Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
77 - Rumah Di Desa Daun.


__ADS_3

Raisa menerima suapan burger dari Rumi sampai lebih dari setengahnya. Lalu, ia mengambil alih burger miliknya dari tangan Rumi...


"Sudah cukup, aku akan melanjutkan makan sendiri. Seukuran ini sudah bisa kugenggam dengan tanganku sendiri. Terima kasih ya, Rumi." Ucap Raisa dengan memberilan senyuman manisnya pada Rumi.


"Ya, sama-sama." Balas Rumi


Rumi merasa sangat puas! Ia bahkan mendapat senyuman manis dari Raisa... Rasa hatinya sangat bahagia!


Semua melanjutkan kegiatan makan masing-masing dengan tenang, termasuk Raisa yang sudah mengambil alih makanannya dari tangan Rumi dan memakannya sendiri. Rumi pun melanjutkan makannya sendiri.


Raisa menghela nafas lega... Tak ada yang menanyakan kedekatan dirinya dan Rumi dengan lebih lanjut. Situasi kembali aman terkendali.


Suasana makan bersama kembali tenang, sampai saat Guru Kevin memasuki tempat makan itu. Ia datang mencari Raisa...


"Ah, sudah kuduga kalian semua ada di sini!" Kata Guru Kevin yang baru saja datang memasuki tempat makan tersebut.


"Guru Kevin, ada apa kau datang ke mari? Kau ingin makan? Bargabunglah bersama kami!" Ujar Morgan


"Tidak, terima kasih. Aku datang mencari Raisa." Ucap Guru Kevin


"Aku? Ada perlu apa Guru mencariku?" Tanya Raisa


"Kau, Tuan Pemimpin Desa ingin bertemu denganmu. Aku datang untuk menjemputmu." Jawab Guru Kevin


"Ayah?!" Heran Morgan


"Sepertinya penting. Apa harus cepat? Kalau tidak, Guru Kevin duduk dan makanlah dulu. Aku yang akan menraktirmu." Ujar Raisa


"Tidak perlu, aku sudah makan. Kau lanjutkan saja makanmu, aku akan menunggu di sini. Tak peu terburu-buru juga, santai saja." Ucap Guru Kevin


"Ada perlu apa Ayahku mencari dan ingin bertemu Raisa?" Tanya Morgan


"Tidak tahu. Aku hanya diminta untuk mencari dan menjemputnya. Masalah apa itu, hanya Tuan Pemimpin Desa yang tahu." Jawab Guru Kevin


"Baik, aku akan cepat." Ucap Raisa bermaksud untuk cepat menghabiskan makanannya.


"Nikmatilah makananmu perlahan-lahan." Kata Guru Kevin


"Makanlah dulu. Kami akan mengantarmu juga nanti." Ucap Aqila


"Ya." Serempak Amy dan Wanda


"Aku akan ikut sekalian ke gedung akademi. Gedung akademi dan kantor Pemimpin Desa tepat bersebelahan. Aku ingin mengurus perizinan meminjam aula untuk berduel." Ujar Sandra


Akhirnya, Guru Kevin duduk di salah satu kursi di sana. Sambil menunggu Raisa menyelesaikan makannya, ia memesan segelas minuman dan menikmatinya perlahan.


Setelah menyelesaikan makannya, Raisa pun ikut bersama Guru Kevin menuju tempat pemimpin desa dengan teman para gadisnya yang ikut mengantarnya. Sedangkan para lelaki memiliki acara mereka sendiri, memisahkan diri mereka dan tidak ikut bersama ke kantor pemimpin desa.


Dan saat tiba di depan gedung kantor pemimpin desa, Sandra memisahkan diri menuju gedung akademi untuk mengurus perizinan meminjam aula untuk melaksanakan duel. Untuk urusan ini, Wanda menemani Sandra ke dalam gedung akademi.


Sesampainya di kantor pemimpin desa, Aqila, Amy, dan Chilla menunggu di luar, di depan pintu ruangan. Raisa pun masuk bersama Guru Kevin ke dalam ruangan penting tersebut.


"Tuan Pemimpin Desa, aku sudah membawa Raisa bersamaku." Ujar Guru Kevin


"Selamat pagi, Tuan Pemimpin Desa. Aku datang memenuhi panggilanmu." Sapa sopan Raisa


"Selamat pagi. Halo, Raisa... Kita jumpa lagi, senang bertemu denganmu." Balas sapa Tuan Pemimpin Desa, Paman Nathan, Ayah Morgan.


"Maaf, Tuan. Sebenarnya apa maksud keperluan Anda memanggilku sampai meminta Guru Kevin mencariku?" Tanya Raisa


"Sebenarnya, ini tidak terlalu penting. Pertama-tama, aku sudah mendengar kau sudah berbaik hati menyelamatkan Rumi kemarin sampai harus mencarinya yang sedang dalam perjalanan berkunjung ke tempat orangtuanya. Sebagai Pemimpin Desa yang bertugas melindungi semua warga desa termasuk Rumi yang sudah dititipkan oleh orangtuanya di sini, aku ucapkan terima kasih padamu atas usahamu untuk menyelamatkannya." Ucap Paman Nathan


"Ah ya, aku juga belum mengucapkannya padamu padahal Rumi adalah murid bimbinganku. Terima kasih karena kau sudah menyelamatkannya kemarin, Raisa." Ujar Guru Kevin


"Soal itu, sudah seharusnya aku membantu temanku sendiri yang berada dalam kondisi kesulitan." Kata Raisa


"Setelah kedatanganmu menyelamatkan desa tempo lalu, akhirnya kau kembali mengunjungi dunia ini lagi. Apa kau akan sering datang ke dunia ini di lain waktu, Raisa?" Ujar Paman Nathan, bertanya.


"Saat itu aku hanya lewat untuk membantu, tidak sampai pantas disebut menyelamatkan. Untuk pertanyaan Anda, ya, aku akan sering datang berkunjung ke dunia ini. Aku tak mungkin begitu saja dengan mudah melupakan tempat ini. Aku menemukan banyak teman berharga di sini, aku tidak berencana meninggalkan dunia ini begitu saja. Jadi, aku akan sering datang berkunjung ke sini saat sedang libur di duniaku. Kuharap Anda berkenan menerima kedatanganku." Jawab Raisa


"Tentu saja, aku dengan senang hati menerima kunjunganmu di sini. Desa ini terbuka lebar untukmu, jadi sering-seringlah datang berkunjung di lain waktu. Aku bahkan senang mendengarnya... Untuk itu, aku akan memberimu tunjangan selama kau berada di sini." Ungkap Paman Nathan


"Tunjangan, apa itu? Ah, maaf! Maksudku, Anda tidak perlu menyiapkan sampai seperti ini untukku." Ujar Raisa


"Aku beritahu dulu tunjangan apa yang akan kuberikan untukmu. Ini! Sebuah rumah sebagai tunjangan untukmu." Ucap Paman Nathan yang mengambil sebuah kunci dari dalam laci meja kerjanya dan ditunjukkan untuk Raisa.


Melihat sebuah kunci yang akan diberikan untuknya dan mendengar apa yang diberikan untuknya itu, Raisa terperanjat kaget!

__ADS_1


"Tunggu, apa!?! Sebuah rumah!? Tuan, aku tidak pantas menerimanya, ini terlalu berharga untuk diberikan pada orang sepertiku." Tolak Raisa disertai dengan keterkejutannya.


"Rumah ini sudah disiapkan untukmu sejak kedatangan pertamamu ke dunia ini. Kami yang tau kau tidak memiliki tempat yang tetap selama di sini memang sudah menyiapkan rumah ini untuk diberikan untukmu. Saat itu, kau memutuskan untuk menginap di rumah teman, jadi kami mengurungkan niat untuk memberikannya padamu di awal. Aku rasa harus memberikannya padamu sekarang." Ungkap Paman Nathan


"Walau begitu, aku tidak pantas menerimanya. Tunjangan ini terlalu besar dan berharga untukku yang hanya sekadar menumpang di dunia ini." Ucap Raisa


"Rumah ini adalah kepemilikan desa yang sudah lama tidak ditinggali dan memang berniat untuk memberikannya padamu. Kau bilang akan sering datang ke sini untuk berkunjung. Karena itu, rawatlah rumah pemberian ini selama kau menetap beberapa waktu di dunia ini. Rawat dan jagalah seperti milikmu sendiri." Keukeuh Paman Nathan


"Tetap saja, Tuan. Aku tidak bisa." Kata Raisa


"Raisa, kudengar sebelum ini kau sudah berlatih bersama tim Guru Kevin? Kuucapkan selamat! Kalau kau mau, kau juga bisa ikut menerima tugas misi dari kami saat kau berada di sini. Kau akan mendapat bayaran, itu bisa jadi biayamu selama menetap di sini. Kau diterima menjadi bagian dari kami di Desa Daun sepenuhnya! Apa kau keberatan dengan tawaran ini?" Ujar Paman Nathan menyampaikan sebuah tawaran lain pada Raisa.


"Anda serius, Tuan? Tentu, aku dengan senang hati menerima tawaran ini. Sudah keberadaanku diterima penuh di tempat ini, masih dapat bayaran pula! Lagi pula, alu memang ingin sekali ikut menjalani misi tugas seperti yang lainnya, aku ingin mendapat pengalaman yang lebih berharga selama berada di sini. Aku senang sekali! Terima kasih banyak atas kesempatan dan kebaikan ini!" Ucap Raisa


Raisa sangat senang diberi kesempatan dan tawaran sebagus ini. Ia sangat gembira ria dan merasa kegirangan! Kalau tidak ingat ada orang terhormat di hadapannya, bisa-bisa ia melompat-lompat saking girang hatinya!


"Kau sudah menjadi bagian dari kami, tentu saja aku juga akan memerhatikanmu setidaknya mulai dari sekarang. Untuk itu, terimalah rumah ini sebagai tunjangan dari kami untukmu. Sebagai bagian dari kami, mohon untuk merawat rumah ini dengan baik. Kami selalu menunjang hidup bagi orang yang selalu bepergian dalam tugas dan bekerja untuk desa kami. Anggaplah rumah ini sebagai upah pertama karena telah merekrutmu masuk sebagai bagian dari tim kerja kami. Ini adalah amanah dari kami! Jadi, jagalah rawat dengan sebaik-baiknya." Jelas Paman Nathan sambil terus menyodorkan kunci sebuah rumah kepada Raisa.


"Anda pasti berencana untuk terus memaksaku dan membuatku sampai tidak bisa menolaknya, kan? Baik! Kalau begitu, aku terima pemberian berharga ini. Akan kujaga dan rawat dengan sebaik-baiknya dan sepenuh hati. Ini sih bukan lagi hal tidak penting seperti yang Anda katakan sebelumnya, melainkan hal yang sangat penting. Terima kasih banyak atas semua kebaikan dan kesempatan yang telah diberikan padaku sejauh ini. Aku akan berusaha semampuku untuk tidak sampai membuatmu kecewa!" Ungkap Raisa


"Ini, satu lagi. Kunci cadangannya, kuberikan padamu juga." Kata Paman Nathan menyodorkan satu kunci yang lain pada Raisa.


Raisa pun maju selangkah untuk meraih dan mengambil dua kunci rumah, kunci asli dan kunci cadangan dari meja kerja Tuan Pemimpin Desa.


"Bagus! Raisa, mulai sekarang mohon kerja samanya." Ujar Paman Nathan


"Baik! Mohon bantuannya juga, Tuan." Balas Raisa


"Untuk saat ini, kau bisa memasuki rumah itu lebih dulu. Merapikan dan berbenah di sana. Dan untuk tugas misi pertamamu akan datang setelahnya. Mungkin tugas misinya akan datang dalam waktu dekat ini, jadi selalu siapkan dirimu untuk menerima tugas sewaktu-waktu. Juga, waktu kepulanganmu ke dunia asalmu... Harap untuk mengkonfirmasikannya setidaknya dengan temanmu atau mungkin dengan Morgan, anakku. Itu akan mempermudah untuk mengurus jadwal tugas misimu." Ucap Paman Nathan


"Baik, Tuan. Akan kuingat itu baik-baik." Kata Raisa


"Pembicaraan kita cukup sampai di sini. Kau sudah boleh melanjutkan aktivitasmu. Terima kasih juga sudah menyempatkan waktumu untuk menemuiku." Ujar Paman Nathan


"Tidak. Seharusnya aku yang mengucapkan itu. Terima kasih banyak karena telah memberitahukan hal penting ini padaku dan juga memberikan kesempatan besar untukku. Kalau begitu, aku pamit undur diri dulu, Tuan. Selamat pagi!" Pamit Raisa


Raisa pun berbalik untuk pergi. Guru Kevin yang juga berada di sana setelah membawa Raisa ke hadapan Tuan Pemimpin Desa pun ikut berpamitan padanya hendak mengantar Raisa kembali.


"Ah, ya! Kevin yang akan mengantarmu sampai ke rumah barumu di sini." Tutur Paman Nathan


"Tidak apa-apa." Kata Guru Kevin


Raisa bersama dengan Guru Kevin pun ke luar dari ruangan tersebut dan kembali menemui teman para gadisnya...


Sandra dan Wanda pun sudah kembali dari gedung akademi dan menunggu Raisa di sana.


"Kau sudah selesai, Raisa?" Tanya Chilla


"Sudah. Kau juga sudah selesai dengan urusanmu, Sandra?" Ujar Raisa


"Masalah perizinan untuk duel kita sudah kuurus. Izin sudah didapatkan." Ucap Sandra


"Izin untuk duel? Apa maksudnya itu?" Tanya Guru Kevin


"Sandra menantang Raisa untuk berduel melawannya. Ini karena rasa penasarannya dengan kemampuan Raisa yang bahkan sampai bisa mengalahkan Sang Dewa saat dia tak ada di Desa Daun tempo lalu. Raisa menerima tantangan darinya! Duel itu dilaksanakan pada besok atau lusa di aula bertarung gedung akademi. Dia dan aku baru saja meminta izin untuk memggunakan aula itu nantinya." Jelas Wanda


"Seperti itu... Untuk kalian yang akan berduel nanti, semangat dan berjuanglah! Saling menghadapilah dengan adil." Ucap Guru Kevin


"Terima kasih, Guru." Serempak Raisa dan Sandra


"Untuk apa Guru Kevin masih ada di sini? Kalau untuk mengantar Raisa, kan sudah ada kami?" Tanya Aqila


"Guru Kevin akan mengantarku ke suatu tempat. Kalian ikutlah denganku, ya..." ujar Raisa


Mereka semua pun mulai beranjak pergi dari kantorvpemompin desa. Menuju tempat yang dimaksud Raisa dengan Guru Kevin yang memimpin jalan.


"Kita akan ke mana?" Tanya Amy


"Kabar baik! Aku diterima sepenuhnya sebagai bagian dari desa ini dan juga bagian dari tim kerja menjalankan tugas misi di sini! Aku juga sampai diberikan tunjangan hidup berupa sebuah rumah! Guru Kevin yang akan mengantar sampai ke rumah itu..." Ungkap Raisa menjelaskan. Ia bahkan menunjukkan sebuah kunci rumah yang berada di genggaman tangannya.


"Wah, selamat untukmu, Raisa!" Ucap Chilla


"Hebat! Selamat ya, Raisa..." Kata Amy


"Benar-benar kabar baik. Selamat, Raisa!" Ujar Aqila


"Kami ikut senang untukmu..." Serempak Sandra dan Wanda

__ADS_1


"Terima kasih, semuanya!" Ucap Raisa


Mereka semua pun melanjutkan perjalanan menuju rumah baru Raisa di Desa Daun tersebut. Arah jalan ini begitu tidak asing. Sampai akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud.


"Ini adalah rumahnya. Raisa, kau bisa tinggal di sini selama kau berada berkunjung di Desa Daun ini." Ungkap Guru Kevin


"Baik. Terima kasih banyak sudah mengantar sampai sini, Guru Kevin. Maaf, aku tidak bisa memberimu apa pun padahal sudah merepotkanmu." Ucap Raisa


"Sama-sama. Tidak perlu sungkan padaku, Raisa. Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada urusan lain." Ujar Guru Kevin


"Baik, Guru. Maaf sudah terus merepotkanmu." Kata Raisa


Guru Kevin pun hanya tersenyum dan mengangguk sebagai respon perkataan Raisa. Ia pun berbalik dan berlalu pergi dari sana...


"Kita sudah sampai! Rumahnya lumayan bagus juga." Kata Chilla


"Rumah ini jaraknya dekat dengan rumah milik Rumi. Hanya perlu berjalan santai, berjarak tiga rumah adalah rumah milik Rumi." Ucap Aqila


"Ya, setidaknya ada seorang yang Raisa kenal di dekat rumah barunya di Desa Daun." Ujar Wanda


"Ah, aku hanya mengajak kalian untuk ikut ke sini. Sekarang kalian bisa kembali dengan aktivitas kalian, aku takkan mengganggu waktu kalian lagi." Ucap Raisa


"Jadi, kau hanya mau pamer rumah barumu di sini dengan kami, Raisa?" Tanya Sandra


"Eh, tidak begitu." Jawab Raisa


"Ya sudah. Kami sekalian membantumu merapikan rumah saja. Rumah ini belum ditinggali sebelumnya, pasti keadaaannya kacau." Ucap Sandra


"Karena akan merapikan rumahlah, aku tak mau merepotkan kalian untuk membantuku juga." Kata Raisa


"Memangnya kau bisa melakukannya sendiri, Raisa? Kau kan tidak punya alat pembersih satu pun atau pun membawanya." Ujar Wanda


"Benar juga, aku tidak punya." Kata Raisa


"Kalau begitu, kami akan membantumu!" Kata Amy


"Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku buka dulu pintu rumahnya." Ujar Raisa


Raisa pun melangkah mendekati pintu. Memasukkan kunci ke lubang kunci dan membuka kunci rumah barunya. Ia pun membuka pintu rumah barunya itu...


"Setahuku, rumah ini sudah sangat lama tidak ditempati. Tapi, sepertinya sudah pernah ada yang merapikannya." Ujar Aqila


"Mungkin saat Paman Nathan menetapkan rumah ini untuk diberikan untukku, dia sudah meminta orang untuk merapikannya. Katanya, rumah ini sudah ingin diberikan padaku saat pertama aku datang ke sini. Aku juga tidak mengerti kenapa kalian semua sangat baik padaku. Aku sangat beruntung!" Ucap Raisa


"Ayo, masuk! Dan lihat apa ada peralatan kebersihan di dalam." Kata Sandra


Para gadis itu pun masuk san melihat-lihat isi rumah baru Raisa. Mereka mencari alat kebersihan untuk membantu Raisa merapikan rumah. Tapi, di sana hanya terdapat alat kebersihan sederhana. Sebuah sapu dan sebuah alat pel.


"Hanya ada dua ini saja." Kata Raisa


"Kalau begitu, aku akan kembali ke rumah untuk membawa alat kebersihan lain dari rumahku ke sini. Aku akan menyimpan ke dalam gulungan kertas sihir dan membawanya ke sini." Ucap Wanda


"Kalau begitu, aku juga akan melakukan yang sama seperti Wanda!" Kata Amy


"Terima kasih, Amy, Wanda!" Ucap Raisa


"Kami masih belum membawa barangnya ke mari, buat apa ucapanmu itu?" Ujar Wanda


"Tunggu kami, ya!" Kata Amy


Amy dan Wanda pun pergi sari sana untuk melakukan seperti kata Wanda untuk membawa alat kebersihan ke rumah baru Raisa.


"Sementara menunggu mereka berdua, kita mulai dulu saja bersih-bersihnya dengan alat yang ada." Ucap Aqila


"Coba kita lihat! Apa sudah bisa menggunakan air untuk bersih-bersih? Air di sini sudah aktif belum?" Tanya Sandra


"Semangat bekerja merapikan rumah!" Kata Chilla menyemangati dirinya sendiri.


"Teman-teman, terima kasih banyak!" Ucap Raisa


Keempat gadis itu pun sudah mulai terlihat sibuk untuk merapikan kondisi rumah baru itu. Membantu Raisa memulihkan kondisi rumah barunya...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2