Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
104 - Jumpa Diam-Diam.


__ADS_3

Karena Farah terus merengek ingin bersama Raisa, malam ini Farah akan tidur bersama Raisa berdua saja di kamarnya.


Setelah membuat minuman sebelum tidur untuk semuanya, Raisa dan Farah beranjak menuju kamar untuk tidur.


Di dalam gendongan Raisa, Farah meminum susu dari botolnya dengan tenang. Raisa pun membawa segelas susu untuk dirinya sendiri ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar, Raisa mendudukkan Farah di ranjang kasur tidur.


"Farah, duduk dulu minum susunya sampai habis ya. Aunty juga nau minum susu punya Aunty dulu, habis itu baru kita bobok bareng ya." Ucap Raisa


"Oke, Onty!" Patuh Farah sambil mengacungkan ibu jarinya.


Raisa pun ikut duduk di tepi ranjang untuk memimum susu miliknya yang telah dibuat. Raisa pun menenggak susunya sampai habis tak bersisa. Setelah menaruh gelas bekas meminum susunya di meja kecil di samping ranjang tidurnya, Raisa pun merebahkan dirinya di kasur empuk tersebut.


"Nah, kalau sudah selesai minum susunya. Sini, bobok di samping Aunty." Ucap Raisa


"Susu Falah udah habis!" Kata Farah


"Sudah habis susunya? Sini, botolnya kasih Onty." Ujar Raisa


Farah pun memberikan botol susu miliknya pada Onty-nya. Raisa pun menaruh botol susu Farah di atas meja samping ranjang tidurnya sama dengan ia meletakkan gelas bekas susunya tadi.


"Nah, sini, bobok di samping Aunty." Kata Raisa


Dengan patuh, Farah merebahkan diri tepat di samping posisi Raisa merebahkan dirinya. Dengan lembut, Raisa mengusap puncak kepala Farah secara perlahan.


"Sekarang tidur ya... Mau dengar Aunty baca dongeng atau nyanyi lagu? Biasanya kalau sama Mami, Farah boboknya gimana?" Ujar Raisa


"Biasanya Mami nyanyi lagu yang tentang malam sambil usap-usap punggung aku, Onty." Ungkap Farah


"Oh, begitu. Kalau begitu, sini boboknya hadap ke Aunty. Biar Aunty usap punggungnya sambil nyanyiin lagu." Kata Raisa


Raisa pun langsung tidur menyamping ke arah Farah dan Farah pun tidur menghadap ke arah Raisa. Keduanya tidur sambil berhadapan... Satu tangan Raisa terulur ke belakang tubuh Farah dan bergerak naik turun mengusapi punggungnya~


Sambil mengusap punggung Farah, Raisa pun bernyanyi dengan volume rendah yang mendayu-dayu khas seorang yang sedang membuat seorang lainnya tertidur dengan lantunan suaranya yang lembut. Raisa melantunkan lagu anak-anak bertemakan malam hari, mulai dari lagu Burung Hantu, Bintang Kecil dan juga Bintang Kejora. Terus berulang-ulang atau bahkan sampai bersenandung kecil hingga Farah merasa terkantuk dan menutup matanya, mulai tertidur dan memasuki alam mimpi...


Setelah memastikan Farah tertidur, Raisa membenarkan pakaian Farah yang sedikit tersingkap dan menyelimutinya dengan bad cover kasurnya. Setelah menyelimuti Farah, Raisa menyingkapkan posisi selimutnya sendiri dan menuruni ranjang untuk memeriksa keadaan kamar sekali lagi sebelum dirinya sendiri ikut tertidur.


"Pantas saja, kamar ini terasa sedikit lebih dingin ternyata posisi jendelanya saja yang terlihat sudah tertutup, tapi ternyata belum." Gumam Raisa


Saat hendak menarik bingkai jendela kamarnya, Raisa malah merasa ada sesuatu yang menahan jendelanya agar tak dapat ditutup. Ia pun hendak memeriksa sekali lagi sebelum menutup jendela kamarnya. Namun, saat ia melihat ke arah luar jendela kamarnya, dari arah berlawanan ada seseorang yang menahan jendela kamarnya. Seseorang itu pun masuk ke dalam kamar tersebut dari luar jendela.


"Kau... Rumi! Bagaimana kau bisa di sini? Kenapa kau malah masuk? Bagaimana kalau teman yang lain mencarimu dan tidak menemukanmu?" Kaget Raisa hampir memekik.


Seseorang yang datang memasuki kamar Raisa, ternyata adalah Rumi...


Melihat Raisa yang terkejut karenanya, Rumi pun meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Raisa.


"Sst~ Jangan terlalu keras. Farah pasti baru tertidur, kasihan kalau dia terbangun dari tidurnya." Ucap Rumi dengan suara pelan.


Raisa pun mengangguk tanda mengerti dan menjauhkan jari telunjuk Rumi dari bibirnya...


"Sudah tahu Farah sudah tertidur! Kenapa kau malah menyelinap masuk ke kamarku?" Kali ini Raisa beesuara lebih pelan dari sebelumnya.


"Sudah kuduga, kau masih belum tertidur. Jadi, aku terpikir untuk menghampirimu ke sini." Kata Rumi


"Kau sendiri kenapa masih belum tidur saat sudah malam begini? Kenapa kau datang ke kamarku? Sudah kubilang, dua orang lawan jenis tidak boleh berada dalam satu kamar yang sama." Ujar Raisa


"Tapi, sekarang di sini kan ada Farah." Elak Rumi beralasan.


"Farah hanya anak kecil, lagi pula dia sudah tidur!" Kata Raisa


"Aku merindukanmu, itu sebabnya aku datang. Hanya itu..." Ungkap Rumi


"Hanya begitu saja? Bukankah kita terus bersama sepanjang hari tadi?" Heran Raisa


"Rasanya masih belum puas. Tidak boleh kah aku merindukanmu dan ingin bertemu berdua saja denganmu? Sepanjang hari aku sudah menahan rasa yang begitu menyesakkan ini!" Ujar Rumi yang tangannya terulur untuk menggenggam tangan Raisa.


Raisa mengetahui rasa itu, ia bisa memahami perasaan Rumi.


Raisa pun menghela nafas pelan dan perlahan membalas menggenggam tangan Rumi...


"Aku mengerti! Aku juga terus merindukanmu, tapi aku masih bisa menahannya. Sekarang kau ada di sini dan telah menemuiku dengan cara ini. Sebenarnya, apa yang mau kau sampaikan padaku? Tidak mungkin kau hanya ingin bilang rindu padaku kan?" Ujar Raisa yang akhirnya mengikuti keinginan Rumi.

__ADS_1


Rumi pun tersenyum senang menghadapi sifat pengertian dari Raisa...


"Entahlah, sebenarnya aku pun tak tahu mau mengatakan apa lagi. Yang kutahu, aku ingin bertemu berdua denganmu dan ingin mewujudkan keinginan itu. Aku juga kagum denganmu yang bisa dengan mudah menahan rasa rindumu." Ucap Rumi


"Kau mau menyindirku ya? Siapa yang bilang jika menahan rasa rindu itu mudah? Aku juga tahu, menahan rasa itu sulit dan berat! Tapi, aku bisa bersabar untuk menunggu momen kebersamaan kita selanjutnya. Lagi pula, kita sudah selalu bersama sepanjang hari ini, kurasa itu sudah cukup. Yang penting kita sudah saling bertemu kan..." Ungkap Raisa


Rumi termenung sejenak...


"Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Raisa menyadarkan Rumi dari lamunannya.


"Maaf, aku belum bisa memberimu hadiah atas kelulusanmu. Padahal, tadi Ian sampai memberimu bunga yang indah." Kata Rumi


"Tunggu! Jangan katakan, kau cemburu lagi? Sebelumnya Dennis, lalu Levi, sekarang Ian? Kau kan juga tahu, bunga itu Ian beriman padaku titipan dari Ibunya, Bibi Irene. Bunga itu bukan pemberian langsung darinya, Ian hanya diberi tugas menyampaikannya padaku saja." Ujar Raisa


"Aku mengerti... Tapi, aku juga boleh merasa cemburu kan?" Tutur Rumi


"Iya. Baiklah, aku juga mengerti perasaanmu." Kata Raisa disertai kekehan kecilnya.


"Sebenarnya, aku juga punya sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Itu juga bisa dianggap sebagai hadiah kan? Tapi, saat ini aku belum membawanya bersamaku." Ujar Rumi


"Apa itu? Sebenarnya, aku tak pernah mengharapkan sesuatu darimu, tapi kalau kau yang memberikannya aku akan sangat senang! Sesuatu apa yang kau ingin berikan padaku, Rumi?" Raisa langsung menantikan sesuatu itu.


"Sudah kubilang, aku tak membawanya sekarang ini." Kata Rumi


"Setidaknya beri tahu padaku, apa sesuatu itu? Tapi, kau tak berniat memberi tahunya ya? Jadi, kau ingin membuatku merasa penasaran, begitu?" Tanya Raisa


Rumi pun terkekeh kecil...


"Ngomong-ngomong, kenapa kau melepas jepit rambut yang kupilihkan untukmu sebelumnya? Saat aku melihatmu memakainya di acara sekolahmu, aku sangat senang karena kau terlihat sangat cantik!" Ujar Rumi


"Heh, kau mau mengalihkan pembicaraan ya... Jepit rambut itu sudah kusimpan lagi, hanya akan kupakai di saat penting saja. Apa pun benda pilihan yang kau berikan akan sangat berarti untukku, takut jika akan hilang, jadi kusimpan baik-baik." Ucap Raisa


"Akan sangat berarti juga bagiku saat melihatmu memakainya. Jadi, bisakah kau memakai jepit rambut itu saat aku ada?" Pinta Rumi


"Oh, baiklah. Mulai besok akan kupakai lagi." Kata Raisa


"Akan selalu kunantikan." Kata Rumi


"Baiklah, karena sudah mulai larut, aku akan pergi dari kamarmu. Aku sangat senang bisa bertemu berdua denganmu walau sebentar saja seperti saat ini. Kau juga tidurlah seperti Farah, maaf telah mengganggu malammu. Sampai jumpa besok dan ingatlah pakai jepit rambut cantik itu..." Ucap Rumi


"Kau akan tahu saat kau menerimanya nanti. Kau bisa menantikannya..." Kata Rumi


"Kau benar-benar ingin membuatku merasa penasaran, rupanya! Huh, menyebalkan!" Sebal Raisa dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.


Tangan Rumi pun terulur ke atas untuk mengacak pelan rambut Raisa saat melihat ekspresinya yang sedang kesal~


"Hei, sejak kapan kau belajar cara mengacak rambut orang? Itu membuatmu jadi bertambah menyebalkan, tahu?!" Kesal Raisa


Rumi pun hanya terkekeh kecil...


Lalu, Rumi mencapai kepala Raisa untuk mengecup keningnya.


"Selamat malam dan selamat tidur... Semoga malam dan mimpimu menjadi lebih indah!" Kata Rumi


Rumi pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Raisa. Dan melangkah pergi ke luar jendela kamar tersebut...


"Baiklah. Selamat malam juga..." Kata Raisa


Raisa memandang ke luar jendela dan saat melihat Rumi melambaikan tangannya, Raisa pun ikut membalas lambaian tangannya~


Namun, Rumi masih saja belum beranjak dari sana. Ia yang sudah sedikit menjauh pun kembali mendekati bingkai jendela kamar Raisa itu...


"Mendekatlah ke mari sebentar, ada yang ingin kuberi tahu padamu." Pinta Rumi


"Aku sudah ingin menutup dan mengunci jendelanya. Tapi, apa itu?" Ujar Raisa


"Lebih dekat ke sini lagi, ke luarlah sedikit dari jendela ini..." Tutur Rumi


Raisa pun hanya menurut dan mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela itu...


"Sebenarnya, sesuatu apa yang ingin kau beri tahu padaku?" Tanya Raisa

__ADS_1


Umh...


CUP! CUP~


Rumi mencium bibir dan pipi Raisa sekilas dalam sekejap mata. Hal itu berhasil membuat Raisa membelalakkan matanya!


"Yang tadi tidak cukup hanya di kening saja... Baiklah, aku pergi, Raisa! Aku menyukaimu!~" Ucap Rumi yang langsung melangkah menjauhi jendela kamar Raisa tersebut.


"Hei, kukira kau akan memberi tahu padaku sesuatu yang belum sempat kau berikan padaku itu. Kau curang, Rumi! Kau mencuri cium dariku lebih dari sekali!" Geram Raisa


Rumi hanya tersenyum lembut menanggapi kekesalan Raisa dan terus berlalu menjauh dari sana meninggalkan Raisa yang tetlihat masih sedikit terkejut dengan perbuatan jahilnya.


"Huh, sejak kapan dia jadi begitu jahil dan itu juga hanya padaku!? Tapi, mau bagaimana pun juga aku tetap tidak bisa marah padanya... Menyebalkan sekali!" Gumam Raisa mengoceh sendirian.


Setelah melihat bayangan Rumi yang sudah hilang dari pandangan, Raisa pun menutup dan mengunci jendela kamarnya tersebut. Tak lupa juga ia menutup gorden jendelanya...


"Salahkan aku yang sangat menyukaimu sampai tidak bisa marah padamu. Rumi, sepertinya kau beruntung!" Oceh Raisa


Raisa kembali beranjak menuju ranjang kasurnya. Dan merebahkan diri di samping keponakannya, Farah. Mungkin merasa terusik, Farah menggeliat dari dalam balutan selimutnya. Melihat itu, Raisa pun mengusap pelan punggung keponakannya lagi...


"Kamu jadi terganggu ya, Sayang. Maaf ya..." Pelan Raisa


Raisa pun mengecup pelan kening Farah. Lalu, Raisa memposisikan letak tidurnya supaya nyaman~


Setelah nyaman dari mengecup kening Farah tadi, ia jadi menngingat saat Rumi juga mengecup keningnya belum lama tadi. Tak hanya itu, Rumi masih sempat menjahilinya dengan mencuri cium bibir san pipinya. Setelah mengingatnya kembali, bukannya merasa kesal, Raisa malah tersenyum tidak jelas.


..."Ah, kenapa aku bisa sangat menyukaimu, sih!? RUMI..." Batin Raisa...


Merasa salah tingkah mengingat hal yang dialaminya, Raisa pun mulai menutup matanya perlahan. Dan kembali menantikan esok hari yang cerah dan menyenangkan~


Keesokan harinya...


Setelah bangun di pagi hari saat Farah masih tertidur, Raisa menyempatkan untuk menyegarkan diri dengan mandi. Sehabis mandi, Raisa hanya memakai pakaian seadanya sebelum berpakaian yang sesungguhnya. Raisa pun ke luar kamar menuju dapur...


Setibanya di dapur, di sana sudah ada Bu Weni dan Pak Danu yang sedang menyiapkan makanan dan memasak untuk sarapan.


"Bu Weni, Pak Danu, sudah ada sini saja?" Sapa Raisa


"Eh, Neng Raisa. Iya, Neng, keluarga, dan teman-teman kan harus makan untuk sarapan. Jadi, Bapak dan Ibu datang pagi-oagi untuk siapin makanannya." Jelas Pak Danu


"Maaf ya, jadi merepotkan Ibu dan Bapak." Kata Raisa


"Aduh, Si Eneng kayak sama siapa saja. Ini kan juga termasuk tugas Ibu dan Bapak sebagai penhaga di vila ini untuk mastiin makan dan minum pemilik vilanya. Ngomong-ngomong, Neng Raisa ke dapur pagi-oagi gini mau ngapain? Ada perlu apa? Biar sekalian disiapin..." Ujar Bu Weni


"Kalau begitu, boleh minta tolong buatkan susu untuk Raisa dan Farah gak? Semalam Farah tidur bareng di kamar Raisa, sekarang ditinggal takutnya bangun terus nyariin. Ini juga gelas dan botol susunya Farah yang semalam dipakai. Kalau sudah jadi tolong antarkan ke kamar utama ya, Bu, Raisa pakai kamar itu soalnya. Sama sekalian antarkan kue biskuit deh. Maaf, jadi tambah merepotkan nih. Raisa mau balik, mandiin Farah dulu soalnya." Pinta Raisa


"Oh, siap! Kalau cuma itu mah gampang! Nanti Ibu anterin susu sama biskuitnya ke kamar utama ya, Neng." Ucap Bu Weni


"Terima kasih ya, Bu. Kalau begitu, aku tinggal dulu ya, Bu, Pak. Permisi..." Kata Raisa


Raisa pun memutar arah kembali ke kamarnya. Belum sampai di kamar, Raisa bertemu Raina yang baru saja ke luar dari kamarnya.


"Kak Raina, kebetulan papasan di sini... Aku mau minta baju gantinya Farah dong, mau sekalian aku mandiin." Pinta Raisa


"Emang gapapa kamu mandiin Farah? Farah-nya mana? Kamu di luar gini habis dari mana?" Tanya Raina


"Aku habis dari dapur, Kak. Minta dibuatkan dan antarkan susu dan biskuit sama Bu Weni ke kamarku nanti. Farah masih tidur di kamar, kutinggal sebentar. Ini mau balik bangunin Farah, terus mandiin dia. Anaknya sudah ada di kamarku, sekalian aja aku mandiin juga." Jawab Raisa


"Ya udah, sebentar kakak ambilin baju Farah dulu di dalam." Kata Raina yang kembali masuk ke dalam kamarnya.


Tak butuh waktu lama, Raina pun kembali menemui Raisa di depan pintu kamarnya...


"Ini, baju gantinya Farah. Maaf, jadi ngerepotin kamu ya, Sa. Mumpung anaknya lagi lengket sama kamu, pasti mau nurut apa kata kamu deh." Ucap Raina seraya memberikan baju ganti Farah yang baru pada Raisa.


"Iya, Kak. Gapapa, Farah kan keponakan aku. Aku balik ke kamar dulu ya, Kak, takut Farah-nya udah bangun terus nyariin aku." Ujar Raisa yang menerima baju milik Farah dari tangan Raina.


Raisa pun kembali menuju kamar yang ditempatinya di vila tersebut. Saat masuk ke dalam kamar, untunglah Farah masih belum terbangun dari tidurnya.


Raisa pun menaruh pakaian Farah di atas meja rias yang ada di dalam kamar tersebut, lalu mendekati ranjang kasur tidurnya untuk membangunkan Farah dari tidurnya agar ia dapat segera memandikan keponakannya dan mendandaninya seperti barbie yang cantik dan menggemaskan...


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2