
Rumi pun mulai merebahkan tubuhnya di ranjang kasur.
"Pejamkan matamu. Aku akan menjagamu di sini." Kata Raisa
Perlahan, Rumi pun mulai memejamkan matanya untuk segera tidur. Raisa ikut merebahkan dirinya di sofa dengan tetap menghadap ke arah Rumi untuk memerhatikannya. Ia pun mulai memejamkan matanya.
Perlahan, keduanya pun terbuai ke dalam alam mimpi.
Takut semakin bicara tak menentu yang pada akhirnya malah mengungkap semua rencana yang telah diatur Bibi Rina, Rumi akhirnya diam dan menuruti kata Raisa untuk tidur.
Pada akhirnya malam hari itu tidak ada kemajuan yang berarti pada hubungan Rumi dan Raisa.
...
Pagi di keesokan harinya...
Raisa sudah terbangun saat pagi hari. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan beranjak untuk duduk. Ia mengangkat kedua tangannya untuk melakukan perenggangan ototnya setelah semalam tertidur. Di malam hari tidurnya kurang nyenyak karena terus terbangun khawatir pada kondisi Rumi. Takut tiba-tiba muncul suatu gejala, Raisa bolak-balik untuk mengecek keadaan Rumi. Walau saat diperiksa Rumi baik-baik saja, Raisa terus terbangun dari tidurnya untuk tetap memastikan kondisi tubuh Rumi. Rumi terus tidur dengan nyenyak, tapi Raisa tidak. Raisa pun tak ingin mengganggu tidur Rumi.
Raisa menyandarkan punggungnya di sofa tersebut. Merasa masih mengantuk, ia memejamkan matanya dalam posisi duduknya. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya secara menyilang. Dengan posisi duduk sambil bersedekap dada, Raisa kembali terdidur. Ia berniat hanya kembali tidur beberapa menit saja untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Dalam waktu itu, Rumi terbangun dari tidurnya. Bangkit dari posisi tidurnya, ia melihat Raisa yang tidur dalam posisi duduk. Padahal ia yakin semalam melihat Raisa yang tertidur di atas sofa dalam posisi layaknya seseorang sedang tertidur alias berbaring walau hanya di atas sofa.
Rumi menghampiri Raisa yang tertidur dalam posisi duduk di sofa. Bisa merasakan ketidak-nyaman tidur dalam posisi duduk, Rumi pun berniat mengubah posisi tidur Raisa dan memindahkannya ke ranjang kasur miliknya. Namun, baru saja Rumi ingin menggendong Raisa untuk memindahkannya, Raisa tiba-tiba terbangun.
Raisa membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali. Saat sepenuhnya sadar, ia melihat Rumi di sampingnya dalam posisi hendak menggendongnya. Raisa terperanjat kaget!
Melihat Raisa yang terbangun, Rumi pun mengurungkan niat untuk memindahkannya...
"Rumi, kau sudah bangun? Kau mau apa?" Tanya Raisa
"Tadinya aku berniat memindahkanmu ke atas kasur. Karena sepertinya kau terlihat tidak nyaman tertidur dalam posisi duduk di sofa begini." Jawab Rumi
"Ah, sebenarnya aku sudah bangun tadi. Tapi, karena masih mengantuk, aku memejamkan mata lagi sebentar. Ternyata aku tertidur lagi cukup lama ya?" Ujar Raisa
"Tidak, aku juga baru saja bangun dari tidur." Kata Rumi
Raisa pun bangkit dari posisi duduknya dan berdiri tegak.
"Ya sudah, kau mandi saja dulu. Bersihkan tubuhmu, aku akan mandi setelah kau. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua dulu." Ucap Raisa
"Baiklah. Aku akan bergegas." Patuh Rumi
Rumi pun bangkit dari posisinya dan beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Raisa pun ikut beranjak menuju ke dapur.
Sementara Rumi mandi, Raisa menyiapkan sarapan pada ruangan yang hanya dibatasi pintu dan dinding itu.
Namun, tak banyak bahan makanan yang terdapat di dapur tersenut. Bahkan Raisa hanya menemukan sedikit sekali bahan makanan. Hanya ada sebutir telur, setengah kotak oatmeal, dan sekotak sereal gandum. Bahkan susu pun tidak ada. Bagaimana ingin memakan sereal atau oatmeal jika susu pun tidak punya? Untung saja, Raisa membawa susu dari dunianya.
Raisa pun akhirnya membuatkan sarapan dengan bahan yang ada. Menceplok telur dan menyiapkan sereal gandum dengan susu yang dibawa dari dunianya. Tak lupa, ia juga mengupaskan serta memotong beberapa buah dan membuat jus buah.
..."Padahal peralatan masaknya lumayan lengkap sampai ada blender juga. Tapi, kenapa bahan makanan yang dia punya hanya sedikit? Beras untuk memasak nasi pun dia tak punya. Selama ini dia makan dengan apa? Sepertinya hari ini sku harus belanja untuk kebutuhan dapurnya. Supaya nutrisinya pun terpenuhi. Bagaimana pun dia masih seorang remaja yang terus bertumbuh dan berkembang." Batin Raisa...
Setelah membuat sarapan yang sederhana, Raisa pun menatanya dan pergi dari dapur. Karena tidak ada ruang atau meja makan, Raisa hanya meletakkannya di lantai di antara sofa dan ranjang kasur pada ruang tidur. Ia dan Rumi bisa makan sambil duduk di lantai bersama. Suasana makan lesehan pun akan tetap menyenangkan jika bersama orang yang disukai.
Karena tidak banyak yang disiapkan, Raisa pun bisa cepat selasai. Setelah meletak dan menata menu sarapan sederhana, Rumi pun kembali dari kamar mandi sudah dengan pakaian yang lengkap.
Raisa menoleh dan mendapati Rumi yang berdiri dengan rambut basahnya sehabis mandi. Dengan postur tubuh yang bagus, tangan yang memegang handuk kecil diletakkan di kepala untuk mengeringkan rambut. Pemandangan yang sempurna membuat orang terpesona! Raisa menelan ludahnya dengan kasar. Ia hampir saja pingsan karena lupa bernafas saking terpesonanya pada penampilan memukau sosok lelaki di hadapannya...
..."Aku ceroboh melupakan satu hal! Rumah ini tidak memiliki banyak ruangan. Kamar hanya satu, letak kamar mandi pun dekat. Untung saja setelah mandi Rumi langsung memakai pakaiannya dari dalam kamar mandi. Jika tidak, bagaimana nasibku yang menginap di sini? Tamatlah sudah riwayatku!" Batin Raisa...
Raisa pun segera menyadarkan dirinya. Lalu, ia melemparkan senyuman terbaiknya ke arah Rumi. Ia pun menghampiri Rumi...
"Sini, biar kubantu keringkan rambutmu." Kata Raisa
Raisa memutari posisi ranjang kasur untuk menghampiri Rumi. Raisa mengambil alih handuk kecil yang dipegang Rumi untuk membantunya mengeringkan rambutnya yang basah. Rumi pun duduk di sisi lain tepi ranjang kasur. Membuat posisinya lebih rendah dari pada Raisa yang ingin membantunya mengeringkan rambut.
Raisa pun menggunakan sihir pada salah satu tangannya. Mengeluarkan sihir angin pada satu tangannya dan tangannya yang lain mengelap rambut Rumi dengan handuk kecil agar cepat menjadi kering.
Rambut Rumi pun cepat menjadi kering karena Raisa menggunakan sihir anginnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Raisa." Ucap Rumi
"Sama-sama. Kau makan saja dulu. Aku akan menyusul setelah mandi." Ujar Raisa
"Cepat sekali kau menyiapkannya. Kukira kau masih membuat sarapan di dapur." Kata Rumi
"Bagaimana tidak cepat? Bahan makanan yang kau miliki di dapurmu hanya sedikit. Jadi, aku hanya menyiapkan sarapan dengan bahan yang ada." Ujar Raisa
"Maaf, aku tidak bisa menjamu kau dengan makanan yang baik. Padahal kau menginap untuk menjagaku di di rumah ini." Ucap Rumi
"Tidak apa. Sudah jadi tugasku menjagamu, temanku sendiri. Lahi pula, saat di pagi hari aku memang tidak makan sarapan yang terlalu berat. Menu sarapan ringan yang sederhana namun sehat pun cukup. Kalau makan terlalu berat di pagi hari juga tidak baik. Jadi, kau tak perlu sungkan padaku." Tutur Raisa
Raisa pun beranjak ke arah kamar mandi...
"Aku bersihkan diriku dulu. Kau makan saja lebih dulu." Kata Raisa
Raisa pun menghilang di balik pintu kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Raisa kembali dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkapnya.
Raisa melihat Rumi yang sudah duduk di lantai di hadapan menu makan sarapan yang telah ia siapkan. Ia pun menghampiri Rumi. Ternyata Rumi hanya duduk diam dan masih belum menyentuh sarapannya. Raisa pun duduk di lantai bersebrangan dengan Rumi.
"Kenapa kau masih belum makan?" Tanya Raisa
"Aku menunggumu." Jawab Rumi
Sudah dua kali, Raisa mendengar kalimat jawaban seperti itu dari mulut Rumi. Walau masih saja terus merasa malu sendiri dan salah tingkah mendengarnya, sepertinya ia harus membiasakan diri dengan semua ucapan lelaki yang sering membuatnya salah paham itu.
"Aku sudah di sini. Ayo, makanlah bersamaku." Kata Raisa
"Baik." Patuh Rumi
Raisa dan Rumi pun mulai makan sarapan berdua. Dengan menu sarapan masing-masing semangkuk sereal gandum, sebuah telur mata sapi, buah potong, dan jus buah.
"Lain kali, jika menunggu perempuan sedangkan kau ingin makan, maka makanlah lebih dulu. Proses apa pun yang para perempuan lakukan, itu butuh waktu lama. Kau bisa saja jadi kelaparan saat sedang menunggu." Ucap Raisa
"Itu bisa lihat di lain waktu, tergantung siapa perempuan yang kutunggu. Jika, itu adalah kau aku akan tetap menunggu sampai kau kembali." Ujar Rumi
"Biasanya kau akan melakukan yang kuminta. Kenapa sekarang tidak?" Ujar Raisa
"Bukannya tidak lagi, tapi untuk yang satu ini aku akan setia padamu dan menunggumu." Ucap Rumi yang terdengar seperti sebuah kode bagi Raisa.
Bluushh!~~
Perkataan yang membuat salah paham ini mampu membuat kemunculan semburat rona kemerahan pada kedua pipi Raisa...
Raisa bahkan hampir saja tersedak karena ulah ucapan Rumi. Ia pun berusaha beralih dan mengganti topik pembucaraan baru.
"Kau makanlah telur mata sapi yang kubuat ini. Ini untukmu." Kata Raisa yang menyodorkan piring kecil berisi telur mata sapi pada Rumi.
"Tapi, hanya ada satu. Kau saja yang makan. Kan telur itu kau yang memasaknya." Tolak halus Rumi
Raisa menarik kembali piring tersebut. Tapi, bukan berniat memakan telur itu sendirian. Ia memotong dan membelah telur mata sapi itu menjadi dua bagian.
"Kalau begitu, bagi dua saja. Toh, ini tadinya memang untukmu. Karena kau lagi-lagi sungkan padaku, kita makan saja bersama dengan membaginya menjadi dua. Makanlah, setelah kau habiskan serealnya." Ujar Raisa
"Kalau begitu, baiklah. Akan kumakan." Kata Rumi
"Makan buah potong dan minum jusnya juga. Semalam sudah minum susu dan sekarang makan sarapan sereal dengan susu, jadi kubuatkan jus saja. Kalau tidak menghabiskan buah potongnya, setidaknya habiskan jus buahnya." Ucap Raisa
"Baiklah." Patuh Rumi
"Buah-buah itu adalah buah yang teman-teman berikan untukmu saat sedang berada di tempat orangtuamu. Aku yang membawanya ke sini dengan menyimpannya ke dalam inti sihirku." Ungkap Raisa
Rumi meraih tangan Raisa yamg terdapat lambang inti sihirnya yang juga memiliki fungsi untuk sihir media penyimpanan. Ia pun menggenggam satu tangan Raisa itu...
"Kau pasti lelah karena terus melakukan sihir penyimpanan pada inti sihirmu. Semalam kau bahkan memindahkan sifa dari ruang tamu ke ruang tidur ini dengan menyimpannya dulu ke dalam inti sihirmu lalu mengeluarkan dan meletakkannya di sini. Tanganmu pasti merasa pegal. Apa aku harus bantu memijat tanganmu?" Ujar Rumi menawarkan diri untuk memijat tangan Raisa.
Sudah berkata seperti itu, Rumi melakukan pijitan-pijitan kecil pada tangan Raisa yang ia genggam.
"Sudah kubilang, aku harus membiasakan diriku dengan ini. Tidak apa, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir." Kata Raisa
__ADS_1
Raisa pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rumi.
"Sebaliknya, seharusnya kau yang memerhatikan kondisi tubuhmu setelah diracuni kemarin. Setelah sarapan ini, aku akan memeriksa peredaran darahmu." Ucap Raisa
...
Setelah selesai sarapan, seperti kata Raisa, ia akan memeriksa kondisi tubuh Rumi dengan memeriksa aliran pada peredaran darah tubuh Rumi.
Rumi pun menuruti perkataan Raisa untuk merebahkan diri di atas ranjang kasur. Raisa pun terduduk di samping posisi Rumi untuk melakukan pemeriksaan.
Raisa meletakkan kedua tangannya pada dada Rumi. Merasakan aliran pada peredaran tubuh Rumi dengan sihir pengendali darah miliknya. Tangannya mulai menjelajar ke bagian tubuh Rumi yang lain untuk melakukan pemeriksaan. Rumi diharuskan merilekskan tubuhnya dengan santai untuk mempermudah proses pemeriksaan.
"Raisa, sihir milikmu ini bukan hanya digunakan saat melakukan pertarungan. Tanpa menyebut mantra atau membuat gerakan segel sihir. Kau bisa melakukan sihir yang kau kuasai kapan pun. Memangnya tenaga sihirmu tidak bisa habis? Sebenarnya seberapa banyak tenaga sihir yang kau miliki?" Ujar Rumi bertanya.
"Sudah pernah kujelaskan, kemampuan sihirku memang seperti ini. Tentang jumlah temaga sihir, aku pun tidak tau. Tapi, aku memiliki keyakinan jika tenaga sihirku sebanyak yang dimiliki Tuan Nathan, Ayah Morgan. Tenaga yang tiada batas. Mungkin saja sebanyak itu. Kalau memang benar, aku bisa terus melindungi kalian semua." Jawab Raisa
Setelah melakukan pemeriksaan, Raisa tak menemukan hambatan yang berarti pada aliran peredaran darah Rumi. Tapi, walau terasa lancar sebenarnya aliran darah Rumi sedikit lebih lambat dari pada umumnya. Tidak sesuatu yang menghambat aliran peredaran darah. Tapi, kenapa aliran peredaran darahnya lebih lambat dari biasanya?
"Rumi, saat kemarin kau melakukan pemeriksaan dan diberi penawar racun, apa ada efek yang akan dialami tubuhmu?" Tanya Raisa
"Kata Ayahku, efeknya hanya akan membuat lemas sementara dan menghilangkan tenaga cadangan di dalam tubuhku untuk sementara waktu. Hanya berlangsung 15 sampai 30 menit. Apa ada sesuatu pada tubuhku?" Ujar Rumi berbalik bertanya.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Tapi, yang kurasakan aliran peredaran darahmu sedikit lebih lambat saja padahal tidak ada yang menghambat. Mungkin ini bagian dari efek penawar racun yang tidak Ayahmu sadari. Sebenarnya pun itu tidak berbahaya. Aku akan mencoba melancarkan kembali aliran pada peredaran tubuhmu. Entah, rasanya akan sakit atau tidak. Jadi, bersiaplah." Ucap Raisa
Rumi menganggukkan kepalanya.
Raisa pun mulai melakukan sihir pengendali darah untuk melancarkan aliran pada peredaran darah tubuh Rumi. Perlahan dan menyeluruh...
"Terasa sakit tidak?" Tanya Raisa
"Tidak, hanya terasa seperti digelitik." Jawab Rumi
Raisa pun terus melanjutkan melancarkan aliran peredaran darah pada tubuh Rumi dengan sihir pengendali darahnya.
"Kau berkata, sihir pengendali darah termasuk sihir berbahaya bahkan terlarang. Tapi, kau yang membantu melancarkan aliran peredaran darah pada tubuhku kan hal yang baik, bukan seperti yang pernah kau katakan." Ucap Rumi
"Kau benar. Yang pernah kukatakan sebelumnya itu hanya sisi efek negatif dari sihir pengendali darah jika dilakukan pada saat bertarung. Tapi, sihir ini juga bisa untuk pengobatan. Itu yang belum kukatakan karena terlupa, sihir ini juga punya sisi efek positifnya." Ungkap Raisa
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Rumi
"Ya, baru saja selesai." Kata Raisa
Akhirnya Raisa menghentikan sihirnya. Ia sudah selesai melancarkan aliran peredaran darah tubuh Rumi dengan sihir pengendali darahnya itu.
"Bagaimana rasanya pada tubuhmu?" Tanya Raisa
"Benar saja, tubuhku terasa lebih ringan lagi." Jawab Rumi
"Syukurlah." Lega Raisa
"Tapi, ada sesuatu yang kurasakan di satu bagian tubuhku." Kata Rumi
"Hah, tubuhmu di bagian mana?" Tanya Raisa dengan khawatir.
Raisa mengira sudah handal menggunakan sihir pengendali darah. Atau jangan-jangan karenanya, Rumi malah merasakan sesuatu yang salah pada tubuhnya? Apa Raisa mengakibatkan suatu yang fatal pada tubuh Rumi?!
"Kau rasakanlah sendiri!" Kata Rumi
Rumi menarik kepala bagian belakang Raisa untuk mendekatkan telinga Raisa pada dada bagian kiri tubuhnya. Tepat pada bagian jantungnya!
"Ada sesuatu yang salah di dalam sini. Kau dapat mendengar suaranya, kan? Dia yang berada di dalam sini bersuara berisik sekali! Aku tak tahan lagi!" Ungkap Rumi
Raisa terdiam namun ia terkejut!
Apa maksud Rumi? Mengapa ia diarahkan tepat pada dada kiri, yaitu posisi jantung Rumi?! Apa sesuatu yang salah pada jantungnya itu? Apa maksud perlakuan Rumi ini!?!
.
•
Bersambung...
__ADS_1