
"Jadi, Raisa kembali ke dunianya saat kami semua sedang menjalankan misi?" tanya Wanda
"Ya, saat itu hanya ada tim kami di desa. Aku bahkan tidak melihat saat dia pergi karena datang terlambat," jawab Morgan
"Sebelum pergi, Raisa memberiku selemar surat. Aku sudah membacanya, ini surat yang ditujukan untuk kita semua," ucap Aqila
"Kalau begitu, coba kau bacakan isi suratnya untuk kami semua!" pinta Chilla
Aqila pun membuka amplop surat pemberian dari Raisa. Memegang selembar kertas yang terdapat tulis tangan Raisa di atasnya, lalu membacanya dengan suara yang besar.
"Halo, Aqila!
Aku menitipkan surat untukmu dan yang lain. Tolong sampaikan isinya pada teman-teman semuanya, ya ....
Saat kau membaca surat ini, itu artinya aku sudah berada di duniaku. Aku minta maaf karena memutuskan pergi dengan tiba-tiba.
Teman-teman, kalian semua pasti tahu .... Aku sudah menerima bahwa sekarang aku tidak lagi memiliki kemampuan sihir seperti kalian, tapi sebenarnya aku merasa sedih. Aku yakin kalian pasti sudah menyadarinya. Untuk melupakan perihal kemampuan sihir yang kumiliki, aku memilih untuk kembali ke duniaku. Di sana adalah di mana tempat tidak ada lagi jejak sihir yang tersisa, jadi aku pasti bisa melupakan kesedihanku tentang kehilangan kemampuan sihir. Meski begitu, aku tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian semua adalah orang-orang yang memiliki kemampuan sihir yang hebat, orang-orang yang berharga bagiku, aku takkan pernah bisa melupakan kalian ....
Pada kepergianku kali ini, aku ingin fokus dengan pekerjaanku di duniaku. Kalian juga fokuslah di sana. Jadi, kuharap kita tidak usah saling bertemu dulu untuk sementara waktu. Tetaplah fokus berada di dunia kita masing-masing. Dan kepergianku kali ini akan lebih lama dari biasanya. Selama 5 tahun kita tidak bisa bertemu. Sekali lagi maaf karena sudah seenaknya membuat keputusan sendiri.
Jaga diri dan kesehatan kalian baik-baik. Setelah 5 tahun berlalu, kalian bisa meminta bantuan Aqila untuk menjemputku di duniaku, saat itu pasti Aqila telah menjadi ahli sihir yang lebih hebat lagi dan bisa menggunakan sihir teleportasi dengan baik. Itu juga kalau kalian masih ingin bertemu dan berteman dengan aku yang membuat keputusan egois secara sepihak ini. Sampai jumpa beberapa tahun lagi ....
^^^Salam kasih:^^^
^^^Raisa, sahabat selamanya."^^^
"Lima tahun, itu lama sekali!" kata Sandra
"Aku akan sangat merindukanmu, Raisa! HUAAA~~" jerit Amy yang telah berderai air mata.
"Raisa, benar-benar tidak menunggu kita semua kembali dulu baru pergi," ucap Ian
"Benar-benar seenaknya membuat keputusan sendiri. Merepotkan sekali!" dumel Devan
"Sementara waktu tidak bisa bertemu dengan Raisa adalah lima tahun!" kata Billy
"Tapi, aku, sih, bisa mengerti perasaannya. Dia pasti benar-benar sedih saat harus kehilangan kemampuan sihirnya," ujar Marcel
"Kau tidak apa jika seperti ini, Rumi?" tanya Dennis
"Memangnya aku kenapa? Aku tidak apa kok. Raisa sudah lebih dulu mengatakan seperti semua isi surat itu padaku sebelum dia pergi. Jadi, aku sudah mempersiapkan dan bisa menahan diri serta perasaan hati ini. Aku ingin menghargai keputusannya dan mengikuti semua keinginannya supaya dia tidak merasa tertekan," ungkap Rumi
•••
Beberapa tahun kemudian ...
Di tempat lain ...
Di dunianya, Raisa benar-benar menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai peng-cover lagu di channel youtube. Selain itu, sekarang Raisa tidak lagi mengambil tawaran menjadi model hanya saat darurat saja, melainkan ia telah menjadi model sungguhan dan bekerja pada temannya, Daffa, di studio pemotretannya yang kini sudah jauh lebih berkembang.
"Pemotretannya udah selesai, ya!" kata Daffa sambil melihat-lihat hasil foto di kameranya.
"Oke, terima kasih, Daff!" ucap Raisa
"Dilihat-lihat, lo jadi makin sibuk, ya, Raisa. Sejak lo mutusin buat serius jadi model 4 tahun lalu, sekarang lo juga udah jadi bintang sinetron, kan?" ujar Daffa
"Iya, aku bersyukur. Banyak rezeki berdatangan untukku pendatang baru yang awalnya hanya coba-coba. Meski main sinetron, itu juga hanya pemeran sampingan," ucap Raisa
"Jadwal lo padat, dong? Jangan terlalu diforsir, ya. Jangan lupa istirahat juga," pesan Daffa
"Ada apa, nih? Kamu perhatian banget sama Raisa," ujar Nilam
"Bukan apa-apa. Tapi, Raisa, kan, juga model gue," ucap Daffa
"Ujung-ujungnya juga soal pekerjaan, ya," kata Maura
"Tenang aja, Daff. Aku terima tawaran kerja selama aku merasa sanggup kok. Gak akan ganggu pemotretan kita." Ucap Raisa
Sejak Raisa mulai fokus dan serius menjadi model, Nilam akan menjadi manager-nya dan Maura akan menjadi fashion style-nya. Jadi, Maura dan Nilam selalu menemani Raisa saat bekerja. Pekerjaan Raisa juga sudah merambah ke sinetron atau ftv, meski hanya jadi pemain sampingan.
"Pemotretannya sudah selesai, kan, Daff? Kalau begitu, aku mau ganti baju dulu sama hapus riasan," ujar Raisa
"Siap, udah selesai kok," kata Daffa
Raisa pun beranjak menuju ruang ganti untuk mengganti gaun yang dipakai untuk pemotretan dengan pakaian yang mulanya dipakai olehnya.
"Kami bertiga langsung pergi, ya, Daffa. Habis dari sini, Raisa masih ada jadwal syuting iklan," ucap Nilam
"Oke! Kalian hati-hati, ya! Jangan lupa makan!" pesan Daffa
"Pergi dulu, ya," pamit Raisa
Usai dari studio pemotretan milik Daffa, Raisa langsung menuju studio lain untuk syuting iklan ditemani Maura dan Nilam...
Setibanya di lokasi syuting iklan, Raisa langsung berganti kostum. Setelah itu, syuting dan pemotretan iklan pun langsung dilakukan.
Di sela-sela waktu syuting akan ada jeda istirahat, saat itulah Raisa baru punya waktu untuk makan. Entah itu Maura atau Nilam akan memesan makanan, setelah pesanan makanan diantar, mereka bertiga baru bisa makan.
Setelah makan, proses syuting akan kembali dimulai.
"Kerja bagus, semuanya!"
"Terima kasih untuk syuting iklan kali ini, ya, Raisa."
"Saya juga berterima kasih sudah mau mengundang saya untuk iklan ini," ucap Raisa
Setelah mengganti kostum dengan pakaiannya semula, Raisa pun berpamitan untuk pergi...
"Udah sore aja, nih! Gimana kalau kita mampir ke kafe dulu buat santai sejenak?" ajak Maura
"Ayo, aku ikut kalian aja!" setuju Raisa
@Caffe
__ADS_1
Raisa menyeruput vanila latte yang telah dipesannya.
"Maaf, ya, karena aku kalian jadi ikut sibuk begini. Pasti kalian lelah," ujar Raisa
"Gak apa, Raisa. Kan, kami juga ikut kerja, ini juga kemauan kami sendiri." Ucap Nilam
"Iya, lagi pula kami juga gak melakukan apa-apa," kata Maura
"Justru yang gak melakukan apa pun dan hanya menunggu itu yang bikin lelah, kan?" tanya Raisa
"Selama kita semua senang, gak masalah," jawab Maura
"Padahal harusnya kalian kerja yang lebih menjanjikan dari pada cuma temani aku seperti ini," ucap Raisa
"Lho, emangnya ini bukan pekerjaan yang menjanjikan?" heran Nilam
"Tapi, kan, aku cuma coba-coba. Cuma dapat pekerjaan kecil jadi peran kecil," ujar Raisa
"Meski cuma coba-coba, gak ada yang bilang gak akan sukses," kata Maura
"Kalau benar jadi sukses .... Apa kalian tetap mau terus kerja sama aku? Ini gak mudah, lho! Masih belum terkenal aja, kita kerja sampai sore begini. Kalau lebih terkenal lagi, bisa-bisa kita kerja 24 jam sehari dan lebih sulit untuk istirahat," ujar Raisa bertanya.
"Tentu, dong! Ayo, kita lerja keras sama-sama!" jawab Maura
"Sekarang aku yang tanya .... Kamu suka gak sama pekerjaan kamu yang sekarang?" tanya Nilam
"Suka, aku bisa menikmati pekerjaan yang awalnya coba-coba ini," jawab Raisa
"Kayak kata, Daffa. Kamu gak maksain diri, kan, Raisa? Kok kamu kelihatan mau menyibukkan diri untuk melupakan sesuatu? Gak ada yang kamu sembunyiin, kan? Waktu kamu pergi liburan, gak ada masalah yang terjadi, kan?" tanya Maura
"Emang sempat ada masalah, tapi bukan masalah besar kok. Aku emang mau melupakan sesuatu, makanya aku cari kesibukan baru dan melakukan sesuatu yang lain yang aku suka. Sudah aku lewati dengan baik, sekarang semua udah baik-baik aja," jawab Raisa
"Tuh, kan! Kamu gak mau cerita lagi!" sebal Nilam
"Kamu sama Rumi, baik-baik aja, kan?" tanya Maura
"Sebenarnya, kami udah putus," ungkap Raisa
"Kok bisa? Kenapa?" Serempak Maura dan Nilam bertanya dengan kompak.
"Ini soal aku yang gak tahan mikirin tentang tempat tinggal kami yang berjauhan. Kadang kami memang suka saling bertemu sewaktu liburan, tapi tetap aja gak mudah saat harus berpisah. LDR itu sulit! Awalnya, Rumi emang gak terima, tapi akhirnya dia bisa terima dan hubungan kami tetap baik-baik aja meski hanya kembali berteman biasa," ungkap Raisa
"Selama 4 tahun ini, kalian gak pernah ketemu lagi. Apa benar baik-baik aja?" tanya Nilam
"Yang minta putus itu aku dan yang minta untuk gak bertemu untuk sementara waktu juga aku. Rumi bisa terima keputusan aku dengan baik meski itu permintaan yang egois, teman-teman yang lain di sana juga. Mereka semua baik padaku, hubungan kami pun baik-baik aja, meski teman-temanku di sana gak ada yang tahu kalau aku dan Rumi sudah putus. Kalian tenang aja," jelas Raisa
"Sementara waktu gak bertemu yang kamu maksud itu berapa lama?" tanya Maura
"5 tahun. Tapi, untuk kembali bertemu aku minta mereka yang datang lebih dulu, jadi aku gak tahu kapan pastinya mereka mau datang dan kapan kami akan kembali bertemu," jawab Raisa
"5 tahun itu waktu yang lama, Raisa. Tapi, kamu gak putus komunikasi sama mereka sama sekali, kan?" tanya Nilam
"Enggak kok, kami masih terus komunikasi," jawab Raisa
"Aku harap juga begitu. Kalian berdua gak mau tanya soal masalah yang aku alami saat aku liburan?" ujar Raisa bertanya.
"Kamu bilang udah lewati dengan baik, itu aja udah cukup bagi kami. Kami tahu kamu orang yang kuat, jadi kami juga gak perlu terlalu merasa khawatir lagi," jawab Maura
"Ya. Kalau kamu punya masalah berat yang bikin kamu sedih dan gak tahu mau cerita sama siapa, kamu bisa cari kami untuk cerita semuanya. Tapi, kalau kamu bisa atasi masalah sendiri, gak cerita pun gak apa. Kami juga tahu, semua orang pasti pernah punya masalah dan gak semua orang bisa cerita tentang masalahnya dengan mudah. Jadi, kami cukup dengan tahu kalau kamu baik-baik aja, Raisa. Lagi pula, kan, kita selalu bersama," ucap Nilam
"Terdengar egois kalau aku cuma cari kalian hanya saat sedang sedih dan mengeluh soal masalahku, tapi aku yang egois ini beruntung bisa punya seperti kalian semua," kata Raisa
"Apanya yang hanya saat sedang sedih? Buktinya, sekarang kita bersama saat mencari pundi-pundi uang! Kita itu teman saat senang dan sedih, saat suka dan duka ... " ujar Nilam
"Ya. Kita ini sahabat selamanya," kata Maura
Raisa tidak bisa mengatakan pada Maura dan Nilam bahwa komunikasi yang terus berlangsung karena adanya ular sihir milik Rumi yang dibawa hingga ke dunianya atau pun menceritakan soal masalahnya yang kehilangan kemampuan sihir di dunia asing. Meski tidak semua cerita dapat terungkap, namun hubungan ketiganya tetap baik dan selalu bersama.
Ketika pulang, Raisa memilih untuk pergi ke rumah kakaknya, Raina, karena lebih dekat dengan tempat ia berada sebelumnya.
Raisa mengetuk pintu rumah Sang Kakak dan begitu terbuka, ia disambut oleh keponakan cantiknya ....
"Onty Icha!" girang Farah, keponakan Raisa.
Farah langsung berhambur memeluk tubuh Raisa. Raisa pun langsung membalas pelukan dari sang keponakan.
"Farah, yang Aunty rindukan!" seru Raisa
"Farah, jangan gitu, dong! Onty pasti capek baru datang, apa lagi Onty baru pulang dari kerja. Biarin Onty-nya masuk dulu, dong!" tegur Raina
"Gak apa kok, Kak," kata Raisa
"Oh, iya, aku lupa! Aku terlalu senang karena Onty datang. Ayo, masuk ke dalam, Onty," ujar Farah
"Terima kasih, Sayang!" ucap Raisa
Raisa pun masuk ke dalam rumah Raina sambil bergandengan tangan dengan Farah.
"Kak Arka, mana?" tanya Raisa
"Kerjanya lembur malam ini, jadi tadi Farah senang banget waktu dengar kamu mau datang," jawab Raina
Raisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Keponakan Aunty makin tinggi aja, nih. Makin cantik lagi!" puji Raisa
"Iya, dong! Kan, aku udah besar," kata Farah
"Padahal dulu kamu masih kecil banget, bicara pun masih cadel. Gak terasa waktu cepat berlalu, ya," ujar Raisa
"Kamu kenapa gak pulang, malah ke sini, Dek? Udah bilang sama Ibu Bapak?" tanya Raina
__ADS_1
"Lebih dekat ke sini aja, sih, Kak, dari tempat terakhir aku tadi. Lagi pula, udah lama gak ketemu Farah, jadi rindu. Aku udah bilang kok mau ke sini sama Ibu Bapak," jawab Raisa
"Onty Icha, nginap gak?" tanya Farah
"Maunya, sih, malam ini nginap aja di sini. Boleh gak?" ujar Raisa ikut bertanya.
Raisa pun menatap Farah dan Raina secara bergantian untuk meminta izin. Lalu, Farah ikut menatap Mami-nya dengan harapan bisa mengizinkan untuk Raisa menginap.
"Boleh kok. Ini juga bukan pertama kali kamu nginap di sini dengan alasan yang sama," jawab Raina
"Berarti, malam ini aku tidur sama Onty Icha, dong!" ujar Farah
"Yeay! Terima kasih, Kak Raina//Mami!" ucap Raisa dan Farah kegirangan secara serempak dengan kompak.
"Tapi, mungkin besok Aunty udah harus pergi lagi untuk kerja," ungkap Raisa
"Yah~ Tapi, besok Aunty sarapan bareng sama aku, Mami, dan Papi juga, kan?" tanya Farah
"Iya, jadi mungkin Aunty perginya pas Farah lagi sekolah," jawab Raisa
"Kalau begitu, gak apa, deh," kata Farah
"Onty Icha, kan, sekarang udah kerja. Jadi, pasti sibuk kayak gitu," ujar Raina
"Iya. Aku juga pernah lihat Onty di TV kok, di ftv yang Mami tonton!" ucap Farah
"Menurut Farah, Aunty Icha yang di TV itu bagaimana?" tanya Raisa
"Keren! Aktingnya bagus, Onty juga cantik! Aku senang lihatnya, tapi juga agak sedih," jawab Farah
"Loh, kenapa,sedih?" tanya Raisa
"Aku senang bisa lihat Onty masuk dan ada di TV, sayangnya Onty bukan jadi peran utama ftv yang aku tonton sama Mami, jadi aku agak sedih," ungkap Farah
"Itu, sih, wajar! Kan, Aunty masih belum lama kerja kayak gini. Lagi pula, Aunty gak langsung masuk dunia akting melainkan dari dunia model," jelas Raisa
"Kalau begitu, aku doakan Onty makin sukses dan terkenal. Biar aku bisa lebih sering lihat Onty di TV dan jadi peran utamanya!" ucap Farah
"Emangnya gak apa? Kalau nanti Onty makin sering ada di TV, berarti Onty bakal lebih sibuk lagi dari sekarang dan bakal lebih jarang ketemu sama Farah. Gimana, tuh?" tanya Raina
"Gak apa. Sebagai ganti jarang ketemu, aku bisa lihat Onty di TV! Aku juga bisa bilang ke teman-teman," jawab Farah
"Meski begitu, Farah gak boleh sombong cuma karena punya Onty yang bisa masuk TV, ya," pesan Raina
Farah mengangguk.
"Aku juga doakan, supaya Onty sehat selalu. Jadi meski sibuk kerja dan masuk TV, Onty juga bisa sering ketemu Farah juga!" ucap Farah
"Farah, pintar! Terima kasih doanya dan semoga bisa terkabul, ya," ucap Raisa
Raisa merasa senang bisa jadi orang yang dibanggakan oleh anggota keluarganya.
"Onty Icha, aku mau lihat sulap, dong," pinta Farah
"Maaf, Sayang. Gak bisa. Karena lelah habis kerja, jadi Aunty gak ada tenaga lagi buat sulap," jelas Raisa berdusta.
"Yah, sayang banget. Padahal udah lama aku gak lihat sulapnya Onty," kata Farah
Raisa tidak mengatakan bahwa kemampuan sihirnya telah lenyap dari dirinya karena tidak mau keluarganya mengkhawatirkannya. Hingga sekarang Raisa bungkam soal hilangnya kemampuan istimewanya itu dan satu pun dari keluarganya tidak ada yang tahu.
"Kalau begitu, Onty mau cuci wajah dulu, ya. Kak, aku ke kamar mandi, ya," ujar Raisa
Raina dan Farah pun mengangguk bersamaan.
"Farah, lagi apa, nih?" tanya Raisa begitu kembali dari kamar mandi.
"Aku lagi belajar, nih," jawab Farah
"Sini, Onty bantu. Kalau ada yang sulit atau gak mengerti, tanya sama Onty aja, ya," ujar Raisa
Raisa pun membantu Farah belajar sambil diawasi oleh Raina.
Selesai belajar, Farah bersiap untuk tidur. Raisa yang menginap di sana pun menempati kamar dan tidur di ranjang yang sama dengan Farah.
Karena bukan pertama kali menginap di rumah Raina, di sana ada sedikit pakaian milik Raisa yang sengaja ditinggalkan untuk alasan yang sama di lain waktu seperti saat ini. Atau terkadang, Raisa meminjam pakaian milik kakaknya untuk tidur.
Setelah Farah tertidur, Raisa membuka tas yang dibawanya.
Dan bergumam pelan seperti berbisik, "Tolong sampaikan pada Rumi!
Rumi, aku sudah selesai bekerja hari ini dan pulang ke rumah Kak Raina. Sekarang aku hendak tidur bersama Farah, keponakanku. Kau masih ingat dengannya? Anak yang dulu kecil itu sekarang sudah jadi gadis cantik yang pintar. Saat ini aku tidak leluasa berkomunikasi denganmu, jadi tunggu aku menghubungimu di waktu selanjutnya, ya... Selamat malam!"
Rupanya, Raisa menggunakan ular sihir pemberian dari Rumi untuk menyampaikan kabar singkat sebelum tidur. Ular tersebut selalu dibawa bersamanya ke mana pun pergi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bisa berkomunikasi dengan dunia dimensi lain.
"Kau juga, ular. Untuk saat ini jangan menyelinap ke luar dari tas ini, ya. Maaf, tapi kututup lagi tasnya, ya." pesan Raisa
.
•
Bersambung...
Kutipan Author:》
"Hola! Author kembali!
Author umumkan ... novel ini telah kembali dengan cerita baru pada season baru!
Terus nantikan kelanjutannya, yaa!"
^^^Salam Hangat: Author^^^
^^^Dilawrsmr-^^^
__ADS_1