
Hari ini adalah hari pelaksanaan acara pernikahan kedua antara Raisa dan Rumi.
Bukan pernikahan kedua setelah mereka pisah atau cerai, melainkan pernikahan di tempat kedua yang berbeda dari tempat pelaksanaan pernikahan resmi yang pertama. *Jadi, jangan salah paham, ya.
Tepat setelah bangun tidur di pagi hari, pintu kamar pengantin baru itu diketuk dari luar. Raisa pun melangkah pelan menuju pintu kamar untuk membukanya.
Tok-tok-tok!
Kriiett~
Di balik pintu kamar itu ada Nona Rina yang berdiri di luar kamar.
"Halo, Raisa. Apa Rumi juga sudah bangun?" tanya Nona Rina
"Ya, Rumi sudah bangun dan ada di dalam. Bibi Rina mencarinya? Mau aku panggilkan?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan dari Nona Rina.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin memastikan saja, lalu ini ... aku bawakan busana pengantin untukmu dan Rumi. Pakailah dan bersiap. Hari ini adalah hari diadakannya acara pernikahan kalian berdua," jelas Nona Rina sembari menyerahkan sepasang set busana pengantin pada Raisa.
"Lalu, kau tenang saja. Busana untuk keluargamu akan segera diantarkan juga ke kamar masing-masing. Aku dan yang lain pun akan langsung bersiap setelah ini," sambung Nona Rina
"Terima kasih banyak, Bibi Rina. Aku dan Rumi akan langsung bersiap di dalam kamar," ucap Raisa yang sudah menerima sepasang set busana pernikahan dari Nona Rina.
"Sama-sama. Dan, Raisa ... jangan sampai gugup, ya. Kan, ini acara yang kedua kalinya untukmu," kata Nona Rina
Raisa hanya bisa tersenyum kecil.
"Ya sudah, aku tinggal, ya ... " kata Nona Rina
Raisa mengangguk. Nona Rina pun berlalu pergi dari sana.
..."Tidak ada hubungannya sudah keberapa kalinya acara ini diadakan. Saat dalam acara yang sangat penting dan sakral seperti ini setiap orang pasti akan merasa gugup," batin Raisa...
Raisa pun kembali masuk ke dalam kamar dan menutup serta mengunci pintu kamar tersebut.
"Siapa yang datang tadi?" tanya Rumi
"Bibi Rina yang datang mengantarkan busana pernikahan untuk kita hari ini. Kita diminta untuk langsung bersiap," ungkap Raisa
"Benar juga. Hari ini adalah hari diadakannya acara pernikahan kedua kita," kata Rumi
"Ya sudah. Kalau begitu, kau bersiaplah lebih dulu karena pasti busanamu lebih rumit saat dipakai. Aku akan bersiap setelah dirimu," sambung Rumi
Raisa mengangguk dengan patuh.
"Kalau begitu, aku bersiap lebih dulu," ujar Raisa
"Ya. Aku akan menunggu di sini, takut-takut kau perlu bantuan," kata Rumi
Raisa pun beralih masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut untuk mengganti pakaian. Selang beberapa waktu, ia memanggil Rumi dari dalam kamar mandi.
Memanngil namanya dipangil dari dalam kamar mandi, Rumi pun mengetuk pintu kamar mandi dari luar.
Tok-tok-tok!
"Kenapa, Sayang? Kau perlu bantuan?" tanya Rumi
Kriiett~~
Pintu kamar mandi pun terbuka dan Raisa ke luar dari dalam sana dengan mengenakan busana adat pernikahan dunia itu. Namun, sepertinya Raisa merasa kesulitan dan memerlukan bantuan.
Rupanya, Raisa kesulitan mengepaskan busana adat tersebut di tubuhnya.
"Aku baru pertama kali menggunakan pakaian adat yang seperti ini, jadi aku kesulitan mengepasnya pada tubuhku. Apa kau bisa bantu aku, Sayang?" tanya Raisa meminta bantuan pada sang suami.
"Tentu. Sini kubantu kau mengepasnya di tubuhmu," jawab Rumi
Rumi langsung membungkuk untuk merapikan pengerat pinggang busana adat pada tubuh Raisa agar bisa mengepaskannya. Raisa pun langsung menekuk kedua tangannya ke dada, lalu juga berganti merentangkan kedua tangannya ke samping agar suaminya lebih leluasa membantu mengepas busana adat yang dipakai olehnya.
Setelah selesai mengepas busana adat tersebut pada tubuh sang istri, Rumi dengan jahilnya mencolek pinggang kiri Raisa yang merupakan area sensitifnya. Hingga Raisa merasa merinding sekaligus menegang seketika.
"Jangan jahil, Rumi!" protes Raisa
"Maaf, Sayang ... " kata Rumi yang lalu kembali berdiri tegak.
"Apa sudah selesai?" tanya Raisa
"Sudah. Kau selalu sangat cantik," jawab Rumi sambil memberikan pujian untuk istri cantiknya.
"Terima kasih," ucap Raisa
__ADS_1
"Apa saat menikah, pengantin harus memakai busana adat seperti ini? Aku sangat tidak terbiasa memakainya," sambung Raisa
"Umumnya memang harus, tapi tidak berlangsung selama hingga akhir acara pernikahan. Setelah prosesi utama pernikahan yang meresmikan pasangan menjadi suami istri, sudah boleh mengganti busana dengan gaun dan jas," jelas Rumi
"Aku mengerti," kata Raisa
"Meski, aku sudah memakai pakaian lapisan di dalam, tapi ini tidak akan merosot turun, kan?" tanya Raisa menambahkan.
"Tidak, Sayang. Aku sudah mengepasnya hingga kencang. Kau tidak merasa sakit pada pinggangmu karena aku mengepasnya terlalu kencang, kan?" tanya balik Rumi usai menjawab pertanyaan dari Raisa.
"Tidak kok. Yang penting aku masih bisa bergerak," jawab Raisa
"Kalau begitu, sekarang giliranku berganti pakaian," ujar Rumi
Tanpa harus masuk ke dalam kamar mandi, Rumi langsung melepaskan pakaiannya dan menggantinya di dalam ruangan itu juga. Hal itu membuat Raisa yang masih berhadapan dengannya langsung berbalik badan.
"Sayang, kenapa harus berbalik badan seperti itu? Kau tidak mungkin merasa malu, kan? Bukannya kau sudah berulang kali melihat tubuh polosku yang tanpa busana? Lagi pula, bukankah aku hanya berganti pakaian saja?" tanya Rumi yang bermaksud jika hanya berganti pakaian artinya ia tidak harus membuka seluruh pakaiannya hingga tel*njang.
"Tetap saja ... kenapa kau tidak masuk ke dalam kamar mandi saja?" tanya balik Raisa
"Di dalam kamar mandi yang sempit, aku jadi kurang leluasa mengenakan pakaian adat ini. Buktinya kau sendiri kesulitan memakainya di dalam kamar mandi tadi," jawab Rumi
"Aku kesulitan karena baru pertama kali dan tidak terbiasa mengenakan pakaian adat seperti ini. Kalau sudah terbiasa juga tidak akan kesulitan lagi," ujar Raisa
"Aku sudah selesai berganti pakaian kok," kata Rumi
"Yang benar? Cepat sekali?" tanya Raisa yang masih dalam posisi membelakangi Rumi.
"Karena aku sudah pernah dan terbiasa memakai pakaian seperti ini. Kalau kau tidak percaya, lihat saja secara langsung. Balikkan tubuhmu dan lihat aku," jawab Rumi
Rumi yang terbiasa memakai pakaian yang serupa saat masih sering tinggal bersama Tuan Rommy dulu, meski pakaian yang biasa digunakan dulu terkesan lebih santai karena dipakai untuk sehari-hari. Jadi mengenakan busana adat yang serupa pun tidak membutuhkan waktu lama untuknya.
Dalam hitungan menit, Rumi sudah selesai berganti pakaian dengan busana adat untuk saat menikah.
Raisa pun membalikkan tubuhnya untuk melihat penampilan sang suami.
"Benar, sudah selesai. Suami tampanku terlihat sangat gagah," kata Raisa sambil tersenyum manis.
Rumi yang kini sehari-harinya lebih sering mengenakan kemeja lebih terkesan tampan berkarisma dengan penampilannya. Namun, berbeda dengan saat ini yang membuatnya terlihat gagah rupawan.
..."Aku tidak sembarangan menyebut Rumi berasal dari Negara Jepang saat di duniaku. Ada beberapa alasan kenapa aku harus menggunakan nama negara itu. Satu, karena di sini terdapat banyak sekali pohon bunga sakura dan yang kedua ... karena pakaian adat di sini jelas-jelas sama seperti pakaian tradisional Negara Jepang yang sering disebut kimono. Sama seperti yang sedang aku dan Rumi pakai saat ini juga. Aku jadi merasa hal dari dua tempat ini ada kaitannya dan aku harus menyelidikinya," batin Raisa...
Tanpa ada niat untuk bertanya, Raisa memilih untuk menyelidiki sendiri tentang opininya itu secara perlahan-lahan.
Raisa langsung tersadar saat Rumi menginterupsi pikirannya.
"Sayang, apa yang kau pikirkan sampai membuatmu melamun begitu?" tanya Rumi
"Tidak ada. Hei, kenapa kau dekat sekali?" tanya balik Raisa saat menyadari wajah Rumi yang sudah sangat dekat dengan wajahnya.
Raisa mencoba melangkah mundur. Namun, tidak bisa karena Rumi sudah merengkuh pinggangnya dengan sangat erat.
"Kenapa? Aku belum dapat morning kiss darimu," ujar Rumi
"Sehari saja absen tidak apa, kan?" tanya Raisa
"Itu masalah. Absen sehari pun tidak boleh. Apa lagi sudah dua hari ini aku tidak dapat morning kiss darimu, sudah tidak boleh absen lagi," jawab Rumi
Rumi pun makin mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa. Raisa sudah tidak bisa mengelak lagi. Namun, Raisa terselamatkan karena suara ketukan pintu dari luar.
Rumi pun membuang nafas dengan kesal.
"Siapa lagi yang mengganggu kali ini?" gumam Rumi yang jelas sekali terlihat kesal.
Rumi pun melepaskan Raisa dan beralih mendekat ke arah pintu untuk membukanya dan melihat siapa pengganggu itu.
Pintu terus diketuk dari luar kamar dan Rumi pun bergerak membuka pintu kamar tersebut.
Tok-tok-tok!
Kriiett~
Ada Nona Rina yang kembali berdiri di depan pintu kamar tersebut.
"Ada apa lagi, Rina?" tanya Rumi
"Mana istrimu? Apa aku sudah mengganggu? Tapi, aku harus masuk," ujar Nona Rina
Tanpa permisi, Nona Rina sudah langsung masuk ke dalam kamar pengantin baru itu.
__ADS_1
"Wah ... kalian berdua sudah berganti pakaian, ya. Terlihat serasi sekali," kata Nona Rina
"Mau apa kau masuk ke dalam kamar ini?" tanya Rumi
"Aku tentu akan membantu Raisa bersiap. Berbeda denganmu, Raisa harus berdandan supaya bisa tampil cantik," jelas Nona Rina
"Tanpa berdandan pun istriku sudah sangat cantik, tahu!" seru Rumi
"Tentu saja, aku tidak meragukan seleramu, tapi tetap ... Raisa harus tampil beda di hari istimewanya ini," ujar Nona Rina
"Duduklah, Raisa. Aku akan membantumu berias," sambung Nona Rina
Raisa mengangguk dan beralih untuk duduk di depan meja yang terdapat cermin di dalam kamar tersebut yang harusnya adalah meja rias. Namun, karena dulunya itu adalah kamar seorang lelaki single, di sana tidak terdapat alat rias atau kosmetik apa pun.
Untungnya Nona Rina sudah membawa perlengkapan make-up miliknya sendiri karena Raisa pun tidak membawa alat make-up lengkap selain hanya bedak bubuk bayi yang masih sering digunakannya dan sebuah lipbalm.
"Mohon bantuanmu, Bibi Rina," kata Raisa
"Raisa, apa kau memiliki alergi terhadap kosmetik?" tanya Nona Rina
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku jarang berias kecuali untuk keperluan kerja. Itu pun biasanya hanya riasan natural yang tipis," jelas Raisa
"Itu karena dari awal kau sudah cantik alami, Sayang," kata Rumi melontarkan kalimat berupa pujian.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pun akan berikan riasan tipis saja pada wajahmu. Hanya untuk lebih memancarkan aura kecantikan yang sudah kau miliki," ujar Nona Rina
Nona Rina pun mulai memoles wajah Raisa. Raisa pun hanya bisa diam dengan patuh dan menurun untuk dirias dengan tenang. Sedangkan Rumi duduk di tepi ranjang dan terus memerhatikan dari belakang sambil menatap ke arah cermin yang menampilkan wajah cantik sang istri.
..."Tak sangka udah tiba hari-h pelaksanaan acara pernikahan kedua. Persiapannya pun cepat sekali. Meski tidak bisa langsung siap dalam waktu sehari, besoknya langsung bisa siap sepenuhnya. Mungkin karena yang menyiapkannya pun para ahli sihir, jadi prosesnya bisa lebih cepat. Setelah dua hari persiapan, akhirnya hari ini jadi hari istimewa lainnya bagiku dan Rumi," batin Raisa...
Tak hanya merias wajah, Nona Rina juga membantu Raisa menata rambutnya dengan cantik. Rumi terus tersenyum saat melihat proses rias untuk istri cantiknya dari pantulan cermin hingga akhirnya pria itu berdecak kagum melihat penampilan istrinya yang sangat cantik setelah selesai dirias.
"Nah ... sekarang istrimu sudah makin cantik, Rumi," ujar Nona Rina
"Tentu saja. Dia adalah istriku," kata Rumi yang menatap wajah Raisa pada pantulan cermin dengan penuh rasa kagum dan takjub.
Rumi pun bangkit dan menghampiri Raisa hingga berdiri di samping istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. Satu tangan Rumi terulur untuk meminta Raisa menyambut dan menggenggam tangannya.
"Ayo, kita ke luar sekarang," ajak Rumi
"Baiklah," kata Raisa
Raisa pun menerima uluran tangan Rumi dan satu tangannya bergerak menggenggam tangan suami tampannya. Raisa juga berdiri dengan bantuan sang suami.
Rumi mengalihkan tangan Raisa agar dikalungkan pada lengan atasnya. Pasangan suami itri itu pun bergandeng tangan dengan mesra.
"Jangan lupa, Raisa ... kau bawa rangkaian bunga ini," ujar Nona Rina yang menyerahkan sebuket bunga yang dibawa olehnya bersamaan dengan tas komsetiknya tadi pada Raisa untuk digenggam oleh sang pengantin wanita.
Raisa menerima buket bunga yang diberikan oleh Nona Rina dan menggenggamnya di tangan sebelah kirinya karena tangan sebelah kanannya sudah digunakan untuk menggendeng lengan Rumi.
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Bibi Rina," ucap Raisa
"Sama-sama," balas Nona Rina
"Kalian berdua ke luarlah lebih dulu. Aku akan merapikan kosmetiknya dulu," sambung Nona Rina
Raisa dan Rumi mengangguk secara bersamaan. Keduanya pun beranjak melangkah ke luar dari kamar tersebut diikuti oleh Nona Rina yang berjalan di belakang setelah merapikan kosmetik dengan cepat.
Begitu ke luar dari kamar, ternyata yang lain sudah siap dan hanya menunggu mereka berdua dan Nona Rina.
Semua mata pun tertuju pada sepasang pengantin baru yang akan segera mengadakan acara pernikahan kedua.
"Onty Icha, cantik banget! Uncle Rumi, juga ganteng!" puji Farah
"Terima kasih, Sayang. Farah juga cantik dan lucu," ucap Raisa
Gadis kecil itu terlihat lucu menggemaskan saat mengenakan busana adat yang serupa namun untuk anak kecil.
Setelah dilihat lagi, ternyata semua mengenakan busana adat kecuali Nona Rina, Tuan Garry, dan Tuan Johan.
"Kalau diperhatikan ... kenapa Bibi Rina, Paman Garry, dan Paman Johan tidak mengenakan pakaian adat juga?" tanya Raisa
"Kami bertiga tidak diharuskan untuk memakainya karena kami hanya kerabat samping bukan keluarga inti," jawab Nona Rina
"Begitu, rupanya ... " kata Raisa
Karena Nona Rina, Tuan Garry, dan Tuan Johan hanya kerabat luar dan bukan dari keluarga inti Tuan Rommy, ketiganya tidak perlu mengenakan busana adat seperti yang lain. Padahal Raisa mengira semua yang ada di dalam kediaman tersebut akan mengenakan busana adat yang serupa.
.
__ADS_1
•
Bersambung.