Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
24 - Kumpul Keluarga.


__ADS_3

"Bu, Pak, Dek, Kak Raina sama Farah datang!" Teriak Raisa memberitau seisi rumah jika rumah kedatangan tamu kesayangan.


Raina dan Farah pun langsung menduduki sofa di ruang tamu.


"Tunggu ya, Kak. Aku bikinin minum dulu." Ujar Raisa


"Farah mau minum apa? Susu atau sirup? Mau camilan juga ya? Mau apa?" Tanya Raisa


"Apa aja lah... Jadi ngerepotin. Padahal ga usah bikin juga kakak bisa ambil sendiri di dapur." Ucap Raina


"Gapapa kali... Kayak sama siapa aja. Yaudah, tunggu ya." Kata Raisa


Saat Raisa beranjak ke dapur, Bu Vani dan Raihan pun menghampiri Raina dan Farah di ruang tamu.


"Ibu... Apa kabar, Bu?" Tanya Raina


"Eh, si kecil Farah... Makin imut aja!" Seru Raihan


"Ibu baik... Kamu berdua aja? Arka mana?" Ujar Bu Vani


"Arka cuma nganter, Bu. Dia balik ngantor lagi, lagi ada proyek. Jadi, sibuk rapat." Jelas Raina


*Arka adalah suami Raina. Menantu lelaki pertama keluarga Atmawidjaya, kakak ipar Raisa dan Raihan.


"Oh... Bapakmu juga lagi siap-siap tuh. Dipanggil atasannya, mau ada pertemuan klien di restoran, katanya." Ucap Bu Vani


Saat dibicarakan, Pak Hilman pun muncul. Rapi dengan setelan kemeja berdasi dan celana bahannya yang klimis...


"Eh, Putri sulung Bapak dateng sama cucu. Apa kabar, Nak? Farah sehat-sehat aja nih?" Ujar Pak Hilman


"Baik, Pak. Sehat kok. Cuma sering rewel lagi mau ngelengkapin gigi." Ungkap Raina


"Kek... Ake! (Kakek... Kakek!)" Gumam Farah yang mulai belajar bicara.


"Uuh... Cucu kakek makin cantik aja!" Puji Pak Hilman pada cucunya.


"Ya-ya! Ala tik ntik... (Ya-iya! Farah cantik, cantik...)" Celoteh Farah


"Kakek ga bisa lama. Ada panggilan kerja penting... Kakek pergi dulu ya. Dadah~" Ucap Pak Hilman


"Bapak pergi ya. Raisa mana?" Ujar Pak Hilman


"Di dapur deh kayaknya. Lagi bikin minum. Padahal kata Raina ga usah juga gapapa, nanti juga bisa ngambil sendiri." Jawab Raina


"Yaudah... Bilangin aja, Bapak pergi ada urusan kerja. Bapak pamit ya." Pamit Pak Hilman


"Hati-hati ya, Pak." Pesan Bu Vani


Pak Hilman pun beranjak pergi dari rumah...


Setelah itu, Raisa pun datang dengan nampan berisi 2 gelas minuman dan 3 toples kecil camilan ringan.


"Nih, minum sama camilannya..." Kata Raisa


"Nah, diminum dulu minumannya." Ujar Bu Vani


"Makasih ya, Dek." Ucap Raina


"Acih, Nty! (Makasih, Aunty!)" Kata Farah dengan lidah cadelnya.


"Sama-sama, Farah sayang, Kak Raina..." Balas Raisa


"Eh, Raisa cuma bikin minum buat Kak Raina sama Farah, Raisa lupa ga bikinin buat Ibu sama Raihan." Ujar Raisa


"Gapapa. Sebentar lagi juga waktunya makan siang. Nanti kita makan bareng aja." Ucap Bu Vani


•••


Saat sudah waktunya makan siang, mereka pun berkumpul. Mereka telah siap duduk di masing-masing tempat duduk di hadapan meja makan.

__ADS_1


"Farah ikut mamam ya, Mami suapin." Ujar Kak Raina


"Emmam nnak Ennek, cuapin Ami! (Mamam [Makan] enak buatan Nenek, disuapin sama Mami!)" Gumam Farah dengan ekspresi menggemaskannya.


Farah yang duduk di pangkuan Raina pun menerima suapan makan siang dari Sang Ibu yang dipanggil dengan sebutan Mami itu...


"Aaaaa... Aammm!" Suara yang dibuat Raina saat menyuapi buah hati kecilnya, Farah, yang telah beranjak mendekati usia 3 tahun.


"Udah pinter banget ya sekarang makannya..." Puji Raisa


Si kecil, Farah pun membalas pujian Tante nya dengan senyuman manis yang membuat pipinya menggembung menggemaskan karena mulutnya telah dipenuhi makanan...


"Sekarang, gimana kabar kamu, Sa? Kamu nginep di rumah Uwa Aida sendiri kan? Pengobatan kamu selama di sana lancar?" Tanya Raina pada adik gadisnya.


"Sekarang udah baik kok, Kak, gapapa. Sehat... Semuanya lancar jaya! Iya, aku nginep di sana sendiri." Jawab Raisa yang telah lancar dengan kebohongannya.


"Adik Kakak emang udah gadis! Udah ga ngerengek-rengek lagi minta ditemenin sama Ibu? Emang ga kangen atau takut sendirian gitu?" Ledek Raina


"Apa sih, Kak!? Beda kali, itu kan dulu. Sekarang aku udah bukan anak kecil lagi!" Ujar Raisa


"Iya deh... 19 tahun tuh udah besar ya... Udah di atas 17 tahun sih. Padahal dulu kamu dirawat di RS lama ya, hampir setengah tahun pas umur 15. Itu pun harus terus ditemenin Ibu. Cengeng, sering nangis!" Ucap Raina


"Ya, pokoknya beda! Pengobatan kali ini lancar juga karena cuma kambuh sedikit doang jadi juga cuma sebentar." Imbuh Raisa, berdusta.


"Ya, syukur deh. Sekarang kamu udah sehat aja kan, aman kan?" Ujar Raina


"Iya, Kak. I'm fine, it's okay!" Kata Raisa


Raisa merasa sedikit aneh dengan percakapan ini, dengan kakaknya. Saat dengan adiknya semalam pun juga begitu.


Raisa merasa percakapan yang keduanya ajukan adalah untuk menyelidikinya diam-diam. Alasannya pergi secara mendadak tanpa mereka ketahui... Hanya saja, Raisa lebih memilih untuk tidak nempermasalahkan dugaannga maupun memberitaukan rahasianya~


•••


Masih dalam suasana yang sama di waktu yang berbeda...


Suasana makan malam kali ini ada sedikit perbedaan anggota.


"Arka masih ga bisa dateng, Raina? Padahal kan ini hari Sabtu, dia masih lembur aja?" Tanya Pak Hilman, Sang Ayah.


"Iya, Pak. Beberapa kali weekend pun dia tetep sibuk. Katanya sih kali ini proyek besar. Jadi, ya begitulah..." Jawab Raina


"Syukurlah... Proyek besar berarti rezeki nomplok! Kamu jadi nginap di sini kan, Raina?" Ujar Bu Vani


"Iya, Bu. Aku nginap sama Farah di sini. Gapapa kan?" Kata Raina


"Ya, baguslah. Jadi, besok hari Minggu aku bisa main sepuasnya sama Farah. Sayangnya, sekarang si kecil udah tidur..." Ucap Raihan


"Biarinlah... Dia tidur juga karena capek abis main sama kamu sama Raisa sampe seru banget tadi ketawanya." Ujar Raina


Raina mengangkat gelas berisi air putih, hendak meminumnya. Lalu, ia menatap adik lelakinya, Raihan, seolah memberi tanda kode dengan tatapan mata mereka yang saling bertemu.


Kemudian, Raihan yang berada tepat di seberang meja makan tempat duduk Raina tergesa-gesa mengambil lauk makanan yang berada di dekat Raina. Tangan Raihan yang berusaha meraih lauk pauk terlihat tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada di genggaman tangan Raina.


Lalu, terjadilah... Gelas kaca yang di genggam Raina terjatuh dengan keras ke lantai!


PRANGG!~


"Aduh... Raihan, pelan-pelan dong! Hati-hati kalo mau ngambil sesuatu. Gelas kakakmu sampai jatuh begitu..." Ucap Bu Vani


"Iya, Bu. Maaf!" Kata Raihan


"Gapapa, Bu. Tangan Raina emang agak licin juga, berkeringat " Ujar Raina


Raina pun menoleh, melihat ke arah pecahan gelas kacanya...


Gelas kaca itu memang pecah berserakan di lantai.Tapi, air putih yang mengisi gelas tersebut tidak membahasi lantai. Melainkan~


Oo-ow...

__ADS_1


Air putih mineral itu mengapung di udara! Dan apungan air itu tepat berada di bawah lima jari tangan Raisa yang bermekaran!?


Ups!~


Oh, TIDAK!


Raisa secara spontan menggunakan sihirnya! Ia bermaksud agar air itu tidak membahasi dia atau kakaknya yang duduk tepat bersebelahan. Namun, ia malah tak sengaja membongkar rahasia tentang identitasnya yang lain...


Saat menyadari kecerobohannya, Raisa pun langsung melepaskan sihirnya~


Cuuurr~


Air yang terapung karena sihir Raisa pun meluncur tumpah ke lantai...


Sontak, Raisa yang tertangkap basah gelagapan melirik ke sana ke mari. Ia mendapati kedua saudaranya memandanginya dengan lekat! Bahkan, Raihan yang duduk bersebrangan dengannya pun sampai berdiri takjub dengan apa yang dilihatnya yang disebabkan oleh kakaknya...


"Eh-! Yah... Airnya tumpah~" Kikuk Raisa yang gelagapan.


"Kak, aku ga salah liat kan? Airnya tadi melayang! ... Di bawah tangan kakak!?" Tanya Raihan, penasaran dan menyelidik.


"Dek, kakak liat jelas loh... Kakak liat dengan mata kepala sendiri! Air itu... Apa kamu ga mau coba jelasin ke kita semua?" Ucap Raina meminta penjelasan.


"Ehehe... Apaan sih, Kak? Apa yang harus aku jelasin coba?" Elak Raisa


Raisa menatap ke arah kedua orangtuanya. Meminta bantuan mereka untuk nengalihkan atau mencarikannya alasan...


"Kamu salah liat kali, Raina." Kata Pak Hilman dengan santainya.


"Emang pada liat apa sih? Maksud kalian apa? Ibu ga liat apa-apa..." Ujar Bu Vani mengalihkan. Ia berpura-pura seolah tak terjadi dan tak melihat apa-apa. Jarak tempat duduknya yang cukup jauh cukup untuk meyakinkan putra-putrinya akan ucapannya.


"Bu, aku jelas-jelas liat sendiri apa yang terjadi dan yang dilakukan Raisa. Aku duduk tepat di sebelahnya dan mataku ga bermasalah..." Ucap Raina


"Aku juga liat kok, Bu, Pak. Duduk bersebrangan ga menghalangi penglihatan kok. Itu ajaib... Mustahil!" Ujar Raihan


Raisa terus merasa tegang mendengar kakak dan adiknya yang beruntun berturut-turut menjejalinya banyak pertanyaan. Akhirnya, ia pun menenangkan dirinya... Dan, membulatkan tekad!


Raisa pun menarik dalam-dalam nafasnya... Huft-


Fyuuuhh~


Lalu, Raisa menghembuskannya panjang~


"Sebenarnya, kakak dan adek udah tau kan? Makanya kalian terus bertanya dan insiden gelas pecah tadi juga rencana kalian untuk membongkar paksa rahasiaku. Karena kalian udah mulai curiga sejak lama. Benar begitu, kan?" Selidik Raisa dengan tenang dan tepat.


Akhirnya, Raisa pasrah...


Membongkar rahasianya dan memberitau pada Kakak dan Adiknya.


"Loh, kok, Kak Raisa tau?" Polos Raihan


"Kita sama-sama tau... Jadi, kenapa kamu ngerahasiain ini? Cuma kakak dan Raihan yang ga tau, tapi Ibu dan Bapak udah tau kan?" Ujar Raina, menyelidiki balik.


"Itu karena Ibu Bapak orangtua kita. Sedikitnya mereka tau tentang takdirku yang berbeda ini..." Jelas Raisa


"Terus, kalo aku dan Raihan bukan orangtuamu, kami berdua ga berhak tau?! Kita semua itu keluarga. Emangnya kami orang asing yang ga pantas untuk tau!?" Serang Raina karena kesal.


"Itu karena kemampuan ini ga ada sejak aku lahir atau dari kecil. Sihirku baru muncul beberapa tahun belakangan ini. Aku pun baru menyadari dan bisa mengontrolnya baru-baru ini." Cerita Raisa


"Jadi, tadi itu sihir!?" Takjub Raihan dengan antusias.


Raisa menundukkan kepalanya dengan lesu...


"Aku takut... Takut hal berbeda yang terjadi padaku ini dianggap keanehan karena muncul secara tiba-tiba dan mendadak. Bahkan, awalnya aku takut dengan diriku sendiri, takut dengan kekuatan ini. Takut kalo kalian tau, kalian jadi menjauhiku karena juga takut padaku atau menganggapku aneh. Aku juga takut ga bisa ngendaliin kekuatan ini dan melukai kalian. Jadi, aku mutusin untuk merahasiakannya dari kalian. Maaf!~" Ungkap Raisa


.


.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2