Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 5 - Menginap di Rumah Daffa.


__ADS_3

Tidak sampai malam, jalan-jalan berakhir di sore hari.


Raisa membawa Rumi pulang ke rumah.


"Raisa, pulang!"


Begitu mendengar suara Raisa, Bu Vani datang menghampiri untuk menyambut kepulangan sang putri.


"Raisa, kamu udah pulang, Nak. Kamu pulang sama siapa?" tanya Bu Vani


"Ada teman datang, Bu. Ini, Rumi. Ibu ingat gak? Temanku jadi jauh," ujar Raisa


"Oh, Rumi. Datang sendirian aja?" tanya Bu Vani seraya menyapa.


"Iya, Bibi. Tidak enak datang ramai-ramai. Merepotkan Bibi dan Raisa," jawab Rumi


"Jangan sungkan begitu. Ayo masuk dulu ke dalam," kata Bu Vani


Bu Vani dan Raisa pun mengajak Rumi untuk masuk ke dalam rumah.


"Kau duduk dulu saja, Rumi. Aku ingin bersih-bersih dulu sebentar," ujar Raisa


Rumi mengangguk. Lalu, duduk di sofa dengan tenang.


Setelah berganti pakaian, Raisa menemui Bu Vani yang sedang menyiapkan makanan di dapur.


"Ibu, masak apa? Biar kubantu," kata Raisa


"Kenapa ke sini? Kenapa gak temani Rumi aja di depan?" tanya Bu Vani


"Biar aja dia menunggu sendiri," jawab Raisa


"Kamu punya hubungan apa sama Rumi?" tanya Bu Vani


"Kami berteman biasa, Bu," jawab Raisa


"Yakin cuma teman? Kok Ibu lihatnya lebih dari itu, ya?" selidik Bu Vani


"Enggak kok, Bu. Hanya teman," jawab Raisa


Raisa memang berkata seperti itu. Namun, seorang Ibu tidak dapat dibohongi. Bu Vani bisa melihat raut wajah Raisa yang merona malu sekaligus terlihat senang.


"Ngomong-ngomong, Bapak sama Raihan mana, Bu?" tanya Raisa


"Bapak kerja, kalau Raihan ... kamu kayak gak tahu adikmu aja. Dia itu gak betah di rumah, kerjanya main sama temannya ke luar," jawab Bu Vani


Raisa mengangguk mengerti.


"Rumi, ayo kita makan dulu," ajak Raisa yang datang sambil membawa hidangan makanan di kedua tangannya.


"Hari ini, kan, kita sudah makan tadi," kata Rumi


"Berbeda dong. Tadi itu makan siang, sekarang kita makan sore," jelas Raisa


"Makan yang banyak, ya, Rumi ... " kata Bu Vani yang ikut membawa hidangan lainnya.


"Terima kasih, Bibi," ucap Rumi


"Silakan dimakan," ujar Bu Vani


"Ibu, gak makan bareng?" tanya Raisa


"Ibu, udah makan tadi. Sekarang masih belum lapar. Kalian makan aja berdua," jawab Bu Vani


Bu Vani pun meninggalkan Raisa dan Rumi makan berdua.


"Selamat makan!"


"Makan yang banyak," kata Raisa

__ADS_1


"Kau berkata seperti itu, tapi kau sendiri makan sedikit," ujar Rumi


"Kan, aku sudah pernah bilang ... aku tidak bisa makan banyak karena mudah merasa kenyang," jelas Raisa


Raisa pun memberikan banyak lauk di piring untuk Rumi.


"Makanlah dulu. Setelah makan, akan kuantar kau ke tempat Daffa. Kau jadi mau menginap di rumahnya, kan?" tanya Raisa


"Ya. Mau tidak mau," jawab Rumi


"Maaf, ya. Kau tidak bisa menginap di sini," ujar Raisa


"Tidak apa, Raisa. Aku mengerti alasanmu," kata Rumi


Raisa tidak bisa mengajak Rumi menginap di rumahnya. Karena Rumi datang seorang diri tanpa teman perempuan lainnya, Raisa jadi merasa kurang pantas jika Rumi menginap di rumahnya yang statusnya adalah teman perempuan dari dia yang seorang lelaki. Jadi, Raisa meminta bantuan Daffa untuk menerima Rumi menjadi tamu untuk menginap di rumahnya. Jadi, lelaki menginap di rumah sesama lelaki.


"Padahal kau kurang suka dengan Daffa, kan?" tanya Raisa


"Dia temanmu juga. Jadi, aku juga harus mengakrabkan diri dengannya," jawab Rumi


"Aku jadi senang mendengarnya," kata Raisa sambil tersenyum manis.


Melihat senyum manis Raisa, Rumi menjadi luluh. Rumi harus menerima keadaan ketika harus menginap di rumah Daffa. Meski tidak menyukai teman lelaki Raisa itu, ia harus bersedia demi Raisa.


Setelah makan dan merapikan bekas makan, Raisa pergi mencari sesuatu di kamarnya.


"Raisa, kok temannya ditinggal lagi?" tanya Bu Vani


"Aku mau cari sesuatu di kamar dulu, Bu," jawab Raisa


Raisa pun masuk ke dalam kamarnya. Bu Vani pun pergi menyiapkan camilan untuk Rumi setelah makan dan menemani Rumi mengobrol selama Raisa tidak ada.


"Makan camilannya dulu sambil nunggu Raisa datang lagi," ucap Bu Vani


"Sudah merepotkan, Bibi. Terima kasih," kata Rumi


"Rumi, sangat dekat dengan Raisa, ya?" tanya Bu Vani


"Iya, kami berteman. Saya menyayanginya dan menyukai putri Bibi itu," ungkap Rumi


Bu Vani sudah menduganya. Ada hubungan spesial antara putrinya, Raisa dan Rumi. Bu Vani yakin Raisa pun memiliki perasaan yang sama dengan Rumi. Bu Vani tidak bisa memberi komentar apa pun, ingin melarang pun tidak bisa. Apa lagi, Raisa sudah berada di usia yang tepat untuk menikah.


Setelah 4 tahun bekerja menjadi model serta merambah ke dunia akting, kini usia Raisa sudah memasuki 25 tahun.


"Raisa, itu orang yang seperti apa? Apa belakangan ini Raisa pernah bercerita sesuatu sama Rumi? Selama 4 tahun ini, kalian masih terus berkomunikasi, kan?" tanya Bu Vani


"Ya, kami masih tetap berkomunikasi walau berada di tempat yang berbeda. Belakangan ini, selain cerita tentang kesibukan kerjanya, Raisa tidak menceritakan apa pun lagi. Raisa, itu orang yang baik, tapi dia agak pendiam dan cenderung tertutup," ungkap Rumi


"Ternyata, dia emang begitu, ya. Dia tidak banyak bercerita dan lebih sering menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap Bu Vani


"Memangnya, ada apa dengan Raisa?" tanya Rumi


"Dia emang sibuk dan terlihat senang dengan pekerjaannya. Tapi, terkadang Ibu lihat wajahnya yang sedang sedih seakan menyembunyikan sesuatu. Ibu juga pernah melihatnya menangis sendirian. Begitu ditanya hanya bilang gak apa. Buat khawatir aja," ungkap Bu Vani


"Apa ini tentang kemampuan sihirnya yang hilang? Ternyata, sampai sekarang pun Raisa belum bercerita dengan keluarganya dan menanggung semua kesedihannya itu seorang sendiri," batin Rumi


Raisa pun kembali menghampiri Rumi yang sedang bersama Bu Vani. Raisa membawa sebuah koper bersamanya.


"Ini koper untuk apa, Raisa? Kamu mau pergi?" tanya Bu Vani


"Koper ini mau kupinjamkan pada Rumi, Bu," jawab Raisa


"Emang buat apa?" tanya Bu Vani lagi


"Rumi, mau menginap di rumah teman Raisa," jawab Raisa


"Kenapa gak menginap di sini aja?" Bu Vani lagi-lagi bertanya.


"Tidak usah, tidak apa. Saya akan menginap di rumah teman Raisa saja. Dia lelaki, jadi lebih leluasa karena kami sesama lelaki," jawab Rumi

__ADS_1


"Di sini kamu bisa tidur bareng di kamar Raihan, nginap di sini aja," ucap Bu Vani


"Ibu, benar juga. Aku gak kepikiran kalau Rumi bisa tidur bareng Raihan," kata Raisa


"Sudah banyak merepotkan keluarga Raisa. Tidak apa, saya menginap di rumah teman Raisa saja. Selain perempuan, sekarang Raisa juga seorang artis ... reputasinya harus dijaga," ujar Rumi


"Kau yakin, Rumi? Kalau Ibu sudah bicara seperti itu, berarti Ibu sudah memberi izin. Kau bisa menginap di sini dan tidur bersama Raihan di kamarnya," tawar Raisa


"Aku yakin, Raisa. Tidak apa," kata Rumi


"Ya sudah, keputusan tetap pada Rumi. Kalian juga sudah punya rencana sebelumnya, kan? Kami gak bisa memaksa," ujar Bu Vani


Bu Vani pun kembali meninggalkan Raisa dan Rumi berdua karena tidak ingin mencampuri urusan anak muda.


Raisa pun memulai rencana buatan yang akan dijadikan alasan untuk Daffa saat Rumi menginap di rumahnya. Raisa juga memindahkan barang-barang yang dibawa Rumi ke dalam koper miliknya. Rumi mengemas barangnya ke dalam gulungan kertas sihir dan membawanya dengan tas berukuran kecil, pasti akan mencurigakan jika Daffa melihat Rumi hanya membawa tas berukuran kecil sedangkan Rumi datang dari tempat yang jauh. Jadi, memindahkan barang ke dalam koper yang ukurannya lebih besar adalah sebagian dari rencana.


"Biar kubantu kau memindahkan barangmu ke dalam koper," kata Raisa


"Tidak perlu, Raisa. Biar aku saja," tolak Rumi dengan raut wajah yang sedikit aneh.


Rumi memang jarang berekspresi, tapi kini wajahnya terlihat seperti sedang malu-malu. Seketika Raisa berpikir kenapa Rumi seperti itu.


"Benar. Baiklah. Kau saja yang melakukannya," ucap Raisa


..."Bodoh kau, Raisa! Bagaimana pun juga itu adalah barang pribadi milik lelaki! Kau tidak boleh sembarang menyentuhnya," batin Raisa merutuki dirinya sendiri....


Usai mempersiapkan semuanya, Raisa dan Rumi langsung pergi menuju ke rumah Daffa.


"Maaf, ya, Daff. Jadi merepotkan," ujar Raisa


"Mohon bantuannya untuk beberapa hari ini," kata Rumi dengan sopan.


"Ya, santai aja. Aku mengerti kok. Anggap aja ini karena kamu udah mau ikut pemotretan secara sukarela tanpa dibayar. Lagi pula, aku tinggal sendiri kok," ucap Daffa


"Masuk dulu aja, gak enak ngobrol di luar begini. Di dalam bisa duduk dan minum," sambung Daffa


"Gak usah, deh. Kamu sama Rumi, kan, juga butuh istirahat. Aku pulang aja," tolak Raisa


"Ya udah, aku tinggal masuk ke dalam dulu, ya. Pasti masih ada yang mau diomongin sama Raisa, kan ... " ujar Daffa yang melenggang masuk ke dalam rumahnya.


"Aku tidak akan bertengkar atau pun macam-macam dengan Daffa di sini. Kau tenang saja, Raisa," kata Rumi


"Bagus, kalau begitu. Oh, ya. Aku hampir lupa mau memberimu ini." Raisa mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan memberikannya pada Rumi.


"Ponsel? Untuk apa?" tanya Rumi


"Tentu saja untuk kita berkomunikasi," jawab Raisa


"Sebisa mungkin kau jangan menggunakan kemampuanmu atau mengeluarkan ular sihirmu, karena kebanyakan orang di sini takut dengan ular. Kalau terjadi sesuatu atau ingin menghubungiku ... kau bisa meneleponku atau mengirimku pesan. Nomor ponselku sudah tersimpan di sini. Ini ponsel lamaku yang sudah tidak kupakai lagi dan aku memakai ponsel lain, tapi yang ini masih bisa berfungsi dengan baik. Kau bisa menggunakannya," sambung Raisa dengan sedikit berbisik.


Tak lupa Raisa mengajarkan Rumi cara menggunakan ponsel. Karena sebelumnya, Raisa sudah pernah mengajari Rumi tentang penggunaan ponsel dengan baik, kali ini pun Rumi dapat memahami penjelasan Raisa dengan cepat.


"Baiklah, aku sudah mengerti. Terima kasih," ucap Rumi


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kau masuklah ke dalam. Aku akan pulang," kata Raisa


"Hati-hati dan kabari aku langsung begitu kau sampai di rumahmu dengan ponselmu," pesan Rumi


"Ya, aku mengerti. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok," pamit Raisa


"Sampai jumpa besok," balas Rumi


Raisa pun beranjak pergi. Ia dan Rumi saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2