
"Aku hanya ingin kita dekat seperti ini. Aku sudah lama menahan rasa rindu ini... Bolehkah aku menciummu, Raisa?" Kata Rumi
Raisa menatap wajah Rumi dan sangat terlihat bahwa Rumi sedang memohon padanya.
Raisa pun menghela nafas pelan sambil tersenyum dan kemudian mengangguk kecil.
Satu tangan Rumi pun meraih pipi Raisa dan langsung menciumnya tepat pada bibir lembutnya dari arah belakang.
Ciuman itu berupa kecupan-kecupan kecil yang mesra. Belum berlangsung lama, Raisa sudah memukul-mukul kecil dada Rumi supaya menyudahi ciumannya.
"Pinggangku sakit dan juga kesulitan bernafas..." Kata Raisa
Saat duduk menghadap ke depan sambil menoleh ke arah belakang dalam waktu lama memang membuat tidak nyaman, apa lagi posisi itu dibuat untuk berciuman saat berada di atas kuda. Makanya ciuman itu hanya berlangsung sebentar...
"Apa posisinya membuatmu tidak nyaman?" Tanya Rumi
Bluushh~
Pipi Raisa merona merah dengan indahnya...
Belum sempat Raisa berkata, entah bagaimana posisinya telah berubah menjadi duduk menyamping di atas pangkuan Rumi. Tentu saja, itu adalah ulah Rumi yang berbuat semaunya. Raisa terkejut dan menengadahkan pandangannya untuk menatap Rumi secara langsung seolah sambil bertanya "Apa yang kau lakukan!?"
"Ayo, lanjutkan..." Kata Rumi
Lagi-lagi, belum sempat Raisa berkata... Rumi sudah kembali mendaratkan bibirnya pada bibir milik Raisa. Dan kali ini sanggup membuat Raisa benar-benar membelalakkan matanya!
..."Apa-apaan ini!? Yang benar saja?! Dia sudah membuatku kesulitan bernafas sampai pinggangku sakit seperti sudah melakukan hal melelahkan apa saja, dia malah ingin melanjutkan berciuman!?! Dan yang membuatku kesal adalah ternyata aku tidak bisa menolaknya! Karena ternyata dia benar-benar menumpahkan rasa rindu yang dipendamnya melalui ciuman ini, aku bisa merasakannya... Tapi, setelah ini aku akan bicara sungguh-sungguh dengannya!!" Batin Raisa...
Ciuman kali ini lebih intens terasa dari yang sebelumnya. Seolah Rumi menumpahkan segala perasaan dan kerinduannya. Lembut, hangat, namun memabukkan...
Kedua tangan Rumi merangkul pinggang ramping Raisa dan satu tangan Raisa menyentuh antara pundak dan leher milik Rumi. Keduanya saling memejamkan mata sampai dua pasang mata itu kembali terbuka dan keduanya sibuk mengatur nafas masing-masing.
"Raisa, aku mencintaimu!" Jujur Rumi sambil mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya.
"Alu juga mencintaimu, Rumi..." Balas Raisa sambil tersenyum.
"Hmm, sepertinya aturan untukmu meminta izinku sebelum menciumku itu harus dipikirkan kembali. Aku selalu merasa malu saat kau bertanya seperti itu dan malah sulit untukku menolakmu." Ucap Raisa dengan sangat hati-hati.
"Lalu, bagaimana kalau aku tidak bertanya untuk meminta izin darimu? Bagaimana kalau kau malah marah?" Tanya Rumi
"Kau hanya perlu memberiku isyarat yang jelas sebelum melakukannya sebagai ganti dari kau yang harus bertanya untuk meminta izin dariku, tapi kau juga tidak boleh merasa terluka saat aku menolakmu. Pokoknya seperti itu! Masa harus aku jelaskan juga tentang hal seperti ini sih...!?" Ujar Raisa yang langsung menunduk karena merasa malu.
Rumi langsung tersenyum melihat Raisa yang malu-malu...
"Kau selalu saja senang saat aku merasa seperti ini! Dan, satu lagi! Kau tidak boleh lagi meminta mengulang ciuman! Dasar, kau serakah!" Sebal Raisa yang langsung membenamkan wajahnya di balik kedua tangannya yang digunakan untuk bersembunyi.
"Baik-baik... Kalau kau sudah bicara, aku pasti akan mengingatnya." Kata Rumi sambil terkekeh kecil.
"Kau berkata seperti itu, tapi malah terdengar senang. Kau senang membuatku kesal ya?!" Ujar Raisa
"Tentu saja, tidak! Aku hanya selalu senang saat mendengar suaramu. Apa pun kata-katamu, asalkan kau tidak mengatakan bahwa kau membenciku, tidak lagi mencintaiku, atau kau akan pergi meninggalkanku." Ucap Rumi
"Terserah kau saja!" Kata Raisa
..."Aku tidak akan mengucapkan kemungkinan dua kalimat itu, tapi kalimat yang terakhir itu... Mungkin akan kukatakan saat harus berpisah denganmu nanti. Maafkan aku yang egois dan tidak bisa sepenuhnya terbuka denganmu, Rumi." Batin Raisa...
"Sudah, aku yang akan memegang kendali kudanya sekarang. Kau terus saja dalam posisi ini untuk istirahat, kau pasti lelah setelah memacu kuda tadi. Aku akan membawamu mengakhiri jalan-jalan kita." Ucap Rumi
Raisa hanya mengangguk dalam diam. Membiarkan Rumi memegang kendali untuk menjalankan laju kuda, sementara Raisa sibuk mengatur kembali perasaannya yang sedang bercampur aduk.
...
Setelah mengelilingi jalan setapak, Rumi mengendalikan laju kuda dan membawanya ke tempat latihan berkuda. Tempat semula sebelum berkeliling...
"Kalian sudah kembali? Ada apa dengan Raisa?" Tanya Dennis
Merasa heran saat kembalinya kuda putih yang membawa Raisa dan Rumi berkeliling, Dennis malah melihat Raisa yang sedang memejamkan matanya sambil duduk menyamping.
"Sepertinya Raisa agak lelah setelah memacu kuda tadi, dia istirahat di tengah berkeliling tadi." Jawab Rumi
Rumi pun turun dari atas punggung kuda sambil menggendong Raisa (ala bride style) dengan kemampuan yang dimilikinya.
"Aku akan membawanya ke kamarnya agar dia bisa istirahat. Masalah kudanya-"
"Kau tidak perlu khawatirkan masalah kudanya, itu biar kepala pengurus yang menanganinya. Kau bawa saja Raisa ke kamarnya." Ucap Dennis
"Terima kasih. Mohon bantuannya..." Kata Rumi
Rumi pun melenggang pergi sambil menggendong Raisa dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Rumi!" Melihat kembalinya Rumi, Morgan dengan cepat menyapanya.
"Stt~ Kau tidak lihat? Rumi menjaga supaya Raisa tidak terbangun, tapi kau malah ingin berteriak ke arahnya?" Tegur Aqila melihat suasana yang tidak tepat.
"Huh, padahal aku ingin memberi tahu Rumi prestasi baruku saat menunggang kuda. Ngomong-ngomong, Raisa itu kenapa?" Ujar Morgan
"Entahlah, mungkin dia lelah." Kata Aqila
"Itu memang benar." Sahut Dennis
"Rumi perhatian sekali pada Raisa, seperti sepasang kekasih saja." Celetuk Chilla
Karena semua yang lain masih sedang berlatih di luar, Rumi dengan leluasa masuk ke dalam kamar membawa Raisa di dalam gendongannya. Dengan sangat hati-hati, Rumi merebahkan tubuh Raisa di kasur.
"Maaf, sudah merepotkanmu menggendongku sampai ke sini. Kau sudah bisa pergi. Seperti katamu, aku agak lelah dan ingin istirahat." Ucap Raisa yang tiba-tiba membuka matanya.
"Kau tidak benar-benar tertidur? Kau marah padaku ya, Raisa?" Tanya Rumi
"Ya, aku hanya memejamkan mata untuk menghilangkan rasa lelah. Aku ingin tidur sungguhan sekarang, jadi tolong kau ke luarlah. Aku tidak marah padamu. Cukup aku mengatakan ini, tapi kalau kau masih bertanya lagi, aku mungkin akan marah sungguhan padamu." Jawab Raisa
"Syukurlah, kalau kau tidak marah. Itu sudah cukup untukku. Kau pasti lelah, jadi istirahatlah dengan tenang. Kita akan bertemu lagi nanti, aku ke luar ya." Ucap Rumi sambil tersenyum dengan lembut.
Rumi pun beranjak ke luar meninggalkan Raisa seorang diri untuk beristirahat.
Setelah Rumi pergi, Raisa kembali memejam matanya rapat-rapat setelah pintu kamar kembali tertutup.
..."Rumi selalu baik padaku. Tapi, belakangan ini dia agak aneh seperti mengetahui aku akan berpisah dengannya. Sebenarnya bukan dia yang aneh, tapi aku. Apa mungkin secara tidak sadar dia sudah menyadari sesuatu dari diriku ini?" Batin Raisa...
Dalam posisi itu, Raisa menitikkan air dari sudut matanya...
..."Maafkan aku yang egois ini, Rumi. Tak hanya itu, aku mungkin berubah menjadi kejam padamu suatu saat." Batin Raisa yang menangis terisak di dalam hati....
•••
Hari-hari yang indah di tengah datangnya tugas silih berganti...
Raisa menginap bersama temam-temannya di vila keluarga milik Dennis. Setiap hari, Raisa selalu mengunjungi Tristan di kandang kuda dan mengeluarkannya dari sana untuk bermain alias berkuda. Tanpa ada yang tahu, hubungan asmaranya dengan Rumi pun baik-baik saja walau Raisa masih saja menyembunyikan rahasia di dalam hatinya dan menelannya pahit-pahit seorang diri. Sambil tersenyum, Raisa menjalani harinya seperti biasa...
3 hari berlalu berhasil dilewati bersama dengan menginap di vila milik keluarga Dennis.
Namun, di hari berikutnya...
"Senang sekali bisa menikmati liburan dan menginap bersama kalian semua. Terima kasih juga untuk beberapa hari ini, Dennis. Padahal kau yang merencanakan liburan ini dengan mengingat kesenangan untukku, tapi malah aku yang harus pergi dari liburan ini untuk menerima panggilan tugas." Ujar Raisa
"Tidak apa, namanya juga sedang ada tugas. Aku tahu, itu lebih penting dari pada liburan ini. Kalau aku yang menerima panggilan tugas, aku juga akan meninggalkan liburan. Jadi, kau tidak perlu merasa tidak enak begitu, Raisa. Aku sangat mengerti hal seperti ini." Ucap Dennis
"Aku tahu, sebelum bertemu denganku dulu kalian juga pernah berlibur bersama. Saat itu hanya menghabiskan waktu sehari semalam, padahal saat itu belum waktunya kalian untuk menerima tugas seperti sekarang. Tapi, aku justru malah berkesempatan berlibur dengan kalian selama tiga hari saat tugas sedang senggang. Ini adalah suatu kehormatan bagiku." Ucap Raisa
"Kau benar, Raisa. Itu sudah cukup lama. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Bersiap-siaplah, aku akan menemui yang lainnya juga." Kata Dennis yang berlalu pergi.
Benar! Yang dipanggil untuk menerima tugas bukan hanya yang memiliki tim saja, tapi juga Raisa yang tidak termasuk ke dalam tim siapa pun. Entah kali ini, Raisa akan digabungkan dengan tim siapa untuk menjalankan tugas. Atau mungkin akan menjalani tugas seorang diri? Tapi, itu terdengar tidak mungkin...
"Kau sudah siap, Raisa?" Tanya Rumi yang menghampiri Raisa.
"Sudah. Kau dan timmu juga dipanggil untuk tugas kan, Rumi? Entah kali ini, aku akan bergabung dengan tim siapa saat menjalani tugas. Jika berada satu tim denganmu, itu akan lebih bagus. Dengan tim siapa pun, pasti menyenangkan mendapat pengalaman baru seperti ini." Ujar Raisa seraya tersenyum.
"Benar, semoga kau bisa ikut bergabung dengan timku di tugas kali ini." Kata Rumi
"Bisa aku bicara denganmu, Nona Raisa?" Tanya kepala pengurus vila keluarga Dennis yang tiba-tiba menghampiri Raisa.
"Ada apa, Tuan? Anda bisa langsung bicara di sini denganku. Ngomong-ngomong, Anda tidak perlu memanggilku Nona. Aku bukanlah anak dari Tuan Besarmu, aku juga hanyalah orang biasa sama seperti dirimu. Anda bisa langsung memanggil namaku saja." Ujar Raisa
"Begini, ini tentang Tuan Muda Dennis. Dia memang baik-baik saja dan juga semakin tumbuh besar menjadi sosok yang dewasa. Aku sempat merawatnya saat masih kecil setelah Nyonya Besar tiada, aku sedikitnya tahu perkembangan dia sampai sejauh ini. Ini memang terdengar tidak masuk akal, tapi bisakah Nona- maksudku Raisa menjaga Tuan Muda saat sedang bersamanya? Melihat Tuan Muda tidak lagi takut bahkan sudah bisa menunggang kuda, ini juga pasti ada sedikit dorongan dari Raisa kan? Jadi, bisakah aku minta tolong untuk tetap memastikannya aman saat bersamanya?" Tutur Kepala pengurus vila
"Aku mengerti kekhawatiran Anda, Tuan. Anda pernah merawatnya saat dia kecil, jadi pasti tumbuh rasa seperti menjadi seorang ayah dan anak di hati Tuan, tapi seharusnya bukan begini. Karena Anda pernah merawatnya, seharusnya Anda percaya dengan kemampuan Tuan Muda-mu itu. Dennis pasti bisa dan sanggup menjaga dirinya sendiri sekarang. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu, walau tentu aku juga akan selalu menjaga teman-temanku saat bersama mereka." Ucap Raisa
"Aku mengerti, biar begitu aku masih merasa harus menyampaikan hal ini. Aku sudah lega. Terima kasih, Raisa." Kata Kepala pengurus vila
"Benar, kata Raisa. Anda seharusnya percaya dengan kemampuan Dennis, dia bisa menjaga dirinya sendiri tanpa harus ada seorang gadis yang memikirkan tentang keselamatannya. Kami berdua permisi dulu, masih harus bersiap-siap menerima panggilan tugas." Ucap Rumi yang lalu menarik tangan Raisa untuk pergi.
"Rumi, kau ini kenapa? Tidak perlu terburu-buru, jalan pelan-pelan saja." Kata Raisa
Rumi pun melepaskan tangan Raisa...
"Maafkan aku. Habisnya, aku tidak habis pikir! Bisa-bisanya ada seseorang yang memintamu menjaga orang lain. Yang minta dijaga juga seorang lelaki, kenapa harus seorang perempuan yang menjaganya. Lagi pula, kenapa harus kau?" Gerutu Rumi
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau mengomel-omel tidak jelas seperti ini, seperti bukan dirimu. Lagi pula, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada orang yang lebih tua tadi." Ujar Raisa yang menatap Rumi dan menanti penjelasan.
"Kau juga pasti tahu diriku, Raisa. Ini karena aku cemburu! Dia bisa saja bilang dan meminta begitu karena berharap kau bisa menjadi dekat dengan Tuan Muda Dennis-nya itu. Tentu, aku tidak terima!" Ungkap Rumi
__ADS_1
"Oh, ternyata tentang ini lagi. Memang ada kemungkinan seperti itu, tapi sepertinya malah tidak mungkin. Dia seperti itu tadi hanya karena khawatir dengan Dennis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri, itu saja. Kau juga jangan khawatir berlebihan dong. Tidak baik cemburu dengan temanmu sendiri secara berlebihan dan terus menerus, tidak baik untuk pertemanan antara kalian. Aku juga tahu batasanku kok." Ucap Raisa
"Aku juga tahu kau pasti mengerti hal seperti ini, aku percaya denganmu. Tapi, entah kenapa aku tetap khawatir. Seperti merasa kau juga sedang menjaga batasan denganku. Mungkin ini memang perasaanku saja..." Kata Rumi
"Batasan apa sih yang kau maksud? Lupakanlah! Itu hanya perasaanmu saja..." Ujar Raisa
..."Seperti yang sudah kuduga! Rumi mulai menyadari sesuatu!" Batin Raisa...
---
Setelah pergi meninggalkan vila keluarga Dennis, Raisa langsung menemui panitia pemberian tugas. Namun, sampai di sana, panitia tersebut meminta Raisa langsung pergi menemui Pemimpin Desa di kantornya. Raisa pun bergegas menuju kantor Pemimpin Desa.
Setelah masuk ke dalam ruang kantor Pemimpin Desa, Raisa bertemu Devan, Chilla, dan Ian sebagai satu tim di sana.
"Oh, kalian juga ada di sini..." Kata Raisa yang langsung berdiri tepat di samping Chilla.
"Hai, Raisa!" Sapa Chilla. Raisa pun tersenyum membalas sapaan dari Chilla.
"Jadi, Raisa adalah anggota tim tambahannya?" Tanya Devan
"Benar, tapi untuk misi kali ini, kalian masih harus menunggu kedatangan tim lainnya." Jawan Tuan Rafka, Penasehat Pemimpin Desa sekaligus Ayah Devan.
"Ada tim lain juga?" Gumam Ian bertanya-tanya.
Saat itu juga, tiba-tiba pintu kantor Pemimpin Desa kembali terbuka...
"Maaf, kami terlambat!" Kata Morgan yang masuk bersama anggota timnya yang lain, yaitu Aqila dan Rumi.
Setelah masuk, tiga orang terakhir yang hadir itu langsung berbaris rapi di samping yang lainnya.
"Bukankah kalian semua sama-sama habis berlibur di vila keluarga Dennis? Kenapa kalian tidak datang bersama juga saat ke sini?" Tanya Tuan Nathan, Pemimpin Desa sekaligus Ayah Morgan.
"Ini karena kami mengira tidak digabungkan dalam satu misi yang sama." Jawab Devan
"Maafkan kami. Kalau saja, Morgan tidak terlupa akan sesuatu, kami pasti bisa datang cepat ke sini." Ucap Aqila
"Sudahlah, Aqila. Aku kan sudah minta maaf saat kita datang tadi." Kata Morgan
"Kau juga dipanggil ke sini ya, Raisa?" Tanya Rumi
"Hmm, benar." Jawab Raisa seraya mengangguk.
"Apa ini artinya kami semua akan menjalankan misi yang sama?" Tanya Rumi
"Benar. Ini adalah tempat tujuan misi kalian semua kali ini... Negara Petir, Desa Awan!" Ungkap Tuan Rafka seraya menunjukan peta daerah.
"Apa yang harus kami semua lakukan di sana? Apa misi kami?" Tanya Aqila
"Kalian harus mencari sesuatu atau informasi dengan simbol Mata Dewa seperti ini sebanyak-banyaknya. Ini adalah data tentang orang-orang yang mungkin memiliki informasi yang kalian cari itu." Jelas Tuan Nathan sambil menunjukkan selembar kertas yang memiliki data sementara untuk misi kali ini.
"Bukankah ini adalah gambar simbol yang ada pada benda yang Rumi temukan pada misi sebelumnya? Jadi, ini dinamakan Mata Dewa?" Tanya Morgan
"Benda apa yang kau temukan, Rumi?" Tanya Ian
"Entahlah, aku langsung memberikan benda itu pada Tuan Pemimpin Desa sehari setelah kepulangan dari misi sebelumnya." Jawab Rumi
"Hanya ini saja data yang kami perlukan untuk misi?" Tanya Devan
"Ada dua tim ditambah juga denganku untuk menjalankan misi kali ini. Apa karena misi ini termasuk yang berbahaya?" Tanya Raisa
"Ya, kemungkinan seperti itu. Jadi harap tingkatkan ketelitian dan kewaspadaan kalian semua. Kalian harus bergerak secara terorganisir, jangan sampai terlalu lama atau jauh saat berpisah." Jawab Tuan Nathan
"Sebenarnya untuk apa kami harus mencari tahu tentang simbol Mata Dewa ini? Dan benda apa yang telah ditemukan oleh Rumi itu?" Tanya Chilla
"Itu masih diselidiki. Tapi kemungkinan itu adalah sesuatu yang penting dan berbahaya, hanya itu yang bisa disimpulkan sekarang." Jawab Tuan Rafka
"Kalian bersiaplah dan berangkatlah besok atau lusa saat persiapan kalian sudah lengkap. Aku ingatkan, mungkin ini adalah misi yang panjang untuk kalian semua." Lanjut Tuan Rafka
"Baik, kami mengerti." Kata Devan sehagai ketua dari timnya.
"Kalau begitu, kami semua permisi dulu." Kata Aqila sebagai ketua dari timnya.
"Permisi, kami pamit..." Kata Raisa sebagai anggota tambahan tanpa memiliki tim.
Setelah ke luar dari ruang kantor Pemimpin Desa, mereka bertujuh pun berdiskusi kapan mereka semua akan berangkat untuk misi kali ini...
.
•
__ADS_1
Bersambung...