
Keesokan harinya.
Hari ini, sejak pagi semua penghuni vila menjadi sibuk karena harus bersiap-siap.
Hari ini adalah hari Sabtu, yaitu jadwal pemotretan Raisa di studio pemotretan Daffa.
Setelah berkumpul, mereka semua mengawali hari dengan sarapan bersama.
"Setelah pulang dari Taman Safari semalam, aku tertidur hingga pagi. Padahal kemarin belum terlalu larut. Maaf, ya, aku tidak menyiapkan makan malam untuk kalian semalam. Padahal biasanya aku mudah terbangun saat tidur. Entah kenapa semalam tidurku pulas sekali," ujar Raisa
"Tidak apa, Raisa. Jelas sekali kau terlihat sangat lelah semalam," kata Sanari
"Ya. Dalam minggu ini kau cukup sibuk dan di hari libur pun kau mengajak kami berlibur. Kau pasti lelah," ucap Aqila
"Semalam kami tetap makan malam kok, meski tidak semua ikut makan karena pasti memang merasa lelah. Kami menyiapkan makan malam sederhana. Lalu, kau pun sudah menyiapkan beberapa roti di masing-masing kamar kami, jadi tidak ikut makan malam pun, kami bisa makan roti itu," ujar Chilla
"Ya. Roti itu memang untuk berjaga-jaga. Soalnya 20 tahun yang lalu, setelah pulang dari Taman Safari aku langsung tidur saat sampai rumah. Tapi, itu saat aku masih kecil, aku tidak menyangka semalam malah tertidur dari dalam bus dan tidak bangun sama sekali saat pulang sampai pagi," ucap Raisa
"Kan, Kak Raisa selalu sibuk. Kami pun memakluminya karena pasti melelahkan," kata Monica
"Tapi, bagaimana cara aku bisa sudah ada di dalam kamarku saat bangun pagi ini? Semalam aku tidak merepotkan kalian, kan?" tanya Raisa
"Memang tidak merepotkan kami semua, tapi kau sudah mereptkan Rumi," jawab Devan
"Ya. Karena siapa lagi, kami jadi tidak tega membangunkanmu? Tentu, karena Rumi pun begitu," ujar Ian
"Rumi-lah yang menggendong dan mengantarmu sampai ke dalam kamar," kata Morgan
Raisa langsung menoleh ke arah Rumi yang ada di sampingnya.
"Tidurmu nyenyak semalam, kan? Apa kau bermimpi indah?" tanya Rumi
"Ya. Aku tidak menyusahkanmu semalam, kan?" tanya balik Raisa
"Hmm. Kau terus tertidur dengan tenang seperti bayi," jawab Rumi dengan dustanya.
"Karena akulah yang membuat tidurmu jadi tidak tenang dengan nekat menciummu saat kau tertidur semalam," batin Rumi
"Kau samakan gadis dewasa dengan bayi? Sungguh aneh," kata Amon
Raisa pun hanya tersenyum.
..."Bayi tidak mungkin sepertiku yang bermimpi panas seperti semalam. Bisa-bisanya aku mimpi berciuman dengan Rumi. Itu pasti karena ciuman di bus kemarin. Aku jadi bermimpi seperti itu," batin Raisa...
"Baiklah. Setelah sarapan semuanya bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta. Kita pergi dengan bus kemarin dan Kang Arif akan menjadi supirnya lagi," ucap Raisa
Biasanya mereka hanya pergi dengan membuka portal sihir teleportasi. Namun, karena Maura dan Nilam ada di antara mereka jadi tidak mungkin menggunakan sihir dengan bebas. Teman-teman yang lain pun mengerti dengan alasan Raisa saat ini.
Usai sarapan dan membereskan peralatan makan, mereka semua kembali bersiap-siap sebelum berangkat pergi ke Jakarta.
Saat itu, Rumi menghampiri Raisa. Melihatnya, Raisa pun membuka suara.
"Rumi, semalam aku benar-benar tidak menyusahkanmu, kan?" tanya Raisa
Rumi tidak langsung menjawab. Ia tersenyum. Raisa mengerti ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyuman Rumi itu.
"Katakan saja dengan jujur kalau memang ada sesuatu," pinta Raisa
"Sebenarnya semalam kita berdua berciuman setelah aku mengantarmu masuk ke dalam kamar," ungkap Rumi sambil berbisik.
"Ternyata semalam itu bukan hanya mimpi. Maafkan aku." Raisa berbicara hampir seperti bergumam pelan.
"Apa kau mau bilang kalau ciuman itu hanya sebuah kesalahan?" tanya Rumi bersuara pelan.
..."Rumi pasti marah jika aku jawqb 'iya'. Aku benar-benar sudah gila karena menciumnya saat tertidur hanya karena mimpi," batin Raisa yang mengira dirinya yang lebih dulu mencium Rumi semalam....
"Itu bukan kesalahan, tapi tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Sepertinya aku sangat menginginkanmu sampai menciummu dalam kondisi tertidur sampai terbawa mimpi, tapi itu tetap salahku yang tidak bisa menahan diri," jelas Raisa
"Tidak apa karena aku suka," kata Rumi
"Kau ini ... aku serius, tahu!" tegur Raisa
"Aku juga serius. Sangat amat serius," balas Rumi
"Tidak tahu, ah! Aku mau lanjut siap-siap," kata Raisa
Raisa pun berlalu pergi meninggalkan Rumi dengan pipi yang bersemu merah.
..."Gila! Ada apa denganku? Kenapa aku jadi mes*m seperti ini? Apa ini karena usiaku yang harusnya sudah menikah? Tapi, sepertinya perjalanan cintaku masih sangat panjang," batin Raisa...
Rumi tersenyum melihat tingkah Raisa yang malu-malu. Di dalam hatinya, Rumi merasa senang.
"Ternyata di dalam mimpinya orang yang diciumnya pun adalah aku. Artinya Raisa selalu memikirkanku sampai terbawa ke dalam mimpi. Itu bagus, aku senang sekali. Namun, maaf. Aku tidak mengatakan bahwa semalam akulah yang lebih dulu menciummu, Raisa. Akulah orang yang lebih dulu tidak bisa menahan diri saat melihat kecantikanmu," batin Rumi
Saat semua telah bersiap, mereka semua pun kembali berkumpul.
__ADS_1
"Raisa, kamu udah siap?" tanya Maura karena Raisa-lah yang paling penting dalam rombongan karena hari ini adalah saat dirinya bekerja.
"Udah," jawab Raisa dengan singkat.
"Kalau begitu, kita langsung berangkat aja. Kayaknya Kang Arif udah nunggu di depan," ujar Nilam
Raisa mengangguk.
"Ayo, kita semua ke luar," kata Raisa
Kali ini pun semuanya ikut ke Jakarta menuju ke studio pemotretan Daffa. Kang Arif pun datang bersama Teh Sinta. Sepertinya ia setuju dengan kata-kata Raisa kemarin yang rencananya akan mengajak tunangannya berkencan di Jakarta saat menunggu waktu Raisa dan yang lain kembali ke vila.
"Kami semua udah siap. Kang Arif, Teh Sinta, mohon bantuannya lagi kali ini," ucap Raisa
"Sama-sama, Neng. Kali ini saya ajak Sinta lagi," kata Arif
"Iya. Kalau begitu, kita langsung berangkat aja sekarang," ujar Raisa
Mereka semua pun naik masuk ke dalam bus dan duduk di kursi bus dengan formasi yang sama seperti kemarin.
"Jangan macam-macam lagi seperti kemarin dan bersikap biasa saja selama di dalam bus," ucap Raisa memperingatkan Rumi.
"Baiklah. Aku mengerti dan akan patuh," kata Rumi
"Neng Raisa, kali ini kita mau lewat jalan mana?" tanya Arif yang sudah siap berada di kursi pengemudi.
"Kang Arif, tahu dan hafal jalan ke Jakarta gak?" tanya balik Raisa
"Iya, Neng. Tahu," jawab Arif
"Kalau begitu, terserah Kang Arif lewat jalan mana, ikut jalan yang paling cepat aja. Pas nanti udah sampai Jakarta baru saya tunjuk jalan ke tempat kerja saya," ujar Raisa
"Oke, Neng. Kita jalan sekarang, ya," kata Arif
Bus pun mulai dikendarai dari vila ke luar Puncak menuju ke Jakarta.
"Mereka semua pergi pagi-pagi mau ke mana?"
Lina yang masih setia menguntit gerak-gerik rombongan Raisa pun mengikuti ke mana bus itu pergi dengan mengendarai mobil pribadinya.
Di dalam bus.
"Raisa, sambil menunggu waktu sampai di studio pemotretan ... bagaimana kalau kita berdua berfoto lagi?" tanya Rumi
"Baiklah. Tapi, foto sewajarnya saja dan jangan macam-macam," jawab Raisa
"Habisnya aku kesal. Kalau dipikir-pikir karena dirimu aku jadi terus memikirkanmu sampai tidak bisa menahan diri semalam. Karena kemarin kau menciumku di dalam bus semalam aku jadi-"
"Baiklah, aku salah. Jangan marah terus. Aku yang melihatnya malah jadi gemas dan takutnya tidak tahan untuk tidak menciummu lagi," ucap Rumi akhirnya mengaku salah.
Rumi tidak keberatan Raisa marah padanya dan menyalahkan dirinya karena sebenarnya memang dirinya yang sudah salah dan melewati batas. Namun, kalau melihat Raisa yang bicara sambil marah menurutnya itu lucu dan membuatnya merasa gemas dan tidak tahan ingin menciumnya lagi.
"Rupanya kau tipe orang yang seperti ini. Kau tidak suka aku banyak bicara," ujar Raisa
"Bukan seperti itu, kau salah paham. Kau terlalu banyak berpikir. Jangan marah, Sayang," kata Rumi
"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang seperti itu saat sedang beramai-ramai seperti ini," larang Raisa
"Baiklah. Aku hanya akan memanggilmu seperti itu saat kita sedang berdua saja," kata Rumi
Raisa mendengus kesal karena Rumi semakin jadi keras kepala.
Rumi pun mengeluarkan ponselnya untuk berfoto bersama Raisa.
"Ayo, kita berfoto. Kali ini pakai ponselku saja," kata Rumi
Raisa sudah menerima ajakan Rumi untuk berfoto tadi. Ia pun mau tak mau harus menepatinya meski masih merasa kesal.
Raisa pun mendekatkan tubuhnya ke arah Rumi untuk berfoto bersama. Rumi yang sadar Raisa sedang merajuk dan kesal padanya pun langsung merangkul gadis cantik itu dengan mesra.
Awalnya keduanya hanya berfoto bjasa dengan ekspresi tersenyum, saling menyandarkan kepala, atau saling memandang satu sama lain. Lalu, Rumi menambahkan pose foto sambil membentuk saranghae dengan jari tangannya.
"Kau tahu gaya berfoto seperti ini dari mana?" tanya Raisa
"Sesekali aku membuka internet dengan ponsel ini dan melihat gaya seperti ini sangat populer. Ini menunjukkan hati dan cintaku padamu," ungkap Rumi
"Aku tidak menyangka ternyata ada juga saatnya aku bergaya seperti ini saat berfoto berdua denganmu. Kukira kau orang yang kaku dan tidak mau memakai gaya seperti ini untuk berfoto," ucap Raisa yang kembali tersenyum ceria.
Raisa pun ikut menunjukkan pose saranghae yang sama dengan Rumi saat berfoto. Rumi pun merasa lega dan senang saat melihat Raisa yang sepertinya sudah tidak marah atau kesal padanya dan kembali ceria lagi
Tak hanya itu, Raisa dan Rumi juga bergaya membentuk love dengan menggabungkan satu tangan mereka masing-masing. Lalu, juga membentuk love dengan satu tangan masing-masing dan menggabungkannya di atas kepala mereka berdua. Keduanya pun tertawa bersama. Saat itu juga, Rumi mengambilnya untuk difoto.
"Semua foto barusan pun akan langsung kukirim padamu," ucap Rumi usai berfoto dengan Raisa pun langsung mengirim semua hasil foto melalui pesan chat pada Raisa.
"Ya, kirimkan saja. Akan aku cek nanti," kata Raisa
__ADS_1
Raisa beralih memeluk satu tangan Rumi dan menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki tampan di sebelahnya itu.
"Kau kenapa? Apa kau merasa lelah, Raisa?" tanya Rumi
"Tidak, kita hanya berfoto tadi, mana mungkin aku merasa lelah hanya karena itu. Aku hanya ingin seperti ini saja," jawab Raisa
"Baiklah. Kau istirahat saja. Tidur juga tidak apa. Kali ini pasti kubangunkan saat sudah sampai nanti," kata Rumi
Raisa menganguk kecil.
Rumi pun membelai rambut halus Raisa dengan satu tangannya yang lain.
Sesekali mata Raisa terpejam. Namun, tidak sampai tertidur pulas. Karena Raisa pun masih harus menunjukkan arah jalan menuju ke studio pemotretan. Ia hanya sekadar mencari posisi ternyaman di samping Rumi. Mendapat sikap manja dari Raisa, Rumi justru merasa sangat senang. Lelaki itu bahkan tak berhenti tersenyum.
Sampai akhirnya, mereka pun tiba di pekarangan studio pemotretan.
"Kalau begitu, kita sudah sampai, Neng Raisa," ujar Arif
"Akhirnya sampai juga. Ayo, kita turun," kata Raisa
Mereka semua pun bangkit berdiri dari kursi masing-masing dan beranjak turun dari bus. Yang terakhir turun adalah Arif dan Sinta.
"Jadi, ini tempat kerja Neng Raisa?" tanya Sinta
"Ya. Setidaknya ini adalah tempat kerja tetap saya karena saya model resmi di sini," jawab Raisa sambil mengangguk kecil.
"Kalau sudah waktunya mau balik ke Puncak, langsung hubungi ke nomor Sinta aja, Neng. Saya dan Sinta mau lihat-lihat kota Jakarta sambil jalan-jalan dulu," ujar Arif
"Ya, silakan. Nanti saya hubungi," kata Raisa
"Apa gak masalah kalau busnya diparkir di sini, Neng Raisa?" tanya Arif
"Gak apa. Boss pemilik tempat ini juga teman saya. Jadi, pasti gak masalah," jawab Raisa
"Kalau begitu, kami semua masuk dulu. Kang Arif, Teh Sinta, selamat menikmati waktu di kota Jakarta," sambung Raisa
Mereka pun berpisah di sana.
Raisa dan teman-teman masuk ke dalam studio pemotretan, sedangkan Arif dan Sinta beranjak pergi berkencan di kota Jakarta.
"Ternyata, Kak Raisa ada jadwal pemotretan hari ini," gumam Lina
Lina masih saja mengikuti pergerakan Raisa hingga tiba dan melihat Raisa masuk ke dalam studio pemotretan bersama semua temannya.
"Halo, semuanya. Aku kira kamu gak bakal ingat ada jadwal pemotretan hari ini atau bakal minta libur, Raisa. Kayaknya liburan kemarin seru banget sampai gak ajak aku," ujar Daffa menyapa sambil sedikit menyindir.
"Hehe. Memangnya boss punya waktu buat liburan? Kabarnya kami semua berlibur ke Taman Safari udah tersebar, ya?" tanya Raisa
"Udah. Banyak tuh fotonya di internet sosmed. Bahkan ada gosip antara kamu sama Rumi. Sehari sebelum kalian terciduk liburan bareng di Taman Safari, aku juga habis posting dan terbitin majalah dengan foto kamu dan Rumi. Pasti gosipnya semakin banyak, deh," ungkap Daffa
"Soal itu biar aku aja yang urus," kata Raisa
"Terserah, deh. Kalau begitu, ayo mulai siap-siap buat pemotretannya," ujar Daffa
Raisa pun beranjak menuju ke ruang ganti dan bersiap untuk pemotretan.
"Ayo, setelah ini siapa yang mau ikut pemotretan lagi?" tanya Daffa
"Sepertinya aku mau coba," jawab Sandra
"Mau pemotretan bareng sama siapa?" tanya Daffa
"Denganku," jawab Marcel memberanikan diri mengungkapkan hubungan asmaranya dengan Sandra.
"Kami berdua juga ingin ikut pemotretannya," kata Billy sambil menggandeng satu tangan Wanda.
"Hei! Kenapa kau memutuskan sendiri tanpa bicara padaku lebih dulu?" tanya Wanda
"Semua sudah mengungkap hubungan asmaranya. Sekalian saja kami berdua juga," jawab Billy
Akhirnya, Sandra-Marcel dan Wanda-Billy pun ikut pemotretan bersama sebagai pasangan dengan mengambil tema Black Denim.
"Daffa, setelah ini selesai ... bisakah aku meminta tolong padamu untuk ambil foto kami semua bersama?" tanya Raisa
"Tentu bisa," jawab Daffa
"Ayo, bergabung dan akan aku ambilkan foto bersama kalian," sambung Daffa
Raisa dan teman-temannya pun melakukan sesi foto bersama.
"Maura, Nilam, ayo kalian berdua juga ikut gabung di sini," ajak Raisa
Maura dan Nilam pun ikut bergabung dalam sesi foto bersama.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...