan tanganku sudah kusemprotkan parfum yang berbeda," ujar Raisa sambil mengulurkan kedua tangannya.
Rumi pun menarik kedua tangan Raisa untuk menghirup aroma dari parfum yang beebeda yang telah disemprotkan pada masing-masing pergelangan tangan istrinya itu. Pria itu tersenyum tipis, lalu mengecup singkat pergelangan tangan sebelah kiri milik Raisa.
__ADS_1
"Aku suka aroma parfum yang pada pergelangan tanganmu yang sebelah kiri," ungkap Rumi
Wajah Raisa langsung merona merah saat pergelangan tangan kirinya dikecup oleh Rumi. Wanita itu pun langsung menarik tangannya dari genggaman sang suami.
"Apa yang kau lakukan Rumi? Di sini itu tempat umum," tegur Raisa seraya berbisik.
Rumi tersenyum kecil saat mengetahui istri cantiknya itu menjadi salah tingkah. Dengan gerakan kaku karena salah tingkah, Raisa pun memasukkan parfum pilihan yang aromanya disukai oleh Rumi ke dalam troli. Lalu, keduanya pun melanjutkan aktivitas berbelanja berdua.
Setelah dirasa cukup memilih barang belanjaan, Raisa dan Rumi pun beranjak bersama menuju ke meja kasir.
"Sepertinya kau senang sekali bisa berbelanja seperti ini, ya, Istriku?" tanya Rumi
Raisa mengangguk dengan cepat.
"Ini bukan soal belanja atau menghabiskan uang, tapi aku senang bisa belanja bersamamu. Sudah jadi keinginanku untuk belanja bersama suami setelah menikah dan kini keinginan itu terwujud," jelas Raisa
"Kau bukan mengatakan keinginanmu adalah belanja bersamaku setelah kita menikah, tapi belanja bersama suami setelah menikah? Apa sebelumnya kau sungguh tidak mengharapkan ingin bisa menikah denganku?" tanya Rumi
"Justru itu adalah salah satu harapan terbesarku, tapi tak bisa kupungkiri bahwa sevelumnya aku tidak tahu siapa yang ditakdirkan akan menjadi suamiku. Makanya, pada keinginan ini, aku lebih memilih kata suami dari pada mengungkapkan kata suami itu dengan namamu, Rumi. Namun, pada akhirnya aku beruntung bisa memilikimu sebagai suamiku," ungkap Raisa
"Salah satu harapan terbesar ... lalu, apa lagi harapan terbesarmu yang lainnya?" tanya Rumi
"Jika diurutkan, harapan terbesarku adalah ... aku ingin bisa membahagiakan dan membanggakan keluargaku, terutama kedua orangtuaku. Lalu, aku ingin bahagia selamanya bersamamu dengan menikah denganmu. Seperti itulah," ungkap Raisa
"Dan keinginan terbesarku adalah membahagiakanmu sepanjang waktu," sahut Rumi
"Dan lagi-lagi keinginan itu sudah terwujud. Kini aku merasa di setiap detik hidupku begitu bahagia karena bisa bersama denganmu," balas Raisa
Keduanya tersenyum bahagia sambil mendorong troli bersama. Saat sampai di meja kasir, Raisa dan Rumi bertemu dengan Chilla dan Sanari yang sedang melakukan transaksi pembayaran di sana.
"Chilla, Sanari ... kalian berdua juga ada di sini?" tanya Raisa seraya menyapa.
"Oh, Raisa, Rumi ... ya, aku habis membeli keripik kentang, camilan favoritku ditemani oleh Sanari," jawab Chilla dengan santai.
"Raisa, Rumi, kapan kalian berdua datang?" tanya Sanari
"Kami berdua baru sampai, belum lama. Lalu, aku meminta Rumi untuk menemaniku belanja," jawab Raisa
"Oho ... kau sedang memainkan peran sebagai suami yang baik dengan menemani istrimu berbelanja, ya, Rumi?" tanya Chilla dengan maksud meledek.
"Bukan sedang bermain peran, tapi memang kenyataannya aku sedang berusaha untuk menjadi suami yang baik," jawab Rumi
"Oh, iya ... selagi bertemu dengan kalian berdua di sini aku ingin menyampaikan sesuatu. Sejak kemarin Tuan Pemimpin Desa kebingunang karena ingin bertemu dengan kalian berdua, tapi dia tidak tahu harus bagaimana dan merasa tidak enak jika harus memanggil kalian berdua, sepasang pengantin baru untuk secepatnya melintas datang ke sini," ungkap Sanari
"Kira-kira ada keperluan apa sampai Tuan Pemimpin Desa ingin bertemu dengan kami berdua?" tanya Rumi
"Entahlah. Tuan Pemimpin Desa tidak memberi tahukan alasannya," jawab Sanari
"Kalau begitu, setelah dari sini kami akan langsung menemui Paman Nathan," ujar Raisa
"Nanti aku akan mengantar kalian berdua sampai ke kantornya," kata Sanari
Usai dari pusat perbelanjaan, Raisa dan Rumi berjalan bersama Chilla dan Sanari yang secara tidak sengaja bertemu di sana.
Rumi membawa dua kantong belanjaaj besar di masing-masing tangannya karena tidak ingin membebani istri tercintanya.
"Apa kalian akan langsung menuju ke kantor Pemimpin Desa? Kalau iya, aku akan ikut dengan kalian," tanya Chilla
"Ya. Kita langsung ke sana saja. Tidak baik membuat Paman Nathan menunggu karena mungkin keperluannya sangat penting," kata Raisa
"Raisa, apa kau tidak ingin menaruh belanjaan ini ke rumah lebih dulu?" tanya Rumi
"Tidak perlu. Biar barang belanjaan ini, aku yang simpan di dalam ruang penyimpanan sihir milikku," jawab Raisa
Raisa pun mengulurkan kedua tangannya untuk membakar dus kantong belanja yang dibawa oleh Rumi. Alih-alih membakarnya sungguhan, sebenarnya Raisa menggunakan sihir elemen api sebagai media untuk menghisap barang ke dalam ruang penyimpanan sihir miliknya.
"Hoho ... Raisa, kau masih saja melakukan sihir penyimpanan dengan cara yang ekstrim. Orang yang tidak tahu akan mengira kau benar-benar membakar barang belanjaan sebanyak itu," ujar Chilla
Raisa hanya tersenyum menanggapi perkataan Chilla. Lalu, mereka berempat pun beranjak bersama berjalan menuju ke kantor Pemimpin Desa.
.
•
__ADS_1
Bersambung.