
Setelah melihat-lihat hasil pemotretan dan semua urusan di studio pemotretan sudah selesai, Raisa dan Rumi bersiap untuk pergi dari sana. Keduanya pun berpamitan dengan Daffa.
Saat keduanya hendak beranjak pergi, model baru yang akan melakukan sesi pemotretan berikutnya pun datang. Model baru tersebut menghentikan langkah Raisa dan memanggilnya.
"Tunggu dulu, sebentar! Kak Raisa," sapanya setelah menghentikan langkah kaki Raisa.
"Raisa, kau kenal dengannya?" tanya Rumi
"Ini Kak Raisa, kan? Kakak ingat aku gak? Itu loh, yang dulu kakak pernah selametin aku waktu ada kerusuhan gempa dan penyusup di sekolah," ujarnya menjelaskan kejadian pertemuan pertamanya dengan Raisa.
Raisa mencoba mengingat momen masa lalu saat masih sekolah. Dan petunjuknya adalah kerusuhan di sekolah. Raisa pun berhasil mengingatnya! Itu adalah ketika orang dari dimensi asing tak berpenghuni menerobos masuk ke dunianya dan menyusup ke dalam lingkungan sekolahnya untuk membuat kerusuhan.
"Oh, iya! Aku ingat! Maaf, aku sempat lupa," kata Raisa setelah dapat mengingatnya.
"Aku Lina, Kak. Kak Raisa, menyelamatkan aku saat itu," ucapnya sambil memperkenalkan diri.
"Oh, ya. Halo, Lina ... " sapa Raisa
"Lo ... maksudnya, kamu kenal Lina, Raisa? Dia model baruku yang kusebut di telepon sebelumnya. Dia ini yang bakal ada pemotretan di sini setelah ini," ujar Daffa
"Iya, kami pernah bertemu. Kami dari sekolah yang sama. Lina ini adik kelasku," jelas Raisa
"Kak Raisa, pemotretan di sini juga, ya. Aku beruntung dong bisa pemotretan di studio yang sama kayak Kak Raisa. Secara, kan, sekarang Kak Raisa udah jadi artis," ucapnya, Lina
"Kamu berlebihan, Lina," kata Raisa
"Kak Raisa, datang sama siapa?" tanya Lina
"Oh, aku sama teman. Kenalin, ini Rumi. Rumi, dia adik kelasku dulu, Lina. Dan, Lina, ini Daffa. Dia temanku juga dan pemilik studio sekaligus fotografer di sini," ujar Raisa
"Halo, semuanya. Aku, Lina ... " sapa Lina
"Aku, Rumi ...."
"Aku, Daffa ...."
"Wah, beruntungnya aku! Bisa ketemu Kak Raisa di sini dan dua teman lelakinya yang ganteng. Terutama, Rumi. Dia tipeku banget," batin Lina
"Raisa, ayo ... " kata Rumi
"Ah, iya. Lina, aku duluan, ya. Pemotretanku udah selesai. Semangat buat kamu," ujar Raisa
"Oh, iya, Kak. Hati-hati," kata Lina
"Daffa, kami pamit dulu," pamit Raisa
Daffa mengangguk.
Raisa dan Rumi pun beranjak pergi ke luar dari sana.
"Yah, udah pergi. Semoga nanti bisa ketemu Kak Raisa lagi, sama Rumi yang ganteng itu," batin Lina
"Kau ada urusan apa lagi setelah ini, Raisa?" tanya Rumi
"Sudah tidak ada lagi," jawab Raisa
"Kalau begitu, kau bisa menghabiskan waktu berdua denganku," ujar Rumi
Raisa mengangguk sambil tersenyum.
"Apa ada tempat yang ingin kau tuju di sini?" tanya Raisa
__ADS_1
"Tidak ada. Aku ingin ikut ke mana pun kau pergi," jawab Rumi
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan bersama? Ini sudah waktunya makan siang," tawar Raisa
"Baiklah. Terserah padamu," kata Rumi
"Apa kau ingin makan sesuatu yang khusus?" tanya Rumi
"Aku tidak pilih-pilih. Seleramu akan jadi kesukaanku juga," jawab Rumi
"Baiklah. Sudah kutentukan akan pergi ke mana. Ayo," kata Raisa
Raisa berjalan lebih dulu dan Rumi menyamai langkahnya, lalu menggenggam tangan Raisa sambil berjalan bersama.
Dari studio pemotretan, Raisa dan Rumi menuju ke tempat makan bersama dengan menaiki taksi.
Setibanya di restoran dan memesan makanan, Raisa dan Rumi pun makan bersama.
"Makan dan habjskan makanannya. Setelah itu, ada yang ingin kutanyakan padamu," ujar Raisa
"Baiklah," kata Rumi
"Selamat makan!"
Usai menghabiskan makanan utama, Raisa memesankan makanan penutup untuk dirinya dan Rumi. Keduanya pun makan makanan manis sambil berbincang bersama.
"Bagaimana rasa makanan di sini?" tanya Raisa
"Apa pun yang kau suka, aku juga suka. Lalu, makanan penutup ini rasanya manis, tapi masih kalah manis denganmu. Bagiku kaulah nomor satu," jawab Rumi
"Jangan merayu. Aku nomor satu, tapi bukan yang pertama bagimu. Yang pertama untukmu tetaplah Morgan, Mataharimu yang berharga," ucap Raisa
"Sudah kubilang, jangan bicarakan orang lain saat kita sedang berdua. Fokus saja dengan kita berdua, seperti ini," ucap Rumi
"Meski kau selalu membantahnya, bagiku kau sama pentingnya dengan Morgan. Mungkin sekarang kaulah yang lebih penting dari pada dirinya. Kau adalah pemilik hatiku," sambung Rumi
"Lalu, bagimu ... aku ini apa?"
tanya Rumi
"Tidak ada yang bisa memiliki hati seseorang kecuali orang itu sendiri. Tapi, kau adalah Bintang di Hatiku dan udara yang ada di sekelilingku untukku bernafas. Kau adalah idolaku dan yang membuatku bisa terus hidup," jawab Raisa
Sama-sama tidak ingin membahasnya lebih jauh, Raisa dan Rumi terdiam menikmati makanan penutup. Sambil sesekali melirik dan saling pandang satu sama lain.
"Berapa lama kau akan berada di sini, Rumi?" tanya Raisa membuka suaranya kembali.
"Entahlah, tapi tidak akan lama. Mungkin hanya beberapa hari," jawab Rumi
"Sekarang, katakan ... sebenarnya, apa tujuanmu datang ke sini? Tidak mungkin hanya karena rindu padaku, kan?" tanya Raisa
"Memang karena merindukanmu. Tapi, alasan khusus sebenarnya adalah aku ingin bertemu dan bersama denganmu saat hari ulang tahunku besok," ungkap Rumi
"Benarkah? Besok adalah hari ulang tahunmu?" Raisa tak menyangka karena belum pernah mengetahui atau mendengar sebelumnya.
Raut wajah Raisa langsung berubah sedih.
"Ada apa denganmu, Raisa? Aku sudah ada di sini, tapi kenapa kau malah terlihat sedih?" tanya Rumi yang tak ingin melihat Raisa bersedih.
"Aku memang senang kau ada di sini. Hanya saja, ternyata aku ini tidak tahu apa-apa tentangmu. Padahal kita berteman baik bahkan sempat berpacaran, tapi aku tidak tahu kapan hari ulang tahunmu. Aku malah sempat-sempatnya merasa kesal karena kau datang tiba-tiba tanpa tahu alasanmu datang karena ingin merayakan ulang tahunmu bersamaku di sini," tutur Raisa
"Bukan salahmu, tidak apa. Aku ini tidak dilahirkan, melainkan diciptakan. Makanya, jarang ada yang mengetahui hari ulang tahunku. Ayahku pun tidak memberi tahu tentang hari penciptaanku yang sudah jadi hari ulang tahunku ini pada sembarang orang banyak. Aku pun jarang merayakannya," ucap Rumi
__ADS_1
"Memangnya tidak masalah kau merayakan ulang tahunmu tanpa Morgan dan malah datang ke sini?" tanya Raisa
"Aku yang datang sendiri ke sini karena memang ingin dan itu tidak masalah. Aku bisa bertemu Morgan kapan pun, tapi aku sudah sangat merindukanmu dan sudah tidak sabar jika harus menunggu satu tahun lagi," jawab Rumi
Raisa tersenyum.
"Dasar, kau ini. Dibandingkan waktu yang sudah dilewati selama 4 tahun ini, padahal kau hanya perlu menunggu selama satu tahun lagi. Tapi, aku mengerti perasaanmu karena aku juga merindukanmu. Aku sudah tidak bisa pergi sesuka hatiku ke tempatmu lagi, jadi aku bersyukur dan senang saat kau datang," ucap Raisa
Perlahan, Rumi meraih dan menggenggam tangan Raisa untuk menghiburnya. Juga menyalurkan rasa rindu yang selama ini dirasakannya, Raisa pun membalas genggaman tangan Rumi. Keduanya pun makan sambil saling tersenyum.
Usai makan bersama, Raisa dan Rumi beranjak ke luar dari restoran untuk pergi jalan-jalan berdua.
"Sekarang, selagi kita hanya berdua ... aku akan mengajakmu berkeliling melihat duniaku," ujar Raisa
"Tapi, apa kau tidak lelah? Kau, kan, habis bekerja. Ulang tahunku masih besok. Kita bisa jalan-jalan besok saja," ucap Rumi
"Tidak apa. Selagi ada waktu. Ayo," kata Raisa
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Raisa berhenti. Ia merasa banyak mata tertuju padanya.
..."Masa sih jadi sorotan? Aku, kan, cuma artis gak terkenal," batin Raisa...
"Ada apa, Raisa? Kenapa berhenti?" tanya Rumi
"Sebelum mulai keliling ... sepertinya kita harus melakukan sesuatu," ujar Raisa
Raisa pun langsung menarik tangan Rumi untuk berlari bersama menuju gang kecil yang sepi.
"Kenapa kau menarikku ke sini?" tanya Rumi
"Kita butuh memakai sesuatu untuk menyamar," jawab Raisa
Raisa mulai mengorek isi tas yang dibawanya untuk mencari sesuatu.
"Kenapa harus menyamar?" tanya Rumi karena bingung.
"Karena aku sudah jadi figur publik, aku merasa jadi perhatian dan orang-orang mulai mengambil foto kita berdua. Entah ini perasaanku saja atau memang benar. Setidaknya ini untuk berjaga-jaga," jelas Raisa
Raisa pun menemukan masker dan memakaikannya pada Rumi.
"Pakailah ini! Aku tidak masalah jika muncul gosip denganmu, tapi aku terlalu malas jika harus dikerubungi banyak wartawan dan ditanyai banyak pertanyaan yang harus kujawab satu per satu," ucap Raisa
Setelah memakaikan masker pada Rumi, Raisa pun juga memakainya. Tak lupa dengan tambahan kacamata serta mengikat rambutnya yang terurai.
"Memang tidak banyak yang berubah, tapi setidaknya wajah kita tidak terlihat. Semoga orang-orang tidak terlalu memperhatikan penampilan kita sebelum ini hingga mereka tidak sadar dengan perubahan kecil ini," ujar Raisa
"Kau tidak masalah dengan ini, kan, Rumi? Nafasmu tidak terganggu walau tertutup masker, kan?" tanya Raisa
"Ya. Aku baik-baik saja," jawab Rumi
..."Serasa kencan tertutup ala artis. Tapi, apanya yang kencan? Kalau pacaran saja tidak," batin Raisa...
Sebenarnya, Rumi merasa agak kecewa ketika Raisa tidak ingin diketahui saat sedang jalan berdua dengannya. Namun, Rumi mengerti bahwa artis juga punya privasi yang ingin dijaga.
Setelah melakukan sedikit penyamaran, Raisa dan Rumi pun lanjut berjalan bersama untuk berkeliling.
.
•
Bersambung...
__ADS_1