
Setelah janji temu kumpul bersama Maura dan Nilam, Raisa pun kembali pulang ke rumah...
Saat berada dalam perjalanan di dalam sebuah taksi, Raisa ingat harus membeli sesuatu yang sudah dipesan di toko kue. Raisa pun mengganti tempat pemberhentiannya dan langsung memberi tahu pada supir taksi tersebut.
Di suatu tempat di Desa Daun...
Di Desa Daun, Bibi Irene sebagai pemilik sihir sensor penjagaan mengetahui bahwa desa dimasuki seseorang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Setelah mengamati gerak-gerik penyusup itu melalui sihir sensornya ternyata bergerak menyerang desa dan memporak-porandakan tempat yang ia datangi. Mengetahui adanya ancaman, Bibi Irene langsung menghubungi Peimpin Desa untuk memberitahukan ancaman adanya penyusup tersebut melalui sihir transmisi suara atau telepati.
Saat mengetahui informasi dari Bibi Irene, Paman Nathan selaku Pemimpin Desa langsung meminta pasukan penjaga desa untuk datang ke lokasi penyusup tersebut untuk mengamankan situasi di sana. Saat menerima informasi penting ini, Aqila, Morgan dan Rumi kebetulan sedang melintas di dekat sana karena memang ingin mengunjungi kantor Pemimpin Desa untuk suatu keperluan. Namun, karerna tidak sengaja mencuri dengar informasi penting itu, mereka bertiga langsung mengganti tujuan mereka dan beralih pergi ke lokasi yang diketahui didatangi oleh penyusup karena sifat ceroboh dan ikut campur dari Morgan. Morgan lah yang langsung memutuskan untuk pergi ke lokasi yang berbahaya itu, tentu saja Aqila dan Rumi langsung mengikutinya.
"Haruskah kita ke sana? Di sana mungkin berbahaya. Seharusnya kita cari tahu dulu informasi tentang kondisi di sana sebanyak mungkin. Bagaimana kalau kita datang san tak bisa berbuat apa-apa karena terlalu berbahaya?" Ujar Aqila bertanya.
"Justru karena berbahaya, kita harus ke sana untuk membantu. Apa pun itu, walau hanya bisa membantu mengevakuasi warga." Ucap Morgan
"Bagaimana menurutmu, Rumi?" Tanya Aqila
"Kurasa, setidaknya kita bisa melihat-lihat dulu. Jika ada yang bisa kita bantu, kita bergerak maju. Kalau memang terlalu berbahaya, kita bisa mundur untuk mencari bantuan." Jawab Rumi
"Baiklah, kita ke sana. Ini bukanlah rencanaku. Jika sesuatu terjadi, itu salahmu, Morgan! Karena kaulah yang pertama memutuskan untuk bergegas ke sana." Ucap Aqila
Aqila memang berkata seperti itu karena merasa kesal pada Morgan walau tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikuti kedua rekan timnya. Tapi, sebagai ketua tim... Mau bagaimana pun dan apa pun yang terjadi, tetaplah ia yang bertanggung jawab. Ia tahu itu, dan hanya bisa pasrah.
Sesampainya di lokasi penyerangan penyusup, ternyata di sana sudah ada pasukan bantuan dari pihak Bibi Irene. Saat Aqila, Morgan dan Rumi sampai di sana, pasukan penjaga desa yang diperintahkan Paman Nathan juga baru datang. Dan ternyata saat banyak pasukan desa yang datang menghalangi tujuannya, penyusup tersebut telah memanggil bala bantuannya terlebih dahulu. Di sana pun terjadi bentrokan antara pasukan penyusup yang merupakan lawan dengan pasukan penjaga desa.
"Hei, kenapa kalian datang ke sini? Ini bukanlah sembarang misi untuk tim seperti kalian! Cepat, pergi dan tinggalkan tempat ini!" Tegur salah satu anggota pasukan penjaga desa.
"Karena sudah ketahuan... Ayo, kita maju saja!" Kata Morgan yang langsung bergerak maju tanpa persiapan dan aba-aba.
"Hei, Morgan! Tunggu! Haish... Dasar, si tukang rusuh ini!" Kesal Aqila yang mau tak mau ikut menyerang bersama Morgan.
Aqila dan Rumi pun ikut maju membantu Morgan dalam melakukan serangan pada lawan. Morgan yang sangat antusias dalam menyerang terus maju melewati bala bantuan musuh dengan lihainya. Dengan gesitnya, Morgan mampu melangkah terus melewati pasukan musuh dan melihat langsung orang yang memimpin pasukan musuh tersebut.
"Biar kulihat, siapa orang yang memimpin penyerangan ini?! Dia!?! Gawat! Ini bahaya besar!!" Gumam Morgan
Setelah Morgan melihat sendiri lawannya, ia malah memilih untuk kembali mundur. Namun, karena Morgan sudah berada di depan, pasukan lawan lebih dulu menyerangnya dan menggagalkan niatnya untuk mundur. Mau tak mau, Morgan harus mengalahkan pasukan yang menyerangnya lebih dulu.
"Oh, dia ada di sini! Kalau bocah lelaki beramput pirang itu ada di sini, berarti temannya pun juga ada... Di mana dia?! Ah, itu! Aku mendapatkanmu!"
"Si\*l! Dia melihatku!" Panik Morgan
Setelah berhasil mengalahkan pasukan lawan yang menyerangnya, Morgan malah menyadari pemimpin pasukan tersenut sudah melihatnya. Morgan pun buru-buru kembali bergerak mundur.
"Aqila, kita harus cepat pergi dari sini! Di mana, Rumi?" Ujar Morgan
"Itu... Rumi!" Teriak Aqila
Morgan pun melihat ke arah mata Aqila tertuju... Dilihatnya, di sana Rumi sudah tak berdaya kehabisan tenaga dicekik oleh tangan pemimpin pasukan penyusup yang menyerang itu.
"Sudah kuduga, kalau bocah tengil itu ada, temannya juga pasti ada! Aku sudah mendapatkannya!"
"Tidak!! RUMI!!" Teriak Morgan
***Syuuuhh***~
__ADS_1
**BAM**!!
***Sett***...
Paman Nathan, Pemimpin Desa langsung turun tangan sendiri menyerang pemimpin pasukan lawan dan menyelamatkan Rumi dari tangannya. Paman Nathan mengambil alih Rumi dan membawanya ke tempat aman setelah melakukan serangan kilat dadakan. Morgan dan Aqila langsung menghampiri Paman Nathan yang menyelamatkan Rumi.
"Kalian cepat bawa pergi Rumi dari sini!" Titah Paman Nathan
Aqila dan Morgan pun sama-sama mengangguk...
Morgan pun mengambil alih Rumi dan langsung menggendongnya untuk membawanya pergi dari lokasi kekacauan di sana~
Melihat tangkapannya lepas dan dibawa kabur, pemimpin pasukan lawan itu merasa tidak terima dan melakukan serangan besar jarak jauh. Untunglah di sana ada Paman Nathan yang menahan dan menghalangi serangan jarak jauh itu agar tidak sampai mengenai Aqila dan Morgan yang sedang membawa Rumi perhi dari sana.
"Kau menghalangiku! Kau tidak akan aku ampuni!!"
"Ya, lawanmu sekarang adalah aku!" Kata Paman Nathan
Aqila dan Morgan langsung membawa Rumi ke tempat tenaga medis darurat yang disediakan dadakan di dekat lokasi penyerangan.
"Ini adalah target yang harus dilindungi dan selamatkan. Di sini terlalu berbahaya karena masih berdekatan dengan lolsdi penyerangan dan keberadaan musuh. Kalian bawalah dia ke tempat yang lebih aman." Kata petugas medis yang sudah mendapat laporan tugas di sana.
Di sana, tiba-tiba muncullah tim Devan, Ian, dan Chilla...
"Kami diperintahkan untuk membantu menyelamatkan Rumi dan melindungi kalian dari kejaran musuh." Ucap Devan
"Ibuku sudah memberi tahuku dan meminta kami memnawa kalian ke tempat yang aman. Ayo!" Kata Ian
Ian selaku anak Bibi Irene yang mengkoordinasikan langsung kondisi penyerangan dengan Paman Nathan, mendapat tugas penting untuk membantu penyelamatan dan melindungi Rumi. Devan, Ian, dan Chilla pun langsung mengantarkan Aqila dan Morgan yang sedang membawa Rumi untuk diselamatkan.
"Kondisinya parah, dia kehilangan kesadaran!"
"Rumi kau harus selamat!"
Di tempat lain...
Raisa yang sedang membawa bingkisan kue pesanan tiba-tiba saja merasa tidak enak, apa lagi begitu menyadari warna merah dari lambang inti sihir pada telapak tangannya.
"Rumi, sedang terjadi sesuatu padanya!" Panik Raisa
Raisa menjadi panik setelah menyadari sesuatu yang berbahaya sedang terjadi pada Rumi melalui sinyal yang terhubung dari lambang inti sihirnys yang sedang menunjukkan warna merah tersebut. Bingkisan kue yang sedang berada di genggaman tangannya terjatuh begitu saja saat Raisa terburu-buru untuk menyebrang jalan. Maksud Raisa tiba-tiba menyebrang jalan adalah karena ingin mencari tempat aman untuk langsung menggunakan sihir membuka portal teleportasi ke dunia di mana Rumi berada, yaitu Desa Daun. Namun, karena terburu-buru menyebrang tanpa melihat kondisi jalan...
Raisa terus berlari agar bisa cepat tiba di seberang jalan, namun tanpa disadari ada sebuah mobil truk yang sedang melaju ke arahnya. Awalnya Raisa tak menyadari adanya mobil truk tersebut yang hendak melintas dan suara klakson mobil yang memekakkan telinga pun membuatnya sadar. Karena baru menyadari adanya mobil truk yang hendak melintas itu, Raisa tidak sempat membuat langkah penghindaran. Saat mobil truk tersebut sudah sangat dekat dengannya, Raisa baru menggunakan sihirnya. Namun karena sudah sangat terlambat, benturan pun tak terhindarkan! Kecelakaan pun terjadi! Raisa tak bisa mrnghindari mobil truk yang sedang melaju kencang yang mengerem mendadak setelah melihatnya... Raisa pun terpental karena tabrakan dengan mobil truk tersebut~
Karena sudah sempat mengeluarkan sihir walau terlambat dan tidak sempat menghindar, Raisa terpental tidak terlalu jauh jika dibanding dengan kecelakaan yang seharusnya. Namun itu tetap berpengaruh pada kondisi Raisa yang jelas mendapat cukup banyak luka di tubuhnya.
Karena lokasi kejadian tak jauh dari saat Raisa ke luar dari toko kue, orang-orang banyak yang berkerumun melihat kecelakaan yang terjadi dan mendekati Raisa sebagai korban kecelakaan. Saat itu Raisa masih terdapat sedikit kesadaran...
"Ada kecelakaan!"
"Cepat, tolong!"
"Korbannya cewek, masih muda. Kasihan banget!"
"Supir truknya! Cepat diamanin! Ayo, ke luar!"
Dengan banyak darah yang terdapat di tubuhnya, Raisa masih berusaha mengerjapkan kedua matanya.
"Eh, korbannya masih sadar!"
"Cepat, telepon ambulans!"
Begitu banyak suara orang di sekitarnya yang berkeeumun, namun pendengaran Raisa sudah tidak jelas lagi untuk mendengar itu semua...
"Mba, apa masih bisa sadar? Bisa dengar suara saya?"
Raisa terus merasa sakit di kepalanya akibat terbentur dan kesadarannya mulai menghilang secara perlahan...
"Rumi, maafkan aku tidak bisa datang untuk menolongmu..." Gumam Raisa dengan pelan.
Setelah menggumam dengan tidak jelas, mata Raisa pun mulai tertutup rapat.
__ADS_1
"Setelah banyak yang terjadi, pada dasarnya aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak bisa terhindar dari celaka. Di saat seperti ini, maaf... Aku tidak bisa berada di sampingmu, Rumi. Padahal kau berada dalam bahaya dan aku tidak bisa menolongmu." Batin Raisa setelah matanya tertutup.
"Mba-nya pingsan! Mana ambulansnya? Kenapa belum sampai?!"
...
"Ada korban kecelakaan! Cepat, tangani!"
"Maaf, suster. Ini barang milik korban, siapa tahu ada data-data milik korban dan bisa hubungin keluarganya."
"Oh, baik. Terima kasih."
Suster pun mencari data korban dari barang miliknya.
"Namanya Raisa Putri Atmawidjaya. Coba cari sesuatu dan hubungi keluarganya."
"Halo. Siapa ini?"
"Kami dari pihak Rumah Sakit Pelita Kasih, mau mengabarkan terjadinya kecelakaan dengan korban yang bernama Raisa Putri Atmawidjaya. Apa benar ini keluarga korban?"
"Ya ampun, Raisa! B-benar, saya Ibunya. Bagaimana keadaan putri saya?"
"Korban sedang ditangani di ruang IGD. Harap-"
"Rumah Sakit mana tadi?"
"Rumah Sakit Pelita Kasih, Bu."
"Saya akan segera ke sana. Terima kasih!"
Tut!
Panggilan berakhir.
"Bapak! Cepat, Pak! Raisa kecekalaan!" Panik Bu Vani
"Ada apa, Bu? Kok panik sekali?" Tanya Pak Hilman yang datang begitu dipanggil sang istri.
"Raisa ada di Rumah Sakit! Pelita Kasih! Ayo, cepat ke sana!" Jawab Bu Vani dengan cepat.
"Ibu, tenang dulu. Raisa tadi baik-baik aja kan? Coba telepon dulu anaknya, mungkin cuma penipuan?" Ujar Pak Hilman
"Bapak aja yang coba telepon. Ibu mau langsung siap-siap. Yang nelepon tadi udah bilang nama rumah sakitnya dan Raisa ada di IGD, mungkin emang terjadi. Perasaan Ibu udah gak enak dari tadi soalnya." Ucap Bu Vani sambil berlari ke sana ke mari mengambil sesuatu yang diperlukan untuk dibawa.
Pak Hilman pun langsung mencoba menghubungi Raisa.
"Halo, Raisa?!"
"Maaf, apa ini dari keluarga korban? Kami sudah menghubungi tadi dari pihak rumah sakit."
"Anak saya, ada apa dengan anak saya?" Tanya Pak Hilman setelah mendengar bukan Raisa yang menjawab telepon darinya.
"Seorang gadis bernama Raisa Putri Atmawidjaya mengalami kecelakaan setelah tertabrak mobil truk di jalan xxx, sekarang sedang berada dalam penanganan di ruang IGD."
"Terima kasih informasinya." Cepat Pak Hilman menutup panggilannya sendiri.
"Gimana? Benar kan, Pak?" Tanya Bu Vani dengan raut wajah cemas.
"Bapak langsung panasin mobil. Rumah sakit mana tadi yang nelepon, Bu?" Panik Pak Hilman setelah mendengar sendiri kabar kecelakaan Raisa.
"Rumah Sakit Pelita Kasih. Bapak nelepon tadi gak dikasih tahu sama yang jawabnya?" Ujar Bu Vani
"Gak, langsung Bapak matikan pas bilang Raisa ada di IGD. Gak sempat dengar nama rumah sakitnya karena panik." Ucap Pak Hilman
"Ya sudah, kita langsung ke sana, Pak. Rumah Sakit Pelita Kasih!" Kata Bu Vani yang sudah siap berangkat.
...
"IGD di mana?" Panik Pak Hilman setelah sampai di rumah sakit bersama Bu Vani
"Pak, sini!" Kata Bu Vani yang lebih dulu menghadap ke resepsionis. Pak Hilman pun langsung menghampiri istrinya di depan meja resepsionis.
"Suster, maaf... Anak saya yang katanya ada di rumah sakit ini, gimana? Nama anak saya, Raisa." Tanya Bu Vani
"Oh, keluarganya sudah datang. Raisa Putri Atmawidjaya, masih sedang ditangani di Ruang IGD. Ada di sebelah sana, Bu, Pak." Jawab pihak resepsionis
"Terima kasih, Sus."
Bu Vani dan Pak Hilman langsung menuju IGD.
Saat masuk ke ruang IGD , setelah mencari dari banyaknya pasien yang ada di sana, akhirnya Bu Vani dan Pak Hilman menemui Raisa di salah satu bilik yang tertutupi gorden. Saat itu dokter dan para suster baru saja selesai menangani Raisa dan ke luar dari bilik gorden.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Bu Vani
"Anak Ibu mengalami kecelakaan, untunglah luka yang didapati tidak terlalu parah. Namun, kami belum tahu jika adanya luka dalam dan pasien masih belum sadarkan diri. Untuk sementara, Ibu dan Bapak, bisa selesaikan dulu administrasinya supaya pasien bisa dipindahkan ke kamar rawat dan bisa melakukan langkah pengecekan ke tahap selanjutnya." Jelas Dokter
"Mari, ikut saya melakukan administrasi di meja resepsionis." Ajak Suster
"Biar Bapak aja yang urus, Ibu tunggu Raisa aja di sini." Kata Pak Hilman
Bu Vani pun mengangguk mengerti...
Bu Vani pun duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang.
"Ya ampun, Raisa... Kenapa kamu bisa jadi begini, Nak? Apa yang sudah terjadi sampai kamu kecelakaan?" Sedih Bu Vani meratapi nasib putrinya.
Raisa terus memejamkan matanya tak sadarkan diri. Raisa menjadi seperti ini karena berusaha bergerak cepat ingin pergi menolong Rumi, namun sayang nasibnya sungguh malang. Begitu pun dengan Rumi yang berada di tempat lain, ia terus tak sadarkan diri setelah diserang langsung oleh pemimpin penyusup. Kedua sejoli ini sama-sama terdiam di atas pembaringan dan tak sadarkan diri. Seolah nasib mereka berdua yang saling berkaitan...
.
•
__ADS_1
Bersambung...