
"Apa katamu!? Aku sudah bilang, aku tidak menghindarimu!" Keukeuh Raisa yang masih tetap menyangkal saat Rumi menanyakan padanya alasannya terus menghindari Rumi sepanjang hari.
"Benarkah?" Desak Rumi agar Raisa dapat mengatakan hal yang sebenarnya.
"Baiklah, aku akan mengaku! Itu karena kau yang melihat penampilanku yang berpakaian seperti tadi pagi. Jujur saja, belum pernah ada lelaki yang melihatku berpenampilan seperti itu selain keluarga intiku, di depan Raihan saja aku sangat memerhatikan penampilanku. Tapi, tadi pagi kau malah melihatnya. Tentu saja, aku malu! Itu karena aku merasa malu! Kau juga sih, kenapa tidak mengatakan jika kau yang datang? Aku kira Bu Weni yang akan datang, makanya aku minta langsung masuk saja. Padahal akan berbeda jadinya kalau kau bilang yang datang saat itu adalah dirimu, setidaknya aku pasti memakai pakaian berlapis. Ini semua salahmu!" Ungkap Raisa yang akhirnya malah jadi melemparkan kesalahan pada Rumi atas kelalaiannya sendiri.
"Kenapa itu jadi salahku? Baiklah, aku minta maaf. Jadi, jangan menghindar dariku lagi." Ujar Rumi
"Karena aku sudah membicarakannya padamu, jadi tak perlu membahasnya lagi." Kata Raisa
"Aku senang kau berhenti menghindar dariku. Walau rasanya cukup menyenangkan melihat ekspresimu yang malu-malu, aku lebih senang jika kita bisa saling berdekatan dan berbicara berdua seperti ini." Ungkap Rumi
"Oh, jadi kau senang melihatku yang merasa malu ya? Kau ini jahat sekali!" Sebal Raisa yang memukul kecil lengan Rumi lalu membuang muka dari lelaki itu.
"Habisnya, kau terlihat sangat lucu. Aku jadi ingin melihatmu yang terus berekspresi seperti itu." Kata Rumi disertai kekehannya.
"Hei, sejak kapan muncul sifat jahil dari dalam dirimu itu!?" Kesal Raisa
"Sepertinya sejak aku mengenalmu dan lalu menyukaimu, dari dalam diriku mulai muncul sifat yang aku pun tak pernah menduganya akan ada pada sosok diriku ini. Aku juga jadi mengetahui banyak hal dan perasaan lainya yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Berkat dirimu duniaku jadi jauh lebih berwarna, semua karena kau ada dan hadir. Aku sangat bersyukur karena kita telah dipertemukan." Ungkap Rumi
DEG!
Hati Raisa lagi-lagi tersentuh mendengar kata-kata yang Rumi ucapkan padanya.
Jantung Raisa terus berdebar setelah mendengar perkataan yang Rumi ucapkan. Hampir saja wajahnya kembali merona. Namun, ia berusaha untuk menahan agar rona merah tidak muncul lagi di pipinya.
"Kenapa kau jadi serius begini sih?" Tanya Raisa
"Bukankah aku memang selalu serius seperti ini? Bukankah malah aneh jika aku tidak serius?" Heran Rumi
"Ah, sudahlah! Permen kapasku sudah mau habis... Ayo, kita berkeliling lagi mencari wahana yang seru!" Ujar Raisa yang mulai bangkit kembali.
Raisa berjalan lebih dulu meninggalkan Rumi di belakangnya. Rumi pun mengikuti langkah kaki Raisa dengan mengekorinya...
Karena sudah cukup lelah bermain permainan memenangkan hadiah, Raisa pun memutuskan untuk menaiki wahana yang terbilang santai karena ia dan Rumi pun harus membawa hadiah yang telah dimenangkan sebelumnya.
Akhirnya, Raisa dan Rumi bersantai di dalam gerbong wahana bianglala atau juga bisa disebut kincir ria. Raisa dan Rumi duduk berseberangan dengan menaruh hadiah hasil memenangkan permainan di sebelahnya masing-masing.
"Huh, akhirnya bisa santai juga! Melihat pemandangan desa di malam hari dari atas cukup untuk bisa membayar rasa lelah setelah bermain tadi." Gumam Raisa
Raisa menyandarkan punggungnya pada jeruji gerbong tersebut. Namun, ia teringat suatu ketika juga pernah menaiki wahana yang sama seperti saat ini sewaktu berlibur ke taman bermain di ibukota.
..."Tunggu! Sepertinya aku menyadari telah melupakan sesuatu di saat seperti ini waktu itu... Ah! Saat itu aku juga berada di dalam gerbong bianglala seperti ini dengan Rumi! Suasananya waktu itu sangat canggung karena sepertinya Rumi akan mengatakan perasaannya padaku! Walau tidak jadi karena aku memotong omongannya sih... Tetap saja kenapa aku sampai lupa suasana canggung saat itu!? Sebaliknya, sekarang perasaanku sedikit lega, tapi kenapa aku seperti mendapat firasat kalau perasaan lega ini akan segera berubah..." Batin Raisa...
Setelah mendapat firasat yang agak menganehkan, Raisa langsung membenarkan posisinya menjadi duduk tegap dan sedikit kaku.
"Benar! Raisa, ingatkah kau saat di taman bermain waktu itu kita juga menaiki wahana semacam ini? Saat itu suasananya agak canggung karena kita belum jadi sedekat sekarang. Apa harusnya sekarang aku duduk di sampingmu saja?" Ujar Rumi yang hendak bangkit berpindah tempat ke samping Raisa.
"Ah, tidak! Kau tetap di situ saja, Rumi! Kita harus menjaga agar gerbong ini tetap seimbang." Tolak Raisa beralasan.
"Baiklah." Patuh Rumi yang mengurungkan niatnya berpindah posisi duduk.
..."Kenapa kau harus mengingatkanku dengan suasana canggung saat itu sih?!" Batin Raisa...
Di dalam saku celananya, ponsel Raisa bergetar singkat menandakan adanya pesan masuk.
"Ah, sepertinya ada pesan masuk di ponselku! Sebentar..." Kata Raisa yang langsung merogoh saku celananya.
Raisa pun mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celananya. Ia bersyukur pada adanya pesan masuk itu karena bisa mengalihkan fokusnya dari sosok Rumi di depannya.
__ADS_1
"Pesan dari siapa?" Tanya Rumi
"Dari, Kak Raina. Dia bilang, harus pulang duluan karena Farah yang berubah jadi rewel karena sudah mengantuk. Aku akan mengirim pesan balasan dulu." Jawab Raisa
"Mendapat pesan dari ponsel itu seperti apa, Raisa?" Tanya Rumi yang tidak pernah tahu adanya ponsel karena benda itu memang tidak ada di dunianya.
"Kau belum pernah melihatnya sama sekali ya? Ini, kuperlihatkan padamu!" Ujar Raisa yang menyodorkan ponselnya ke arah Rumi.
Rumi yang memang ingin tahu pun mendekatkan kepalanya pada Raisa untuk melihat ponselnya.
"Saat ada pesan yang masuk ke dalam ponsel, jika pengaturan suara diatur dalam mode normal akan ada suara dan getar sebagai tanda pemberitahuan pesan masuk. Lalu, saat kita membuka ponsel untuk melihat pesan masuk tersebut akan ada pilihan... Apa pesan itu mau dibaca atau tidak, maka kita hanya perlu memilih pilihan Baca. Pesan akan terbuka dan bisa dibaca, seperti ini. Jika, ingin membalas pesan, hanya perlu mengetik pesan balasan di kolom Masukan Pesan yang ada di bawah ini dan akan muncul layar deretan tombol huruf yang disebut keypad. Tekan-tekan sesuai kalimat balasan yang diinginkan, lalu tinggal tekan tombol kirim di sampingnya. Pesan balasan pun terkirim!" Jelas Raisa sampil menunjukkan cara praktik membuka dan membalas pesan lewat ponsel miliknya pada Rumi.
"Baru kali ini aku melihatnya, canggih sekali! Benar-benar seperti komputer berukuran kecil!" Takjub Rumi saat memperhatikan cara kerja ponsel terhadap pesan masuk dan mengirim pesan balasan yang Raisa tunjukkan padanya.
"Benar sekali! Fungsi ponsel zaman sekarang di duniaku ini juga bermacam-macam seperyi fungsi komputer. Ponsel seperti ini memang dirancang dan diciptakan untuk mempermudah dan mempraktisi penggunanya." Ucap Raisa
Raisa baru saja menyadari jika saat ini kepalanya dan kepala Rumi saling bertemu untuk mempermudahnya mrnunjukkan cara kerja ponselnya pada Rumi. Saat ini jarak pandang keduanya sangat dekat hingga tatapan mata mereka berdua dengan mudahnya saling bertemu!
Saat menyadari posisinya yang jadi sangat dekat dengan Rumi, Raisa pun segera menjauhkan dirinya dan memundurkan kepalanya secepat mungkin~
"Ya, pokoknya begitulah!" Kata Raisa sambil menahan rasa canggung akibat debaran di dalam dadanya.
Berdekatan dengan Rumi tentu saja dapat membuat jantungnya jadi berisik lagi dan tentu juga tak bisa terus ditahan olehnya...
"Raisa, kenapa sekarang kita tidak berfoto saja? Aku juga ingin punya foto berdua denganmu seorang saja." Pinta Rumi
"Foto? Kita berfotonya nanti saja saat turun dari sini." Tolak Raisa
"Bukankah dari sini pemandangannya terlihat bagus seperti katamu tadi? Maka, hasil fotonya juga akan bagus nantinya!" Ujar Rumi
"Baiklah! Satu kali saja ya..." Pasrah Raisa yang tak bisa menolak keinginan Rumi.
"Kau tetap di situ, aku yang akan mengambil fotonya. Satu, dua, tiga..." Kata Raisa sambil memberi aba-aba.
Cekrikk!
Satu foto didapatkan...
"Hasil fotonya lumayan bagus!" Kata Raisa
"Coba, aku juga ingin lihat!" Pinta Rumi
Raisa pun mengarahkan layar ponselnya pada Rumi untuk menunjukkan hasil foto yang telah diambil.
"Benar, bagus! Ayo, foto sekali lagi saja!" Kata Rumi
"Uh, baiklah... Sekali lagi saja ya!" Patuh Raisa
Raisa pun kembali mengambil posisi dan mengarahkan kamera depan ponselnya ke arahnya dan juga Rumi...
Cekriik~
Setelah mengambil foto, Raisa kembali menunjukkan hasilnya pada Rumi.
"Aku suka hasil fotomu barusan. Lain kali, setelah fotonya dicetak berikan padaku juga ya." Ujar Rumi
"Baiklah. Di vila juga ada alat cetak foto, setelah fotonya dicetak akan langsung kuberikan hasil cetak fotonya padamu." Kata Raisa
Meski pun dengan sedikit enggan berfoto berdua dengan Rumi karena merasa canggung saat berdekatan dengan lelaki itu, pada akhirnya Raisa juga tak bisa memungkiri jika ia juga nenyukai hasil fotonya bersama Rumi...
__ADS_1
"Aku jadi teringat dengan Farah. Anak kecil itu jika sudah mengantuk akan jadi rewel, makanya Kak Raina bilang akan pulang duluan. Aku bisa membayangkan, Farah pasti rewel meminta main permainan ini dan itu, tapi akhirnya malah diputuskan untuk langsung pulang oleh Mami-nya. Pasti rasanya sedikit kesal dan sedih karena tak bisa memenangkan hadiah yang dia mau. Apa aku harus memberi sebagian hadiahku untuknya nanti untuk menghiburnya? Tapi, rasanya sayang sekali karena kebanyakan hadiah kau yang susah payah memenangkannya untukku." Ujar Raisa
"Hadiah itu sudah kuberikan untukmu dan sudah jadi milikmu sepenuhnya. Terserah mau kau apakan barang milikmu, itu urusanmu." Ucap Rumi
"Tapi, kau juga berharap aku menyimpan ini semua untuk diriku sendiri kan?" Tanya Raisa
"Walau begitu, tetap kau hanya yang memutuskan. Itu hanya hadiah yang dimenangkan dari permainan, yang penting barang pemberian langsung dariku tetap kau simpan." Jawab Rumi
"Itu sih sudah pasti!" Kata Raisa
"Ngomong-ngomong, soal anak kecil... Kau ingin kita punya berapa anak perempuan dan lelaki nantinya?" Tanya Rumi
"Anak, ya... Tunggu, APA!?! Apa yang ingin kau coba tanyakan sih, Rumi?" Sontak Raisa yang terkejut setelah menyadari penuh atas pertanyaan yang didengarnya dari Rumi.
"Ini soal anak kita nantinya... Kenapa memangnya? Bukankah kita akan selalu bersama sampai kapan pun? Kita juga akan punya kehidupan orang dewasa seperti kakakmu kan?" Ujar Rumi
"Bukan itu maksudku! Yang benar saja, itu kan masih lama sekali!" Kata Raisa
"Walau pun masih lama, itu kan hal yang sudah pasti. Kenapa kita tidak bicarakan kepastian itu dari sekarang saja?" Ucap Rumi dengan kepercayaan dirinya.
"Aku yang belum memikirkan sampai ke sana, tahu! Kau seperti orang yang sudah mengerti hal seperti itu saja! Hal seperti berpacaran saja, kau baru tahu belum lama ini. Ya, walau pun kau langsung merealisasikan hal tentang pacaran itu denganku sih..." Pelan Raisa
"Kenapa? Apa sebenarnya kau tak ingin terus bersama denganku?" Tanya Rumi
"Sudah kubilang, bukan begitu!" Kata Raisa
Raisa pun terdiam...
..."Bukannya tak punya keinginan seperti itu denganmu, tapi bagaimana aku mengatakannya ya? Aku saja masih ragu, ragu dengan kelangsungan hubungan kita ini. Aku masih saja ragu, apa memang kita bisa selalu bersama dengan perasaan kita sekarang ini? Bukankah pada akhirnya kita hanya bisa tinggal dunia yang berbeda? Kita takkan bisa bersama selamanya seperti itu, hanya bisa hidup di dunia masing-masing..." Batin Raisa...
"Aku mengerti! Kau merasa malu jika aku membahas hal yang seperti ini ya?" Ujar Rumi
"Kau sudah mengerti, rupanya! Jadi, jangan bahas tentang itu lagi!" Kata Raisa
Raisa membuang pandangannya dari Rumi~
..."Aku memang malu saat kau membahas hal ini sampai rasanya ingin marah padamu, Rumi! Tapi, pada akhirnya aku hanya marah pada diriku sendiri. Aku lebih merasa sedih jika harus memikirkan kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Aku tak bisa mengungkapkan yang sebenarnya padamu. Aku yang seperti ini memang egois!" Batin Raisa...
Rumi terkekeh kecil saat melihat Raisa yang lagi-lagi merasa malu di depannya. Padahal tidak sepenuhnya rasa malu yang Raisa rasakan.
"Kau tertawa? Kau menertawaiku? Rupanya, kau senang melihatku yang malu seperti ini? Ih, kau ini jahat sekali!" Kesal Raisa
..."Ini salahku, seharusnya aku tak membahas anak kecil tadi! Sejak awal ini semua memang salahku! Tapi, apa merasakan hal seperti cinta itu adalah sebuah kesalahan? Sudahlah, ini memang keegoisanku saja!" Batin Raisa...
Rumi masih saja terkekeh sampai akhirnya ia bisa mengendalikan tawa kecilnya itu dan menatap intens Raisa yang ada di depannya~
"Raisa, kau tahu tidak? Sebelumnya, aku bilang aku tidak bisa menahan rasa rinduku. Tapi, selain itu sebenarnya aku juga tak bisa menahan diriku sendiri! Selain suka melihatmu yang malu-malu, aku memang sangat menyukaimu... Sampai rasanya aku tidak bisa menahan diriku sendiri sekarang. Aku ingin-" Rumi terus berbicara sambil terus mendekatkan dirinya pada Raisa di dalam gerbong bianglala itu.
"Hei, Rumi! Sadarlah! Kau ini mau apa!? Kita ini sedang berada di dalam gerbong yang penuh dengan cela! Kau jangan sembarangan bertindak! Akan ada banyak orang yang bisa melihat kita dari luar!" Ucap Raisa yang berusaha menyadarkan Rumi dari sikap bucinnya.
Rumi terus mendekat ke arah Raisa hingga saat ini Raisa merasa telah terpojokkan! Tangan Rumi pun sudah berhasil meraih wajah Raisa...
..."Yang benar saja! Sebelumnya di wahana yang sama dia ingin mengatakan perasaannya padaku dan sekarang! Apa dia ingin... Menciumku!?" Batin Raisa mulai merasa waspada dengan lelaki yang disukainya sendiri....
.
•
Bersambung...
__ADS_1