
Setelah mengobrol banyak bersama dengan Sanari dan Amon, mereka akhirnya kembali mengunjungi kedai aneka makanan manis dan saling berbincang hangat di sana. Kecuali, Amy, Wanda, Sandra, Marcel, Billy, dan Dennis yang harus pergi menerima misi baru untuk kedua tim mereka.
Amon memang masih bersikap acuh tak acuh. Bicaranya memang selalu ketus dan terlihat seolah seperti enggan bicara dengan Raisa. Namun, sesekali Amon mau menanggapi ucapan Raisa, meski tanggapannya cukup mampu membuat yang mendengarnya merasa kesal.
"Amon, Sanari ... coba ceritakan bagaimana saat kalian bertemu dan menjadi dekat," ujar Raisa
"Jangan bertanya. Kau tidak perlu tahu," kata Amon
"Amon, kau tidak boleh bicara kasar seperti itu. Maaf, ya, Raisa ... " Sanari-lah yang merasa tak enak hati dengan ucapan Amon pada Raisa.
"Huh ... maaf," singkat Amon yang bersedia berkata maaf demi mendapat kesan baik dari Sanari.
"Tidak apa," kata Raisa yang dapat memaklumi sifat Amon.
"Kalau begitu, kau saja yang bercerita, Sanari." Chilla ikut menuntut Sanari untuk menceritakan kisahnya dengan Amon karena rasa penasaran.
"Tidak ada yang istimewa. Kami hanya sering bertemu saat harus meneliti alat baru bersama di tempat penelitian," ungkap Sanari yang hanya bercerita sedikit dan tidak lengkap.
"Hanya begitu saja?" tanya Devan seolah merasa tidak puas.
"Memang kenyataannya seperti itu," jawab Sanari yang masih enggan menceritakan kisah lengkapnya dengan Amon karena merasa malu.
Karena sudah lama tidak makan makanan manis, di sana Raisa makan banyak. Cheese cake dan puding susu sekaligus.
Di sela sedang asik mengobrol, Rumi menyendok sesendok puding dan menyuapi pada Raisa.
"Kenapa kau jadi menyuapiku seperti ini, Rumi?" tanya Raisa merasa heran tanpa sadar menerima suapan dari Rumi, padahal ia ingin dan bisa makan sendiri.
"Memang apa salahnya? Lagi pula, kau dari tadi hanya asik mengobrol. Jadi, biar saja aku menyuapimu," ujar Rumi
"Tidak perlu lagi. Aku makan sendiri saja," kata Raisa menolak Rumi yang selalu memperlakukannya dengan manis.
Raisa tidak ingin jadi terbiasa menerima perlakuan manis dari Rumi karena menyadari keduanya tidak bisa selalu bersama.
"Sepertinya Rumi hanya ingin memperjelas kedekatan hubungannya dengan Raisa di depan orang lain agar tidak ada yang bisa merebut gadis yang dicintainya," ungkap Ian
Mendapat penolakan dari Raisa ... Rumi malah memeluk tubuh gadis itu dari samping sambil terus menyuapinya.
"Tidak apa. Biarkan aku menyuapimu seperti ini," Rumi bersikeras ingin menyuapi Raisa sambil merengkuh pinggang gadis itu dari samping.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi, tidak perlu sampai sedekat ini juga. Tidak enak dilihat yang lain," pelan Raisa yang menjauhkan dirinya dengan melepaskan pelukan Rumi.
Karena Raisa melepaskan pelukannya, Rumi pun langsung bergerak menggenggam tangan Raisa.
Raisa tidak tahu alasan sikap Rumi yang seolah jadi ingin mendominasi dirinya itu. Namun, kalau hanya sebatas menggenggam tangan, Raisa masih dapat menerimanya. Raisa pun membiarkan Rumi yang menggenggam tangannya.
Awalnya Rumi merasa sedih saat Raisa menolak pelukannya, tapi akhirnya Rumi merasa senang saat Raisa tidak lagi berniat melepaskan genggaman tangannya. Rumi pun tersenyum senang.
"Apa hanya aku dan Aqila saja yang tidak bisa bersikap manis seperti kalian? Sepertinya hanya kami saja yang sering bertengkar," ujar Morgan
"Kenapa kau malah bingung sendiri dengan hubunganmu dengan Aqila?" tanya Chilla yang merasa heran.
"Itu karena kita ... kami berdua sudah berteman dan sering bertengkar sejak kecil. Sudah terbiasa seperti itu," ungkap Aqila
"Di depan kami, kalian memang seperti itu. Tapi, kami semua tidak tahu bagaimana kalau kalian hanya sedang berdua," kata Raisa seolah mengetahui sesuatu yang dirahasiakan.
"Apa yang kau tahu, Raisa? Beritahu aku juga." Chilla sangat antusias untuk bergosip ria.
Raisa hanya tersenyum dan menggeleng kecil.
"Barang kali yang kau bicarakan itu dirimu sendiri dan Rumi," sindir Morgan yang tidak ingin jadi topik dan bahan ledekan.
"Diam. Ini tentang kalian berdua, bukan aku dan Rumi," tukas Raisa
Karena topik tersebut mereka jadi saling sindir dan meledek hubungan asmara satu sama lain.
Usai makan di kedai makanan manis, mereka beranjak pergi bersama. Raisa ke luar nasih dengan menu makanan manis dari kedai yang terakhir dipesan untuk dibawa pulang. Alih-alih membawanya pulang, Raisa langsung melahapnya di perjalanan. Itu adalah es krim tiga rasa. Yaitu, vanila, stroberi, dan blueberry.
"Raisa, kau bilang kau tidak suka dengan rasa dingin ... kenapa kau malah makan es krim di cuaca dingin seperti ini? Bukankah itu tidak baik untukmu?" tanya Rumi
"Yang tidak kusuka adalah hawa dan cuaca dingin karena aku tidak tahan dengan suhu rendah, bukan berarti aku tidak suka makan es krim. Es krim juga makanan bersuhu rendah, makanya aku jarang bahkan hampir tidak pernah memakannya, tapi bukan berarti tidak pernah sama sekali. Seperti saat ini ... aku sedang sangat ingin makan es krim. Jadi, aku membelinya," jelas Raisa
__ADS_1
"Lagi pula, kalau aku tidak suka hal yang dingin ... aku pasti akan lebih menyukai Dennis dari pada memilih mencintaimu yang memiliki sifat dan sikap yang dingin. Ini adalah salah satu bukti bahwa tidak semua hal yang dingin, aku tidak menyukainya. Kau satu-satunya hal yang dingin yang kusuka ... selain es krim," sambung Raisa sambil berbisik di telinga Rumi.
Rimi tidak suka saat Raisa menyebut nama lelaki lain dengannya, terutama jika itu adalah Dennis. Raisa menyadari ini dengan jelas. Namun, Raisa sengaja memanas-manasi Rumi. Raisa ingin sesekali menjahili Rumi.
Rumi merasa kesal mendengar hal yang dibisikkan Raisa padanya.
"Lalu, kau lebih suka aku atau es krim?" tanya Rumi ikut berbisik.
"Tentu saja, kau. Sudah kubilang, aku tidak bisa selalu makan es krim. Tapi, aku selalu memikirkan dan mencintaimu setiap waktu," jawab Raisa berbisik pula.
Mendengar jawaban dari mulut Raisa, barulah Rumi bisa tersenyum senang.
"Tapi, kau yang awalnya dingin menjadi bersikap sebaliknya jika bersama denganku. Jadi, haruskah aku mempertahankan cintaku untukmu?" Gumam Raisa berbisik.
Rumi menjadi tidak senang mendengar yang Raisa gumamkan. Rumi pun merebut suapan es krim dari tangan Raisa yang hendak gadis itu makan.
"Hei, ini es krim milikku!" Raisa kesal dengan Rumi yang merebut suapan es krim yang harusnya masuk ke dalam mulutnya.
"Aku hanya minta satu suapan. Sisa es krimnya masih ada banyak," kata Rumi
..."Lagi-lagi, Rumi makan sesuatu dari sendok yang sama denganku!" batin Raisa yang sebenarnya lebih merasa malu dari pada kesal....
"Kau tidak boleh meragukan rasa cintamu padaku atau meragukan rasa cintaku padamu," bisik Rumi
"Sekali lagi kau berkata hal yang serupa, kau akan mendapat hukuman dariku. Kalau sekali lagi kau mencoba memanas-manasi atau memprovokasi aku, yang kurebut bukan lagi makanan milikmu yang masih berada di atas sendok, tapi akan kurebut langsung yang ada di dalam mulutmu," sambung Rumi berbisik memberi ancaman pada Raisa dengan ciuman.
Raisa terkejut dan berusaha keras menyembunyikan rona malu di wajahnya.
"Kau bukan lagi lelaki dingin yamg kusuka! Kau adalah lelaki nakal yang suka menggombal," kesal Raisa berbisik.
"Alu sudah memperingatkanmu," pelan Rumi
Rumi ingin menghukum Raisa dengan ciuman. Namun, Raisa tidak akan membiarkan itu dilakukan di depan teman-temannya. Raisa pun langsung menyuapi sesendok es krim ke dalam mulut Rumi yang mendekat pada wajahnya dan berniat menciumnya.
"Harusnya kalau kau mau, kau beli saja sendiri es krimnya!" pekik Raisa meracau agar yang lain tidak curiga jika Rumi ingin menciumnya.
Rumi pun tersenyum melihat tingkah Raisa yang sedang menyembunyikan rasa malunya.
"Dari pada kalian berdua bertengkar mesra di depan kami, lebih baik kau buktikan satu perkataanmu kemarin di depan kami semua," ucap Amon
"Kau yang sedari kecil hanya bisa bertengkar, mana tahu kalau ada yang namanya bertengkar mesra," ujar Chilla
"Apa lagi yang kau ingin aku buktikan, Amon?" tanya Raisa
"Burung Api Legenda. Kalau kau memang memiliki Burung Api Legenda yang merasuk dalam dirimu ... panggillah dia ke luar. Selagi kita berada di ruang terbuka yang luas, kau pasti bisa membiarkannya ke luar ... itu pun jika kau sungguh berkata jujur," jawab Amon
"Baiklah. Kuharap setelah ini kau bisa percaya padaku," kata Raisa menyanggupi keinginan Amon.
Raisa mengangkat satu tangannya yang lalu mengeluarkan sihir api yang merupakan api abadi suci milik Sang Phoenix, Burung Api Legenda.
"Aku memanggilmu, Helio." Raisa mengucapkan sebuah kalimat seperti mantra.
Api yang awalnya kecil seketika berubah menjadi besar dan dari sana api tersebut menyebar membentuk seekor burung api raksasa.
"Raisa, kau memanggilku?" Helio, Sang Phoenix menjawab panggilan dari Raisa.
"Kau tidak berniat memanggiku hanya untuk memperkenalkan teman-temanmu padaku, kan?"
"Ya. Aku ingin agar kau bisa bertemu dengan teman-temanku. Semuanya ... ini adalah Burung Api Legenda. Aku menyebutnya Phoenix dan namanya adalah Helio," ujar Raisa
Sang Phoenix yang terbang di udara pun mendarat. Ia membungkuk hormat dan Raisa membalas hormatnya dengan menunduk kecil.
Semua yang melihat pun terperangah dengan takjub.
"Ya. Aku ingat namanya adalah Helio," kata Aqila
"Hewan roh sihir pun mempunyai sikap dan begitu hormat," ucap Ian
"Jangan salah paham. Aku hanya hormat pada Tuanku, Raisa."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak memangilnya dengan sebutan Tuan?" tanya Devan
__ADS_1
"Raisa sangat rendah hati sampai tidak ingin serta melarangku memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Dia tidak sama dengan manusia lainnya."
"Memangnya kenapa dengan manusia lainnya? Sudah pernah kubilang padamu, semua manusia itu pada umumnya sama saja," ujar Raisa bicara pada Helio, Sang Phoenix.
"Kalau kalian juga ingin dekat dengannya, kalian juga perlu bersikap hormat di hadapannya," sambung Raisa bicara pada teman-temannya.
"Aku tidak ada niat untuk dekat dengan manusia selain dirimu. "
"Jangan seperti itu, Helio. Mereka semua adalah teman baikku," kata Raisa
"Memanggilnya ke luar dari dirimu seperti ini, apa tidak menguras banyak tenagamu?" tanya Morgan
"Tidak. Selama ada Helio, dialah yang selalu melindungi siklus tenaga sihir di dalam diriku dengan baik. Memanggilnya ke luar tidak akan menguras tenaga sihirku," jelas Raisa
"Bagaimana setelah melihatnya langsung, Sanari? Kau juga memiliki hewan roh sihir, kan?" tanya Raisa
"Nao yang hanya hewan roh sihir biasa tidak bisa disamakan dengan Helio yang merupakan hewan roh sihir suci," ungkap Sanari
"Bagaimana, Amon? Kau sudah melihat langsung bukti dariku, kan?" tanya Raisa
Amon terdiam terus menatap ke arah Helio Sang Phoenix.
"Dia adalah lelaki yang bersikap tidak sopan, berkata kasar, dan tidak percaya pada Tuanku."
"Sapalah langsung dia yang ingin kau temui, Amon." Raisa langsung mendorong begitu saja tubuh Amon ke arah Sang Phoenix yang berapi-api.
"Raisa, apa kau ingin membunuh Amon dengan membakarnya hidup-hidup?!" pekik Chilla
"Raisa bukan manusia yang kejam seperti itu."
"Tenang saja. Api abadi milik Helio tidak membakar atau berbahaya kecuali dengan siapa pun yang memiliki niat jahat di dalam hatinya," ucap Raisa
"Kau pasti bisa merasakannya, Amon. Api itu tidaklah panas atau membakar tubuhmu, tapi hangat ke seluruh aliran darah di tubuhmu dan membuatmu nyaman," sambung Raisa bicara pada Amon.
Amon pun bergerak mundur dari jangkauan Sang Phoenix yang berapi-api.
"Aku tidak bisa berkata-kata. Senang bertemu denganmu Sang Phoenix, Burung Api Legendaris. Maaf, telah meragukanmu ... Raisa," ucap Amon
Raisa hanya tersenyum.
"Apa ini artinya kau sudah bisa lebih percaya pada Raisa, Amon?" tanya Rumi
Amon tidak menjawab. Ia hanya diam terpana melihat Sang Phoenix di depannya. Mungkin setelah ini ia akan bisa percaya pada Raisa, meski tidak mengungkapkannya secara langsung.
"Sangat besar dan panas menghangatkan," gumam Amon
"Aku juga bisa menyesuaikan ukuranku dengan manusia."
Helio membentangkan sayapnya. Saat seperti itu, terlihat jelas ukurannya yang sangat besar. Namun, per detik selanjutnya ukurannya yang bagai raksasa berubah mengecil sampai seukuran burung elang. Kemudian, Helio pun berterbangan dan bertengger di bahu Raisa.
Saat bertengger di bahu Raisa, perhatian Helio terarah pada Rumi yang berada di samping Raisa.
"Bagus, Helio. Terima kasih sudah mau memenuhi panggilanku. Sekarang kau bisa kembali," ucap Raisa
"Baik, Raisa."
Helio pun terbang kembali bersiap untuk kembali merasuk ke dalam diri Raisa.
"Kau manusia ... lelaki yang ada di samping Raisa. Aku dapat melihat masa depanmu. Teruslah jaga dan temani Raisa di sisinya. Aku menaruh harapan baik dan rasa percaya padamu. Jangan kecewakan aku atau pun Raisa." Helio berpesan sebelum akhirnya benar-benar merasuk kembali ke dalam diri Raisa.
..."Kenapa kau bicara seperti itu, Helio? Akulah yang sudah sering membuatnya merasa kecewa," batin Raisa...
"Masa depan seperti apa yang dilihatnya? Kenapa Helio tidak mengatakannya dengan jelas sebelum kembali merasuk ke dalam dirimu?" tanya Rumi
"Aku juga tidak mengerti," jawab Raisa
"Apa maksudnya Helio percaya dan melihat bahwa masa depanmu selalu bersama dengan Raisa? Makanya, dia menaruh harapan besar dan mempercayakan Raisa padamu untuk kau jaga," tebak Aqila
"Kalau begitu, aku tidak akan mengecewakan harapan dan kepercayaan yang Helio berikan padaku. Aku akan selalu menemani dan menjaga Raisa di sisinya," ucap Rumi
.
__ADS_1
•
Bersambung ...