Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 107 - Piknik Malam.


__ADS_3

Setelah istirahat, semua kembali berkumpul untuk makan bersama. Satu meja makan panjang terasa penuh dan suasana seperti makan besar sebuah keluarga besar.


"Semuanya udah pada selesai bobok siang, ya? Onty Icha, Uncle Rumi, maaf, ya, kalau tadi aku sama Om Ehan udah ganggu," ujar Farah yang dengan polosnya kembali membahas soal bobok siang.


Semua tampak bergeming. Beberapa dari mereka langsung melirik ke arah Raisa dan Rumi. Karena tentu ... bobok siang-nya orang dewasa berbeda dalam artian anak kecil.


Mendengar perkataan Farah sontak membuat Raisa tersedak.


Uhuk!


"Pelan-pelan makannya, Sayang," kata Rumi yang langsung memberikan segelas air minum pada Raisa.


"Terima kasih," ucap Raisa yang langsung menyambar segelas air pemberian dari sang suami.


"Iya, diminum dulu airnya," sahut Rumi


Raisa pun menenguk air minum dengan sangat hati-hati.


"Iya ... maaf, ya, Raisa, Rumi. Namanya juga anak kecil. Kamu juga, sih, Raihan ... " ujar Raina


"Kok aku, sih, Kak ... " sebal Raihan yang lagi-lagi disalahkan oleh kakak sulungnya.


"Iya ... maaf, ya, Kak Raisa, Kak Rumi ... " sambung Raihan yang akhirnya merasa bersalah.


"Gak apa kok," balas Raisa usai minum air mineral.


"Ya, itu bukan masalah," sahut Rumi


Raisa melanjutkan makannya sambil menahan rasa malu di dalam hatinya, sedangkan Rumi tampak biasa saja.


"Omong-omong, di mana Paman Garry dan Paman Johan? Kenapa mereka berdua tidak kelihatan dari tadi?" tanya Raisa yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Mereka berdua sedang ada urusan ke luar daerah," jawab Tuan Rommy


"Ya, kau tidak perlu memikirkan mereka berdua. Mungkin besok mereka sudah kembali," ujar Nona Rina


Raisa hanya mengangguk tanda mengerti.


"Oh, ya ... di dekat sini, kan, ada sungai kecil. Bagaimana kalau malam nanti kita piknik malam sambil memancing dan bakar ikan? Mau tidak?" tanya Raisa memberi saran.


"Mau, Onty. Pasti seru," jawab Farah


"Ide bagus, Raisa ... " sahut Rumi


"Aku akan ikut untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan," ujar Nona Rina


"Kita siapkan bersama saja," kata Logan


"Ayah Rommy juga ikut, ya?" tanya Raisa mengajak sang ayah mertua.


"Baiklah. Aku akan ikut," jawab Tuan Rommy


Raisa tersenyum senang saat rencananya berhasil dan disambut baik oleh semuanya.


...


Malam harinya.


Usai menyiapkan segala sesuatunya, semua pun mulai mencari tempat yang cocok untuk menggelar tikar untuk piknik malam.


"Di sini saja. Ayo, kita gelar tikarnya," kata Nona Rina


Para perempuan bahu membahu nenggelar tikar dan menyiapkan peralatan lainnya untuk makan nanti. Sedangkan para lelaki asik bersiap untuk memancing ikan dan menyiapkan alat pancing.


Saat itu, Raisa menggunakan kemampuan sihirnya untuk menumbuhkan tanaman kayu dan semak belukar, lalu membakar tanaman tersebut untuk dijadikan api unggun unruk memberi kehangatan pada mereka semua yang ada di sana.


Sambil menunggu hasil pancingan, mereka semua makan camilan yang sudah dibawa.


Setelah lama, mereka mulai bosan menunggu.


"Onty Icha, Uncle Rumi, mana ikannya? Kapan tertangkap? Kok belum dapat juga?" tanya Farah


"Farah, sudah lapar, ya?" tanya Bu Vani


Farah hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan dari sang nenek.


"Sabar, ya, Sayang ... nanti juga dapat kok ikannya," ujar Raina


"Tapi, Mih ... kalau malam bukannya ikannya pada bobok, ya?" tanya Farah


"Justru itu, Farah ... karena ikannya pada bobok jadi lebih mudah untuk ditangkap," jawab Raisa


"Kalau begitu, kurang efektif dong kalau pakai alat pancing. Harusnya kita pakai jaring untuk tangkap ikannya yang pada bobok itu," ujar Raihan


"Oh ... iya juga, ya," kata Raisa yang keliru dengan pemikirannya sendiri.


Rumi terkekeh pelan mengetahui istrinya bisa keliru juga padahal yang ia tahu selama ini Raisa adalah orang yang bisa segalanya dan dapat dibilang sebagai orang yang perfeksionis.


Raisa pun bangkit dari duduknya dari atas tikar dan beranjak mendekat ke pinggir sungai.

__ADS_1


"Kalau begitu, biar aku bantu tangkap ikannya," ujar Raisa


"Memangnya kau bisa, Raisa?" tanya Logan


"Aku akan mencobanya," jawab Raisa


"Raisa, aku bisa membantumu untuk menangkap ikan-ikan di sungai itu." Veron bicara untuk berkomunikasi dengan Raisa di dalam diri Raisa.


"Veron, kau adalah Sang Penguasa Sungai yang Suci. Kalau kau menangkap ikan-ikan di sungai bukankah kau menyalah-gunakan kekuatanmu untuk membasmi makhluk hidup di sungai itu?" tanya Raisa yang berbalas komunikaai dengan Veron di dalam dirinya.


"Itu berbeda. Tugasku adalah menjaga sungai agar tetap suci dan bersih lestari. Sedangkan ikan-ikan di sungai sudah menjadi hakikat mereka untuk menjadi makanan para manusia. Meski pun mereka merasa sedih karena harus mati, di saat yang bersamaan mereka juga merasa senang karena bisa berguna bagi manusia untuk menjadi makanan. Aku tidaklah menyalahi aturan alam," jelas Veron


"Baiklah. Kalau begitu, aku mohon bantuan darimu saja," ujar Raisa


"Kau hanya perlu memanggilku ke luar dari dalam dirimu, Raisa," kata Veron


"Aku mengerti," sahut Raisa


Raisa mengatur ketenangan dirinya, ia menarik dan menghembuskan nafas perlahan. Lalu, seolah merapalkan sebuah mantra, Raisa memanggil Veron, Sang Penguasa Sungai Suci untuk ke luar dari dalam dirinya.


"Veron, aku memanggilmu!" seru Raisa


Tubuh Raisa mengeluarkan cahaya dan saat itu juga seekor serigala yang dikelilingi ileh cahaya biru ke luar begitu saja dari dalam dirinya.


Begitu ke luar, Veron langsung masuk ke dalam aliran sungai dan sosoknya seolah menghilang dan tenggelam di dalam sungai tersebut begutu saja. Kali ini Veron menggunakan ukuran serigala biasa pada umumnya.


Melihat itu, Farah langsung masuk ke dalam pelukan Raina karena merasa takut.


"Raisa, kau memanggil Veron dari dalam dirimu?" tanya Rumi


Raisa hanya tersenyum kecil.


"Itu ... Sang Penguasa Sungai Suci!" seru Tuan Rommy


"Raisa, makhluk apa itu? Kenapa ada makhluk yang ke luar dari dalam diri kamu?" tanya Bu Vani


"Itu adalah makhluk legenda sihir suci yang mengambil bentuk menyerupai hewan serigala sebagai perwujudannya. Dia adalah penguasa sungai suci dan memiliki jenis sihir elemen air dan es. Namanya adalah Glyn Veron. Aku memanggilnya, Veron," ungkap Raisa


"Ada juga makhluk seperti itu, ya?" tanya Pak Hilman


"Tentu ada. Dia bersatu ke dalam diriku dan mengakuiku sebagai tuannya. Kami saling melindungi kehidupan satu sama lain," jelas Raisa


"Jangan takut, Farah. Dia tidak jahat asalkan kita juga tidak jahat sama dia. Dia menawarkan diri untuk membantu menangkap ikan di sungai ini untuk kita makan nanti," sambung Raisa


"Oh ... seperti itu, ya, Onty," ujar Farah


"Jadi, selama ini kau masih belum mengatakan soal keberadaan Veron dan Helio yang ada di dalam dirimu pada keluargamu, Raisa?" tanya Rumi


"Belum. Karena aku tahu reaksi mereka pasti takut saat melihat dua makhluk suci itu jika aku tunjukkan, jadi aku membiarkan keluargaku tahu dengan sendirinya seperti tadi," jawab Raisa


"Raisa, kan, kau tidak perlu menunjukkan wujud dua makhkuk suci itu. Kau cukup menceritakannya saja," ucap Tuan Rommy


"Iya, Ayah. Aku baru sadar kalau selama ini aku masih sering berpikir secara impulsif," kata Raisa


"Yang tadi itu Veron, kan? Lalu, apa lagi itu ... Helio, yang dikatakan Rumi tadi? Kamu punya dua makhluk suci yang menjaga kamu, Raisa?" tanya Pak Hilman


"Iya, Pak. Keduanya sama-sama makhkuk suci. Tapi, berbeda dengan Veron, Helio adalah makhluk legenda sihir suci yang mengambil bentuk menyerupai hewan burung sebagai perwujudannya. Dia adalah Burung Api Legendaris dan aku menyebutnya phoenix. Jenis sihirnya adalah elemen api dan namanya adalah Helio," ungkap Raisa


"Kau hebat sekali, Raisa. Dua makhluk suci telah mengakui dirimu sebagai tuan. Elemen api dan air sekaligus," ucap Logan


"Dari pada aku, Rumi juga memiliki makhkuk sihir suci yang lebih hebat di dalam dirinya. Itu adalah Naga Suci, makhluk sihir suci tertinggi yang memiliki jenis sihir elemen api, petir, air, dan udara," ungkap Raisa


"Rumi, kau mempertanyakan aku yang tidak menceritakan tentang dua makhluk suci di dalam diriku pada keluargaku, tapi sepertinya kau juga tidak menceritakan tentang keberadaan Niran di dalam dirimu pada keluargamu, ya," sambung Raisa berbicara pada suaminya.


"Aku tidak punya waktu menceritakannya, aku juga jarang pulang ke kediaman Ayah. Saat pulang terakhir kali pun aku hanya membahas soal keinginanku untuk mempersunting dirimu sebagai istriku," ucap Rumi


"Rumi memang jarang pulang kalau bukan ada urusan yang sangat penting, termasuk tentang dirimu, Raisa, yang dianggap sangat penting baginya," kata Nona Rina


"Tidak boleh seperti itu dong, Rumi. Kau harus sering mengunjungi keluargamu di sini," tegur Raisa


"Karena itu, Raisa ... karena kalian sudah bersama, sering-seringlah ingatkan Rumi untuk pulang. Kau juga, Rumi ... sering-seringlah bawa istrimu pulang. Supaya Ayah bisa melihat serta memastikan kondisi dan kabar kalian berdua," ujar Tuan Rommy


"Baiklah, Ayah, Istriku ... aku akan ingat pesan kalian berdua," kata Rumi


"Raisa, katanya serigala tadi, maksudku Veron itu ingin menangkap ikan untuk kita. Kenapa dia masih belum kembali sampai sekarang?" tanya Arka


Raisa pun melihat ke arah sungai yang tetap mengalir dengan tenang. Saat itulah akhirnya muncul sesosok serigala dari dalam sungai. Veron kembali. Di dalam tubuhnya yang sedang berubah menjadi roh air suci terdapat banyak ikan yang tertampung di dalam dirinya yang dibawa ke darat.


"Itu Veron muncul ... dia telah kembali," kata Raisa


Veron masuk ke dalam peti es yang sudah disediakan di sana. Veron yang kini sedang berubah wujud roh air suci menaruh ikan yang berada di dalam diri roh sucinya ke dalam peti es, lalu Veron ke luar dari peti es itu setelahnya.


"Apa jumlah ini cukup untukmu sekeluarga, Raisa?" tanya Veron


"Lebih dari cukup. Terima kasih atas bantuanmu, Veron," jawab Raisa


"Senang bisa melayani keluarga yang mengasihi Sang Dewi. Suatu kehormatan bagiku," kata Veron


"Kau berlebihan, Veron. Setelah ini kau bisa beristirahat, jadi kembalilah ... sekali lagi terima kasih," ucap Raisa

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan padaku, Raisa ... karena kau adalah tuanku," ujar Veron


Lalu, dalam wujud roh suci itu, Veron pun kembali merasuk ke dalam diri Raisa.


"Dasar ... kaulah yang jangan sungkan padaku. Sudah kubilang, aku tidak suka dianggap sebagai tuan karena kau adalah temanku," gumam Raisa


"Kau sangat baik hati, Raisa. Tak salah aku memilihmu menjadi tuanku," ucap Veron yang berkomunikasi dari dalam diri Raisa.


"Sekali lagi kau menyebut tuan denganku, aku akan marah dan tidak ingin lagi berteman denganmu. Yang artinya kau harus ke luar dari dalam diriku. Ini juga berlaku untukmu, Helio," tegas Raisa yang berkomunikasi dengan Veron dan Helio di dalam dirinya.


"Maaf," sesal Veron


"Aku tidak melakukan apa pun. Jangan marah padaku, Raisa," kata Helio


Raisa tersenyum kecil.


"Makhluk tadi bisa bicara?" tanya Raihan


"Tentu saja, bisa. Dia adalah makhluk sihir suci," jawab Raisa


"Wah ... ikan yang ditangkapnya banyak banget," kata Arka


"Sepertinya dengan jumlah itu cukup untuk kita semua makan dan masih ada sisa untuk disimpan," ucap Rina


"Kalau begitu, ayo, kita mulai bakar ikannya," ujar Raisa


Mereka pun mulai membersihkan ikan dan menyiapkan alat bakar ikan.


Pak Hilman, Raihan, dan Arka membersihkan ikan. Sedangkan Rumi, Logan, dan Tuan Rommy menyiapkan alat bakar ikan serta menyalakan bara api. Para perempuan tak hanya duduk berdiam diri. Mereka menyiapkan alat makan.


Saat Raisa ingin beralih untuk membantu menyalakan bara aoi pada alat bakar ikan, Rumi melarangnya.


"Bara apinya sudah jadi belum? Apa ada yang perlu kubantu?" tanya Raisa


"Tidak ada. Sudah ... kau duduk saja dengan tenang," jawab Rumi


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapian. Kau hanya perlu menunggu hingga ikan bakarnya matang nanti," ujar Rumi


"Kalau kau ingin membantu menyalakan api, apa kau sudah lupa ... sekarang aku pun bisa menggunakan sihir elemen api. Kau menjauhlah dari sini agar tidak terkena bau asap," sambung Rumi


"Jadj, kau tidak suka jika tubuhku bau asap nantinya, begitu? Hmm?" tanya Raisa


"Bukan seperti itu. Kau selalu harum, Sayang. Kau hanya perlu menunggu seperti seorang ratu karena sudah tidak ada yang perlu kau bantu lagi. Kau hanya perlu mencintaiku," jawab Rumi


"Dasar, raja gombal! Menyebalkan!" kesal Raisa


Raisa kalah telak. Niat hatinya ingin sedikit menggoda Rumi, yang ada malah Rumi yang menggodanya hingga merasa malu. Raisa pun kembali duduk dengan para perempuan lainnya.


"Kak Raisa, gak mau bantu bersihin ikan di sini?" tanya Raihan


"Gak, deh. Kan, udah ada kamu, Rey ... " jawab Raisa


"Dasar ... padahal di sini ada Bapak. Bisanya cuma peduli sama suami aja," ujar Raihan


Raisa terkekeh pelan.


"Pak, susah gak bersihin ikannya? Bisa, kan, ya?" tanya Raisa


"Bisa kok. Ini mudah," jawab Pak Hilman


"Gak usah nanya kalau cuma basa-basi. Bilang aja gak mau kena bau ikan, padahal tadi rela kena bau asap. Gak usah sok peduli, peduliin aja suamimu sana ... " ujar Raihan


"Gak boleh seperti itu, Raihan. Yang sopan sama kakak iparmu," tegur Raisa


"Maaf, aku cuma bercanda," sesal Raihan


"Aku juga cuma lagi akting memarahi adik yang nakal," ujar Raisa


"Jurus aktingnya ke luar lagi," kata Raina


"Akting, sih ... akting, tapi adik yang nakal-nya ituloh ... kok menjurus banget, ya?" tanya Raihan menyindir Raisa.


"Tuh, kamu sadar ... " jawab Raisa menyindir balik.


"Akting Onty Icha keren! Onty Icha, artis paling hebat! Top nomor 1!" seru Farah


"Terima kasih, Sayang," ucap Raisa


"Sama-sama," balas Farah


Malam itu menjadi menyenangkan saat mereka semua berulang kali melepas tawa bersama.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2