Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 14 - Penyusup yang Dikendalikan.


__ADS_3

"Kenapa aku harus tetap berada di sini?" tanya Rumi


"Kau bisa tetap di sini dan lindungi para warga," jawab Guru Kevin


"Kenapa aku tidak boleh ke luar? Aku juga ingin ke luar dan berjuang bersama teman-teman yang lain," protes Rumi


"Kau di sini saja. Di luar mungkin akan berbahaya untukmu. Kami hanya ingin melindungimu," kata Guru Kevin


"Bagaimana dengan Raisa? Dia tidak ada di sini untuk ikut mengungsi?" tanya Rumi


"Dia sudah dilindungi di tempat lain. Kau tenang saja," jawab Guru Kevin


"Meski begitu, aku tetap ingin ke luar dan berjuang bersama. Aku tidak ingin hanya diam menunggu seperti seorang p*c*nd*ng! Biarkan aku ke luar dan menghadapi bahaya itu secara langsung," ujar Rumi


"Tidak bisa," kata Guru Kevin


"Maafkan aku, Guru ... " pelan Rumi


Saat Guru Kevin hendak melakukan sihir untuk menahan Rumi agar tidak bisa kabur, Rumi lebih dulu menyerang Guru Kevin secara diam-diam dengan menggunakan jurus sihir petir miliknya.


Serangan berhasil mengenai Guru Kevin dan Rumi pun kabur melarikan diri.


Ketika berhasil ke luar, Rumi langsung pergi mencari untuk menemui Raisa karena merasa khawatir. Apa lagi, Rumi punya tanggung jawab untuk menjaga Raisa dan memastikannya tetap aman.


Saat sedang bepergian mencari keberadaan Raisa meski tidak tahu letak pasti posisinya, Rumi sudah lebih dulu bertemu Raisa di perjalanan. Rumi melihat Raisa pun berlari ke arahnya.


"Rumi!" seru Raisa memanggil.


"Raisa, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Rumi


"Aku tidak sengaja mendengar kalau mungkin akan atau sedang terjadi sesuatu. Aku bergegas ke luar untuk ikut memberi bantuan," jelas Raisa


"Itu terlalu berbahaya untukmu. Harusnya kau berlindung saja," kata Rumi


"Memang ada yang ingin melindungiku, tapi aku tidak ingin berdiam diri saja," ujar Raisa


"Tapi, Raisa-"


"Kau sendiri, kenapa bisa ada di sini? Apa kau tahu, bahaya yang sekarang ini mungkin sedang mengincarmu!?" tanya Raisa


"Itu karena aku juga ingin ikut berjuang bersama yang lain apa pun yang terjadi," jawab Rumi


"Kau pun berpikir seperti itu. Pasti kau tidak ingin diam dan menunggu saja seperti orang p*c*nd*ng, kan ... aku pun sama. Aku pun ingun ikut berjuang bersama kalian semua," ucap Raisa


"Raisa, kau tidak mengerti. Aku merasa khawatir dan tidak bisa membiarkan ada yang terjadi denganmu. Aku tidak bisa membayangkan jika kau terluka lagi," ujar Rumi


"Rumi, dengarkan aku! Aku tahu kau mengkhawatirkan diriku, apa lagi sekarang aku tidak memiliki kemampuan sihir lagi. Tapi, aku masih punya kemampuanku yang lain dan bisa ikut berjuang. Aku janji tidak akan memaksakan diri dan akan mundur begitu terluka atau saat aku merasa sudah tidak mampu lagi dan pergi mencari pertolongan. Jadi, kumohon ... biarkan aku juga ikut berjuang bersamamu dan yang lain," mohon Raisa


"Kan, kau juga tahu usahaku. Aku tidak mudah untuk dijatuhkan atau pun menyerah. Jadi, kumohon padamu, ya ... " sambung Raisa


"Baiklah. Tapi, kau harus berjanji kau tidak akan terlalu memaksakan diri," pasrah Rumi menuruti kemauan Raisa.


"Itu pasti. Terima kasih," ucap Raisa langsung berhambur memeluk tubuh Rumi saking senangnya.

__ADS_1


Rumi pun membalas pelukan Raisa.


"Berjanjilah kau akan tetap baik-baik saja, Raisa. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu," batin Rumi


Karena Raisa memohon padanya dengan bersungguh-sungguh, Rumi pun luluh dan membiarkan Raisa bebas melakukan yang ia mau dengan tetap menjaga dan tidak memaksakan diri sendiri.


"Jangan sampai kau lebih dulu melindungi orang lain dari pada dirimu sendiri. Jaga dan lindungi serta jangan memaksakan diri sendiri. Utamakanlah keselamatan dirimu sendiri," pesan Rumi


"Baik, aku mengerti. Kau pun harus begitu," kata Raisa


Rumi pun mengangguk.


Keduanya pun melepaskan pelukannya satu sama lain.


Saat itu juga, Aqila, Morgan, dan Amon datang menghampiri Rumi dan Raisa yang ada di sana.


"Rumi, Raisa, kenapa kalian ada di sini? Bukankah harusnya kalian sedang dalam pengawasan dan berada di dalam perlindungan?" tanya Aqila


"Biarkan kami untuk ikut berjuang bersama kalian," kata Rumi dengan tegas.


Rumi berkata sambil menggenggam tangan Raisa dan saling memperlihatkan tatapan keyakinan yang sama.


"Mau bagaimana lagi ... kalau kalian sudah bertekad, tidak akan ada yang mampu menghalangi kalian berdua, kan ... " ujar Morgan


"Tentu saja," jawab Raisa sambil mengangguk dengan tegas.


"Menurutku, ini sangat merepotkan. Jangan sampai kalian berdua malah menghalangi langkah dan tindakan kami," ucap Amon


"Tenang saja. Kami tidak akan merepotkanmu dengan memintamu untuk melindungi kami," ujar Raisa sambil tersenyum.


Raisa terkekeh kecil.


Awalnya, Aqila, Morgan, dan Amon diminta untuk mengawasi dan membawa kembali Raisa dan Rumi pada pos perlindungan. Namun, ketiganya malah mau tidak mau membiarkan Raisa dan Rumi bebas untuk ikut berjuang bersama.


"Sekarang bagaimana keadaan yang telah terjadi?" tanya Raisa


"Seluruh warga telah diungsikan, tapi masuk banyak orang dari desa lain melakukan penyerangan di seluruh penjuru Desa Daun. Kami diminta untuk pergi menangani ke sisi timur desa," ungkap Aqila


"Kalau begitu ... biarkan aku ikut membantu," ujar Raisa


"Baiklah ... ayo," kata Morgan


Mereka berlima pun segera pergi menuju ke sisi timur Desa Daun.


Saat tiba di sisi timur desa, mereka langsung dihadapkan dengan rombongan orang yang masuk. Jumlah orang yang masuk tidak sebanyak yang berada di sisi lan desa. Karena kebanyakan sisi timur desa adalah hutan dan tak ada pintu masuk, orang-orang yang menerobos masuk jauh lebih sedikit.


"Di sini hanya ada hutan, sebenarnya mereka datang dari mana?" tanya Morgan dengan heran.


..."Seperti serangan zombie!" batin Raisa...


"Ada yang aneh dengan mereka! Mereka seperti sedang dikendalikan," ucap Raisa


"Dugaan yang ada memang mengatakan mereka yang menyusup dalam pengaruh kendali sihir seseorang," ungkap Aqila

__ADS_1


"Sejak kapan orang-orang mulai menyusup ke dalam Desa Daun?" tanya Raisa


"Sejak matahari terbit," jawab Aqila


"Untuk apa banyak bicara? Langsung bertindak saja," kata Amon yang langsung menyerang orang-orang yang menyusup.


Morgan pun ikut mengatasi para penyusup itu.


"Mereka memang banyak, tapi sebenarnya mereka sangat lemah. Karena dalam kendali orang lain, mungkin saja mereka tidak ada niat untuk menyusup dan menyerang. Jadi, hati-hati ... jangan sampai membuat mereka terluka!" teriak Aqila


"Ini merepotkan. Bagaimana bisa menangani penyusup seperti mereka ini tanpa membuat mereka terluka?" Amon bergumam dalam tanda tanya.


"Ini memang merepotkan, tapi turuti saja perintah ketua," kata Morgan


Aqila memang adalah ketua dari tim yang sedang terjun saat ini.


Aqila dan Rumi pun ikut menangani para penyusup. Sedangkan Raisa masih berdiam diri, menelaah dan menduga-duga dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan segala keanehan yang ada.


Benar kata Aqila, orang-orang yang menyusup itu sangat lemah. Sekali mereka menyerang, maka setelahnya mereka akan jatuh tak sadarkan diri. Namun, jumlah mereka terus bertambah. Satu orang jatuh, orang lainnya akan terus berdatangan. Itulah yang membuat semuanya jadi repot.


Raisa mulai menyadari sesuatu.


..."Benar juga! Ini masih dalam kurun waktu 5 tahun itu! Berarti dalang dari semua ini adalah dia ... Sang Dewa! Dia datang untuk kembali mengincar Rumi! Meski begitu, aku tahu kelemahannya! Mungkin aku bisa mengatasi semua ini," batin Raisa...


"Hei, kau! Kenapa diam saja? Katanya, mau membantu?!" teriak Amon yang perkataannya merujuk pada Raisa.


"Aku tahu kelemahan mereka dan cara mengatasi semua ini! Jangan menyerang mereka, tapi terima saja serangan mereka! Aku jamin mereka akan langsung jatuh tak sadarkan diri!" teriak Raisa seolah bicara hal yang tidak masuk akal.


"Jangan langsung menerima serangan mereka. Kalian boleh menangkis serangan mereka, tapi jangan menyerang atau membalas serangan mereka. Supaya kalian atau pun mereka tidak banyak menanggung luka," sambung Raisa


Karena para penyusup sebagian besar adalah pengguna sihir, Raisa memberi aba-aba supaya mereka tidak langsung menerima serangan dari para penyusup. Supaya dari dua pihak tidak banyak menanggung luka.


"Bicara omong kosong apa kau ini?!" teriak Amon


Bagaimana tidak dianggap oming kosong? Para penyusup datang karena terkena pengaruh kendali seseorang, pasti mereka akan menyerang tanpa ampun. Itu bertolak belakang dengan ucapan Raisa.


Meski terdengar seperti omong kosong yang tak masuk akal, Rumi percaya sepenuhnya pada Raisa. Rumi pun maju menerima serangan dari para penyusup itu. Dan, benar saja! Para penyusup yang berhasil menyerang Rumi langsung jatuh tak sadarkan diri setelah memberi satu serangan.


"Raisa, benar! Mereka yang menyerangku langsung terjatuh tak sadarkan diri!" teriak Rumi


Semua pun terperangah. Mereka tidak percaya bahwa yang Raisa ucapkan itu benar-benar adalah cara mengatasi para penyusup itu. Mengetahui benarnya dugaan Raisa, Amon malah menaruh kecurigaan yang besar pada Raisa.


"Jelaskan ... bagaimana kau bisa mengetahui kelemahan dan cara mengatasi mereka? Apa kau sebenarnya adalah komplotan yang ada di balik semua ini yang mengendalikan para penyusup ini?" tanya Amon


"Jangan berlebihan, Amon. Raisa-lah yang membantu memikirkan cara mengatasi mereka semua ini. Dia tidak ada hubungannya dengan dalang yang ada di balik kejadian ini," ucap Morgan


"Soal aku yang mengetahui cara mengatasi dan kelemahan mereka ... kita bicarakan nanti saja! Nanti aku akan memberitahu kalian tentang yang semua kutahu," ujar Raisa


"Sekarang, kita atasi para penyusup ini dulu!" teriak Raisa melanjutkan.


Akhirnya, Raisa pun ikut maju untuk menangani para penyusup yang dikendalikan itu.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2