
"Sekarang, coba ceritain ke mana aja dan ngapain aja kamu selama dua minggu ini..." Pinta Pak Hilman bertanya pada putrinya, Raisa.
...'Cerita? Berasa diinterogasi aja... Jadi inget saat di sana, aku juga ditanya-tanya saat pertama kali ketemu. Awalnya, aku sedih karena mereka ga percaya. Tapi akhirnya, aku bisa juga cukup dekat sama mereka.' Batin Raisa...
Raisa terkekeh pelan saat mengingat momen-monen tertentu saat berada di dimensi lain...
"Hmm... Cerita ya~ Aku pergi ke dunia lain di dimensi yang asing! Awalnya, aku terbawa oleh mereka yang tersasar saat membuka portal antar dimensi yang datang ke sini. Lalu, ternyata peranku terbilang penting karena membantu mereka kembali pulang ke dimensi asal mereka. Saat itu, aku ikut bersama mereka dan membantu masalah mereka di sana. Kami saling membantu dalam hal itu... Mereka juga sangat baik padaku! Mereka menawarkanku tempat menetap dan memberiku tumpangan untuk menginap selama aku beristirahat di sana sampai kondisiku fit. Aku juga diberikan uang! Mata uang mereka berbeda, jadi itu sangat membantuku saat tinggal di sana dalam beberapa waktu. Sampai akhirnya, aku pun pulang... Bahkan mereka mengantarku pulang dalam artian mereka melakukan jumpa terakhir sebelum berpisah. Seperti salam perpisahan." Jelas Raisa bercerita.
Ibu dan Bapak Raisa mendengarkan dan mencermati cerita sang anak.
"Tunggu! Apa maksudnya, 'sampai kondisiku fit'? Emangnya kamu sakit di sana? Kamu abis ngalamin kesusahan apa selama di sana?" Tanya Bu Vani pada Raisa, putrinya.
"Ngga kok, Bu. Masalah di sana bukannya besar kok. Cuma kan menghadapi masalah juga menguras pikiran dan usaha keras. Jadi, aku istirahat dulu di sana sebelum pulang." Jawab Raisa
...'Aku hampir aja keceplosan! Aku ga cerita supaya Ibu dan Bapak ga jadi khawatir berlebihan. Lain kali, aku harus hati-hati kalo cerita.' Batin Raisa...
Raisa memilih untuk tidak menceritakan samuanya. Ini dilakukan agar orang-orang tersayangnya tidak khawatir berlebihan. Dan juga, supaya ia bisa pergi ke dunia itu lagi di lain waktu dan tak ada yang melarangnya.
"Iya, Bu. Biarin aja... Biar Raisa mengatasi masalah untuk pelajaran dan pengalaman. Sebesar apapun masalahnya, yakin aja anak kita bisa melewatinya. Dia juga tau batasannya sendiri. Pasti dia juga tau saat dia harus berhenti dan menyerah." Ucap Pak Hilman
"Kita sepikiran... Sehati, Pak!" Setuju Raisa
"Iya-iya... Tapi, kamu harus inget, Raisa. Di sini ada yang terus nunggu kamu untuk pulang. Ibu selalu doain kamu supaya jalan yang kamu tempuh lancar..." Ucap Bu Vani
"Iya, Bu. Makasih... Raisa juga berharap begitu. Tapi, Ibu Bapak tau ga? Di sana itu, banyak orang-orang yang sama sepertiku, dalam hal kemampuan. Aku senang berada di sana, tapi bukan juga berarti aku jadi ga senang saat kembali ke sini. Maksudku, aku merasa punya teman yang sama sepertiku dengan kemampuan sihir mereka. Di sana aku merasa bebas melakukan sihir tanpa takut rahasia besarku terungkap atau dihujat karena aneh atau disangka penyihir jahat. Aku juga merasa jika aku di sana, aku bisa melatih kekuatanku agar bisa lebih berkembang lagi." Ungkap Raisa
"Bapak ngerti perasaan kamu, Nak. Dengan kelebihan kamu yang terbilang spesial, kamu pasti merasa terpanggil untuk ke sana. Ke dunia yang orang-orangnya memiliki kesamaan denganmu. Kamu pasti merasa sangat senang saat berada di sana karena kamu bebas mengungkapkan jati diri kamu yang sesungguhnya. Tapi, kamu harus ingat, kamu masih punya orang-orang yang menunggu kamu di sini. Kami juga ga akan ngelarang kamu ke depannya ingin ke mana atau menentukan keinginan yang kamu mau apa. Yang terpenting, kamu harus jaga diri dengan baik." Ucap Pak Hilman
Ibu Raisa, Bu Vani terdiam. Ia merenungkan sesuatu yang sedikit mengganjal di benaknya...
Ia tentu sangat menyayangi putrinya yang terlahir berbeda dan spesial. Tapi karena itulah yang membuatnya khawatir. Ia tak mungkin melarang kebebasan takdirnya atau mengekang anaknya untuk berdiam dalam sangkar emas seperti burung langka. Ia hanya takut putrinya terluka atau menemukan kesulitan terbesar.
Ia merasa gelisah, gundah gulana~
...'Raisa adalah putriku... Aku harus percaya sama anakku. Aku harus merelakan takdirnya yang spesial menuntun jalan hidupnya yang meski berbeda dengan orang biasa lainnya. Mulai sekarang, aku harus ikhlas melepas Raisa menghadapi hidupnya sendiri. Toh, Raisa masih dalam status anakku. Belum menjadi istri orang lain. Dia masih dalam jangkauanku. Kemana pun dia pergi dia pasti kembali pada keluarganya...' Batin Bu Vani. Ibu Raisa yang mengkhawatirkan putrinya....
"Ya~ Tapi, kamu cerita lengkapnya dong... Cerita kamu tadi ga lengkap gitu." Pinta Bu Vani
"Cerita laginya nanti ya. Raisa mau istirahat dulu." Kata Raisa
"Iya, bener. Kamu baru pulang... Yaudah, kamu istirahat aja dulu." Ujar Pak Hilman
"Yaudah deh. Nanti malam Ibu bangunin kamu untuk makan malam. Sekarang kamu tidur dulu aja." Ucap Bu Vani
"Ngomong-ngomong, itu kamu bawa bunga... Dari dunia sana? Dari seseorang ya? Dari lelaki atau perempuan?" Tanya Pak Hilman, menyelidiki anak gadisnya.
__ADS_1
"Oh, ini... Yang ngasih sih lelaki. Tapi, ini dari Ibu-nya yang punya toko bunga. Sebagai ucapan terima kasih karena udah banyak membantu di sana. Rencananya aku mau terus ngerawat bunga ini, nanti mau aku taruh di pot." Jawab Raisa menjelaskan.
"Kalo gitu, Raisa ke kamar ya, Bu, Pak." Lanjut Raisa
Raisa pun beranjak menuju kamar tidurnya dengan membawa tas dan bunga yang dibawanya. Ia berpikir untuk menaruh bunganya di pot lain kali.
•••
Toktoktok!
"Raisa, sayang... Kamu udah bangun, Nak?" Serunya dari luar pintu kamar
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar dan seruan seseorang yang lembut. Dari suaranya itu adalah seorang wanita.
"Hmm... Iya, Bu." Jawab Raisa setelah mendengar suara ibunya.
"Yaudah... Kalo gitu kamu siap-siap ya. Kita makan malam bareng." Ujarnya, Sang Ibu. Bu Vani.
"Iya, Bu. Sebentar lagi Raisa keluar." Kata Raisa menyahuti.
•••
Setelah Raisa bersiap setelah bangun tidur, Raisa pun keluar dari kamarnya. Ia melangkah menuju meja makan. Anggota keluarga lainnya telah menunggunya di sana...
Raisa menarik kursi tempatnya biasa duduk saat makan lalu duduk dengan tenang di sana menunggu makanan tersaji lengkap.
Di sana, ada Ayah Raisa, Pak Hilman, yang menunggu untuk makan malam bersama. Sedangkan Bu Vani, Sang Ibu, sibuk mempersiapkan dan menyajikan makanan. Menatanya di meja makan.
Kemudian datanglah seorang lelaki dari arah kamar lainnya... Dan ia pun duduk untuk makan bersama~
"Loh, Ka Raisa, udah pulang? Kapan pulangnya? Kok aku ga tau..." Tanyanya memanggil Raisa dengan sebutan kakak. Ia adalah adik lelaki Raisa...
"Kakak pulang tadi siang, Dek. Tapi, langsung istirahat. Kamu juga baru pulang ya? Tadi kakak sampai rumah ga liat kamu." Ujar Raisa
"Oh, iya, Kak. Tadi Raihan abis kerja kelompok. Ngerjain tugas di rumah temen. Pantes ga liat kakak pulang." Ungkapnya, Sang Adik bernama Raihan Putra Atmawidjaya.
"Makanannya udah siap. Yuk, kita makan..." Kata Bu Vani
Setelah makanan tersaji lengkap di meja makan, semua pun mulai menyantap makan malam.
"Emm... Ngomong-ngomong, Kak Raisa apa kabar? Selama ini ke mana aja?" Tanya Raihan
Mendengar pertanyaan Sang Adik, Raisa hampir saja tersedak. Ia lupa... Di rumahnya, masih ada yang belum mengetahui tentang rahasianya. Hanya kedua orangtuanya saja yang mengetahui. Dan mereka merahasiakan tentang ini.
"Huk! Ekhem... Loh, emang selama kakak pergi, Ibu Bapak ga ngasih tau?" Alih-alih menjawab, Raisa melimpahkan pertanyaan tersebut kepada orangtuanya.
__ADS_1
"Ade, kan udah dijelasin kalo sakit kakak kambuh. Jadi, kakak pergi berobat." Dusta Pak Hilman
*Ade adalah panggilan untuk Raihan yang notabennya adalah anak bungsu.
"Iya, Ka Raisa berobat. Selama ini nginep di rumah Uwa Aida. Karena di sana dekat sama tempat pengobatannya." Imbuh Bu Vani menambah bumbu kebohongan pada ucapannya.
*Uwa adalah panggilan anak kepada kakak dari orangtuanya.
"Kakak nginep di sana sendiri. Karena Ibu Bapak di sini cukup sibuk." Tambah Pak Hilman, berbohong.
"Pantesan... Ibu keliatan khawatir banget walau tetep sibuk. Abis ini Kak Raisa mending telpon Kak Raina deh. Dia juga nanyain kakak, kasih taulah kalo kakak udah pulang." Ucap Raihan
"Iya, nanti kakak telpon Kak Raina..." Kata Raisa
...'Untung aja, kali ini bisa terselesaikan. Semoga Raihan ga curiga dan benar-benar percaya sama alasan ini.' Batin Raisa...
•••
Keesokan harinya...
Setelah kembali pulang, Raisa sibuk membantu Ibunya melakukan pekerjaan rumah. Ia rasa ini memang perlu ia lakukan untuk membalas kebaikan Sang Ibu selama ini yang bahkan rela dan mengizinkannya mengejar takdirnya yang berbeda dan terbilang spesial. Di samping kepribadiannya yang memang rajin, membantu Ibu seperti ini dirasanya tak cukup untukmembalas jasanya. Bahkan sampai kapan pun ia takkan mungkin bisa membalas jasa seorang ibu.
Raisa kini sedang membersihkan halaman dan teras rumah. Menyapunya hingga bersih~
Saat ia sedang melakukan aktivitas bersih-bersihnya, tiba-tiba sepasang kaki muncul, melangkah mendekat ke arahnya. Lalu suara anak kecil yang menggemaskan pun terdengar...
"Nty!~"
Ternyata kakak perempuannya yang telah berkeluarga itu datang membawa anaknya yang lucu.
"Eh, Farah... Kak Raina, datang bawa si cantik mungil. Masuk yuk..." Ujar Raisa
Raisa pun mempersilahkan kakak dan keponakan kecilnya untuk masuk
"Aunty Raisa baru keliatan lagi, ya, Dek..." Katanya, Kakak perempuan Raisa. Kak Raina.
Raina bersama anaknya, Farah yang berada di gendongannya pun masuk ke dalam rumah.
"Bu, Pak, Dek, Kak Raina sama Farah datang!" Teriak Raisa memberitau seisi rumah jika rumah kedatangan tamu kesayangan.
.
•
Bersambung...
__ADS_1