Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
17 - Masih Di Sini.


__ADS_3

Raisa menyadari bahwa mereka semua yang hadir adalah orang yang berperan sama untuk memastikan kebenaran tentangnya dengan pembicaraan yang menyelidik.


"Sudahlah. Kami hanya mau mendengar ceritanya langsung dari mulutmu sendiri yang telah Aqila dan yang lain katakan. Sekarang, tunjukkan dan jelaskan seperti apa saja kekuatanmu. Aku sudah pernah melihatnya langsung, tapi sepertinya kemampuanmu masih banyak," ujar Paman Elvano


"Aku-"


Raisa pun menunjukan sedikit dan menjelaskan tentang kekuatannya. Dari yang kecil sampai yang menurutnya berbahaya.


Semua pun menyaksikan. Akan warna-warni dari kekuatan Raisa~


"Luar biasa ... Menakjubkan," tutur Paman Aiden memuji.


Raisa berseri mendengar pujian dari Paman Aiden.


"Mengetahui kepribadianmu, aku sangat senang mendengar pujianmu. Terima kasih, Paman Aiden," ucap Raisa yang tersenyum senang.


"Kemampuanmu hebat. Tapi, gaya bertarungmu terlalu gegabah dan ceroboh," ungkap Tuan Keanu mengkritik.


"Benar. Aku pun mengakui dan menyadarinya. Sudah kuakui, bahwa aku naif dan tidak berpengalaman. Sebenarnya, saat itu, kali pertamaku melakukan pertarungan. Aku tidak pandai bahkan tidak mengerti untuk membuat strategi. Yang kupikirkan hanyalah cara memenangkan pertarungan dengan cepat dengan mengandalkan semua kemampuan yang kupunya agar dapat menyelamatkan semua orang. Itu sebabnya aku ceroboh menyebabkan diriku sendiri terluka," ungkap Raisa mengaku.


Lalu, Raisa menjelaskan mengapa dirinya tidak memiliki pengalaman bertarung. Ia mengungkapkan keberadaan sihir yang dimilikinya sudah langka di dunianya. Bahkan mungkin terdengar mustahil! Itulah sebab gaya bertarungnya terlihat gegabah dan sangat ceroboh. Keberadaannya yang mempunyai kemampuan sihir dinilai spesial di dunianya.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya setelah keluar dari rumah sakit?" tanya Paman Nathan


"Sepertinya aku akan menetap beberapa waktu untuk benar-benar memastikan kondisiku telah pulih. Setelah itu aku baru kembali pulang ke dimensi asalku. Aku melakukannya agar keluargaku di sana tidak khawatir saat melihat kondisiku yang kurang sehat. Aku mohon izin dari Paman dan semuanya untuk memperbolehkanku tinggal. 3 hari saja," jelas Raisa


"Lalu, kau akan tinggal di mana? Apa kami harus menyediakan tempat untukmu tinggal di sini?" tanya Nyonya Tanaya


"Tidak perlu sampai seperti itu. Aku berencana menginap di rumah teman Morgan, kalau diizinkan. Tapi, terlebih dulu, aku mohon izin pada Paman Nathan dan semua petinggi di sini," jawab Raisa


"Apa kau mau tinggal di rumah Bibi bersama Aqila?" tanya Bibi Sierra


"Tidak. Aku tidak mau mengganggu keharmonisan keluarga kalian jika aku menginap. Mengingat Paman Elvano ada di desa, Paman kan jarang sekali ada di rumah. Aku akan menginap di rumah teman perempuan Morgan. Berunding dan meminta izin langsung dengan yang bersangkutan jika memang diperbolehkan untukku menginap," ucap Raisa


"Kau tidak perlu memedulikanku. Aku juga akan pergi sebentar lagi," kata Paman Elvano


"Itu terserah, Paman. Tapi, jika boleh menyarankan. Tinggallah lebih lama. Bukankah Paman ingin menjadi dekat dengan Aqila? Setelah terjadi kejadian itu, Aqila pasti butuh dan menginginkan Paman berada di dekatnya. Ah, aku tidak sopan terlalu ikut campur. Hak Paman untuk menentukan," ujar Raisa memberi saran.


Paman Elvano pun terlihat seperti berpikir.


"Apa yang Raisa katakan benar. Kau cobalah memikirkannya terlebih dulu," saran Paman Nathan pada Paman Elvano.


"Kau berpikir untuk menetap sementara itu bagus. Rencana di mana kau akan tinggal, terserah padamu jika kau tidak ingin kami menyediakan tempat untukmu juga tak apa. Tapi, kau pasti butuh biaya selama kau di sini," ucap Paman Nathan pada Raisa.


"Ambillah ini ... sejumlah uang. Anggap saja kau yang membantu kami adalah telah berhasil menyelesaikan tugas untuk kami. Ini sejumlah yang setara dengan menyelesaikan 3 misi besar. Kira-kira cukup untukmu selama 3 hari jika kau mampu menghematnya," sambung Paman Nathan


"Eh? Aku tidak perlu menerima ini. Aku sudah sangat merepotkan telah menghabiskan banyak biaya di rumah sakit dan tidak membayarnya. Akan tidak adil jika aku mengambil uang itu juga. Apalagi uang dengan jumlah banyak seperti itu," tolak Raisa dengan halus.


"Raisa, kau benar-benar naif! Kau telah mengakuinya dan sekarang kau mengabaikan uang itu. Kau juga pasti tau, walau kau hanya hidup untuk 3 hari pun, kau tetap memerlukan biaya hidup, di mana pun kau berada. Kau terimalah uang itu. Jika kau tidak ingin merepotkan orang lain, setidaknya itu bisa sedikit meringankanmu," ucap Nyonya Tanaya


DEG!

__ADS_1


Raisa terlihat sedikit tersentak mendengar ucapan Nyonya Tanaya. Mendengarnya membuat hatinya tergores karena kata-katanya yang tajam kian menusuk. Belum pernah Raisa mendapat perlakukan seperti ini. Lagi-lagi, ini pertama kali baginya.


Paman Nathan dan Bibi Sierra terlihat tak enak hati saat melihat Raisa yang lembut mendengar perkataan yang tajam. Walau mereka berdua mengetahui, sikap Nyonya Tanaya memang seperti itu adanya... Mereka menduga, Raisa tak pernah mendapat perlakuan demikian di dunianya. Keduanya gelisah, takut Raisa rapuh setelahnya.


*Hanya Paman Nathan dan Bibi Sierra yang merasa tak enak hati. Sedangkan yang lainnya merasa tak peduli karena memang sikap mereka seperti itu.


"Tapi, setara dengan 3 misi itu apa maksudnya?" tanya Raisa


"Kau yang banyak menolong kami dinilai setara dengan 3 misi yaitu... Menaklukan musuh, ikut dalam pertarungan dan membunuh musuh, dan juga kau yang memastikan Morgan dan teman-temannya aman selama di dimensi asing adalah bentuk pengawalan. Bahkan kau sampai menyembuhkan merela semua yang terluka," jelas Paman Rafka


"Tapi, Nyonya Tanaya yang membunuhnya 'Sang Dewa' itu. Aku tidak melakukannya," elak Raisa


"Kalau bukan karena kau yang sanggup membekukan musuh, Nyonya Tanaya tidak akan sanggup menghabisinya," ungkap Tuan Keanu


"Benar. Maka, ambilah uang itu," kata Nyonya Tanaya


Raisa terlihat merenungkan ucapan tersebut meskipun Dengan cepat ekspresi Raisa berubah. Beberapa detik kemudian, Raisa tersenyum penuh arti. Ekspresi Raisa itu membuat Paman Nathan dan Bibi Sierra heran kebingungan.


"Yang Nyonya Tanaya katakan benar! Aku benar-benar naif! Seharusnya, aku berpikir lebih logis. Baiklah. Aku terima uang ini. Terima kasih, Paman. Terima kasih, semuanya," ucap Raisa


Paman Nathan dan Bibi Sierra terkejut atas respon Raisa yang melenceng dari dugaan mereka. Namun, keduanya merasa lega melihat Raisa bisa menyikapinya dengan baik dengan berpikir secara logika.


Raisa pun mengambil dan menerima amplop berisi uang yang diberikan Paman Nathan, lalu memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.


"Sama-sama. Lega rasanya pembicaraan ini sudah berakhir. Kau bisa kembali, Raisa. Yang lain pasti menunggumu di luar," ujar Paman Nathan


"Kalau begitu, aku juga kembali bersama Raisa. Aku akan kembali ke rumah sakit," kata Bibi Sierra


"Sekali lagi, kuucapkan terima kasih banyak. Kalau begitu, aku permisi," ujar Raisa


Raisa dan Bibi Sierra pun sama-sama berbalik beranjak pergi.


"Bibi Sierra ... kalau aku tidak mendapat tumpangan untuk menginap, apa kamar pasien bekasku sebelumnya masih kosong? Bolehkan aku menginap di kamar tersebut jika tidak dapat tempat menginap?" tanya Raisa seraya berbisik.


"Kau pasti dapat tempat menginap. Teman Morgan pasti memperbolehkannya. Kalau tidak, aku bisa pikirkan tentang ruangan itu. Kau datanglah padaku jika demikian," balas Bibi Sierra berbisik.


"Iya juga, sih. Teman Morgan pasti berbaik hati memperbolehkanku menginap. Kalau aku menginap di ruangan rumah sakit lagi justru akan tambah merepotkan. Maaf ya, Bibi. Terima kasih juga... Paman Nathan yang memberiku biaya misi pasti ada sangkut-pautnya dengan Bibi Sierra yang memberitau jika aku tidak bisa membayar biaya rumah sakit," bisik Raisa


"Tidak kok. Dia memang sudah memikirkannya dan ingin memberikannya padamu uang itu," bisik Bibi Sierra


"Ah, benar juga. Paman pasti berbesar hati memikirkan kondisiku. Baik itu, teman Morgan ataupun Paman Nathan kan orang yang baik. Pemikiranku saja yang terlalu sempit dan dangkal. Pikiranku sedikit tercerahkan sejak ke sini," bisik Raisa


Bibi Sierra terkekeh kecil mendengar ucapan Raisa. Raisa memang agak lugu, polos pemikirannya.


...'Jika tidak dapat tempat menginap aku bisa membuat tembok yang melindungiku seperti tenda waktu itu dengan sihir tanah. Untuk sementara, itu bisa untuk berlindung saat istirahat di malam har,' batin Raisa berpikir keras....


Raisa dan Bibi Sierra pun keluar dari ruangan tersebut. Di luar ruangan, ternyata masih terdapat yang menunggu Raisa.


"Kenapa lama sekali? Memang apa saja yang dibicarakan di dalam?" tanya Morgan


"Penyakit penasaranmu kambuh lagi. Ada lah yang dibicarakan. Hanya hal-hal kecil, pembicaraan santai saja kok," jawab Raisa

__ADS_1


"Hei, kata-katamu tidak menjawab pertanyaanku, tahu ... " kesal Morgan


"Mama, urusanmu di sini juga sudah selesai?" tanya Aqila


"Sudah. Aku akan kembali ke rumah sakit. Kita berpisah disini saja ya. Raisa kan juga sudah bersama yang lain, katanya kau juga mau bicara dengan temanmu kan," ucap Bibi Sierra


"Iya. Terima kasih ya, Bibi Sierra," kata Raisa


"Tidak perlu sungkan. Aku pergi dulu," kata Bibi Sierra


"Hati-hati, Mama ... " pesan Aqila


Bibi Sierra pun pergi kembali menuju rumah sakit mendahului yang lain.


"Kau ingin bicara dengan kami, Raisa?" tanya Morgan


"Tidak denganmu, tuh ... " kata Raisa


"Kau suka sekali membuat orang kesal," kata Morgan


"Tidak juga. Aku hanya senang melihat kau kesal. Ekspresimu yang kesal itu terlihat lucu," enteng Raisa diiringi kekehannya.


Raisa dan yang lain pun keluar gedung kantor dengan mengobrol santai.


"Oh ya, yang lainnya kemana?" tanya Raisa saat menyadari jumlah mereka berkurang dari sebelumnya.


Selelah Devan, Ian, Chilla. Billy, Marcel, Dennis pergi, hanya tersisa Morgan, Aqila, Rumi. Sanari, Amy, dan Wanda.


"Yang lainnya pergi karena ada urusan," jawab Rumi


Raisa pun mengangguk mengerti.


"Sebenarnya, tadi kau membicarakan apa di ruangan pemimpin desa?" tanya Wanda


"Mereka menanyakanku seperti awalnya kalian. Jawabannya sama, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi dengan kalian. Tapi, karena kalian sudah menceritakan tentangku dengan mereka, jadi aku sedikit terbantu tidak perlu lagi menjelaskan pada mereka dengan rinci. Hanya menceritakan yang penting saja. Terima kasih loh. Aku jadi sedikit terbantu," jelas Raisa


"Hmm~ Oh ya, Sanari, boleh aku bicara sebentar denganmu berdua saja?" ujar Raisa bertanya.


"Boleh saja," kata Sanari


Raisa pun menarik Sanari untuk sedikit menjauh dari yang lainnya. Raisa mengajak Sanari bicara berdua. Raisa meminta izin Sanari untuk menginap di rumahnya jika diperbolehkan. Mengingat Sanari yang sebatang kara, Raisa lebih memilih menginap di rumahnya jika diizinkan.


"Kalian tunggu sebentar," kata Raisa pada yang lain supaya tidak mendekat


"Apa-apaan lagi dia itu!? Mengajak Sanari bicara berdua mau merahasiakan sesuatu dari kita," jengkel Morgan


"Sebenarnya, apa yang mereka berdua bicarakan?" tanya Amy



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2