
Semuanya asik bermain dalam kebersamaan yang lengkap hingga hampir larut malam... Sampai beberapa dari mereka mengaku sudah mengantuk, yang lainnya baru sadar akan waktu. Permainan pun dihentikan, bekas makan pun dibersihkan... Setelah semua itu beres, semua pun membubarkan diri kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat malam dan tidur.
"Setelah makan, besok akan kubukakan portal menuju dunia kalian di Desa Daun. Untuk malam ini tidurlah dengan nyenyak. Selamat malam, semuanya!" Ucap Raisa
"Selamat tidur, Raisa!"
Setelah mengucapkan salam perpisahan pada malam itu, semua pun kembali ke kamar masing-masing...
Begitu juga, Raisa...
Baru saja, Raisa ingin menutup pintu kamarnya, tetapi ada satu kaki yang masuk untuk menahan pintu agar tidak langsung tertutup.
"Raisa, ini aku. Aku ingin berbicara sebentar sebelum kepulanganku besok." Ucapnya
"Aduh, Rumi! Lagi-lagi kau membuatku terkejut!" Kata Raisa yang membiarkan seseorang yang menahan pintu kamarnya dengan kaki itu masuk ke dalam kamarnya. Dia adalah Rumi...
"Ada apa? Kakimu tidak sakit kan? Apa tidak bisa bicara besok saja sebelum kau pulang? Kalau ternyata tidak penting, aku akan mengusirmu ke luar dari sini!" Oceh Raisa
"Kakiku baik-baik saja. Aku ingin bicara sekarang sekalian ingin memberimu sesuatu. Kau sudah sangat mengantuk ya, Raisa?" Ujar Rumi
"Sedikit." Kata Raisa
"Kenapa? Kau ingin mempermasalahkan aku yang lebih menyanyangi Ayahku dari pada dirimu dan karena itu kau cemburu?" Tanya Raisa
"Tidak. Aku mengerti kalau bagaimana pun kau pasti lebih memilih keluargamu di atas siapa pun, termasuk aku." Jawab Rumi
"Lalu, apa? Kau ingin mempermasalahkan saat aku bertanya pada Chilla menurutnya tentangmu? Sampai kau merasa seolah aku memberikan kesempatan untuknya memilikimu tanpa memikirkan perasaanmu?" Tanya Raisa
"Aku tidak berpikir seperti itu! Aku malah senang saat kau bilang bahwa aku tampan di depan yang lain!" Kata Rumi
..."Padahal aku sudah sampai mengatakan seperti ini, tapi kau malah senang hanya karena aku mengatakan bahwa kau tampan di depan yang lain? Kau sudah senang hanya karena sanjungan seperti itu? Padahal rencanaku adalah melepaskanmu suatu saat nanti..." Batin Raisa...
"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan? Dan apa yang ingin kau berikan?" Tanya Raisa
Tangan Rumi pun bergerak meraih dan menggenggam satu tangan Raisa. Rumi memakaikan sesuatu pada tangan mulus putih nan cantik gadisnya itu~
"Karena sepertinya kau sudah sangat nengantuk, aku hanya akan memberimu ini dan berbicara sedikit denganmu." Ucap Rumi
"Gelang, untukku!? Terima kasih, Rumi!" Girang Raisa
Rumi memakaikan sebuah gelang dengan permata merah berukuran kecil pada tangan Raisa...
"Ini adalah hadiah yang kubilang saat itu ingin kuberikan padamu. Kau sudah cukup menantikannya dan kau pun menerimanya." Kata Rumi
Rumi mengangkat tangan Raisa tersebut untuk ditempelkan pada pipinya. Merasakan sentuhan dari Raisa membuatnya nyaman... Setelah tangan Raisa menyentuh pipinya, Rumi menolehkan wajahnya untuk mengecup telapak tangan Raisa dengan lembut.
"Dan aku ucapkan terima kasih... Karena selama di sini, kau sudah memakai jepit rambut pemberianku sesuai dengan keinginanku. Kau selalu sangat cantik, apa lagi saat kau memakainya!" Ucap Rumi yang lalu mengecup punggung serta jari jemari tangan Raisa.
Tak bisa ditahan, jantung hati Raisa pun berdegup tak karuan dengan cepat dan di sekujur wajahnya merona merah~
Raisa pun menarik kembali tangannya dari genggaman Rumi...
"Apa kau tidak merasa mengantuk juga, Rumi? Ini sudah malam, kembalilah ke kamarmu dan tidur. Teman-teman sekamarmu juga pasti menunggumu. Jangan sampai kau sulit bangun saat harus pulang besok." Ujar Raisa setelah merasa malu terhadap perbuatan Rumi padanya.
"Aku sudah bertekad untuk berusaha menahan rasa cemburu dan rinduku untuk kebaikan hubungan kita. Dan kuharap setelah kepulanganku besok ke dunia kami, kita akan segera bertemu kembali. Aku akan selalu menantikan pertemuan kembali denganmu, Raisa!" Ucap Rumi
"Aku juga sama." Kata Raisa
"Baiklah, aku sudah selesai. Selamat tidur, sayangku. Jumpa lagi besok!" Pamit Rumi yang berlalu ke luar dari kamar tersebut.
"Ya, jumpa lagi besok~" Gumam Raisa
Raisa menatap lengannya yang terdapat gelang yang melingkar indah di sana. Tangan itu juga yang dikecup mesra oleh Rumi tadi...
Setelah Rumi ke luar dari kamarnya, Raisa pun menutup dan mengunci pintu kamarnya.
..."Gelang yang indah dengan permata yang cantik. Aku suka! Tapi, kenapa di sisi lain, aku merasa ini adalah hadiah perpisahan kita ya?" Batin Raisa...
Raisa pun terus menatap gelang yang melingkar indah di lengannya. Ia memejamkan matanya setelah merebahkan tubuhnya di ranjang kasur yang empuk. Ia pun memegangi gelang pemberian Rumi itu dengan satu tangannya yang lain. Di dalam hatinya, ia berharap akan baik-baik saja walau dunia berubah sekali pun, termasuk saat ia harus melepas relakan cintanya itu nanti...
---
Rumi pun membuka pintu kamarnya dan menutup serta menguncinya setelah masuk ke dalam kamar tersebut.
"Akhirnya kau kembali, Rumi! Habis dari mana kau sudah malam begini?" Ujar Morgan
"Aku habis menyampaikan sesuatu pada Raisa sebelum kepulangan kita besok." Ucap Rumi
"Kenapa tidak menunggu besok sebelum pergi saja? Malam-malam begini, kau merepotkan sekali!" Oceh Devan
"Aku selalu menyimpannya sampai tadi, takut aku lupa menyampaikannya." Kata Rumi
"Kau ini, jangan-jangan sama seperti dugaan Chilla selama ini! Kau dengan Raisa, benarkah seperti itu? Memiliki hubungan spesial lebih dari sekadar pertemanan?" Tanya Ian menebak-nebak.
"Terserah mau bagaimana menganggapnya, apa yang harus disampaikan sudah tersampaikan. Aku sudah lega!" Ujar Rumi
...
Setelah waktu makan, semua pun bersiap untuk pulang ke Desa Daun dengan Raisa yang akan membukakan portal antar dimensi dunia yang berbeda.
"Bagaimana, kalian semua sudah siap? Tidak ada barang yang terlupa atau tertinggal kan?" Tanya Raisa
"Semua sudah lengkap dan siap!" Kata Aqila
"Aku hanya akan mengingatkan, mungkin dalam waktu dekat ini aku tidak bisa berkunjung ke dunia kalian. Setelah kelulusanku kali ini banyak yang harus dipikirkan untuk dipersiapkan. Sekarang, aku bukan lagi murid dari suatu sekolah, harus semakin merencanakan kehidupan masa depan. Jadi, mungkin membutuhkan waktu lama untuk itu." Ungkap Raisa
"Seperti kau yang harus melanjutkan pendidikan atau mencari kerja... Kau memilih apa, Raisa?" Tanya Dennis
"Semakin dipikirkan tentang itu, sepertinya aku ingin langsung bekerja. Aku sedang merencakanan untuk mencoba sesuatu bersama kedua sahabatku, Maura dan Nilam. Kalau percobaan sederhana ini sukses, mungkin aku akan melanjutkan bekerja di bidang ini. Ini pun rencana yang masih belum terbilang pasti... Semuanya masih harus ada diskusi dengan keluarga." Jawab Raisa
"Aku akan selaku menunggu dan menantikanmu, Raisa!" Kata Rumi
"Hmm, iya. Aku buka portal teleportasinya sekarang ya..." Ujar Raisa
__ADS_1
Semua pun serempak mengangguk~
Syuuuhh~
Sha...
Dengan bantuan kemampuan sihir yang Raisa miliki, gerbang portal teleportasi menuju Desa Daun pun terbuka.
"Sampai jumpa lagi nanti, Raisa!~"
Satu persatu dari mereka pun memasuki lingkarang hitam teleportasi tersebut. Beberapa di antaranya melambai ke arah Raisa~
Yang terakhir memasuki portal teleportasi adalah Rumi. Semua teman yang lain sudah berada di dunia yang berbeda setelah melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir di depannya... Sebelum melangkah pergi, Rumi menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah Raisa, dan tang terakhir ia mengukir tanda hati di udara hampa. Seolah mengatakan "Aku dan Kamu adalah CINTA!~" atau "Aku dan Kamu, SATU HATI!~"
Raisa tersenyum bahkan terkekeh kecil... Ia tak menyangka akan ada tindakan romantis yang dilakukan Rumi seperti itu.
Raisa pun membalas dengan membentuk simbol Saranghae dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Ia pun menunjukkan pengukiran di udara bahwa itu adalah simbol hati yang ditujukan untuk Rumi~
Rumi pun ikut tersenyum lembut. Dan dengan perasaan senangnya, ia melangkah masuk ke dalam lingkaran portal sihir di depannya dan pergi ke dunia yang berbeda dengan keberadaan Raisa saat ini.
Setelah semua tiba di Desa Daun, lingkaran portal teleportasi itu pun perlahan memudar dan tertutup hingga menghilang sepenuhnya~
"Teman-temannya udah pada pulang, Neng?" Tanya Pak Danu
Pak Danu datang saat dipanggil karena rombongan yang menginap di vila akan kembali pulang pulang hari ini. Pak Danu datang sendiri tanpa ditemani Bu Weni, sang istri.
"Iya, Pak. Baru saja saya mengirim mereka pulang." Jawab Raisa
"Bapak udah ngira mereka bukan orang yang sama kayak di dunia sini. Pantas aja sejak pertama kali Neng dan teman-teman liburan ke sini pun gak kelihatan kendaraan yang mengantar." Ucap Pak Danu
"Iya, Pak. Saya bertemu mereka di dimensi dunia lain. Setelah mereka, saya juga mau pulang. Kunci vila sudah saya kasih ke Bapak kan? Saya pamit ya, Pak Danu..." Ujar Raisa
"Iya, Neng. Salam buat orang di rumah ya." Kata Pak Danu
Raisa mengangguk kecil...
Raisa pun menggunakan cara yang sama dengan mengantar kepulangan teman-temannya untuk berpulang ke rumah orangtuanya.
"Raisa pulang!~" Seru Raisa saat tiba menginjakkan kaki di halaman belakang rumahnya.
"Beneran ada suara Kak Raisa! Oleh-olehnya mana, Kak?" Ujar Raihan yang membukakan pintu belakang rumah untuk Raisa yang baru saja pulang.
"Kamu ini, ribut oleh-oleh aja terus! Biarin Kakak masuk dulu kek, bikinin Kakak minum dulu kek." Gerutu Raisa yang berjalan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Raisa langsung menuju ruang tengah dan duduk di sofa.
"Kak Raisa, mau minum apa?" Tanya Raihan
"Apa aja deh, air putih juga gak apa..." Jawab Raisa
Raihan pun langsung melesat menuju dapur~
"Kalau ada maunya aja, nurut banget tuh bocah!" Gumam Raisa
Raisa pun menerima gelas pemberian Raihan dan meneguk air mineral itu sampai hampir setengahnya.
"Ibu dan Bapak, mana?" Tanya Raisa
"Inu pergi arisan, acara penutupan libur panjang. Bapak pergi ke bengkel, servis mobil. Di rumah cuma ada aku." Jawab Raihan
"Oleh-olehnya buat aku dong, Kak..." Pinta Raihan
Raisa mengulurkan tangannya dan dengan menggunakan sihir dikeluarkannya beberapa tas belanjaan berisi segala macam buah tangan.
"Wah, sihir! Yang mana untukku nih?" Ujar Raihan
Raisa pun memperhatikan buah tangan yang dibawanya...
"Sepertinya belum semuanya ke luar. Bawakan itu semua dulu ke kamar Kakak, nanti oleh-oleh buat kamu baru Kakak ke luarkan." Ucap Raisa
Dengan gesitnya walau harus kerepotan, Raihan pun membawa semua oleh-oleh yang dibawa kakaknya di kedua tangannya sekaligus untuk diletakkan di kamar milik Raisa...
"Udah, Kak!" Lapor Raihan yang kembali ke hadapan Raisa.
"Yang ini, baru untuk kamu." Kata Raisa yang kembali mengeluarkan sesuatu dengan kemampuan sihir yang dimilikinya.
"Terima kasih, Kak Raisa!" Ucap Raihan yang langsung melesat ke kamar pribadi miliknya.
"Hmm, sama-sama. Dasar, bocah!" Raisa melihat tingkah adik lelakinya yang kekanak-kanakkan.
Raisa pun mengirim pesan pada kedua orangtuanya untuk mengabari mereka atas kepulangannya.
•••
Setelah beristirahat dengan santai sehari di rumah, kini Raisa kembali bersiap untuk berkunjung ke rumah kakaknya yang sudah berkeluarga. Menemani dan bermain dengan keponakan kecilnya pada hari libur panjang, lebih tepatnya menepati janji pada keponakan kecilnya itu.
Setelah bertanya tentang keberadaan kakak dan keponakannya, Raisa langsung memesan taxi online untuk mengantarnya ke kediaman Raina. Karena akan tidak lucu jadinya, kalau tanpa konfirmasi yang tepat ternyata kedua objek yang dituju Raisa tidak ada di tempat.
Begitu tahu Bibi kesayangannya akan datang berkunjung ke rumahnya, Farah langsung kegirangan. Begitu Raisa turun dari mobil yang mengantarnya, Farah sudah langsung menyambut kedatangannya.
"Onty Icha!" Panggil Farah.
"Farah, keponakan cantiknya Aunty!" Seru Raisa
Farah pun berlarian menghampiri Raisa, Raisa pun berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut dengan senang hati. Akhirnya Bibi dan keponakan itu pun bersatu dengan saling berpelukan...
"Aku kangen sama Onty!" Kata Farah
"Padahal belum lama ini kan udah ketemu, Farah udah kangen? Tapi, emang Aunty kangen juga sih..." Ujar Raisa disertai kekehan kecilnya.
"Karena Onty Icha udah datang, ayo! Suruh Onty-nya masuk rumah dulu." Ucap Raina,yang sedari tadi mendampingi sang anak menunggu kedatangan Raisa.
Farah pun melepaskan pelukannya dan menarik tangan Raisa untuk ikut dengannya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ayo, Onty! Kita masuk ke dalam lumah, main sama aku!" Ajak Farah
"Eh, main?! Boleh aja, tapi kali ini Farah yang pilih harus main apa ya...!" Kata Raisa yang sedikit kesulitan mengimbangi langkah kaki kecil keponakannya.
Raina hanya bisa menggelengkan kecil kepalanya melihat tingkah lucu nan menggemaskan anaknya yang sepertinya akan menahan seseorang untuk terus bersamanya saat ini...
"Onty-nya baru aja sampai. Biar Onty istirahat dulu dong." Ucap Raina
Setelah masuk ke dalam rumah, Farah langsung mengajak Raisa untuk duduk di ruang tengah tempat kumpul keluarga. Sedangkan Raina langsung beranjak menuju ke dapur.
"Kata Mami, Onty istilahat dulu. Onty duduk di sini dulu ya, aku mau lihat Mami." Ucap Farah
Raisa mengangguk tanda mengerti. Farah pun langsung berlarian ke tempat Mami-nya berada.
"Aku udah suluh Onty istirahat. Mami, lagi ngapain?" Ujar Farah yang mendekat ke arah Raina sesampainya di dapur.
"Farah, pintar! Mami buat minum untuk Onty dulu, sayang." Kata Raina
"Aku mau bantu juga dong, Mih." Antusias Farah
"Boleh! Nih, anak Mami bantu bawain kue camilannya aja ya. Hati-hati bawanya, kalau gak kuat bawa satu persatu aja dulu." Ucap Raina
"Ada tiga toples. Tangan aku cuma ada dua, satunya ditinggal dulu deh. Bawa yang dua ini dulu ke Onty Icha!" Gumam Farah dengan rencananya sendiri.
Farah berlarian kecil kembali menghampiri Raisa untuk memberinya kue camilan di kedua toples yang dibawa. Farah bergerak cepat supaya bisa mengambil satu toples kue camilan yang sempat ia tinggalkan...
"Onty Icha, ini kuenya! Tadi aku bantu Mami ambilin ini buat Onty. Masih ada satu lagi, tunggu ya..." Ujar Farah
Farah berbalik dan melihat Raina sudah membawakan satu toples yang tersisa tersebut.
"Jangan lari-lari, sayang." Kata Raina serempak dengan Raisa.
Namun, Farah tetap saja berlari menghampiri Raina dan meminta toples kue camilan agar ia saja yang memberikannya pada Raisa.
"Mami, sini toples kuenya! Aku aja yang bawa, aku kan udah bilang mau bantu!" Oceh Farah
"Iya, nih toples kuenya. Anak Mami pintar banget sih! Hati-hati bawanya ya, sayang..." Ujar Raina
Farah pun merebut toples kue camilan yang tersisa dari tangan Raina dan menghampiri Raisa untuk memberikan toples kue camilan yang dibawanya.
"Buat Aunty ya? Terima kasih, cantik!" Ujar Raisa
"Hehe, sama-sama." Balas Farah dengan tawa kecil menggemaskannya.
Raina yang berada beberapa langkah dari sana pun menyusul untuk memberikan minuman untuk Raisa.
"Ayo, camilannya dimakan. Sama, ini minumannya. Diminum dulu." Ujar Raina
"Kak Raina, kayak sama siapa aja... Jadi, merepotkan begini." Kata Raisa
"Apanya yang merepotkan? Walau kamu adik aku, tetap aja kamu tamu di sini." Ucap Raina
"Kak Arka mana? Kok gak kelihatan?" Tanya Raisa yang lalu menyeruput minuman yang dibuatkan Raina untuknya.
"Ah, orang itu! Sibuk dia mah! Mancing ikan sama temannya. Lagi libur juga bukannya di rumah main sama anaknya, malah pergi ke luar!" Kesal Raina
"Papi mainnya ke luar mulu, gak mau main sama aku. Makanya, aku senang ada Onty Icha datang!" Ujar Farah
"Dasar, pria! Seakan-akan gak betah banget kalau di rumah. Bapak juga kalau lagi libur ke luar terus. Ada aja alasan perginya, ke bengkel lah, ini lah, itu lah... Raihan, yang masih kecil juga sama aja. Ya mabar ke rumah teman, nongkrong di warnet..." Gerutu Raisa
"Biarin Papi main ke luar, sekarang kan ada Onty. Kita bisa main bareng bertiga sama Mami juga ya." Kata Raisa menghibur Farah.
"Yeay! Main bareng Onty!" Girang Farah
Menepati janjinya dengan keponakan kecilnya, Raisa berkunjung untuk menemani hari libur Farah dengan bermain bersama. Bermain sepuasnya beberapa hari, karena Raisa juga menginap di sana...
Setelah menginap beberapa hari di sana, tentu saja Raisa harus pamit untuk kembali pulang. Dan itu tidak mudah dilakukan karena Farah yang mencekal Raisa dan merengek tak mengizinkannya pergi.
"Gak boleh! Onty di sini aja telus, gak usah pulang." Larang Farah sambil memegangi pergelangan tangan Raisa dengan sangat erat.
"Biar Onty Icha pulang ya, sayang. Nanti, kapan-kapan Onty datang main lagi. Kalau Farah gak bolehin Onty pulang sekarang, nanti Onty-nya malah gak mau main sama Farah lagi loh." Ujar Raina
"Jangan gitu dong!" Kata Farah
"Aunty, pulang dulu ya. Kapan-kapan Aunty datang buat main lagi. Sekarang Aunty emang gak sekolah lagi, tapi Aunty juga harus kerja kayak Papi dan orang dewasa lainnya." Ucap Raisa
"Mami juga udah dewasa, tapi di lumah aja gak kelja." Alibi Farah
"Mami kan ada Farah, harus di rumah untuk jagain Farah, makanya cuma Papi yang kerja." Ujar Raisa
"Biarin aja Onty-nya pulang, sekarang kan udah ada Papi di rumah. Farah main sama Mami dan Papi aja." Kata Arka
"Makanya, kalau libur tuh di rumah aja ajak main anaknya. Jadi, anaknya gak bakal rewel gini." Omel Raina
"Iya, maaf, Mih." Sesal Arka
"Kapan-kapan Aunty main lagi. Kalau Farah bolehin Aunty pulang, Aunty ada hadiah loh..." Ucap Raisa
"Hadiah?" Tanya Farah
"Nih, untuk Farah! Lain kali, ajak Papi Mami aja main lagi ke rumah Nenek biar bisa ketemu Aunty sama Om Ehan juga." Kata Raisa
"Iya deh. Makasih ya, Onty!" Ucap Farah
"Sana-sama, sayang..." Balas Raisa
Akhirnya, Raisa mengeluarkan jurus pamungkasnya pada anak kecil, yaitu memberi hadiah! Sebenarnya hadiah itu adalah buah tangan yang dibeli saat liburan di vila, namun Raisa baru ingat dan sempat memberikannya saat hendak pulang...
.
•
Bersambung..
__ADS_1