Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 34 - Drama Musikal.


__ADS_3

Maura dan Nilam langsung mengajak yang lainnya untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk menonton acara yang akan segera berlangsung.


Semua teman Raisa itu, hanya terus diam terperangah sejak datang ke lokasi acara. Mulai dengan masuk ke dalam gedung yang sangat besar, sampai akhirnya duduk dengan dihadapkan panggung yang megah. Semuanya pun langsung menunggu acara dilangsungkan.


Saat acara amal dimulai, acara yang pertama untuk pembukaan dimulai dari acara lelang. Dana yang terkumpul akan dusumbangkan ke pihak yang membutuhkan, seperti disalurkan untuk daerah rawan bencana atau yang lainnya. Diselingi dengan para penyanyi yang membawakan lagu untuk dinanyikan. Sampai tibalah saatnya untuk pertunjukan drama musikal yang telah ditunggu-tunggu.


"Para hadirin sekalian. Sekarang kita tiba di acara yang sangat dinanti-nanti. Sebuah drama musikal yang akan kami tampilkan adalah sebagian dari pertunjukan demi mengumpulkan dana amal yang akan sama-sama disumbangkan pada pihak-pihak tertentu yang membutuhkan. Semoga semuanya dapat menikmati dan harap kepedulian semuanya untuk tetap menyumbang sambil menyaksikan drama yang akan segera dimulai. Sebuah drama yang berjudul ... Penari Pembunuh. Mari kita saksikan bersama-sama." Pembawa acara pun membuka pertunjukan drama yang akan disaksikan oleh seluruh jajaran tamu undangan yang datang.


"Akhirnya dramanya mulai juga."


"Itu Raisa!"


Saat tirai yang masih menutupi panggung untuk menampilkan drama dibuka, semua yang menonton pun bertepuk tangan.


Drama dimulai dengan menampilkan Raisa yang sedang menari tarian balet.


Drama yang ditampilkan bercerita tentang pembunuh bayaran yang menyamar sebagai penari cantik untuk diam-diam melancarkan rencana aksi pembunuhannya pada target yang telah ditentukan.


Target pembunuhan adalah seorang konglomerat muda kaya raya tampan yang suka menyaksikan pertunjukan seni. Pembunuh bayaran pun menyusup ke dalam pertunjukan seni yang sering disaksikan oleh si target. Sambil menyamar sebagai penari dan menyiasati target agar jatuh cinta padanya, Sang pembunuh pun memulai aksi rencana pembunuhannya.


Diselingi dengan Raisa yang menjadi tokoh utama drama yang ikut bernyanyi dalam pertunjukannya.


Aksi pembunuhan yang direncanakan berulang kali gagal, sang pembunuh malah terjerat cinta dengan si target. Sudah berada di dekat si target begitu lama, pembunuh itu malah masuk perangkap cinta yang ia buat sendiri dan jadi tidak tega membunuh si target yang dicintainya.


Namun, karena telah mendapat bayaran mahal. Sang pembunuh pun mau tak mau harus menuntaskan misinya untuk membunuh lelaki yang kini telah ia cintai.


Konflik dimulai ketika identitas sang pembunuh bayaran yang menyamar sebagai penari dan menjalin asmara dengan si target terungkap. Sang pembunuh pun terus mendapat serangan dari orang bayaran atasannya yang terus mendesaknya untuk segera membunuh si target. Dan, klimaksnya adalah saat sang pembunuh harus berhadapan langsung dengan si target yang dicintainya untuk membunuhnya.


Melodrama pun dimulai. Sang pembunuh mengalami perang batin antara kewajibannya membunuh sebagai pekerjaannya dengan rasa cintanya untuk si target yang semakin mendalam. Saat pistol diarahkan pada si target dan si target telah pasrah untuk dibunuh oleh orang yang juga ia cintai ... DUAR! Suara tembakan terdengar. Namun, yang terkena tembakan itu justru adalah sang pembunuh itu sendiri dan bukannya si target.


Sang pembunuh terpaksa bunuh diri karena tidak bisa membunuh si target yang ia cintai. Di akhir cerita, si target memangku kepala sang pembunuh bayaran yang telah menembak mati dirinya sendiri.


Dengan menggenggam tangan gadis cantik yang bekerja sebagai pembubuh bayaran itu, si target pun berkata ...


"Kenapa jadi seperti ini? Harusnya kau arahkan pistol itu padaku dan bunuh aku! Harusnya yang mati adalah aku!"


Di sisa nafas terakhirnya, sang pembunuh cantik itu tersenyum dan berkata ...


"Mana mungkin aku bisa membunuh orang kucintai? Aku telah menerima bayarannya dan harus ada yang mati dalam misi pembunuhan ini. Maka, orang itu adalah aku. Aku yang berlumuran dosa karena telah membunuh banyak orang memang pantas mati. Aku akan terus mencintaimu. Semoga kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Saat itu terjadi, semoga aku tidak lagi melakukan pekerjaan kotor seperti ini dan tidak ada halangan untuk kita saling mencintai. Sampai jumpa, cintaku!"


Si target yang tak terima atas meninggalnya gadis yang ia cintai pun ikut bunuh diri. Ia menembak kepalanya sendiri dan mati tepat bersebelahan dengan orang yang dicintainya.


"Sampai jumpa lagi, cintaku!"


Drama musikal pun berakhir. Tirai pertunjukan kembali menutup. Semua orang yang menyaksikan pertunjukan drama musikal tersebut pun bertepuk tangan dengan sangat meriah.


"Sungguh kisah cinta yang tragis. Ini adalah cerita Romeo and Juliet abad ini. Semoga semuanya terhibur. Mari kita beralih ke acara selanjutnya." Pembawa acara terus melanjutkan acara.


"Keren sekali!"


"Menakjubkan!"


"Cerita dramanya bagus, aktingnya memukau, suara saat bernyanyi terdengar merdu, adegan aksinya keren, tariannya juga seperti penari hebat sungguhan. Keseluruhan cetitanya bagus."


"Cerita dramanya keren. Bisa memesona, memukau, dan menyentuh hati sekaligus."


"Benar tidak, Rumi? Penampilan Raisa tadi sangat keren, kan?" tanya Morgan yang duduk tepat di samping Rumi.


Rumi terdiam. Matanya seolah mencari keberadaan Raisa berada di balik panggung. Ia seperti masih ingin melihat Raisa yang sayangnya sudah tidak dapat terlihat lagi.


Rumi memang menyukai penampilan Raisa tadi. Ia mengakui kemampuan akting Raisa yang disertai penampilan tarian, aksi, dan bernyanyinya sangat keren dan memukau banyak orang. Namun, masih ada perasaan tidak suka yang mengganjal hatinya. Itu adalah ketika melihat Raisa dekat dengan lelaki lain di atas panggung. Meski itu adalah bagian dari pekerjaan Raisa dan pertunjukan drama, Rumi tetap tidak suka saat melihat Raisa bisa berinteraksi hangat dengan lelaki lain selain dirinya. Apa lagi ketika Raisa harus mendalami peran yang menyuruhnya untuk jatuh cinta dengan lawan perannya. Ya, Rumi merasa cemburu.


Setelah lama terdiam, akhirnya ia hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya atas pertanyaan Morgan.


Pada acara amal saat ini, banyak pelelangan barang. Namun, juga banyak acara hiburan. Pertunjukan drama musikal yang Raisa bintangi adalah salah satunya. Dan banyak diselingi para penyanyi yang menyanyikan lagunya.


Seperti saat ini, Raisa kembali hadir di atas panggung untuk bernyanyi.


"Itu Raisa! Dia kembali tampil. Kali ini dia akan melakukan apa, ya?"


Raisa sedikit membungkuk untuk memberi hormat dari atas panggung.


"Salam hormat saya pada para hadirin dan penonton yang telah datang hari ini. Saya harap kalian semua menikmati pertunjukan drama musikal tadi. Setelah bersedih dengan akhir cerita yang tragis pada drama sebelumnya, saya harap kali ini kalian semua bisa kembali bersemangat dan gembira bersama-sama," ucap Raisa di atas panggung dengan memegang stand mic dan mikrofonnya.

__ADS_1


Musik pun dinyalakan.


Ketika siapa saja sendirian


Berdiam diri tak ada hiburan


Jika kau merasakan kesepian


Datang ke mari kita senang-senang


Semua berdiri, waktunya beraksi


Penindasan kekerasaan tak jaman


Kami datang membawa perdamaian


Ciptakan suasana tak terlupakan


Lantangkan suaramu dan teriakkan


Alunan distorsi, semua ikut beraksi


Yang ada di sana, yang ada di sini


Semua ikut bernyanyi


Hey, yang datang di sini


Jangan bikin keki


Bikin suasana happy


Beraksi ...


Beraksi ~


Awalnya, semua bertanya-tanya alasan kenapa Raisa masih memakai pakaian ala pembunuh bayaran yang serba hitam padahal drama sudah berakhir sejak tadi. Rupanya, itu untuk penyesuaian dengan genre lagu rock yang dibawakannya kali ini.


Usai bernyanyi Raisa kembali membungkuk hormat dan kemudian beranjak ke belakang panggung.


"Dia terlihat energik dan bersemangat sekali."


"Itu artinya pembawaannya saat bernyanyi sudah sangat bagus karena dia bisa menyesuaikan diri dengan tema lagu yang dinyanyikannya."


"Iya juga. Saat melihat video rekaman Raisa yang menyanyikan lagu sedih saja aku langsung menangis. Penghayatannya sangat luar biasa."


"Tidak hanya saat bernyanyi, saat berakting tadi ekspresi dan penghayatannya bagus sekali. Membuat kita semua seolah berada di dunia drama itu sendiri."


Acara pun terus berlangsung.


"Maura, Nilam, apa kalian berdua tahu kapan kira-kira acaranya selesai?" tanya Rumi


"Kalau itu ... kami gak tahu," jawab Maura


"Acara amal besar-besaran seperti ini biasanya akan memakan waktu yang lama," ungkap Nilam


"Sepertinya ada yang sudah tidak sabar bertemu langsung dan bertatap wajah dengan Raisa," sindir Ian


Padahal masih berada di gedung yang sama dan masih bisa melihat penampilan Raisa di atas panggung dari kursi penonton, tapi Rumi tetap saja merasa rindu pada gadis tercintanya. Meski kenyataannya Rumi sudah merindukan Raisa, lelaki itu pun hanya bisa menunggu sampai acara berakhir.


Untung saja Raisa tidak langsung menghilang ke belakang panggung dan masih sesekali tampil menyanyikan lagu yang berbeda atau membuka penawaran pada acara pelelangan. Jadi, Rumi tidak merasa bosan meski harus menunggu. Karena ia masih bisa melihat wajah cantik Raisa dan tersenyum saat gadis itu kembali muncul ke atas panggung.


"Tunggu. Kalian lihat pakaian Raisa saat ini tidak?" tanya Chilla


"Pertanyaan macam apa itu!? Tentu saja, kami melihatnya. Kami tidak buta," jawab Amon


"Maksudku ... apa kalian sadar kalau saat ini pakaian Raisa berwarna sama dengan pakaian Rumi," ujar Chilla


"Setelah dilihat, ternyata benar. Aku tidak menyadarinya," kata Sanari


"Memangnya apa yang salah kalau warna pakaian mereka berdua sama?" tanya Devan


"Dasar, lelaki memang tidak peka. Bagi orang yang tidak tahu, memang tidak akan mempermasalahkannya. Tapi, bagi orang yang tahu dan sadar, ini jelas mereka sedang mengungkapkan bahwa mereka berdua adalah pasangan," jelas Chilla

__ADS_1


"Warna pakaian yang sama berarti pasangan serasi. Begitu, kan, maksudmu, Chilla?" tanya Aqila menebak.


"Tepat sekali," jawab Chilla


"Apa benar yang dikatakan Kak Chilla, Kak Rumi?" tanya Monica


"Bisa dibilang seperti itu," jawab Rumi


Raisa memang sudah berjanji akan memakai pakaian dengan warna yang sama dengan Rumi setelah selesai acara. Itu adalah pakaian yang pernah dibeli bersama-sama saat ulang tahun Rumi. Pakaian Raisa dan Rumi berwarna biru malam yang cantik dan mengangumkan.


"Rupanya, kalian berdua ingin mengungkap hubungan secara tidak langsung, ya ... manis sekali," ledek Chilla


"Bahkan pandangan matamu tidak mau lepas dari Raisa saat ini. Tenang saja, Raisa tidak akan dibawa lari orang. Hati-hati matamu lama-lama bisa lepas sungguhan karena terlalu lama menatapnya," sambung Chilla


"Saat Raisa kembali ke belakang panggung, pandangan mataku akan lepas dari arah panggung kok," kata Rumi


Setelah selesai acara, tamu rekanan artis yang datang boleh ikut masuk ke belakang panggung. Maka dari itu, Maura dan Nilam langsung mengajak teman-teman Raisa untuk ke belakang panggung. Rumi adalah orang yang paling semangat saat itu juga.


"Ke sebelah sini. Itu ... Raisa," kata Maura


"Raisa lagi foto-foto bareng sesama artis di sana. Sebaiknya kita jangan ganggu dia dulu," ucap Nilam


Mereka pun harus menunggu untuk menghampiri Raisa agar tidak mengganggunya yang sedang bersama sesama rekan artis.


Saat itu, senyum kecil Rumi yang sudah menanti-nanti untuk berjumpa lagi dengan Raisa seketika pudar dan berganti dengan ekspresi masam dan cemberut. Itu adalah ketika Rumi melihat Raisa sedang berfoto mesra dengan artis lelaki. Rumi baru sadar bahwa artis lelaki itu adalah lawan peran Raisa saat berakting dalam drama musikal sebelumnya.


Maura dan Nilam pun sama-sama memanggil nama Raisa saat gadis itu selesai berfoto-foto. Raisa pun menoleh dan mendapati teman-temannya di sana. Raisa melambaikan tangannya untuk menyapa.


"Itu teman-temanku. Maaf ... aku ke sana dulu, ya," ucap Raisa pada rekan sesama artisnya.


Setelah itu, Raisa langsung berjalan mendekat ke arah teman-temannya yang sudah menghampirinya ke belakang panggung.


"Halo-"


Baru saja Raisa hendak menyapa, Rumi sudah berhambur memeluk tubuhnya lebih dulu.


"Rumi, ada apa? Kau kenapa?" tanya Raisa yang merasa bingung dengan tingkah Rumi saat itu.


Biasanya Rumi tidak pernah tiba-tiba memeluknya seperti ini, apa lagi di depan banyak orang.


"Aku hanya ingin memelukmu," jawab Rumi


"Rumi seperti itu karena sudah merindukanmu, Raisa," ungkap Marcel


"Sepertinya bukan hanya itu," kata Chilla


"Apa lagi maksudmu, Chilla?" tanya Sandra


"Rumi merasa cemburu melihat Raisa dekat dengan artis tampan yang foto bersamanya tadi itu. Makanya, dia langsung terburu-buru ingin memeluk Raisa karena tidak tahan melihat pemandangan tadi," jelas Chilla


"Apa benar seperti itu, Rumi?" tanya Raisa yang masih berada di dalam pelukan Rumi.


Rumi tidak menjawab dan hanya membenamkan wajahnya pada lengkungan leher Raisa dan mengeratkan pelukannya.


"Lelaki tampan itu yang tadi ikut bermain peran bersamamu pada drama tadi, kan, Raisa?" tanya Chilla


Raisa hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan dari Chilla.


"Dia itu aktor seniorku dan sudah punya pacar. Kau jangan cemburu seperti ini dong, Rumi," ungkap Raisa


Rumi pun melepaskan pelukannya.


"Penampilanmu tadi semuanya bagus sekali, Raisa," puji Rumi sambil tersenyum. Mungkin perasaannya sudah lebih lega setelah Raisa bilang aktor lelaki tadi sudah punya pacar.


"Terima kasih," ucap Raisa itut tersenyum mendengar pujian dari Rumi.


"Ya. Kau keren sekali, Raisa. Hebat," kata Wanda


"Kami sangat menikmati penampilanmu di atas panggung tadi," ucap Billy


Mereka berbincang-bincang bersama Raisa di belakang panggung. Saat itu, aktor tampan yang menjadi lawan peran Raisa di drama musikal sebelumnya datang menghampiri.


.

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2