Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 123 - Jalan-Jalan Ronde Kedua.


__ADS_3

Setelah kembali pulang ke rumah dan istirahat selama beberapa waktu, saat menjelang siang hari sekitar jam 10, Raisa dan Rumi kembali menjemput keluarga untuk jalan-jalan ronde kedua.


Jika sebelumnya Raisa dan Rumi mengajak keluarga untuk pergi dan menginap di pemandian air panas, kali ini mereka akan pergi berwisata kuliner di sekeliling Desa Daun. Mungkin, entahlah. Yang penting adalah mereka semua berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama.


"Onty Icha, Uncle Rumi, kali ini kita bakal pergi ke mana?" tanya Farah


"Onty Icha juga gak tahu pasti, sih, belum mikir rencana kita mau ke mana. Yang penting kita jalan-jalan aja dulu. Terus, ada Uncle Rumi yang akan jadi pemandu wisata kita," jelas Raisa


"Aku ... tidak bisa. Kupikir kau sudah buat rencana," kata Rumi


"Aku bukan orang asli sini. Di sini pun aku hanya sering berkumpul denganmu dan teman-teman lainnya atau pergi hanya untuk keperluan misi, jadi aku tidak tahu tempat-tempat yang bagus," ujar Raisa


"Aku juga sama, Sayang," sahut Rumi


"Tapi, setidaknya kau lebih lama tinggal di sini. Pasti kau tahu beberapa tempat yang bagus, sedikit atau bahkan cuma satu juga tidak apa. Kita akan ke sana sesuai arahanmu," kata Raisa


"Aku tidak terpikirkan sama sekali, bahkan satu tempat pun tidak. Maaf," sahut Rumi sambil menggeleng pelan.


"Aku jadi ragu, nih, sama jalan-jalan kita kali ini," kata Arka


"Emang biasanya kalian berdua kalau kencan ke mana? Kita ikut aja ke tempat yang pernah kalian kunjungi," ujar Raina


"Kalau kencan ... hampir tidak pernah atau paling hanya pergi ke tempat yang sangat biasa seperti taman atau makan di kedai makan. Kami lebih sering pergi melakukan misi, itu pun terkadang tidak pergi bersama karena anggota tim yang pergi akan ditentukan dari atasan," ungkap Raisa


"Kalau Kak Rumi wajar aja karena dia lelaki jadi lebih sering gabung sama teman-teman dan cuma pergi kalau diajak doang. Tapi, masa Kak Raisa juga gitu? Apa Kak Raisa terpikir satu tempat yang belum dikunjungi? Kita cuma perlu ke sana aja, kan?" tanya Raihan


"Kamu pikir hanya lelaki aja yang seperti itu? Aku juga sama. Teman-teman perempuanku di sini juga lebih sering berkumpul dengan teman lelaki, semua tidak saling membedakan. Jadi, ya ... hanya seperti itu," jelas Raisa


"Ya, dari segi ini Raisa dan Rumi emang cocok banget," kata Bu Vani


"Jadi, kita mau ke mana, nih? Kalau gak jelas mending kami balik aja ke Jakarta," ujar Pak Hilman dengan maksud ingin pergi meninggalkan Desa Daun dan kembali ke dunia sana.


"Jangan dong. Semuanya, belum makan, kan? Bagaimana kalau kita makan aja dulu?" tanya Raisa


"Sambil makan akan aku pikirkan kita mau ke mana. Kami juga bisa tanya pendapat teman-teman kami tentang tempat yang bagus untuk dikunjungi," sambung Raisa


"Jadi, maksudmu kita akan pergi makan di tempat biasa kita berkumpul dengan teman-teman?" tanya Rumi


Raisa mengangguk sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari sang suami.


"Emang pada belum makan, sih, tapi jadinya kita mau makan ke mana dulu?" tanya Raihan


"Karena belum waktunya makan siang, kita makan pengganjal perut aja dulu. Kita akan pergi ke resto burger. Di sana itu tempat biasa kami berdua berkumpul dengan teman-teman," jawab Raisa


"Wah ... udah lama juga aku gak makan burger. Ayo, kita ke sana!" seru Farah


Raisa mengangguk.


Mereka semua pun beranjak menuju ke Resto Burger Petir.


Saat masuk ke dalam resto, semua teman-teman Rumi dan Raisa ada di sana.


"Rumi, Raisa, kalian berdua sudah kembali dari kediaman Tuan Rommy? Bersama keluarga juga?" tanya Aqila


"Ya. Rencananya kami ingin berlibur bersama di Desa Daun," jawab Rumi


"Bibi, Paman, bagaimana kabarnya?" tanya Sanari


"Kami semua baik," jawab Bu Vanj


"Sejak kapan kalian kembali ke Desa Daun?" tanya Chilla


"Sejak kemarin. Namun, semalam kami pergi dan menginap di pemandian air panas," jawab Raisa


"Halo, Kakak-Kakak semuanya ... " sapa Farah


"Hai, Farah ...."


Rumi, Raisa, dan keluarga pun mencari tempat untuk duduk. Lalu, mereka memesan makanan dan mulai makan saat pesanan telah diantarkan.


"Jadi, setelah ini kalian ingin pergi lagi? Ke mana?" tanya Ian


"Itulah masalahnya. Kami bingung ingin pergi ke mana. Biasanya kita hanya berkumpul di sini atau pergi karena keperluan misi. Saat bertanya pada Rumi, dia pun sama bingungnya denganku," jawab Raisa


"Apa kalian bisa rekomendasikan suatu tempat untuk kami?" tanya balik Raisa


"Mayoritas kami tidak ada bedanya dengan kalian berdua. Hanya bisa berkumpul bersama atau pergi saat misi. Ada waktu libur pun lebih baik memilih istirahat di rumah atau berkumpul seperti saat ini. Keseharian kita semua memang seperti itu," ungkap Devan


"Emang benar, semuanya ... budak korporat," gumam pelan Raihan


"Kalau kalian mau, mungkin kalian bisa mengajukan permohonan misi untuk meminta jasa pemandu wisata," ujar Ian

__ADS_1


"Ya. Untuk hal ini Kak Mira paling cocok untuk mengambil misi seperti ini," kata Billy


"Kalau mengajukan permohonan seperti itu harus ada waktu prosesnya, kan?" tanya Rumi


"Memang benar, tapi kalau kau mau aku bisa meminta ayahku untuk mempercepat prosesnya," ujar Morgan


"Sepertinya tidak perlu. Merepotkanmu saja," tolak Rumi


"Apanya yang merepotkan? Tidak kok. Lagi pula, ayah pasti akan sangat senang untuk membantu, apa lagi di masa-masa akhir jabatannya," ujar Morgan


"Ya, sepertinya itu tidak perlu. Bukan hanya merepotkanmu dan Tuan Nathan, tapi juga Kak Mira atau siapa pun yang mendapat misi ini nantinya. Lagi pula, sepertinya aku sudah dapat ide mau pergi ke mana," ucap Raisa


"Benarkah? Baguslah, kalau begitu ... Kak Rumi, Kak Raisa dan keluarga, selamat menikmati waktu bersama kalian bersama di Desa Daun," ucap Monica


"Jadi, kita mau pergi ke mana setelah ini, Raisa?" tanya Pak Hilman


"Lihat aja nanti, deh ... " jawab Raisa


Usai makan bersama, Rumi dan Raisa pergi meninggalkan tempat berkumpul dan berpisah dari teman-temannya karena masih harus pergi bersama keluarga.


Raisa berbisik pada sang suami mengenai rencananya tentang lokasi tujuan pergi kali ini.


"Apa sih kok bisik-bisik? Jadi, kita mau diajak perhi ke mana, nih?" tanya Raihan


"Ih, Om Ehan, kepo ... " ledek Farah


"Anak kecil aja mengerti," kata Raisa sambil terkekeh kecil.


"Awas aja kalau nanti tempatnya gak bagus dan gak seru!" seru Raihan


"Tempat tujuan kita sederhana aja, ya ... kita pergi ke pusat perbelanjaan. Dan sebelum belanja kita nonton film dulu di bioskop," ucap Raisa


"Aku cuma terpikirkan tujuan ini," sambung Raisa


"Lumayan, tuh ... pasti menyenangkan," kata Raina


"Farah, ingat gak waktu kecil sering ikut nonton film di bioskop sama Papi Mami?" tanya Arka


"Kapan? Kok aku gak ingat?" tanya balik Farah


"Iya lah gak ingat, waktu itu kamu masih di dalam perut Mami kamu, Farah," ungkap Raihan


Arka hanya bisa terkekeh kecil.


Mereka semua pun beralih menuju ke pusat perbelanjaan.


Di sana mereka lebjh dulu memasuki bioskop untuk menonton film yang ditayangkan saat itu.


Namun, sebelum itu mereka lebih dulu membeli tiket dan camilan yang akan dimakan di dalam bioskop.


Rumi, Raisa, dan Raihan lebih dulu memilih judul film yang akan ditonton dari poster yang terpajang di sana sebelum membeli tiket. Tentu saja, mereka memilih film yang ramah untuk ditonton oleh segala usia karena mengajak si kecil Farah untuk ikut menonton bersama. Sedangkan, Pak Hilman, Bu Vani, Raina, Farah, dan Arka membelikan camilan dan minuman.


Setelah itu, akhirnya mereka masuk ke dalam bioskop bersama-sama dengan penonton yang lainnya juga. Dan film pilihan mereka adalah film yang berjudul Perjuangan Sang Putri Salju.


Film ini bukanlah film romantis atau film animasi kartun, melainkan yang yang mengisahkan tentang perjuangan seorang putri kerajaan yang terpaksa dibuang karena adanya perang perebutan takhta dan setelah dewasa putri tersebut kembali untuk merebut takhta kerajaan pada negara kelahirannya, yaitu di Negara Salju.


"Bagaimana filmnya tadi? Seru gak?" tanya Raisa


"Seru banget, Onty! Tuan Putri-nya cantik dan kuat, pemberani juga," jawab Farah


"Tapi, tidak ada yang bisa mengalahkan Raisa dalam segi kecantikan, kekuatan, dan keberanian," ungkap Rumi


"Tokoh utama yang jadi putri tadi itu ahli pedang, jadi ingat pedang yang tadinya ada di rumah Kak Raisa. Akan jadi seperti apa, ya, kalau Kak Raisa bermain pedang? Terus, apa orang-orang di dalam film tadi, apa mereka semua pengguna sihir juga?" tanya Raihan


"Gak semua orang di sini adalah ahli sihir, ada yang cuma menguasai teknik bela diri hang meski begitu kemampuan mereka tetap luar biasa, dan ada juga yang orang biasa. Lalu, kalau untuk seni perfilman sepertinya zaman sekarang lebih pada menggunakan alat teknologi modern dari pada kemampuan atau tenaga sihir," jelas Raisa


"Jadi, itu semua tetap hasil editan, ya?" tanya Arka


"Benar," jawab Rumi dengan singkat.


"Buktinya saja pemandangan Negara Salju di dalam film tadi sangat berbeda dari pada yang kami lihat langsung sebelumnya," ucap Raisa


"Kalian berdua pernah ke Negara Salju?" tanya Raina


"Pernah, Kak. Aku ketemu sama Veron pas lagi ada misi di Negara Salju," ungkap Raisa


"Bukannya kamu gak bisa ada di tempat dingin, Raisa?" tanya Bu Vani


"Iya, Bu, tapi ada api abadi dari Helio yang buat tempat itu jadi hangat. Aku gak kedinginan lagi di sana," jawab Raisa


"Jadi, mau lihat Negara bersalju," kata Farah

__ADS_1


"Di sana serba putih karena ada salju di mana-mana, tapi tempatnya jauh banget. Tiada hari tanpa salju di sana. Gak usah ke sana, di sini juga ada waktunya turun salju kok. Lain kali Onty Icha bawa liburan lagi ke sini kalau lagi musim salju, ya," ujar Raisa


"Benar, nih, Onty? Janji, ya?" tanya Farah


"Iya, Sayang," jawab Raisa


"Yuk, sekarang kita belanja ... " sambung Raisa


Raisa dan Rumi pun mengajak yang lain untuk mengelilingi pusat perbelanjaan dan berbelanja bersama.


"Silakan belanja. Mau beli apa aja, boleh ... nanti aku dan Rumi yang bayar," ujar Raisa


Tentu hanya Raisa dan Rumi yang bisa membelanjakan keluarga dengan uang yang mereka berdua punya. Karena pastinya keluarga Raisa tidak memiliki mata uang dunia sana.


Di tengah kesibukan berbelanja mereka, tak lupa juga Raisa nemilihkan barang untuk sang suami. Begitu juga sebaliknya, Rumi ikut memilihkan beberapa barang pilihannya untuk sang istri.


Jarang memiliki kesempatan berbelanja bersama, mereka ingin merasa puas berbelanja ssat itu juga.


Usai berbelanja, Raia dan Rumi mengajak keluarga beralih menuju ke pasar kuliner yang letaknya tak jauh dari pusat perbelanjaan di sana.


"Nah, sekarang kita ada di pasar kuliner Desa Daun. Di sini kalian mau makan apa aja juga boleh, tapi aku kasih saran kita makan makanan yang terkenal di sini aja. Selain burger di resto tadi, tempat makan yang populer di sini, yaitu kedai makan mie," jelas Raisa


"Yeay, makan mie!" seru Farah dan Raihan secara bersamaan.


"Apa Raihan dan Farah suka makan mie?" tanya Rumi


"Jangan tanya. Mereka berdua ini penggemar nomor 1 mie," jawab Raina


"Kalau begitu, Raisa rekomendasikan tempat makan yang tepat. Di kedai makan mie ada banyak sekali varian mie yang bisa dicoba," ujar Rumi


"Ada mie seblak juga gak?" tanya Raihan


"Sayangnya di sini gak ada mie seblak. Belum ada penemunya," jawab Raisa


"Kalau begitu, di sini kamu jualan mie seblak aja, Raisa. Pasti jadi laris dan populer," ujar Arka


Semua pun tertawa.


"Memangnya seperti apa rasa mie seblak itu?" tanya Rumi


"Kau belum pernah mencobanya. Jika, kita sedang ada di Jakarta, aku akan belikan untukmu atau aku buatkan sendiri untuk kau coba," jawab Raisa


"Apa kau juga suka dengan mie seblak itu?" tanya Rumi


"Keluargaku, semuanya suka, kecuali Bapak yang lebih suka mie instan biasa. Bapak hanya sesekali makan mie seblak," jawab Raisa


"Meski begitu, aku pasti lebih menyukai mie seblak buatanmu," ujar Rumi


Mereka pun beranjak menuju ke kedai makan mie dan makan bersama di sana.


Setelah dari sana, semua berjalan pulang bersama menuju ke rumah sambil menikmati waktu jalan-jalan sore.


"Bagaimana jalan-jalannya? Asik gak? Mau ke mana lagi habis ini? Ada yang mau dibeli lagi gak?" tanya Raisa


"Belanja barang ... baju dan lain-lain, makanan buat jadi oleh-oleh untuk di Jakarta juga udah. Kita pulang ke rumah aja," jawab Bu Vani


"Yakin, nih? Kan, sayang kalau ada yang terlewat," ujar Raisa


"Udah sore. Kita pulang aja. Kasihan juga udah pada lelah," kata Pak Hilman


"Iya, Kak. Habisnya dari tadi kita juga jalan kaki terus. Di sini gak ada kendaraan sama sekali," ujar Raihan


"Di sini ada kereta kok. Kalau mau pergi ke tempat yang jauh kita bisa naik kereta. Kamu aja yang terlalu mengeluh, Ray, Farah aja gak mengeluh kayak kamu. Habisnya sayang aja, Bapak mau cepat-cepat pulang ke Jakarta," ucap Raisa


"Bapak juga harus kerja. Gak kayak kamu yang lagi liburan pasca menikah," kata Pak Hilman


"Iya, deh ... tapi, sebelum pulang kita mampir ke taman dulu, ya. Lihat matahari terbenam. Gak ada pantai, taman pun jadi," ujar Raisa


Sesuai keinginan Raisa, mereka pun singgah di taman untuk setidaknya beristirahat di sana.


Mengistirahatkan kedua kaki masing-masing yang sedari tadi hanya terus berjan.


Pusat perbelanjaan san pasar kuliner memang tidak jauh dari rumah di sana. Namun, yang membuat mereka merasa lelah adalah saat harus berjalan mengelilingi pusat perbelannjaan saat berbelanja tadi.


Raisa pun menggelarkan tikar sebagai alas untuk duduk di taman hijau tersebut. Meski pun sudah sore, suasana di sana terasa sangat sejuk. Mereka pun mengeluarkan dan memakan camilan yang sebelumnya dibeli sambil menunggu untuk melihat pemandangan matahari terbenam.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2