Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
173 - Terapi Dansa.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Sejak Raisa sadar, keadaan menjadi lebih baik. Pemeriksaan secara berkala masih berlanjut yang dilakukan langsung oleh Bibi Sierra.


"Di mana Rumi? Kenapa aku tidak melihatnya? Tumben sekali dia tidak terlihat di sisimu, Raisa?" tanya Bibi Sierra


"Karena teman-teman bersedia menjagaku secara bergantian, kupaksa dia pulang. Dia harusnya lebih memperhatikan dirinya sendiri, tapi kudengar dia tidak begitu, bahkan sudah menjadikan rumah sakit ini seperti rumahnya sendiri. Mana ada orang yang seperti itu," ungkap Raisa


"Harusnya kau bersyukur nemiliki orang seperti itu di sisimu," kata Bibi Sierra


"Ya, aku memang beruntung. Setidaknya itulah yang masih kumiliki," ucap Raisa seraya tersenyum getir.


"Mama, apa pemeriksaannya sudah selesai? Aku ingin membawa Raisa ke luar untuk berjemur sinar matahari dan menghirup udara segar," ujar Aqila bertanya.


Kali ini, saatnya Aqila yang menemani dan menjaga Raisa selagi Rumi tidak ada.


"Sudah. Kalau begitu, hati-hati saat ke luar, ya," pesan Bibi Sierra yang lalu beranjak pergi.


"Ayo, Raisa! Sini, kubantu," kata Aqila


"Ya. Terima kasih," ucap Raisa


Aqila pun membantu Raisa untuk berpindah ke kursi roda. Setelah duduk dengan benar, Aqila pun mendorong kursi roda Raisa menuju ke taman rumah sakit.


Raisa tersenyum karena bisa ke luar dari ruang rawat walau hanya sesekali. Senyum cerah cerianya telah kembali, meski begitu sebenarnya perasaannya tidak baik-baik saja. Terkadang pula, ia menunjukkan senyum getir dan pahit. Namun, sebisa mungkin ia menahan perasaannya agar tidak diketahui dan terlihat jelas di mata orang lain. Terkadang pula, saat tidak ada yang menyadarinya tatapannya menjadi kosong dan hampa, hanya melihat lurus ke depan. Dan saat orang lain menatap ke arahnya, ekspresinya langsung berubah drastis! Ia tersenyum riang seolah tidak terjadi apa-apa padanya sebelum ini. Raisa pandai sekali mengatur ekspresi dan menutupi perasaannya.


Raisa menghirup udara di sekelilingnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia menurunkan kedua kakinya sendiri dari topangan kaki di kursi roda agar dapat merasakan kehangatan dari rumput di taman. Saat itu, Aqila hendak membantunya. Namun, Raisa menolak dan melarangnya.


"Biar kubantu ... " kata Aqila yang sudah bersiap menyentuh kaki Raisa.


"Tidak. Jangan lakukan itu, aku merasa tidak enak denganmu," tolak Raisa mencegah Aqila menyentuh kakinya.


"Tidak perlu sungkan denganku, Raisa. Kan, kita teman," ujar Aqila yang pada akhirnya urung membantu Raisa.


"Aku hanya tidak ingin terlalu merepotkanmu. Tadi kau sudah menopang tubuhku yang berat untuk duduk berpindah ke kursi roda, jadi kau tidak perlu lagi membantuku memindahkan kakiku. Kalau untuk hal seperti ini, tanganku masih cukup bertenaga untuk melakukannya sendiri," tutur Raisa


"Tidak apa, Raisa. Kedua kakimu masih bisa kembali normal lagi. Mamaku, kan, sudah bilang ... kalau ini terjadi hanya karena kau tidak menggerakkan kakimu selama tertidur panjang hingga jadi tidak bertenaga. Kau akan segera pulih, jangan khawatir," ucap Aqila


Raisa mengangguk mengerti sambil tersenyum.


Kondisi kaki Raisa yang tidak bisa digerakkan karena lemas tidak bertenaga dan lemah adalah suatu hal yang wajar setelah pernah mengalami KOMA. Hal seperti ini akan dapat pulih kembali selama dilatih dan menjalani terapi yang baik dan benar. Sementara ini, Raisa akan bergerak menggunakan kursi roda.


Aqila mensejajarkan tubuhnya dengan Raisa dengan berjongkok di samping temannya itu.


"Raisa, kalau kau merasa sedih, menangislah. Walau Rumi melarangmu, jangan hiraukan ucapannya karena dia sedang tidak ada di sini. Ke luarkan keluh kesahmu. Jangan ditahan, kau akan merasa tertekan jika begitu," ujar Aqila


Raisa menoleh pada Aqila dan menatapnya sambil tersenyum. Meski begitu, air matanya menetes lagi.


"Aku tidak bersedih, Aqila. Ini air mata syukurku dan karena ucapanmu berhasil menyentuh hatiku. Aku merasa bersyukur sekaligus beruntung. Aku bersyukur karena bisa tetap hidup setelah kejadian menyulitkan dan beruntung memiliki banyak teman baik seperti kalian yang tetap peduli padaku. Apa yang lebih berharga dari berkah hidup seperti ini? Rasanya melegakan sekaligus membahagiakan," tutur Raisa


"Tidak masalah walau aku kehilangan sihirku. Aku masih punya kekuatan lainnya dan bisa melatih kemampuanku yang lainnya setelah pulih nanti. Sihir bukanlah segalanya, buktinya sekarang aku masih hidup," lanjut Raisa, lalu menghapus air matanya.


"Benar, Raisa! Kau orang yang kuat dan hatimu yang tulus dan tegar, itulah kekuatanmu dan kemampuanmu yang paling unggul. Kau orang yang baik, semua orang menyukaimu," ucap Aqila


"Benar, itulah bakatku. Disukai banyak orang dengan caraku sendiri," kata Raisa


Raisa dan Aqila pun tertawa bersama-sama. Aqila bangkit berdiri.


"Raisa, aku ke toilet dulu, ya. Tetaplah di sini," kata Aqila


"Baiklah," patuh Raisa karena bagaimana pun ia masih belum bisa bebas pergi tanpa bantuan orang lain.


Aqila beranjak pergi dan Raisa pun tetap menunggunya di sana.


Rumi memang diminta untuk pulang dan beristirahat di rumah. Namun, ia tidak bisa tenang dan terus memikirkan Raisa. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


Saat ke rumah sakit, Rumi langsung menuju kamar rawat Raisa. Namun, tidak ada orang di sana. Rumi tahu, Raisa tidak mungkin pergi dari rumah sakit dan membuat orang lain khawatir. Raisa pasti masih berada di rumah sakit tersebut dan Rumi memilih untuk mencarinya.


Setelah beberapa saat mencari, Rumi melihat sosok yang dikenalnya sedang duduk di atas kursi roda dan berada di taman rumah sakit. Itu adalah Raisa, gadis yang dicintainya!


Namun, Rumi tidak langsung menghampirinya. Karena Raisa terlihat sedang menikmati kesendiriannya.


Raisa memandang jauh ke depan sambil tersenyum indah. Namun, air terus menetes dari matanya.


Rumi yang melihat Raisa dari jauh bisa mengerti perasaan gadis itu. Perasaan hatinya pasti sedang berkecamuk karena sedih.


Saat Rumi hendak menghampiri Raisa, Aqila datang mendekatinya.


"Rumi, kau kembali ke sini? Kau sedang mencari Raisa?" tanya Aqila


"Ya dan dia ada di sini," jawab Rumi karena tahu Raisa berada di taman dekat sana.


"Kau tidak menghampirinya?" tanya Aqila lagi.


"Niatku seperti itu, lalu kau datang," jawab Rumi


"Kalau begitu, temani dan hiburlah dia. Dia sedang berusaha menutupi kesedihannya. Aku tidak akan mengganggu kalian, jadi aku pergi dulu," ujar Aqila


"Aku mengerti. Terima kasih, Aqila," kata Rumi


Aqila pun pergi meninggalkan tempat itu.


Rumi berjalan menghampiri Raisa...

__ADS_1


"Kau sendiri saja, Raisa?" sapa Rumi menyapa.


"Tadi Aqila bersamaku, dia sedang ke toilet," ungkap Raisa sambil melihat ke arah Rumi yang baru datang.


"Kau di sini? Bukankah harusnya kau istirahat di rumah?" tanya Raisa


"Habisnya, aku tidak bisa berhenti nemikirkanmu. Jadi, aku kembali. Selain itu, aku baru saja bertemu Aqila dan dia pergi setelah menitipkanmu padaku," jelas Rumi


"Haish~ Memangnya aku anak kecil sampai harus menitipkanku padamu! Kira-kira dia ke mana, ya?" ujar Raisa bertanya.


"Entahlah, mungkin dia akan mencari Chilla atau bersama Morgan," kata Rumi


"Benar juga! Harusnya aku tidak menyita waktu orang yang sedang menjalin asmara," ucap Raisa


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Raisa," ungkap Rumi


"Hei, kaulah yang lebih sering bersamaku, tahu! Apa kau tidak pernah merasa bosan?" ujar Raisa bertanya.


"Aku ingin selalu bersamamu dan tidak akan pernah merasa bosan," ucap Rumi


"Rumi, kau tidak akan meninggalkan aku, kan? Walau mungkin aku sudah tidak lagi berguna untukmu?" yanya Raisa


Rumi berlutut di hadapan Raisa. Dan menatapnya lembut.


"Kau ini bicara apa? Kenapa menanyakan hal yang sudah pasti? Raisa, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bukankah kaulah yang pernah hampir meninggalkanku? Kau tidak perlu menjadi berguna untukku karena kaulah yang paling berharga untukku, kau hanya perlu ada dan aku akan melengkapimu," ujar Rumi


"Rumi, aku sudah tidak bisa melindungimu atau siapa pun lagi. Jagalah dirimu karena aku tidak sanggup dan lebih tidak ingin melihatmu terluka, sedikit pun," ucap Raisa


Rumi mengangguk mengerti sambil tersenyum kecil.


"Mulai sekarang aku yang akan melindungimu. Raisa, beri aku kesempatan agar kita bisa kembali seperti dulu, ya? Bolehkah?" ujar Rumi bertanya.


"Aku sedang tidak ingin membahas hal itu. Maaf," kata Raisa


"Baiklah, aku mengerti. Sekarang, bisa berikan kedua tanganmu?" ujar Rumi meminta.


Rumi menengadahkan kedua tangannya di hadapan Raisa.


"Untuk apa?" Meski bertanya begitu, Raisa memberikan kedua tangannya dan meletakkannya di atas kedua tangan Rumi.


Rumi membalikkan tubuhnya. Lalu, menggenggam erat kedua tangan Raisa dan menariknya agar tubuh Raisa dapat merapat pada punggungnya. Rumi pun bangkit berdiri dan menggendong tubuh Raisa di balik punggungnya.


"Hei, kau mau apa? Turunkan aku!" kata Raisa


"Berjemur sinar matahari memang bagus, tapi bukankah lebih bagus jika berolahraga? Lebih bagus lagi saat kita bisa melakukannya bersama seperti ini," ujar Rumi


Rumi pun berjalan perlahan dan mulai menambah kecepatannya, lalu berlari sambil menggendong Raisa.


Rumi tidak mengindahkan ucapan Raisa dan terus berlari ke sekeliling taman rumah sakit. Awalnya Raisa memang mengomel, tapi akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama.


"Berhenti, Rumi! Turunkan aku! Kutahu kau sudah lelah," pinta Raisa


"Baiklah," patuh Rumi


Rumi pun menurunkan Raisa. Namun, mereka berada jauh dari posisi kursi roda.


"Kenapa di sini? Kursi rodaku masih jauh di sana," ujar Raisa merasa bingung.


"Kau harus melatih kakimu. Turun saja. Aku akan menemanimu berlatih berjalan di sini," ucap Rumi


Raisa pun turun dari gendongan Rumi. Tanpa melepaskan tangan Raisa, Rumi membiarkan Raisa turun dari gendongannya.


Setelah itu, Rumi pun membantu Raisa berlatih berjalan sambil terus memegangi kedua tangan Raisa.


"Kenapa melakukannya setelah kau berolahraga dan kita tertawa bersama? Bukankah akan jadi sulit kalau seperti ini? Aku belum bisa berdiri tegak dan nafasmu masih belum sepenuhnya stabil setelah menggendongku ... " tanya Raisa


"Tidak apa, kita lakukan perlahan-lahan saja. Yang penting kau merasa bahagia dulu," ucap Rumi


"Memangnya aku terlihat tidak bahagia?" tanya Raisa lagi.


"Tidak juga," jawab Rumi


Setelah merasa cukup, Rumi pun memapah Raisa untuk duduk kembali menuju ke kursi roda. Lalu, Rumi mendorong kursi roda Raisa kembali ke kamar rawatnya.


•••


Kini sehari-hari Raisa menjalani terapi. Fisioterapi, melatih kakinya untuk bergerak agar dapat berjalan kembali.


Kali ini, Raisa berlatih dengan berpegangan ke besi yang berada di sisi kanan dan kirinya di dalam kamar rawat.


Saat sedang latihan berjalan, Raisa melarang Rumi datang dengan alasan menyuruhnya istirahat di rumah. Raisa tidak ingin lelaki itu melihatnya yang sedang lemah.


Itu sudah berlangsung beberapa hari. Namun, hari ini Rumi datang saat Raisa sedang terapi berlatih berjalan dan Raisa tidak menyadari kedatangannya.


Saat sedang terapi, berulang kali Raisa terjatuh. Seperti saat ini...


BRUKK!


"Lagi-lagi jatuh! Padahal sudah berpegangan, tapi tetap jatuh! Apa aku sungguh tidak berguna? Bahkan berjalan saja sudah tidak bisa?! Payah sekali!" gumam Raisa


Raisa mulai merasa frustasi pun menitikkan air mata.


"Semua usaha memang tidak mudah, tapi hasil tidak akan mengkhianati usaha. Kau hanya perlu ingat itu, Raisa," ujar Bibi Sierra yang menemani prosesi terapi Raisa.

__ADS_1


Bibi Sierra pun membantu Raisa berdiri. Saat itu Rumi mendekat untuk ikut membantu Raisa.


"Jangan menyerah, Raisa. Kau pasti bisa. Semangat ... " kata Rumi yang sudah ada di sana tanpa Raisa sadari.


"Rumi, kau di sini? Kapan kau datang? Bukankah harusnya kau istirahat di rumah?" tanya Raisa


"Aku baru saja datang karena ingin melihatmu," jawab Rumi


Rumi pun memegangi tubuh Raisa yang belum sanggup berdiri tegak.


"Aku tidak suka kau ada di sini dan aku lebih benci saat kau melihatku yang lemah seperti ini," ucap Raisa sambil terus meneteskan air mata.


"Sudah kubilang, harusnya kau berhenti menangis saat itu," kata Rumi


"Rasanya aku ingin mendorongmu saat ini juga," jujur Raisa


"Maka, lakukan saja ... " sahut Rumi


Bukannya mendorong Rumi, Raisa malah menangis lebih keras sambil menundukkan kepalanya. Raisa tidak ingin Rumi melihat kepiluan hatinya.


"Aku memang sangat menyedihkan sampai kau mengasihaniku. Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini," ucap Raisa


"Kau orang yang kuat dan aku percaya itu. Hanya itu saja, tidak ada yang lain," kata Rumi


Tangan Rumi yang memegangi tubuh Raisa beralih menaruh tangan Raisa di pundaknya satu per satu. Raisa yang tidak mengerti maksud tindakannya langsung menatapnya seolah melemparkan pertanyaan.


"Letakkan tanganmu di pundakku! Dan, maaf, aku akan memegang pinggangmu seperti ini... Kau akan berlatih berjalan sambil menari denganku. Apa itu namanya? Berdansa!" tutur Rumi


Raisa yang kebingungan hanya terdiam.


"Sekarang ... cobalah melangkahkan kakimu perlahan satu per satu," lanjut Rumi


Meski kesulitan, Raisa menuruti kata Rumi untuk mencoba melangkah. Jadilah, netode terapi yang baru. Yaitu, dengan cara berdansa berpasangan!


"Sejak kapan kau belajar berdansa?" tanya Raisa yang sudah mulai tenang.


"Aku pernah melihat dua orang pasangan melakukan ini di televisi, di vila keluargamu, di duniamu. Sebenarnya, aku juga tidak bisa berdansa, hanya menonton di televisi saja," ungkap Rumi


Raisa tidak menyangka Rumi bisa terpikirkan cara ini untuk membantu terapinya untuk berjalan hanya karena pernah menontonnya dari televisi.


"Kau mungkin mengira aku sedang membantumu, tapi sebenarnya kaulah yang menuntun langkahku lebih dulu," ucap Rumi


"Kau ini ... yang benar saja! Walau pernah melihat dan mendengar cara melakukannya, aku juga baru pertama kali melakukannya, tahu ... " ungkap Raisa


"Bagus! Kalau begitu, kita sama-sama belajar. Berdansa seperti ini," kata Rumi


"Dasar, kau ini benar-benar, deh ... " heran Raisa


Raisa mulai kembali ceria dan tertawa kecil.


"Bagus! Kalian pertahankanlah! Cara ini mungkin membantu," kata Bibi Sierra


Tubuh Raisa terhuyung karena langkahnya yang tidak stabil, namun Rumi mengeratkan pegangannya pada pinggang Raisa hingga gadis itu tidak terjatuh.


"Ternyata kau lebih mahir berdansa dari pada aku," kata Raisa sambil tersenyum kecil.


"Mana ada yang mahir saat pertama kali melakukannya? Aku hanya menunggumu untuk kembali menuntun langkahku," ujar Rumi


Kali ini, mereka berdua bahkan terjatuh! Karena langkah kaki Raisa yang lemah dan Rumi yang tidak tahu ke mana harus melangkah, jadilah insiden seperti ini.


Posisi mereka yang terjatuh adalah Raisa menimpa tubuh Rumi~


"Maaf, Rumi! Kau tidak apa?" sesal Raisa


"Tidak apa. Aku yang salah saat melangkah," kata Rumi


"Apa kalian berdua baik-baik saja?" tanya Bibi Sierra yang menghampiri keduanya.


Bibi Sierra pun membantu keduanya untuk bangkit.


Setelah itu, Raisa dan Rumi melanjutkan terapi dansa. Walau hampir terjatuh dan jatuh sungguhan berulang kali, keduanya tetap meneruskan tanpa menyerah dan tanpa kenal lelah.


Dirasa cukup, Bibi Sierra pun menghentikan terapi kali ini. Setelah mempersilakan keduanya untuk istirahat, Bibi Sierra pun pergi meninggalkan kamar rawat tersebut untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain.


"Rumi, besok mintalah seseorang untuk mengambilkan ponselku di rumah," pinta Raisa


Raisa memang selalu membawa ponselnya untuk melintasi dunia lain. Namun, dalam misi terakhir Raisa tidak membawa ponsel itu bersamanya.


"Untuk apa?" tanya Rumi


"Aku ingat pernah menyimpan video dansa berpasangan. Aku ingin melihatnya lagi untuk terapi selanjutnya," jawab Raisa


"Bagus sekali. Aku sendiri yang akan mengambilnya di rumahmu nanti," kata Rumi


"Terima kasih karena sudah memilihkan terapi yang cocok untukku. Kau bahkan bersedia melakukannya bersamaku. Padahal aku sendiri tidak terpikir bahwa cara ini bisa membantuku," ucap Raisa


"Sama-sama. Aku senang bisa membantumu," balas Rumi


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2