
Di hadapan seluruh keluarga, Raisa hendak melepaskan gandengan tangannya dengan Rumi. Namun, suaminya itu menahan tangannya agar tidak lepas dari lengan sang suami. Raisa pun hanya bisa diam dan menuruti sang suami.
"Karena semua sudah siap, bagaimana kalau kita ke luar sekarang?" tanya Logan yang memberi saran langsung.
"Memangnya jam segini tamu sudah ada yang datang?" tanya balik Raisa
"Para tamu sudah terus berdatangan dari satu jam yang lalu. Mungkin semua tamu sudah datang karena kita hanya mengundang teman dan kerabat dekat saja," jelas Logan
Saat ini waktu telah menunjukkan jam 9 lewat 15 menit. Namun, rasa gugup telah menyerang Raisa hingga wanita itu merasa tidak siap.
"Ayah, apa hari ini aku dan Rumi juga harus melakukan presesi inti pernikahan? Bukankah sebenarnya kami sudah menjadi suami istri? Tidak bisakah kami hanya mengadakan pesta perayaan saja?" tanya Raisa
"Prosesi inti pernikahan tetap harus dilakukan. Orang yang akan mengesahkan pernikahan kedua kalian berdua pun sudah siap dan menunggu di luar. Kami ingin kalian berdua juga punya akta nikah sini yang menyatakan bahwa kalian berdua adalah sepasang suami istri yang sah," jawab Tuan Rommy
"Benar juga. Kami berdua hanya punya akta nikah dunia sana. Tapi, rasanya aku gugup sekali hingga takut berbuat kesalahan dan mengacaukan acara hari ini," ucap Raisa
"Kenapa kau harus merasa gugup, Raisa? Bukankah kau sudah pernah melangsungkan acara pernikahan di duniamu sana?" tanyaTuan Johan
"Memang, tapi pernikahan kedua kali ini jelas berbeda dengan saat itu. Saat itu, meski aku juga merasa gugup, tapi aku sudah familiar dengan seluruh prosesinya karena sering melihat pernikahan pasangan lain. Sedangkan aku baru kali ini melangsungkan pernikahan di sini dan tidak terbiasa serta tidak pernah melihat prosesi lengkap pernikahan di sini. Bahkan saat pernikahan Aqila dan Morgan saja aku baru datang saat pesta berlangsung," jelas Raisa
"Ternyata, Raisa bisa merasa gugup juga," kata Tuan Garry
"Jangan melarang kami berdua untuk merasa gugup. Ini adalah hal yang manusiawi," ucap Rumi
"Kau juga merasa gugup, rupanya ... " kata Nona Rina
"Kau tidak perlu merasa gugup, Raisa. Bukankah Rumi sudah menjelaskan tentang prosesi petnikahan di sini secara lengkap padamu? Kau hanya perlu mengikuti arahan dengan tenang. Kau juga, Rumi. Bimbinglah istrimu dengan baik," ujar Tuan Rommy
"Baik, Ayah ... " patuh Rumi dan Raisa secara bersamaan.
"Kalau begitu, mari, semuanya bersiap. Kita akan ke luar secara beruntun," ujar Tuan Rommy
"Mulai dari keluarga, kerabat, lalu pasangan pengantin yang akan terakhir ke luar," sambung Tuan Rommy menjelaskan urutan untuk muncul di depan para tamu.
Karena yang menyediakan tempat acara adalah keluarga Tuan Rommy. Maka merekalah yang berjalan ke luar lebih dulu.
Tuan Rommy muncul lebih dulu di hadapan para tamu ditemani oleh anak sekaligus putra pertamanya, Logan. Keduanya naik ke atas pelaminan untuk mendampingi dan melihat secara langsung pasangan pengantin yang akan melakukan prosesi pernikahan.
Lalu, disusul oleh Nona Rina, Tuan Garry, dan Tuan Johan sebagai kerabat. Dan yang terakhir adalah rombongan keluarga besan. Yaitu, Bu Vani, Pak Hilman, Raihan, Raina, Arka, dan Farah.
Dan merupakan yang paling ditunggu-tunggu, pasangan pengantin pun muncul dan naik ke atas pelaminan. Keduanya terus nengembangkan senyum indah pada wajah masing-masing.
Para tamu yang hadir pun ramai bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan lemnut menyambut kedatangan pasangan pengantin yang berbahagia itu.
Seorang pria paruh baya yang akan jadi pengesah resminya pernikahan kali ini pun melangkah maju mendekat ke arah pasangan pengantin, Raisa dan Rumi.
Prosesi inti pernikahan pun dilakukan untuk yang kedua kalinya dengan cara yang berbeda. Janji suci pun telah terucap dengan para tamu dan keluarga serta kerabat yang menjadi saksi.
"Sekarang, silakan bagi pengantin pria untuk mencium pengantin wanita sebagai tanda bukti dari cinta kasih yang telah terjalin."
Di hadapan para saksi dan tamu, Raisa dan Rumi pun saling berhadapan satu sama lain. Melepaskan gandengan tangan dan beralih untuk saling bergenggaman tangan, keduanya pun saling menatap penuh cinta.
Raisa bertambah gugup saja. Ia merasa malu jika harus berciuman di depan umum. Padahal dulu dirinyalah yang paling beraturan ketat agar tidak sampai bermesraan alias berciuman di depan umum, tapi kali ini itu pun menjadi proses yang harus dilakukan, Rumi sudah menjelaskannya hingga adanya tahap ini dalam prosesi pernikahan, tetap saja rasanya tidak bisa dan tidak biasa karena merasa malu.
Raisa semakin merasa gugup dan malu saat Rumi mulai mendekatkan wajah ke arah wajahnya. Lantas, wanita itu pun langsung memejamkan kedua matanya. Namun, Raisa malah tersentak pelan saat merasakan yang dicium oleh Rumi adalah keningnya bukan bibirnya.
Usai mendapatkan ciuman sebagai tanda cinta kasih dari sang suami, Raisa pun membuka kembali kedua matanya. Dilihatnya, Rumi tersenyum ke arahnya dan Raisa langsung membalas senyuman tulus suaminya itu saat mendengar kata-kata manis dari pria yang dicintainya itu.
"Aku tidak akan membuatmu merasa malu di depan orang banyak seperti ini. Karena meski ini adalah proses penting yang harus dilakukan, ini hanyalah formalitas saja," ucap Rumi yang bermaksud membahas soal ciuman barusan.
"Terima kasih karena sudah mau menerima cinta dan bersedia hidup bersama manusia sepertiku, Raisa, Istri yang Kucinta," sambung Rumi
"Terima kasih karena sudah mau mencintaiku dengan perasaanmu yang luar biasa dan bersedia menemani di sepanjang hidup manusia sepertiku ini, Rumi, Suamiku Tercinta," balas Raisa
Keduanya pun salung mendekat dan merengkuh satu sama lain dengan mesranya sambil tersenyum bahagia.
"Kau adalah yang terindah dan paling berharga bagiku," ungkap Raisa dan Rumi secara bersamaan seolah hati dan pikiran keduanya pun telah bersatu dan saling mengerti satu sama lain.
Semuanya pun bertepuk tangan dengan meriah.
"Sekarang saatnya melempar rangkaian bunga ke arah para tamu yang datang," bisik Nona Rina dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Ada yang seperti ini juga? Bagaimana kita melakukannya?" tanya Raisa
"Ini hanya sebagai pelengkap. Kita hanya akan melempar bunga ke arah para tamu dari atas pelaminan. Itu saja," jawab Rumi
"Cara ini dikatakan untuk menebar dan memberi berkah pada tamu yang terpilih yang mendapat rangkaian bunga agar hidupnya sejahtera atau yang belum memiliki pasangan akan diberkahi pasangan dan segera menikah. Atau sekadar untuk kesengangan pada acara pernikahan yang sedang berlangsung saja," sambung Rumi
"Tidak perlu berbalik saat melempar bunganya?" tanya Raisa lagi.
"Tidak perlu. Apa di duniamu juga ada pelengkap acara pernikahan yang melempar bunga seperti ini?" tanya Rumi usai menjawab pertanyaan dari sang istri.
"Ada. Hanya saja biasanya pasangan pengantin akan berbalik membelakangi para tamu saat pelemparan bunga," jawab Raisa
Raisa dan Rumi mulai bersiap dengan sama-sama memegang rangkaian bunga yang awalnya hanya dibawa oleh Raisa untuk dilemparkan ke arah para tamu undangan yang datang.
"Kenapa saat pernikahan pertama kita tidak melakukan pelemparan bunga?" tanya Rumi
"Kupikir tidak perlu menambahkan pelengkap dengan melempar bunga saat acara pernikahan karena kupikir akan terasa asing bagimu, tapi ternyata di sini pun ada cara seperti ini," jawab Raisa
"Tidak apa. Toh, meski tidak bisa melalukan pelemparan bunga saat acara pernikahan pertama, kita bisa melakukannya sekarang," ujar Rumi
"Kau benar," kata Raisa
Hitungan mundur pun dimulai.
"Apa kau bisa menebak siapa yang akan mendapat rangkaian bunga ini?" tanya Rumi
"Aku punya firasat yang akan mendapat rangkaian bunga ini adalah pasangan Sanari dan Amon atau Monica dan Ian. Atau bahkan mungkin keduanya. Tapi, entahlah ... benar atau tidak," jawab Raisa mengungkapkan tebakannya pada sang suami.
3 ... 2 ... 1!
Syuuuhh~
Rangkaian bunga pun melayang setelah dilempar oleh pasangan pengantin, Raisa dan Rumi.
Yang menangkap rangkaian bunga tersebut dan yang tak diduga-duga adalah Sanari dan Monica. Hampir sama dengan dugaan Raisa.
"Ternyata, kau benar, Sayang ... yang dapat rangkaian bunganya adalah Sanari dan Monica," kata Rumi
Semua pun kembali bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan meriah.
Setelah itu, tibalah saatnya pasangan pengantin saling memberi hormat pada orangtua satu sama lain. Keduanya membungkuk hormat di hadapan orangtua, lalu secara bergantian bersujud di bawah kaki orangtua masing-masing.
Hingga di sini, yang dilakukan oleh Raisa dan Rumi sama dengan yang dilakukan keduanya saat acara pernikahan pertama.
Saat itu, orangtua memberikan petuah berupa nasehat yang diperlukan untuk pasangan suami istri yang baru membina rumah tangga.
Saat hendak bersujud di bawah kaki Logan yang dihitung sebagai orangtua dari Rumi, Logan mencegah Rumi untuk bersujud dan beralih memeluk tubuh adik lelakinya itu, lalu mengusap lembut kepala Rumi sambil mengucap nasehat singkat tentang hubungan dengan orang yang dicintai. Dengan Raisa pun begitu, namun berbanding terbalik. Logan mencegah Raisa bersujud padanya dan beralih mengusap lembut kepala adik iparnya itu, lalu memeluk tubuh Raisa sambil mengucapkan harapannya untuk kehidupan rumah tangga pasangan adik dan adik iparnya.
"Kuharap kalian akan selalu setia dan hubungan kalian terus terjalin hingga akhir hayat," ucap Logan seraya berbisik di telinga Raisa saat memeluk tubuh adik iparnya itu.
"Sudah, pelukannya sebentar saja. Bisa-bisa suamimu cemburu dan mengamuk pada kakaknya ini," sambung Logan yang lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Raisa.
"Selalu doakan yang terbaik untuk kami berdua, ya, Kak," harap Raisa sambil tersenyum.
"Tentu saja," kata Logan
Setelah itu, barulah para tamu satu per satu maju dan naik ke atas pelaminan untuk memberi selamat pada rombongan pengantin yang berbahagia, Raisa dan Rumi serta keluarga kerabatnya.
Yang pertama kali memberi selamat adalah pasangan Aqila dan Morgan serta keluarga, Bibi Sierra, Paman Elvano, Tuan Nathan, dan Nyonya Hani. Adik Morgan, Monica tidak ikut dalam barisan karena gadis itu akan memberikan selamat bersama kekasihnya, Ian, nanti.
"Sekali lagi selamat, ya, Rumi, Raisa," ucap Morgan
"Raisa, ternyata kau cocok juga memakai pakaian adat kami. Terlihat cantik bahkan tanpa riasan," ujar Aqila memberikan pujian untuk pengantin wanita.
"Aku pakai riasan kok, tapi hanya dibuat tipis oleh Bibi Rina. Terima kasih sudah mau hadir lagi di acara kami," ucap Raisa
"Itu tidak terlihat. Pakai atau tidak pakai riasan kau selalu terlihat cantik," kata Raisa
"Tentu saja. Dia istriku. Terima kasih sudah mau datang," ucap Rumi
"Kalian mengadakan acara lagi di sini untuk menghormati dan mengundang kami. Tentu saja, kami harus datang," kata Bibi Sierra
__ADS_1
"Kau cantik sekali, Raisa. Semoga pernikahan kalian berdua selalu harmonis. Maaf, kami baru bisa datang di acara kali ini," ujar Nyonya Hani
"Tidak apa, Bibi. Kami mengerti kalau Bibi tidak mungkin pergi meninggalkan desa saat Paman Nathan sibuk bekerja," kata Raisa
"Aqila dan Raisa, tentu saja sama-sama cantik. Karena keduanya adalah putriku," ucap Paman Elvano
"Kau mau pamer jika kau telah menganggap Raisa sebagai anakmu sendiri, ya, Elvano. Raisa adalah anak yang baik, tentu saja kau mau mengangkatnya sebagai anakmu juga. Aku pun sama. Kalau saja aku tidak sibuk saat persiapan pernikahan Rumi dan Raisa, pasti aku yang pergi untuk membantu dan mengangkat Raisa sebagai anakku," ucap Tuan Nathan
"Kau mau pergi, lalu siapa yang akan membuka portal sihir teleportasinya untukmu? Kan, kau tidak punya kemampuan itu?" tanya Paman Elvano
"Aku hanya tinggal meminta bantuan menantuku dan memintanya ikut denganku," jawab Tuan Nathan
"Menantumu adalah anakku. Aku tidak akan membiarkannya," kata Paman Elvano
"Jangan bertengkar lagi. Semua yang ada di sini adalah keluargaku. Semuanya sama dan tidak dibeda-bedakan," ucap Raisa
"Kalian berdua ini tidak punya malu, ya? Malah bertengkar di acara orang lain? Sudah tua juga," tegur Bibi Sierra
"Maaf, ya, Rumi, Raisa ... " ujar Nyonya Hani
"Tidak apa, Bibi," kata Rumi
Raisa pun mulai memperkenalkan Tuan Nathan dan Nyonya Hani pada keluarganya yang baru pertama kali bertemu dengan mereka berdua di sini.
"Elvano, sekali lagi kuucapkan terima kasih karena kau sudah mau mewakiliku menemani Rumi untuk mempersiapkan acara pernikahan pertama putra dan menantuku di dunia sana. Nathan, terima kasih juga karena sudah memberi izin untuk kami mengadakan acara pernikahan di sini," ucap Tuan Rommy
Karena Tuan Rommy adalah tahanan rumahan seumur hidup. Tanah kediamannya oun disita dan telah menjadi sebagian dari milik Desa Daun dan merupakan wilayah yang dijaga ketat. Karen itulah Tuan Rommy harus meminta izin lebih dulu untuk mengadakan acara di sana dan telah disetujui oleh Tuan Nathan yang masih menjabat sebagai Pemimpin Desa Daun.
"Sama-sama," balas Paman Elvano
"Tidak perlu sungkan. Seperti kata Raisa tadi, kita semua adalah keluarga," kata Tuan Nathan
"Oh, ya ... aku hampir lupa menyampaikan ini. Kevin titip ucapan selamat untuk kalian berdua, Rumi, Raisa. Dia minta maaf karena tidak bisa hadir karena harus mempersiapkan diri menjadi kandidat calon Pemimpin Desa Daun berikutnya. Sebentar lagi aku pun akan pensiun," sambung Tuan Nathan
"Guru Kevin, pasti sangat sibuk sekarang," kata Raisa
"Ya. Akhirnya setelah ini ada yang menggantikan kesibukanku dan aku akan lebih santai," ujar Tuan Nathan
Setelah mereka turun, kini giliran Monica dan Ian yang naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat bersama kedua orangtua Ian. Bibi Irene dan Paman Aiden.
"Selamat untuk kalian berdua, Rumi, Raisa," ucap Paman Aiden
"Semoga hubungan yang terjalin antara kalian berdua menjadi kehidupan rumah tangga yan utuh selamanya," ucap Bibi Irene
"Terima kasih," ucap Rumi
"Terima kasih banyak," ucap Raisa
"Oh, ya, Bibi Irene ... apa boleh aku meminta saran dan tips membuka toko bunga milikmu? Di duniaku, aku punya toko bunga yang baru berjalan," sambung Raisa
"Sulit jika dijelaskan di sini. Kapan-kapan datanglah ke toko bungaku dan akan kuberi tahu tips dan sarannya," kata Bibi Irene
"Baiklah, kalau begitu ... " ujar Raisa
"Monica, kau ikut barisan bersama pacarmu, ya? Jadi, kapan kalian berdua mau menyusul? Bukankah tadi Monica sudah mendapatkan rangkaian bunganya?" tanya Raisa menambahkan.
"Ya. Cepatlah menyusul kami dan menikahlah," sahut Rumi
"Nanti, deh, Kak. Pernikahan Kak Morgan saja belum genap setahun," kata Monica
"Kalau aku, terserah maunya Monica dan ikut saja kapan dia siap," ujar Ian
"Sekali lagi selamat, ya, Rumi // Kak Rumi, Raisa // Kak Raisa," ucap Ian dan Monica secara bersamaan.
"Terima kasih," ucap Rumi dan Raisa secara bersamaan.
Setelah itu, satu per satu lainnya pun naik dan memberikan ucapan selamat pada Raisa dan Rumi. Dan pada acara pernikahan kedua kali ini, Raisa akan memperkenalkan tamu yang baru dilihat oleh keluarganya untuk pertama kalinya di sini.
.
•
__ADS_1
Bersambung.