Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
101 - Menaruh Sihir Pendeteksi Di Rumah.


__ADS_3

Setelah perginya Farah, Arka, dan Raina... Raisa lanjut mengajari bahasa yang umum dipergunakan di dunianya pada semua temannya bersama juga adik lelakinya, Raihan.


Kata demi kata yang sudah ada pada zaman modernisasi kini diajarkan Raisa pada semua temannya dengan Raihan yang juga membantunya. Sesekali beberapa dari temannya juga bertanya tentang kata yang diucapkan Raisa atau Raihan yang masih belum mereka mengerti. Tanpa ragu dan tanpa lelah, Raisa dan Raihan terus menerangkan arti kata yang dipertanyakan tersebut. Walau merasa sedikit bosan, mereka masih saja terus mempelajari kata-kata asing yang baru pertama kali mereka dengar itu...


"Kurasa mungkin cukup sampai di sini saja kali ini. Belajar bahasa baru bagi kalian mungkin saja tidak ada habisnya." Ucap Raisa


"Iya, nih. Dari tadi gak selesai-selesai, capek juga." Kata Raihan


"Kamu segini saja kamu lelah, Han? Padahal hanya bicara saja dari tadi." Ujar Raisa


"Belajar gak berhenti-henti juga capek tahu, kak. Kayak gini kan sama aja kayak pidato panjang lebar yang gak ada habisnya." Ucap Raihan


"Kau yang seperti ini berarti tidak tahu seperti apa yang dilewati kakakmu saat membantu di dunia kami ya?" Ujar Billy


"Emangnya apa aja yang Kak Raisa lakukan di dunia kalian?" Tanya Raihan


"Stt! Jangan beri tahu Raihan tentang aku yang pernah terluka sampai tak sadarkan diri atau pun pertarungan besar di dunia kalian itu. Keluargaku tidak ada yang tahu bahwa kondisiku pernah terluka parah saat itu." Ujar Raisa yang melakukan transmisi suara alias telepati pada semua temannya kecuali Raihan.


"Raisa, itu kau? Ini suaramu? Bagaimana kau bisa melakukan transmisi suara?" Heran Morgan yang membalas transmisi suara dengan penghubungan sihir milik Raisa.


"Apa itu kau, Ian? Yang membantu Raisa bertelepati pada kita semua?" Tanya Aqila yang ikut membalas.


"Tidak, ini bukan aku. Aku sama sekali tidak membantu Raisa atau memulai terlebih dulu transmisi suara ini." Jawab Ian


"Lalu, ada apa dengan kemampuan ini? Bagaimana bisa?" Bingung Marcel


"Itu, kau! Apa ini juga termasuk sihirmu, Raisa?" Tebak Sandra


"Benar, ini aku! Aku yang memulai sihir transmisi suara ini. Kalian semua mendengar dan terhubung pembicaraannya denganku, kecuali Raihan. Jangan buat dia curiga atau memberi tahu dia tentang hal yang kubilang tadi." Ucap Raisa


"Bagaimana bisa kau memiliki kemampuan seperti ini juga?" Tanya Dennis


"Aku hanya bisa, itu saja!" Jawab Raisa


"Ada apa dengan jawabanmu itu?! Kau tidak berniat memberi tahu kami lagi tentang hal yang satu ini?" Tanya Devan


"Bukan begitu! Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Kemampuan ini pun tiba-tiba menghampiri dan kukuasai begitu saja. Aku sendiri pun tidak tahu jelasnya dan seolah terjadi begitu saja." Jelas Raisa


"Sejak kapan kemampuan ini ada padamu?" Tanya Wanda


"Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan kapan waktunya. Karena terjadi begitu saja, aku sampai tidak menyadarinya." Ungkap Raisa


"Aku percaya kau memang mengagumkan, Raisa!" Sanjung Rumi


"Kau hebat!" Puji Amy


"Sebenarnya seberapa banyak kemampuan yang kau miliki atau pun yang masih tersembunyi dan tidak kau sadari?" Heran Billy


"Mungkin ada sangat banyak lagi hingga tak terbatas..." Kata Raisa


"Seperti biasa, kau masih tetap saja percaya diri dengan kemampuanmu. Itu bagus!" Ucap Chilla


"Tidak juga kok. Terkadang aku juga bisa pesimis." Ujar Raisa


Kemampuan transmisi suara atau telepati adalah kemampuan yang khas dimiliki keluarga besar Ian secara turun temurun sejak dulu kala. Dan secara tiba-tiba, Raisa juga memiliki kemampuan ini tanpa disadarinya dan kini telah dikuasainya. Hal ini menyebabkan semua terheran dengan kemampuan baru yang dimiliki Raisa secara tiba-tiba ini hingga mereka semua tak habis pikir dengan sosok Raisa.


"Banyak yang kakak lakukan selama di sana dan kebanyakan adalah penggunaan kemampuan sihir. Paling sering sih membantu orang lain atau seperti melakukan misi praktek kemampuan sihir dan itu sangat menguras tenaga." Kawab Raisa pada pertanyaan Raihan sebelumnya.


"Jadi, hampir setiap hari dan setiap saat kakak pakai sihir kakak itu?" Tanya Raihan


"Hmm, benar. Kakak ingin terbiasa dengan kemampuan spesial ini, ingin terus menguasainya dan tidak sampai kehilangan kekuatan ini atau kehilangan kendali saat menggunakannya." Jelas Raisa


"Kau tahu, kakakmu mendapat tunjangan sebuah rumah di dunia kami? Dia sendirilah yang membersihkan seluruh ruangan rumah itu dengan kemampuan yang dimilikinya dalam waktu tidak sampai seharian penuh." Ungkap Wanda


"Kak Raisa emang pernah cerita dikasih rumah, tapi dia bilang kalian semua bersih-bersih bersama di rumah itu." Ujar Raihan


"Iya, kakak gak sendiri kok bersih-bersih saat itu. Yang lain juga bantu, mereka aja yang berlebihan." Ucap Raisa


"Bukankah memang kau yang berlebihan saat itu, Raisa? Kami memang membantu, tapi kau sendirilah yang paling banyak mengerjakan hal berat ketika membersihkan rumah barumu saat itu." Ujar Aqila


"Benar. Raisa menggunakan sihirnya untuk bersih-bersih rumah, sedangkan kebanyakan sihir kami untuk kegunaan bertarung. Jadi, kami hanya sedikit membantu saat itu dan Raisa lah yang paling banyak bekerja sendiri untuk hal-hal berat." Ungkap Marcel


"Kakakmu ini juga pernah berduel kemampuan sihir denganku atas permintaanku, tapi aku lah yang kalah dan duel itu dimenangkan oleh Raisa saat itu." Ungkap Sandra


"Eh, kau memberi tahu dan mengakui sendiri kekalahanmu saat itu, Sandra?" Tanya Ian


"Ya, aku mengakuinya. Dari pada kalian yang beri tahu dan mengejek aku, lebih baik aku sendiri yang mengaku." Jawab Sandra


Saat sedang asik mengobrol, Bu Vani dan Raina pun datang menghampiri dan ikut mengobrol bersama dengan semua yang lainnya...


"Gapapa kan kedua Ibu ini ikut ngobrol sama kalian semua?" Tanya Bu Vani

__ADS_1


"Gapapa dong, silakan aja. Oh ya, Farah-nya udah tidur, Kak Raina?" Ujar Raisa


"Udah pules tuh di kamar, makanya bisa kakak tinggal ke sini." Jawab Raina


"Kalau Kak Arka mana, kak?" Tanya Raihan


"Ada, lagi ngobrol sama Bapak." Jawab Raina


"Maaf nih, sebelumnya bukan mau menyinggung, cuma mau tanya. Teman-teman Raisa semua ini rencana mau main di dunia sini berapa lama? Bakal menginap kan?" Tanya Bu Vani


"Kami berencana menetap, tapi tidak lama. Mungkin 3 sampai 5 hari." Jawab Aqila


"Gimana dong, Raisa? Temanmu ada banyak, tidak mungkin menginap di sini karena hanya ada satu kamar tamu, itu pun udah kakak pakai." Ujar Raina


"Kenapa gak nginep di vila kayak waktu itu Kak Raisa nemenin semua temannya liburan aja?" Usul Raihan


"Kak Raisa juga berpikir begitu. Bagaimana kalau kita semua berlibur di sana bersama-sama? Lebih ramai kan lebih seru! Kak Raina sekeluarga juga ikut. Tidak apa kan kalau kuajak keluargaku juga?" Ujar Raisa


"Tidak masalah. Kami semua senang bisa mengenal dan berkumpul dengan keluargamu, Raisa. Kami di sini juga hanya menumpang dan berkunjung sebentar." Ucap Rumi


Semua teman yang lain pun hanya mengangguk...


"Aku udah pengen bilang ikut, ternyata mau ke sana ramai-ramai. Boleh juga tuh! Gimana setuju gak, Bu, Kak Raina? Jarang-jarang kan kita ngumpul ramai-ramai, jadi setuju aja ya!?" Ujar Raihan


"Ibu mau aja sih. Kalau ramai-ramai begini, gimana cara ke vila-nya?" Kata Bu Vani


"Gak usah bingung lagi masalah itu mah. Kan ada Kak Raisa, bisa pakai sihir teleportasinya lagi." Ucap Raihan


"Emang gapapa kalau pergi pakai sihir ramai-ramai begini? Gak bakal ada masalah gitu? Terus, Farah kan masih kecil. Apa gak bakal masalah juga sama anak kakak kalau pergi pakai sihir begitu?" Tanya Raina


"Kalau tentang anak kecil, aku juga belum pernah bawa anak kecil selama pakai sihir teleportasi sih, tapi itu aku yang jamin keselamatan Farah deh. Kalau masalah jumlah, aku sama semua temanku selama ini terus pakai sihir teleportasi kok, jadi sepertinya sih gak akan ada masalah kalau tambah sedikit orang lagi." Jawab Raisa


"Yang penting tuh, Kak Raina mau ikut gak sebenarnya? Kalau masalah pemakaian sihir sih, biar Kak Raisa aja yang tanggung jawab." Ujar Raihan


"Enak aja ya kamu kalau bicara, Raihan. Seolah semuanya mudah, padahal kamu cuma mau larikan tanggung jawab itu sama Kak Raisa!?" Sebal Raisa


"Aku kan cuma gak sabar mau liburan bareng ramai-ramai, Kak." Kata Raihan


"Gimana ya, Bu?" Tanya Raina yang meminta pendapat pada sang ibu.


"Kalau kamu emang mau ikut, kamu cuma harus percaya sama kemampuan adikmu. Kalau Ibu sih percaya sama anak Ibu, adikmu pasti bisa kok." Jawab Bu Vani


"Raina sih mau banget! Ya udah, kakak tanya Arka dulu deh. Dia mau ikut gak, kalau gak mau ikut sih biar Kak Raina sama Farah aja yang ikut!" Kata Raina


"Oke deh!" Patuh Raihan


Raina dan Raihan pun sama-sama mencari Pak Hilman dan Arka untuk menanyakan perihal liburan bersama ke vila.


"Jadi, kak! Semua ikut! Yeay, liburan!" Teriak Raihan kegirangan.


"Stt! Kalau ngomong tuh gak usah teriak-teriak, bukannya samperin aja Raisa-nya. Kalau Farah kebangun dari tidur terus jadi rewel, emang kamu bisa dieminnya?!" Tegur Raina


"Hehe, maaf, kak. Abis seneng banget sih mau liburan." Kata Raihan


"Ya udah, Ibu mau siap-siap dulu deh." Kata Bu Vani


Setelah heboh ingin berlibur beramai-ramai bersama, semua pun sibuk mempersiapkan semua yang ingin dibawa. Kecuali teman-teman Raisa yang hanya tinggal menunggu sambil berdiam di halaman belakang rumah.


Setelah bersiap dengan semua barangnya, Raisa pun kembali menghampiri teman-temannya di halaman belakang rumahnya.


"Maaf ya, kalau membuat kalian semua lama menunggu. Seperti inilah keluargaku jika ingin pergi liburan, persiapan mereka memang butuh waktu cukup lama." Ucap Raisa


"Tidak apa, Raisa. Kami semua mengerti dan memakluminya." Kata Amy


"Aku, Ibu, dan Bapak, udah siap, kak." Kata Raihan yang menghampiri Raisa dan yang lain di halaman belakang rumah.


"Kakak juga udah siap, tinggal nunggu Raina bawa Farah yang masih tidur." Ujar Arka yang ikut bersama Raihan menemui Raisa.


"Farah, ya? Farah biar aku aja yang bawa." Kata Raisa


Raisa pun menghampiri Raina dan Farah di kamar tamu.


Di dalam kamar tamu, terlihat Raina yang berusaha hati-hati menggendong anaknya tanpa membangunkannya.


"Farah, masih tidur, kak? Gak dibangunin aja?" Tanya Raisa dengan suara pelan setengah berbisik.


"Enggak deh. Takutnya malah jadi rewel atau malah heboh pas nanti lihat sihir kamu yang luar biasa ajaib itu." Jawab Raina


"Ya sudah. Kalau begitu, biar aku aja yang gendong Farah. Kak Raina mau pastikan keselamatan Farah selama pakai sihir teleportasi kan? Kalau Farah aku yang bawa, bakal lebih aman." Ujar Raisa


"Emangnya kamu gapapa gendong Farah begini?" Tanya Raina

__ADS_1


"Gapapa, kak. Kalau cuma Farah, aku kuat kok. Lagi pula, aku bisa kasih kenyamanan supaya Farah gak sampai terbangun." Jawab Raisa


"Apa maksudnya itu? Kamu pakai sihir ke Farah biar dia gak kebangun?" Tanya Raina


"Ya, sedikit mirip seperti itulah. Bukan sihir yang gak baik kok, maksudnya sihirku tuh berasal dari kekuatan yang murni. Aku bisa aja kasih kenyamanan dengan orang yang ada di dekatku. Walau termasuk sihir, sihir seperti ini gak membahayakan." Jelas Raisa


"Kekuatan yang murni. PD banget kamu, Raisa." Kata Raina


"Percaya diri dong! Kalau kakak, percaya gak sama aku?" Ujar Raisa


"Iya, kakak percaya sama kamu." Kata Raina


Dengan sangat hati-hati, Raisa pun menggendong keponakan kecilnya tanpa membangunkannya. Setelah itu, ketiganya pun ke luar dari kamar tamu dan menemui yang lain untuk segera pergi.


"Loh kok, Farah digendong sama Raisa?" Tanya Bu Vani


"Raisa sendiri yang minta, Bu. Dia mau mastiin langsung keselamatannya Farah selama pakai sihir teleportasi." Jelas Raina


"Emang kamu gapapa gendong Farah begitu, Raisa?" Tanya Pak Hilman


"Gapapa, Pak. Raisa kuat kok." Jawqb Raisa


"Benar nih? Kamu gak keberatan gendong Farah?" Tanya Pak Hilman sekali lagi.


"Benar, Pak. Kok sekarang malah Bapak yang gak percaya sama Raisa sih, Bapak parnoan ih! Raisa yakin kuat kok." Tegas Raisa menjawab.


"Ya, Bapak kan cuma takut kamu keberatan." Kata Pak Hilman


"Kalau kau merasa berat, aku bisa menggantikanmu menggendong Farah." Ujar Rumi


"Kau jadi iku khawatir ya, Rumi. Tidak apa, aku masih kuat menggendong Farah." Ucap Raisa


"Kalau begitu, jika kau merasa lelah... Kau bisa bersandar padaku kapan saja." Kata Rumi


"Hehe, baiklah. Aku mengerti. Terima kasih." Ujar Raisa


"Kita pergi lewat belakang rumah atau dari depan rumah nih?" Tanya Raihan


"Lewat belakang aja, biar gak ada orang yang lihat." Jawab Raina


"Terus, rumah ini mau ditinggal gitu aja? Di sini ada dua mobil yang ditinggal juga loh?" Tanya Arka


"Atau mau pakai ularku untuk mengawasi rumahmu, Raisa?" Usul Rumi bertanya.


"Ular?!" Kaget Raina


"Eh, tenang. Jangan takut! Sihir milik Rumi punya ciri khas sihir hewan yaitu ular. Ular sihirnya bisa berfungsi seperti pengawasan atau bahkan bisa berperan sebagai pengganti kamera pengawas. Gak berbahaya kok, ularnya juga cuma berukuran kecil." Jelas Raisa


Rumi pun menunjukkan ular sihirnya yang mulai muncul dari balik lengan pakaiannya. Keluarga Raisa yang melihat pun bergidik ngeri.


"Maaf ya, Rumi. Sepertinya tidak perlu memakai ular sihirmu. Seperti yang kau lihat, reaksi keluargaku, jika ada orang lain yang melihat ularmu nanti sepertinya akan sangat merepotkan. Maaf ya, padahal kau hanya berniat baik, tapi memang orang-orang sangat taku saat melihat ular." Ucap Raisa


"Tidak apa, Raisa. Jangankan keluargamu yang baru pertama kali mengetahui dan melihatnya, kami pun terkadang masih terkejut saat melihat ular sihir Rumi. Kau juga tidak masalah kan, Rumi?" Ujar Morgan


"Tidak apa. Maaf telah membuat semuanya takut dan terkejut." Kata Rumi yang kembali membatalkan sihir ularnya.


"Tapi, jika tidak menggunakan ular sihirku sebagai pengawas, lalu bagaimana kau ingin mengawasi rumahmu agar tetap aman, Raisa?" Tanya Rumi


"Biar aku yang memastikan sendiri rumahku tetap aman, aku memiliki cara." Jawab Raisa


"Cara apa itu?" Tanya Morgan


"Cara yang sering kugunakan, lihatlah!" Kata Raisa


Raisa mengulurkan sebelah tangannya ke arah tanah. Raisa menggunakan sihirnya dan di tanah rumahnya mulai muncul lambang besar Bunga Teratai yang bersinar berwarna putih.


"Bunga teratai putih! Apa ini..."


"Ya, fungsinya sama seperti yang kuberikan pada kalian semua." Ujar Raisa


"Apa maksudnya lambang teratai putih ini?" Tanya Bu Vani


"Aku belum jelasin tentang ini sama Ibu dan yang lainnya ya? Bunga Teratai Putih adalah lambang inti dari kekuatan Raisa. Lambang yang muncul di tanah rumah ini berfungsi sebagai pendeteksi, aku bisa langsung tahu semisal kalau ada yang terjadi di rumah ini nantinya, semua temanku juga punya tanda lambang ini di salah satu telapak tangan mereka yang berfungsi sebagai pendeteksi supaya aku tahu kalau mereka tetap baik-baik aja dan kalau sesuatu terjadi pada mereka aku pun bisa langsung tahu." Jelas Raisa


Saat Raisa menjelaskan, semua temannya pun ikut memperlihatkan tanda lambang Bunga Teratai Putih yang ada pada salah satu telapak tangan mereka.


"Maaf, baru sempat kasih tahu sekarang. Lain kali, Raisa juga bisa kasih tanda lambang Bunga Teratai Putih ini pada Ibu, Bapak, dan semuanya. Biar aku juga bisa tahu langsung kondisi semua keluarga." Ucap Raisa


"Masalah ini yang penting kamu udah kasih tahu. Sekarang Ibu mau ngabarin Pak Danu dulu kalau kita mau datang ke vila, biar dia bisa siapin kuncinya begitu kita datang." Ucap Bu Vani yang langsung mengabari Pak Danu, penjaga vila.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2