
•••
Waktu terus berlalu...
Hari-hari kegiatan belajar mengajar di sekolah setelah terpaksa diliburkan hanya berlangsung beberapa hari sebelum hari libur panjang dimulai.
Kini hari libur panjang itu pun tiba. Waktu liburan pun datang!
Semua murid sekolah akhirnya bisa bernafas lega untuk beberapa waktu sebelum waktu ujian kelulusan yang berlangsung itu tiba.
Semua murid bersorak girang! Mereka semua merasa gembira! Termasuk juga, Raisa. Walau pun ia tak menunjukkannya secara langsung namun senyum bahagia yang mengukir bibir yang terlukis pada wajahnya sudah mampu menjelaskan bahwa ia sama gembiranya dengan murid lain. Yang sama menantikan liburan ini tiba...
"Akhirnya bisa liburan juga!" Sorak Maura
"Iya, liburan kalin ini aku mau ke Bali. Berkunjung ke tempat saudara, tentu sambil refresing!" Ujar Nilam
"Aku pernah dijanjiin sana sepupu jauh aku mau diajak ke Singapura waktu liburan. Tapi, ga tau liburan kali ini atau setelah lulus nanti. Masih belum pasti." Ungkap Maura
"Kalau kamu, Raisa? Kamu mau ke mana di liburan kali ini? Udah ada rencana?" Tanya Maura dan Nilam secara serempak.
"Rencananya liburan kali ini aku mau menjelajah alam! Entah itu petualangan menyusuri hutan atau mendaki puncak bukit. Rencananya mau mengajak atau minta diajak sama kakak sepupu aku. Tapi, masih rencana di dalam kepala aja sih, belum tau pasti atau enggaknya." Ucap Raisa
Sebenarnya, Raisa ingin mengunjungi teman-temannya di dimensi dunia lain. Perihal hutan dan bukit itu karena di dunia sana banyak terdapat hutan dan juga bukit. Ia sudah mantap, tapi, yang belum pastinya adalah karena ia masih belum meminta izin pada kedua orangtuanya. Ia berharap orangtuanya akan mengizinkannya untuk pergi ke sana di liburan kali ini...
"Rasanya itu agak ekstream ya. Hati-hati kalau memang jadi ya, Raisa." Ujar Nilam
"Iya, makanya aku bilang masih belum pasti." Kata Raisa
"Pokoknya kita ketemu lagi pas waktu ujian kelulusan nanti ya!" Ucap Maura
"Ya, dan kita bertiga harus lulus di ujian kali ini!" Ujar Raisa
"Itu pasti!" Serempak Maura dan Nilam
•••
Sudah dua hari Raisa menetap di rumah sejak hari libur panjang dimulai. Hari ini, Raisa baru berencana untuk meminta izin pada kedua orangtuanya untuk pergi liburan mengunjungi dunia dimensi lain tempat tinggal teman-teman spesialnya itu.
Saat ini, Raisa sedang makan siang bersama kedua orangtuanya dan juga Raihan, sang adik. Saat inilah, Raisa ingin mengungkapkan maksudnya untuk meminta izin pergi liburan ke tempat asing sekaligus tak asing itu.
Dunia itu asing karena memang bukan dunia tempat ia tinggal, tak asing karena ia sudah pernah memimpikan dan juga mengunjungi dunia itu.
"Bu, Pak, Raisa mau ngomong sesuatu..." Kata Raisa
"Mau ngomong apa? Bilang aja." Ujar Pak Hilnan, Sang Ayah. Ayah Raisa.
"Aku mau minta izin, aku mau pergi liburan ke dimensi lain itu. Ke dunia tempat teman-temanku tinggal. Mereka teman-teman spesialku, aku ingin mengunjungi mereka semua. Jika, Ibu dan Bapak mengizinkan... Jika, aku diberi izin." Ucap Raisa dengan segala keragu-raguannya.
Raisa sudah mengatakannya. Ia sudah meminta izin kepada Ibu dan Bapaknya, kedua orangtuanya. Tapi, Raisa takut mereka tidak memberinya izin. Terutama, Sang Ibu yang selalu dengan rasa khawatirnya.
"Apa?!" Respon Pak Hilman yang terkejut.
Pak Hilman, Bapak Raisa, menatap putri di hadapannya. Ia tak menyangka jika anaknya itu berani untuk mengungkapkan maksud dan niatnya meminta izin untuk pergi ke dunia dimensi lain. Dan itu Raisa lakukan di hadapan istrinya. Ibu dari anaknya yang selalu penuh rasa khawatir itu. Sesekali ia melirik Sang Istri mencoba menebak apa respon darinya.
..."Kenapa respon Bapak kaget begitu? Kenapa Bapak ga jawab sekalian? Apa karena Bapak takut Ibu marah? Kenapa Ibu dan Bapak terus diam aja? Gimana kalau ternyata mereka ga kasih aku izin? Apa aku ga bisa dan ga dibolehin pergi? Tapi, aku udah janji bakal berkunjung ke sana juga untuk menepati janjiku sama Sandra yang minta aku bertarung duel melawannya. Kalau aku ga diberi izin apa aku harus pergi diam-diam dan meninggalkan surat? Tapi, itu kabur namanya! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Batin Raisa...
Raihan yang ada di tengah-tengah kebersamaan mereka pun hanya diam. Ia terus meneruskan aktivitas makan siangnya sambil menunggu keputusan kedua orangtuanya terhadap keinginan sang kakak. Ia sudah tau suasananya akan berubah tegang dan canggung seperti ini. Jadi, ia tak mau ikut campur.
"Emangnya kamu mau pergi berapa lama?" Tanya Bu Vani yang akhirnya angkat bicara.
"Rencananya sekitar... Eh, tunggu! Ibu, tanya apa tadi?" Ucap Raisa yang tak menyangka Ibunya akan memberi respon dan bertanya seperti itu.
Raisa jadi menduga-duga... Apa yang barusan saja ia dengar itu sungguhan? Apa ia sudah salah dengar? Apa Sang Ibu akan memberinya izin untuk pergi? Atau, Sang Ibu malah akan berkata demikian, 'Yasudah, setelah itu jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!'. Dan Ibunya akan marah, tak akan lagi menganggapnya sebagai anak, kemudian mengusirnya!
Raisa tak mau itu terjadi! Bersama Sang Ayah dan adik lelakinya, Raisa menunggu ucapan Sang Ibu selanjutnya dengan penuh rasa berharap.
"Kamu mau pergi untuk liburan, kan? Rencananya mau menginap di sana berapa lama? Kapan rencananya mau pergi?" Tanya Bu Vani sekali lagi.
Walau Sang Ibu bertanya seperti itu, Raisa masih belum yakin Ibunya akan memberinya izin. Pak Hilman dan Raihan pun hanya diam menunggu kelanjutan percakapan antara Ibu dan anak satu itu. Raisa, Pak Hilman, dan Raihan pun saling menatap bergantian. Dan kedua lelaki yang ada di sana menatap Raisa seolah berkata, 'Jawab aja dulu pertanyaan Ibu itu!' dari sorot mata mereka berdua.
"Rencananya mungkin seminggu? Ah, enggak! 5 hari aja... Ga usah! 3 hari aja cukup kok. Boleh ga, Bu?" Jawab Raisa dengan balik bertanya di akhir kalimatnya.
Takut tidak diberi izin karena terlalu lama pergi, Raisa mengganti jumlah hari kepergiannya sebanyak dua kali. Raisa terus berharap di dalam hatinya, Ibunya akan memberinya izin untuk pergi dan tidak marah pada dirinya.
"Jangan 3 hari, terlalu singkat. Nanti kamu malah capek perjalanan melakukan pembukaan portal di hari yang berdekatan. Seminggu, gapapa. Pergi aja." Ucap Bu Vani
__ADS_1
"Ibu, serius? Kasih izin aku untuk pergi? Aku boleh pergi?" Tanya Raisa
"Kamu mau pergi liburan, kan? Pergi aja, Ibu izinin. Dengan syarat, keesokan harinya kamu harus langsung pulang ke sini, harus jaga kesehatan selama di sana, makan yang teratur, tidur tepat waktu, harus baik-baik aja, jangan sampai sakit, jangan sampai ada yang terluka. Itu juga kalau Bapakmu kasih izin." Ucap Bu Vani menjawab dengan memberi syarat.
Raisa pun langsung menatap Sang Ayah...
"Bapak juga kasih izin kok. Kamu pergi aja." Kata Pak Hilman memberi izin dengan cepat.
"Aku emang berencana begitu kok. Aku akan pulang setelah seminggu di sana dan akan selalu baik-baik aja. Terima kasih, Bu, Pak." Ujar Raisa yang merasa gembira.
"Rencananya kapan mau pergi?" Tanya Bu Vani
"Mungkin lusa aku buka portal ke sana." Jawab Raisa
"Kalau udah kangen sama teman-temanmu yang ada di sana, besok juga boleh langsung berangkat. Tapi, kamu harus siapkan barang yang mau kamu bawa mulai hari ini juga." Ujar Bu Vani
"Benar boleh, Bu? Kalau begitu, Raisa mau langsung siapin semua setelah makan siang ini." Kata Raisa
Takut tak jadi diberi izin jika lebih banyak bertanya, Raisa pun bersemangat untuk akan menyiapkan segalanya.
Bu Vani pun memberikan senyum kedamaiannya.
"Ibu kan udah bilang mau percaya sama kamu dan yakin kamu akan tetap baik-baik aja. Makanya, Ibu janji sama diri Ibu sendiri untuk berusaha ga terlalu khawatir sama kamu. Karena Ibu tau, Ibu udah melahirkan putri yang istimewa dan spesial, yaitu kamu, Raisa." Ucap Bu Vani
Raisa pun bangkit dari tempatnya dan berhambur memeluk Sang Ibu.
"Terima kasih ya, Bu, karena udah percaya sama Raisa dan udah melahirkan Raisa ke dunia ini. Raisa juga berterima kasih banget sama Tuhan karena udah ngizinin aku jadi anaknya Ibu, lahir dari dalam rahim Ibu. Raisa sayang banget sama Ibu!" Ucap Raisa
Mwuah~
Raisa pun memcium pipi Sang Ibu pada akhir ucapannya.
"Kamu ini ada-ada aja tingkahnya, Raisa. Udah gede juga. Ga malu apa sama adikmu, Raihan?" Ujar Bu Vani
Walau berkata begitu, Bu Vani malah mengelus lembut rambut panjang putrinya itu.
"Biarin aja! Ngapain harus malu sama bocah!?" Kata Raisa
Raihan yang jadi sasaran lain Ibu dan kakaknya itu hanya diam saja. Ia berpikir untuk tidak mau merusak suasana. Melihat itu, Pak Hilman hanya tersenyum melihat tingkah anak dan istrinya itu. Tanpa meminta hal yang sama seperti peluk cium dari putrinya, ia juga tau bahwa anaknya, Raisa, juga memiliki perasaan yang sama seperti kepada istrinya.
"Udah, ayo! Lanjutin makannya." Kata Pak Hilman
"Iya, nanti Ibu bakal bantu kamu siapin barang-barang kamu buat keberangkatan besok." Ujar Bu Vani
"Ga usah, Bu, gapapa. Aku bisa sendiri kok. Tapi, aku jadi telat bantu Ibu bersih-bersih nanti mungkin bakal ga bantu Ibu. Jadi, biar aku siapin semua sendiri aja." Ucap Raisa
Bu Vani mengangguk membalas ucapan Raisa.
"Kalau gitu, selamat nikmati liburanmu selama seminggu di sana nanti ya, Sayang." Ucap Bu Vani
Raisa pun tersenyum penuh rasa gembira.
Akhirnya, ia diberi izin untuk pergi. Akhirnya, ia akan oergi! Akhirnya, ia akan bisa bertemu teman-teman lain dimensinya itu. Akhirnya, ia bisa menikmati luburan sesuai dengan keinginannya! Akhirnya, Sang Ibu bisa menerima akan takdirnya yang spesial dan berbeda dari anak lain pada umumnya...
"Pulang dari sana, beliin aku oleh-oleh lagi kayak waktu lalu ya, Kak." Pinta Raihan
"Iya deh... Siplah, pokoknya!" Kata Raisa meng-iyakan permintaan adik lelakinya.
Setelah makan siang selesai, Raisa langsung masuk ke dalam kamarnya. Menyiapkan semua barang yang akan dibawanya untuk berkunjung ke dunia dimensi lain dan berlibur selama seminggu di sana. Memikirkan akan bertemu lagi dengan teman-teman spesialnya itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Apa lagi kalau sudah benar-benar bertemu dengan mereka semua. Terutama saat bertemu Rumi, lelaki pujaan hatinya.
Walau sudah menceritakan masalah perasaannya dengan kedua sahabatnya, Maura dan Nilam. Raisa masih belum tau apa yang akan terjadi dan yang dilakukannya jika bertemu sosok lelaki itu. Bahkan mungkin Raisa masih meneruskan sandiwaranya yang berpura-pura seolah tidak terjadi hal khusus istimewa antara dirinya dan Rumi. Sudah mengetahui bahwa lelaki yang ia suka juga menyukainya saja, itu sudah cukup untuknya. Raisa sangat bersyukur tentang itu...
Saat sibuk mempersiapkan barang-barang yang harus dikemasnya, ternyata Sang Ibu datang. Bu Vani masuk ke dakam kamar Raisa untuk membantunya menyiapkan segala sesuatu yang akan putrinya butuhkan selama seminggu berlibur di dunia asing dimensi lain itu.
Walau dengan perasaan tak enak hati, Raisa tetap menerima bantuan dari Sang Ibu karena Bu Vani yang bersikeras mau membantu putrinya. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Raisa malah ketiduran sampai waktunya makan malam karena memang Ibunya yang menyuruhnya istirahat. Bahkan saat ia ke luar dari dalam kamar untuk makan malam, persiapan makan malam sudah diselesaikan oleh Sang Ibu.
Raisa ke luar dari dalam kamarnya saat waktu makan malam tiba. Namun, semua makanan sudah tersedia dan tertata rapi di atas meja makan. Bahkan semua anggota sudah lengkap dan siap untuk segera makan, hanya menunggu kehadirannya saja. Di sana sudah ada Pak Hilman, Raihan, dan tentunya Bu Vani.
Raisa pun duduk di kursinya di hadapan meja makan tersebut.
"Maaf ya, Bu. Raisa jadi ga bantu-bantu Ibu gara-gara ketiduran." Ucap Raisa dengan penuh rasa sesal dari dalam hatinya.
"Gapapa. Ini semua kan emang udah tugas Ibu, jadi siapin ini sendirian pun Ibu gapapa." Ujar Bu Vani
"Tapi, tetep aja. Harusnya aku bantu Ibu juga, itu kan juga udah jadi tugas aku yang anak Ibu." Gumam Raisa dengan pelan.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo! Kita makan aja." Kata Pak Hilman
Percakapan pun dihentikan, semua pun bersiap untuk segera santap makanan. Semuanya mengambil makanan ke dalam piring masing-masing. Dan makan malam bersama pun berlangsung dengan tenang
Setelah makan malam bersama selesai, Raisa pun membantu Sang Ibu membereskan peralatan bekas makan di dapur.
"Udah, kamu istirahat aja, Raisa. Biar Ibu yang beresin semuanya." Ucap Bu Vani
"Gapapa, Bu. Biar aku bantu juga. Tadi kan aku udah ga bantu Ibu." Kata Raisa
"Kamu kan besok udah mau berangkat pergi liburan, harus buka portal. Istirahat aja biar ga capek." Ujar Bu Vani
"Tapi, kalau aku masuk kamar sekarang, aku nanti malah ga bisa tidur karena udah sempet tidur tadi. Biar aja aku yang kerjain semua sambil nunggu rasa ngantuk datang. Justru Ibu aja yang istirahat, Ibu pasti lelah dari tadi kerja sendiri ga ada yang bantu. Ibu bisa tinggal duduk, nonton TV sambil mengemil camilan. Semua sisa kerjaan biar aku aja yang ngerjain." Ucap Raisa
"Tapi, nanti kamu bisa capek. Besok kan kamu mau buka portal." Ujar Bu Vani
"Emang benar, besok aku udah boleh langsung pergi, Bu?" Tanya Raisa
"Boleh kok, lebih cepat lebih baik. Jadi, kamu bisa lebih cepat balik pulang ke rumah lagi." Jawab Bu Vani
Oh, ternyata begitu pemikiran Bu Vani...
"Terima kasih, Bu. Tapi, aku masih sanggup kok buat kerja bantu Ibu. Jadi, Ibu istirahat aja. Biar aku yang lanjutin sisa kerjaannya, Ibu ga usah khawatir." Ujar Raisa
"Yaudah deh. Kalau gitu, Ibu istirahat dulu ya." Kata Bu Vani
Raisa pun mengangguk sambil tersenyum ke arah Sang Ibu. Bu Vani pun melenggang pergi dari dapur itu dan beristirahat kerena memang ia sudah merasa lelah. Memang usia seseorang sudah tidak bisa dibohongi. Di usianya sekarang, Bu Vani sudah jadi sering merasa kelelahan.
Raisa pun mulai mengerjakan segalanya. Mencuci peralatan bekas makan malam tadi, membersihkan dan merapikan meja makan, menyapu, dan juga melakukan pekerjaan rumah lainnya untuk membantu Sang Ibu dan meringankan bebannya. Karena sudah menjadi tugas seorang anak untuk membantu orangtua.
Setelah semua pekerjaan rumah yang tersisa selesai dikerjakan, Raisa pun langsung memasuki kamar tidur pribadinya untuk beristirahat. Menantikan esok hari tiba. Karena besok adalah hari besarnya yang telah ditunggu-tunggu.
"Liburan, aku datang!" Sorak girang Raisa di dalam kamarnya
•••
Keesokan harinya...
Malam hari telah berlalu. Bulan telah digantikan dengan hadirnya matahari yang bersinar hangat. Langit gelap telah berubah menjadi terang. Udara segar di pagi hari pun telah merabak menyebar di seluruh penjuru dan terhirup oleh semua insan manusia di bumi pertiwi ini.
Setelah selesai makan sarapan bersama, Raisa mulai mengeluarkan barang-barang persiapan keberangkatannya dari dalam kamarnya.
"Mau langsung berangkat, Kak?" Tanya Raihan
"Ga juga. Mau siap-siap aja dulu biar ga ada yang lupa. Jangan sampai ada yang tertinggal." Jawab Raisa
"Jangan lupa oleh-olehnya pas pulang ya, Kak." Pesan Raihan
"Iya, Raihan. Adikku yang bawel!" Kata Raisa
Setelah hari telah beranjak menjadi siang hari, Raisa sudah bersiap berangkat pergi. Dengan membawa barang-barangnya, Raisa mulai berpamitan.
Di halaman belakang rumah, Raisa sedang bersiap untuk membuka portal di sana. Bu Vani, Pak Hilman, dan Raihan pun ada di sana untuk melihat kepergian Raisa untuk berlibur. Sedangkan kakak Raisa, Raina, hanya dikabari lewat media telpon dan berkata tak bisa datang melihat keberangkatan Raisa juga berpesan untuk hati-hati.
"Jaga diri di sana, Raisa." Pesan Pak Hilman
"Jangan lupa pesan Ibu ya, Sayang. Setelah seminggu ingat untuk langsung pulang." Ucap Bu Vani
"Iya, Bu, Pak." Sahut Raisa
"Ingat oleh-olehnya, Kak Raisa." Kata Raihan
Raisa mengangguk...
Syuuuhh...
Shaa~
Gerbang portal teleportasi antar dimensi pun mulai terbuka.
"Raisa, pamit ya, Bu, Pak, Ehan. Aku pergi dulu..." Pamit Raisa
Raisa pun mulai memasuki lingkaran hitam misterius itu. Keberadaannya pun menghilang seiringan lingkaran hitam misterius itu kembali tertutup~
.
__ADS_1
•
Bersambung...