
Raisa berusaha untuk tetap tegar dan menahan semua rasa sakit di dalam dadanya.
Raisa mulai kembali mengingat semua tentang sosok lelaki yang dicintainya. Kembali mengingat tentang semua apa yang pernah ia lewati bersama Rumi, lelaki yang ia cinta.
Rumi, lelaki itu sudah memesonanya sejak pertama kali bertemu. Lelaki itu yang telah menarik perhatiannya jauh sejak Raisa mulai memimpikannya. Lelaki itu sudah membuatnya jatuh hati saat pertama kali berbincang dengannya. Semua hanya tentang lelaki itu saja, hanya satu nama itu saja!
Rumi, nama dari sosok lelaki yang telah tertanam sangat dalam dan kuat lagi kokoh di dalam lubuk hati Raisa. Sang lelaki pujaan hati!
Semua memori tentang kebersamaan dengan dirinya mulai terlintas dan terus berputar-putar di dalam pikiran Raisa.
Saat bicara berdua, duduk berdampingan, jalan beriringan, bergenggaman tangan, bersandar di pundaknya, sampai ciumannya, dan terakhir adalah saat ia menyatakan suka pada Raisa. Bahkan semua mimpi tentangnya!
Hanya satu pertanyaan yang terus berulang di dalam benak Raisa... Kenapa rasanya sesakit ini?
Raisa menyunggingkan senyum getirnya seiringan dengan rasa sakit yang dirasakan di dalam hatinya.
Dirinya bahkan mengingat saat malam hari ia pernah menyanyikan sebuah lagu yang terinspirasi dari apa yang dirasakannya saat itu saat ia menginap bersama semua teman lain dimensinya di vila keluarganya. Ia bernyanyi saat sedang sendiri dan tidak ada orang yang melihatnya dan mendengarnya bernyanyi. Namun, itu hanya sangkaannya saja. Padahal saat itu ada seseorang yang melihat dan mendengarnya sedang bernyanyi di kesendirian malam dari kejauhan. Dan seseorang itu adalah lelaki pujaan hatinya sendiri yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rumi.
Raisa teringat, saat ia bernyanyi ia merasa bisa mengungkapkan semua rasa dari dalam hatinya walau menutupinya dengan sebuah lagu seolah-olah ia benar-benar hanya bernyanyi saja. Setelah ia bernyanyi perasaan di dalam hatinya terasa sedikit lega. Walau rasa lega itu hanya sedikit saja, sangat sedikit. Namun, itu sudah bisa membuat perasaan di dalam hatinya jadi sedikit lebih baik.
Raisa ingin mengulanginya lagi. Sekali lagi agar perasaan di dalam hatinya kembali jadi sedikit lebih baik, toh tidak ada yang melihat dan mendengarnya. Ia sedang sendiri seperti malam itu. Tempat dirinya berada juga sangat sepi...
Raisa pun melakukannya. Lantunan nada lagu mulai beralun di dalam hatinya. Dari dalam mulut dan tenggorokannya melalui bibirnya, ia mulai meloloskan nyanyian dengan suara yang indah dan merdu.
Tak pernah aku membayangkannya
Bila insan sedang patah hati
Kali ini ku rasakan sesungguhnya
Siang hariku bagaikan malam
Pelangi pun berwana 'kan gelap
Ini kah yang dinamakan patah hati
Tak ingin ku jalani
Cinta yang begini
Yang ku tahu Cinta itu Indah
Tak ingin ku rasakan
Jiwa yang tak tenang
Ku mau kau tetap disisiku
Raisa terus bernyanyi dalam sunyi di kesendirian. Hatinya sangat menghayati dan mendalami isi lagu dari kata demi kata. Ia bernyanyi dengan sangat apik, dengan suara merdu yang indah. Ekspresinya saat bernyanyi juga sangat menyentuh siapa saja jika ada yang melihatnya. Sangat meyakinkan siapa saja yang melihat dan akan menyangka jika dirinya benar-benar mengalami hal seperti apa yang sedang ia nyanyikan, jika saja tidak ada yang tau kebenarannya. Karena memang apa yang ia nyanyikan adalah perasaannya yang sesungguhnya.
Raisa lagi-lagi tak menyadari bahwa ada yang melihat dan mendengarnya yang sedang bernyanyi dari kejauan dari balik pohon. Kali ini tidak hanya satu orang saja melainkan dua orang. Tak hanya itu saja, mereka berdua bahkan merekam aksi Raisa yang sedang bernyanyi solo dengan ponsel salah satu dari mereka. Dari awal mula lagu sampai akhir, Raisa benar-benar tak menyadarinya sama sekali.
"Aku ga nyangka sama sekali kalau Raisa nyanyi suaranya akan sebagus ini!" Pujinya
"Iya, ekspresinya juga menyentuh banget. Hasil rekamannya juga bagus!" Setuju yang lain.
"Tapi, kayaknya Raisa yang nyanyiin lagu itu benar-benar lagi merasa sedihnya patah hati. Kita samperin, yuk!" Ujarnya
"Ya, ayo!" Katanya
Saat telah selesai bernyanyi, kedua orang yang merekam Raisa yang sedang bernyanyi pun berjalan menghampirinya.
Raisa tengah menunduk lesu saat ada orang yang memanggil namanya.
"Raisa!~" Panggilnya dengan suara lembut.
Raisa pun mengangkat pandangannya. Matanya memerah karena menahan tangis...
"Kamu berhenti untuk duduk di sini, Raisa?" Tanyanya
"Ah, Maura, Nilam! Iya, aku berhenti sebentar, soalnya pemandangan di taman belakang ini cukup bagus. Ya, kan?" Ucap Raisa
"Iya, sih. Aku kaget aja pas sadar dan lihat tiba-tiba kamu ga ada di sampingku dan ngilang gitu aja. Padahal kan kita lagi mau makan ke kantin." Ujarnya, Nilam.
"Raisa, kamu berhenti duduk di sini untuk nyanyi ya? Suara kamu bagus loh!" Tuturnya, Maura.
Ternyata yang menghampiri dan melihat sekaligus merekam aksi Raisa yang sedang bernyanyi adalah kedua sahabatnya, Maura dan Nilam. Mereka berdua kembali menyusuri tempat yang mereka lewati saat menyadari Raisa tidak lagi bersama mereka untuk menuju ke kantin.
__ADS_1
"Kalian lihat dan dengar ya? Menurut kalian bagus, begitu kah?" Tanya Raisa yang tidak percaya diri.
Padahal dirinya tak ingin ada yang lihat dan mengetahui bahkan mendengar saat dirinya bernyanyi terlebih lagi lagu yang sedih nan melow. Ia merasa malu tidak percaya diri dan tak mau sampai ada satu orang pun yang menyadari perasaan sedih dan sakitnya patah hati yang dirasakannya melalui lagu yang ia nyanyikan.
Tapi, kali ini yang memergokinya sedang bernyanyi adalah sahabat karibnya. Jadi, Raisa hanya bisa membiarkannya saja.
"Iya, aku bahkan sampai merekamnya! Bagus banget, ekapresinya juga sangat menyentuh dan meyakinkan!" Ujar Maura
"Kita kan mau makan. Ke kantin yuk, buruan! Aku masih laper aja nih." Kata Nilam seolah mengalihkan topik pembicaraan
Sebenarnya Nilam tau Raisa sedang tidak ingin membahasnya. Ia menyadari dari ekspresi wajah Raisa. Raisa benar-benar sedang bersedih hati saat ini. Tak tau apa sebab sebenarnya... Tapi, Raisa benar-benar terlihat seperti patah hati.
"Ah iya, aku juga tiba-tiba jadi laper! Mungkin karena tadi saking asiknya nyanyi sambil sangat mendalami lagunya. Ke kantin, yuk! Takutnya makin kehabisan waktu dan keburu masuk kelas lagi." Ucap Raisa
"Iya, aku juga laper sih. Kamu sih tiba-tiba ngilang, Raisa. Dicari ga taunya lagi asik nyanyi sendirian di sini." Ujar Maura
Akhirnya, Raisa, Maura, dan Nilam kembali melangkahkan kakinya menuju kantin untuk makan. Mereka bertiga pun berjalan beriringan.
"Iya, maaf deh. Soalnya aku teebawa suasana indah dan hening di taman ini. Ga sadar malah nyanyi-nyanyi sendiri." Sahut Raisa
---
Di kantin sekolah, Raisa, Maura, dan Nilam pun memesan makanan masing-masing. Dan mereka bertiga pun duduk untuk makan bersama di meja yang sama.
Saat pesanan ketiganya di antar sampai ke meja, mereka bertiga pun mulai kegiatan makan mereka di kantin tersebut. Suasananya ramai... Banyak murid lain yang makan bersama berkelompok seperti mereka bertiga.
Sibuk dengan makanannya masing-masing. Makanan yang masih terasa pabas, mereka pun meniupnya agar lebih mudah untuk segera di makan.
Raisa fokus pada semangkuk bakso di hadapannya, Maura fokus pada sepiring siomay di hadapannya, dan Nilam fokus pada semangkuk mie ayam di hadapannya. Tak hanya fokus dan sibuk memakan masing-masing makanannya, mereka juga menambahkan obrolan ke dalam kebersamaan mereka bertiga.
"Raisa, sebenarnya teman kamu yang datang waktu itu asalnya dari mana? Dari luar... Luar daerah, luar negeri, dari mana?" Tanya Nilam
"Oh, itu... Mereka dari luar negeri, mereka tinggal di desa pedalaman gitu di negaranya. Tapi, mereka fasih bahasa kita karena pernah datang ke sini." Jawab Raisa dengan asal berdusta.
Raisa hanya asal memberi jawaban. Nyatanya, teman-teman Raisa itu tinggal di sebuah desa di dimensi dunia yang lain. Namun, Raisa kengatakan mereka tinggal di sebuah desa pedalaman di suatu negara.
"Kamu kenal mereka sejak kapan? Ketemu sama mereka semua di mana?" Tanya Maura
"Sejak dua tahun lalu. Aku ketemu mereka waktu liburan dan mereka juga lagi liburan ke sini. Waktu itu ketemu di luar kota." Jawab Raisa dengan dustanya lagi.
Liburan? Itu dusta! Raisa memang bertemu dua tahun lalu dengan mereka. Namun, bujan saat liburan melainkan bertemu di dalam mimpi!
"Dari banyaknya mereka, ada beberapa lelaki... Mana orang yang kamu suka?" Ujar Nilam bertanya.
"Eh, mana ada!" Tukas Raisa
"Bohong, ah! Kamu pernah asik banget ngeliatin HP pas lagi makan di kantin ini juga... Kamu lagi liatin foto mereka atau salah satu lelaki dari mereka, kan? Jadi, yang mana?" Selidik Nilam
"Benar juga tuh! Tapi, mereka ada banyak. Aku ga hafal nama mereka yang pernah kamu kenalin itu, Raisa." Ujar Maura
"Tunjukin foto mereka dan kenalin lagi ke kita siapa aja mereka dong!" Serempak Pinta Maura dan Nilam.
"Ahahaha... Emang harus ya? Aku kan udah pernah kenalin mereka semua langsung ke kalian waktu itu." Ucap Raisa yang disertai tawa canggungnya di awal kalimatnya.
"Harus dong! Kita kan belum hafal siapa aja mereka..." Serempak Maura dan Nilam lagi.
Apa kali ini Raisa harus menceritakannya pada kedua sahabatnya ini? Apa mungkin dengan begitu, perasaan Raisa bisa sedikit lebih membaik lagi? Apa ini pemikiran yang tepat!?
Walau dengan segala keragu-raguannya, Raisa pun mengeluarkan ponselnya. Membuka sebuah berkas folder gambar. Setelah membuka sandi kumpulan gambar di dalam ponselnya, ia membuka sebuah foto, dan lalu menunjukkannya pada Maura dan Nilam, kedua sahabatnya itu.
"Ini, foto aku bersama mereka saat liburan waktu lalu." Kata Raisa yang menunjukkan senuah foto pada layar ponselnya.
"Nah, siapa aja mereka ini?" Tanya Maura
Raisa pun menunjuk satu persatu sosok di dalam foto pada ponselnya itu sambil menyebutnya satu persatu nama dari sosok mereka semua. Maura dan Nilam mulai mengingat nama dari satu persatu sosok teman Raisa itu...
"Devan, Ian, Morgan, Rumi, Dennis, Marcel, dan Billy. Siapa dari mereka lelaki yang kamu suka?" Tanya Nilam penuh selidik.
Apa Raisa harus menjawab pertanyaan dari temannya yang satu ini? Apa ia harus mengungkapkannya?
"Ayo dong, dijawab!" Pinta Maura
"Dia, yang ini... Rumi!" Ungkap Raisa menjawab.
Akhirnya! Raisa pun hanya bisa menjawab dan menunjuk yang mana sosok lelaki yang ia suka. Toh, hanya mengungkapkan sebatas ini saja.
"Oh, Rumi, yang itu toh orangnya. Ganteng sih! Keliatan dingin, tapi, dia masih biaa tersenyum walau setipis kertas. Cocok kok sama kamu yang cantik!" Ucap Maura
__ADS_1
"Tapi, aku cuma sebatas suka kok sama dia ga lebih!" Dusta Raisa
"Lebih dari suka juga gapapa... Gaskeun lah, terobos aja!" Kata Maura
"Bicara apa sih kamu? Aku ga bisa bilang suka gitu aja ke dia. Malu!" Ujar Raisa
"Kenapa meski malu? Kamu, murid perempuan yang berani maju saat lomba debat antar kelas dan satu-satunya murid perempuan yang menang saat lomba itu... Malu?! Kenapa kamu yang sehebat ini harus malu?" Tanya Maura
"Aduh, itu mah bedalah, Maura-ku sayang! Itu debat pelajaran, menurut ilmu dan segala logika yang ada... Kalau ini, tentang perasaan hati! Jelas banget bedanya!" Ungkap Raisa
Walau memang merasa malu, srbenarnya Raisa lebih merasa takut! Takut tersakiti dan menyakiti... Mengingat lagi kenyataan pahit jika hubungan seoerti itu antara dirinya dan seorang Rumi. Yang takkan pernah bisa bersama dan bersatu. Itu sangat menyakitkan bagi siapa pun! Bukan hanya dirinya, tapi, juga Rumi!
"Kalau gitu, coba lihat ini! Rekaman yang aku ambil waktu kamu lagi nyanyi tadi. Ini hasilnya bagus banget! Apa lagi kalau kamu berani unggah ke medsos... Kamu pasti terkenal! Kamu cuma butuh keberanian, sedikit lebih berani!" Ucap Maura
Raisa pun melihat hasil rekaman yang Maura ambil saat dirinya sedang bernyanyi. Menonton rekaman itu secara keseluruhan. Memutar dan menyaksikannya dari awal hingga akhir...
"Iya, ternyata hasil rekamannya bagus juga!" Kata Raisa walau kembali merasa sedih di dalam hatinya.
"Benar, kan!? Gimana kalau kita upload di Youtube? Kamu jadi youtuber tentang cover lagu. Kayaknya bakal sukses!" Ujar Maura
"Aku ga mengerti caranya. Hehe..." Kata Raisa
"Biar aku sama Nilan yang urus peng-upload-annya. Kalau sukses nanti hasilnya 60-40%. Kamu 60%. Aku dan Nilam masing-masing 20%. Gimana, mau ga?" Tawar Maura
"Pikirin nanti aja deh. Nanti kita bahas lagi. Sekarang kita sama-sama fokus ke ujian kelulusan aja dulu. Jangan sampai ujian kali ini terganggu sama hal lain." Ucap Raisa
"Oke deh! Kita bahas nanti aja lagi." Kata Maura
Kalau Raisa menerima tawaran ini, ia bisa mendapatkan uang jika memang sukses. Raisa butuh uang tambahan! Ia dan teman-teman lain dimensinya itu akan saling mengunjungi dunia masing-masing. Dan saat mereka datang, Raisa membutuhkan biaya. Ia tak mungkin merepotkan keluarganya dalam hal ini dan lebih tak mungkin pula ia membebani teman-teman lain dunianya itu untuk memberikan sesuatu yang berharga padanya untuk hal ini.
Raisa membutuhkan uang! Karena mata uang di dunianya dan dunia mereka berbeda. Dan tak bisa saling menggunakan uang pribadi saat saling mengungjungi.
"Raisa, kamu ga lagi ada masalah, kan? Waktu kamu bernyanyi tadi, kamu kelihatan benar-benar sedih dan patah hati. Kamu dan Rumi, lelaki yang kamu suka itu ga ada masalah, kan? Ga ada sesuatu atau masalah sama hubungan kalian, kan?" Tanya Nilam dengan sangat hati-hati. Takut melukai perasaan Raisa.
Raisa tertegun! Ada yang menyadari perasaannya. Dan itu adalah sahabatnya sendiri!
..."Ternyata, Nilam menyadarinya. Pantas dia tiba-tiba diam saja saat Maura malah terus bicara denganku. Padahal biasanya dia yang lebih sering bicara dari pada Maura. Dia mau bertanya tentang hal ini padaku, tapi, mungkin dia merasa ragu dan takut aku merasa sedih lagi. Atau, jangan-jangan Maura juga menyadarinya sama seperti Nilam? Aku harus menjawab apa dan bagaimana? Apa aku harus jujur dan menceritakan semua sama Nilam dan Maura?" Batin Raisa...
Apa Raisa harus mengungkapkannya pada mereka berdua? Nilam dan Maura, mereka berdua sahabat Raisa. Apa tidak apa? Mereka pasti akan mengerti... Apa dengan menceritakannya, perasaan Raisa akan merasa jadi sedikit lebih baik?
Suasana pun jadi sedikit berbeda. Wajah Raisa menjadi murung dan lesu. Nilam dan Maura pun menantikan jawabannya.
Huft~
Raisa menghela nafas panjang...
Raisa sudah menunjukkan ekspresi sedihnya. Jika tidak menceritakannya, kedua sahabatnya, Nilam dan Maura malah akan bertanya-tanya lebih banyak atau merasa tak enak hati. Bahkan mungkin mereka berdua akan merasa kurang pantas menjadi sahabat Raisa karena kurang memberi Raisa rasa nyaman sampai Raisa masih enggan menjadikan mereka berdua tempat curahan hati di kala merasa sedih.
Raisa harus menceritakan masalahnya kali ini pada kedua sahabatnya itu. Maura dan Nilam, yang masih trus menunggu jawabannya untuk menceritakan masalahnya.
"Sebenarnya ada sesuatu yang bikin aku merasa sedih. Aku suka sama dia, suka banget! Bahkan mungkin lebih dari rasa suka. Tapi, di sisi lain aku ga berani untuk lebih dari merasa suka, aku takut. Dia bukan berasal dari sini, dia berasal dari tempat yang jauh, ga tau negara mana tempat dia tinggal. Aku ga tau di mana tempat dia tinggal, di negara mana. Bagi aku, ini sama aja seperti mustahil! Tempat aku dan dia tinggal sangat berjauhan. Bahkan bagi aku keberadaan dia itu seperti tidak benar-benar ada, seperti nihil!Aku dan dia yang seperti ini ga bisa bersama. Aku takut kalau merasa lebih dari rasa suka ini, hati aku malah akan merasa tersakiti. Jadi, lebih baik aku berhenti di sini, cukup dengan perasaan ini. Tapi, ternyata rasanya sesakit ini. Ternyata, rasanya hatiku sakit banget! Aku ga sanggup! Aku harus apa, harus bagaimana?" Ungkap Raisa mengeluarkan segala uneg-unegnya.
"Raisa, perasaan yang kamu rasain gak salah. Perasaan ga pernah salah. Kamu ga salah..." Ucap Maura
Nilam yang sudah bertanya. Tapi, dia juga yang tak tau harus bilang apa...
"Raisa, kamu sabar ya. Aku juga ga tau harus respon kayak apa. Tapi, mungkin seiring berjalannya waktu akan jadi lebih baik. Entah itu kamu yang akan melupakan dia atau kamu bisa bersama dia. Waktu yang akan menjawab. Kamu cukup jalani apa yang saat ini kamu percaya, hal yang sanggup kamu lakukan. Semuanya hanya perlu waktu." Ucap Nilam
"Iya... Terima kasih udah mau dengar curhatan aku. Ternyata benar, aku merasa lebih lega sekarang. Jadi, lebih baik." Ujar Raisa
"Sama-sama. Kalau ada masalah, ceritakan aja. Jangan dipendam terus di dalam hati. Nanti kamu bisa sakit." Kata Nilam
"Kataku juga, kamu cuma butuh keberanian. Berani memutuskan! Ikuti kata hatimu mau seperti apa. Kamu harus dengarkan kata hatimu dan berani melakukannya." Ucap Maura
"Iya, kalian berdua benar!" Kata Raisa
Akhirnya Raisa menceritakan masalahnya. Namun, ia hanya mengatakan perasaannya saat ini hanya rasa suka. Padahal ia sudah cinta. Ia terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu.
Ia juga mengatakan tak tau tempat tinggal lelaki itu berada di mana. Padahal ia tau, tapi, tak bisa mengatakannya dan harus merahasiakan hal itu.
Raisa terlanjur jatuh cinta pada Rumi!
.
•
Bersambung...
__ADS_1