
Raisa terus gelisah jika bersama Rumi... Ia takut perasaannya akan goyah lagi. Terus seperti itu.
Raisa pun berhenti melangkah setelah lama berkeliling dan belum memutuskan wahana selanjutnya yang akan dimainkan.
"Kalian mau bermain wahana apa? Pilih atau tunjuklah... Aku kan di sini untuk menemani liburan kalian." Ujar Raisa
"Kau kan ada untuk memandu kami. Pilihkanlah untuk kami. Kami tidak terbiasa dengan semua ini." Ucap Sandra
"Masalahnya aku sudah sangat lama tidak ke sini. Jadi, aku juga tidak tau wahana apa yang mengasikkan. Aku hanya ingat pernah menaiki satu wahana, itu pun wahana yang terbilang biasa saja." Kata Raisa
"Raisa, tempat ini kan berada di duniamu. Tapi, kenapa kau jarang ke sini?" Tanya Dennis
"Entahlah. Mungkin karena keluargaku punya kesibukan masing-masing, aku pun pernah sakit, jadi memang jarang punya waktu untuk berlibur. Kami memang tidak selalu tidak liburan. Tapi, tidak sampai pergi ke tempat yang jauh, hanya pergi berlibur ke tempat di dalam kota kawasan rumah, sedangkan tempat ini ada di luar kota rumahku." Jawab Raisa
"Baiklah. Jadi, kalian mau menaiki wahana yang santai atau yang memicu adrenalin?" Lanjut Raisa bertanya.
"Terserah kau saja, Raisa. Kami mengikutimu saja." Jawab Marcel
"Aku takut di antara kalian akan ada yang bilang begitu. Ternyata terjadi juga. Baiklah, aku yang akan memilih. Jadi, bersiaplah kalian dengan wahana apa yang akan kita mainkan!" Ucap Raisa
Raisa pun membawa mereka yang ikut dengannya ke wahana berikutnya...
"Ini yang akan kita naiki! Wahana ini sedikit menegangkan tapi masih terbilang santai... Sanari, kau mempunyai riwayat serangan panik. Sedangkan, Amy, kau punya rasa takut. Kalau, Marcel, punya serangan gugup, tapi, sebenarnya kau menyukai hal yang memicu adrenalin. Semoga pilihanku tepat memilih wahana ini." Ungkap Raisa
Wahana di hadapan mereka adalah yang di sebut Ontang-Anting. Mereka pun bersiap menaiki wahana tersebut!
Setelah selesai menaiki wahana Ontang-Anting, Raisa lanjut membawa yang lain ke wahana berikutnya...
Dan kali ini, Kora-Kora adalah wahana yang akan mereka naiki.
...
"Wahana yang akan kita mainkan selanjutnya akan lebih menantang. Memicu adrenalin! Wahana itu di hadapan kita. Bagi semuanya, terutama Sanari dan Amy, cobalah perhatikan sebentar selama beberapa menit. Kalian akan ikut menaikinya atau tidak? Arau mau ganti wahana lain?" Ujar Raisa
Wahana itu adalah Halilintar! Atau yang lebih sering disebut Roll coaster~
"Ini mengerikan! Melihatnya dan mendengar mereka menjerit saja, aku sudah hampir menangis... Aku tidak ikut!" Kata Amy
"Sepertinya aku menemani Amy saja menunggu kalian di sini. Kalian naik saja." Tutur Sanari
"Yang lain, mau tetap naik? Atau kita lanjut ganti wahana lain?" Tanya Raisa
"Naik!" Jawab Sandra
"Aku ikut denganmu saja, Raisa." Ujar Rumi
"Sepertinya mengasikkan..." Kata Marcel
"Aku ikut Marcel saja." Kata Dennis
"Baik. Maaf, kalian harus menunggu, Sanari, Amy. Kalian duduk saja dulu. Di sana ada bangku yang tersedia. Kalian bisa menunggu di sana..." Ucap Raisa menunjuk sebuah kursi panjang tepat beberapa langkah dari sana.
Raisa, Sandra, Rumi, Dennis, Narcel pun menaiki wahana yang menantang di hadapannya itu.
Sanari dan Amy pun memilih menunggu yang lain mebaiki wahana tersebut sambil duduk santai di salah satu bangku di sana. Sanari terus menenangkan Amy yang bergetar ketakutan walau hanya melihat wahana itu berjalan dari kejauhan...
Setelah Halilintar, Raisa mengajak yang lain bermain Histeria, yang tak kalah menegangkannya.
Melihat wahana yang akan dinaikinya, Amy sudah histeris sambil merengek tidak ingin ikut naik. Sedangkan Dennis sudah menyerah mengatakan tak bisa lagi menaiki wahana yang menguji nyalinya. Akhirnya, Sanari, Amy, dan Dennis pun memisahkan diri dari Raisa, Sandra, Rumi, dan Marcel.
Usai menaiki Histeria, Raisa akhirnya mengajak wahana yang lebih santai.
"Padahal setelah ini, aku ingin mengajak bermain wahana yang santai. Harusnya mereka tadi menunggu kita saja. Sekarang hanya tinggal sedikit anggota, kurang menyenangkan." Ucap Raisa
"Kau ingin bermain wahana yang santai? Kalau begitu, kita berpisah saja. Aku masih ingin menaiki wahana penguji nyali. Itu mengasikkan!" Ujar Marcel
"Aku ikut denganmu, Marcel!" Kata Sandra
__ADS_1
Marcel dan Sandra yang sudah sangat antusias pun langsung berlari meninggalkan Raisa dan Rumi berdua.
Raisa langsung terdiam kebingungan. Ia merasa canggung hanya berdua dengan Rumi.
"Kenapa mereka berdua berlari meninggalkan kita begitu saja? Padahal kan kita bisa memilih wahana bersama-sama. Kalau tidak suka wahana pilihanku kan tinggal bilang saja, kita bisa memilih wahana lain." Dumel Raisa
Raisa merasa sedikit kesal. Pasalnya, dirinya hanya tinggal berdua dengan Rumi. Itu membuatnya menjadi serba salah. Rasanya sangat canggung, tak tau harus berbuat apa.
"Tidak apa, masih ada aku. Aku akan menemanimu bermain bersama, berdua. Berdua masih tetap menyenangkan, asalkan kau tidak sendiri. Jadi, kau ingin bermain wahana apa?" Ujar Rumi
...'Kau tidak tau, itulah masalahnya! Jika hanya berdua denganmu, aku merasa kikuk. Canggung sekali!' Batin Raisa...
"Aku ingin mengajak yang lain bermain itu! Tapi, kita tinggal berdua. Sepertinya tidak begitu seru, kita pilih wahana lain saja. Siapa tau kita bertemu yang lain lagi untuk meramaikan." Tutur Raisa seraya menunjuk wahana di depannya.
Raisa sudah bersiap untuk beranjak dari tempat itu. Namun, Rumi menahan langkahnya dengan menggenggam tangannya.
"Ada apa, Rumi? Apa kau ingin kita berpisah juga, memilih wahana sendiri-sendiri? Baiklah, tidak apa." Kata Raisa
"Tidak. Kau bilang, ingin menaiki wahana di depan itu? Ayo, kita naik saja. Kau sudah jarang ke sini. Jadi, bermainlah sesukamu. Aku akan menemanimu." Ucap Rumi
"Apa?" Heran Raisa
"Sudah... Ayo!" Kata Rumi
Rumi langsung menarik tangan Raisa untuk mengikutinya.
Raisa terbengong melihat Rumi yang begitu antusias demi dirinya. Bukan apa... Masalahnya wahana di depan itu adalah wahana Bianglala, atau yang sering disebut dengan Kincir Ria!
Jika, menaiki wahana itu berdua dengan Rumi... Itu akan terlihat seperti... Err-
Seperti sepasang kekasih!
Walaupun itu hanya anggapan orang saja atau bahkan hanya prasangka Raisa saja, tetap saja itu akan terasa sangat canggung bila hanya dengan Rumi.
Namun, akhirnya Raisa tak bisa menolak dan hanya menurut saja saat Rumi menarik dirinya untuk menaiki wahana tersebut.
Suasana canggung itu terus berlangsung. Raisa sibuk memerhatikan pemandangan ke luar gerbong dan Rumi malah asik memandangi gadis yang duduk berseberangan dengannya...
Tak suka dengan suasana yang tidak menyenangkan dan merasa risih terus dipandangi secara intens oleh lelaki di depannya, Raisa pun angkat bicara.
"Kenapa kau diam saja, Rumi? Apa tidak asik menaiki wahana ini? Lihatlah, ke luar sana... Terlihat indah pemandangan dari sini, bukan? Apalagi, jika kita tiba di puncak atas sana. Pemandangan kota terlihat begitu memukau dari ketinggan." Ucap Raisa agar Rumi tak lagi memandangi dirinya dan berdiam diri saja.
"Apa yang kulakukan bersamamu akan selalu terasa mengasikkan." Sahut Rumi
Mendengar respon Rumi, Raisa malah merasa heran... Sebenarnya, kenapa Rumi selalu menyahuti ucapannya dengan ucapan yang membuatnya salah tingkah?
Mendengar itu, membuatnya disibukkan untuk menenangkan diri dan detak jantungnya.
"Sebenarnya, aku tidak tau seperti apa kalian jika berlibur di dunia kalian. Karena yang kulihat dalam mimpi, kalian hanya sering sibuk berlatih untuk pengembangan diri. Aku tidak tau, pilihanku yang mengajak kalian ke sini sudah tepat atau tidak... Apa kalian merasa senang atau sebaliknya? Apa kalian menikmati liburan ini atau tidak? Aku takut, aku kurang membuat kalian menikmati liburan kalian di sini..." Ungkap Raisa
"Kurasa itu hanya keraguanmu saja. Kulihat, semuanya begitu menikmati. Mereka juga sangat antusias memilih wahana masing-masing. Janganlah menghiraukan hal yang tidak pasti." Ucap Rumi
"Apa hal yang seperti ini juga ada di dunia kalian? Apa kau pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya di duniamu?" Tanya Raisa
"Tidak, ini kali pertama." Jawab Rumi
"Benar juga. Kau hanya sering berlatih dan menemani Morgan saja." Kata Raisa
"Beritau aku... Apa mengunjungi tempat ini terasa menyenangkan bagimu? Katakan dengan jujur!" Tanya Raisa lagi.
"Aku menikmatinya! Kan sudah kubilang, apapun jika bersamamu akan terasa menyenangkan. Aku benar-benar merasakannya, jujur!" Ungkap Rumi
...'Sudahlah... Bicara denganmu akan tetap percuma. Kau hanya mengatakan apa yang mau kau katakan saja!' Batin Raisa...
Suasana dalam gerbong pun kembali sepi... Baik, Raisa atau Rumi, sama-sama larut dalam keheningan. Sampai akhirnya...
"Raisa...?" Panggil Rumi
__ADS_1
"Ya, ada apa?" Sahut Raisa
Tangan Rumi terulur untuk meraih dan menggenggam tangan Raisa. Raisa pun terperanjat. Namun, ia tak terlalu memperlihatkan keterkejutannya.
"Apapun yang kau lakukan akan terlihat mengagumkan di mataku. Jadi, jangan pernah merasa ragu dengan dirimu sendiri. Sebenarnya, entah mulai sejak kapan aku melihatmh menjadi begitu spesial. Aku baru menyadarinya, kau memanglah begitu sejak pertemuan pertama kita." Jujur Rumi
Mulai dari Rumi yang mengatakan bahwa dirinya spesial, Raisa sudah mulai menahan nafasnya secara spontan. Udara sekeliling di gerbong itu terasa kosong sampai menyesakkan. Raisa tak siap dengan apa yang akan didengarnya dari mulut Rumi selanjutnya. Atau dirinya saja yang kege'eran? Entahlah... Yang jelas saat ini hatinya menjerit! Ingin sekali ia meloloskan jeritan itu ke luar dari bibir dan mulutnya. Namun, jeritan itu tertahan di tenggorokannya... Sampai membuat dirinya menegang!
"Raisa... Sebenarnya, belakangan ini aku merasa ada yang berubah pada diriku atau sesuatu yang baru muncul dalam benakku. Aku merasa... -" Belum selesai ucapan Rumi, ia terpaksa menghentikannya saat sesuatu mengalihkannya.
Tiba-tiba, ada yang membuka pintu gerbong dari luar. Waktu bermain wahana tersebut sudah habis!
Rasa pun buru-buru mengalihkan pandangannya yang awalnya menatap Rumi.
"Ah, waktunya turun. Ayo!" Seru Rasa dengan senangnya.
Raisa sontak langsung bangkit, beralih ke luar dari gerbong. Raisa pun langsung turun diikuti Rumi setelahnya.
Raisa merasa beruntung! Waktu bermain habis dengan tepat sekali!
Jika saja, dirinya masih berada di dalam gerbong bersama Rumi yang membicarakan sesuatu dengannya, mungkin dirinya akan benar-benar menunjukkan gelagat salah tingkahnya. Apalagi, sepertinya Rumi akan mengatakan sesuatu yang akan mengejutkannya.
Setelah Raisa dan Rumi selesai dengan wahana Bianglala, Sanari dan Amy, terlihat datang menghampiri mereka.
"Rumi, Raisa, kalian habis menaiki wahana ini?" Tanya Sanari
"Iya. Kami menaiki wahana yang lebih santai setelah bermain wahana yang menegangkan..." Jawab Raisa
"Sayang sekali, kalian datang terlambat. Padahal bisa saja, kita menaiki wahana ini bersama tadi." Lanjut Raisa
...'Kalau saja, kalian datang lebih cepat... Mungkin tadi, aku tidak terlalu merasa canggung karena hanya bersama Rumi.' Batin Raisa...
"Yasudah, kami mau bermain wahana ini dulu." Kata Amy
Sanari dan Amy pun menaiki wahana Bianglala di depan mereka.
...
Setelah asik bermain, akhirnya semuanya berkumpul di tempat semula. Semua lengkap! Mereka pun memilih beristirahat.
Setelah lelah bermain banyak wahana, Raisa mengajak semuanya bersantai mengunjungi pantai.
Hari sudah menjelang sore... Matahari bersinar tidak terlalu terik tidak juga redup. Beberapa orang bersantai duduk di atas tikar yang digelar di atas pasir pantai dan ada juga yang bermain air di pesisiran pantai.
Semua melepas lelah setelah merasa ketegangan saat bermain wahana sebelumnya. Semua wajah memancarkan senyum masing-masing. Lega nampak jelas pada ekspresi wajah mereka...
.
•
Bersambung...
¤:[Kutipan Author]
"Maaf kalau kurang panjang alias pendek."
PENGUMUMAN>>
Author berencana untuk HIATUS! Alasannya karena HP Author yang dipakai untuk update cerita novel sedang dipinjam Ayah untuk bekerja (Driver Ojol). Karena HP Ibu dipakai untuk daring online sekolah adik saya, maka terpaksa memakai HP Author. Dikarenakan HP Ayah sedang sakit. Doakan agar biaya operasi HP Ayah saya dapat cepat terkumpul, supaya HP Author segera kembali.
Tidak dapat ditentukan sampai kapan Author akan HIATUS... Tapi, Author usahakan untuk cepat kembali...
Mohon pengertiannya, para pembaca sekalian...
Sampai bertemu di lain waktu ~
__ADS_1