Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
60 - Buah Tangan Kecil.


__ADS_3

Tak butuh waktu lama untuk berkeliling, Raisa sudah mendapati oleh-oleh yang akan dibawanya pulang. Karena sebagian besar oleh-oleh yang Raisa bawa sudah dibelinya dari hari-hari sebelumnya saat ia memandu teman-temannya berlibur ke berbagai macam tempat. Oleh-oleh yang dibawa cukup banyak, tapi, Raisa memiliki cara praktis untuk menyimpan semuanya di dalam sihirnya. Karena memang, Raisa hanya membawa satu tas ransel berukuran sedang saja.


Usai berburu oleh-oleh, Raisa mencari tempat yang sepi untuk mengeluarkan sihir pembuka portal teleportasi.


Syuuuhh~


Dan kini, Raisa telah tiba menginjakkan kakinya di sudut halaman rumah keluarganya. Beruntung di sana tidak ada orang yang melihat kedatangannya yang begitu ajaib dan misterius. Lingkungan rumahnya sedang sepi...


Raisa tersenyum senang. Selalu dengan keberuntungan yang Raisa miliki, identitas lainnya yang spesial itu belum pernah diketahui dan dipergoki oleh orang lain. Raisa pun melangkahkan kakinya dengan suasana hati riang masuk menuju ke dalam rumah.


"Ibu, aku pulang." Teriak Raisa untuk memberitaukan kepulangannya.


Mendengar suara seseorang datang dengan jeritan girangnya, Sang Ibu menghampiri pintu utama rumah untuk melihat siapa yang datang. Tak sangka, ternyata putrinya yang kembali pulang. Pasalnya, Raisa pulang tanpa memberi kabar terlebih dulu seperti sebuah kejutan!


"Raisa, kamu pulang kok ga kasih kabar, Nak?" Tanya Ibu yang menyambut kedatangan sang anak.


"Iya, Bu. Raisa lupa! Tadi pagi, habis sarapan langsung mengirim antarkan teman-teman ke dunia mereka, pergi beli oleh-oleh, dan langsung pulang. Raisa belum buka HP sama sekali sejak pagi." Jelas Raisa yang menjawab.


"Yaudah, istirahat dulu, duduk. Kok cepat banget bisa langsung pulang, Sayang?" Ujar Bu Vani


Bu Vani pun menuntun anaknya untuk duduk di atas sofa. Raisa mengikuti perintah Sang Ibu untuk duduk di sofa. Dan, Bu Vani duduk di samping putrinya.


"Biasa, Bu. Raisa pakai cara praktis, gunain sihir." Ungkap Raisa


"Masih pagi, kamu udah pakai sihir kamu dalam jumlah tenaga yang besar. Kamu pasti capek, sempat beli oleh-oleh juga. Kamu mau makan?" Ucap Ibu Vani yang mengkhawatirkan kondisi putrinya.


"Gapapa kok, Bu. Cuma sedikit lelah aja. Raisa, ga lapar. Tapi, kalau boleh, aku mau minum dong. Bikinin sirup jeruk ya, Bu, tolong." Ujar Raisa


"Yaudah, Ibu, bikinin dulu. Tunggu sini." Kata Bu Vani


"Yeay! Emang cuma Ibu yang ter-the best!" Girang Raisa memuji Sang Ibu.


Bu Vani pun bangit dan beranjak ke arah dapur. Membuatkan putrinya sirup jeruk karena baru saja sampai pulang di rumah.


Tak butuh waktu lama, Bu Vani pun kembali dengan segelas cairan oranye di genggamannya. Lalu, memberikan pesanan itu pada Raisa.


"Terima kasih, Ibu. Maaf ya, Raisa, jadi ngerepotin Ibu." Ujar Raisa menerima gelas berisi sirup pesanannya itu dari tangan Sang Ibu.


"Sama-sama. Makanya, lain kali kamu tuh jangan asal pake sihir. Sihir bertenaga besar lagi. Kamu pasti udah pake sihir untuk memulangkan teman-teman kamu, kamu pulang pun pakai sihir itu. Tenaga kamu pasti banyak terkuras." Ucap Bu Vani


"Kok Ibu bisa tau tentang sihir portal itu?" Tanya Raisa


"Cuma mengira-ngira aja. Sihir itu pasti ga mudah dan pasti butuh banyak tenaga untuk melakukannya." Jawab Bu Vani


*Yang dimaksud adalah sihir portal teleportasi.


"Gapapa, Bu. Biar aku terbiasa. Semakin aku mengeluarkan sihir sulit yang kubisa, aku emang jadi banyak mengeluarkan tenaga. Tapi, seiring berjalannya waktu karena sering pakai sihir itu, jumlah tenaga yang tersimpan saat kembali pulih juga semakin banyak dan besar. Anggap aja latihan." Jelas Raisa


Raisa pun menenggak minuman di tangaannya sampai hampir habis. Tenaga yang sudah terkuras memang banyak dan membuatnya haus namun tidak sampai merasa lapar.


"Oh ya, Raisa, belikan oleh-oleh untuk Ibu." Kata Raisa


Raisa pun memperlihatkan telapak tangannya. Dan dari sana, ia mengeluarkan barang buah tangan untuk Sang Ibu dengan sihirnya. Ia pun memberikan oleh-oleh itu pada Sang Ibu.


"Ini oleh-oleh untuk Ibu." Kata Raisa


"Ya ampun, Raisa. Lagi-lagi kamu pakai sihir bertenaga besar. Sihir ini sama menguras tenaganya dengan sihir portal teleportasi. Ini sihir sulit tingkat tinggi yang menguras banyak tenagamu, Sayang." Ucap Bu Vani


"Gapapa, Bu. Biar praktis aja. Malas bawa banyak-banyak barang." Kata Raisa


"Kamu ini, ga mau ribet! Tapi, tetep aja bikin kamu capek." Imbuh Bu Vani


Raisa pun terkekeh sambil memperlihatkan cengiran kudanya...


"Aku sekalian menerapkan latihanku selama ini. Anak Ibu ini kan hebat dan ga lemah!" Ujar Raisa

__ADS_1


"Dasar, anak ga mau kalah sama orangtua! Ngeyel banget kalo dibilangin!" Omel Bu Vani


"Udah, Ibu ga usah khawatir. Aku mau masuk kamar dulu ya, Bu. Mau ngeluarin barang oleh-oleh yang aku simpan di dalam inti sihirku, sekalian istirahat." Ucap Raisa


"Yaudah, kamu istirahat aja. Nanti Ibu panggil pas makan siang." Ujar Bu Vani


Raisa pun bangkit dan beranjak menuju kamar tidur pribadinya.


"Raihan, masih belum pulang, Bu? Kalau dia pulang, tolong bilangin oleh-oleh yang dia minta udah datang. Kalau mau ambil, datang aja ke kamar aku." Kata Raisa berpesan sebelum memasuki kamarnya.


Raisa pun masuk ke dalam kamar tidur pribadinya. Setelah mengeluarkan semua barang oleh-oleh dari inti sihirnya dan meletakkannya, ia pun merebahkan diri di atas ranjang kasurnya yang empuk. Beristirahat sebentar sebelum waktu makan siang...


Hari pulangnya Raisa setelah kedatangan teman-teman lain dimensinya adalah hari Sabtu. Dan Raisa mendapat kabar dari grup media sosial sekolahnya, bahwa mulai hari Senin kegiatan belajar mengajar di sekolah akan kembali di laksanakan.


•••


Semua pun kembali pada kehidupan dan menjalani aktivitas masing-masing.


Hari Senin pun tiba...


Hari di mana semua kesibukan kembali terjadi. Hari yang dinantikan Raisa untuk kembali bersekolah pun kembali datang.


Di waktu yang tidak cepat juga tidak terlambat, Raisa tiba datang ke sekolah dengan tepat pada waktunya.


Dengan langkah kaki penuh dengan percaya diri dan rasa semangat, Raisa mulai memasuki gerbang sekolahnya. Senyum ceria pun mengembang indah pada bibir di wajahnya. Berbeda dengan kebanyakan murid lainnya yang terlihat lesu dan cenderung merasa malas, Raisa berjalan menuju kelasnya dengan perasaan hati yang riang.


Baru saja duduk di kursi tempat duduknya, Raisa langsung dikejutkan oleh kedua sahabatnya yang menyapanya dengan tiba-tiba.


"RAISA!!" Sorak Nilam


"Kita ketemu lagi!" Girang Maura


"Kalian ini, buat aku kaget aja! Aku juga lihat kalian datang kok, juga mau nyapa kalian. Ga perlu buat kaget begini..." Ucap Raisa merasa sebal karena terkejut.


"Habisnya, aku udah kangen sama kamu." Ujar Maura


"Kalian, apa kabar?" Tanya Raisa


"Baik selalu dong!" Serempak Maura dan Nilam menjawab.


"Aku juga baik dan rindu kalian. Nih, aku punya buah tangan kecil untuk kalian berdua!" Ujar Raisa


Raisa pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya dan memberikannya pada kedua sahabatnya, Maura dan Nilam. 2 buah cendramata unik. Masing-masing satu untuk kedua sahabatnya.


"Ini aku beli saat menginap di vila keluarga. Menemani teman-teman jauhku yang waktu lalu berlibur di sana. Waktu itu, Raihan, adikku meminta dibelikan oleh-oleh. Jadi, aku sekalian beli untuk kalian berdua juga." Ungkap Raisa


"Wah, cantik! Makasih ya, Raisa." Kata Maura


"Makasih, Raisa-ku. Kamu ikut liburan bareng mereka? Seru dong!" Ujar Nilam


Nilam dan Maura pernah bertemu teman-teman lain dimensi Raisa saat mereka mencari keberadaan Raisa sewaktu telah tiba berkunjung ke dunia ini. Mereka berdua pun teringat kembali saat pertemuan pertama kali itu lagi.


"Iya, aku jadi pemandu mereka selama waktu liburan mereka. Maklumlah, mereka kan dari luar daerah." Jelas Raisa


"Luar daerah? Mereka datang dari mana?" Tanya Maura


"Sebenarnya mereka dari luar negeri, tapi fasih bahasa kita. Ya, pokoknya begitulah!" Dusta Raisa beralasan.


Raisa bingung harus beralasan seperti apa lagi. Sudah sering ia berbohong, sampai tak tau lagi harus berkata seperti apa. Ia hanya berharap, kedua sahabatnya tidak banyak bertanya atau lebih baik mengabaikan tentang itu.


"Raisa, ada oleh-oleh makanan juga ga? Laper nih, cuma sempat sarapan sedikit gara-gara telat bangun pagi." Ucap Nilam


"Ada kok. Mau dimakan sekarang? Atau buat nanti di jam istirahat?" Ujar Raisa


"Makan sekarang aja! Istirahat nanti, baru jajan lagi di kantin." Kata Nilam

__ADS_1


"Ide bagus tuh! Lumayan, hemat uang jajan." Setuju Maura


Raisa pun kembali merogoh tas sekolahnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah kotak makan berukuran sedang.


Raisa bersyukur, kedua sahabatnya mengabaikan pembicaraan tentang teman-temannya yang lain itu. Dengan ini, Raisa masih bisa mencari alasan saat mungkin nanti kedua temannya membahasnya lagi...


"Aku sengaja masukkan ke dalam kotak makan, supaya gampang dibawa. Makan bareng aja." Ucap Raisa


"Ayo, kita makan bareng! Kamu juga, Raisa." Kata Nilam yang sudah bersiap santap.


"Aku ikut makan sedikit deh. Makasih ya." Ujar Raisa


Kotak makan pun dibuka. Di dalamnya terdapat camilan khas desa tempat vila keluarga besar Raisa berada. Walaupun hanya camilan, itu tetap mengenyangkan. Raisa, Maura, dan Nilam pun makan bersama-sama.


"Kamu ini kayak sama siapa aja. Makanan ini kan juga oleh-oleh dari kamu. Harusnya kami yang bilang makasih. Makasih ya, Sayangku." Ucap Nilam


"Iya, Raisa. Makasih banyak lho." Ujar Maura


"Iya, sama-sama." Balas Raisa


Tepat saat makanan tersebut habis, bel masuk sekolah sekaligus mulainya jam pelajaran pun berbunyi. Raisa pun memasukkan kembali kotak makan miliknya ke dalam tas sekolahnya. Dan guru pengajar pun masuk. Jam belajar, kegiatan belajar mengajar pun kembali dimulai...


Raisa yang sudah menantikan untuk belajar bersama di sekolah untuk ujian pun sangat bersemangat dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung saat ini.


---


Hari pertama kembalinya kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa terasa menyenangkan bagi Raisa. Dan jam istirahat pun tiba... Bel penanda jeda kegiatan belajar itu berbunyi.


Semua siswa-siswi bersorang girang karena sudah sangat menantikan waktu ini. Semua murid sekolah pun ke luar dari kelasnya nasing-masing dan melakukan kegiatannya pada waktu ini. Ada yang bermain, pergi ke toilet, melakukan perbincangan yang mengasikkan, ada juga yang tetap berdiam di kelas. Namun, kebanyakan mereka pergi berburu makanan di kantin sekolah.


Seperti yang lainnya, Raisa, Maura, dan Nilam pun memilih ke luar dari kelas untuk pergi makan di kantin.


Raisa, Maura, dan Nilam. Mereja bertiga berjalan beriringan bersama menuju kantin sambil berbincang ria... Namun, karena harus mengantar buku ke ruang guru, mereka memilih menempuh jalan berbeda, yaitu melalui taman belakang sekolah. Karena, jika dari ruang guru menuju kantin lebih dekat dari sana dan tidak perlu lagi memutar jalan.


Saat melewati taman belakang sekolah, Raisa tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Langkahnya terhenti dan menatap persekitaran taman itu. Taman belakang sekolah itu dalam keadaan sepi. Memang selalu seperti ini, sepi tak ada orang yang beranjak ke tempat tersebut.


Sementara Raisa terdiam di taman itu, Maura dan Nilam telah berlalu tanpa tau satu sahabat mereka berhenti di sana karena sangat asik dan terlarut dalam obrolan.


Raisa menggesek-gesekkan kaki yang terbalut sepatunya itu pada tanah penuh rerumputan di sana. Ia teringat saat menginap berlibur di vila keluarga besarnya. Mengenang saat dirinya suka berdiam di halaman vila yang bertanahkan penuh rerumputan. Persis seperti taman belakang sekolahnya itu.


Ada beberapa bangku yang tersedia di taman tersebut. Dan Raisa pun memilih duduk pada salah satunya. Raisa memandang ke depan, sesekali ia memandang ke arah langit.


"Langit yang aku pandang saat itu adalah langit yang sama. Bedanya hanya suasana hari. Saat itu sedang malam hari dan kini siang hari. Tapi, apa langit di sini dan di dunia sana itu juga sama?" Gumam Raisa sendirian.


Lalu, Raisa menunduk menatap rerumputan di bawah kakinya...


"Bedanya juga, aku lebih sering duduk langsung di atas rerumputan saat di sana." Kata Raisa


...'Baru beberapa hari tidak bersama mereka, aku sudah merindukan mereka. Apa kabar mereka ya? Semoga mereka selalu dalam keadaan baik-baik saja.' Batin Raisa...


Raisa pun kembali teringat akan teman-teman lain dimensinya itu. Teringat dengan satu persatu wajah yang ia rindukan itu. Dan, ingatannya terhenti pada sosok wajah lelaki yang paling ia rindukan dari pada yang lain. Lelaki yang telah mencuri hatinya dan telah memiliki tempat persinggahan tetap dan kokoh di dalam hatinya yang paling dalam...


Rasa rindunya sudah memunculkan rasa kesedihan di dalam hatinya. Rasa sedih bercampur rasa sakit hati kembali dirasakan olehnya. Rasa cintanya malah mengakibatkan rasa sakit hati untuk dirinya.


...'Kenapa mengingat lelaki yang kucintai malah membuatku sakit hati? Ini bukan karena perlakuannya, justru karena perlakuanku yang harus menjauh darinya. Menghadapi kenyataan yang tak bisa bersama dan bersatu dengan lelaki yang kucinta rasanya sangat sulit! Nafasku sesak setiap kembali mengingatnya. Kenapa harus begini? Kenapa aku harus jatuh cinta pada seseorang yang bukan berasal dari dunia yang sama denganku? Kenapa aku harus jatuh cinta pada lelaki yang berasal dari dunia dimensi lain? Kalau berbeda daerah atau negara mungkin aku masih bisa bertahan melaluinya. Kenapa cinta yang kualami terasa sesakit ini? Ini bukanlah salah cinta! Ini karena aku jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi, apa daya? Aku tidak bisa nengontrol hati ini ingin jatuh pada siapa... Karena hati inilah yang memilih pada siapa ia ingin berlabuh. Tidak adakah yang bisa meringankan rasa sakit yang dirasakan hatiku ini? Siapa pun tolong bebaskan aku dari jeratan perasaan yang begitu menyakiti hatiku ini! Aku sangat ingin terbebas dari rasa sakit hati ini!' Batin Raisa...


Padahal lelaki pujaan hatinya telah menyatakan suka pada dirinya. Namun, dengan segala kenaifannya, Raisa pura-pura seolah tidak mengerti. Mengabaikan rasa suka yang diungkapkan lelaki pujaan hatinya itu. Walau di dalam hatinya, ia berteriak membalas ucapan rasa suka lelaki itu. Walau rasanya ingin sekali membalas ucapan suka lelaki pujaan hatinya, ia hanya bisa mengurungkan niatnya itu mengingat kenyataan yang mungkin akan di hadapinya.


Raisa terdiam dalam renungan... Menahan rasa sakit di hatinya, menahan air matanya agar tidak sampai tumpah. Gejolak yang terus menerpa hatinya membuatnya sulit menahan rasa sakit yang dirasakannya. Walau tidak sampai menangis, bibir Raisa mulai meloloskan suara isakan yang tertahan dari dalam mulut dan tenggokannya. Walau tidak ada air yang mengalir dari matanya, tenggorokannya mulai terasa sakit karena menahan jeritan yang sebenarnya berasal dari hatinya yang paling dalam.


Raisa berusaha untuk tetap tegar dan menahan semua rasa sakit di dalam dadanya.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2