Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 36 - Amon Ada Benarnya.


__ADS_3

Raisa tersenyum simpul. Namun, sebenarnya ia sedang merenung dalam diam. Ia memikirkan kata-kata Amon sebelumnya yang terdengar cukup masuk akal.


..."Ucapan Amon ada benarnya juga. Masih belum tentu hubunganku dan Rumi akan terus terjalin sampai akhir. Belum tentu kisah kami tidak sama dengan kisah tragis Romeo dan Juliet, karena mungkin saja hubungan kami akan terhalang oleh restu keluargaku. Entah aku bisa banyak berharap atau tidak. Aku hanya bisa menjalani semuanya dengan apa adanya," batin Raisa...


"Jangan bahas kisah tragis lagi. Lebih baik ceritakan hal yang seru dan menyenangkan saat sedang berkumpul seperti ini," kata Sandra


"Baiklah. Siapa yang masih ingin bertanya lagi. Silakan saja," ujar Raisa


"Saat di acara amal tadi, kami banyak mendengar hal ini ... tentang si R, nama aslinya, dia pacarmu atau bukan. Bukankah yang dibicarakan itu adalah Rumi? Kau dan Rumi secara tak langsung mengungkapkan hubungan kalian berdua dengan memakai pakaian yang berwarna sama, tapi apa sebenarnya kau tak berniat mengungkapkan hubungan kalian berdua secara langsung pada publik, Raisa?" tanya Chilla


Raisa terdiam. Yang awalnya mereka menatap tajam ke arah Amon yang bicara sembarangan tentang hubungan Raisa dan Rumi, lini mereka berbalik menatap ke arah Chilla yang malah menanyakan hal yang mungkin membuat Raisa dan Rumi merasa sedih. Padahal pembahasan hal yang kurang mengenakkan sebelumnya sudah diakhiri. Sekarang malah ingin membahas hal baru yang tak jauh berbeda dan berpotensi menyinggung perasaan.


"Kenapa pada menatapku seperti itu? Aku hanya bertanya dan ingin tahu saja," kata Chilla yang sadar akan maksud tatapan teman-teman padanya.


Raisa menghela nafas pelan. Meski enggan, mau tak mau ia harus memberi penjelasan setelah Chilla bertanya. Raisa berpikir sendiri, apakah yang akan ia ucapkan setelah ini adalah penjelasan atau hanya alasan? Entahlah. Yang ia tahu, sekarang ia harus bicara supaya bisa memuaskan opini teman-teman padanya.


"Aku tahu pasti akan ada banyak yang bertanya tentang ini. Sebenarnya itu hanya keputusanku, itu saja. Tapi, kalau harus memberi penjelasan ... alasanku adalah aku belum mengungkap tentang Rumi pada khalayak karena ingin publik mengetahui dan mengenal dulu sosok Rumi apa secara langsung bukan hanya aku yang mendeskripsikan tentangnya. Tapi, karena sebelumnya Rumi dan aku terus tinggal di dunia masing-masing, jadi aku hanya bisa mengatakan bahwa aku punya seseorang yang kusuka dan inisialnya adalah R yang asalnya dari jauh," ungkap Raisa


"Alasanku ingin publik mengetahui dan mengenal sosok Rumi secara langsung adalah jika hanya aku memberikan deskripsi ciri-ciri dari sosok dan sifat Rumi ... yang ada mereka hanya akan menebak-nebak siapa dan seperti apa orangnya, terkadang juga mereka malah akan bicara sembarangan tentangnya. Akhirnya mereka malah asal bicara dan menjodohkanku dengan si ini dan itu. Aku tidak mau seperti itu," sambung Raisa menjelaskan.


"Alu mengerti. Tapi, kalau memang maksudmu seperti itu ... kenapa kau tidak mengungkapkan nama asli si R adalah Rumi? Maka, orang-orang tidak akan asal menjodoh-jodohkanmu dan bicara sembarangan tentang Rumi," ujar Chilla


"Eh, iya ... benar juga. Kok aku tidak pernah berpikir sampai sana, ya?" Raisa bingung sendiri.


"Lho, memangnya selama ini kau berpikir seperti apa untuk mengungkap hubungan asmaramu sendiri?" tanya Chilla


"Aku hanya terfokus pada ingin publik mengetahui dan mengenal Rumi secara langsung lebih dulu. Tapi, aku salah sudah merahasiakan tentang Rumi," jawab Raisa


"Benarkah seperti itu, Raisa?" tanya Rumi


"Tentu saja. Apa kau menganggapnya lain? Apa kau meragukan ... aku? Wah ... ternyata kau seperti itu," ujar Raisa


"Tidak ... bukan maksudku seperti itu. Maaf, Raisa." kata Rumi yang langsung memeluk Raisa dari samping.


..."Akulah yang salah karena meragukan hubungan kita sebelumnya. Sekarang, aku tidak akan seperti itu lagi. Meski kita hanya menjalin hubungan tanpa status, kini aku tidak pernah ragu lagi seperti dulu," batin Raisa...


"Raisa, kau ini bagaimana, sih? Itu namanya kau sama sekali tidak fokus," kata Devan


"Atau sebenarnya kau malah tidak ingin mengungkapkan tentang hubungan asmaramu sama sekali? Kalau tidak ingin diungkap, lebih baik dirahasiakan saja sepenuhnya. Untuk apa repot-repot segala," ujar Amon


Semua pun kembali menatap tajam ke arah Amon.


"Apa? Ya, ya ... maaf. Aku sudah salah bicara lagi." Amon sadar diri untuk langsung meminta maaf karena kata-katanya yang menyinggung.


"Sebaiknya kau diam saja, Amon. Kau selalu merusak suasana saat kau bicara," kata Wanda


..."Kali ini pun ucapan Amon ada benarnya juga. Harusnya jika tidak mau mengungkap, sebaiknya rahasiakan saja sepenuhnya. Jadi, aku tidak perlu memberi banyak penjelasan pada siapa pun dan mungkin akan semakin sedikit rasa sedih yang dirasakan. Memang akulah yang kurang tegas," batin Raisa...


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Raisa?" tanya Chilla


"Soal apa?" tanya balik Raisa


"Yang sedang kita bahas saat ini ... soal mempublikasikan hubunganmu dan Rumi," ujar Chilla


"Reporter yang penasaran dan butuh informasi tentangku pasti akan datang dan bertanya lagi. Saat itu aku hanya tinggal menjelaskan saja. Atau aku akan beri klarifikasi lebih dulu lewat sosial media atau internet," jawab Raisa atas pertanyaan Chilla sebelumnya.


"Ya, bagus. Memang lebih baik seperti itu," kata Chilla seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kau sudah membintagi acara besar hari ini, Raisa. Jadwalmu selanjutnya masih ada apa lagi?" tanya Aqila


"Aku masih belum tahu. Minggu ini ... karena acara hari ini jadwalku dikosongkan sampai besok kecuali pemotretan di studio milik Daffa. Harusnya sudah ada jadwal baru besok lusa, tapi temanku, Nilam belum memberitahu padaku lagi karena sebelumnya ingin aku fokus dulu pada acara hari ini," jawab Raisa


"Katamu jadwalmu kosong sampai besok? Tapi, apa kau melakukan pemotretan setiap hari?" tanya Morgan


"Tidak. Aku hanya melakukan pemotretan tiga hari dalam seminggu. Yaitu, pada hari Senin, Selasa, dan Sabtu," jawab Raisa

__ADS_1


"Itu masih di akhir pekan nanti. Masih cukup lama," kata Ian


"Berharap tidak akan bertemu dengan Lina lagi di akhir pekan nanti," kata Billy


"Apa jadwal pemotretanmu sama dengan Lina, makanya kalian selalu bertemu?" tanya Marcel


"Aku tidak tahu. Yang memutuskan jadwal dan siapa yang akan melakukan pemotretan adalah Daffa. Aku dan pihakku hanya menyesuaikan jadwal pemotretanku dengan jadwal lain yang kupunya. Lina adalah model resmi yang baru. Kesamaan jadwal bukanlah kesengajaan," jawab Raisa


"Apa kalian sangat tidak menyukai Lina?" tanya Raisa


"YA!" Semua serempak menjawab.


"Baiklah. Kalau begitu, kita tidak usah membahas tentangnya lagi," ujar Raisa


Setelah mengobrol banyak bersama-sama, akhirnya mereka membubarkan diri. Ada yang asik makan camilan, beberapa orang bermain, pergi berpacaran, dan lain-lain.


Raisa malah masuk ke dalam kamarnya di vila tersebut. Saat itu, Rumi menghampiri Raisa di kamarnya.


"Raisa, apa aku mengganggumu?" tanya Rumi saat masuk menemui Raisa ke dalam kamarnya.


Raisa menggeleng pelan sambil tersenyum lembut.


"Aku ingin mengobrol berdua saja denganmu, makanya aku datang ke sini," ungkap Rumi


"Kalau begitu, masuklah ... " Raisa mempersilakan Rumi masuk ke dalam kamarnya.


"Kau duduk saja dulu di sofa itu," kata Raisa


Rumi mengikuti kata Raisa dan duduk di sofa yang ada di kamar utama di vila tersebut. Sedangkan Raisa menutup pintu kamarnya. Namun, jendala kamar itu dibiarkan terbuka lebar.


"Apa alu harus mengambil camilan dan minuman dulu dari dapur untuk kita berdua?" tanya Raisa


"Tidak perlu. Kau duduk saja di sini," jawab Rumi


"Langsung katakan saja yang ingin kau bicarakan," kata Raisa


"Soal klarifikasi-"


"Kau masih mau membahas soal itu?" tanya Raisa


Rumi mengangguk.


"Aku ingin dengar lebih banyak soal itu, tapi kalau kau merasa terbebani ... tidak perlu diklarifikasi juga tidak apa," ucap Rumi


"Kau sudah bertanya sekali tadi dan kau yang ingin dengar lebih banyak dariku menandakan kau masih belum puas dengan tindakanku. Makanya, aku ingin klarifikasi saja," ujar Raisa


"Aku hanya tidak ingin itu menjadi bebanmu. Dibiarkan juga tidak apa," kata Rumi


"Tapi, hanya kau yang selalu mengalah kalau seperti itu. Jadi, aku akan tetap klarifikasi. Namun, itu terserah padaku mau beri klarigikasi seperti apa. Kau ingin tahu aku akan mengatakan apa nantinya?" tanya Raisa


Rumi mengangguk.


"Saat mereka bertanya siapa R, aku akan mengungkap namamu. Saat ditanya apa itu adalah lelaki yang kubawa ke acara amal yang berada di sampingku, aku akan mengakuinya. Saat ditanya tentang hubungan kita, aku akan menjawab jujur bahwa kita menjalin hubungan tanpa status. Dan aku akan menambahkan penjelasan lainnya," ungkap Raisa


"Sebenarnya aku memang sempat sedikit ragu karena bagaimana pun juga hubungan kita tidak lagi seperti dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Namun, aku ingin mengakui dengan jujur seperti apa hubungan kita sekarang," sambung Raisa


Raisa pun menoleh dan menatap Rumi.


"Sampai sekarang teman-teman masih belum tahu kalau kita berdua sudah putus, kan? Apa kita beritahu pada mereka saja?" tanya Raisa


"Tidak, biarkan saja. Aku ingin mereka hanya tahu hubungan kita yang seperti dulu," jawab Rumi


"Tapi, aku akan bingunng harus menjelaskan seperti apa jika mereka bertanya padaku lagi," ujar Raisa


"Soal itu biar aku saja yang mengatasinya dan bicara pada yang lain," kata Rumi

__ADS_1


"Apa kau masih merasa belum puas dengan keputusanku kali ini? Kau pasti merasa sangat kecewa padaku, kan?" tanya Raisa


"Aku tidak bilang seperti itu. Aku sudah merasa senang dengan maksudmu yang mengatakan kau suka padaku, si R itu. Kau juga hendak mengungkap namaku. Aku sudah cukup puas dengan itu," jawab Rumi


"Benarkah?" tanya Raisa ingin lebih meyakinkan.


"Aku sungguh-sungguh," jawab Rumi


Rumi memeluk pinggang Raisa dari belakang yang berada tepat di sampingnya dan menaruh kepala Raisa agar bersandar pada bahunya.


"Raisa, jangan berkorban untukku dan teruslah ada bersamaku," pinta Rumi


"Aku akan selalu ada dan tetap ingin berkorban untukmu. Jangan khawatir karena aku punya kemampuan untuk itu," ujar Raisa


"Rumi, aku punya alasan untuk melakukan itu dengan berani. Karena aku memiliki takdir bintang phoenix. Dengan takdir ini membuatku punya kemampuan untuk mengubah jalan takdir. Aku baru menyadarinya belum lama ini bahwa aku selalu menjadi orang yang beruntung dan aku sangat bersyukur tentang itu," sambung Raisa


"Teruslah simpan keberuntungan itu untuk dirimu sendiri. Kau jangan sembarangan menggunakan kemampuan itu karena mungkin bisa membahayakanmu atau mengikis keberuntungan milikmu itu," ucap Rumi


"Demi kebaikan, terkadang perubahan yang ekstrim juga diperlukan dan aku ada dan ditakdirkan untuk melakukan itu. Namun, perubahan yang ekstrim diperlukan untuk mengatasi hal yang ekstrim pula. Akan lebih baik jika tidak ada hal-hal yang ekstrim seperti tindak kejahatan. Lalu, kita hanya perlu berjuang dan bekerja sama supaya bisa mendapat hasil seperti yang kita inginkan," tutur Raisa


"Kalau begitu, kita bisa terus bersama sampai akhir," ujar Rumi


"Benar," kata Raisa menyahuti.


Setelah kemampuan sihirnya kembali pasca trauma dan bicara banyak dengan Sang Phoenix setelahnya, Raisa memang baru tahu dan menyadari bahwa ia memiliki keberuntungan yang istimewa. Yaitu, Takdir Bintang Phoenix. Itu adalah kemampuan yang memungkinkannya untuk bisa mengubah jalan takdir seseorang atau banyak orang, bahkan dunia sekali pun.


Saat itu, Raisa dan Rumi saling menatap satu sama lain. Lalu, bergerak mendekat satu sama lain. Dalam posisi seperti itu, keduanya berciuman mesra.


Rumi menyentuh pipi halus Raisa.


Raisa menaruh tangannya pada dada Rumi.


Ciuman keduanya semakin mendalam hingga mampu mengabsen isi mulut satu sama lain. Keduanya saling membalas kecupan dan ciuman serta saling membagi nafas satu sama lain. Ciuman itu berlangsung cukup lama dan kian memanas. Hingga Rumi menahan tengkuk Raisa untuk memperdalam ciuman mereka dan Raisa meremas pakaian bagian depan milik Rumi.


Saat keduanya merasa telah kehabisan nafas, mereka pun melepas pagutan masing-masing dan saling bergerak menjauh. Keduanya pun saling membagi senyuman. Rumi pun mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya.


"Aku mencintaimu," ungkap Rumi


"Aku mencintaimu juga," balas Raisa


Raisa pun melingkarkan satu tangannya dari arah depan perut Rumi hingga memeluk ke belakang pinggang lelaki itu. Raisa juga membenamkan wajahnya pada dada Rumi karena masih merasa malu-malu dan berniat untuk istirahat dalam dekapan lelaki itu.


"Apa kau merasa lelah, Raisa?" tanya Rumi


Raisa mengangguk kecil dalam dekapan Rumi.


"Sedikit. Aku ingin berada dalam pelukanmu lebih lama," jawab Raisa


"Kalau begitu, istirahatlah dan pejamkan matamu. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur," ujar Rumi


Raisa pun mulai memejamkan matanya. Satu tangan Rumi digunakan untuk memeluk tubuh Raisa dan tangan lainnya digunakan untuk membelai lembut puncak kepala serta rambut Raisa secara perlahan. Seolah sedang menina-bobokan gadis tercintanya, Rumi juga bersenandung pelan demi menghantarkan Raisa ke dalam dunia mimpi yang indah.


Perlahan, Rumi merasakan dan mendengar deru nafas Raisa berhembus teratur. Saat dirasa kekasih cantiknya itu sudah tertidur, Rumi pun bergerak menggendong tubuh Raisa ala bridal style dan membaringkannya di atas ranjang di dalam kamar tersebut.


Rumi membenarkan posisi tidur Raisa sampai menyelimuti tubuh gadis itu. Rumi pun membelai pipi mulus dan rambut halus milik Raisa. Tak lupa, Rumi juga mengecup kening Raisa dengan lembut dan mesra.


"Selamat istirahat, Sayangku. Jangan lupa mimpikan aku dalam tidur lelapmu. Sampai jumpa lagi nanti," bisik Rumi dengan suara paling rendah miliknya.


Rumi pun beralih menutup jendela kamar Raisa dan beranjak pergi meninggalkan kamar tersebut. Tak lupa, ia juga menutup pintu kamar tersebut setelah ke luar dari sana.


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2