
Sudah cukup lama sejak ia kembali bebas beraktivitas.
Raisa sudah memeriksakan perihal tangannya yang pernah mengalami patah tulang. Semua hasil pemeriksaan termasuk hasil rongten menunjukkan semua baik-baik saja, bahkan tidak menunjukkan pernah mengalami patah tulang sekali pun. Bahkan orangtua Raisa yang ikut dalam pemeriksaan pun terkejut, apa lagi mereka juga mendengar cerita Sang Dokter atas tindak nekat Raisa yang pernah melawan penjahat demi menolong orang. Saat pemeriksaan pun, Raisa ikut terkejut dengan hasilnya, tapi ia lebih merasa senang ternyata dirinya baik-baik saja...
Saat ini Raisa baru saja ke luar dari minimarket setelah berbelanja di sana. Ia berjalan kembali pulang ke rumahnya sambil sesekali bermain ponsel. Raisa pun tersenyum...
Setelah sebulan berlalu, Daffa menepati perkataannya dengan mengunggah hasil pemotretan Raisa hari itu setelah 2 minggu kemudian dan saat ini telah 2 minggu berlalu setelah foto itu dipublikasikan. Ada beberapa orang yang awalnya tidak kenal Raisa jadi mengetahui dirinya yang pernah jadi model sebuah majalah remaja. Teman sekolah yang sudah lama putus kontak dengannya pun kembali menghubungi dirinya, baik melalui media sosial atau chatting pribadi.
"Baru segini aja, tapi udah banyak yang tanya-tanya. Jadi sok kenal sok dekat, padahal dulu waktu sekolah kayak gak peduli sama sekali, jadi agak risih." Gumam Raisa
Tak ingin terus memusingkan pertanyaan yang terus masuk melalui pesan di ponselnya, Raisa pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya...
Raisa pun kembali berjalan dengan tenang menuju rumahnya.
Jalan yang Raisa lewati terbilang sepi pada jam-jam ini. Namun, Raisa merasa ada suara langkah orang-orang yang mendekatinya. Tanpa berpikir buruk, Raisa pun berbalik melihat siapa mereka...
Ada enam orang yang kini berhadapan dengan Raisa dan menyerukan namanya~
"Raisa...!"
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Raisa
Raisa mengira mereka akan menanyakan sebuah alamat atau hal lain semacam itu, tapi mereka malah terlihat kebingungan dengan reaksi Raisa.
Mereka yang menghampiri Raisa mengira dirinya hanya bergurau dan tidak menghiraukan itu. Bahkan salah satu dari mereka berhambur memeluk tubuh Raisa...
Raisa terkejut dengan seorang lelaki yang tiba-tiba saja memeluknya dengan erat!
"Raisa, aku sudah datang! Syukurlah, kau baik-baik saja. Aku mengkhawatirkanmu, maaf aku telat datang." Ujarnya
"Maaf, tapi kamu siapa?" Tanya Raisa
Seakan tuli, ia yang memeluk Raisa tidak memedulikan pertanyaan yang Raisa lontarkan, ia malah semakin mengeratkan pelukannya...
Merasa risih dengan perlakuan orang yang terasa asing baginya, Raisa pun mendorong orang yang memeluknya. Pelukan orang tersebut pun terlepas dari tubuhnya.
"Saya tidak mengenal satu pun dari kalian, maaf. Sebenarnya kalian siapa?" Ujar Raisa bertanya.
"Hei, yang benar saja! Gurauanmu tidak lucu, Raisa!"
"Kalian mengenal saya? Apa kita pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya?" Tanya Raisa
"Raisa, kami datang karena khawatir kau tidak pernah berkunjung. Ini kami! Aqila, Chilla, Devan, Ian, Morgan, dan Rumi."
Raisa menggeleng pelan...
Semua nama yang disebutkan itu tidak satu pun ada yang tersangkut di dalam ingatannya. Bagi Raisa, mereka adalah orang asing.
"Maaf, saya tidak tahu siapa kalian. Saya permisi." Kata Raisa yang tidak ingin ambil pusing akhirnya pun pergi dan tidak mengiraukan mereka.
Baru saja beberapa langkah setelah berbalik, seseorang menahannya pergi. Lelaki yang tadi nemeluknya, kini mencekal tangannya.
"Raisa, ada apa denganmu? Kau sama sekali tidak mengenal satu pun dari kami?"
Raisa menggeleng cepat.
Cekalan lelaki itu pun terlepas dari tangan Raisa...
Sebenarnya bukan sama sekali tidak ingat. Setelah keenam nama tadi disebut dan melihat dengan teliti wajah keenam orang tersebut, ingatan yang samar pun mulai terlintas di kepala Raisa. Beberapa potong ingatan abstrak muncul dalam seklebatan ingatannya dengan begitu cepat. Raisa mulai merasakan serangan sakit kepala yang dulu muncul kembali, namun ia berusaha keras untuk menahannya.
"Maaf, saya harus pergi." Kata Raisa
Raisa pun pergi dengan mempercepat langkahnya. Sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi!
Dari keenam nama yang tadi disebut, Raisa kembali mengingat saat dirinya mengalami kecelakaan. Saat mobil truk begitu dekat dengannya. Saat ia hendak pergi menemui seseorang. Sat ia mengkhawatirkan seseorang. Saat ia melihat seklebatan penglihatan ketika seseorang terluka parah. Itulah sebab ia terburu-buru sampai tak berhati-hati dan tidak lagi memerhatikan keselamatan dirinya. Saat itulah Raisa mengingat satu nama...
"Rumi!"
Lelaki tadi hendak meraih kembali Raisa untuk menghentikannya...
"Raisa, tunggu!"
Saat lelaki tadi hendak meraih tangan Raisa, Raisa segera menarik tangannya. Dengan spontan Raisa juga mengibaskan tangannya agar tidak ada yang mendekat! Dan saat itu juga kobaran api muncul begitu saja ketika Raisa mengerakkan tangannya dengan cepat~
WUUUSSH~~
Mereka yang berusaha mengejar Raisa pun langsung menjauh dan menjaga jarak darinya.
"Apa yang terjadi? Api apa itu tadi dan muncul dari mana?" Bingung Raisa
"Apa Raisa mengalami lupa ingatan? Dia bahkan tidak ingat bisa melakukan sihir?"
"Apa maksudnya itu? Sihir? Tidak mungkin, itu mustahil!" Gumam Raisa
Ingatan yang sangat banyak jumlahnya muncul bertubi-tubi membuat sakit kepala Raisa senakin parah. Raisa pun berjalan mundur...
"Ada apa denganku? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa kalian? Kenapa aku tidak ingat apa pun tentang semua itu?" Raisa memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
Raisa mulai meneteskan air mata dan tangisannya semakin deras... Bahkan nafasnya mulai terengah-engah~
"Raisa, tenanglah dulu!"
Dugaan salah satu dari mereka benar! Raisa mengalami lupa ingatan!
"Kau pasti akan mengingatnya kembali secara perlahan. Tenang saja, jangan menyiksa dirimu dengan memaksa mengingat itu semua."
"Tidak apa, Raisa. Kami tidak akan menyakitimu."
Mereka mencoba berjalan mendekati Raisa yang terus berjalan mundur...
__ADS_1
"Tidak, jangan mendekat!"
"Aku tidak kenal kalian! Jangan dekati aku! Jangan ke sini!"
Raisa mulai histeris karena merasakan sakit yang begitu hebat menyerang kepalanya. Ia pun mulai menjatuhkan tubuhnya sendiri sampai berjongkok dan akhirnya terduduk di tanah saking tidak kuat menahan rasa sakitnya. Belanjaan yang dibawanya terjatuh begitu saja ke tanah...
Raisa menangis dengan keras~
Satu orang berjalan mendekat walau Raisa melarangnya. Ia mencoba memeluk Raisa. Walau Raisa memberontak, penolakannya tidak begitu berarti karena ia terus menahan sakit kepalanya.
"Tenang, Raisa. Aku sudah ada di sini. Kau bisa tenang..."
Lelaki itu sekali lagi memeluk Raisa, kali ini dengan lebih lembut. Ia mencoba menenangkan Raisa dengan menepuk-nepuk punggungnya dan sesekali mengusapnya. Walau masih saja histeris, Raisa merasa lebih tenang berada di dalam pelukannya. Itu karena lelaki itu dan satu nama yang diingatnya. Nama yang Raisa gumamkan...
"Rumi~"
"Ya. Ini aku, Raisa. Aku di sini!"
Semua ingatan yang pernah ada seakan berputar cepat di dalam kepala Raisa. Ia dapat mengingat itu! Ia telah mengingat semuanya kembali...
"Aku ingat! Sekarang, aku ingat!" Kata Raisa sambil sesegukan karena terus menangis.
Raisa pun mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang memeluknya dengan tenang. Itu adalah Rumi!
"Rumi... Oh, syukurlah, kau baik-baik saja! Maafkan aku yang tidak datang saat itu. Kau pasti menderita. Maafkan aku, Rumi! Aku sungguh minta maaf!" Ucap Raisa setelah ingatannya pulih kembali.
Raisa langsung berhambur membalas pelukan Rumi sebelumnya mengendur, ia juga menangis terisak saking senangnya...
"Syukurlah, kau sudah dapat mengingat. Aku baik-baik saja, justru kaulah yang menderita." Kata Rumi
"Tidak! Aku tahu situasimu saat itu. Kau terluka dan aku tidak ada di sana saat harusnya kau butuh bantuan. Maafkan aku! Apa kau sudah baik-baik saja, Rumi?" Ujar Raisa bertanya.
"Sekarang, aku sudah baik-baik saja. Aku mengkhawatirkanmu, makanya aku mengajak mereka untuk datang ke sini, ternyata kau juga sedang kesulitan. Bisa dibilang kondisi kita sama, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, Raisa." Ucap Rumi menjawab pertanyaan Raisa.
"Jadi, apa yang telah terjadi pada dirimu, Raisa?" Tanya Devan
"Apa benar kau sempat lupa ingatan?" Tanya Aqila
"Kenapa kau bisa dengan cepat mengingat kembali?" Tanya Chilla
Raisa terdiam. Mencoba mengatur kembali emosi dan pernapasannya setelah menangis histeris...
"Sudahlah. Tenangkan dirimu dulu, Raisa. Kita coba bicarakan itu di tempat lain, jangan terus duduk di sini." Ujar Rumi
Rumi pun lebih dulu bangkit berdiri, lalu membantu Raisa setelahnya...
"Ayo, kita cari tempat bagus untuk bicara." Kata Morgan
Raisa mengangguk lemah. Ia akan ikut dan menurut dengan teman-temannya itu.
"Barangmu biar aku yang bantu bawakan." Kata Aqila yang meraih plastik belanjaan milik Raisa.
Mereka pun mencari tempat yang lebih bagus dan tenang untuk bicara. Namun, untung saja saat tadi Raisa mengeluarkan sihirnya tidak ada orang lain selain mereka yang melihat.
"Ceritakanlah apa yang terjadi pada kami, Raisa." Pinta Ian
"Apa tidak masalah kau menceritakannya? Kau benar-bebar sudah mengingatnya, Raisa? Jangan sampai kau memaksa ingatanmu hanya untuk bercerita pada kami." Ujar Rumi yang sangat memerhatikan keadaan Raisa.
Raisa mengangguk kecil.
"Aku sudah tidak apa... Ini salahku karena tidak bisa datang saat Rumi mengalami musibah dan kesulitan. Aku sungguh minta maaf! Aku bukannya tidak ingin pergi, tapi-" Raisa menggantungkan ceritanya.
"Bukannya kau bisa mengetahui kondisi kami karena terhubung dengan lambang sihir yang telah kau berikan? Kau bilang bukannya tidak ingin pergi, lalu apa alasanmu sampai tidak muncul sekali pun?" Tanya Devan
"Aku mengetahui situasi yang terjadi, saat Rumi terluka. Aku melihat semuanya... Aku juga ingin cepat datang ke sana untuk membantu. Tapi, saat aku terburu-buru pergi hari itu aku mengalami kecelakaan karena ceroboh dan tidak hati-hati. Sebagian ingatanku hilang setelahnya dan ingatan tentang sihir termasuk yang paling sulit untuk kuingat kembali, termasuk tentang kalian. Ini memang salahku! Maafkan aku yang tidak bisa dengan cepat mengingatnya." Ungkap Raisa
"Kau pasti jatuh sakit setelah kecelakaan. Bukan salahmu kau tidak bisa mengingatnya, kau juga pasti menderita saat itu." Kata Chilla
"Kau mengalami kecelakaan? Seberapa parah itu? Kenapa kau berkeliaran di luar setelah mengalami kecelakaan?" Cemas Rumi bertanya dengan bertubi-tubi.
"Aku sudah sembuh total dan pulih sepenuhnya, bahkan ingatanku pun telah kembali. Justru, kau... Bagaimana bisa kau datang ke sini setelah terluka begitu parah? Jangan membohongiku, aku tahu semua yang terjadi saat itu!" Ujar Raisa
"Rumi memaksa datang ke sini karena dia mengkhawatirkanmu hanya setelah seminggu dia tersadar dari kritis." Ungkap Morgan
"Ya ampun! Kau benar-benar nekat! Bagaimana kau bisa memaksakan dirimu seperti ini? Sini, biar aku memeriksamu baik-baik!" Kata Raisa
Raisa pun menaruh tangannya pada dada Rumi, mencoba memeriksa kondisi Rumi dengan sihirnya.
Rumi pun menyentuh tangan Raisa itu...
"Kau baru saja memulihkan ingatanmu seutuhnya. Apa tidak apa kau melakukan sihir seperti ini? Tenagamu bisa terkuras karena ini." Cemas Rumi
"Meski begitu, aku tetap harus melakukannya. Kau terluka parah sebelumnya, harus kuperiksa. Jadi, diam saja agar aku bisa cepat menyelesaikannya." Keukeuh Raisa
Raisa pun memeriksa dengan fokus walau harus mengeluarkan banyak tenaga meski baru pertama kali melakukan sihir setelah sekian lama setelah pulih dari sakit. Raisa bahkan sampai mengeluarkan banyak keringat saat menggunakan sihirnya...
"Harusnya kau masih istirahat dalam beberapa waktu ke depan. Kau memaksa datang ke sini membuat tenaga sihirmu jadi agak kacau, tapi aku sudah bantu memulihkannya." Ucap Raisa
"Harusnya kau juga belum boleh menggunakan sihirmu. Lihat, kau berkeringat! Itu paati menguras banyak tenagamu." Kata Rumi sambil menyeka keringat Raisa menggunakan ujung lengan pakaiannya yang panjang.
"Kulakukan ini karena mengkhawatirkan kondisimu, tahu!" Kata Raisa
"Aku juga datang ke sini karena khawatir dengan keadaanmu. Jadi, kita sama!" Rumi tak mau kalah dari Raisa.
"Kalian pasangan yang keras kepala. Sangat cocok!" Kata Chilla
"Aku ingat, Morgan, ingin mengatakan sesuatu padamu, Raisa." Ujar Aqila yang melirik ke arah Morgan untuk mengingatkannya.
"Tak perlu kau ingatkan juga, aku sudah tahu!" Kata Morgan
__ADS_1
"Apa itu? Bicara saja!" Kata Raisa
"Aku mau minta maaf. Sebelum datang ke sini aku sudah berpikir buruk tentangmu karena kau seolah menghilang begitu saja, aku tidak tahu kalau kau ternyata sedang kesulitan. Maafkan aku, Raisa." Ucap Morgan
"Maafkan kami, Raisa. Kami tidak tahu kalau kau juga sedang dalam kesulitan dan malah berpikir yang tidak-tidak, kami juga yang sudah membuatmu memaksa ingatanmu sampai kau merasa sangat kesakitan tadi." Ucap Aqila
"Tidak masalah, ini tidak seberapa. Aku malah berterima kasih, karena kalian datang aku jadi mengingat kembali semuanya. Saat aku merasa masih melupakan sesuatu padahal sudah cukup banyak yang kuingat kembali, aku memang berharap dapat bertemu hal-hal dari ingatan yang hilang itu supaya bisa mengingat semuanya tanpa terkecuali. Dan itu sudah terwujud karena kalian datang menemuiku di sini." Ungkap Raisa
"Apa itu sebabnya aku merasa kau seperti memanggilku, Raisa?" Tanya Rumi
"Apa maksudmu?" Bingung Raisa
"Rumi mengatakan dia seperti mendengar bisikan suaramu yang sedang dalam kesulitan. Itulah saat dia terbangun dari KOMA. Seolah kalian terhubung satu sama lain. Mungkin memang benar! Buktinya nasib kalian saja saling berkaitan saat kalian berdua sama-sama mengalami musibah sebelumnya." Ungkap Ian
"Sepertinya itu terlalu mengerikan jika hal semacam musibah yang menjadikan kami saking berkaitan. Jangan sampai itu terjadi lagi!" Kata Raisa
"Apa ini seperti dugaanku? Saat Raisa sedang berharap sebenarnya secara tidak sadar kau mengirimkan telepati pada Rumi, tapi karena tidak mengingat kau memiliki kemampuan sihir, kau tidak tahu jika kau melakukannya dan saat bersamaan Rumi mendengarnya hingga membuatnya tersadar dari KOMA. Ini hanya tebakanku saja." Ujar Devan
"Entahlah." Raisa tidak tahu harus berkata apa karena ia pun tidak bisa memastikan hal tersebut.
"Ada satu hal lagi kemungkinan yang butuh kepastian dari kalian berdua!" Timpal Chilla
"Apa itu?" Tanya Rumi
Chilla menunjuk kedua tangan Raisa dan Rumi yang saling bertautan dan bertanya satu hal...
"Apa kalian berpacaran?" Tanya Chilla
Raisa hendak menarik kembali tangannya, namun Rumi semakin menggenggamnya dengan erat. Raisa melirik ke arah lelaki di sampingnya itu, yang dilihatnya hanya tersenyum tipis. Yang lain sedang menunggu klarifikasi dari dua sejoli ini sambil menatap mereka berdua dengan lekat...
"Hhh~ Sepertinya sudah tidak bisa sembunyikan dari kalian lagi." Kata Raisa yang lalu menutupi wajahnya dengan satu tangannya yang masih bebas.
"Ya, kami berpacaran!" Imbuh Rumi membenarkan dugaan Chilla.
"Apa?! Sejak kapan?" Tanya Morgan
"Entahlah, ini terjadi begitu saja dan akulah yang mendekati Rumi lebih dulu." Jawab Raisa dengan berani dan jujur.
"Apakah ini niat awalmu mendekati kami, Raisa? Karena kau sudah lebih dulu menyukai Rumi?" Tanya Ian
"Tidak! Aku memang ingin sekali berteman akrab dengan kalian, tapi saat-saat itu perasaanku pada Rumi mulai muncul dan tumbuh begitu saja. Aku juga tidak menyangka akhirnya kami jadi memiliki hubungan seperti ini." Jelas Raisa sambil menampakkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Tapi, kau sempat menjauh dariku saat kau tidak yakin dengan hubungan seperti ini dan akulah yang mengejarmu saat itu." Ungkap Rumi
"Hei, harusnya kau tidak mengungkapkan hal itu!" Malu Raisa
"Berarti itu sudah berlangsung lama... Aku sudah menduganya." Kata Chilla
"Benar. Siapa yang tidak bisa menduga jika kalian jadi sangat dekat dan perhatian satu sama laiin. Yang tidak menyadari hanyalah orang yang tidak peka!" Ujar Aqila
"Jadi, kalian sudah menyadarinya, ya. Rumi, bisakah kau melepaskan tanganku sekarang? Aku malu sekali!" Bisik Raisa
"Untuk apa malu, jika semua sudah terungkap. Sekarang mereka juga sudah tahu semua." Kata Rumi
"Rasanya aku ingin bersembunyi saja!" Gumam Raisa
"Jika kau malu, maka bersembunyi seperti ini saja!" Ujar Rumi yang langsung menarik kepala Raisa dan membenamkan di dadanya.
Raisa yang hanya akan semakin malu jika seperti itu pun dengan cepat menegakkan kembali kepalanya~~
"Kau ini apa-apaan, Rumi!? Kau membuatku semakin malu!" Sebal Raisa
"Jadi, inilah sebabnya kalian berdua saling berkaitan! Karena sebenarnya hati kalian berdualah yang saling terhubung. Ini seperti ikatan batin dari sepasang kekasih yang saling mencintai! Rumi dapat tersadar karena mendengar suara Raisa, dan Raisa dapat mengingat kembali karena pelukan dari Rumi! Ini adalah mukjizat sepasang kekasih!" Ucap Chilla
"Wajahmu merah sekali, Raisa!" Goda Devan
"Diam kau! Menyebalkan!" Kesal Raisa
"Sudah jangan menggodanya lagi, kalau tidak nanti dia akan marah padaku." Ujar Rumi
"Huh! Melihat tingkah kalian berdua hanya membuatku jadi lapar!" Kata Chilla
"Tidak mengungkapkan hubungan antara Raisa dan Rumi pun, kau memang selalu saja lapar!" Timpal Ian
"Kalau begitu, kalian ikut ke rumahku saja. Kita bisa makan bersama. Kalian juga butuh istirahat setelah menembus dimensi sampai ke sini." Ujar Raisa
"Baiklah, ayo!" Girang Chilla
Dengan cepat, Raisa pun bangkit berdiri. Tubuhnya terhuyung hendak jatuh~
Rumi pun merengkuh pinggang Raisa untuk membuatnya kembali berdiri tegak...
"Kau tidak apa, Raisa?" Cemas Rumi bertanya.
Raisa tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Hanya saja ingatan yang sempat hilang sebelumnya masih terus merisak masuk dan berputar di dalam kepalaku. Sedikit pusing, tapi tisak apa." Jawab Raisa
Perlahan, Raisa melepaskan tangan Rumi dari pinggangnya. Rumi tahu kekasihnya itu masih malu-malu, namun setelah itu tangannya malah menggenggam erat tangan Raisa...
"Kita bisa berjalan sambil berpegangan tangan seperti ini, jaga-jaga supaya kau tidak terjatuh. Belanjaanmu biar aku yang bawakan." Ucap Rumi yang mengambil alih kantong belanjaan dari tangan Raisa yang lainnya.
Raisa tersenyum mendapati kekasihnya sangat perhatian padanya. Kali ini, Raisa pun membiarkan Rumi menggenggam tangannya~
"Ayo, kita lewat sini! Kalian juga harus ingat jalan menuju rumahku, ya!" Ujar Raisa
Mereka pun berjalan menuju rumah Raisa bersama-sama...
.
__ADS_1
•
Bersambung...