
Bu Vani sedang memasak di dapur.
Karena rindu dengan putrinya, Raisa. Bu Vani sengaja memasak makanan favorit Raisa walau sosoknya sedang tidak ada di rumah.
Bu Vani terus terpikir bayang-bayang Raisa, sampai saat sedang memotong sayur, jari tangannya teriris pisau dan mengeluarkan darah.
"Ibu, masak apa? Sini, Raina bantu," ujar Raina yang sedang berkunjung ke rumah orangtua.
Raina yang menuju dapur melihat jari tangan sang ibu terluka dan menjadi panik karenanya.
"Aduh, Ibu ... kok bisa luka begini? Cuci dulu lukanya, Bu. Biar gak infeksi," cemas Raina
Raina pun membantu Bu Vani membasuh lukanya dengan air mengalir.
"Ibu, kangen Raisa, ya. Masakan yang dibuat hari ini semua favorit Raisa. Ibu juga bisa luka begini pasti karena mikirin Raisa. Ya, kan?" tutur Raina bertanya.
"Ibu lagi kepikiran sama Raisa, tapi kok perasaan Ibu jadi gak enak, ya ... " ujar Bu Vani
"Sudahlah, Bu. Raisa, kan, sudah besar. Dia pasti bisa jaga diri dan baik-baik aja. Ibu cuma berlebihan karena kangen sama dia," ucap Raina
Setelah membasuh luka Sang Ibu, Raina pun membantu mengeringkan luka dengan mengelapnya menggunakan kain bersih.
"Habis ini, obati lukanya, Bu," kata Raina
PRANGG!!
Raina dan Bu Vani terkejut saat mendengar benda pecah. Keduanya pun mencari sumber suara pecahan tersebut.
Setelah dicari, ternyata ada bingkai foto yang terjatuh di hadapan Arka dan Farah.
"Pih, kok bisa jatuh, sih, fotonya?" tanya Raina
"Ini, Farah katanya kangen Onty-nya. Mau lihat-lihat foto Onty-nya malah gak sengaja jatuhin figura fotonya," jelas Arka
"Mami, maafin aku, ya. Maafin aku, ya, Nenek ... " sesal Farah
"Gak apa. Pecahan kacanya dibersihin dulu," ujar Bu Vani
"Biar aku aja yang bersihin pecahan kacanya, Bu. Ibu obati luka tadi aja," ucap Raina
Bu Vani pun kembali ke daour untuk mengobati luka di jari tangannya, sedangkan Raina membersihkan pecahan kaca di lantai.
Melihat foto Raisa terjatuh hingga memecahkan bingkainya, membuat Raina yang semula tidak merasakan apa pun jadi terpikir ucapan Sang Ibu dan mulai mengkhawatirkan adik perempuannya. Sedangkan, Bu Vani yang sudah merasa perasaannya tidak enak jika menikirkan Raisa, kini bertambah cemas dan memikirkan putrinya itu. Namun, kekhawatirannya terus berusaha disembunyikan.
Desa Bambu, Panti Asuhan Cahaya Kasih.
Anak-anak yang sedang belajar bersama tiba-tiba dikejutkan dengan suara benda yang pecah. Saat mencari benda yang mungkin saja pecah karena terjatuh, mereka tidak menemukan apa pun. Namun, mereka dikejutkan dengan Bulan Buatan pemberian dari Raisa yang pecah!
Kristal es yang membungkus api abadi telah pecah dan api abadi di dalamnya pun telah padam. Benda di sekelilingnya tidak ada yang terbakar. Namun, itu tetap bukan hal yang menguntungkan. Mereka merasa sedih melihatnya.
"Ada apa ini? Kenapa bulannya bisa pecah?"
"Pertanda buruk!"
"Apa kalian ingat kata Kak Raisa? Jika cahaya bulan ini padam, itu artinya ...."
"Kak Raisa telah meninggal dunia atau kemampuan sihirnya telah hilang dan lenyap!"
"Sesuatu mungkin telah terjadi pada Kak Raisa!"
"Tidak mungkin! Kak Raisa dan lainnya baru saja oergi dari desa ini untuk kembali pulang."
"Kita berdoa saja. Semoga Kak Raisa baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa dengannya, begitu juga dengan kakak-kakak yang lainnya."
"Ya, semoga saja."
Kini Raisa berada di atas pangkuan Rumi dan sedang dalam penanganan. Aqila dan Ian berusaha menyembuhkan jantungnya yang terluka parah, namun Raisa terlihat kehilangan banyak darah.
Raisa tersenyum lirih dan menatap Rumi dengan sendu. Satu tangannya terulur untuk menyentuh wajah Rumi~
"Kau tidak boleh meninggalkanku, Raisa. Kau telah berjanji padaku," ucap Rumi sambil menggenggam erat tangan Raisa yang menyentuh wajahnya.
"Maaf ... telah mengotori wajah dan pakaianmu dengan darahku," kata Raisa
"Aku tidak peduli! Jangan bicara lagi. Kumohon, simpan saja tenagamu," ucap Rumi
"Aku tidak bermaksud membuat kalian menyesal karena melihatku jadi seperti ini, aku hanya ingin melakukan ini untuk kalian. Aku senang bisa melindungi kalian dengan kemampuan terakhir yang kumiliki. Ini yang selalu ingin kulakukan dan juga permintaan terakhirku. Jadi, jangan sedih karena aku setelah ini," tutur Raisa
Semua terdiam hanya menyaksikan. Membiarkan Rumi mengambil semua kesempatan untuk bicara dengan Raisa sebagai perpisahan akhir mereka.
"Kalau kau tidak ingin kami menyesal, kau hanya perlu bertahan. Aku tidak ingin dengar permintaanmu saat ini! Akan kukabulkan semua permintaanmu nanti, kau hanya perlu tetap di sisiku dan bertahan melewati saat ini," ujar Rumi
Rumi terlihat hampir meneteskan air mata, namun ia menahannya sebisa mungkin.
"Jangan teteskan air matamu atau merasa sedih. Aku lebih suka saat kau tersenyum walau terkadang itu terlihat kaku. Aku tidak akan pergi karena aku akan selalu ada di hatimu. Kau hanya perlu ingat itu," ucap Raisa
Satu tangan Raisa yang lain bergerak menunjuk dan menyentuh dada Rumi.
"Mana senyummu? Aku ingin lihat ... " pinta Raisa
Rumi pun tersenyum walau terasa sangat sulit.
"Sudah kuduga, aku paling suka saat melihat kau tersenyum," ungkap Raisa
Raisa ikut tersenyum sambil memejamkan mata. Saat itu juga, tangannya yang berada di dada Rumi terjatuh perlahan ke tanah.
Rumi terkejut dan senyumannya lenyap seketika.
Wajahnya berubah jadi tidak mengenakkan, begitu juga yang lainnya yang menyaksikan momen tersebut.
Namun, Rumi berusaha kembali tersenyum.
"Kau dapat melihatnya, Raisa. Aku sudah tersenyum! Lihat! Aku akan selalu tersenyum untukmu. Maka, kau harus membuka matamu dan melihat ke arahku. Lihat aku, Raisa... Buka matamu! Kumohon ... " racau Rumi
__ADS_1
Senyum lebar yang dipaksakan itu berubah menjadi senyum lirih yang perlahan menghilang digantikan isak tangis yang hampir tidak terdengar. Rumi terus meminta Raisa untuk membuka matanya walau Raisa sudah tidak bisa merespon kata-katanya itu sama sekali.
"RAISA!!~~"
Penanganan yang Aqila dan Ian lakukan pun dihentikan. Rumi pun mendekap tubuh Raisa dengan erat ke dalam pelukannya.
"Raisa, kehilangan banyak sekali darah," ungkap Ian
Tubuh Raisa yang telah memucat kini perlahan menjadi dingin. Rumi terus memeluknya.
"Apa sudah tidak ada cara lagi?" tanya Morgan
"Lukanya berada di titik paling vital dan terlalu parah," jawab Aqila
Semua terdiam membisu.
Saat itu, terdengar derap suara langkah mendekat ke arah sana. Dennis dan Marcel datang bersama Tuan Nathan, Pemimpin Desa.
"Maaf ... aku datang terlambat," kata Tuan Nathan
"Ke mana perginya Sang Dewa?" tanya Marcel
"Dia sudah pergi. Benar-benar pergi," jawab Ian
"Raisa telah mengorbankan dirinya untuk melindungi kami dari Sang Dewa," ungkap Chilla
"Raisa ... " Pelan Dennis
Perhatian pun tertuju pada tubuh Raisa yang penuh darah yang berada di pelukan Rumi.
Rumi melepaskan pelukannya dan bangkit menggendong Raisa (ala bride style).
"Tolong, tunjukkan padaku tempat perawatan medis!" pinta Rumi
"Ayo, cepat! Lewat sini," kata Dennis
Rumi pun berlarian membawa Raisa mengikuti Dennis yang langsung menuju ke tempat perawatan darurat medis. Semua pun mengikuti dari belakang.
Setetes air ke luar dari mata Rumi saat mulai berlari.
Di tempat pengungsian, Bibi Irene menyambut kedatangan mereka yang baru tiba di sana.
"Semua warga telah selamat dievakuasi. Bagaimana keadaan di luar sana?" ujar Bibi Irene bertanya.
"Semua sudah diatasi dengan baik. Aku terlambat," jawab Tuan Nathan
"Di mana Bibi Sierra? Tolong ... antarkan aku padanya," ujar Rumi meminta.
Bibi Irene terkejut begitu melihat Rumi yang membawa Raisa yang terluka parah.
"Ikuti aku," kata Bibi Irene
Bibi Irene langsung mengantarkan Rumi ke tempat Bibi Sierra berada. Di sana, Bibi Sierra sedang mengecek kondisi para warga yang mungkin saja ada yang terluka. Namun, semua tampak baik-baik saja.
"Sierra, ada pasien darurat. Dia sepertinya kritis!" ucap Bibi Irene
"Ya ampun, Raisa!" kaget Bibi Sierra saat melihat pasien darurat yang dimaksud Bibi Irene.
"Bawa dia ke ruang tertutup. Lewat sini," kata Bibi Sierra
Bibi Sierra langsung menuntun jalan bagi Rumi yang membawa Raisa ke suatu ruangan. Di sana telah tersedia peralatan medis darurat jika diperlukan. Rumi pun membaringkan tubuh Raisa di atas pembaringan yang ada di sana. Tangan Rumi bergetar hebat saat menaruh tubuh Raisa di atas pembaringan.
"Tenangkan dirimu, Rumi. Kau bisa menunggu di luar," ucap Bibi Sierra
Rumi mengangguk mengerti.
"Bagaimana pun caranya, tolong selamatkan Raisa," pinta Rumi dengan nada memohon.
"Akan kulakukan yang terbaik yang kubisa," kata Bibi Sierra
Dengan langkah dan hati yang berat, Rumi meninggalkan ruangan tersebut. Memberi Bibi Sierra keleluasaan dalam bertindak untuk menyelamatkan Raisa dari bahaya kematian.
"Yang lain, ikuti aku untuk diobati," kata Bibi Irene
"Kami baik-baik saja. Sebelum terluka parah, Raisa sudah memulihkan tenaga kami dengan mentransfer tenaga sihirnya," ucap Devan
"Hanya tenaga kalian yang pulih, luka kalian tetap harus diobati," ujar Bibi Irene
"Aku tetap di sini," kata Rumi
Akhirnya semua ikut Bibi Irene untuk mengobati luka. Kecuali Rumi yang ingin menunggu kabar Raisa dan tetap berada di sana.
Di dalam ruang penanganan, ada Nyonya Sunny yang sejak awal ada di sana untuk membantu Bibi Sierra melakukan tindakan.
Waktu terus berputar. Setelah penanganan berlangsung lama, Nyonya Sunny ke luar dari ruangan. Wajah lelahnya terlihat lesu. Ia menghela nafas berat.
"Bagaimana dengan kondisi Raisa?" tanya Tuan Nathan yang menemani Rumi menunggu kabar di sana.
"Kami tidak bisa mengembalikan detak jantungnya. Lukanya terlalu parah dan banyak kehilangan darah," jawab Nyonya Sunny
"Raisa telah berjanji tidak akan meninggalkan aku," gumam Rumi bersedih.
"Kami kehilangan dia. Maaf ... " kata Nyonya Sunny
"Setidaknya, aku ingin melihatnya sekali lagi," ucap Rumi berusaha tegar walau hatinya sangat kacau dan telah hancur karena terpaksa menerima kenyataan.
"Aku butuh bantuan!" teriak Bibi Sierra dari dalam ruang penanganan.
Nyonya Sunny pun bergegas kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada apa, Sierra?" tanya Nyonya Sunny
"Dia mengeluarkan air mata dan sekilas aku melihat jari tangannya bergerak, tanda-tanda kehidupannya telah kembali," ungkap Bibi Sierra
"Aku akan membantumu," kata Nyonya Sunny
"Apa yang sedang terjadi di dalam?" tanya Rumi
__ADS_1
"Raisa mungkin kembali. Lihat, mereka melakukan ulang penanganannya, itu pertanda baik! Kau bisa tenang, Rumi ... " jelas Tuan Nathan
"Masih belum," gumam Rumi
Rumi kembali berharap-harap cemas. Walau penanganan dilakukan kembali, ia masih brlum bisa tenang sebelum Raisa membuka kembali matanya.
Setelah penanganan dilakukan kembali dalam waktu yang lama, Nyonya Sunny ke luar dari ruang penanganan lagi.
"Raisa! Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Rumi
"Nafas dan detak jantungnya kembali lagi. Namun, dia sedang dalam kondisi kritis dan membutuhkan banyak darah. Kami butuh transfusi darah dengan golongan AB resus +, tolong segera carikan," jelas Nyonya Sunny
"Aku mengerti! Aku akan memerintah orang untuk mengumpulkan orang-orang yang bergolongan darah yang sama," ucap Tuan Nathan
Rumi menghela nafas pendek. Walau ada kabar baik, raut wajahnya masih terlihat cemas. Karena Raisa dalam kondisi yang masih memprihatinkan, kritis, dan belum sadarkan diri, juga butuh banyak donor darah.
"Tenanglah, Rumi. Raisa adalah orang baik dan merupakan penyelamat desa serta banyak orang, pasti banyak yang bersedia mendonorkan darah untuknya. Raisa pasti bisa segera sadar," tutur Tuan Nathan
"Anda benar. Raisa pasti bisa melewati masa kritisnya," kata Rumi
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ujar Tuan Nathan
Rumi mengangguk pelan.
Tuan Nathan beranjak pergi untuk menyampaikan perintah pencarian pendonor darah.
Benar kata Tuan Nathan, banyak orang yang bersedia mendonorkan darah. Walau semua tetap harus melewati tahap seleksi untuk bisa mendapat donor darah yang cocok dan aman, setidaknya Raisa bisa bertahan untuk bisa melewati masa kritisnya.
Rumi terus menunggu di luar ruangan di mana Raisa berada. Terus menunggu dalam waktu lama di sana, Morgan dan Aqila mendatanginya sambil membawakan makanan.
"Sudah kuduga ... kau pasti masih ada di sini," kata Morgan
"Ini, kami bawakan makanan untukmu. Makanlah dulu," ujar Aqila seraya memberikan bingkisan berisi makanan untuk Rumi.
Rumi menerima pemberian Aqila dengan tidak bertenaga. Ia masih malas melakukan apa pun selain menunggu Raisa sadar.
"Kalian hanya berdua? Mana yang lain?" tanya Rumi
"Mereka bilang tidak ingin mengganggumu. Kalau mereka datang pasti akan banyak bicara dan menambah rasa pusingmu, jadi mereka hanya menitip salam untukmu," ungkap Morgan
"Makanlah dulu, Rumi. Kau tidak ingin membuat Raisa sedih saat sadar nanti ketika dia melihatmu seperti ini, kan? Setidaknya kau harus punya tenaga untuk terus menjaga Raisa ke depannya," ucap Aqila
"Rumi, orang sakit itu harus merasa senang supaya bisa cepat sembuh. Jika Raisa sedih saat melihatmu lesu seperti ini saat sadar nanti, yang ada dia tidak akan sembuh dan pulih lagi. Jadi, kau harus makan untuk menjaga kondisimu agar tetap fit sampai Raisa sadar," tutur Morgan
"Tidak usah khawatir, Rumi. Raisa orang yang kuat, dia juga tidak akan mengingkari janjinya untuk tidak meninggalkanmu," kata Aqila
"Kalian benar. Terima kasih," ucap Rumi
Dengan sedikit bujukan, Rumi akhirnya bersedia untuk makan agar bisa terus menunggu dan menjaga Raisa.
Setelah beberapa hari memastikan situasi keseluruhan desa telah aman dari ancaman, warga yang dievakuasi telah dipulangkan. Semua beraktivitas seperti biasa walau mungkin kebanyakan warga menjadi cemas setelah ancaman datang berulang kali.
Raisa pun dibawa ke rumah sakit yang sesungguhnya dengan peralatan medis lengkap akan mudah memberi penanganan lanjutan. Namun, setelah lewat beberapa hari, Raisa belum juga sadar.
Rumi pun terus berada di rumah sakit. Menunggu dan menjaga Raisa.
Hari ini, Tuan Nathan selaku Pemimpin Desa datang menjenguk Raisa secara berkala. Ia selalu menanyai perkembangan Raisa secara langsung pada Bibi Sierra sebagai penanggung jawab atas Raisa selaku pasiennya.
Saat ini, Tuan Nathan sedang berada di dalam ruang pribadi Kepala Rumah Sakit untuk berbincang dengan Bibi Sierra. Namun, seperti biasa tak ada yang dapat Bibi Sierra laporkan. Karena Raisa tetap dalam masa kritisnya dan berada dalam kondisi KOMA. Statis, tak ada perkembangan. Baik itu ke tahap yang lebih baik atau menjadi lebih buruk.
"Kalau memang tidak ada perkembangan, kenapa kau jadi cemas? Apa yang kau khawatirkan?" tanya Tuan Nathan
"Itulah masalahnya. Sampai kapan Raisa terus seperti ini. Kalau terus seperti ini, bagaimana dengan keluarganya?" ujar Bibi Sierra bertanya.
"Lalu, ada satu hal lagi. Mungkin kita perlu bantuan dari Profesor Tono," lanjut Bibi Sierra
"Bantuan seperti apa?" tanya Tuan Nathan
"Pemeriksaan lanjutan. Aku menyadari sesuatu yang aneh pada tubuh Raisa. Nadinya berdenyut sangat lemah, bukan hanya karena kondisinya yang sedang kritis. Tenaga di dalam tubuhnya seperti menghilang. Jika diperiksa menggunakan sihir, memang masih ada sedikit tenaga yang tersisa, tapi sepertinya itu bukan tenaga sihirnya. Itu hanya tenaga biasa miliknya, sedangkan tenaga sihirnya seolah lenyap dan tidak tersisa," jelas Bibi Sierra
"Kalau begitu, panggillah Profesor Tono untuk datang ke rumah sakit. Katakan saja, aku yang memintanya datang," ujar Tuan Nathan
"Baiklah, sesuai katamu. Aku akan memanggilnya datang ke sini," kata Bibi Sierra
Setelah dipanggil, Profesor Tono pun datang dengan membawa alat pemeriksaan sihir modern miliknya. Di bawah pengawasan Bibi Sierra dan Tuan Nathan, Profesor Tono pun melakukan pemeriksaan pada tubuh Raisa.
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Profesor Tono pun mengatakan hasil pemeriksaan pada Tuan Nathan dan Bibi Sierra. Saat menjelaskan hasilnya, Profesor Tono menghela nafas berat. Tuan Nathan dan Bibi Sierra pun terkejut mendengar penuturan Profesor Tono atas hasil pemeriksaan tubuh Raisa.
"Sangat disayangkan. Padahal sudah sejak lama aku ingin bertemu dengan Nona Raisa untuk melakukan penelitian tentang kemampuan sihirnya yang sangat luar biasa dan beranega ragam," ujar Profesor Tono
"Terima kasih sudah bersedia datang di tengah kesibukanmu, Profesor Tono," ucap Tuan Nathan
"Tidak perlu sungkan, Tuan. Ini juga sudah seperti pekerjaan saya sendiri," kata Profesor Tono
"Maaf, tidak bisa mengantar Anda, Profesor. Kami masih perlu melakukan sesuatu di sini," ucap Bibi Sierra
"Tidak masalah. Kalau begitu, saya pamit pergi dulu. Permisi ... " ujar Profesor Tono
Profesor Tono pun beranjak pergi dari sana.
"Sekarang, kita butuh keterangan saksi atas apa yang telah terjadi pada Raisa," kata Bibi Sierra
Tuan Nathan pun mengangguk mengerti.
Ingin memanggil saksi, Tuan Nathan dan Bibi Sierra pun menanyai Rumi yang selalu setia berada di rumah sakit untuk menemani dan menjaga Raisa. Rumi adalah saksi pertama yang memberi pernyataan.
"Rumi ... kami mengerti jika kau masih bersedih atas kondisi Raisa, tapi sudah lewat beberapa hari setelah musibah terjadi. Kami harus tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi pada Raisa?" ujar Bibi Sierra bertanya.
"Demi menyelamatkan kami dari Sang Dewa, terlebih lagi ketika Sang Dewa mengincarku, Raisa mengorbankan dirinya. Sebagai syarat untuk meminta Sang Dewa pergi dari desa ini, Raisa rela Sang Dewa mengambil inti sihir miliknya. Sang Dewa mengambil inti sihir milik Raisa dari dalam jantungnya yang artinya Raisa harus kehilangan nyawa. Beruntung sekali, Raisa masih bisa bertahan dan kembali hidup," ungkap Rumi
Mendengar penjelasan Rumi, tidak heran jika Raisa mengalami kondisi seperti sekarang ini. Dan setelah memanggil saksi kejadian satu per satu, yaitu, Morgan, Aqila, Chilla, Ian, dan Devan. Semua saksi mengatakan hal yang sama seperti yang Rumi katakan.
.
•
Bersambung...
__ADS_1