Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
154 - Berandai-Andai.


__ADS_3

•••


Beberapa hari kemudian.


Hari ini, Aqila, Morgan, dan Rumi harus mengumpulkan data laporan misi. Karena Raisa hanya anggota tambahan saat misi, ketika pengumpulan laporan tidak diwajibkan untuk ikut.


Maka, hari ini Raisa ikut dengan Chilla yang mengundangnya makan. Kali ini, mereka berdua hanya akan makan bersama di rumah Chilla.


Di rumah yang ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya, mengharuskan Chilla memasak untuk menghidangkan makanan pada Raisa, tamunya. Sebagai ganti tidak bisa menikmati kuliner di pasar desa beberapa waktu lalu, Chilla ingin menebusnya dengan hidangan yang dimasak sendiri olehnya.


"Apa tidak masalah kau memasak untukku dan nengundangku ke rumahmu saat orangtuamu tidak ada seperti ini, Chilla? Aku jadi tidak enak," ujar Raisa


"Tidak apa. Sebagai ganti karena tidak bisa berkeliling menjelajah kuliner bersama waktu itu, aku akan memasak untukmu! Mama dan Papaku memang tidak ada di rumah, mereka sedang berada di kampung halaman Mamaku di Negara Petir, Desa Awan. Aku sudah beri tahu mereka lewat telepon kalau kau akan berkunjung ke rumah, jadi tidak masalah," jelas Chilla


Raisa diminta hanya duduk di kursi meja makan sementara Chilla memasak di dapur.


"Kau bisa memasak, ya, Chilla?" tanya Raisa


"Kalau tidak bisa, tentu aku tidak akan menawarkanmu masakanku. Aku sering ditinggal sendiri seperti ini, jadi aku harus mengandalkan diri sendiri untuk memasak saat orangtuaku tidak ada. Untuk orang yang suka makan dan ditinggal orangtuanya sendiri di rumah membuatku mau tak mau harus bisa memasak untuk diri sendiri," jawab Chilla


"Begitu, ya. Benar juga," kata Raisa


"Apa ada yang tidak bisa kau makan, Raisa? Mungkin semacam alergi terhadap makanan?" tanya Chilla


"Sejauh ini sepertinya tidak ada. Tapi, aku tidak terlalu suka bawang, pisang, dan kentang rebus. Sepertinya hanya itu, yang lain tidak masalah," jawab Raisa


"Baiklah, aku akan masakkan sesuatu yang enak untukmu. Tunggu saja," kata Chilla


Setelah cukup lama, Chilla pun menata hidangan yang dimasaknya di atas meja makan. Ada masakan berkuah dan yang tanpa kuah, juga nasi putih. Semua dalam porsi besar alias jumlah banyak~


"Kelihatannya sangat enak, tapi ini banyak sekali," kata Raisa


"Mungkin kau makannya sedikit, tapi kau juga tahu porsi makanku yang banyak. Jadi, ini akan cukup untuk kita berdua. Mungkin," ucap Chilla


"Ya. Kau benar," setuju Raisa


Chilla pun mulai duduk dan akan makan bersama dengan Raisa.


"Hanya makanan sederhana, kau cobalah masakanku," ujar Chilla


"Baiklah. Selamat makan!"


Keduanya pun makan bersama.


"Sebenarnya, aku baru kali ini masak untuk orang lain selain untuk diriku sendiri. Bahkan Aqila yang teman dekatku pun belum pernah merasakan masakanku, kaulah yang pertama, Raisa! Jadikan, ini rahasia," ucap Chilla


"Baiklah. Aku mengerti," kata Raisa


"Sebenarnya, kupikir Rumi tidak akan mengizinkanku mengajakmu pergi bersamaku lagi setelah kejadian terror yang menimpamu sampai kau terluka saat aku meninggalkanmu di pasar waktu itu. Saat itu walau hanya diam, dia terlihat marah," ungkap Chilla


"Dia bukan orang pendendam, apa lagi pada temannya sendiri. Dia tidak akan seperti itu," ucap Raisa


"Lelaki tampan yang biasanya hanya diam, sekalinya marah akan terlihat mengerikan," kata Chilla


"Benar juga! Kau juga pernah menyukainya karena wajah tampannya, kan, Chilla? Menurutmu Rumi itu bagaimana?" ujar Raisa bertanya.


"Aku hanya menyukainya karena wajahnya tampan, bukan berarti aku menginginkannya atau mengidam-idamkan dia untuk menjadi pacarku. Lagi pula, setampan apa pun lelakinya, aku tidak akan mengusik atau merebutnya jika sudah punya pacar. Apa lagi jika pacar lelaki tampan itu adalah temanku sendiri! Jadi, kau tidak memerlukan pendapatku tentang pacarmu itu," jujur Chilla


"Ya, aku hanya ingin bertanya saja," kata Raisa


Setelah makan bersama, keduanya pun makan camilan sambil menonton film di rumah Chilla.


Raisa menunggu di depan televisi saat Chilla sedang mengambil camilan di lemari pendingin.


"Bukankah ini camilan favorit untuk dimakan bersama keluargamu? Apa tidak masalah kau berikan untukku juga?" tanya Raisa saat Chilla kembali setelah mengambil camilan.


"Camilan seperti ini tidak enak jika disimpan terlalu lama, jadi harus segera dihabiskan. Aku shdah bilang pada orangtuaku, mereka bilang boleh makan bersama denganmu. Camilan seperti ini dimaksudkan lebih enak jika memakannya bersama orang yang kau sayang, makanya selalu dimakan bersama keluarga. Tapi, karena orangtuaku sedang tidak ada, makan bersamamu juga tidak apa. Kau juga orang pertama yang mencoba camilan favorit keluargaku," jawab Chilla


"Bahkan Aqila pun belum pernah mencobanya juga?" tanya Raisa


"Benar, Aqila pun belum pernah coba," jawab Chilla


"Baik. Kucoba, ya! Terima kasih," ucap Raisa


"Kau ingin nonton film apa, Raisa?" tanya Chilla


"Terserah saja. Kau yang pilih," jawab Raisa


"Bagaimana kalau film romantis? Atau aksi? Atau keduanya?" tanya Chilla


"Aku suka keduanya! Gabungan dari keduanya juga bagus," jawab Raisa


"Baiklah. Aku mulai putar filmnya, ya. Ternyata, seleramu banyak yang sama denganku," ucap Chilla


Setelah memilih genre, CD film pun mulai diputar. Keduanya pun menonton film sambil makan camilan bersama. Dengan tenang dan menghayati isi film tersebut.


"Perasaanku jadi kacau tak karuan setelah menonton film barusan. Ceritanya sangat kompleks," ucap Raisa


"Kau benar. Perasaan perjuangan, sedih, haru, dan bahagia ada pada keseluruhan ceritanya. Sangat mengagumkan," balas Chilla


"Chilla, jika ada hari di mana aku tidak bisa ada lagi untuk kalian dan melindungi kalian lagi, bisakah kau menjaga Rumi dan yang lain untukku? Menggantikan aku? Aku paling dekat denganmu dan Aqila, tapi kalau dengan Aqila entah kenapa aku agak segan. Aku tidak bisa seterbuka ini dengannya, hanya padamu aku bisa nyaman mengungkapkan isi hati dan pikiranku. Jadi, bisakah kau memenuhi permintaanku kali ini?" ujar Raisa bertanya.


"Sepertinya perasaanmu jadi campur aduk setelah menonton. Bicaramu jadi tidak karuan! Kau pasti lebih bisa mengungkapkan isi hati dan pikiranmu pada Rumi karena dia pacarmu. Kenapa malah bicara seperti ini padaku?" ujar Chilla bertanya karena merasa bingung.


"Aku mana bisa bicara seperti ini pada Rumi. Yang ada dia tidak mau mendengarkan aku. Makanya, aku hanya bisa minta tolong padamu... Jika, aku tiada, tolong jaga mereka untukku. Terutama, tolong gantikan aku menjaga Rumi," tutur Raisa


"Kalau kau pikir Rumi tidak ingin mendengarmu, jadi apa kau pikir aku mau mendengar omong kosongmu ini? Justru, saat ini aku marah padamu! Jika kau ingin menjaga orang-orang yang kau sayang dan berharga bagimu, maka harus kau sendiri yang memastikan mereka baik-baik saja! Jangan minta orang lain untuk menggantikanmu! Terutama soal pacarmu, Rumi! Kau bicara seperti ini seolah memintaku untuk mengambilnya darimu. Aku sudah bilang, aku tidak merebut yang milik orang lain! Karena walau kau sudah tiada pun, Rumi pasti hanya akan mencintaimu dan tidak bisa lagi mencintai orang lain. Jadi, tetaplah hidup, Raisa. Tetaplah hidup untuk menjaga semua orang yang kau sayang dan berharga bagimu, hiduplah juga untukku, teman terdekatmu! Jangan pernah berpikir lagi untuk meninggalkan kami dan menitipkan mereka semua padaku! Hiduplah dengan bahagia dengan kami semua," ucap Chilla


"Sepertinya benar katamu, Chilla. Bicaraku jadi melantur setelah menonton film yang mampu mengaduk-aduk perasaan tadi. Maaf, jika kau merasa terbebani dengan ucapanku," ujar Raisa


"Tidak apa. Yang penting kau sudah sadar dan bisa berpikir jernih lagi, jadi lain kali jangan pernah membuatku marah dengan ucapan omong kosong seperti tadi lagi. Ini kuberikan padamu sebagai akhir kunjunganmu di rumahku. Makanlah untuk menenangkan pikiranmu jika kau sedang banyak pikiran," kata Chilla yang mengantongi Raisa sisa camilan miliknya.


"Tapi, hanya ini camilan yang tersisa." Raisa enggan menerima pemberian Chilla dan berniat mengembalikannya.


"Sudah kubilang, camilan ini harus cepat dihabiskan. Lagi pula, aku sudah makan banyak tadi, jadi sisanya untukmu saja. Bawalah pulang," ucap Chilla yang menahan Raisa saat hendak mengembalikan camilan pemberian darinya.


"Baiklah, akan kuterima. Terima kasih," jata Raisa


"Sekarang, ayo ke luar dari rumahku. Mungkin saja pacarmu sudah kembali dari menyerahkan laporan misi dan sedang mencarimu saat ini," ujar Chilla


Chilla pun mendorong Raisa ke luar dari rumahnya bersama-sama untuk kembali berkumpul dengan yang lain.


Di tempat berkumpul, Rumi terlihat sangat senang begitu melihat kedatangan Raisa.

__ADS_1


"Kalian sudah kumpul lebih dulu, rupanya ... " kata Chilla


"Raisa, seharian ini kau ke mana saja dengan Chilla?" tanya Rumi


"Apa selama itu? Sepertinya tidak sampai seharian, deh! Kami tidak pergi ke mana-mana, hanya bermain bersama di rumah Chilla," jawab Raisa


"Itu bagus! Lebih baik main di rumah dari pada berkeliaran di luar, jadi lebih aman," kata Rumi


"Aku mengerti! Aku tidak akan asal membawa Raisa pergi lagi," sahut Chilla menyadari kesalahan sebelumnya.


"Rumi, kau bicara seperti itu seperti kau sedang mengekangku! Aku tidak suka!" tegas Raisa


"Aku bukan berniat ingin mengekangmu, Raisa. Hanya bicara soal yang terbaik untukmu, tapi ini tidak akan terjadi lagi," ucap Rumi


Mereka pun makan bersama seperti biasa.


"Kenapa yang lain hanya diam? Tidak biasanya menjadi senyap seperti ini?" bingung Morgan bertanya.


"Kami semua lelah. Selama lebih dari dua minggu timmu dan Raisa menjalani misi di hotel sebagai pengawal pribadi, tim kamilah yang terus bergantian mengambil misi," ucap Billy mewakili untuk menjawab.


"Benar! Kalian, sih, enak! Selama dua minggu mengawal anak petinggi negara di hotel pasti hanya bersantai setiap harinya," timpal Wanda


"Tidak juga. Anak petinggi negara itu sangat banyak maunya! Sudah memanggil Paman Mario untuk melatihnya, dia juga ingin kami bergantian menemaninya berlatih bersama. Dia paling lengket dengan Raisa dan Morgan," ungkap Aqila


"Benar, kata Aqila! Anak itu masih saja menyebalkan sama seperti dulu," sahut Morgan


"Terdengar merepotkan," kata Devan


"Meski pun begitu, kalian pasti mendapat upah yang besar setelah menjadi pengawalnya sekaligus berlatih bersamanya selama misi. Anak itu pasti meninggalkan banyak uang tip untuk kalian," ucap Ian


"Ya, dia loyal. Itulah kelebihannya," kata Morgan


Setelah sedikit berbincang, mereka kembali hening karena sibuk memakan makanan masing-masing.


Melihat Raisa yang hanya diam sambil memakan kentang gorengnya, Rumi pun mengambil satu kentang goreng itu dan menyuapinya pada mulut Raisa agar gadis itu kembali sadar dari lamunannya~


Disodorkan kentang goreng oleh Rumi, Raisa hanya membuka mulutnya dengan pasrah menerima suapan tersebut.


"Kau hanya makan sedikit, Raisa. Apa kau sedang tidak nafsu makan?" tanya Rumi


"Ya. Sepertinya begitu," jawab Raisa


"Apa kau tidak ingin makan yang lain?" tanya Rumi lagi.


"Tidak. Aku sudah makan di rumah Chilla tadi," jawab Raisa


"Kau seperti lebih banyak diam. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rumi untuk kesekian kalinya.


"Aku teringat dengan Noel, anjing peliharaan Andrew. Mengingatnya membuatku rindu pada Mika. Sepulang dari sini, bolehkah aku mampir ke rumahmu untuk bertemu dengan Mika sebentar?" ujar Raisa yang balik bertanya.


"Berada bersama pacarmu, bisa-bisanya kau masih berkata merindukan yang lain. Kalau kau ingin datang ke rumahku, datang saja. Lagi pula, kau sudah sering datang sebelumnya, jadi tidak perlu izin dariku lagi," ucap Rumi


"Mika itu hanya seekor kucing. Kau berkata seperti tadi seperti sedang cemburu dengan siapa saja. Akhir-akhir ini, bicaramu sering buat orang lain salah paham. Begitu juga soal aku yang kadang kala berkunjung ke rumahmu. Kau mengatakan seolah aku sering bermalam di sana. Tidak baik sering membuat orang salah paham," ungkap Raisa


...


Langit senja terus kehilangan cahayanya yang tersisa sedikit ketika matahari benar-benar terbenam di ufuk barat. Langit pun menjadi gelap dan malam pun tiba~


Sesuai perkataannya, Raisa pun datang berkunjung ke rumah Rumi untuk bertemu kucing peliharaan milik kekasihnya itu yang telah diberi nama Mika.


Raisa duduk di sofa ketika tidak berhasil menemukan Mika di dalam rumah Rumi itu.


"Kalau kau ingin bertemu Mika, tunggulah sebentar lagi. Mika memang sering ke luar, tapi begitu malam tiba dia akan kembali pulang untuk tidur di rumah," ujar Rumi yang menemani Raisa duduk di sofa.


"Baiklah, aku akan menunggu sebentar di sini. Kalau dia tidak juga datang, aku akan pulang," kata Raisa


"Apa kau ingin makan atau minum sesuatu? Aku akan menyiapkannya untukmu?" tanya Rumi


"Tidak perlu, aku tidak ingin apa pun," jawab Raisa


"Lalu, kau hanya ingin diam menunggu di sini saja, begitu?" Rumi memang bertanya demikian, namun dirinya yang berada di samping Raisa menoleh dan terus mendekat ke arah Raisa.


Raisa berusaha menghindari Rumi, sampai saat ia merasa telah terpojok.


TEP!


Raisa menempelkan camilan yang ia dapat dari Chilla tepat di bibir Rumi. Pergerakan Rumi yang terus mendekatinya pun berhenti.


"Aku baru ingat! Tadi Chilla memberikan aku camilan ini! Ternyata ada dua. Bagaimana kalau kita makan ini saja? Satu untukku, satu lagi untukmu! Rasanya enak, saat di rumah Chilla tadi aku sudah mencobanya. Kau cobalah juga," ujar Raisa berkata dengan sangat lancar walau ia merasa canggung dan kikuk.


"Baiklah. Terima kasih kau sudah membiarkanku mencobanya juga," ucap Rumi


"Ya. Ayo kita makan bersama-sama," kata Raisa


Keduanya pun membuka bungkus camilan pemberian dari Chilla itu dan masing-masing makan satu bersama-sama.


"Rasanya enak, bukan? Aku tidak berbohong padamu! Aku memang suka saat berkumpul bersama teman-teman atau berdua denganmu seperti ini, tapi terkadang aku juga suka menikmati waktu pribadi dengan sesama gadis seperti bersama Chilla tadi. Aku suka dengan pribadi Chilla yang bebas dengan apa adanya dirinya sendiri dan ternyata seleraku dan dia banyak yang sama. Padahal saat pertama kali bertemu langsung awalnya kukira aku tidak bisa menjadi dekat dengannya, tapi ternyata pertemanan kami sangat cocok," oceh Raisa


"Kau masih suka bermain dengannya walau dia membuatmu terluka karena meninggalkanmu tempo hari?" tanya Rumi


"Itu bukan salahnya. Walau dia tidak meninggalkanku di kedai makan waktu itu pun, akulah yang tetap akan pergi menyelidiki terror misterius itu, jadi aku sendirilah yang membiarkan diriku dalam bahaya dan akhirnya terluka saat itu. Kau jangan terlalu dan terus menerus menyalahkan dirinya, Rumi. Dia juga sudah merasa bersalah dan minta maaf padaku. Aku saja sudah baik-baik saja, jadi lupakanlah itu," jelas Raisa


"Aku sudah coba untuk biasa saja dan melupakannya, tapi jika diingat kembali aku masih merasa kesal. Terkadang aku tidak bisa mengontrol diriku yang seperti ini," ujar Rumi


"Kau memang khawatir padaku, pacarmu. Tapi, kau juga sudah lebih dulu kenal dan berteman dekat dengannya. Jangan sampai hanya karena aku dan kekhawatiranmu padaku, hubungan pertemanan kalian jadi renggang atau bahkan rusak. Aku tidak menginginkan sampai terjadi seperti itu. Biarkan waktu berlalu dan teruslah berpikir positif," ucap Raisa


"Baiklah. Aku mengerti," kata Rumi


"Oh, ya. Rumi! Bukankah dulu kau pernah menjadi lebih dekat dengan Chilla saat Aqila dan Morgan terus berkelahi? Kau dan Chilla menjadi penengah di antara Aqila dan Morgan, kan? Bagaimana kedekatan hubunganmu dan Chilla waktu itu?" tanya Raisa


"Kami berteman seperti biasa. Kenapa kau menanyakan hal ini?" ujar Rumi menjawab sekaligus bertanya balik.


"Kalau diingat lagi, hubunganmu dengan Chilla dan Morgan dengan Aqila adalah yang sangat dekat waktu itu. Walau pun kau dan Chilla hanya menjadi penengah dan Aqila dan Morgan terus bertengkar saat itu. Aqila dan Morgan saja bisa berpacaran sekarang. Kalau aku tidak ada, maksudku kalau aku tidak bertemu kalian, mungkin yang berpacaran denganmu saat ini adalah Chilla," tutur Raisa


Rumi yang sedang memakan camilan, baru saja membuka mulut ingin angkat bicara menanggapi ucapan Raisa, namun Raisa memotongnya dengan berbicara lagi.


"Itu bisa saja terjadi, kan?! Dulu, saat aku tidak ada, maksudku saat belum bertemu denganku ... yang selalu menolongmu selain Morgan dan Aqila pasti selalu ada Chilla bersama Devan dan Ian. Saat kau ke luar dari Desa Daun untuk mencari tekad dan jati dirimu pun ada Chilla yang menjemputmu pulang, walau ada yang lain juga, sih. Tapi, maksudku selalu ada Chilla yang menolong dan menyelamatkanmu. Kalau kalian tidak pernah bertemu dan mengenalku sejak awal, kupikir kau sangat cocok dengan Chilla! Saat aku lupa ingatan di duniaku dan kau terluka parah di sini pun, ada Chilla juga yang menyelamatkanmu. Di banding aku, pacarmu ini, ternyata Chilla lebih sering ada untukmu. Aku hanya tidak bisa apa-apa dan sangat tidak becus di bandingkan Chilla! Jika kalian berdua yang berpacaran, pasti akan sangat cocok," lanjut Raisa sambil tersenyum miris.


"Kau ini kenapa, Raisa? Kenapa bicaramu jadi aneh lagi seperti ini? Aku tidak mengerti dan sangat tidak suka," ujar Rumi merasa bingung.


"Aku hanya berandai-andai saja. Aku tidak sengaja, kata-kata itu ke luar begitu saja dari mulutku. Jangan marah, Rumi ..."


 

__ADS_1


Di sisi lain...


"Raisa, sepertinya sedang banyak pikiran saat ini. Itu membuatnya gelisah tentang hubungannya dengan Rumi. Aku memberi sisa dua bungkus camilan untukmu sebenarnya berharap kau memakannya bersama Rumi, berdua. Ungkapkan isi hati, pikiran, dan kegelisahanmu langsung pada Rumi. Carilah solusi terbaik tanpa harus memperburuk hubungan kalian, berharap kegelisahanmu dapat hilang dan hubungan kalian terus terjalin erat. Karena jarang sekali mendapat pasangan yang cocok dalam hidup ini. Berbahagialah selalu menjadi sepasang kekasih, Raisa, Rumi ... " gumam Chilla di suatu tempat.


 


Kembali pada Raisa dan Rumi saat ini.


Camilan yang dimakan Raisa dan Rumi sama-sama sudah dilahap sampai habis~


"Camilannya sudah habis! Benar, kata Chilla. Camilan ini sangat enak jjka dimakan bersama orang yang disayangi," ujar Raisa


Rumi menoleh pada Raisa dan mengusap sisa coklat di ujung bibir kekasih cantiknya~


Lalu, tanpa aba-aba dan peringatan. Rumi langsung menyambar bibir Raisa. Melahapnya sekaligus~


Mendapat perlakuan secara tiba-tiba dari Rumi membuat Raisa kewalahan mengimbanginya dalam ciumannya yang terkesan sangat membara~


Decap*n manis dan desah*n pelan menghiasi ruangan yang tidak terlalu luas tersebut~~


Raisa tidak mengerti dengan tindakan Rumi yang terkesan agak kasar, menuntut, dan memaksanya itu. Namun, Rumi seolah hendak menyampaikan perasaan cinta yang mendalam dan tak ingin kehilangan melalui ciumannya yang membara itu.


Saat Raisa mulai mengerti dengan apa yang coba Rumi sampaikan melalui ciumannya kali ini, Raisa pun mulai membalas dan mengimbanginya dengan sama membaranya yang Rumi lakukan.


Ciuman itu berubah menjadi semakin panas saat Raisa memilih mengambil alih untuk mendominasi. Raisa sampai mendorong tubuh Rumi hingga bersandar pasrah pada sandaran sofa, bahkan sampai naik ke pangkuan lelaki tampan itu.


Raisa yang menunduk untuk memimpin dan Rumi menengadah menerima ciuman yang tiada henti-hentinya~~


Raisa bahkan menyampaikan kegelisahannya melalui ciumannya kali ini.


Perasaannya menjadi tak karuan saat teringat akan kegelisahan yang sedang menyerangnya, sampai tak sadar. Raisa mulai menangis dan terus meneteskan air mata~


Sadar ada air mata yang mengalir, Rumi menghentikan ciuman tersebut.


"Raisa, kau... Kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu?" tanya Rumi


Raisa bergeleng pelan sambil menghapus air matanya.


"Tidak. Mungkin karena aku sudah mulai mengantuk atau merasa senang saat bersamamu. Maaf, aku terlalu terbawa suasana dan perasaan," jawab Raisa yang sudah kembali menyingkir dan turun dari pangkuan Rumi.


"Kau sungguh baik-baik saja?" tanya Rumi


"Ya. Aku tidak apa-apa," jawab Raisa sambil tersenyum lembut.


"Tidak apa-apa bukan berarti baik-baik saja. Raisa, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi aneh belakangan ini dan aku menemukan kegelisahan pada ciumanmu tadi," batin Rumi


Raisa masih sibuk menyeka air matanya yang tak henti-henti mengalir~


Rumi kembali meraih wajah Raisa untuk membantunya menghapus air mata sejenak, lalu menciumnya lagi. Namun, kali ini lebih lembut dan perlahan dari sebelumnya~


Rumi sedikit merebahkan tubuh Raisa sampai kepalanya menyentuh pada sisi pegangan sofa~


Kali ini bukan perasaan menuntut yang Rumi sampaikan melalui ciumannya, melainkan ketenangan.


Seolah ingin mengatakan, "Tenanglah, aku akan selalu di sini. Di sisimu ..."


Raisa pun tidak lagi mengambil alih dan mendominasi ciuman Rumi, melainkan hanya menerima perlakuan lembut kekasih hatinya itu.


Tak berlangsung lama, ciuman itu akhirnya berhenti.


Rumi menatap Raisa lekat-lekat~


"Apa kau sudah merasa lebih tenang?" tanya Rumi


Raisa mengangguk pelan disertai tersenyum hangat.


Raisa pun kembali membenarkan posisi duduknya dengan tegak~


Saat itu, barulah Mika si kucing peliharaan muncul di hadapan kedua sejoli itu. Mika juga langsung naik ke pangkuan Rumi dan mengeong manja~


Tangan Raisa pun terulur untuk ikut membelai bulu kucing tersebut seperti yang dilakukan Rumi.


"Di duniaku, aku juga memelihara satu ekor kucing di rumah. Dia kuberi nama, Mina," ungkap Raisa


"Aku teringat dengan Mina, makanya ingin bertemu Mika di sini," lanjut Raisa


"Kalau begitu, kau bawa saja Mika pulang bersamamu malam ini ke rumahmu. Kau tadi bilang sudah mulai mengantuk, kan? Mungkin Mika bisa menghiburmu yang rindu dengan kucingmu di duniamu sana, aku juga berharap bisa melihat senyummu lagi besok," ujar Rumi


"Memangnya ada apa dengan senyumanku hari ini?" tanya Raisa


"Bukan hanya hari ini, senyumanmu terkesan seperti dipaksakan belakangan ini. Itu tidak secerah biasanya walau kau tetap terlihat cantik setiap harinya," jawab Rumi


"Kau tidak lupa untuk memberi pujian, rupanya. Baiklah, malam ini Mika kubawa pulang," ujar Raisa beralih menggendong kucing milik Rumi tersebut.


Rumi mengangguk kecil.


Kucing itu sangat anteng dan berdamai dengan manusia, terbukti dengan ia yang tidak berontak saat berada di gendongan Raisa.


"Kau mau langsung pulang? Mau kuantar?" tanya Rumi


"Tidak usah. Aku bersama Mika saja," jawab Raisa


"Baiklah. Mika, kutitipkan Raisa padamu. Jaga dan hibur pacarku yang cantik ini," ujar Rumi


Seolah mengerti, Mika langsung mengeong dengan sangat antusias.


"Kau ini apa-apaan? Harusnya yang kau titipkan adalah Mika padaku, bukan sebaliknya ... " heran Raisa


"Tidak apa. Mika akan menjagamu karena dia juga menyukaimu," kata Rumi


"Kalau begitu, aku pulang, ya, Rumi. Sampai jumpa besok," ucap Raisa


"Sampai besok, Raisa~" balas Rumi


Raisa pun ke luar dari rumah Rumi dengan menggendong Mika di dalam pelukannya. Ia pulang ke rumah dengan membawa Mika bersamanya.


Kali ini, Rumi tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Raisa. Karena Rumi tidak ingin menggenggam Raisa terlalu erat sampai membuatnya jenuh dan merasa terkekang, dengan harapan hubungan keduanya akan tetap terjalin erat dan awet setelahnya dan seterusnya, bahkan selamanya~


Rumi akan memberikan Raisa ruang untuk sendiri.


-


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2