Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
132 - Sihir Ilusi Pengendali.


__ADS_3

Sihir ilusi pengendali telah selesai memengaruhi Raisa, kini tingkahnya seperti tak mengenali dirinya sendiri...


Bola mata Raisa menjadi buram karena efek sihir ilusi pengendali yang memengaruhi dirinya.


"Hahaha! Aku berhasil! Kini kau ada di bawah pengaruh kendaliku! Siapa yang tadi mengatakan ini akan gagal?"


Raisa hanya diam tak berkutik dengan tatapan kosongnya...


"Ahaha! Percuma saja, sekarang bicara denganmu. Sekarang kau hanya cangkang kosong yang berada di bawah kendaliku. Mulai saat ini kau akan bertindak sesuai yang aku perintahkan! Benar begitu, bukan?"


"Benar. Sesuai yang kau perintahkan." Kata Raisa dengan nada suara dan ekspresi wajah datarnya.


"Gadis cantik yang pintar! Sekarang katakan, siapa namamu?"


"Namaku, Raisa."


"Lalu, siapa nama lelaki yang kau cinta?"


"Dia adalah Rumi."


"Tepat sekali, seperti yang kuinginkan! Kau akan melakukan semua yang aku inginkan. Benar begitu, bukan?"


"Tepat, seperti yang kau inginkan."


"Kalau begitu, kau tinggal di mana?"


"Tempat tinggalku bukan di sini."


"Benar, ini Desa Awan, Negara Petir. Kau bukan tinggal di sini. Kau tinggal di mana?"


"Aku dari Desa Daun, Negara Api."


Setelah memengaruhi kesadaran Raisa dengan sihir ilusi pengendali atau yang sering dikenal sebagai hipnotis, Raisa terus mengikuti perkataan dan perintah dari orang yang menanamkan sihir pada kesadarannya itu. Raisa terus menjawab pertanyaan darinya dan akan melakukan sesuai perintahnya!


"Itu benar sekali! Sekarang lakukanlah sesuai perintahku! Kembalilah tempatmu di Desa Daun, Negara Api. Temui kekasih tercintamu, Rumi. Bawa dia ke sini, ke sisiku. Cukup tukarkan posisi kalian, maka kau akan bebas setelahnya. Kau mengerti?"


Raisa mengangguk lemah seperti tak berdaya.


"Mengerti. Kembali ke Desa Daun, Negara Api. Temui dan bawa Rumi ke sini. Bertukar posisi dengan dia, setelah itu aku akan bebas."


"Kau akan pergi ditemani oleh tiga orang yang membawamu ke sini. Lakukanlah sesuai apa yang kuperintahkan tadi mau bagaimana pun caranya, kau harus berhasil!"


"Bagaimana pun caranya, aku harus berhasil."


"Bagus!"


"Ketua, apa kita bisa percaya begitu saja dengan gadis ini?"


"Untuk itulah kau dan dua orang lainnya aku perintahkan untuk mengawasinya. Lagi pula, dia sudah terpengaruh oleh sihirku... Apa kau meragukan kemampuanku, hah?!"


"Tidak sama sekali, aku tidak berani!"


"Kalau sudah tersihir, kenapa tidak tanyakan juga pertanyaan yang tadi tidak dia jawab, Ketua?"


"Kau juga! Apa kau meragukan keputusanku?"


"Tidak, aku tidak berani!"


"Setelah korban asli kita dapatkan, apa kita benar-benar harus melepaskan gadis ini, Ketua?"


"Tentu saja, tidak akan semudah itu. Kalian pasti mengerti maksud perkataanku, kan? Sudah, jangan banyak tanya lagi dan jangan buang-buang waktu! Cepat pergi dan tetap awasi gadis itu! Aku akan mengawasi kalian semua dari jauh..."


"Baik, Ketua!"


"Ingat tugas kalian dan berhati-hatilah!"


"Ayo, kita bergegas!"


"Raisa, kau pergilah bersama tiga orang itu. Ingat tugasmu dan kau harus berhasil!"


Lagi-lagi, Raisa mengangguk lesu...


Raisa pun pergi bersama tiga orang yang menculiknya tadi kembali ke Desa Daun, Negara Api. Untuk melakukan apa yang telah diperintahkan Ketua.


---


Beralih pada Desa Daun, Negara Api.


"Kalian yakin akan pergi tanpa kami?" Tanya Sandra


"Ya. Ini adalah misi pribadi kita tanpa sepengetahuan pemerintah, akan gawat kalau ada yang mengetahui kita semua pergi. Berjaga-jagalah di sini, sambil mengamati situasi. Kalian bisa saja meminta bantuan dan mencari kami saat kami pergi terlalu lama. Sementara waktu, jangan beri tahu dulu rencana kita ini pada orang lain." Jawab Devan


"Baik, kami mengerti!"


"Kalian akan pergi ke Negara Petir kan?Bagaimana cara kalian pergi?" Tanya Marcel


"Kami akan naik kereta listrik. Sekarang pun kita juga sedang menuju stasiun." Jawab Ian


"Jadi, kalian harus mengantre membeli tiket dulu?" Tanya Sandra


"Untuk apa mengantre lama untuk membayar jika bisa naik dengan gratis... Ayo!" Ujar Morgan yang melompat ke atap kereta.


Setelah masuk ke area stasiun, begitu melihat kereta keberangkatan ke jalur Negara Petir, mereka langsung naik ke atap kereta. Mereka yang pergi untik pergi mencari dan menyelamatkan Raisa adalah dua tim yang sebelumnya yang pernah menjalankan misi bersama dengan Raisa. Yaitu, Aqila, Morgan, dan Rumi. Serta, Devan, Ian, dan Chilla. Sementara mereka yang lainnya menetap di Desa Daun menunggu mereka yang pergi sampai kembali atau akan menyusul untuk memberi bantuan nantinya.


"Biasanya, Aqila akan marah ketika melihat mereka yang tidak punya etika naik ke atas gerbong kereta. Tapi, sekarang dia justru ikut dengan mereka." Gumam Wanda


"Kalian berhati-hatilah!" Teriak Amy


"Amy, kau jangan berteriak! Nanti pengawas akan melihat mereka." Kata Dennis

__ADS_1


"Uh, maaf..." Sesal Amy


Setelah menyaksikan kereta tersebut pergi, mereka yang tetap berada di Desa Daun pun beranjak pergi dari stasiun.


"Apa kita benar-benar bisa menemukan Raisa?" Tanya Chilla


"Pasti bisa. Dengan lambang sihir yang Raisa berikan, kita bisa mendeteksi dan merasakan keberadaannya." Jawab Aqila


"Tunggu aku, Raisa! Aku akan datang menjemputmu pulang dengan selamat!" Batin Rumi yang pikirannya terus terfokus tertuju pada Raisa.


---


"Kita terus berlarian, tapi kapan kita akan sampai? Apa tidak ada jalan cepat menuju Desa Daun?"


"Kita harus melewati jalan umum karena orang-orang dari Desa Daun juga pasti sedang menuju ke sini untuk menyelamatkannya. Saat itu pasti ada korban yang asli, kita hanya tinggal membawanya."


"Setelah menangkap korban yang asli, kita tetap tidak boleh kehilangan gadis ini. Mungkin dia masih berguna."


"Gadis ini dari tadi hanya diam, apa dia tidak lelah?"


"Untuk apa peduli dengannya, dia juga tidak peduli dengan kita dan hanya sebuah boneka yang sedang dikendalikan saja. Kau coba mengobrol dan bertanya pun takkan dia jawab, karena dia hanya mendengarkan Ketua."


"Berhenti! Ada yang mendekat!"


Tiga orang itu berhenti, kecuali Raisa yang terus berjalan tanpa mendengarkan mereka.


"Ada apa dengan gadis itu? Dia tidak mau berhenti juga!"


"Dia hanya menuruti kata Ketua, sulit juga kalau seperti ini."


"Itu mereka!"


"RAISA!!"


Aqila, Morgan, Rumi, Devan, Ian, dan Chilla akhirnya sampai dan bertemu dengan Raisa. Perjalanan mereka lebih cepat karena menaiki kereta listrik.


Rumi yang lebih dulu berjalan di depan langsung menghampiri Raisa dan memeluknya.


"Akhirnya, aku menemukanmu! Apa kau baik-baik saja, Raisa?" Cemas Rumi bertanya seraya melepaskan pelukannya.


"Aku baik-baik saja. Aku berhasil kabur setelah sadar. Dan ada tiga orang yang berbaik hati menolongku." Jawab Raisa dengan senyum yang dipaksakan.


Raisa menatapi satu persatu teman-temannya yang datang ingin menyelamatkannya. Dan saat itu, Ian sedikit tersentak!


..."Ian, tetaplah seperti biasa dan dengarkan aku baik-baik. Jangan kau hubungkan yang lain dengan transmisi suara ini. Saat diculik, ketua mereka memberikan pengaruh sihir ilusi prngendali padaku walau tidak bisa memengaruhiku. Sekarang aku sedang berpura-pura berada dalam kendali orang itu, kurasa dia ikut mengawasi di sekitar sini. Tiga orang di belakang itu adalah bawahan orang yang menculikku. Kalian yang datang ke sini sebenarnya dalam bahaya! Tetap tenang dan ikuti saja permainanku ini. Aku sudah memiliki rencana!" Raisa mengirimkan telepati pada Ian tanpa diketahui yang lain....


Ian pun tetap tenang. Ia sempat bingung dan akhirnya memilih memberi tahu kelima temannya hal yang Raisa beri tahukan padanya dengan bahasanya sendiri tanpa Raisa ketahui. Setelah Ian memberi tahu mereka, kelimanya tetap tenang dalam mengikuti rencana.


Ternyata, Raisa tidak terpengaruh sihir ilusi pengendali sama sekali. Ia hanya berpura-pura demi bisa melarikan diri dan menyelamatkan Rumi yang merupakan korban yang akan ditangkap.


"Maksudmu, tiga orang yang di sana itu?" Tanya Morgan


"Apa yang sedang dia lakukan?"


"Itu pasti siasatnya untuk menjerat korban yang asli. Ini demi keberhasilan perintah yang diberikan padanya."


"Jadi, kita harus ikuti permainan sandiwaranya?"


Ketiga orang itu pun melangkah mendekat.


"Kami agak kelelahan untuk bisa sampai di sini. Tidak di sangka, Nona itu terus berlari dengan semangat."


"Terima kasih banyak karena telah membantu teman kami." Ucap Aqila


"Tidak masalah. Tapi, dia... Dan, kau harus ikut dengan kami!"


Salah satu penculik di sana bergerak maju menyerang mereka yang datang menyelamatkan Raisa dan hendak menangkap Rumi. Untunglah, Rumi langsung bisa menghindar dengan cepat!


"Hei, apa yang kau lakukan!?"


"Aku tidak percaya dengan gadis itu! Bisa saja dia tidak terpengaruh sihir yang Ketua berikan sama sekali!"


"Menurut yang Rumi lihat, penculik yang membawa Raisa ada tiga orang. Jadi, itu kalian?" Ujar Devan yang mulai melakukan serangan balasan.


Pertarungan pun lagi-lagi tak dapat terhindarkan!


Awalnya, mereka yang datang menyelamatkan Raisa ingin tetap diam mengikuti rencana sandiwara dan menunggu Raisa yang bertindak ebih dulu. Namun, karena para penculik itu yang memulai untuk menyerang itu memudahkan mereka untuk bertindak semaunya mereka sendiri juga.


Raisa hanya diam...


"UGH! AKH~ Kepalaku... Sakit sekali!" Rintih Raisa mengerang kesakitan.


Raisa jatuh berlutut di tanah sambil memegangi kepalanya.


"Apa Raisa benar-benar terpengaruh sihir?" Bingung Chilla


Raisa yang berteriak kesakitan, tiba-tiba terdiam...


"Raisa, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rumi


Semua yang lain terlibat pertarungan kecuali Raisa dan Rumi yang bergerak mendekati Raisa.


Setelah berhenti berteriak kesakitan, Raisa pun bangkit berdiri. Dan tiba-tiba saja, Raisa menyerang teman-temannya sendiri yang telah datang demi menyelamatkannya. Itu hanya serangan jarak jauh yang tidak sampai mengenai teman-temannya, begitu juga Rumi yang mendekat ke arahnya.


"Dia sungguh terpengaruh sihir Ketua!"


"Arrggghh!!~ Rumi, kau jangan mendekat! Aku masih sulit mengendalikan diriku sendiri!" Teriak Raisa


"Hei! Ada apa denganmu, Raisa?!" Tanya Ian kebingungan. Bingung antara membedakan kebenaran. Raisa terpengaruh sihir ilusi pengendali sungguhan atau hanya pura-pura?

__ADS_1


Tiba-tiba saja, ketiga penculik itu jatuh tersungkur ke tanah dengan tubuh yang bergetar hebat!


"A... A-da apa denganku?!"


"Si*l! Dia terpengaruh, tapi masih mencoba mendapat kendali dirinya sendiri! Dan menyerang kita! Ini pasti sihirnya!"


Ketiga penculik itu tak bisa mengendalikan tubuh mereka walau masih bisa sadar sepenuhnya... Itu adalah sihir pengendali darah milik Raisa!


"Kalian semua jangan ada yang coba-coba mendekatiku! Ini berbahaya!" Racau Raisa


Raisa bertindak seolah sedang berusaha mendapat kembali kendali atas dirinya sendiri yang telah terpengaruh sihir ilusi pengendali seseorang. Mereka yang datang ingin menyelamatkannya sedang kebingungan dengan apa yang Raisa lakukan dan alami saat ini.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku sungguh hanya berpura-pura dikendalikan dan mencoba mengambil kendali atas diriku sendiri. Aku sudah bilang ini berbahaya, harusnya kalian semua pergi saja saat aku bilang begitu tadi. Kenapa kau tidak ikuti saja kata-kataku, Ian? Aku bilang jangan beri tahu yang lain tentang ini, tapi tadi kau malah memberi tahu mereka tanpa aku ketahui kan? Bahkan sekarang juga kau membocorkan transmisi suara yang kukirim hanya padamu dengan teman-teman yang lain kan?" Raisa mengirim telepati pada Ian lagi.


Saat tahu Raisa mengirim transmisi suara lagi padanya, Ian langsung membagikan tranmisi suara itu pada yang lain agar ia tak perlu repot melaporkan pada yang lainnya lagi seperti sebelumnya. Namun, ternyata Raisa sudah tahu bahwa Ian membocorkan transmisi suara yang ia kirim. Baik yang sekarang atau pun yang sebelumnya.


"Aku tidak ada pilihan lain. Kau tidak bisa bertindak sendiri saat bahaya seperti ini, Raisa!" Balas Ian melalui transmisi suara.


Rumi masih terus mendekati Raisa sedangkan Raisa terus berjalan mundur saat didekati. Raisa masih saja berpura-pura seolah sedang berusaha mendapatkan kembali kendali dirinya sendiri.


Yang lainnya hanya terdiam melihat sandiwara Raisa, bahkan tidak ikut dalam bertelepati untuk berkomunilasi tanpa diketahui ketiga penculik yang sudah tak dapat berkutik.


"Tidak apa, Raisa. Aku sudah datang untuk menjemputmu. Ayo, kembali pulang bersamaku." Ucap Rumi seolah ikut bersandiwara, padahal ia benar-benar berucap seperti itu karena khawatir dengan Raisa.


Raisa masih terus menghindar dari Rumi...


"Rumi tak seharusnya kau mendekatiku seperti ini... Siapa pun, jauhkan Rumi dariku!" Raisa mengirim telepati pada semua teman-temannya yang ada di sana.


Tidak ada yang menuruti perkataan Raisa yang meminta untuk menjauhkan Rumi darinya. Bahkan Rumi yang ikut mendengar transmisi suaranya pun tidak menghiraukan dan terus mendekati Raisa.


Raisa mengambil belati yang tergeletak di tanah dengan sihirnya dan menodongkan pada Rumi!


"Jangan mendekat! Atau kaulah yang dalam bahaya!" Kata Raisa


Tanpa menghiraukan bahaya yang diancamkan Raisa, Rumi langsung meraih tangan dan menarik Raisa untuk mendekapnya dalam pelukan. Karena Raisa memegang belati yang diarahkan padanya, Rumi merasakan tusukan pada perutnya. Semua terkejut melihatnya! Namun, saat menyadarinya, Rumi langsung melepaskan pelukannya...


Saat dilihatnya, yang tertusuk ternyata bukanlah dirinya, melainkan Raisa sendirilah yang tertusuk belati itu. Saat Rumi menariknya dengan cepat, dengan cepat pula ia membalik arah belati yang berada dalam genggamannya. Sehingga belati tersebut menusuk mengenai dirinya sendiri, bukanlah Rumi. Tusukan yang Rumi rasakan di perutnya bukanlah mata pisau belati melainkan ujung tumpul dari gagang belati tersebut...


UGH!


Raisa berusaha menahan rasa sakit yang dirasakannya...


"Raisa, apa yang kau lakukan!?" Panik Rumi


Mata Raisa perlahan terpejam...


"Cih, ternyata dia masih bisa menahan pengaruh dari sihirku!" Kesal seseorang yang memerhatikan dari jauh.


"Kau salah! Sejak awal, sihirmu tidak berpengaruh padaku. Aku hanya berpura-pura!" Itu adalah Raisa yang mengirimkan transmisi suara pada Ketua pelaku yang menanamkan sihir ilusi pengendali padanya.


"Siapa kau!?"


"Ini aku yang kau culik, Raisa!"


"Bagaimana bisa!? Ini adalah sihir transmisi suara?! Tapi, bagaimana mungkin!? Kau telah tertusuk karena ulahmu sendiri!"


"Heh, ini tak seberapa! Ini hanya pertukaran kecil! Ini hanya sebuah timbal balik karena kau yang berusaha menanamkan sihir ilusi pengendali padaku! Aku hanya mengeluarkan sedikit darah, tapi kau... Coba lihat sendiri, apa yang terjadi padamu!?!"


Ketua pelalu penculik yang memerhatikan dari jauh pun memansang ke arah dirinya sendiri. Ia baru menyadari bahwa darah telah mengalir deras ke luar dari mulutnya dengan tiada henti-hentinya.


"Si*l*n!"


"Bukankah sudah kubilang, lihat saja! Usahamu sekarang sudah gagal! Tak hanya itu, kau juga akan kehilangan semua anak buahmu dan juga markasmu yang kau gunakan untuk menyekapku tadi. Kau salah besar sudah meremehkan gadis sepertiku! Dari awal, akulah yang akan menang! Sampai sini saja, riwayatmu!"


"Aku harus kembali!"


"Kau mau ke mana? Kau takkan bisa pergi ke mana pun, di sinilah tempat terakhirmu!"


Setelah transmisi yang terakhir Raisa ucapkan, muncul kobaran api yang terus membesar pada tubuh Ketua penculik itu! Api itu tidak bisa padam! Walau ia sudah berlari sekuat tenaga pun, pada akhirnya ia terhenti dan terbakar di tempat! Tentu saja, itu adalah sihir yang Raisa lakukan!


"Raisa, sadarlah! Buka katamu!" Pinta Rumi dengan berteriak.


Perlahan, Raisa kembali membuka matanya. Saat itu, Aqila dan Ian yang sama-sama merupakan murid yang mempelajari sihir medis terlihat sedang menangani Raisa yang terluka.


"Raisa, kenapa kau sampai harus berbuat seperti ini?" Tanya Rumi


"Rumi, seharusnya tadi kau lari! Seharusnya kalian tidak datang ke sini!" Kata Raisa


"Kau yang dalam bahaya dan terluka! Kenapa kau bicaraseperti itu?" Bingung Rumi


"Kalian, tolong tangani tiga orang itu sebelum sihirku tidak bisa lagi menahan dan mempengaruhi mereka. Cepat!" Ucap Raisa


"Hei, Raisa! Kau khawatirkanlah dirimu sendiri!" Kata Morgan


"Kalau tidak segera menangani mereka, kita bisa dalam bahaya! Kau ada dalam bahaya, Rumi! Karena mereka mengincarmu...!~" Raisa yang terus bicara dalam keadaan lemah pun kembali menutup kedua matanya.


"Raisa, bertahanlah!" Cemas Rumi


"Aku lelah. Seperti katamu tadi, ayo! Bawa aku pulang..." Bisik Raisa dengan tenaga terakhir yang dimilikinya.


"Tidak seperti yang diduga, kondisi Raisa sepertinya lebih parah." Kata Aqila


"Kita tidak terlalu jauh lagi dari Desa Daun. Ayo, kita kembali! Aku akan membawamu kembali, Raisa. Tenang saja, kau aman bersamaku." Ucap Rumi


Tanpa Raisa minta, ketiga penculik yang sempat Raisa lumpuhkan sebenarnya sudah mereka atasi. Dan akhirnya mereka pun bergegas kemnali ke Desa Daun. Dengan Rumi yang membawa Raisa dengan menggendongnya (ala bride style).


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2