Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 133 - Mengaku Sudah Menikah.


__ADS_3

Raisa yang berada di atas mini stage dan Rumi yang berada di bawah saling memandang dan tersenyum.


"Bukannya Rumi juga bisa nyanyi, ya? Aku pernah lihat di instastory-nya manager Raisa waktu pesta pernikahan mereka berdua."


"Iya, aku juga lihat videonya. Suara Rumi bagus."


"Nyanyi juga dong, Rumi. Nyanyi bareng Raisa!"


"Ya, duet!"


"Nyanyi ... nyanyi!"


"Raisa, Rumi ... nyanyi!"


Seperti itulah para pelanggan di Kafe Putri bersorak meminta pasangan suami istri itu untuk bernyanyi duet.


Raisa dan Rumi yang masih memandang satu sama lain seolah saling mengirimkan isyarat lewat tatapan mata keduanya.


Raisa yang menatap sang suami mengirim isyarat dengan tatapan mata dan seolah bertanya, "apa kau ingin memenuhi keinginan para pelanggan? Apa kau bersedia dan bisa bernyanyi sekarang ini?"


Rumi membalas isyarat tatapan mata sang istri dengan anggukan singkat dan seolah berkata, "ya, aku bisa bernyanyi sekarang."


Raisa pun membalas isyarat sang suami dengan anggukan kecil pula dan seolah membalas, "kalau begitu, naiklah ke atas sini bersamaku."


Rumi tersenyum, lalu pria itu pun berjalan naik ke atas mini stage untuk menghampiri dan berdiri di samping sang istri.


Para pelanggan pun bersorak sambil tepuk tangan dengan antusias karena ingin melihat dan mendengar Raisa dan Rumi bernyanyi duet di atas panggung mini tersebut.


"Apa kau yakin ingin bernyanyi denganku di depan para pelanggan kafe ini?" tanya Raisa sambil berbisik.


"Ya, aku akan bernyanyi bersamamu," jawab Rumi sambil berbisik.


"Baiklah. Kau saja yang putuskan lagu duet yang dinyanyikan oleh penyanyi pria dan wanita. Kau pernah mendengar sejumlah lagu di ponselmu, kan? Jadi, kau ingin bernyanyi lagu siapa dengan judul apa?" tanya Raisa sambil berbisik lagi.


"Afgan dan Raisa, percayalah ... " jawab Rumi sambil berbisik pula.


"Baiklah," bisik Raisa


Raisa menoleh ke arah Hasna yang siap membantu menyalakan musik. Wanita itu memberi isyarat dengan gerakan bibir dan memberi tahu pada temannya bahwa akan menyanyikan lagu dengan judul Percayalah dari Afgan dan Raisa.


Hasna pun mengangguk tanda mengerti setelah berhasil menangkap maksud dari gerak bibir sahabatnya itu. Raisa menunggu hingga musik siap diputar. Lalu, Hasna pun mengacungkan jempolnya dan musik telah mulai diputar.


Raisa pun beralih menatap sang suami yang berada dan berdiri tepat di sampingnya.


"Apa kau siap, Rumi? Kau sudah hafal lirik lagunya, kan?" tanya Raisa sambil berbisik.


"Ya, aku siap dan sudah hafal seluruh isi lirik lagunya," jawab Rumi yang disertai anggukan kecil kepalanya.


Dengan satu standing mic, Raisa dan Rumi bergantian menggunakannya untuk bernyanyi atau memakainya bersamaan di waktu menyanyikan lagu pada lirik yang sama.


Aku yang tak akan melepaskan


Kamu yang mengenggam hatiku


Kita tak kan mungkin terpisahkan


Biarlah terjadi apapun yang terjadi


Aku yang tak bisa melepaskan


Kamu yang miliki hatiku


Walau mungkin terlalu cepat


Bagi kita berdua


Untuk mengatakan


Selamanya kita akan bersama


Melewati segalanya


Yang dapat pisahkan kita berdua


Selamanya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah


Aku yang tak bisa melepaskan


Kamu yang mengenggam hatiku


Walau mungkin terlalu cepat

__ADS_1


Bagi kita berdua


Untuk mengatakan


Selamanya kita akan bersama


Melewati segalanya


Yang dapat pisahkan kita berdua


Selamanya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah


Hanya dirimu satu-satunya


Tercipta untukku


Houou.


Selamanya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Tak kan ada keraguan


Kini dan nanti


Percayalah~~


Seperti itulah lirik lagu yang dinyanyikan bersama oleh Raisa dan Rumi yang berduet di atas panggung mini kafe.


Para pelanggan pun bersorak san bertepuk tangan dengan meriah sambil meneriakkan bahwa Raisa dan Rumi sangat cocok, serasi, dan juga romantis.


Setelah itu pun Raisa dan Rumi turun dari mini stage sambil saling bergenggaman tangan dengan mesra. Sorakan para pelanggan pun terdengar semakin heboh begitu menyaksikan kemesraan antara pasangan suami istri itu.


"Sepertinya lagu ini penyanyinya bukan lagi Afgan dan Raisa, tapi Rumi dan Raisa."


"Ya, dua pasangan ini lebih cocok. Apa lagi yang ini pasangan suami istri."


Seperti itulah tanggapan para pelanggan. Tentunya penyanyi bernama Raisa yang berduet dengan Afgan dan yang berduet dengan Rumi adalah orang yang sangat jelas berbeda.


Begitu turun dari mini stage, Raisa tak tinggal diam saja. Ia kembali membantu aktivitas di dalam kafe tersebut. Kali ini wanita itu beralih melayani pelanggan yang memesan. Mencatat dan mengantar pesanan seperti seorang waitress. Rumi mencoba melarang dan menyuruh istrinya untuk istiratat. Namun, Raisa bersikeras ingin membantu bekerja.


"Raisa, kau istirahat saja," ucap Rumi


"Aku sudah berhenti sebentar tadi," ujar Raisa


"Tadi kau itu bernyanyi bukan istirahat," kata Rumi


"Tapi, pelanggan masih banyak. Kalau pelanggannya sudah berkurang banyak atau jika aku merasa lelah, aku akan duduk untuk istirahat. Tenang saja," ucap Raisa


"Baiklah, terserah kau saja. Tapi, ingat ... jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri," ujar Rumi mengingatkan sang istri.


Raisa langsung mengangguk sambil tersenyum manis. Rumi pun membalas senyuman itu sambil membelai rambut dan pipi sang istri dengan lembut dan mesra.


Semakin lama soraksn para pelanggan semakin histeris saat melihat perlakuan Raisa dan Rumi yang semakin mesra saja. Mungkin para pelanggan yang menyaksikan keduanya sudah seperti es krim yang meleleh karena terkena sinar matahari.


Begitu pelanggan sudah semakin berkurang, barulah yang bekerja bisa duduk sejenak sambil menghela nafas. Raisa, Andien, Hasna, Maura, Nilam, dan ketiga pegawai kafe baru tersebut langsung terduduk begitu saja di mana pun tempat yang bisa digunakan untuk duduk. Mereka semua berusaha untuk melepas rasa lelah.


Hanya Rumi saja yang tidak duduk dan tetap berdiri. Namun, tangan pria itu masih saja berkesempatan untuk saling bertautan dengan Raisa karena posisi keduanya yang saling berdekatan.


"Rumi, apa kau tidak mau duduk? Duduklah di sampingku," ujar Raisa


"Tidak apa. Aku seperti ini saja," kata Rumi


"Kau sudah berusaha keras. Kau pasti merasa lelah," sambung Rumi sambil membelai kepala sang istri dengan penuh kelembutan.


"Kau pun sudah banyak membantuku. Terima kasih," ucap Raisa sambil tersenyum lembut.


"Kalian semua juga. Terima kasih untuk hari ini. Kita semua sudah berusaha keras. Kerja bagus, semuanya!" seru Raisa menambahkan bicaranya pada teman-teman dan ketiga pegawainya.


Semua aktivitas di dalam kafe tersebut tak luput dari rekaman sang kamera-man yang diberi izin untuk masuk ke dalam sana. Terutama dengan keromantisan antara Raisa dan Rumi.


Saat Raisa masih beristirahat, kedua wartawan yang diizinkan masuk pun menghampirinya.

__ADS_1


"Permisi, maaf. Raisa, bagaimana kalau kita wawancara sekarang saja?"


"Benar juga. Oke, kalian mau wawancara di mana? Bagaimana kalau kita wawancara di luar aja? Sekalian dengan teman wartawan yang lain juga supaya bisa wawancara bareng dan gak ada yang tertinggal," ujar Raisa


"Oke. Kalau begitu, Raisa ... ikut kami ke luar, ya."


"Tapi, Raisa ... kau baru sebentar istirahat di sini," kata Rumi seolah menahan sang istri untuk pergi memenuhi wawancara para wartawan.


"Tidak apa. Lebih cepat diselesaikan, maka lebih baik. Para wartawan juga tidak perlu terus menunggu di sini karena mereka semua pasti ingin beristirahat dari pekerjaan mereka juga," ucap Raisa


"Supaya kau tidak khawatir dan tetap tenang, kau genggamlah tanganku agar aku tidak terjatuh meski aku merasa lelah dan jangan tinggalkan aku," sambung Raisa


"Baiklah. Mari, Nyonya ... " Rumi langsung mengulurkan tangannya tepat di hadapan sang istri.


Raisa tersenyum dan langsung menerima uluran tangan sang suami. Rumi pun membantu istri cantiknya untuk bangkit berdiri dari posisi duduknya.


Lagi-lagi, semua itu tak luput dari rekaman sang kamera-man karena kamera yang dibawanya tidak pernah berhenti merekam sejak awal masuk ke dalam tadi.


Namun, kedua wartawan di sana sempat merasa takut dan merasa terintimidasi dengan tatapan Rumi saat pria itu seolah melarang Raisa untuk ikut sesi wawancara karena waktu istirahat saat itu.


"Terima kasih karena udah bersedia untuk diwawancarai."


"Sama-sama. Kalau begitu, mari kita ke luar," ujar Raisa


Raisa dan Rumi pun beranjak ke luar bersama kedua wartawan yang ada di dalam kafe untuk menemui para wartawan lainnya di luar kafe dan mengadakan sesi wawancara bersama.


Tangan Raisa dan Rumi yang saling bertautan tidak pernah lepas.


"Semuanya, ayo! Raisa mau diwawancara!" seru salah satu wartawan yang baru saja ke luar dari Kafe Putri.


"Genggaman tangannya gak pernah lepas kayaknya, nih ...."


"Ayo, cepat sorot!"


"Tenang, semuanya. Tanyanya satu per satu, ya. Karena hari ini bertepatan dengan pembukaan kafe baru saya, pertanyaannya seputar Kafe Putri dulu, ya," ujar Raisa sambil tersenyum.


Semua wartawan pun berkumpul dan mulai mengajukan pertanyaan dari sekesar basa-basi.


"Raisa, Rumi, apa kabar?"


"Kami berdua sangat baik." Kali ini Rumi-lah yang menjawab pertanyaan pembuka.


"Raisa, apa alasan kali ini memilih untuk buka kafe?"


"Alasan utamanya pasti untuk cari pundi-pundi rezeki, ya, tentunya. Lalu, karena sudah kurang lebih bekerja di bidang entertaint, saya mau punya dan buka usaha sendiri. Ini emang udah direncanakan," jawab Raisa


"Kalau ditanya, kenapa harus kafe? Jawabannya karena saya hanya ingin dan memang sempat terpikir ingin membuka kafe. Lalu, sampai sekarang kafe juga tempat yang sering dicari untuk nongkrong, ngumpul, dan banyak tujuan lainnya selain makan dan minum," sambung Raisa


"Kalau begitu, kenapa dikasih nama Kafe Putri? Kenapa gak Princess's Cafe, supaya lebih keren? Atau gak sekalian aja nama gabungan Raisa dan Rumi, Rami's Cafe ... misalnya?"


"Selain emangg saya tipe orang yang lebih suka pakai dan pecinta bahasa Indonesia, nama Putri ini adalah bagian dari nama asli saya sendiri. Lebih tepatnya nama tengah saya," ungkap Raisa


"Lalu, sebenarnya saya juga gak terpikirkan untuk pakai nama gabungan saya dan suami. Rumi, kau tidak marah, kan?" Raisa memberi umpan pertanyaan pada sang suami agar Rumi juga bisa ikut berbicara dan muncul pada liputan sesi wawancara kali ini.


"Tentu saja, tidak. Itu adalah hak dan kebebasanmu sebagai pemilik ingin memberi nama tempat usahamu seperti apa pun juga," jawab Rumi


"Lalu, saya pun sebelumnya memang tidak tahu kalau Raisa membeli sebuah pertokoan untuk dijadikan kafe. Karena itu memang rencananya sendiri bahkan saya pun tidak ikut campur sama sekali pada masalah kafe ini termasuk saat pembeliannya. Raisa memang baru membuka kafe ini sekarang, tapi istriku sudah merencanakan dan membeli kafe ini sendiri sejak lama sebelum kami menikah. Itu artinya kafe ini milik Raisa pribadi. Sebagai suami saya pun hanya bisa membebaskan dan tidak ingin mencampuri hal pribadi istri saya, termasuk untuk memberi nama pada kafe baru ini," sambung Rumi


"Suami dan istri ... menikah. Dengan menyebut kata-kata ini, artinya kalian berdua mengakui kalau kalian memang sudah menikah, kan?"


Kini tiba saatnya muncul pertanyaan tentang pernikahan antara Raisa dan Rumi.


"Kapan dan di mana pernikahan kalian berdua dilangsungkan? Kenapa pernikahan kalian seolah ditutup-tutupi dari media?"


"Itu sudah sebulan lebih, tepatnya pada tanggal hh-bb-20**, dilangsungkan di salah satu vila Puncak milik keluarga Raisa," ungkap Rumi


"Maaf, kami baru sempat memberi kabar pengakuan sejarang, tapi mohon jangan salah paham. Bukan bermaksud ingin menutup-nutupi, itu terjadi begitu saja karena saat itu pun sebenarnya kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Saat persiapan pernikahan pun kami berdua masih bekerja bahkan Rumi masih harus bolak-balik ke negaranya. Lalu, karena merasa telah lama menjalin hubungan dan gak tahan dengan hubungan jarak jauh, akhirnya kami memutuskan untuk meresmikan hubungan kami dengan ikatan pernikahan," jelas Raisa


"Kami berdua juga sudah sepakat hanya mengadakan pernikahan untuk kerabat dan keluarga dekat aja. Meski begitu, ada juga beberapa teman artis yang turut diundang dan hadir kok. Jadi, ini gak sepenuhnya ditutup-tutupi apa lagi dirahasiakan," sambung Raisa


"Emangnya udah berapa lama kalian berdua menjalin hubungan sebelum akhirnya menikah?"


Raisa dan Rumi saling menoleh dan menatap satu sama lain. Para wartawan merasa bingung saat melihat reaksi pasangan suami istri ini karena sepertinya Raisa dan Rumi juga terlihat bingung saat harus menjawab.


"7 tahun," ungkap Rumi


"Saya akan langsung melanjut jawaban dari Rumi. Pasti akan ada pertanyaan seperti ini, selama itu apa kalian berdua terus berpacaran? Atau sempat break atau putus? Atau malah putus-sambung, putus-sambung? Sebenarnya perasaan yang terjalin antara kami berdua memang udah selama 7 tahun, tapi kami berpacaran hanya selama 2 tahun," jelas Raisa


"Setelah 2 tahun, kami berdua pun putus dari masa berpacaran. Alasannya karena hubungan jarak jauh itu dan masalahnya ada pada saya bahkan saya juga yang minta putus. Saat itu saya menjelma jadi perempuan yang jahat karena minta putus padahal Rumi gak ingin itu terjadi. Saat itu saya punya rasa khawatir berlebih. Bukan khawatir Rumi berselingkuh melainkan khawatir yang seperti apa hubungan jarak jauh akan berhasil saat kita gak bisa terus bersama? Lalu, apa di sana dia baik-baik aja? Bagaimana kalau ternyata dia gak baik-baik aja dan mengalami luka? Saat itu saya langsung merasa pesimis dan gak percaya diri serta menganggap saya gak pantas karena gak bisa bersama dengan orang yang saya cinta saat masa sulit. Akhirnya saya memaksa untuk putus," sambung Raisa


"Saya benar-benar merasa diri saya sangat jahat saat itu. Apa lagi, meski begitu Rumi tetap bersikap baik terhadap saya padahal saat itu saya sempat sengaja menghilang dari hadapannya selama 3 hari lamanya. Meski sempat jadi canggung setelah itu kami berdua berbaikan dan meski gak menyatakan untuk kembali pacaran, nyatanya kami seperti dua orang yang berpacaran karena masih dan tetap saling mencintai. Setelah 4 tahun menjalin hubungan seperti itu, lagi-lagi saya menjadi perempuan yang sangat jahat. Karena yang biasanya entah itu saya yang pergi menemui Rumi di negaranya atau Rumi yang menemui saya di sini, saat itu saya melarang kami untuk saling bertemu kecuali hanya saling berkomunikasi lewat telepon. Sebenarnya saya minta waktu 5 tahun, tapi setelah itu di hari ulang tahunnya, Rumi datang dengan alasan ingin merayakan ulang tahunnya bersama saya di sini. Lalu, kami berhubungan seperti biasa lagi selama 9 bulan dan pada suatu hari tiba-tiba Rumi datang ke rumah untuk melamar saya hingga akhirnya kami berdua menikah setelah mempersiapkan ini dan itu selama 3 bulan," tambah Raisa


Ada satu kebohongan pada penjelasan Raisa. Saat mengatakan hanya berkomunikasi lewat telepon selama 4 tahun tidak bertemu, sebenarnya bukan lewat telepon sungguhan, melainkan lewat ular sihir sebagai media pengirim pesan suara. Namun, Raisa tidak mungkin mengatakannya dengan jujur seperti itu di hadapan para wartawan.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2