Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 132 - Kafe Putri.


__ADS_3

Mobil yang Raisa dan Rumi tumpangi sudah tiba di lokasi tujuan. Di sekitar sana cukup ramai. Namun, sepertinya keramaian itu bukan semuanya pengunjung kafe baru milik Raisa.


"Sepertinya kita gak bisa berhenti tepat di titik lokasi. Di depan sana ramai, sepertinya mobil gak bisa lewat."


"Gak apa. Berhenti di sini aja, Pak," kata Raisa


Mobil pun diberhentikan. Saat mobil berhenti, Rumi langsung membuka pintu mobil penumpang dan beranjak ke luar dari dalam mobil tersebut. Raisa yang masih berada di dalam mobil pun membayar biaya mobil online yang ditumpangi lebih dulu.


"Apa Bapak gak berniat untuk turun dan membeli kopi? Lokasi tujuan kami sebenarnya adalah kafe baru saya," ujar Raisa


"Kafenya baru buka, ya, Kak? Pantas aja ramai, tapi maaf saya gak bisa mampir karena harus kejar setoran. Apa lagi pas lagi ramai seperti sekarang ini."


"Ya, gak apa-apa. Saya kira Bapak mungkin masih mengantuk dan butuh asupan kafein untuk tetap terjaga, jadi saya hanya menawarkan. Lalu, untuk informasi aja, khusus hari ini ada potongan harga 20% untuk pembelian apa pun," kata Raisa


"Kalau begitu, meski gak sekarang saya akan datang. Seperti kejar setoran, saya juga akan kejar diskon."


"Bisa aja, Pak. Terus semangat dan hati-hati saat nyetir mobil. Terima kasih," ucap Raisa


"Terima kasih kembali."


Raisa pun turun dari mobil. Mobil pun kembali melaju pergi dari sana


"Apa yang kau bicarakan tadi?" tanya Rumi


"Aku hanya melakukan promosi untuk kafe baruku. Kau tidak mungkin cemburu dengan Bapak supir tadi, kan?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan sari sang suami.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu dab sudah dapat jawabannya juga," jawab Rumi


"Kupikir kau bisa mendengar langsung obrolanku dengan Pak supir di dalam mobil tadi," kata Raisa


Maura dan Nilam yang memang ikut datang pun menghampiri Raisa dan Rumi.


"Raisa, Rumi, apa kabar?" tanya Nilam menyapa.


"Kami baik," jawab Rumi


"Aku kangen. Udah lama kita gak ketemu," kata Maura


"Kita baru ketemu sebulan yang lalu di acara pernikahan kami, tapi kamu udah rindu kayak gak ketemu bertahun-tahun aja," ucap Raisa


"Karena biasanya kita selalu bareng untuk jadi penata gaya dan manager kamu," ujar Maura


"Kalian berdua, apa kabar?" tanya Raisa


"Baik selalu," jawab Maura dan Nilam secara bersamaan.


"Tapi, siapa yang panggil wartawan ke sini?" tanya Raisa


"Gak tahu. Kami berdua juga baru aja mau tanya sama kamu," jawab Maura


"Katanya, Hasna dan Andien juga mau datang? Apa mereka berdua udah sampai?" tanya Raisa


"Mereka berdua udah ada di dalam kafe, bantu-bantu karena di dalam juga ramai banget. Mungkin pembeli merasa tertarik setelah lihat banyak wartawan, jadi pelanggan yang datang pun makin banyak," jawab Nilam


"Sekarang kita harus gimana, nih?" tanya Maura


"Hadapi aja dengan natural," jawab Raisa


"Aku dan Maura bakal narik pelanggan lagi," kata Nilam


"Terima kasih udah mau nenyempatkan untuk datang dan membantu," ucap Raisa


"Sama-sama," balas Maura dan Nilam secara bersamaan.


"Sepertinya istriku ini memang tak terpisahkan dengan situasi seperti ini," ujar Rumi


"Tidak juga kok," kata Raisa sambil tersenyum.


Maura dan Nilam pun sama-sama membubarkan diri untuk kembali mencoba menarik pelanggan untuk datang ke Kafe Putri.


Raisa dan Rumi langsung dihampiri oleh para wartawan saat keduanya mendekat ke arah kafe.


"Permisi. Halo, Raisa! Apa bisa wawancara sebentar?"


"Sebentar aja, Raisa. Tolong jawab pertanyaan kami!"


"Semuanya harap tenang. Teman-teman, para wartawan semuanya, saya hargai kedatangan kalian semua ke sini. Tapi, mohon waktunya untuk menunggu. Saya ingin mengurus kafe baru saya dulu. Saya sendiri yang akan menghampiri kalian semua saat siap untuk diwawancarai nantinya," ucap Raisa


"Kalian bisa menunggu sambil meminum kopi dan makan makanan manisnya. Khusus hari ini akan ada potongan harga 20%. Silakan menikmati sambil menunggu dengan tenang," sambung Raisa


"Benar, nih?"


"Janji, ya?"


"Ya. Mohon kebersediaannya. Saya permisi," kata Raisa


Raisa pun beralih dari kerumunan wartawan tersebut. Wartawan itu hanya bisa membiarikannya karena Raisa sendiri yang berjanji bersedia untuk diwawancarai nanti.

__ADS_1


Namun, bukannya masuk ke dalam kafe baru miliknya, Raisa malah beranjak untuk menarik pelanggan ditemani oleh Rumi.


Melihat itu, para wartawan langsung merekam untuk tambahan video dokumentasi untuk tema wawancara kali ini nantinya.


"Gak nyangka, ya, Raisa mau turun tangan langsung untuk menarik pelanggan di jalan."


"Ya, mau gak maulah. Kan, ini usaha barunya."


"Ayo, rekam! Rekam! Cepat!"


"Ini bukan cuma tentang mau gak mau, tapi tentang yang nyatanya dia mau dan terlihat tulus dan ramah saat menarik pelanggan."


"Ya, ini juga akan menarik bagi penggemar dan penonton nantinya. Jadi, kita harus banyak merekam."


"Rekam Rumi juga. Mereka berdua pasangan serasi hari ini."


"Kabarnya Raisa dan Rumi udah menikah. Kita bisa tambahin pertanyaan seputar mereka berdua saat wawancara nanti."


Di luar kafe, ada Maura, Nilam, Raisa, Rumi, dan salah satu pegawai kafe yang berusaha menarik pelanggan di jalanan.


Sedangkan di dalam kafe, ada Andien, Hasna, dan dua orang pegawai kafe yang melayani pelanggan yang datang dan masuk untuk membeli dan memesan sesuatu di dalam kafe Putri.


Hati ini senyuman indah tak lepas dari bibir pada wajah cantik Raisa. Mulai dari rumah, saat baru turun dari mobil online, bertemu dengan Maura dan Nilam, menjumpai wartawan, sampai saat berusaha menarik pelanggan. Hingga akhirnya Raisa dipanggil oleh Hasna yang ke luar dari kafe.


"Raisa, Kafe udah penuh! Di sini butuh bantuan!" teriak Hasna


"Ya, tunggu! Aku datang!" teriak Raisa menyahut.


"Kalian juga, masuk ke kafe aja dan kita bantu yang di dalam. Menarik pelanggannya udah cukup!" sambung Raisa berteriak pada Maura, Nilam, dan seorang pegawai kafe barunya.


"Aku ikut denganmu," kata Rumi yang langsung menghampiri Raisa saat tadinya berjauhan untuk ikut menarik pelanggan.


"Tentu saja, kau harus ikut supaya bisa terus ada dekat denganku," sahut Raisa


Maura, Nilam, dan seorang pengawai dari Kafe Putri berlarian masuk ke dalam kafe lebih dulu. Sedangkan Raisa dan Rumi menyusul masuk ke dalam kafe sambil saling bergenggaman tangan dengan erat.


Para wartawan kembali heboh dan semua berusaha untuk ikut masuk ke dalam kafe. Namun, Raisa menahan mereka semua.


"Raisa dan Rumi bergenggaman tangan. Cepat, sorot!"


"Ayo, cepat!"


"Raisa ... Raisa!"


"Raisa, Rumi, tolong lihat ke sini!"


Dua orang wartawan pun ikut masuk ke dalam Kafe Putri setelah diizinkan oleh Raisa, yang salah satunya adalah seorang kamera-man. Sedangkan wartawan yang lain tetap berada di luar kafe sambil terus merekam dari luar.


Situasi di dalam kafe benar-benar penuh. Beberapa meja yang tersedia sudah penuh yang bahkan 1 meja sedang saja bisa dimuat oleh 5 orang sekaligus. Pada meja antrian pemesanan pun dipenuhi pelanggang yang ingin sekadar membeli lalu pergi.


Raisa pun langsung masuk ke balik meja antrean pesanan dan membantu pegawainya membuatkan pesanan. Rumi pun ingin ikut membantu di sebelahnya. Namun, Raisa mencegah suaminya itu.


"Aku juga ingin membantu di dekatmu," kata Rumi


"Di dalam sini sempit. Kalau kau mau membantu, bisakah kau menulis dan mengantar pesanan untuk meja pelanggan saja?" tanya Raisa


"Katamu, aku harus terus ikut untuk menemani di dekatmu," ujar Rumi


"Tapi, kau pasti tidak tahu caranya membuatkan pesanan dan aku butuh bantuan untuk layanan neja pelanggan," ucap Raisa


"Baiklah, aku mengerti," kata Rumi


Raisa langsung memberikan notabook dan pulpen pada Rumi yang akan digunakan untuk mencatat pesanan.


"Mohon bantuanmu, Sayang," kata Raisa


Rumi mengangguk sambil tersenyum. Lalu, pria itu beranjak untuk menerima dan mencatat pesanan dari neja pelanggan serta meminta dan mengantar pesanan dari meja antrean.


Raisa pun menjadi sibuk nembuatkan pesanan membantu dua pegawai kafe barunya di balik meja antrean pemesanan.


Kegiatan di dalam kafe tersebut pun tak luput dari wartawan yang merekam dari salah satu sudut.


Para pelanggan yang mengantre pada meja pemesanan pun tidak merasa bosan meski harus mengantre karena bisa melihat artis idolanya yang melayani dengan penuh ketulusan dan sikap ramah sambil terus tersenyum cantik.


Mereka tidak tinggal diam saat mengantre. Kebanyakan dari mereka menggunakan ponsel masing-masing untuk mengabadikan momen melihat sang idola ke dalam sebuah foto atau video.


Yang duduk di kursi pada meja pelanggan pun sama. Mereka mencuri-curi kesempatan memfoto dari jauh. Entah itu Raisa atau Rumi tak luput dari sorotan banyak orang.


"Raisa cantik dan ramah banget. Gak salah deh masuk sini meski harus antre."


"Rumi juga. Meski lebih terkesan dingin, tetap ganteng."


"Benar-benar pasangan serasi."


"Rumi dingin ke kita-kita doang. Emang kalian gak dengar pas dia lagi ngobrol sama Raisa tadi? Sweet banget, kan?"


"Iya, bikin iri aja."

__ADS_1


"Istrinya cantik, suaminya ganteng. Cocok banget."


Begitu ada pelanggan yang duduk pergi nengosongkan satu kursi saja, pelanggan yang mengantre langsung berebut kursi kosong tersebut.


Setiap ada pelanggan yang ke luar setelah membeli dari dalam kafe, maka akan diberi sekuntum mawar merah sebagai tanda terima kasih. Khusus untuk hari ini saja. Bunga itu adalah bunga yang sengaja diambil dari Putri Bunga, toko bunga milik Raisa. Ini adalah strategi penarikan minat pelanggan yang sudah datang agar kembali datang di lain waktu.


"Satu es mocca latte siap dibawa pulang. Harganya Rp. XX.000,- dan ini bunga mawar yang hanya ada khusus hari ini. Selamat menikmati dan silakan kembali lagi." Seperti itulah cara pelayanan yang diberikan oleh Raisa sambil terus melontarkan senyuman ramah khas dirinya.


"Raisa, kamu istirahat dulu sana," ucap Andien yang datang menghampiri


"Tapi, pelanggannya masih terus bertambah banyak," kata Raisa


"Biar aku gantiin kamu. Atau kamu nyanyi sana, biar pelanggan gak jenuh sama keramaian di sini. Sayang, di dalam kafe udah disediain mini stage, tapi gak malah nganggur," ujar Andien


"Iya, Kak Raisa. Nyanyi dong!" seru seorang pelanggan gadis berseragam SMA yang sedang mengantre dengan sengaja bersuara keras.


Pelanggan yang lain pun bersorak meminta agar Raisa bernyanyi.


"Nyanyi ... nyanyi!"


"Raisa ... Raisa!"


"Raisa, nyanyi!"


"Oke. Kamu tolong gantikan aku, ya, Andien. Mohon bantuannya, bestie," ucap Raisa


Andien pun mengangguk.


Saat Raisa ke luar dari balik meja pemesanan, Andien langsung mengisi kekosongan itu dan menggantikan posisi Raisa.


Saat itu, dengan langkah cepat Rumi langsung mengambil segelas air mineral dari dispenser yang ada di sana dan menghampiri sang istri. Pria itu memberikan segelaa air mineral yang ada di tangannya pada Raisa.


"Diminum dulu airnya. Kau pasti lelah terus bicara melayaji pelanggan dari tadi," kata Rumi


"Terima kasih, Rumi," ucap Raisa begitu menerima segelas air mineral dari sang suami.


Raisa langsung meneguk air mineral pemberian dari suaminya itu. Rumi pun tidak tinggal diam, ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menghapus peluh pada kening Raisa.


"Kau sampai berkeringat seperti ini," gumam Rumi


Semua pelanggan yang ada langsung bersorak saat menyaksikan adegan romantis pasangan suami istri antara Rumi dan Raisa.


Usai meneguk air mineral, Raisa langsung menyunggingkan senyuman terbaiknya lagi.


"Kau selau membawa sapu tangan milikmu ... benar-benar pria sejati. Terima kasih," ucap Raisa


"Kalau ingin berterima kasih, maka naik dan bernyanyilah. Aku pun ingin mendengar suara indah nan merdu milikmu," ujar Rumi


"Baiklah," kata Raisa


Rumi langsung meraih kembali gelas air dari tangan Raisa dan membiarkan istrinya itu naik ke atas mini stage untuk segera bernyanyi.


Sebelum naik ke atas panggung mini, Raisa lebih dulu meminta bantuan Hasna untuk mengatur sound music dan sound system agar musik dan mikrofon dapat menyala dengan baik.


Di atas mini stage, Raisa lebih dulu mengetuk mikrofon sebanyak tiga kali untuk mengetesnya. Saat dirasa mikrofon telah aktif sempurna, Raisa pun menberi aba-aba berupa anggukan kepala agar Hasna bisa menyalakan music dari lagu pilihannya.


Itu adalah lagu dari penyanyi Vina Panduwinata yang berjudul Cinta.


Bergetar hatiku


Saat kuberkenalan dengannya


Kudengar dia menyebutkan nama dirinya


Sejak kubertemu, ku telah jatuh hati padanya


Di dalam hati telah menjelma cinta dan bawalah daku selalu


Dalam mimpimu, di langkahmu serta hidupmu


Genggamlah daku kini juga nanti


Harapan di hatiku bawalah diriku selamanya


Seperti itulah sekiranya lirik lagu yang dinyanyikan oleh Raisa di atas panggung mini.


Saat lagu berakhir dinyanyikan, semua orang bertepuk tangan dengan meriah.


Saat itu Rumi langsung terpana melihat penampilan Raisa yang bernyanyi di atas panggung meski nyatanya sang istri hanya bernyanyi sambil berdiri di balik standing mic. Namun, senyuman dan gerakan tangan di sela nyanyian serta suara yang apik dari sang istri telah berhasil membuatnya terpesona sekali lagi.


Usai Raisa bernyanyi, para pelanggan yang ada mulai bersorak agar Rumi ikut naik ke atas panggung untuk berduet dengan Raisa.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2