
•••
Keesokan harinya...
Di pagi hari, Raisa terbangun dan telah bersiap. Dengan segala kelapangan hatinya, ia membawa ketiga tasnya menuju ke luar dari rumahnya. Saat membuka pintu utama rumahnya di sana, ia tersenyum saat mendapati seseorang telah menunggunya di depan pintu.
"Rumi, kali ini kau tidak lupa untuk menjemputku ya?" Tanya Raisa seraya menyapa lelaki di depan rumahnya itu.
Seorang yang telah menunggu di depan pintu rumahnya itu adalah lelaki yang bernama Rumi. Seorang lelaki yang juga saling menyukai dengan dirinya.
"Benar, kali ini aku tidak akan lupa. Karena kau akan segera pergi, setidaknya aku ingin yang kau lihat pertama untuk terakhir kali ini adalah aku." Ujar Rumi
Raisa tersenyum lembut... Sebenarnya ia tak ingin pergi meninggalkan semua yang ada di dunia asing itu, tapi mau bagaimana lagi? Kehidupan utamanya bukanlah di sana. Kehidupannya yang lain sedang menunggu di suatu tempat yang lain dan ia harus kembali ke tempatnya seharusnya berada.
"Kau sudah siap? Hanya itu barang yang kau bawa untuk kembali ke duniamu?" Tanya Rumi
"Ya, sisanya yng lain sudah kusimpan ke dalam sihirku." Jawab Raisa
"Kalau begitu, biar kubawakan salah satunya." Ujar Rumi
"Baik, terima kasih. Mohon bantuanmu." Ucap Raisa
"Tak perlu sungkan." Kata Rumi
Tiga tas miliknya adalah tas pinggang, tas ransel, dan tas koper. Dan di antara ketiga tas itu, Rumi meraih tas koper untuk membantu Raisa membawanya.
Sebelum menggunakan sihir untuk membuka portal teleportasi kembali ke dunianya, Raisa terlebih dulu akan berkumpul dengan semua temannya di Resto Citra Petir. Ia sudah berjanji dan itu sudah disepakati. Dan peran Rumi saat ini adalah menjemput Raisa yang ingin menuju ke tempat berkumpul, keduanya akan pergi bersama ke sana...
Setibanya di Resto Citra Petir, semua yang lain sudah lengkap menunggu di sana. Kedatangan Raisa bersama Rumi pun melengkapi semua kebersamaan yang bersisa.
"Raisa, kau sudah datang! Kau bersama Rumi, rupanya!" Seru Wanda menyapa keduanya yang baru saja datang.
"Ya, aku kan sudah bilang akan berkumpul dengan kalian dulu sebelum pergi. Aku menepati janjiku!" Ucap Raisa
"Aku menjemput Raisa karena rumah kami dekat." Jelas Rumi
"Tak perlu kau jelaskan pun, kami pasti mengerti." Kata Chilla
"Kebetulan aku belum sarapan, aku ingin memesan!" Seru Raisa yang lalu memanggil pelayan untuk memesan.
"Tumben sekali kau belum sarapan, padahal kau selalu mengingatkanku untuk tidak lupa makan sebelumnya." Ujar Rumi
"Karena aku akan pergi, kupikir setidaknya aku harus makan saat berkumpul dengan kalian semua di sini. Dan karena kau sudah mengingatkan soal ini, kau harus ingat untuk selalu makan tepat waktu." Ucap Raisa
"Aku akan mencoba untuk selalu mengingatnya." Kata Rumi
Setelah pesanan disajikan, Raisa pun makan sebagai sarapannya bersama-sama dengan teman yang lainnya di sana. Suasana kebersamaan terasa sangat khidmat, percakapan ringan menambah suasana kebersamaan di sana.
Setelah makan dan berkumpul, mereka semua menuju tempat yang luas yang dirasa tepat untuk membuka portal teleportasi. Di sanalah, mereka semua menyampaikan salam perpisahan dengan Raisa yang akan pergi...
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi ini bukanlah perpisahan yang sesungguhnya kan, Raisa?" Ujar Amy
"Tentunya. Kau sudah lebih tegar ya, Amy." Kata Raisa
"Saat ini aku sedang menahan emosi kesedihanku." Jujur Amy
"Kenapa kau selalu begini sih, Amy? Kita kan masih bisa bertemu Raisa di lain waktu." Ujar Sandra
"Iya, makanya aku sedang menahan tangisku." Ungkap Amy
"Sudah, tidak apa. Aku akan pergi dan entah kapan akan kembali. Kuharap kalian yang akan mengunjungiku lebih dulu di duniaku nantinya." Ucap Raisa
"Kau sudah berkata begitu sebelumnya. Kami akan datang saat kami bisa." Ucap Morgan
"Kelulusan kalian di sini hanya sekali setelah kalian sudah pantas menjadi ahli sihir, tapi di duniaku berbeda. Aku tidak bisa menyaksilam kelulusan kalian di sini secara langsung walau dapat melihatnya dari mimpi, kuharap kalianlah yang dapat menyaksikan kelulusanku nanti." Ungkap Raisa
"Kau bilang begitu, nemangnya kapan saat kelulusanmu?" Tanya Marcel
"Sebenarnya, itu belum pasti. Aku pun tidak tahu." Jawab Raisa
"Kau ingin kami datang, tapi kau pun belum tahu pasti kapan acara yang kau ingin kami juga menyaksikannya itu." Ucap Ian
"Aku hanya akan senang kapan pun kalian datang, itu saja." Kata Raisa
"Walau pun merepotkan, tapi kami akan mrncoba untuk menyempatkan datang ke duniamu." Ujar Devan
"Baiklah, akan selalu kutunggu!" Girang Raisa
__ADS_1
"Selalu berhati-hati di duniamu ya, Raisa!" Pesan Aqila
"Sampai jumpa lagi, Raisa!" Kata Billy
"Semangat untuk ujian kelulusanmu!" Sorak Dennis
"Terima kasih, semuanya!" Ucap Raisa
Raisa sedikit melangkah maju, menjauh dari yang lain saat hendak menggunakan sihirnya...
Saat itulah Rumi ikut maju untuk menghampiri Raisa~
Rumi neraih tangan Raisa dan menggenggamnya, Raisa pun menoleh.
"Kita akan segera bertemu lagi kan, Raisa?" Tanya Rumi
"Itu pasti! Selama aku tidak ada di sini, pastikan kau mulai menjaga waktu dan pola makanmu. Kalau tidak, aku akan sangat marah padamu! Jangan menyusahkan teman yang lain untuk selalu mengingatkanmu. Jadi, pastikan kau selalu ingat pesan dariku ini!" Ujar Raisa
"Baik, aku akan menurutimu dan memenuhi pesanmu." Patuh Rumi
"Bagus, aku bisa tenang! Kalau begitu, aku pergi dulu..." Kata Raisa
Satu tangan Raisa masih terus digenggam oleh Rumi. Satu tangan lainnya, Raisa gunakan untuk menggunakan sihir. Raisa pun mengeluarkan sihir pembuka gerbang portal teleportasi antar dimensi.
Saat lingkaran misterius itu dengan jelas mulai terbuka, Rumi mengeratksn genggamannya pada salah satu tangan Raisa. Membuat Raisa pun menoleh ke arahnya...
"Ada apa lagi? Aku harus pergi, lepaskanlah tanganku." Ujar Raisa
Tangan Rumi yang menggenggam tangan Raisa beralih bergerak mengangkat tangan Raisa itu, Rumi pun membungkukkan sedikit tubuhnya dan mengecup punggung tangan Raisa...
CUP!~
"Kuharap, kita akan cepat saling bertemu kembali!" Ucap Rumi
"Tentu, aku pergi dulu!" Kata Raisa
Raisa teesenyum lembut dan ia pun perlahan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rumi...
"Sampai jumpa lagi, semuanya!" Seru Raisa
"Sampai jumpa lagi, Raisa!" Serempak semua
"Hei, Rumi! Kau melakukan salam perpisahan zaman apa tadi? Kau masih saja melakukan salam perpisahan itu?" Tanya Morgan
"Memangnya kenapa? Ada yang salah? Yang penting, bagiku itu merupakan salam perpisahan." Ujar Rumi
"Iya sih, kau tidak salah juga." Kata Morgan
"Tadi itu salam perpisahan zaman lampau saat masih terdiri kerajaan di sini, sudah lama sekali!" Ucap Chilla
Salam perpisahan yang dimaksud adalah saat Rumi mencium punggung tangan Raisa. Walau sedikit merasa aneh dan heran, tapi yang lain melihat itu suatu hal.yang biasa meski sudah ketinggalan zaman. Mereka tidak tahu... Padahal itu merupakan ungkapan suatu tindakan yang sungguh-sungguh dari seorang Rumi kepada gadis yang disukainya, yaitu Raisa!
.---..
Setelah menapaki ruang hampa antar dimensi pada portal teleportasi, Raisa pun akhirnya tiba di suatu tempat. Kaki Raisa mendarat di suatu tempat, yaitu di sebuah taman halaman kecil yang ternyata adalah halaman belakang rumahnya.
"Huh, kebagian juga deh siramin tanaman di halaman belakang ini!" Oceh seorang lelaki dengan perasaan kesalnya.
Seorang lelaki itu tak lain adalah Raihan, adik lelaki Raisa. Ia sedang diberi tugas menyirami tanaman di halaman belakang rumah oleh Sang Ibu. Ia terus mengoceh sebal karena mendapat tugas yang menghambatnya bermain.
Saat tak ada pilihan lain, Raihan yang sedang berada di belakang rumahnya itu merasakan hembusan angin yang cukup kuat dan tiba-tiba saja suatu lingkaran hitam muncul dengan ukuran yang terus membesar. Raihan terkejut, tapi ia mengetahui apa hal yang terjadi di sana dengan munculnya lingkaran hitam misterius itu. Raihan pun dengan cepat menyelesaikan tugas yang sedang dilakukannya dan bersorak berteriak dengan keras...
"Ibu, kakak pulang!" Seru Raihan berteriak dari halaman belakang.
"Ada apa sih, Raihan! Kamu kok disuruh siram tanaman malah teriak-teriak begitu? Kakakmu kan emang baru aja pulang, balik ke rumah suaminya barusan tadi." Ujar Sang Ibu, Bu Vani.
Raihan terus berteriak memberi tahu Sang Ibu. Dan akhirnya, lingkaran hitam yang muncul dengan misterius itu membawa ke luar seseorang dari dalamnya. Alias seseorang ke luar dari lingkaran hitam tersebut~
Mendapat teriakan terus menerus dari putranya, Sang Ibu baru menyadari suatu hal!
Putrinya, kakak dari Raihan, Raina memaang baru saja pulang bersama sang anak ke rumah suaminya setelah bermain di rumah mereka. Tapi, Raihan terus berseru kakaknya pulang. Mungkin bukan memberi tahu tentang Raina, melainkan Raisa! Satu kakak perempuannya yang lain.
"Raihan, maksudmu yang pulang itu kakakmu yang mana?" Tanya Bu Vani
"Ibu, Bapak... Kak Raisa, pulang!" Sorak Raihan
Bersamaan Raihan yang bersorak atas kedatangannya, Raisa pun ke luar dari sihir portal teleportasj yang dibuatnya sendiri...
__ADS_1
"Semuanya, Raisa pulang!" Seru Raisa
Ibu pun akhirnya beralih menuju halaman belakang rumah. Di sana tak hanya ada Raihan, tapi juga mendapati kedatangan Raisa.
Raisa meletakkan koper yang dibawanya dan menghampiri Sang Ibu untuk merengkuh tubuh seorang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu. Raisa memeluk tubuh Bu Vani.
"Bu, Raisa udah pulang. Raisa pulang tepat waktu kan?" Ujar Raisa
Bu Vani pun melepaskan pelukan dari putrinya agar bisa menatap putrinya dengan jelas.
"Ya, kamu menepati janjimu." Kata Bu Vani
"Bapak mana, Bu?" Tanya Raisa
"Bapak baru aja izin ke bengkel mau servis mobil." Jawab Bu Vani
"Raihan, tolong bantu bawain koper kakakke dalam ya. Ga berat kok, nanti baru oleh-oleh buat kamu kakak kasih." Ucap Raisa
"Yeay, oleh-oleh!" Girang Raihan yang langsung menuruti permintaan kakaknya untuk membawakan koper ke dalam rumah.
"Kakak tau, kamu pasti usah ga sabar mau terima oleh-oleh. Yuk, kita masuk dulu." Kata Raisa
Raisa pun masuk ke dalam rumah bersama Ibunya dan Raihan mengikuti mereka berdua dari belakang dengan menarik tas koper milik kakaknya itu.
"Sayang banget, kamu baru datang. Belum lama tadi kakakmu sama Farah balik pulang ke rumahnya." Ungkap Bu Vani
"Wah, sayang dong! Padahal aku juga punya oleh-oleh untuk Kak Raina dan Farah, buat Kak Arka juga ada." Ujar Raisa
"Kalau oleh-oleh yang buat Raihan mana, kak?" Tanya Raihan
"Ada kok. Sini, kamu..." Kata Raisa
"Asik!" Girang Raihan
Raisa, Raihan, dan Bu Vani pun singgah di ruang tamu untuk berbincang.
"Di mana oleh-oleh untuk Raihan? Di dalam tas yang manq?" Tanya Raihan yang terus menanti dengan tidak sabar.
"Ga ada di ketiga tas itu. Ada di sini!" Jawab Raisa
Raisa pun menjulurkan tangannya dan dari tangan kanannya pun ke luar beberapa bingkisan yang di antaranya adalah buah tangan untuk keluarganya termasuk untuk Raihan.
"Itu yang bingkisan warna merah untuk kamu, Raihan." Ucap Raisa
"Wah, keren! Terima kasih, kakakku!" Kata Raihan
"Ngomong-ngomong, yang tadi itu sihir apa?" Lanjut Raihan, bertanya.
"Barusan tadi itu sihir penyimpanan dari lambang sihir di telapak tangan kakak." Jawab Raisa
"Kamu pakai sihir itu lagi, Raisa?" Tanya Bu Vani
"Iya, Bu. Gapapa kok, aku kuat. Biar terbiasa juga." Jawab Raisa
"Loh, emangnya kenapa? Ada masalah?" Tanya Raihan
"Sihir penyimpanan bisa menguras tenaga yang lumayan banyak tergantung jumlah dan beban penyimpanannya. Termasuk sihir tingkat lanjut, tapi sihir yang umum digunakan. Makanya, kakak harus terbiasa dengan sihir ini." Jelas Raisa
"Oh, begitu. Kalau kakak bilang bisa, Kak Raisa pasti emang mampu. Gapapa, jangan khawatir, Bu." Ujar Raihan
"Benar sekali!" Sambar Raisa
"Sekali lagi, terima kasih buat oleh-olehnya ya, kak. Tanaman di halaman belakang juga udah selesai Raihan siram ya, Bu. Raihan mau masuk kamar dulu." Ucap Raihan
Raihan pun melenggang pergi menuju kamar pribadinya...
Di hari itu, Raisa kembali dari liburannya di dunia lain di dimensi yang berbeda ke dunia asalnya sendiri. Ia pulang ke rumah orangtuanya, tempatnya selama ini tinggal dan dibesarkan.
Setelah pulang, Raisa terus mempersiapkan diri untuk ujian kelulusannya selama masih hari-hati liburnya bersisa. Ia terus belajar dengan rajin. Dengan penuh semangat ia terus belajar untuk mendapat hasil yang dapat memuaskannya. Ia belajar dengan mengingat yang telah diajarkan padanya, baik itu oleh gurunya, orangtuanya, sesama teman atau bahkan teman spesialnya di dunia lain berbeda dimensi itu.
Tak hanya dihabiskan dengan belajar, Raisa juga berkumpul dengan keluarganya. Sesekali kakak, kakak ipar, dan keponakannya berkunjung. Tak jarang ia juga bercerita pengalamannya berlibur di dunia berbeda dimensi itu. Menceritakan hal yang memang perlu, sesuatu yang tidak perlu tak perlu untuk diceritakan, lebih baik disimpan dalam hati...
Saat hari libur telah berakhir, waktu sekolah pun tiba. Itu artinya ujian kelulusan akan segera berlangsung.
Raisa kembali bersekolah, ia berangkat dengan semangatnya di pagi hari. Dengan keyakinannya yang positif, ia akan bersungguh-sungguh saat ujian berlangsung nanti. dDengan persiapannya yang dirasa telah matang, ia yakin semua dapat dilewatinya dengan mudah.
.
__ADS_1
•
Bersambung...