Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
114 - Berlatih Berkuda.


__ADS_3

Raisa pun memilih kudanya sendiri. Apa pun jenisnya yang penting adalah pelari cepat, gagah, dan cantik!


Setelah menemukan kuda pilihannya, Raisa pun beranjak mengajak kuda tersebut untuk dipasangkan pelana. Setelah itu, Raisa juga langsung menunggang ke atas kuda untuk pergi ke lapangan latihan berkuda bersama yang lainnya...


Saat tiba di lapangan, dilihatnya semua temannya sudah mulai berlatih dengan beberapa pelatih terbaik di sana. Mereka semua terkagum saat melihat Raisa ke luar dari arah kandang sudah dengan berjalan menunggangi kudanya sendiri.


"Wah, Raisa! Kau sudah langsung bisa menungganginya?" Tanya Amy yang terkagum melihat Raisa yang sudah berada di atas punggung kuda yang berjalan ke sana.


"Ah, iya juga! Aku pun tidak sadar!" Kata Raisa


"Bagaimana bisa kau tidak sadar saat sudah menaiki kuda itu?" Tanya Chilla


"Awalnya, aku hanya tidak sabar saja, lalu aku naik ke atas punggungnya. Aku hanya tidak menyangka saja kuda ini sangat bersahabat dan menurutiku. Itu maksudku, aku tidak sadar jika sudah langsung ada di sini karena terlalu senang." Jawab Raisa


"Eh, si Eneng masih pemula juga? Akang kira teh udah mahir." Ujar salah satu pelatih di sana.


"Enggak, Kang. Baru pertama kali naik kuda lagi setelah sekian lama." Kata Raisa


Kuda pilihan yang Raisa tunggangi memiliki warna tubuh coklat dengan setiap pergelangan kakinya berwarna putih dan juga bercak corak berwarna putih menghiasi dahi sampai ke sebatas hidungnya, dengan ekor coklat yang lebih gelap dari pada warna kulitnya. Kuda yang terlihat anggun dan cantik juga tetap terlihat gagah.


"Kau terlihat anggun menaiki kuda pilihanmu itu, Raisa." Puji Rumi


"Yang anggun itu, aku atau kudanya?" Tanya Raisa


"Kau yang cantik jadi terlihat semakin anggun saat berada di atas punggung kuda yang anggun juga." Jawab Rumi


"Tentu saja, terima kasih. Aku pandai memilih sahabat kudaku ini kan? Terlihat cantik bukan?" Ujar Raisa


"Tentu, kau jauh lebih cantik!" Puji Rumi


"Bagaimana bisa kuda pilihanmu sangat penurut, Raisa? Kudaku sama sekali tidak mau diajak untuk jalan satu langkah pun!" Heran Morgan


"Kuda pilihanmu sepertinya sama angkuhnya dengan dirimu, Morgan. Apa karena nama kalian sama? Meski pun hewan, kuda tetap adalah makhluk hidup yang punya perasaan. Kuncinya, kau harus bersikap baik! Terserah kau mau bagaimana cara menyampaikan sikap, kuda juga pasti bisa mengerti. Bukankah sebelum ini kau juga pernah menakhlukkan hewan yang sama arogannya seperti dirimu? Hewan itu bahkan lebih buas kan?" Ujar Raisa


"Ah, aku mengerti! Kau juga tahu kisah itu, ternyata! Terima kasih atas petunjuk darimu!" Kata Morgan


"Kalau cara pikirmu seperti itu, apa itu artinya kau akan bisa mudah akrab dengan seluruh makhluk hidup, Raisa?" Tanya Aqila


"Entahlah, mungkin... Aku sih berharap akan bisa seperti itu." Jawab Raisa


"Ah, aku juga ingin sepertimu, Raisa! Harus belajar lebih dulu itu merepotkan! Aku ingin bisa langsung memacu kuda pilihanku ini dengan cepat!" Ucap Devan


"Kalau begitu, kau harus lebih menyampaikan maksud perasaanmu pada kuda pilihanmu itu. Lakukanlah pendekatan terlebih dulu, jika kau dan kuda itu sudah saling memahami kemungkinan kudamu akan menuruti kemauanmu." Saran Raisa


"Begitukah? Kalau begitu akan langsung kucoba sesuai saranmu. Terima kasih." Ujar Devan


"Ah, haha. Aku juga hanya asal bicara sih. Tapi, itulah yang kurasakan dan kupikir itu patut untuk dicoba." Kata Raisa


"Jika, ingin menarik kesimpulan melakukan pendekatan dengan si pelari atau kuda itu sendiri memang begitu mudah. Tapi, melakukannya tidak semudah seperti yang dibicarakan. Setiap hewan memiliki instingnya sendiri dan sulit diatur. Itulah yang membuat sulit melakukan pendekatan sampai ke tahap akhir, yaitu saling memahami." Ucap Pak Wisnu


Sementara yang lain mulai berlatih, Raisa malah beranjak turun dari punggung kuda.


"Semuanya sudah mulai berlatih. Kenapa kau malah turun dari kudamu, Raisa?" Tanya Ian


"Aku membiarkan kalian latihan terlebih dulu, aku terakhir saja." Jawab Raisa


"Apa kau merasa walau melakukannya terakhir, kau akan jadi pertama yang menguasai cara berkuda?" Tanya Ian


"Haha, mungkin... Aku hanya ingin melakukan pendekatan saja kok." Kata Raisa


Yang lain mulai berlatih. Berawal dari menuntun kuda berjalan dengan memegang tali pengekang, berjalan santai menunggang kuda dari tetap dijaga pelatih sampai dilepas menunggang sendiri perlahan-lahan. Sedangkan Raisa, sibuk menyisiri rambut kuda pilihannya, mengusap dan memanjakan kuda, sesekali memeluk kuda, seraya juga bersenandung ria. Semua itu Raisa lakukan demi tahap pendekatan dengan kuda pilihannya itu...


Di tengah waktu latihan, barisan kuda yang mengelilingi lapangan itu buyar dan bubar begitu saja karena rentetan kesalahan yang dilakukan salah satu penunggang kuda, yaitu Marcel. Semua kuda menepi ke pinggir lapangan, kecuali kuda Marcel yang mulai tak terkendali.


"Marcel, kau kenapa? Kenapa kudamu tidak stabil begitu?" Tanya Sandra


"Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena aku terlalu gugup..." Jawab Marcel yang ternyata gangguan gugupnya kambuh kembali.


"Di saat seperti ini kegugupanmu muncul lagi? Kendalikanlah dirimu, Marcel! Akan bahaya jadinya jika kudamu juga jadi hilang kendali!" Ujar Billy


"Kau bicara seperti itu, aku jadi tambah gugup!" Kata Marcel


"Tenanglah, Marcel... Kudamu jadi panik!" Kata Dennis yang mendekati kuda tunggangan Marcel.


Seolah sedang menenangkan, Dennis mengulurkan satu tangannya dengan sangat hati-hati dan perlahan terus mendekat. Saat kuda mulai merasa tenang, Dennis pun menjamah kepala kuda dan mengusapnya perlahan untuk menyalurkan perasaannya yang tenang. Saat kuda sudah sepenuhnya tenang, Marcel pun turun dari atas punggung kuda tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak jadi menunggang kuda. Rencana kali ini gagal!" Kata Marcel


Setelah Marcel turun dari atas punggung kuda, kini berganti Dennis yang nenaiki kuda pilihan Marcel itu...


"Lihatlah, Marcel. Ingin menunggang kuda, kau harus tenang. Ingat juga seperti kata Raisa tadi karena kuda pun akan merasakan yang kau rasa, ini seperti soal penyampaian perasaan. Jika begini, maka kau akan bisa." Ujar Dennis yang sudah berada di atas punggung kuda dengan tetap mengusap lembut kepala kuda tersebut.


"Sepertinya Marcel yang akan menumpang menaiki kuda tunggangan Dennis. Padahal Marcel yang memilih kudanya, tapi malah Dennis yang menungganginya." Ucap Wanda


"Itu juga bagus! Aku akan menumpang naik kuda berdua denganmu saja, Dennis." Ujar Marcel


"Kuda itu mau menurut dengan Dennis!" Kata Amy


"Bagus sekali, Dennis!" Puji Raisa


"Ini juga karena aku ingat kata-katamu tadi, Raisa. Sekarang giliranmu yang berlatih dengan kuda pilihanmu itu!" Kata Dennis


Dennis pun ikut menepikan kuda itu ke pinggir lapangan seperti yang lain untuk memberi kesempatan Raisa berlatih dengan kuda pilihannya...


"Baiklah! Apa kau siap, Putri?" Ujar Raisa yang berbicara dengan kuda pilihannya yang memang bernama Putri. Nama tersebut pemberian pemilik peternakan kuda tersebut.


Khiiekkk!~~


Seolah mengerti sedang diajak bicara, kuda bernama Putri itu pun menyahut dengan suara khasnya...


Raisa pun menaiki punggung kuda pilihannya tersebut dan memengang tali kendali dengan erat. Setelah itu, Raisa pun menggoyang pelan tali kendali kudanya dan kuda tersebut pun mulai berjalan pelan di bawah kendali Raisa...


"Bagus, Neng! Terusin... Tetap seimbang dan tetap tenang." Kata Pak Wisnu


"Kau dengar itu, Putri? Kerja bagus! Tetap tenang dan teruslah berjalan... Tunjukkan pada yang lain bahwa kau adalah kuda pilihanku yang terbaik!" Gumam pelan Raisa mengajak kudanya berbicara.


Setelah mengelilingi lapangan beberapa putaran...


"Bisakah kau lebih cepat dari ini?" Gumam Raisa bertanya.


Raisa pun mengibaskan tali kendali kudanya sedikit lebih kuat dan Putri pun mulai menaikan kecepatannya menjadi berlari!


Hiyaaatt!!


Khiiekkk!~~


"Baik!" Sahut Raisa berteriak.


Melihat Raisa yang begitu asik berkuda, Rumi pun ikut mengibaskan tali kendali kudanya dan kudanya pun mulai berlari menghampiri dan mensejajarkan diri dengan kuda tunggangan Raisa~


"Hai, Raisa!" Panggil Rumi


Sekilas Raisa menoleh pada keberadaan kuda pilihan Rumi yang berlari mengejar kudanya.


"Rumi... Inilah maksud hal yang kunantikan! Kau juga merasakannya bukan? Berlari dengan bebas sambil menunggang kuda itu sangat menyenangkan!" Ujar Raisa


"Kau benar! Tapi, ayo kita lihat! Apa kau bisa menyaingi kecepatan kuda pilihanku? Kata Paman Wisnu, ini adalah kuda Arab yang larinya cepat!" Kata Rumi yang menantang Raisa dan kuda pilihannya.


Rumi pun menambah kecepatan berlari kuda pilihannya dengan memacunya!~ Posisi Rumi pun mendahului Raisa...


"Kau punya keberanian juga, rupanya! Kau menantangku?! Maka, aku tidak akan segan! Putri, ayo! Kita kejar dan dahului mereka!" Balas Raisa menerima tantangan Rumi.


Raisa pun ikut memacu kudanya dengan cepat agar dapat menyusul dan mendahului posisi Rumi~~


"Kalian berdua berhati-hatilah, Raisa, Rumi!" Teriak Dennis


"Aduh, ada apa kedua pemula ini?! Kenapa mereka berdua malah balapan dan saling memacu kuda?!!" Cemas Pak Wisnu


"Keren sekali!" Kagum Amy


"Tak kusangka mereka berdua benar-benar gila!" Kata Ian


"Buat orang lain khawatir saja. Merepotkan sekali!" Ujar Devan


Melihat ekspresi wajah Raisa yang sangat bahagia dan tersenyum lebar dengan bebas membuat Rumi juga merasa kebahagiaan yang sama. Tanpa disadari, Rumi pun tersenyum melihat wajah cantik Raisa yang terlihat sangat ceria dan gembira itu...


"Walau aku tidak punya pengalaman berkuda, tapi aku tahu kau pun sama sepertiku. Jadi, aku tidak akan mungkin mengalah begitu saja darimu, Rumi! Lihatlah saja, aku yang akan menang!" Ucap Raisa yang berhasil mengejar ketertinggalan dengan menyusul dan mensejajarkan posisi kudanya dengan kuda milik Rumi.


Setelah berkata seperti itu tepat di samping posisi kuda Rumi yang berlari, Raisa pun menambah kecepatan dengan memacu kembali kudanya yang berlari dan terus bertambah cepat...


Raisa pun berhasil kembali mendahului posisi Rumi~~

__ADS_1


Setelah terus berada di posisi unggul di beberapa putaran, Raisa pun memutuskan untuk berhenti di putaran kali ini yang dijadikannya sebagai putaran terakhir. Telah mantap untuk berhenti, Raisa pun menarik tali kendali kudanya dengan kencang!


Khiiekkk!!~~


Lengkingan suara kuda itu menandakan berakhirnya lomba antara Raisa dan Rumi. Dengan Raisa yang terus unggul dan mendahului dan Rausa pula yang lebih dulu menghentikan laju kudanya.


"Yeay, aku menang!!" Sorak Raisa dengan girang.


Setelah melihat Raisa berhenti, Rumi pun ikut menghentikan laju kudanya setelah itu...


"Sudah diputuskan aku pemenangnya ya...! Karena kau terus tertinggal di belakang selama beberapa putaran." Ucap Raisa


"Iya, aku sudah kalah darimu. Kau hebat sekali, Raisa!" Kata Rumi


Setelah Raisa dan Rumi sama-sama berhenti, Pak Wisnu pun datang mendekati keduanya...


"Aduh, Eneng, Aden! Bikin saya takut aja... Kalau sampai terjadi apa-apa bagaimana atuh?" Tegur Pak Danu


"Maaf deh, Pak. Khilaf nih karena terlalu asik... Tapi, tenang aja. Kalau sampai misalkan ada apa-apa sama teman saya atau kudanya, saya yang tanggung kok, Pak. Kan saya akan bayar semua biaya belajar dan sewa kudanya. Sekali lagi, maaf ya, Pak." Ujar Raisa


"Kalau begitu, untuk Neng Raisa dan Den Rumi, bisa istirahat dulu karena mungkin kudanya pun butuh istirahat. Kalian bisa istirahat sambil tolong kasih makan kudanya ya. Kalian bisa ikut sama Kang Arif untuk sama-sama istirahat bareng kudanya juga." Ucap Pak Wisnu


"Ayo, Neng, Den, ikut saya." Kata Kang Arif


"Baik, Kang." Patuh Raisa


Raisa dan Rumi pun mengikuti Kang Arif sambil membawa kuda pilihan mereka dengan menarik tali pengekangnya. Mereka mencari tempat lain yang sedikit lebih jauh dari lapangan berlatih membiarkan yang lainnya berlatih tanpa kedua pemula hebat ini.


Sementara yang lainnya berlatih bersama pelatih, Raisa dan Rumi bersama kedua kuda pilihan mereka pun beristirahat, sedangkan Kang Arif sedang mengambilkan makanan untuk para kuda. Setelah datang kembali, Kang Arif membagikan pakan untuk kuda pilihan Raisa dan Rumi juga tak lupa menyisakan beberapa bagian pakan untuk kuda lainnya saat mereka istirahat nanti.


"Semua kuda di sini biasanya makan apa aja, Kang?" Tanya Raisa


"Biasanya sih makan rumput segar yang dipilihkan langsung, tapi bisa juga makan yang lain kayak wortel, atau buah lain kayak apel atau lainnya." Jawab Kang Arif


"Kalau lain kali saya main lagi ke sini bawa makanan sendiri untuk dikasih kuda di sini boleh gak, Kang?" Tanya Raisa


"Kalau soal itu saya gak tahu, Neng bisa tanya atau minta izinnya ke Pak Wisnu. Saya cuma pengurus bukan penanggung jawab atau pemilik di sini, tapi kalau makanan yang Neng bawa sesuai dengan yang biasa ada di sini dan sudah terjamin bersih mungkin diperbolehkan." Jawab Kang Arif


"Iya juga sih. Demi kesehatan semua kudanya pasti makan pun harus dijaga ya." Ujar Raisa


"Iya, Neng. Kalau begitu, saya permisi bantu Pak Wisnu melatih yang lain dulu. Ini juga ada wortel kalau Neng dan Aden mau coba kasih makan sendiri kudanya." Ucap Kang Arif seraya memberikan sekantong wortel pada Raisa.


"Oh, iya. Terima kasih, Kang." Kata Raisa


Kang Arif pun kembali menuju lapangan membantu Pak Wisnu dan pelatih yang lain melatih teman-teman Raisa yang lainnya cara berkuda yang baik dan benar.


Setelah mendapat sekantong penuh wortel, Raisa pun mengambil sebuah wortel dari dalamnya dan langsung mencona mendekati Si Putri lagi, kuda pilihannya. Raisa mengulurkan tangannya yang memegang wortel pada kudanya. Saat si Putri menerima dan memakan wortel pemberian dari tangan Raisa, satu tangannya yang lain pun digunakan untuk mengusap lembut rambut milik kuda pilihannya itu.


"Bagus sekali! Makan yang pintar dan banyak ya, Putri!" Gumam Raisa mengajak kuda pilihannya berbicara.


Si Putri pun makan dengan lahap disupapi oleh Raisa. Setelah habis satu, Si Putri menggesek-gesekkan kepalanya pada Raisa dengan manja seolah minta disuapi lagi.


"Kau ingin lagi, rupanya! Baiklah, makan sampai kenyang!" Kata Raisa yang memberikan suapan wortel pada Si Putri lagi.


"Kau juga cobalah berikan suapan wortel pada kuda pilihanmu, Rumi! Ini juga bisa menjadi terapi pendekatanmu dengannya." Saran Raisa seraya melemparkan sebuah wortel yang diambilnya dari kantong ke arah Rumi.


Rumi pun berhasil menangkap wortel yang diberikan oleh Raisa dengan tangkapan yang mulus...


"Baiklah." Patuh Rumi yang langsung mengikuti cara Raisa menyuapi kuda pilihannya dengan wortel.


"Nama kuda pilihanku ini, Putri. Kalau kudamu, apa kau sudah menanyakan namanya juga sebelumnya?" Tanya Raisa pada Rumi.


"Sudah. Katanya, namanya adalah Ellena." Jawab Rumi


"Wah, nama yang cantik dan elegan sama seperti kudanya. Sangat cocok!" Kata Raisa


"Ajaklah kudamu bicara juga untuk menambah kedekatan kalian. Sedari tadi kau hanya diam saja." Ujar Raisa memberi saran.


"Tidak perlu. Kata Tuan Wisnu, dia ini sangat penurut selama dipilih dengan orang yang disukainya. Saat memilihnya dia juga memilihku sebagai penunggangnya, makanya dari tadi dia sangat menurut dengan kataku. Dari pada berbicara padanya, aku lebih ingin mengobrol denganmu, Raisa." Ucap Rumi


"Bicaramu ini ada-ada saja. Untung aku tetap suka padamu." Kata Raisa


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2