Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
48 - Tentang Raisa.


__ADS_3

Sebenarnya, Raisa masih merasa tak enak akan perbuatannya yang meluapkan emosinya. Namun, ia tak mau suasana menjadi canggung. Jadi, ia berusaha mengalihkan ke pembicaraan lain...


"Memang masih ada hal lain yang belum kau ceritakan? Apalagi yang mau kau ungkapkan? Tentang sihirmu lagi?" Tanya Chilla


"Benar. Masih seputar tentang sihir yang kukuasai. Dengan, Chilla, yang bertanya. Maka, kuanggap kalian juga mengizinkan aku melanjutkan bercerita lagi ya." Jawab Raisa yang mulai bersiap bercerita lagi.


"Silahkan saja... Saat ini kan kami memang mau menagih janjimu untuk menceritakan tentang kehidupanmu." Ucap Morgan


"Benar. Berceritalah, ungkapkan semua tentang dirimu. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi..." Ujar Rumi


Blush~


Lagi-lagi, jantung Raisa berdebar tak karuan akibat perkataan Rumi yang begitu ambigu. Rona merah kembali merekah pada pipi di wajahnya~


...'Berhentilah salah paham dengan perkataan Rumi, Raisa! Dia hanyalah lelaki polos yang bahkan tak mengerti arti ucapannya sendiri. Jadi, segeralah atur kembali detak jantungmu ini... Huft~ Tenangkanlah dirimu, Raisa.' Batin Raisa...


Raisa pun kembali mengotrol dirinya serta perasaannya. Berpikir kembali, apalagi yang harus dan yang belum ia ceritakan...


"Hampir semua sudah kuceritakan. Tapi, seperti ada yang terlewat... Sihir ilusi! Tapi, sihirku ini tidak sehebat keluarga turun temurun terdahulunya Aqila. Menurut tahapan dan caraku menggunakan sihir ini, ini termasuk sihir dasar. Jika, di dunia kalian ada sihir perubah wujud atau pengganda diri yang sering disebut sihir (pengganda) bayangan, bagiku semua itu termasuk sihir ilusi. Aku tidak bisa langsung menggunakan sihir seperti yang kusebutkan itu. Tapi, aku bisa menggunakan sihir ilusi yang kumiliki untuk membuat target yang kuinginkan melihat seolah seperti apa yang kuharapkan. Pokoknya, apa yang tidak bisa kulakukan bahkan dengan menggunakan sihirku yang lain, apabila kuingin melakukannya jika benar-benar terdesak, aku bisa menggunakan sihir ilusi. Membuat seolah-olah telah terjadi seperti apa yang kubayangkan dan pikirkan. Tapi, aku belum terlalu menguasai sihir ini dan kadang kala aku gagal saat menggunakannya. Aku juga jarang nenggunakan sihir ini sih. Memang, pada dasarnya aku harus berlatih dengan lebih keras dan rajin lagi." Ungkap Raisa


"Tanpa kau berlatih lagi pun, sepertinya untuk saat ini kemampuanmu sudah cukup untuk melindungimu dan orang-orang di sekitarmu. Kau juga telah banyak membantu kami di waktu-waktu lalu." Ujar Morgan


"Benar. Meskipun kau masih harus berlatih pun, waktumu masih banyak, Raisa. Kami semua pun sampai saat ini masih juga terus berlatih. Sampai waktunya tiba, jadilah hebat bersama-sama. Kita bisa bersama-sama memberantas kejahatan suatu saat nanti. Kedengarannya bagus, bukan?" Ucap Aqila


"Kau benar. Aku sangat menantikan waktu itu tiba. Aku selalu berharap kita bisa selalu berjalan bersama di jalan kebenaran. Berjuang bersama-sama." Kata Raisa


"Apa masih ada lagi yang belum kau ceritakan tentang kemampuan sihirmu?" Tanya Devan


"Sepertinya sudah tidak ada lagi. Sebenarnya menurut yang kutau, selain diriku, Kakakku juga punya bakat sihir. Bakat terpendam... Bakat sihir terpendam berbeda dengan bakat sihir yang keluar*. Sihirnya berbeda jauh. Kalian tau? Semua harapan yang kakakku ucapkan akan menjadi kenyataan! Bagi kami di dunia ini, entahlah... Namun, bagiku yang seperti itu juga termasuk sihir. Seolah-olah semua kata-katanya bisa menjadi kenyataan! Entah, itu perkataan tentang hal baik atau menyumpahi orang sekalipun! Kata-kata yang kakakku lontarkan langsung dari mulutnya akan menjadi kenyataan. Ini seperti sumpah yang menjadi nyata! Makanya, sedari dulu, aku selalu berhati-hati jika bicara dengan kakaku dan harus melihat kondisi hatinya yang sedang buruk atau tidak. Sedikit mengerikan! Jika, aku salah bersikap membuat kakakku marah dan menyumpahiku, aku akan bernasib buruk... Kemampuan kakakku ini sepertinya menurun dari Ibuku. Ibuku juga sedikit mempunyai kespesialan seperti ini, tapi bahkan tidak seampuh kata-kata kakakku. Namun, kalau Ibu dia lebih sering berharap di dalam hati. Harapan Ibuku terkadang terkabul menjadi kenyataan kadang juga tidak. Aku sebenarnya merasa heran... Kenapa di keluargaku, hanya anggota perempuan yang memiliki bakat seperti ini. Padahal yang mewarisi pada kami adalah mendiang kakekku. Entahlah, aku juga tidak tau apa sebabnya." Cerita Raisa menjawab.


*Bakat sihir terpendam dan bakat sihir keluar itu berbeda.


Jika, bakat sihir terpendam adalah kemampuan yang terpendam dalam diri atau tidak bisa mengeluarkan sihir seperti sihir elemen (bakat sihir keluar) atau kemampuannya tidak sehebat bakat sihir yang keluar.


"Oh, seperti itu..." Kata Chilla


"Baik, kami mengerti." Kata Sanari


"Yang masih aku tidak mengerti, jika kemampuan sihir telah musnah dan langka... Berarti kenyataan kakekmu mempunyai bakat ini saja sudah termasuk langka, kenapa bisa diturunkan padamu? Dan, itu juga adalah kau yang punya bakat yang lebih hebat?" Tanya Billy yang merasa binggung.


"Ini, aku juga tidak tau pasti. Karena aku hanya seorang yang menerima takdir ini tanpa tau dan tanpa punya siapapun untuk menjelaskan. Tapi, kalau menurutku... Mendiang Kakekku mewarisi bakat sihir terpendam dari leluhur kami yang kemampuannya jauh lebih hebat. Maka, bakat terpendam dari kakekku sebenarnya menurun pada semua keturunannya. Hanya saja bakat itu sendiri yang memilih kepada siapa yang harus mewarisi bakat itu dan seberapa besar kemampuannya, baik itu hanya bakat sihir terpendam seperti kakekku yang diturunkan pada Ibu dan kakakku atau bakat sihir keluar yang diturunkan leluhur kami melalui bakat terpendam kakekku lalu menurun padaku. Apa kalian mengerti? Kemampuan bicara dan penjelaskanku memang tidak baik. Jadi, kuharap kalian mampu mengerti apa yang kusampaikan." Jelas Raisa menyampaikan.


"Aku mengerti!" Kata Devan


"Apa yang kau mengerti, Devan?" Tanya Morgan


"Apa yang Raisa jelaskan. Semuanya!" Jawab Devan


"Baiklah... Penjelasanmu memang sedikit membingungkan, tapi aku bisa mengerti." Ujar Morgan


"Kau saja yang bodoh sampai kebingungan. Aku mengerti kok!" Kata Aqila

__ADS_1


Semua pun mengangguk saat memahami penjelasan Raisa. Menandakan semua telah mengerti...


"Aku mengerti sekarang..." Kata Wanda


"Walaupun mengerti, teka-teki sesungguhnya masih belum terpecahkan. Tentang sihir adalah keajaiban yang langka di dunia ini." Ujar Dennis


"Sebenarnya, kenapa jika satu pertanyaan terjawab maka pertanyaan lain pun muncul... Kebanyakan terjadi seperti itu, kan?" Ucap Amy


"Benar. Seperti di ujung dunia ini bahkan adalah sebuah teka-teki. Memusingkan!" Kata Marcel


"Sebenarnya, langka bukan berarti tidak ada sama sekali. Di dunia ini sebenarnya ada sesuatu yang merupakan trik tersembunyi hingga menampakkan seperti sihir. Kebanyakan itu dinamakan sulap! Ada sihir tertentu juga di sini... Sihir yang kutau selain sepertiku kebanyakan menyeramkan. Termasuk sihir gelap! Yang mengunakan hal-hal mistis seperti hantu, sesuatu yang tak kasat mata, dan juga mantra-mantra semacamnya. Di sini hal seperti itu di sebut ilmu guna-guna, santet, teluk, jampi-jampi. Seseorang yang memiliki profesi itu disebut Dukun, Paranormal, Spritualis, Orang Pintar yang dimaksudkan mempunyai ilmu lain seperti itulah... Ada juga Peramal, yang meramalkan masa lalu dan masa depan! Sebenarnya, tidak tau itu termasuk sihir atau bukan. Tapi, menurutku juga termasuk sihir. Sihir gelap, ilmu menyesatkan! Orang-orang yang menganut ilmu seperti itu biasanya punya kepercayaannya sendiri..." Ungkap Raisa menceritakan.


[*Hal-hal yang disebutkan dalam kutipan kalimat di atas hanya untuk pengembangan cerita. Tidak ada maksud nenyindir pihak lain. Semua kembali pada kepercayaan masing-masing. Mohon dapat memaklumi... Harap untuk tidak memasukkannya dalam hati.]


"Ternyata ada juga hal seperti itu di duniamu ya, Raisa. Terdengar aneh dan mengherankan! Tapi, sepertinya di dunia kami pun pernah ada hal-hal semacam itu. Namun, sudah ditinggalkan sejak lama, sudah tidak ada yang mempelajari sihir semacam itu lagi." Ujar Ian


"Begitu ya? Kupikir sih itu wajar saja... Sepertinya itu adalah suatu kepercayaan orang-orang terdahulu dari zaman lampau. Tak peduli di mana keberadaannya, pasti ada saja hal semacam itu. Hal yang kusebutkan tadi pun, hanya untuk di negara ini saja. Di duniaku ini, di negara lain pun ada hal-hal semacam itu menurut sebutan dan kepercayaannya masing-masing." Ucap Raisa


[*Seperti yang disebutkan sebelumnya... Semua kembali pada kepercayaannya masing-masing, tanpa maksud menyindir pihak tertentu. Mohon, untuk dimengerti.]


"Itu sih seperti hal umum yang di kesampingkan. Benar katamu, hal seperti itu dianut menurut kepercayaan masing-masing. Ada hal apa lagi yang perlu kau ceritakan?" Ujar Morgan


Raisa menggeleng pelan~


"Tidak ada untuk saat ini, sepertinya. Semua sudah kuceritakan... Semua tentangku dan kehidupanku sudah kuungkapkan. Tidak asik jika hanya membahas tentangku saja! Sekarang waktunya aku yang bertanya. Saat kalian membawa orang yang mengacau di duniaku beberapa waktu lalu ke dunia kalian, bagaimana nasibnya di sana? Apa dia benar-benar di penjarakan? Dia di penjarakan di desa kalian atau di penjara besar di Desa Rumput, tempat para narapidana sihir berada? Apa dia telah bertemu dengan para kawanannya? Apa dia terlihat senang saat berkumpul kembali dengan para kawannya walau harus tinggal di penjara?" Ucap Raisa dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi.


"Kau bertanya banyak sekali... Sangat merepotkan! Saat kami datang pulang ke desa, Paman Elvano sudah menunggu karena khawatir. Papa Aqila itu langsung mengenali orang itu sebagai kawanan penyerang desa saat itu. Lalu, Paman Elvano, mengambil alih orang itu karena dia juga berperan penting menginterogasi semua pelaku saat itu, termasuk satu orang itu. Paman Elvano, membawanya ke penjara desa untuk diinterogasi bersama Paman Aiden, Ayah Ian, selaku pihak kepolisian dan Ayahku sebagai perwakilan desa. Entah ada orang lain yang ikut nenginterogasinya atau tidak. Yang kutau, hanya sampai situ. Pastinya dia dipenjarakan. Sementara waktu itu dia mendekam di penjara desa. Entah akan dipindahkan ke penjara besar khusus narapidana sihir di Desa Rumput atau tidak. Kau juga jelas dengan penjara besar di Desa Rumput itu, Raisa?" Ungkap Devan disertai satu pertanyaan di akhir kalimatnya.


"Aku hanya tau karena pernah melihat dalam mimpi. Mimpi tentang kalian... Morgan, Rumi, Aqila, pernah ditugaskan untuk menyamar ke sana, kan? Paman Nathan, Pemimpin Desa saat ini, Ayah Morgan, juga pernah ke sana lho..." Kata Raisa menjawab.


"Tentu, untuk menjalankan tugas. Saat itu sangat dramatis! Usia Ayahmu masih terbilang muda. Aku tidak bisa menceritakannya karena ini menyangkut Ayahmu. Kalau kau mau tau, tanya saja langsung pada Ayahmu." Jawab Raisa


"Huh! Tidak usah ungkit hal yang tak mau kau jelaskan... Bikin penasaran saja!" Kata Morgan


Raisa terkekeh geli melihat ekspresi kesal pada wajah Morgan...


"Oh ya, mengingat insiden di desa kalian waktu itu... Perihal Sang Dewa! Sebenarnya bukan hanya itu kali pertama ada seorang yang mengatakan dirinya Dewa datang ke desa kalian, kan? Apa menurut kalian Dewa memang ada atau dia hanya mengaku-ngaku? Apa kalian percaya bahwa Dewa itu adalah Tuhan?" Tanya Raisa lagi.


"Tidak percaya! Dia hanya membual... Sejak kecil, aku tidak percaya adanya Dewa. Saat ada kejadian itu, aku sedang tidak ada di Desa Daun. Sayang sekali, aku tidak menyaksikan langsung insiden itu." Jawab Sandra


"Benar! Sayang sekali kita tidak bertemu saat itu..." Kata Raisa


"Aku juga sangat menyayangkan hal itu." Ujar Sandra


"Aku tidak punya pendapat tentang itu. Yang jelas, sejak dulu sudah banyak Dewa yang mengincar orang-orang di Desa Daun kami. Terlepas benar atau tidaknya mereka adalah Dewa atau bukan, aku tidak peduli." Ungkap Devan


"Dalam sejarah, ada seorang Dewi yang memiliki 2 orang Putra. Salah satunya adalah Dewa yang menyebarkan ajaran tentang sihir di bumi dunia kami. Ada yang bilang, satu putranya yang lain menjadi Dewa di tempat yang tertinggi. Ada yang menyebutkan, tempat tertinggi itu adalah Bulan. Mereka berasal dan memiliki keturunan berjumlah besar di atas sana." Jelas Aqila


"Dari sekian banyak yang mengaku Dewa yang kutemui, mereka haus akan kekuasaan dan kekuatan. Saling berlomba untuk itu... Tidak ada Dewa yang baik yang pernah kutau. Menurutku, Tuhan tidak mungkin jahat seperti mereka. Tidak tau mereka benar Dewa atau Tuhan atau memang hanya mengaku-ngaku." Ucap Morgan


"Bagaimana dengan tanggapanmu sendiri, Raisa? Kau percaya mereka adalah Dewa yang merupakan Tuhan atau bukan?" Tanya Sanari

__ADS_1


"Benar, kata Morgan. Tuhan tidak mungkin jahat. Mungkin Dewa memang ada... Tapi, Dewa bukanlah Tuhan. Menurutku, Dewa adalah makhluk ciptaan awal atau pertama atau makhluk spesial ciptaan Tuhan. Atau Dewa adalah orang-orang yang meniliki kemampuan khusus yang hebat yang tempat tinggalnya jauh lebih baik daripada kita yang di bumi. Mungkin salah satunya adalah Bulan, seperti yang Aqila katakan. Tapi sesepesial apapun Dewa, dia juga bukan makhluk sempurna. Seperti yang sudah-sudah... Di dalam diri Dewa yang spesial juga terdapat sifat kejam yang akan merubahnya menjadi seperti iblis jika sudah kehilangan akal. Tapi, aku tidak tau jelas. Ini hanya pendapatku saja. Aku tidak berani memberi tanggapan lebih." Ungkap Raisa dengan tanggapannya.


[*Tanggapan yang Raisa sampaikan hanya ungkapan dari salah satu sudut pandang suatu peran. Demi pengembangan cerita, hal ini diperlukan. Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Mohon, dimaklumi. Harap, dimengerti...]


Untuk kesekian kalinya, Rumi menoleh pada Raisa.


Dilihatnya, tubuh Raisa sedikit gemetar. Mungkin sedang menahan hawa dingin yang kian menusuk pada malam hari ini...


Dengan Raisa yang menyudahi rengkuhan pelukannya sebelumnya, berarti Raisa menolak pelukannya. Namun, Rumi masih saja khawatir. Terlebih lagi, ia tak ingin Raisa sampai jatuh sakit lagi.


Rumi pun memikirkan cara lain...


Bertindak secara terang-terangan, mungkin membuat Raisa merasa risih hingga menolaknya.


Diam-diam, Rumi mengulurkan tangannya untuk menyentuh dan menggenggam tangan Raisa yang bertumpu pada tanah berumput di sampingnya. Rumi memilih demikian...


Menyalurkan sedikit kehangatan melalui genggaman tangannya agar perlahan tersalurkan pada tubuh molek cantiknya itu~


Melalui tangannya yang digenggam itu, darah Raisa kembali mendesir cepat~


Perlahan, Raisa memejamkan matanya menahan sensasi yang aneh bin luar biasa itu... Ia pun menghela nafas pelan menahan gelojak di dadanya.


"Sesi cerita sudah selesai, hari pun semakin malam. Sebaiknya kita semua kembali ke dalam vila. Istirahat..." Ujar Raisa


Di akhir ucapannya, Raisa mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Rumi pada satu tangannya itu. Namun, gagal! Rumi bahkan mempererat genggaman tangannya.


Raisa mendesah berat~


Tak mungkin ia menolak kebaikan Rumi secara terang-terangan. Itu akan melukai perasaan Rumi. Namun, Raisa-lah yang tersiksa akan perasaannya yang terus ia coba menahannya.


"Ayo, kembali untuk istirahat. Besok akan kubawa kalian bermain... Jadi, nantikanlah!" Ucap Raisa


"Baiklah... Ayo, kita kembali ke dalam vila!" Kata Sanari


"Aku juga sudah mulai mengantuk..." Keluh Amy


"Yeay, besok waktunya bermain!" Sorak Marcel


Kali ini, Raisa berusaha lebih keras untuk menghempaskan tangan Rumi agar genggamannya terlepas. Terpaksa, ia harus tega! Padahal ia hanya berusaha menguatkan hatinya sendiri.


Lalu, Raisa beranjak berdiri... Berjalan kembali ke arah vila untuk beristirahat. Semua pun mengikutinya, menyusulnya kembali ke dalam vila. Termasuk, Rumi!


...'Maafkan aku yang tega dan jahat ini, Rumi...' Batin Raisa...


"Kau juga, beristirahatlah dengan tenang malam ini, Rumi." Bisik Raisa saat dirinya dan Rumi berjalan sejajar.


Ternyata, Raisa masih belum sanggup mengabaikan Rumi sepenuhnya...


Namun, setelah itu Raisa berjalan lebih cepat untuk mendahuluinya~


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2