
Setelah lelah bermain banyak wahana, Raisa mengajak semuanya bersantai mengunjungi pantai.
Hari sudah menjelang sore... Matahari bersinar tidak terlalu terik tidak juga redup. Beberapa orang bersantai duduk di atas tikar yang digelar di atas pasir pantai dan ada juga yang bermain air di pesisiran pantai.
Semua melepas lelah setelah merasakan ketegangan saat bermain wahana sebelumnya. Semua wajah memancarkan senyum masing-masing. Lega nampak jelas pada ekspresi wajah mereka...
"Hari sudah sore... Apa kalian ingin berenang?" Tanya Raisa
"Bagus juga kalau berenang! Tapi, kita tidak ada yang membawa pakaian renang, kan?" Ujar Wanda
"Sebenarnya aku sudah mempersiapkannya. Semoga ukurannya cocok untuk kalian semua. Semuanya, ke sini sebentar! Kita adakan pembagian pakaian renang." Ucap Raisa
Semua pun berkerumun mendekati Raisa...
"Siapa saja yang ingin berenang? Antri, untuk dapatkan pakaian renang... Hehehe." Ujar Raisa
Yang lain pun menurut. Mengantri di dekat Raisa untuk mendapat pakaian renang.
Raisa pun mengeluarkan pakaian renang dari dalam tas ranselnya yang sedaritadi ia bawa dan gendong di balik punggungnya. Raisa memberikan pakaian renang untuk para gadis dan pakaian ala hawaii untuk para lelaki.
"Wah, lengkap juga barang bawaanmu, Raisa. Tapi, walaupun itu ransel, bukankah ukuran tasmu masih terlalu kecil untuk membawa semua pakaian renang ini?" Tanya Chilla
"Aku menyiapkan semua ini dengan caraku. Ini sangat praktis!" Jawab Raisa sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Seolah mengatakan, 'Ini rahasia!'
"Maksud caramu itu dengan sihirmu?" Tanya Aqila dengan memelankan suaranya saat mengatakan kata 'sihir'.
Tidak menjawab langsung, Raisa menjawab dengan dehamannya juga senyum manisnya.
"Tapi, bagaimana caranya? Bukankah kau tak memiliki gulungan kertas sihir untuk menyimpan barang seperti kepunyaan kami? Atau kau meminjamnya dari salah satu dari kami?" Tanya Sandra
Raisa pun memperlihatkan telapak tangannya pada yang lain. Dari sana, muncul lambang inti kekuatan sihirnya. Bunga Teratai Putih...
"Kegunaan lain dari lambang bunga ini adalah menyimpan atau membawa sesuatu yang kusentuh dengan sihir, apapun itu! Seperti gulungan kertas sihir kalian... Kegunaan ini hanya aku bisa menggunakannya, sang pemilik sihir. Ini seperti kemampuan menyerap elemen sihir di dunia kalian." Ungkap Raisa
Semua pun mengangguk tanda mengerti. Walaupun mereka tak menyangka, Raisa juga mengetahui tentang kemampuan menyerap elemen sihir...
"Ada hal lain lagi yang kami ketahui tentangmu. Menakjubkan!" Kata Marcel
"Ya, begitulah... Kalian yang ingin berenang, ambillah pakaian renang ini. Ganti pakaian kalian di toilet. Di sebelah kanan sana, kalian akan menemukan tandanya. Aku tidak mengantar kalian ya, karena aku tidak berencana untuk ikut berenang. Aku menunggu di sini saja." Ucap Raisa
"Baiklah. Kami titip barang kami juga ya, Raisa." Kata Amy
Semua pun berbondong ke toilet untuk berganti pakaian. Walaupun tak ingin berenang pun, akan lebih memudahkan jika memakai pakaian renang bila sedang berada di pantai.
"Rumi, kau tidak ikut?" Tanya Morgan
"Aku tidak ingin berenang. Aku tetap di sini saja." Jawab Rumi
"Yasudah. Titip barang-barang itu bersamamu ya." Pesan Morgan
"Baiklah..." Kata Rumi
Rumi pun duduk tepat di samping Raisa...
"Kau tidak mengganti pakaianmu, Rumi?" Tanya Raisa
"Aku tidak ingin berenang." Jawab Rumi
"Tapi, lebih memudahkan bila menggunakan pakaian renang bila di pantai. Yang lain juga, pasti tidak semuanya ingin berenang, tapi, mereka tetap mengganti pakaian." Ujar Raisa
"Kau juga, kenapa tidak mengganti pakaianmu?" Tanya Rumi
...'Orang sepertiku tidak terbiasa memakai pakaian renang di muka umum seperti kalian. Akan risih sekali rasanya! Membayangkannya saja aku tidak bisa.' Batin Raisa...
"Selain tidak ingin berenang, aku juga tidak terbiasa menggunakan pakaian renang. Aku hanya ingin bersantai saja, duduk di sini." Jawab Raisa
"Aku juga." Kata Rumi
...'Sakarepmu aelah. Memang tidak ada yang bisa mendebatmu.' Batin Raisa...
Raisa pun akhirnya memilih diam, tak lagi mengajak Rumi bicara. Rumi pun hanya diam beribu bahasa.
Raisa duduk dengan menekuk kedua kakinya dengan tangan yang direntangkan ke depan yang ditaruh di atas lututnya. Menatap ke arah lepas pantai, menenangkan pikirannya...
Ia sudah sering berusaha bersikap normal, biasa saja ketika berada di dekat Rumi. Namun, tetap saja! Ketika hanya berdua saja dengan lelaki yang berada di sampingnya sekarang ini, jantungnya tak bisa tenang. Bergemuruh di dalam, tetap tidak bisa tenang...
Sekeras apapun itu, perasaannya tetap tak bisa diabaikan begitu saja.
Tak butuh waktu lama, satu persatu temannya mulai kbali berdatangan dan langsung bermain di tepi pantai.
"Raisa, ayo! Ikut bermain bersama kami..." Ajak Sanari
"Tidak, aku di sini saja." Tolak Raisa
"Rumi!" Seru Morgan sambil melakukan gerakan tangan seperti mengajak pergi.
"Raisa tidak berenang karena tidak bisa kedinginan. Aku di sini saja menemaninya." Ujar Rumi
__ADS_1
Raisa menoleh sejenak pada Rumi. Ternyata, lelaki itu masih begitu peduli dengan dirinya. Rasanya akan sulit sekali menjauhi lelaki baik sepertinya...
Raisa pun nenghela nafasnya~
Lalu, ia merebahkan tubuhnya di atas pasir beralaskan tikar itu. Dengan pasti, ia memejamkan matanya. Berusaha menenangkan pikirannya dari segala pemikiran rumit.
Pantai adalah tempat yang paling cocok untuk menenangkan pikiran! Raisa berharap segala pikiran yang membuatnya jenuh dan lelah akan hilang seiringan suara deburan ombak yang berderu dan semilir angin yang berhembus...
Raisa juga berusaha mengatur nafasnya agar tetap stabil juga detak jantungnya. Ia benar-benar ingin santai saat ini~
Raisa merasa tenang... Dalam posisinya saat ini, ia bisa saja tertidur sendirinya dalam perasaan tenangnya. Ia merasa tenang sampai-sampai hampir memasuki alam bawah sadarnya. Jika saja, ia merasa redupnya sinar matahari semakin repup. Sangatlah redup!
Raisa pun perlahan membuka matanya saat merasa bukanlah sinar matahari yang semakin meredup melainkan seseorang mencoba menghalau sinar itu untuk dirinya... Dilihatnya, seorang lelaki yang sedaritadi berada di sampingnya kini wajahnya tepat berada di hadapannya yang sedang tertidur. Jarak mereka termasuk dekat sampai Raisa kembali merasa gugup.
"Rumi, kau sedang apa?" Tanya Raisa
"Kupikir sinar matahari akan mengganggu tidurmu." Jawab Rumi
"Sinar matahari pada waktu ini tidak benar-benar mengganggu seperti saat tengah hari, lagipula aku tidak benar-benar tidur. Aku hanya memejamkan mata..." Ucap Raisa
"Kau terlihat lelah. Apa membawa kami liburan membuatmu kerepotan?" Tanya Rumi
"Tidak, aku hanya menikmati suasana pantai ini saja. Tidak ada yang membuatku repot, aku malah merasa senang." Jawab Raisa
Bicara dalam posisi seperti ini dengan Rumi, membuat dirinya tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah lelaki tampan di hadapannya. Dan itu mampu membuat jantungnya kembali berpacu lagi. Tanpa sadar Raisa menahan nafasnya, nafasnya seperti tercekat di tenggorokan!
Raisa pun bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk. Rumi pun menjauhkan wajahnya...
Raisa menghela nafas lega~
"Itu cukup membuatku rileks!" Lega Raisa
Teman-teman yang sedaritadi asik bermain di area pantai mulai berdatangan mendekat ke arah Raisa dan Rumi...
"Aku lelah!" Kata Chilla
"Iya. Tapi, tadi itu mengasyikkan!" Ujar Amy
"Benar! Sayang, kau tidak ikut, Raisa... " Ucap Raisa
"Kalian sudah lelah? Memangnya berapa lama kalian bermain? Berapa lama aku tertidur?" Gumam Raisa
"Sekitar 45 menit. Akhirnya, kau mengakuinya juga, Raisa." Sahut Rumi
Raisa pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal disertai senyuman canggungnya...
"Kalian lelah? Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa dengan makan akan mengisi tenaga kalian?" Ujar Raisa
"Yeay, makan!" Sorak Chilla dengan senangnya.
"Mendengar kata makan saja, kau sudah kegirangan. Dasar, gendut!" Cela Ian
"Dasar, merepotkan!" Cibir Devan
"Kalian ganti pakaian saja dulu. Aku akan ikut sambil mencari tempat makan." Ucap Raisa
Mereka semua pun pergi bersama. Namun, setelah itu, Raisa nemisahkan diri untuk mencari tempat makan bersama Rumi yang selalu mengikutinya. Sedangkan, yang lain mengganti pakaian renangnya dengan pakaian mereka semula.
...
Setelah berkumpul kembali, Raisa dan Rumi menghampiri yang lainnya...
"Aku dan Rumi sudah nenemukan tempat makannya. Ayo, kita semua ke sana!" Ucap Raisa
"Ayo, cepat!" Semangat Chilla
"Sabar, Chilla..." Bujuk Dennis
"Tenangkan dirimu, dasar, gendut!" Cibir Ian
Semua pun berjalan beriringan bersama menuju tempat makan yang Raisa maksud.
Saat dalam perjalanan, Raisa menyipitkan matanya ke arah pantai. Lalu, ia menghentikan langkahnya...
"Kalian tunggu di sini! Jangan ada yang mengikutiku... Tidak perlu khawatir, atau duluan saja ke tempat makan dengan Rumi. Aku akan segera menyusul. Aku takkan lama." Ucap Raisa
"Memangnya kau mau ke mana, Raisa?" Tanya Billy
Tanpa menjawab, dari jembatan pantai itu... Raisa melompati pembatasnya dan terjun masuk ke dalam air (pantai).
"Hei, Raisa!" Pekik Aqila
Melihat aksi Raisa, Rumi mencemaskannya dan hampir ikut melompat masuk ke dalam air. Namun, Morgan mencegahnya!
"Raisa lemah terhadap dingin, kemungkinan dia tidak mahir berenang! Bagaimana kalau dia tenggelam?" Panik Rumi
Semua pun memperhatikan Raisa dengan tidak melanggar keinginannya untuk tidak mengikutinya...
__ADS_1
"Lihat! Raisa mendekati gadis itu sambil berteriak ke arahnya. Mungkin akan terjadi sesuatu padanya, Raisa ingin memperingati atau bahkan menyelamatkannya." Ungkap Devan
Benar saja! Sebelum Raisa tiba di dekat seorang gadis yang terlihat sedang berenang di pantai itu, gadis itu pun tiba-tiba saja tenggelam~
Raisa pun menyusulkan dengan berenang lebih menyelam ke dalam air.
Raisa sudah menduga itu. Ia berusaha menyelamatkan gadis yang tenggelam yang dilihatnya... Berenang mendekati gadis itu. Sebelum benar-benar menggapainya, Raisa memejamkan matanya. Saat matanya kembali terbuka, ada lambang inti kekuatan sihirnya yang muncul di tengah dahinya. Bunga Teratai Putih itu mengeluarkan sinar...
Si gadis yang Raisa berusaha menyelamatkannya, tenggelam karena disengat ubur-ubur. Dengan Raisa memunculkan lambang inti sihirnya dan membuatnya bersinar, Raisa berusaha bertelepati dengan hewan air tersebut untuk menyuruhnya mundur. Seperti melakukan percakapan negosiasi dengan transmisi suara... Akhirnya, ubur-ubur itu pergi menjauh. Barulah, Raisa menggapai gadis tersebut dan membawanya ke permukaan air untuk menyelamatkannya.
Saat di permukaan, Raisa meminta tolong dengan memanggil temannya. Semua temannya pun bahu membahu membantu Raisa mengangkat gadis yang diselamatkannya ke daratan. Setelah itu, Raisa pun dibantu naik ke atas jembatan.
Saat itu, pengunjung pantai yang lain ikut berdatangan mengerubungi korban tenggelam itu.
"Raisa, kau tidak apa?" Tanya Rumi
"Aku baik-baik saja." Jawab Raisa
"Kenapa dia bisa tenggelam?" Tanya pengunjung pantai lainnya.
"Dia terkejut disengat ubur-ubur jadi tenggelam." Ungkap Raisa
"Cepat, selamatkan dia!"
Di saat yang lain ribut dengan bagaimana cara menyelamatkan gadis tersebut dari pingsannya akibat tenggelam, Raisa diam-diam mengeluarkan sihirnya mengendalikan angin agar berembus bersamaan pasir pantai. Supaya semua teralihkan menyelamatkan pandangan mereka dan tak memerhatikan perbuatannya selanjutnya. Saat itu juga, Raisa mengeluarkan air yang tertelan oleh gadis yang tenggelam tadi dengan sihir pengendali airnya.
"Dia sudah sadar!" Seru Raisa bersamaan susahnya angin berpasir buatannya.
"Syukurlah..." Lega semua
Gadis tersebut pun langsung terduduk menstabilkan pernafasannya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya." Ujarnya
"Sama-sama. Lain kali lihatlah kondisi pantai saat berenang. Jangan sampai kejadian tersengat ubur-ubur terbilang lagi." Ucap Raisa
Saat itu, ada seseorang datang menghampiri gadis tersebut...
"Ya ampun, Non... Non, baik-baik aja?" Tanyanya, kerabat si gadis.
Si gadis mengangguk menandakan baik-baik saja.
Pria yang datang itu pun beralih mengambil alih si gadis untuk memapahnya ke tempat mereka.
"Terima kasih sudah menyelamatkan majikan saya. Kami permisi dulu..." Ucapnya
"Silahkan..." Kata Raisa
Mereka berdua pun berlalu pergi...
"Aku akan mengeringkan diriku di toilet. Kalian pergi dulu saja." Ujar Raisa
"Kami menunggumu saja." Kata Chilla
...
Saat Raisa keluar dari toilet, ternyata yang lain menunggunya di dekat toilet.
"Syukurlah, kau baik-baik saja, Raisa." Kata Rumi
"Raisa, tadi aku terkejut melihatmu melompat masuk ke dalam air!" Ujar Sanari
"Aku melihat ubur-ubur mendekati gadis tadi, aku spontan melompat untuk menyelamatkannya. Aku memang lemah terhadap dingin, aku memang tidak mahir berenang, tapi, tidak berarti aku tidak bisa. Aku pun tidak basah sepenuhnya, saat di dalam air aku menggunakan keahlian airku. Aku pun dengan mudah mengeringkan diri dengan keahlianku." Jelas Raisa
"Angin berpasir tadi pun adalah ulahmu?" Tanya Devan
"Ya, juga saat aku mengeluarkan air yang ditelannya. Makanya aku menimbulkan angin berpasir itu untuk pengalihan." Ungkap Raisa
Mereka semua berjalan bersama menuju tempat makan.
"Raisa, padahal tadi pagi kau baru saja terjatuh. Sekarang kau malah masuk ke dalam air." Ucap Wanda
"Tidak masalah, aku baik-baik saja. Setelah beristirahat sebelum ke sini, aku sampai bermimpi indah yang membuatku lebih baik." Ujar Raisa
Saat Raisa berkata begitu, Rumi menoleh menatap Raisa. Karena merasa karenanyalah Raisa sampai berkata begitu...
Saat mereka hendak menuju tempat makan, gadis yang tadi Raisa selamatkan menghampiri mereka dan menawarkan makan gratis di restoran miliknya sebagai tanda terima kasih. Walaupun Raisa bersama banyak temannya, gadis tadilah yang akan menanggung biaya makan mereka semua. Dengan senang hati, mereka pun mengikuti si gadis menuju restoran milik keluarganya.
.
•
Bersambung...
¤: [Kutipan Author ]
"Author menyempatkan update episode untuk hari ini. Setelah episode ini, Author menyatakan resmi HIATUS sampai waktu yang tidak ditentukan."
__ADS_1